toko-delta.blogspot.com

menu

instanx

Tampilkan postingan dengan label didik darmanto. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label didik darmanto. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 08 November 2008

Ngutang Saja Kok Repot!

Oleh: Didik Darmanto


Buku ini saya tulis dengan inspirasi awal banyaknya orang yang mengeluh tidak bisa berbisnis gara-gara ketiadaan modal. “Pingin sih punya usaha sendiri apalagi kerja kantoran juga sudah bosan. Tapi gimana ya, modalnya kagak ada!” begitulah ungkapan yang sering saya dengar.

Yah, lagi-lagi masalah uang. Tentunya Anda tidak mau dong menyerah begitu saja. Pengalaman saya sebagai seorang wartawan yang sering berinteraksi dengan pengusaha-pengusaha sukses menunjukkan, bahwa banyak di antara mereka yang mengawali bisnisnya dengan modal uang pinjaman alias ngutang. Lantas kenapa Anda tidak mengikuti jejak mereka?

Sebenarnya masalah keterbatasan modal bukanlah alasan untuk tidak segera berbisnis. Kalau memang tidak punya uang, ya solusinya pinjam uang saja. Toh banyak lembaga keuangan yang bersedia mengucurkan dana segarnya untuk Anda.

Gimana ya berbisnis kok dengan uang utangan, bisnis dengan uang sendiri saja rasanya berat? Jangan-jangan nanti tidak bisa bayar utang!? Masa sih harus berutang seperti orang melarat saja!?

Perasaan takut dan malu berutang inilah yang menjadi penghalang utama kesuksesan Anda. Selama ini utang selalu diidentikkan dengan kebangkrutan finansial. Sebenarnya anggapan semacam itu tidak selamanya benar. Acapkali orang yang berutang adalah orang yang sedang jaya-jayanya dalam berbisnis. Konsekuensinya, ia memerlukan suntikan modal untuk melakukan ekspansi bisnis.

Lagi pula, berutang sudah merupakan hal yang lumrah bagi para pebisnis sukses. Dapat dikatakan hampir semua orang kaya di dunia ini memiliki aset yang banyak, tapi sekaligus tercatat sebagai orang yang punya utang banyak. Jadi, kalau mau ikutan kaya seperti mereka jangan segan-segan untuk mencari pinjaman duit.

Tentunya Anda kenal Donald Trump, sang raja properti dari negeri Paman Sam (AS). Siapa sih yang menyangkal kalau sponsor acara reality show top dunia The Apprentice ini orang yang super kaya raya? Hampir separuh lebih properti Amerika di bawah kekuasaannya. Tapi meskipun sudah kaya raya, Trump tetap saja punya utang. Justru dari uang pinjaman itulah ia membangun kerajaan bisnisnya. Hingga sekarang ia terkenal piawai menyulap utang menjadi kekayaan (turn debt in to wealth).

Begitu pula dengan entrepreneur gila kita, Purdie E Chandra (Bos Primagama Group). Selain hobi main golf, ia mengaku juga hobi berutang. Kerajaan bisnisnya dibangun dengan uang pinjaman dari kiri-kanan. Coba bayangkan, berawal dari bisnis les privat kecil-kecilan di pojok kota Yogyakarta, ia kemudian bisa berkembang menjadi “raja bimbingan belajar” di Indonesia. Kata kunci kesuksesan bisnisnya tiada lain adalah rajin berutang.

Tak mengherankan kalau pendiri Entrepreneur University ini selalu mengompori orang lain untuk berutang. Dalam ceramah-ceramah entrepreurship yang diselenggarakannya, ia selalu bertanya kepada para peserta, “Kapan mobilmu disekolahkan?” Maksudnya, kapan mobil mereka bakal digadaikan untuk dijadikan modal usaha.

Lain Purdie, lain pula Miming Pangarah, Bos Indoprint, Offset & Printing Industries, Bandung. Miming termasuk orang yang merasakan manfaat ngutang. Berkat uang pinjaman ia bisa melejitkan asetnya dari ratusan juta menjadi Rp10 miliar hanya dalam tempo tiga tahun saja!

Begitu pula dengan Budi Utoyo, pengusaha Leha-leha Spa dan franchisor Clup-Clup, ini mampu menggandakan asetnya dari puluhan juta menjadi Rp3 miliar dalam waktu kurang dari satu tahun. “Bahkan saya bisa beli ruko senilai Rp470 juta tanpa pakai duit,” tukasnya saat saya temui di Hotel Le Meridien, Jakarta.

Dan lebih gila Masbukhin Pradana, pengusaha dengan julukan “raja voucher”, ini membeli kios hanya dengan menggunakan kartu belanja Carrefour. Kemampuan mengelola utang membuat asetnya bertambah secara cepat dengan memanfaatkan duit orang lain alias ngutang.

Cara berpikir orang-orang sukses seperti mereka bukannya bagaimana agar terbebas dari utang. Tapi, sebaliknya mereka justru berpikir bagaimana caranya supaya bisa memperbesar utang. Ketika Anda menerima utang, jangan Anda pikirkan bagaimana cara melunasinya, tapi pikirkan bagaimana cara memanfaatkan uang pinjaman tadi. Kalau uang itu sudah bekerja untuk Anda, maka Anda tidak perlu repot-repot lagi memikirkan cara melunasinya. Karena utang sudah dilunasi oleh orang lain yang memanfaatkan usaha Anda. Istilah Purdie, “Silahkan kamu berutang, biar konsumen yang melunasi.”

Sebenarnya, cara berpikir mereka sederhana sehingga membuat mereka berani berutang dan kemudian sukses. Yaitu, dengan modal seadanya saja sudah untung, apalagi kalau ada tambahan modal pasti akan lebih menguntungkan lagi. Memang benar, selama utang digunakan untuk usaha dan memberikan hasil yang lebih tinggi dibanding bunga pinjamannya, maka dijamin bahwa semakin besar utang akan semakin besar pula keuntungan yang Anda peroleh. Misalkan pinjam uang Rp100 juta dengan bunga pinjaman 1,5 persen per bulan. Semantara keuntungan yang diperoleh dari bisnis yang dibiayai dengan uang pinjaman tadi sebesar 5 persen. Berarti ada selisih 3,5 persen dari Rp100 juta yang masuk ke kantong Anda. Coba kalau utangnya Rp500 juta, tentu akan lebih besar pula keuntungan yang Anda raih. Dengan begitu, semakin banyak utang otomatis akan semakin kaya!

Mengelola utang untuk menambah aset inilah yang sebenarnya dimaksud oleh Robert T Kiyosaki, bahwa uang bekerja untuk kita. Cukup dengan mencari utang kemudian Anda putar di dunia usaha, tiba-tiba aset Anda sudah bertambah dengan sendirinya. Anda tidak perlu memikirkan bagaimana mengembalikannya karena di belakang Anda sudah ada pelanggan yang siap melunasi. Kalau utang sudah terbukti bisa bikin kaya, lantas kenapa Anda tidak segera berutang?

* Didik Darmanto adalah mantan wartawan tabloid Bisnis Uang yang sekarang berkarir sebagai Perencana Pembangunan di Kementrian Perencanaan Pembangunan Nasional/Bappenas. Selain sebagai PNS, Didik juga menjadi wirausaha dan tercatat sebagai anggota Certified Wealth Managers’ Association (CWMA). Artikel ini merupakan bagian dari bukunya yang akan segera terbit dengan judul: “Kalau Mau Kaya Ngapain Takut Ngutang” (Bornrich, 2006). Ia dapat dihubungi di: didikdarmanto@gmail.com.

Selasa, 04 November 2008

MENDIDIK SI UCUP JADI PENGUSAHA

Oleh: Didik Darmanto


Orangtua mana sih yang tidak bangga memiliki anak seorang pengusaha sukses. Untuk menjadi pengusaha memang tidak gampang. Kebanyakan dari mereka telah terlatih naluri bisnisnya sejak kecil. Kalau memang ingin punya anak yang menjadi pengusaha, buruan aja si Ucup dididik entrepeneurship.

Belakangan ini status pengusaha kelihatan lebih mentereng ketimbangan menjadi karyawan. Beberapa orang telah membuktikan, bahwa menjadi pengusaha tidak hanya keren namanya, tetapi memang lebih menjanjikan untuk menuju kebebasan finansial. Dengan menjadi pengusaha peluang mencari uang terbuka lebar. Sedangkan penghasilan karyawan setiap bulan stagnan.

Tapi tidak gampang untuk menjadi pengusaha. Butuh jam terbang tinggi agar bisa sukses berusaha. Bahkan orang-orang yang sukses mengelola usaha telah belajar berbisnis sejak kanak-kanak. Sebut saja Masbukhin Pradhana, pengusaha dengan julukan Raja Voucher, telah memulai usaha sejak masih duduk di bangku SD.

Di usia belia ia sudah suka beternak ayam petelur, jualan lilin, kembang api, dan membuka toko kelontong di rumah orang tuanya. Ketika SMP, ia ikut mengelola warung kopi pamannya sambil tetap sekolah. Kebiasaannya berbisnis terus berlanjut hingga akhirnya ia menjadi pengusaha muda beromset miliaran. Menurutnya dalam dunia bisnis jam terbang atau pengalaman itu sangat berpengaruh pada kemajuan dan keberlanjutan bisnis seseorang. Oleh karena itu, semakin dini mendidik anak menjadi pengusaha tentu akan semakin bagus hasilnya kelak di kemudian hari.

Demikian pula dengan Purdi E. Chandra, pemilik lembaga pendidikan Primagama ini jualan telur ayam kampung sejak SMP. Waktu itu, akunya, ia bercita-cita ingin menjadi peternak ayam. Meskipun cita-citanya ternak ayam tidak kesampaian, kini Purdi menjadi bos dengan 32 unit usaha yang memiliki aset di atas Rp 100 miliar.

Menurut dai kondang yang juga seorang pengusaha, Abdullah Gymnastiar, kunci keberhasilan dari seorang wirausahawan sejati itu tergantung dari masa kecilnya. Masa kecil seseorang itulah yang menentukan kualifikasi entrepeneurship seseorang.

“Kalau masa kecilnya selalu dimanja, selalu ditolong, maka bersiaplah menuai anak yang tidak berdaya,” katanya.

Selain ditumbuhkan kecerdasan intelektual, anak juga harus dididik kecerdasan finansial. Tingginya tingkat kecerdasan intelektual anak tidak akan menjamin keberhasilannya dari segi finansial. Tanpa pendidikan finansial anak akan terjebak menjadi pekerja tulen. Ia tidak memiliki kemampuan melihat peluang dan tidak berani mengambil resiko usaha.

Meskipun pendidikan finansial ini penting, tapi tak jarang orang tua justru menghambat naluri bisnis anak. Misalkan si Ucup yang masih duduk di bangku SD ini membawa kue untuk bekal di sekolah. Ternyata banyak temannya yang suka dengan kue bikinan ibunya itu. Kemudian si Ucup bilang, “kalau kalian pada suka dengan kue ini besok bisa aku bawain tapi harganya Rp 500 per potong”.

Setibanya di rumah Ucup bercerita kepada ibunya tentang teman-temannya yang menggemari kue yang ia bawa. Ucup pun menyampaikan niat agar besok ibunya membuat kue lebih banyak karena teman-teman sekolah tertarik untuk membeli. Bahkan beberapa teman sudah ada yang kasih uang segala.

Seharusnya inisiatif si Ucup untuk berbisnis kecil-kecilan di sekolah ditanggapi positif orang tuanya. Tapi tanpa disangka ibunya menolak permintaan Ucup tadi. Sebagai orang tua khawatir kalau bisnis kecil-kecilan yang dilakoni anaknya bakal menggangu konsentrasi belajarnya.

Asah naluri bisnis
Psikolog anak, Seto Mulyadi yang akrab dipanggil Kak Seto, mengatakan bahwa orang tua perlu memberi apresiasi terhadap inisiatif anak untuk berbisnis. Inisiatif ini menunjukkan bahwa si anak sudah memiliki kecerdasan finansial. Bahkan ia menyarankan untuk melibatkan anak-anak pada usaha orang tuanya, seperti diikutkan dalam menjaga toko.

Melibatkan anak dalam kegiatan usaha orang tua merupakan cara yang efektif untuk meningkatkan kecerdasan finansial anak. Anak tidak hanya mengetahui enaknya menggunakan uang, tapi juga merasakan susahnya mencari uang selain itu naluri bisnis anak juga akan terasah.

Naluri bisnis ini juga bisa ditumbuhkan dengan menceritakan kisah sukses dan masa kecil para pebisnis ternama. Sehingga anak terinspirasi dan tertantang untuk mengikuti jejak mereka. Begitu pula ketika anak diajak jalan-jalan ke pasar atau supermarket. Kita bisa memperkenalkan mereka dengan konsep-konsep sederhana tentang jual-beli, dan untung-rugi.

Misalkan ketika anak mengambil es krim kita bisa jelaskan, bahwa es krim ini harganya Rp1.000 padahal belanjanya cuma Rp900. harganya dinaikkan Rp100 karena supermarket ingin ambil keuntungan untuk membayar pegawai, listrik dan buat yang punya supermarket.

Mengenalkan anak dengan dunia bisnis memang baik untuk membentuk jiwa kewirausahaan. Tapi perlu diingat, bahwa kegiatan anak tersebut dalam rangka pendidikan bukan murni berbisnis. Andaikan merugi kita tidak boleh memarahinya. Anggap saja kerugian tersebut sebagai ongkos pembelajaran yang sangat berharga bagi anak. Lebih baik gagal berusaha ketika masih kecil, ketimbang sudah besar baru belajar merasakan kegagalan.[]

* Didik Darmanto adalah mantan wartawan yang sekarang berkarir sebagai PNS di Bappenas. Ia adalah penulis buku best seller “Kalau Mau Kaya Ngapain Takut Ngutang” (Bornrich, 2006). Didik dapat dihubungi di:

Catatan: Beberapa bagian dari tulisan ini pernah dimuat di Tabloid “Bisnis Uang” dan harian “Bisnis Indonesia

toko-delta.blogspot.com

Archives

Postingan Populer

linkwithin

Related Posts with Thumbnails

Total Tayangan Halaman

Diberdayakan oleh Blogger.