toko-delta.blogspot.com

menu

instanx

Tampilkan postingan dengan label suryanto wijaya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label suryanto wijaya. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 08 November 2008

Apa Sih Hidup Itu…?

Oleh: Suryanto Wijaya


Suatu hari di tengah malam, saya terbangun dan mendapati diri saya sedang bertanya kepada diri saya sendiri, sebetulnya hidup ini seperti apa sih? Ada yang mengatakan hidup ini seperti gema, ketika kita mengatakan sesuatu ke alam atau kehidupan “kamu hebat” alam akan mengembalikan kepada kita “kamu hebat”, sebagian orang lagi beranggapan bahwa hidup itu merupakan cermin dari pikiran dan perasaan kita sendiri terhadap diri kita sendiri maupun orang lain. Jika kita berpikir dan merasa bahwa kita adalah mahkluk yang gagal, tidak berguna dan merasakan bahwa hidup ini tidak adil. Maka hidup kita akan selalu menjadi seperti itu.

Agh…nggak tahu juga kenapa saya pusing sekali memikirkan hal itu dan di tengah malam itu juga saya teringat kembali dengan sebuah cerita yang sudah sangat lama sekali saya dengar, tepatnya tiga tahun yang lalu tentang perdebatan dua orang sahabat lama tentang pandangannya terhadap hidup. Kurang lebih begini ceritanya.

Alkisah ada dua orang yang berteman sudah cukup lama. Katakanlah orang yang pertama bernama Otto dan yang kedua bernama Hetto. Suatu ketika mereka bertengkar tentang sesungguhnya hidup itu seperti apa sih? Otto berkata “Hetto temanku, hidup itu asyik kita tinggal pasrahkan saja hidup kita pada Tuhan. Tidak perlu untuk berbuat banyak. Jika Tuhan tidak menghendaki sesuatu terjadi pada kita maka tidak akan terjadi apa-apa pada diri kita. Kita tidak perlu berbuat apa-apa lagi. Segala sesuatunya sudah diatur oleh-Nya”

Hetto tidak sependapat dengan Otto. Ia lalu berkata “Eh... nggak lagi! Hidup itu, sebenarnya kita harus berusaha terlebih dahulu barulah Tuhan memberikan kita berkahnya. Segala sesuatu yang ada di dunia ini haruslah bersifat dua arah saling bekerjasama. Jika Tuhan menghendaki tapi kita tidak berusaha, mana bisa hal itu terjadi? Demikian sebaliknya jika kita berusaha tetapi Tuhan tidak menghendaki, mana mungkin juga hal itu terjadi? Tanpa adanya kebersamaan tujuan dari kita dan Tuhan segala sesuatu tidak akan terjadi dengan baik.”

Otto dan Hetto keduanya sama-sama mempertahankan pendapat mereka sendiri-sendiri. Otto tetap beranggapan bahwa dalam hidup ini segala sesuatunya terjadi secara satu arah. Tidak peduli usaha apa pun yang dilakukan dalam hidupnya, jika Tuhan tidak menghendaki hal itu terjadi, maka hal itu tidak akan terjadi. Hetto berpendapat sebaliknya bahwa dalam hidup ini segala sesuatunya terjadi secara dua arah. Keduanya saling terkait dan tidak terpisahkan serta saling bergantungan.

Karena keduanya saling mempertahankan pendapat mereka dalam hal pandangan mereka tentang hidup itu seperti apa. Maka adu pendapat masih saja terus terjadi dan tanpa terasa waktu pun berlalu dan hari berganti menjadi sore. Hetto pun akhirnya pamit ke rumahnya dan karena mereka berdua adalah teman baik maka meskipun mereka berdua berbeda pendapat tentang hidup itu seperti apa. Otto tetap mengantarkan Hetto ke depan pintu rumahnya.

Pada waktu Hetto pulang ke rumahnya, Hetto seperti biasa berjalan menelusuri jalan setapak yang kecil di mana di sisi kiri dan kanannya ada dua buah sawah yang besar. Jalan setapak itu hanya muat untuk dilewati oleh dua orang saja. Dalam perjalanan pulang Hetto bertemu dengan tukang jeruk keliling. Hetto lalu berpikir “Eh, kayaknya enak tuh itu jeruk tapi sayang nggak bawa duit. Nanti saja deh belinya!”

Karena sudah sore dan keadaan lumayan gelap di mana jalanan tidak begitu keliatan lagi. Tukang jeruk itu pun salah menapakkan kakinya dan terpeleset jatuh. Melihat itu Hetto lalu membantu tukang jeruk itu untuk bangun dan mengambil jeruk-jeruknya yang terjatuh, “Terima kasih, ya, terima kasih!” kata tukang jeruk itu.

“Ya, sama-sama,” kata Hetto.

“Sebagai ucapan terima kasih saya silakan Bapak ambil beberapa jeruk saya...”

“oh…terima kasih” kata Hetto.

Hetto pun pulang dengan gembira. Ia tidak menyangka bahwa ketika dirinya ingin makan jeruk --padahal waktu itu tidak bawa uang—eh, malahan dapat gratis. Pada waktu ia mengingat hal ini, ia teringat pada Otto temannya. Ia berkata dalam hati, “Nah, ini dia nih bukti baru untuk dia, bahwa hidup memang seperti ini.” Lalu dengan cepat Hetto pun mandi, makan, dan pergi kembali ke rumah Otto.

Sesampainya di rumah Otto, Hetto pun dipersilakan masuk. Karena mereka berdua adalah teman baik suasana di rumah Otto seperti tidak terjadi apa-apa. Seperti seolah-olah tidak terjadi perdebatan di siang harinya. Hetto pun membagi jeruknya pada Otto. Sambil mengobrol seperti layaknya teman lama, Hetto lalu berkata “Eh, Otto inget nggak tentang obrolan kita yang tadi siang? Ini bukti baru lho kalo kita harus usaha dulu, baru dapet apa yang kita inginkan. Aku harus menolong tukang jeruk terlebih dahulu, barulah aku bisa mendapatkan jeruk ini!”

“Nah benar kan apa kataku kalau dunia itu seperti ini. Kita harus berbuat terlebih dahulu barulah kita mendapatkan manfaatnya. Ada kerjasama tim.”

Otto dengan tenangnya tetap saja makan jeruk pemberian temannya itu sambil geleng-geleng kepala. “Hetto...Hetto…itu kan menurut kamu! Nah, sekarang coba lihat apa yang perlu saya lakukan untuk bisa mendapatkan jeruk ini? Tidak perlu melakukan apa-apa toh…?! Ini semua sudah diatur oleh-Nya.”

Lalu yang benar yang mana, sih….? Jangan bingung!

We don’t see the world as it is
We see the world as we are
or
as if we conditioned to see it.
Stephen Covey

Tidak ada yang salah dalam dunia ini. Yang salah adalah bagaimana cara Anda memandangnya
Ching Ning Hu

* Suryanto Wijaya : (2005) Dewan Pembina Keluarga Mahasiswa Buddhis Dhammavaddhana Universitas Bina Nusantara, (2004) PemRed Majalah Gema Dhammavaddhana BiNus, Pembelajar Universitas Kehidupan. Suryanto dapat dihubungi melalui Email: CuSenWan200x@yahoo.co

RESEP SUKSES PASTI GAGAL!

Oleh: Suryanto Wijaya


Saya sih tidak tahu apa resep sukses saya tapi saya tahu secara pasti rumus kegagalan. Cobalah untuk menyenangkan semua orang. PASTI Anda Gagal…!!!!
Bill Cosby

Pernahkah Anda melakukan sesuatu akan tetapi apa pun yang Anda lakukan selalu mengalami kegagalan? Apakah Anda pernah melakukan sesuatu dan apa pun hasilnya Anda tidak pernah puas? Karena ada orang lain yang berpikiran bahwa hasil kerja Anda belumlah memuaskan mereka?

Hmn… Bagaimana yah, rumus pasti sukses di segala bidang? Waduh saya tak tahu tuh! Mendingan juga kita mencari tahu rumus pasti gagal supaya kita bisa menghindari kegagalan. Toh, kalau kita tidak gagal berarti kita sukses. Apa sih yang benar-benar pasti menjadi penyebab dari semua kegagalan yang terjadi?

Berikut ini adalah sebuah kisah tentang kegagalan.

Dahulu kala ada seorang kakek bersama dengan cucunya sedang keluar kota menemui sanak keluarganya. Perjalanan yang harus dilalui si kakek dan cucunya itu melewati empat kota. Barulah mereka sampai ke tujuan. Dalam perjalanan jauh itu si kakek dan cucunya berjalan bersamaan dengan seekor keledai. Keledai itu ditunggangi cucunya.

Pada saat mereka melewati kota yang pertama, orang-orang kota yang melihat mereka berkata: “Dasar cucu tidak tahu diri! Masa kakeknya yang sudah tua dibiarkan jalan sendirian? Sementara dia enak-enakan saja duduk di atas keledai...”

Mendengar hal itu, si cucu pun tak enak hati. Ia segera turun serta meminta kakeknya naik keledai. Lalu mereka melanjutkan perjalanannya.

Sesampainya di kota kedua, ada lagi orang yang berkata: “Wah…dasar kakek tidak tahu diri. Sudah tua begitu masih saja menunggangi seekor keledai dan membiarkan cucunya yang masih kecil berjalan. Sungguh kakek yang pemalas!”

“Cucuku,” kata kakek itu kemudian. “Mungkin lebih baik kakek turun saja. Biar kita jalan bersama.” Mereka pun melanjutkan perjalanan sambil menuntun si keledai yang sekarang tanpa beban tunggangan.

Sesampainya di kota ketiga, orang-orang di kota itu berkata: “Wah...wah…bodoh sekali kakek dan cucunya ini! Kenapa mereka tidak menggunakan keledai itu untuk dinaiki? Ngapain harus berjalan capek-capek begitu? Punya keledai kok malah tidak digunakan!” seru mereka heran campur sinis.

Setelah mendengar apa kata orang-orang di kota itu, lalu si kakek dan cucunya buru-buru menaiki keledai itu bersama-sama.

Pada saat memasuki kota keempat, orang-orang di kota itu berkomentar: “Busyet....dah! Dasar kakek dan cucu yang tidak berperikebinatangan. Masa keledai sekecil itu masih diperas tenaganya hanya untuk kepentingan diri mereka sendiri?”

Mendengar komentar seperti itu, si kakek merasa apa yang mereka katakan masuk akal juga. Lalu dengan susah payah si kakek menggendong keledai di pundaknya, sementara kepala si keledai tampak menyandari di atas kepalanya. Si cucu ikut memegangi dari belakang supaya keledai tidak jatuh dari gendongan. Mereka menggendong si keledai itu sampai ke rumah sanak keluarga mereka.

Sesampainya di rumah yang dituju, sanak keluarga itu bertanya dengan nada penuh keheranan. “Aduh kakek... kok malah kakek yang menggendong keledai itu sih? Kenapa bukan kakek yang naik keledainya?”

Mendengar pertanyaan dan komentar seperti itu, si kakek itu pun kesal. Apa pun yang dikerjakannya selalu saja gagal dan dicela oleh orang lain.

Untuk sebagian orang, tampaknya cara untuk tidak melakukan kegagalan adalah berdiam diri saja dan tidak melakukan apa pun. Akan tetapi mereka sendiri malah akan dicela dan masih bisa dikategorikan sebagai orang gagal. Maksudnya, gagal dalam mengembangkan potensi terbaik dalam diri mereka sendiri.

Pernahkah Anda rapat lalu di dalam rapat itu ada orang-orang yang banyak bicara tapi kemudian malah dicela? Mereka yang sedikit bicara juga dicela. Bahkan mereka yang diam saja masih juga dicela. Bukankah di dunia ini sesungguhnya tidak ada yang bisa bebas dari celaan?

Untuk itulah saya ingin mengajak Anda semuanya untuk mengubah pemikiran atau mindset tentang apa itu gagal. Apakah tidak berbuat apa pun berarti kita tidak pernah gagal? Terus menerus mencoba dan tidak berhasil, apakah itu gagal? Mengingat bahwa tidak peduli apa pun yang kita perbuat, kita selalu akan dicela? Tak peduli sesempurna apa pun kita. Para nabi, Buddha, dan Yesus pun masih dicela. Kemungkinan kita dicap gagal oleh orang lain itu selalu ada. Kalau begitu mengapa kita tidak berbuat sesuatu? Toh kita pasti gagal jika kita menginginkan untuk memuaskan semua orang? Kita pasti dicela karena apa pun hasil kerja kita tidak mungin memuaskan semua orang.

Cobalah untuk menginginkan hanya yang baik saja terjadi pada diri kita, maka kita pasti kecewa akan kenyataan yang terjadi pada diri kita. Ada kalanya orang mendefinisikan tidak ada kata gagal yang ada hanya feed back atau saran-saran yang bisa membuat kita jadi lebih baik lagi.

Pada saat saya membuat artikel ini, sempat terlintas dalam pikiran saya, nanti kalau menulis ini, apa kata orang? Trus baiknya bagaimana, yah? Ah...ganti saja dengan kata yang ini. Terus nanti kalau gunakan kalimat ini yang ada pasti pro dan kontra dengan pendapat saya. Ah....pusing!

Kita semua tahu, “Tidak ada manusia yang sempurna”. Pepatah lama ini akan mungkin benar jika pengertian sempurna secara umum adalah baik di segala bidang menurut semua orang dan tidak mungkin salah. Hanya mendapatkan setengah dari kehidupan dan tidak mendapatkan sepenuhnya. Hanya mendapat yang baik-baik saja, hanya positifnya saja demikian sebaliknya hanya mendapat yang negatifnya saja.

Untuk itu jika ingin gagal maka cobalah menjadi “sempurna” dalam semua tindakan Anda dengan keluarga, teman, pacar, dan rekan bisnis. Cobalah berkeinginan untuk memuaskan semua orang akan hasil kerja Anda dan buktikan sendiri hasilnya.

Jika ada yang bisa, silakan hubungi saya dan akan saya berikan seluruh hidup saya padanya, uang saya kepadanya. Karena setiap apa pun yang dia kerjakan selalu laku dijual di dunia.

* Suryanto Wijaya adalah seorang Pembelajar sekolah kehidupan, IT Manager, dan dapat dihubungi melalui email CuSenWan200x@yahoo.com .

Selasa, 04 November 2008

Kapan Kita Siap?

Oleh: Suryanto Wijaya


Sebutlah Anna seorang mahasiswi yang ditunjuk oleh teman-temannya untuk menjadi seorang Project Officer (Ketua Panitia) dari sebuah acara bazaar buku-buku untuk menyambut mahasiwa baru dengan metode pembelajaran baru. Acaranya sendiri merupakan sebuah acara yang melibatkan banyak elemen. Baik dari pihak akademik kampus Anna sendiri, kampus-kampus lain bahkan sampai ke pihak departemen pendidikan. Acara yang akan diadakan selama kurang lebih tiga hari itu mengambil tema “membaca sebagai sebuah kebiasaan untuk sukses”. Tetapi apa yang terjadi ketika Anna diminta untuk menjadi ketua panitia? Jawaban yang keluar dari mulut gadis belia itu adalah, “Aduh, gak siap…!”

Sebuah pernyataan yang seringkali kita dengar ketika seseorang diminta untuk menjadi seorang ketua panitia, diberikan kesempatan untuk menerima sebuah tanggung jawab tertentu yang menantang dan bisa membuat dirinya lebih berkembang.

Pernahkah kita semua mengalami hal yang terjadi pada diri Anna? Saat kita ditantang untuk menjadi lebih baik lagi, saat seorang pria/wanita diminta sebuah komitmen untuk melanjutkan hubungan ke arah yang lebih serius, diberikan kepercayaan sebagai Project Leader pada acara ulang tahun perusahaan? Rata-rata dari kita akan menjawab dengan ucapan “Aduh, gak siap…! Jangan gue deh, cari yang lebih kompeten aja...”

Pertanyaannya kapankah kita akan siap? Benar-benar siap 100 persen? Tidak mungkin ada kemungkinan untuk gagal?

Jika dilihat dari awal pertama kalinya kita hadir di dunia ini. Kita hadir (lahir) di dunia ini apakah kita siap untuk hidup? Pada umumnya bayi lahir di dunia ini tidak siap untuk hidup. Hidup sendiri tanpa ditolong oleh orang lain (dokter, suster, orangtua, dll). Ketika berusia sekitar lima tahunan, kita tidak siap untuk sekolah, meninggalkan orangtua kita. Pada waktu menjelang akhir SMU, kita tidak siap dan terkadang masih bingung dalam memutuskan apakah ingin melanjutkan ke perguruan tinggi, langsung kerja, buka usaha sendiri atau meneruskan bisnis dari orangtua? Di akhir kehidupan kita, menjelang kita semua menjadi tua, apa kita siap untuk mati, meninggalkan dunia ini untuk selama-lamanya? Jadi kapan ya kita benar-benar siap?

“Oh...untuk itulah kita butuh persiapan atau perencanaan, misalkan seperti kita mau pergi ke luar negeri, yang perlu kita persiapkan adalah paspor, visa, tiket pesawat, pakaian (tergantung berapa lamanya di sana dan tujuannya untuk apa), uang untuk keperluan di sana, dll.” “Direncanain donk, kalau kita mau buka usaha, lihat dulu usaha apa yang benar-benar kita suka dan bisa menghasilkan, produknya (barang dan jasa) bisa memenuhi kebutuhan masyarakat luas, butuh tempat atau tidak, tempatnya seperti apa, eh...coba tanya dulu ke pakar hong shui bagus atau tidak? Butuh modal berapa besar (materi dan non materi)? Gimana rekrut orang-orang yang bisa membantu kita, resikonya apa saja, prediksi kemungkinan berhasilnya berapa lama, bisa untuk jangka panjang atau jangka pendek? Dan kayaknya masih banyak yang perlu direncanakan.”

Betul, dengan perencanaan kita akan menjadi lebih siap ketimbang tidak ada rencana, akan tetapi perencanaan yang seperti apa yang bisa membuat kita selalu siap 100 persen untuk segala macam jenis kondisi yang mungkin terjadi? Butuh berapa rencana, rencana A, rencana B, C, D...? Karena segala sesuatunya berubah setiap saat. Kecil sekali kemungkinannya untuk berhasil 100 persen sesuai dengan apa yang kita harapkan.

In the Future Anything is Possible
Nah, saya tidak mengatakan bahwa punya rencana atau tidak itu sama saja. TIDAK, BERBEDA SEKALI. Perbedaan antara orang yang memiliki rencana tentang hidupnya dengan orang yang tidak mempunyai rencana terhadap hidupnya benar-benar seperti bumi dan langit.

Mereka yang memiliki rencana tentang hidupnya mempunyai peluang untuk bisa hidup secara lebih berarti dan berguna. Mereka yang berencana tentang hidupnya seperti orang yang memiliki peta, kompas dan kendaraan. Mereka tahu apa yang mereka mau dalam hidup mereka, mereka tahu saat ini kondisi kehidupan mereka berada di mana dan mereka juga tahu tujuan mereka ingin kemana. Peta menuju ke sananya ada, tahu jalannya juga dan kendaraan (cara) untuk menuju ke sananya pun ada. Kalau belum ada mereka akan mencari tau kendaraan apa yang tercepat sekaligus teraman menuju ke tempat tujuan mereka.

Dalam skala perencanaan yang lebih besar lagi. Mereka merencanakan pada saat mereka meninggal, apa yang ingin mereka wariskan terhadap keluarga mereka, lingkungan tempat tinggal mereka, teman-teman mereka bahkan dunia. Hal ini pulalah yang dimaksud oleh Stephen Covey sebagai kebiasaan kedua dari tujuh kebiasaan dari orang yang sangat efektif. Begin with the end in mind (mulai dengan memikirkan tujuan akhir).

Karena banyak di antara kita yang dulunya banyak memiliki perencanaan tentang hidup akan tetapi seringkali melenceng dari apa yang telah direncanakan. Mungkin karena seringnya terjadi hal-hal yang membuat kita melenceng dari rencana awal yang kita inginkan. Hal ini pulalah yang membuat orang-orang yang telah memiliki perencanaan tentang hidup mereka berhenti untuk berencana, mengikuti arus kehidupan yang tak pasti, berhenti untuk melakukan kerjasama dengan Tuhan, tidak lagi berdialog dengan Tuhan untuk saling bahu membahu dalam mendisain kehidupan, mendesain kehidupan yang kita inginkan dan direstui oleh Tuhan.

Saya sendiri tidak tahu apa pendapat Anda semua yang sedang membaca artikel ini, apa pandangan Anda masing-masing tentang kehidupan? Saran saya silakan membaca terlebih dahulu artikel saya yang pertama di Pembelajar.com, yaitu “Apa Sih Hidup Ini?”

Nah, kita semua tentu mau yang terbaik terjadi, di dalam setiap tindakan kita. Untuk itulah kita terkadang sering bertanya-tanya kalau mau bikin acara yang bagus kriterianya seperti apa? Persiapaannya perlu apa aja? Acaranya yang bagus seperti apa? Semakin kita banyak bertanya kepada orang-orang, semakin banyak kriteria atau alat ukur untuk menentukan suatu acara bagus atau tidak. Lalu ada orang yang mangatakan pekerjaan atau acara yang bagus tuh ada nilai seninya. Desain tampilannya menarik, dekorasinya ok, yang penting ada live music-nya, acaranya dihadiri band papan atas Indonesia dan masih banyak lagi.

Nah, kalau kriterianya makin banyak dan banyak orang pula kita libatkan, banyak di antara teman-teman kita sendiri yang bilang, “Ah, itu mah berisiko tinggi!”

There always a risk if you do something, but you won’t have to be risky
Rich Dad – Robert Kiyosaki

Apakah semua rencana itu pasti berjalan dengan lancar 100 persen? Pasti akan sama persis sesuai dengan apa yang telah kita rencanakan?

Tentu saja tidak, karena selalu ada area yang tidak bisa kita kendalikan. Apalagi kita menginginkan yang terbaik untuk semua orang. Berusaha untuk menjadi sempurna. Apakah bisa setelah selesai acara, semua penonton akan berkata “Bagus, keren banget deh acaranya. Baru pertama kali saya ikut acara sebagus ini!” Selalu ada kemungkinan orang untuk berkata, “Sayang banget nih persiapaannya masih kurang, coba aja kalau di bagian ini bagian itu lebih diperhatikan dari awal. Mungkin hasilnya bisa lebih bagus dari hari ini!” Karena kalau kita ingin memuaskan setiap orang, mencoba menjadi sempurna maka itu adalah RESEP SUKSES PASTI GAGAL. Silakan baca artikel saya tadi di website ini juga.

Kita hanya bisa mengambil peranan sebagai Event Organizer, baik atau buruknya acara itu berdasarkan pendapat orang lain itu di luar dari peran kita atau kendali kita. Biarkanlah yang berkuasa (Tuhan+Manusia) itu sendiri yang memainkan perannya sebagai penilai dari acara atau tindakan kita. Hal itu berada di luar dari lingkaran kendali kita.

Jadi, kalau diminta untuk menjadi seorang ketua panitia, memegang sebuah jabatan tertentu atau status baru, entah itu berubah dari single menjadi in a relationship or berubah menjadi menikah. Apakah Anda siap? Jawabannya tidak ada dan tidak akan pernah ada seseorang yang siap 100 persen dalam menghadapi perubahan itu.

It’s not can you, it’s will you
-Anthony Robbins

Lagipula yang awalnya kita tidak bisa lalu menjadi bisa bukan itu sendiri adalah sebuah kemajuan? Menembus batas kemampuan diri kita sendiri bahkan bisa dikatakan bahwa kita “mengalahkan” diri kita sendiri. Kita mengalahkan suara-suara parau yang ada di dalam diri kita, yang sering mengatakan bahwa kita tidak siap atau tidak layak untuk menjadi seorang ketua panitia karena ini dan itu. Untuk membuka cara berpikir teman-teman pembelajar semua ini, mungkin ada kata-kata klasik yang mungkin teman-teman semuanya sudah mengetahuinya. Tapi ini tetap berlaku sampai sekarang

In the middle of a problem lies an opportunity.

Dalam setiap masalah yang ada selalu ada saja kesempatan yang terpendam di sana, kesempatan untuk menjadi lebih baik lagi dari saat ini. Karena sesungguhnya menurut saya kepuasan/kemenangan sejati bukanlah didapat dari memenangkan sebuah pertarungan dengan 100 orang. Kepuasan/kemenangan sejati didapat dari memenangkan pertarungan di dalam diri kita masing-masing. Karena menang terhadap semua orang di dunia ini adalah tidak mungkin dan kita tidak punya cukup waktu untuk hidup di dunia ini mengalahkan semuanya.

Breaktrough the limit of your belief you can do and you cannot do and expand the mindset of what is possible you do in the future if you want a better quality life.

So, last question, kapan kita siap?

* Suryanto Wijaya: Pembelajar Sekolah Kehidupan, Orang Biasa Dengan Pikiran LUAR BIASA seperti Anda. Ia apat dihubungi langsung di CuSenWan200x@yahoo.com

toko-delta.blogspot.com

Archives

Postingan Populer

linkwithin

Related Posts with Thumbnails

Total Tayangan Halaman

Diberdayakan oleh Blogger.