toko-delta.blogspot.com

menu

instanx

Minggu, 02 November 2008

HARGA DISKON: APA BETUL DISKON SUNGGUHAN?

Oleh: Undang A. Halim

“Akhir tahun, bonus, piknik, belanja, harga diskon, sale.. sale... sale!,” kata-kata itulah yang paling akrab di telinga kita menjelang akhir tahun. Tentunya selain acara Natalan untuk yang merayakannya.

Ya, teropong penulis ingin difokuskan ke acara belanja dengan harga diskon yang selalu meriah ini.

Harga diskon adalah senjata utama para peritel. Dengan makin membludaknya toko eceran saat ini, persaingan semakin ketat—terjadi adu balap hipermarket di mana mana—menyebabkan semua peritel harus mengeluarkan jurus ampuhnya masing-masing. Kalau tidak, kuburan menantinya. Sehingga promosi itu sudah menjadi keharusan.

Harga Diskon adalah yang paling umum dijadikan senjata, dan yang untung adalah konsumen, bisa pilih sana, pilih sini, yang paling murah.

Masalahnya adalah, apakah diskon itu benar-benar murni potongan harga atau polesan saja atau sekedar tipu-tipu pedagang. Jawabannya bisa semuanya benar. Itu sebabnya pembeli harus kenal betul, mana diskon murni, mana diskon aspal, dan mana diskon jadi-jadian.

Peritel itu mempunyai banyak cara untuk menggemukkan kas depositonya. Dan itu memang wajar, sebagai perusahaan, ya cari untung. Salah satu caranya adalah teknik subsidi silang atau price leader, bahasa sononya. Ada satu atau beberapa barang yang harganya dibanting, alias diturunkan harganya, kalau perlu sampai mentok harga modal.

Perusahaan rugi? Ya, jelas rugi untuk produk yang satu itu (misalnya sepatu). Tapi pembeli biasanya tidak hanya membeli sepatu itu saja, tapi juga belanja barang lainnya. Dan biasanya barang lainnya itu lebih banyak kuantitas rupiahnya dibanding barang yang dipromosikan tadi.

Singkatnya, mereka rugi untuk satu produk sepatu itu, tapi ditutup oleh keuntungan dari prnjualan barang-barang lainnya yang margin keuntungannya standar atau lebih tinggi. Dan ini biasanya secara akumulatif akan lebih menguntungkan, karena volume penjualan toko itu semakin tinggi.

Jadi barang price leader itu sebetulnya hanya “pemancing” saja, untuk meningkatkan traffic pengunjung, supaya konsumen makin banyak berdatangan ke tokonya. Ada pembeli yang militant, dia hanya belanja barang price leader itu saja ke setiap toko, dengan harga murah atau murah sekali. Sangat menguntungkan, kalau barangnya memang dibutuhkan, atau memang dibeli untuk dijual lagi.

Sayang sekali, atau untung sekali (buat toko), sebab konsumen umumnya selain membeli barang promosi, juga barang-barang lainnya yang tidak di “harga promosi”, kan? Maka margin yang tekor bisa ditutupi dari penjualan produk lainnya itu.

Keuntungan lain buat toko adalah, “menjebak” konsumen yang suka membeli secara impulsif, tanpa perencanaan. Dari rumah tak berniat membeli barang itu, tapi karena lagi promosi dan kelihatannya murah, menarik, maka disabet juga padahal barang itu tak diperlukan benar, dan duit di kantong tak siap untuk membeli barang itu. Akhirnya, ya ngutang...pakai kartu kredit. Padahal kadang-kadang barang itu baru dipakai setelah lewat setahun, atau malah kelupaan karena nyelip di lemari. Wah...! Masih ada barang lain yang dijual murah karena berbagai alasan. Barang bagus, tapi modelnya sudah out of date misalnya, juga dijual secara diskon. Besarnya bervariasi tergantung umur barang itu, biasanya 10% hingga 80%. Bagi orang yang tak terlalu care dengan mode, ini adalah lahan empuk, pesta barang murah.

Ada juga barang over stock (kelebihan produksi) dari pabrikan atau barang bekas display di toko yang kadang-kadang ada yang cacat kecil. Daripada ditumpuk di gudang, pabrik atau toko biasanya lebih memilih mengobralnya.

Yang perlu diingat adalah, hati-hati dengan barang sedikit cacat atau tak sempurna atau barang BS. Cermati saja. Kalau diskonnya 60% misalnya, sebanding tidak dengan cacatnya? Kalau cacatnya tak seberapa, lubang kancingnya tak simetris misalnya, dan kitanya cuek bebek, ya ambillah.

Nah, itu tadi adalah beberapa jenis promosi yang memang benar-benar potongan harga. Ada jenis promosi lainnya? Tentu saja banyak variasinya.

Penawaran promo memang bervariasi. Semua dibuat secara unik untuk memberikan kesan nilainya lebih besar. Terkadang berkesan bombastis! Coba saja cermati penawaran di bawah ini:

“Diskon besar minggu ini, 40% plus 50%!”

Bunyinya diatur sedemikian rupa supaya membuat kesan diskon sebesar 90%. Wow! Silahkan hitung lagi. Itu kan ternyata “hanya” diskon sebesar 70% karena diskon tambahan yang 50% itu adalah 50% dari sisa harga jual dikurangi diskon pertama, bukan 50% dari harga jual awal. Dengan hitungan yang sama, diskon 30% plus 60% itu riilnya hanya 72%.

Ya, memang angkanya besar sih. Tapi masih perlu dicermati, apakah harga ecerannya sama dengan harga regular? Tidak dinaikkan dulu seperti banyak dicurigai orang? Atau ini barang over stock, barang cacat? Di sinilah kuncinya.

Jenis lain promosi adalah, menawarkan diskon yang “mahabesar”, apakah itu 50%, 60% atau 70%. Apakah ini semua diskon betulan? Ataukah, lagi-lagi, ini hanya diskon rekayasa?

Untuk mengetahui jawabannya, sebaiknya kita melakukan pengamatan dahulu. Promosi dengan diskon yang sangat besar itu ada beberapa kemungkinan. Pertama, barang yang dijual adalah barang sisa stok lama atau barang BS atau sedikit cacat.

Kedua, mungkin tokonya mau tutup. Biasanya mereka akan cuci gudang dulu biar barangnya habis.

Ketiga, itu hanya diskon rekayasa, artinya “harga jual eceran”-nya palsu, jadi diskonnya kelihatan besar sekali.

Kalau produk diskon itu jumlahnya banyak, berderet-deret raknya, kualitas barangnya juga baru semua (bukan barang lama), dijual dengan diskon 60% atau lebih, itu hampir pasti diskon rekayasa. Margin barang fashion seperti itu biasanya sekitar 30%. Artinya, kalau didiskon 60% mereka rugi 30%. Rumus mana yang dipakai? Paling-paling ya harga jualnya palsu atau dinaikkan dulu.

Nah, amati saja pengunjung yang lewat di sana. Jika mereka ramai-ramai mengeroyok rak barang, itu berarti diskonnya mungkin OK. Tapi kalau para pengunjung yang lewat hanya cuek saja, cuma sedikit menoleh, atau bahkan mencibir sinis, itu tandanya sebaiknya lupakan saja diskon itu. Diskon itu mungkin “aspal”.

Harga diskon untuk barang elektronik, harus dicermati lebih teliti kualitasnya. Kadang toko mengobral TV dengan harga diskon 50%. Tapi biasanya suka diberi catatan ”Barang ex display,” itu tuh barang yang suka di-“on”-kan tiap hari. Anda tak kan tahu, sudah berapa lama barang itu dioperasikan setiap hari non stop. Jadi, membeli barang beginian mah harus ditemani kawan yang mengerti teknisnya, supaya tak terkecoh.

Untuk barang baru, tanya dulu ada garansinya tidak? Kalau ada, tanyakan dari perusahaan mana? Kalau perusahaan penggaransinya berbeda dengan si agen, kita harus lebih hati-hati. Ini perlu diketahui karena saat ini ada istilah black market. Digunakan untuk produk yang diimpor oleh perusahaan bukan agen resminya di Indonesia.

Mereka mengimport barang seperti tv, video, telepon genggam, dll secara gelap, tentunya dengan biaya lebih murah. Tapi konsekuensinya pelayanan purna jualnya belum tentu bisa segampang di agen resmi, karena mereka menangani sendiri urusan garansi dengan cara menunjuk perusahaan lainnya, berfungsi sebagai tukang service.

Yah, yang namanya tak resmi biasanya untung-untungan juga, kadang bagus servisnya, tapi kadang bermasalah. Tinggal kembali ke konsumennya, bila menginginkan harga yang lebih murah tapi garansinya “semoga bagus”, ya ambillah. Tapi kalau mau tidur lebih tenang, ambil saja yang keluaran agen resmi dengan harga standar, alias lebih mahalan.

Itulah beberapa contoh penjualan dengan harga diskon.

Untuk yang hobi berbelanja, silahkan simak beberapa tip di bawah ini.

• Sisihkan bonus atau THR Anda untuk membereskan aneka jenis utang dahulu, lalu berinvestasilah seperti untuk deposito, reksadana, asuransi dll. (Silahkan baca buku-buku karya Safir Senduk misalnya, dan ahli perencanan keuangan lainnya).

• Tentukan dulu, berapa budget untuk membeli barang yang dibutuhkan. Pegang angka ini dengan ketat.

• Selalu prioritaskan membeli barang kebutuhan utama dahulu, untuk menghindari pembelian tanpa direncanakan, karena tergiur promosi.

• Belilah barang promosi yang memang dibutuhkan. Jangan belanja karena menuruti perasaan kita saja sewaktu jalan-jalan keliling di toko (impulsif).

• Hati-hati membeli barang yang ada di sekeliling (di dekat) barang promosi yang mungkin marginnya terlalu tinggi.

• Periksa dulu barangnya, apakah betul-betul baru atau barang lama yang di clearance. Atau bisa juga tak ada Kartu garansinya.

• Untuk barang-barang tertentu, tanyakanlah ada jasa antaran atau tidak?

• Jangan membeli secara kredit kalau mampu membeli tunai.

• Sebaiknya lihat juga toko lainnya untuk membandingkan harga, terutama untuk barang baru yang tak kita kenal benar. Apakah betul-betul diskon besar?

• Jangan terlalu tergiur dengan tawaran “Harga murah! Ini hari terakhir...!”

• Hati-hati dengan masa kedaluarsa yang sudah mepet, untuk barang diskon produk makanan.

Selamat berbelanja, dengan harga murah dan aman![uah]

* Undang A. Halim adalah konsultan dan praktisi retail. Bukunya tentang cara belanja cerdas sedang dalam proses penerbitan. Ia dapat dihubungi di: ddanks@indosat.net.id

FORMASI V

Oleh: Ardian Syam

Pernah perhatikan angsa di daerah bermusim empat yang selalu terbang ke selatan ketika musim dingin? Mereka menggunakan formasi V. Ada angsa yang terbang paling depan dan di belakang angsa itu ada dua angsa dan di belakang masing-masing dari dua angsa tersebut ada satu ekor angsa dan terus sampai ke belakang. Biasanya jumlah angsa tersebut sampai 11 ekor dan membentuk huruf V.

Mengapa demikian? Kepak sayap dari angsa yang di depan akan mengelevasi angsa yang di belakangnya. Begitu juga dengan angsa di baris kedua, walaupun mengepakkan sayap dengan tenaga yang lebih ringan tetap saja akan dapat mengelevasi angsa di baris berikutnya. Ini mengakibatkan angsa yang paling belakang sama sekali tidak perlu mengepakkan sayap. Dia hanya perlu merentangkan sayap selebar mungkin untuk mendapatkan daya elevasi dan sayapnya yang aerodinamis tadi akan tetap membuatnya terbang.

Itu berarti semakin ke belakang maka akan semakin ringan beban untuk terbang. Ketika angsa terdepan mulai mengalami kelelahan maka dia akan menurunkan ketinggian terbangnya sehingga formasi itu melewatinya. Ketika itu pula salah satu dari dua angsa yang di belakangnya akan terbang lebih cepat untuk menjadi angsa terdepan. Barisan itu pun akan maju sehingga angsa yang terbang rendah tadi dapat masuk menjadi angsa paling belakang dari barisan itu.

Dengan demikian mereka dapat terbang cukup lama tanpa harus beristirahat. Mungkin ketika malam sudah terlalu larut saja mereka akan beristirahat untuk mengumpulkan tenaga yang akan mereka gunakan esok hari.

Pernahkah Anda menyadari bagaimana bila mereka terbang sendiri? Mungkin mereka akan terlalu lama berada di wilayah yang empat musim dan ketika salju mulai turun mereka belum sampai di selatan. Atau bahkan mereka sudah mati kelelahan karena tidak ada yang membantu.

Begitu pula dengan bisnis. Ketika seseorang hanya berbisnis sendiri maka dia harus berusaha sendiri. Mulai dari pembiayaan, pencarian sumber daya, pengolahan hingga pendistribusian dilakukan sendiri. Anda pasti akan kelelahan.

Belum lagi bila bisnis yang Anda masuki adalah bisnis yang diminati oleh banyak orang karena menghasilkan margin laba yang cukup tinggi. Anda akan benar-benar kelelahan, karena Anda juga harus sendirian berhadapan dengan kompetitor.

Seorang teman saya berbisnis garmen di Meulaboh. Sekedar informasi kepada Anda yang mungkin belum tahu, Meulaboh berada di pantai barat pulau Sumatra dan berada di wilayah Provinsi Naggroe Aceh Darussalam. Wilayah tersebut merupakan wilayah yang paling parah ketika ada bencana tsunami.

Tentu saja hal itu juga terjadi pada teman saya. Bukan hanya tokonya tetapi juga seluruh barang dagang yang ada juga habis dilanda tsunami. Dengan nilai persediaan hampir satu miliar rupiah habis. Memang tidak semua dari barang tersebut yang dia beli putus, tetapi tetap saja berarti dia berutang senilai tersebut tetapi tidak ada barang yang dapat dijual untuk membayar utang itu.

Mari kita lewatkan kesedihan ketika dia belum menemukan anggota keluarganya yang hilang. Mari kita bicara bisnis saja. Bagaimana cara membayar utang?

Ternyata seluruh pemasok barang dagangan tadi ketika dihubungi malah menyemangati teman saya itu. Mereka bilang, jangan patah, coba saja lagi usahakan lokasi toko yang baru, andai masih ingin buka toko di sana, juga silakan. Mereka bahkan bersedia mengirimkan barang senilai yang diinginkan teman saya itu.

Mulailah dia berusaha kembali dari nol, dari modal pinjaman yang sekarang sudah jauh melampaui nilai satu miliar rupiah. Memang teman-temannya tidak memberi penghapusan piutang, tetapi memberikan tambahan barang dagangan.

Apa yang terjadi kemudian? Setelah satu tahun lebih dia mulai kembali berusaha, maka seluruh utangnya yang lenyap dibantai tsunami sudah terbayar semua. Begitu pula utang yang timbul sejak dia mulai usaha lagi, pascatsunami pun telah terbayar. Kehidupan sudah normal lagi.

Sudah baca tulisan berjudul “Instrumen Orang Kaya” yang dimuat di Pembelajar.com dan di buku bisnis Kacamata Kuda? Saya ada bicara tentang bagaimana bila Anda merasa bahwa pasar sudah mulai terbatas dan terlihat mulai jenuh. Saya memberi saran agar membuat pasar, lengkapnya Anda baca saja dari tulisan tersebut.

Hal yang saya maksud di tulisan itu terbukti dengan pengalaman teman saya tadi. Karena teman-teman yang memiliki produk tetap mendukung dengan terus mengirimkan produk walaupun berarti utangnya bertambah, mereka tetap tenang. Karena mereka percaya bahwa dalam waktu dekat teman saya itu akan terus berusaha sampai mampu membayar semua utang dan dapat berdiri sendiri.

Tidakkah Anda belajar dari angsa? Tidakkah Anda belajar dari Purdi E Chandra dengan rumus MODOL-nya? Purdi menyatakan bahwa bisnis akan lebih mudah bila dengan MOdal Dari Orang Lain. Ketika Anda punya kemampuan berbisnis tetapi tidak memiliki modal untuk memulai usaha, maka MODOL.

Tetapi bagaimana bisa MODOL bila Anda tidak mempunyai kenalan? Itu berarti modal paling besar bagi Anda adalah kenalan, dan bangunlah networking.[as]

* Ardian Syam adalah penulis buku bisnis “Kacamata Kuda”. Ia dapat dihubungi di: ardian.syam@gmail.com

KARMA CINTA

Oleh: Alexandra Dewi


Vivi dan Sandra berteman baik. Mereka sudah kenal satu sama lain sejak masih di bangku SMA. Ini cerita yang diungkap Sandra tentang Vivi. Cerita dimulai saat Vivi pertama kali berjumpa dengan Andre. Saat pertemuan itu Vivi berusia 20 tahun. Sandra mengenal Vivi sebagai perempuan yang tipenya terbuka, spontan, dan cenderung wild. Kata Sandra, Vivi akan berusaha mencoba segala hal, setidaknya sekali saja. Tak heran jika Vivi sangat senang berpetualang. Termasuk ketika baru mengenal Andre, dia langsung berhasrat mengarungi samudera cinta bersama pria tersebut. Untuk petualangannya dengan Andre kali ini, Vivi seperti pakai kacamata kuda.

Vivi bukanlah tipe cewek pencemburu. Kalau Andre ingin pergi hanya dengan teman-teman prianya, Vivi selalu oke-oke saja. Vivi malah heran kalau ada perempuan yang tidak mau memberi “space” kepada pacarnya. Vivi bilang kepada Sandra, “San, biarin aja cowok kita ke sana ke mari, yang penting pulang ke tempat kita juga.”

Tapi berbeda dengan Vivi, Sandra ternyata sangat tidak setuju dengan pandangan tersebut. Bukannya Sandra tidak percaya kepada pacarnya, tapi dia tidak percaya pada lingkungannya. “Segerombol pria berduit, pergi ke klub-klub, mau ngapain kalau bukan mau cari ‘selingan’? Belum lagi nanti pengaruh alkohol. Apa saja bisa terjadi dalam situasi semacam itu,” ungkap Sandra.

Menurut Sandra, sebagian besar teman-teman perempuannya setuju dengan sikapnya tersebut. Walau begitu, Sandra salut pada sikap Vivi. Karena memang tidak mudah bisa punya ‘keyakinan’ seperti itu sekaligus membebaskan cowoknya berada di lingkungan yang penuh godaan.

Selama Vivi dan Andre pacaran, Sandra melihat mereka berdua merupakan pasangan yang sempurna. Tapi muncul tanya dalam benak Sandra, “Kapan ya mereka menikah?” Padahal, mereka sudah tinggal dalam satu rumah. Di Amerika tinggal serumah sebelum menikah adalah hal yang lumrah. Tidak seperti di Asia yang masyarakatnya lebih konservatif. Karena tinggal serumah dan sudah jadi pasangan selama lebih dari sepuluh tahun, Vivi dan Andre layaknya pasangan “suami-istri” saja. Hanya saja, mereka adalah pasangan suami-istri tanpa pesta pernikahan dan akte nikah. Jadi kalau ditanya kapan menikah, jangan heran kalau jawaban mereka begini; “Buat apa?” atau kadang-kadang, “Maybe next year...” Dari tahun ke tahun selalu begitu jawabannya, sekalipun satu demi satu teman seangkatannya telah menikah.

Selama mereka pacaran, Andre bukanlah tipe pria pelit. Apa saja yang diinginkan Vivi, asal Andre sanggup, pasti dibelikan. Mereka berdua juga sering traveling ke Eropa, Maldives, dan Jepang, pokoknya melebihi pasangan suami-istri yang sedang menikmati bulan madu. Keakraban, kedekatan, dan kemesraan mereka sebagai pasangan tampak begitu sempurna. Sampai suatu ketika, Andre dan Vivi putus hubungan setelah usia pacaran mereka melewati tahun kesebelas.

Menurut versi Andre, dia putus bukan karena Vivi tidak bisa punya anak. Tapi karena ada satu karakter Vivi yang—setelah Andre renungkan masak-masak—diyakininya akan sulit menjadikan mereka berdua sebagai pasangan yang berbahagia. Sebelas tahun mereka pacaran, Vivi sebenarnya pernah hamil. Karena waktu itu usia mereka berdua masih terlalu muda, Andre dan Vivi memutuskan untuk aborsi.

Ketika Vivi hamil yang kedua kalinya, mereka sepakat untuk aborsi lagi. Supaya tidak terjadi kehamilan berulang yang tak diinginkan, Vivi memutuskan pasang spiral, alat kontrasepsi yang dianggapnya aman dan mampu bertahan lima tahun. Ketika sampai waktunya spiral dilepas, ternyata tumbuh semacam kista atau infeksi dalam rahim Vivi. Akibatnya, kemungkinan Vivi hamil lagi tinggal sekitar sepuluh persen saja.

Sandra tahu betul kalau Vivi sangat suka terhadap bayi dan anak-anak. Kalau mereka jalan-jalan di mal dan menjumpai bayi atau anak kecil, Vivi selalu berhenti sejenak untuk bergurau dengan mereka. Saking demennya bercanda dengan anak orang, Sandra sampai mengingatkan Vivi demikian, “Vi, jangan pegang-pegang bayi orang! Belum tentu mamanya mengizinkan, lho!“ Tak diragukan sama sekali, Vivi sangat menyukai anak-anak. Maka ketika mendengar kabar kemungkinan dirinya bakal sulit punya anak, Vivi sangat sulit menerimanya.

Setelah putus dengan Andre, Vivi jadi sangat tertekan. Ia coba menghubungi orangtua Andre, saudara-saudara, dan juga teman dekat Andre. Siapa tahu salah satu di antara mereka mampu membuat Andre berubah pikiran? Tapi hasilnya nihil. Vivi berkeluh kesah kepada orang-orang itu, “Sebelas tahun aku habiskan waktuku bersama Andre. Kalau dia bilang aku bukan orang yang dia inginkan, mengapa tidak dia katakan waktu usiaku masih 25 tahun? Sekarang aku 31 tahun dan aku juga tidak bisa punya anak lagi. Dia mencampakkan aku begitu saja!”

Sandra mencoba menghubungi Andre. Ia sampaikan keluhan Vivi bahwa dirinya telah menghabiskan waktu sebelas tahun bersamanya. Andre menjawab enteng, “Yeah, me too!” Sandra merasakan betul kekecewaan Vivi. Menurutnya, ada perbedaan hasil akhir dalam sebelas tahun hubungan Andre dan Vivi. Kini Vivi adalah seorang perempuan berusia 31 tahun dan divonis bakal tidak bisa hamil lagi.

Sedangkan Andre, dia kan laki-laki, sekalipun berusia 35 tahun, dia tidak punya masalah soal bisa memberi keturunan atau tidak. Realistis saja, dan bukan pesimistis, siapa kelak yang mau menikahi Vivi? Adakah pria yang mau menikahi perempuan yang divonis bakal tidak bisa punya anak? “Kok enak ya jadi laki-laki?” protes Sandra.

Lalu, hanya beberapa bulan semenjak putusnya hubungan tersebut, Andre sudah menemukan pacar barunya. Sementara Vivi meninggalkan Amerika Serikat untuk pindah ke Hong Kong demi mengubur kenangan lamanya. Pacar baru Andre, Cindy namanya, ternyata kenalan Vivi juga. Cindy dan Vivi pernah makan malam semeja dengan Andre dan teman-teman mereka berdua. Vivi pun pernah menunjukkan kepada Sandra foto bersama mereka sebagai satu kelompok teman akrab. Saat foto itu diambil, Vivi sudah merasakan sesuatu yang ganjil. Walau begitu, Vivi tak menaruh curiga berlebihan.

Tapi yang menyedihkan adalah fakta bahwa Andre kenal Cindy pertama kali di sebuah klub malam, saat Andre ngeklub bersama teman-teman prianya alias “guys night out”. Padahal, waktu itu Vivi pernah bilang pada Sandra, “Biarlah laki-laki ngeklub bersama teman-teman prianya, toh mereka akan pulang juga ke tempat kita.”

Satu setengah tahun sejak Vivi dan Andre putus, Andre menikahi Cindy. Sebelas tahun Andre mengaku “belum siap“ dengan Vivi lalu tiba-tiba dia menyatakan sudah “siap” untuk menikah dengan Cindy. Bisa dibayangkan betapa sakit hatinya Vivi mengetahui sikap Andre itu.

Tiga tahun berikutnya, Sandra tidak pernah mendengar kabar dari Vivi. Semua email-nya tidak pernah dibalas. Tiba-tiba saja Vivi seperti hilang ditelan bumi. Tapi Sandra selalu mencoba menghubungi Vivi, just to show her bahwa dirinya masih peduli dan ingin berteman selamanya dengan Vivi. Sampai suatu kali, Vivi membalas email Sandra serta melampirkan sebuah foto. Dalam email-nya Vivi bercerita bahwa dirinya berjumpa dengan seorang pria Jerman. Laki-laki itu pernah menikah, tapi kemudian bercerai dan mendapatkan tiga orang anak dari pernikahan pertama tersebut. Dari foto bersama pacar barunya itu, tampak sekali Vivi is glowing. Begitulah raut muka orang yang sedang jatuh cinta.

Sandra hampir tak mempercayai kabar terakhir Vivi tadi. Tapi Tuhan memang Maha Penyayang. Vivi bertemu jodoh yang sempurna. Justru karena tidak bisa punya keturunan lagi, Vivi malah menemukan seorang laki-laki baik hati yang telah dikaruniai tiga orang anak yang lucu-lucu dari pernikahan sebelumnya.

Sementara kabar yang tampaknya bertolak belakang datang dari Andre. Setelah beberapa tahun menikahi Cindy, Andre tetap saja belum mendapatkan anak sebagaimana yang dia inginkan. Bukan karena tidak bisa punya anak, tapi karena ternyata Cindy menyatakan dirinya tidak suka dengan anak kecil. Cindy bersikukuh dirinya tidak ingin punya anak.

Sampai detik terakhir, Sandra sangat bahagia menerima kabar bahwa Vivi masih berbahagia bersama pacar barunya serta tiga anaknya yang lucu-lucu itu. Meresapi kisah sahabat-sahabatnya tadi, Sandra menuliskan kalimat-kalimat renungan dalam catatan hariannya.

“Untuk perempuan yang sudah berumur memang akan semakin sulit mendapatkan jodoh. Padahal, laki-laki berumur 50 tahun saja masih bisa mendapatkan jodoh yang jauh lebih muda. Banyak perempuan patah hati dan merasa dunianya sudah kiamat jika tidak segera mendapatkan jodoh. Namun, kisah Vivi di atas semoga dapat menguatkan hati kaum perempuan yang sedang patah arang dengan kehidupan cintanya. Tetaplah dalam keyakinan terdalammu! Akan tiba saatnya cinta itu datang kepadamu. Sebab dirimu sungguh berarti, karena Tuhan sungguh mencintaimu, dan dirimu sungguh layak untuk dicintai.”[ad]

* Alexandra Dewi adalah co-author buku laris “I Beg Your Prada” (GPU, 2006). Ia menaruh perhatian besar pada karir dan kehidupan para lajang metropolitan. Saat ini, buku keduanya yang berjudul “Get the Ring” sedang dalam proses penerbitan. Dewi dapat dihubungi melalui email: inthelalaland@yahoo.com

MANUSIA BESAR"

Oleh: Joshua W. Utomo


Judul tulisan saya ini tidak ada kaitannya sama sekali dengan kompetisi binaraga ataupun dengan film-film Barat ala 'Rambo', 'Commander', atau 'Rocky' yang menonjolkan sosok-sosok manusia berbadan perkasa dan berotot kawat, berbalung besi itu.

Pembaca pun telah mafhum bahwa cukup sulit mencari manusia Indonesia yang berbadan seperti Arnold Schawerzerneger, 'Rambo' Stallone, atau Mike Tyson. Kalaupun ada, tidaklah begitu banyak jumlahnya.

Singkatnya, judul komentar diatas lebih menunjuk pada 'kebesaran' manusia pada sisi mentalitasnya (rohaninya). Kebesaran seseorang seperti yang telah dicatat dalam pena emas sejarah kemanusiaan selama ini, seringkali (kalau tidak boleh dikatakan sebagai selalu!)didasarkan pada kebesaran jiwa, dan keteguhan hati manusia yang bersangkutan.

Kebesaran sisi rohaniah dari manusia inilah yang mampu membuat sesuatu yang amat berbeda (make a difference) di bumi ini, seperti yang bisa kita temukan pada diri 'manusia-manusia besar' masa kini yang namanya sedemikian familiar di telinga kita: Ibu Teresa dari Kalkuta, Mahatma Gandhi, Martin Luther King, Jr., dsbnya.

Lebih-lebih bila sikon dari komunitas yang kita huni ini dalam keadaan sekarat-bak hidup enggan, mati tak mau! Memang banyak sekali faktor penyebab yang bisa membawa suatu komunitas terjerembab kedalam sikon yang mengenaskan ini. Tapi salah satu faktor penyebab primernya tak lain dan tak bukan adalah si manusianya itu sendiri, yaitu manusia-manusia yang menganggap dirinya sendiri sebagai pemimpin diantara manusia lainnya. Manusia-manusia berhati kerdil yang adigang-adigung-adiguna itu.

Maka bila kita lihat lebih seksama lagi, kesekaratan roda kehidupan komunitas negeri yang kita cintai ini tak lain dan tak bukan disebabkan oleh 'kekerdilan' mental spiritualitas dari sebagian besar para pemimpinnya (pamong prajanya). Pamong praja yang seharusnya berjiwa besar, berhati suci, dan bermental unggul sebagaimana layaknya "sang pamong praja sejati" yang mampu momong--memperhatikan, merawat, dan mengutamakan kepentingan setiap warga yang dipimpinnya, tapi celakanya yang kita temui dan miliki saat ini adalah para pamong praja berjiwa kerdil, berlaku ala preman jalanan, berlagak bak penyamun galak yang brutal dan tak memiliki rasa kemanusiaan.

Para pamong praja yang bisanya hanya ngomong, nodong, nyolong, mbokong, menthung, nyolong, nylenthong dan kloyang-kloyong seperti tak ada kerjaan setiap harinya.

Kini kita dihadapkan pada dua buah pilihan. Dua pilihan yang sama-sama sulitnya (bagaikan buah simalakama) guna mengatasi kesekaratan roda hidup negeri ini. Sebuah negeri yang telah dihinggapi dan dibalut oleh kanker ganas yang teramat kronis. Siapkah anda mendengar kedua 'buah simalakama' tersebut? Kalau memang anda telah siap silahkan terus membaca hingga tuntas tulisan saya ini.

Pilihan pertama: Kita semua harus siap menjalani operasi besar-besaran. Operasi besar-besaran macam apakah ini? Operasi pembersihan secara total dari kankar ganas yang membalut sebagian besar pamong praja berjiwa kerdil itu (dan mungkin juga diri kita sendiri), seperti: KKN, gaya hidup ala selebriti Hollywood, cara pandang 'kemaruk' atas kekuasaan/pangkat dan status sosial, ketakprofesionalan cara kerja, dan mentalitas kacangan yang bersifat mementingkan diri sendiri dengan mengabaikan kepentingan orang lain, sifat dan sikap kemunafikan yang semakin hari semakin menebal dibalik jubah keagamaan, dan sebagainya.

Operasi pembersihan ini harus dilakukan secara tak pandang bulu dan hingga ke akar-akarnya. Sebab bila tidak, penyakit kronis yang ganas tersebut akan segera bermunculan kembali, takutnya menjadi berlipat ganda!

Pilihan kedua: Biarkan sikon yang ada sebagaimana adanya. Tunda setiap upaya operasi pembersihan dan aktifitas penegakan hukum. Dan niscaya, negeri tercinta inipun akan segera hilang dari peredaran-no more no less!

Mana yang hendak kita pilih, itu terserah kita semua. Hidup ini memang penuh dengan pilihan, tapi satu hal yang harus kita ingat: marilah berusaha memilih pilihan atau jalan yang terbaik yang sesuai dengan kehendak-Nya. Kalaupun disana nampaknya (seolah-olah) tak ada pilihan yang terbaik, marilah kita pilih secara hati-hati dan sebijaksana mungkin pilihan yang "the best among the worst".

Selamat merenungkan dan memilih secara hati-hati dan sebijaksana mungkin!

* Joshua W. Utomo, M.Div., D.Hyp., C.Ht., adalah seorang psikoterapis, penyair, corporate trainer/entertainer, motivator/hipnoterapis, dan penulis yang sekarang sedang berkelana di Boston, AS. Dia adalah pendiri Heal & Grow Center™ (www.healandgrowcenter.com) sebuah pusat penyembuhan holistik. Bersama istrinya (Cynthia C. Laksawana) mendirikan Sanggar Kinanthi™(www.sanggar-kinanthi.com) dan JW Utomo Productions™ (http://masterhypnotistusa.tripod.com) sebagai wahana mereka berseni-budaya dan berkiprah bagi kemanusiaan. Dia dapat dihubungi via prof_jw@yahoo.com.

RAHASIA KEKUATAN PERSONAL

Oleh: Stephen Barnabas


“Bandingkan dengan apa yang semestinya terjadi. Kita hanya setengah terjaga, kita sekarang hanya memanfaatkan sebagian kecil dari seluruh potensi mental kita.”
~ William James

Saya teringat suatu kejadian belasan tahun lalu. Saya bertemu dengan seseorang yang telah memberikan dampak sangat penting dalam kehidupan saya. Waktu itu adalah hari Jumat dan saya sedang dalam perjalanan pulang yang agak terlambat. Hari sudah sangat larut dan saya hanya sendirian dalam perjalanan itu. Selama beberapa waktu terakhir itu, saya sedang mengalami kemunduran pribadi dan keuangan yang sangat terbatas. Secara keseluruhan, keadaan nampak tidak menggembirakan; dan saya menghadapi beberapa masalah yang sangat serius.

Ketika sedang merenung dalam perjalanan itu, tiba-tiba saja ada seseorang yang menyapa saya. Sungguh mengherankan karena saya merasa seperti sudah mengenal orang itu dengan akrab, padahal kami belum pernah bertemu sebelumnya. Lalu kami pun berkenalan dan berbincang-bincang selama perjalanan.

Dari pembicaraan tersebut, saya mengetahui bahwa saya sedang bercakap-cakap dengan seorang yang sangat mempesona. Dia memiliki kekuatan personal yang membuat kita merasa bahwa dia dapat melakukan hal-hal yang mustahil. Dalam pertemuan yang singkat itu, banyak pelajaran yang telah dia beri kepada saya melalui cerita tentang pengalaman hidupnya.

Ketika merenungkan kembali malam itu, maka saya menyadari bahwa keputusasaan dan keinginan keras untuk mendapatkan sesuatu yang dapat mengubah hidup itulah mungkin yang telah membuat kami saling tertarik untuk bercakap-cakap.

Dia tidak seperti orang biasa, karena dalam dirinya terpancar suatu kekuatan personal yang menakjubkan. Ada sesuatu yang mengesankan kepada saya bahwa dia bisa memberikan pemecahan masalah yang sedang saya hadapi.

Ketika kami masuk ke sebuah kedai makan, saya melihat bahwa perhatian mereka yang berada dalam kedai itu terpusat kepadanya. Saya merasa orang ini seperti memiliki kekuatan magis yang menarik perhatian orang lain dan mengaguminya. Setiap orang nampaknya menghormati dan melayaninya dengan baik—kelihatannya dia selalu memperoleh segala yang terbaik ke mana saja dia pergi.

Rahasia Tersembunyi Apakah yang Dimiliki Para Bintang Super Sukses?
Mungkin Anda pernah bertemu atau pernah mengenal orang dengan karakteristik seperti yang saya ceritakan di atas—Anda pernah bertemu dengan seseorang yang tampaknya bisa “memiliki segalanya”—uangnya banyak, bisa bepergian kemana pun ia mau, bisnisnya sukses, fisiknya bugar, keluarganya bahagia, ia tampak begitu dihormati, dan selalu mendapatkan pelayanan yang terbaik dari orang lain.

Sepanjang sejarah kita telah menyaksikan para pemimpin besar, pahlawan perang, atlet hebat, taipan bisnis, selebriti, dan juga salesman super yang kelihatannya bisa memukau, memotivasi dan mempengaruhi orang-orang dengan kekuatan ‘magis’.

Pernahkah Anda bertanya-tanya dalam hati apakah rahasia yang membuat para bintang ini sangat sukses dan dapat mempengaruhi kehidupan orang lain? Apakah rahasia tersembunyi dari KESUKSESAN SUPER tersebut?

Penelitian Ilmiah terhadap Rahasia Sukses
Banyak sekali orang telah berusaha menjelaskan mengenai rahasia kesuksesan, mereka mengidentifikasikannya dengan kata-kata seperti KHARISMA dan KEKUATAN PERSONAL.

Belakangan, orang-orang telah bisa memetakan kunci sukses tersebut. Para ahli pengembangan diri telah melakukan riset selama puluhan tahun. Pada tahun 1960-an sekelompok peneliti ilmiah di Newark College Of Engineering di New Jersey (New Jersey Institute Of Technology) telah menghabiskan waktu satu dasawarsa untuk mempelajari para Eksekutif Super Sukses untuk mengetahui apa perbedaan kualitas yang mereka miliki. Para ilmuwan tersebut menggunakan peralatan Elektronik modern dan alat riset. Mereka menemukan bahwa orang-orang SUPER SUKSES tersebut memiliki kemampuan mental istimewa yang tidak dimiliki orang biasa.

Apa sebenarnya perbedaan yang dimiliki oleh orang-orang yang SUPER SUKSES?

Penelitian menunjukkan bahwa para bintang super sukses melakukan pemikirannya pada tingkat gelombang otak alpha, yaitu dalam keadaan relaksasi sehingga mereka bisa menggunakan kedua wilayah otak mereka secara sinkron; otak kiri yang bersifat logis-matematis dan otak kanan yang intuitif dan kreatif.

ALPHA adalah suatu tingkat di mana gelombang otak bergerak lebih lambat sekitar setengah frekuensi keadaan normalnya. Dalam keadaan aktif kita melakukan empat belas hingga dua puluh satu denyut energi otak setiap detik. Keadaan ini disebut tingkat BETHA yang merupakan tingkat untuk beraktivitas. Ketika akan tidur, tubuh Anda menurunkan denyut otak ini.

Tingkat ALPHA telah ditemukan sebagai tingkat ideal untuk berpikir karena dapat mengaktifkan otak kanan yang kreatif dan intuitif, akan tetapi sangat disayangkan karena kebanyakan orang akan tertidur pada saat otak mereka memasuki tingkat ALPHA ini. Seperti kita ketahui bahwa otak kita memiliki dua belahan yang menjalankan fungsi berlainan. Otak kiri bersifat logis dan analitis sedangkan otak kanan bersifat intuitif, spontan dan sintetis.

Pada kebanyakan orang berpikir hanya dengan menggunakan otak belahan kiri dan jarang sekali menggunakan belahan otak sebelah kanan. Sekali waktu mereka menggunakan belahan otak kanan itu pun hanya untuk menjalankan hobi: seperti mendengarkan musik, mengapresiasi seni, dll.

Peraih Sukses Bekerja dengan Menggunakan Kedua Wilayah Potensi Otak
Mungkin Anda berpendapat bahwa para Bintang Super Sukses yang berpikir dengan menggunakan kedua wilayah otak, akan bisa mencapai kesuksesan dua kali lebih besar dibandingkan dengan orang yang hanya menggunakan satu wilayah otaknya.

Kenyataannya, mereka mencapai lebih dari dua kali kesuksesan dibandingkan dengan orang yang hanya menggunakan otak kiri saja untuk berpikir.

Kita ambil contoh, cobalah bayangkan diri Anda sebagai seorang salesman yang menggunakan dua kaki untuk berjalan. Jika semua salesman lain berpikir bahwa mereka hanya bisa menggunakan satu dari kedua kaki mereka. Bayangkan saja kesulitan yang akan mereka hadapi ketika keluar dari mobil dan menaiki tangga, atau berjalan masuk kantor. Jika Anda sebagai seorang salesman bisa menggunakan kedua kaki untuk melakukan aktifitas, Anda tentu memiliki kemampuan yang jauh lebih besar. Dengan dua kaki, Anda bisa berjalan dengan lebih cepat dan membuat lebih banyak penjualan sementara yang lain sedang berjuang keras untuk melangkah. Anda bisa meliput wilayah yang jauh lebih luas dan memiliki lebih banyak prospek. Hal itu membuat Anda seakan-akan melakukan keajaiban dibandingkan orang lain.

Ketika Anda belajar menggunakan dua wilayah otak secara sinkron untuk berpikir, Anda akan memulai melakukan sesuatu yang akan Anda sebut keajaiban dibandingkan saat Anda hanya menggunakan wilayah otak kiri Anda untuk berpikir. Anda akan melihat peluang-peluang yang sebelumnya bahkan tidak pernah Anda pikirkan.

Untuk dapat mengaktifkan otak kanan, Anda harus rileks dan menenangkan pikiran. Seperti yang dikatakan Thomas Alva Edison: “Ketika Anda terdiam, itulah saat ketika Anda sedikit demi sedikit menyadari banyak hal”.

Berdasarkan riset psikologis serta berbagai studi atas para pemimpin dunia, ilmuwan, musisi, dokter, industrialis, penemu, dan orang-orang terkenal lainnya di dunia telah membuktikan bahwa potensi kekuatan ini telah mereka gunakan—secara sadar maupun tidak. Potensi kekuatan ini antara lain digunakan oleh Mozart, Einstein, Carnegie, Shakespeare, Emmerson, dan Edison. Rahasia untuk mengaktifkan kekuatan itu terletak dalam relaksasi—ketenangan pikian.

Dengan relaksasi dan ketenangan pikiran maka kita akan mengaktifkan otak kanan yang merupakan tempat beroperasinya alam bawah sadar, yang merupakan mastermind, dorongan besar dan kuat yang dimiliki manusia, serta pikiran yang kreatif. Bayangkanlah sebuah gunung es, anda tahu bahwa hanya 15 persen bagian gunung es itu yang tampak, sedangkan yang 85 persen berada di bawah permukaan laut, itu dapat disamakan dengan alam bawah sadar yang kreatif. Bagian kecil yang tampak dipermukaan yang 15 persen dapat disamakan dengan alam pikiran sadar kita.

Seorang penjelajah terkenal dan petugas yang memiliki kedudukan kuat pada pelayanan ekspedisi Antartika Amerika Serikat, Rear Admiral Richard Byrd, Pada malam keberangkatannya dari Antartika, mengatakan: “Justru pada malam-malam yang panjang dan sunyi di mana saya merasa sepi, selama berada di kutub selatan itulah saya mempelajari kekuatan yang timbul dari kesunyian. Nilai-nilai dan masalah-masalah kehidupan satu per satu terpecahkan ketika saya mencoba mendengarkan.”

Dengan mengetahui bahwa otak kanan akan aktif saat kita berpikir dengan tenang dan rileks maka Anda bisa mengembangkan kemampuan istimewa ini dengan memfungsikan secara sadar dan mencapai akses pada potensi pikiran Anda yang belum dimanfaatkan. Anda juga bisa belajar bagaimana berpikir dengan kedua otak Anda secara bersamaan.

Anda bisa mengembangkan kemampuan kreatif dan intuitif yang sama bahkan lebih besar dari yang dimiliki orang-orang SUPER SUKSES.

Orang-orang Besar dalam Sejarah
Pikirkan kehidupan orang-orang besar yang telah mempengaruhi dunia, dan dalam setiap peristiwa Anda akan mendapati bahwa masing-masing dari mereka telah menghabiskan banyak waktu dengan berada sendirian, merenung, dan berpikir. Para pemimpin agama banyak meluangkan waktu sendirian tanpa gangguan kehidupan.

Para pemimpin politik dan negara yang kata-kata dan tindakan terakhirnya membentuk jalannya sejarah, memperoleh wawasan dari kesunyian. Sir Winston Churchill, Disraeli, Roosevelt, Lincoln, bahkan sampai Bung Karno dan Bung Hatta, semua mengembangkan kapabilitas bawaan mereka dengan menggunakan waktu sendirian. Kadang-kadang periode-periode yang dijalankan di dalam penjara atau ketika mereka diasingkan oleh penjajah di sebuah pulau terpencil, telah membantu menciptakan ideologi mereka. Tanpa gangguan, mereka dapat merencanakan gerakan mereka di kemudian hari.

Bagaimana Anda Mengawali Hari Anda?
Setiap hari dalam waktu saya untuk menciptakan sebuah kehidupan, sedapat mungkin saya akan memulai hari saya dengan berdoa, menenangkan diri, merenungkan Firman Tuhan, memvisualisasikan apa yang akan saya lakukan sepanjang hari itu, serta meneguhkan visi saya dengan penegasan (affirmasi). Kemudian berdiam diri sejenak untuk menerima ide/jawaban atas permasalahan saya. Itulah saat-saat yang paling penting dimana ide-ide kreatif bermunculan, masalah demi masalah terpecahkan dengan sendirinya. Hanya dengan meluangkan waktu 30 menit sampai satu jam setiap pagi, lebih banyak hal bermanfaat yang dapat saya kerjakan sepanjang hari dibandingkan apabila saya bangun dengan tergesa-gesa dan langsung melakukan aktivitas/kesibukan.[sb]

* Stephen Barnabas adalah seorang Finance Accounting Manager di sebuah perusahaan di Jakarta. Ia tinggal di Cikarang, BEKASI, dan dapat dihubungi melalui email: crownedone_stp@yahoo.com, atau di handphone: 0812 811 9595 & 0813 1447 5838.

MENYIKAPI MARAKNYA VENDOR-VENDOR TRAINING

Oleh: Krisnawan Putra


Seiring ketatnya persaingan bisnis dewasa ini, banyak perusahaan berlomba menjadi yang terdepan, terbaik, dan terunggul. Berbagai strategi untuk memenangkan pasar digelar. Ada yang melakukan diversifikasi produk, memberi diskon harga lebih besar dari pesaing, membeli teknologi tercanggih, memborbadir konsumen dengan iklan, mengusung brand-brand yang sudah mendunia.

Bagaimana di bidang sumber daya manusia? Tidak bisa dimungkiri, banyak perusahaan yang berani menginvestasikan dananya untuk pengembangan kompetensi karyawan melalui kegiatan training. Mustahil memenangkan persaingan—sekalipun dengan segala macam keunggulan—bila tidak didukung keunggulan SDM. The Man Behind the Gun. Demikian yang menjadi reasion d’etrenya.

Gayung bersambut! Lahirlah berbagai lembaga/perorangan (vendor) yang menyediakan jasa training. Tidak sulit menemukan lagi alternatif lembaga penyedia jasa training di luar yang sudah bertahun-tahun berdiri, semacam PPM, Prasetiya Mulya, PQM, atau DDI. Hampir di koran/majalah/tabloid ternama memuat training promo dari penyedia-penyedia jasa ini. Sebuah perkembangan yang positif.

Namun demikian, perlu kiranya sikap kehati-hatian tetap kita kembangkan dalam menyikapi situasi ‘positif’ ini. Tidak jarang karyawan yang telah dikirim dalam suatu training belum dapat menunjukkan perbaikan kinerja seperti yang diharapkan. Banyak penyebab yang menjadikannya. Di samping oleh faktor karyawan sendiri yang untrainable, situasi lingkungan kerja yang tidak kondusif untuk diterapkannya knowledge dan skill baru hasil training, dapat juga disebabkan oleh ketidaktepatan dalam memilih vendor training.

Beberapa ‘penyakit’ terkait pemilihan vendor training yang perlu diwaspadai, sbb:

1. Tergiur oleh iklan training/seminar yang biasanya mempergunakan bahasa yang cukup ‘memerangkap’. Pada praktiknya tidak jarang peserta justru tidak mendapatkan banyak manfaat oleh karena pembahasan kurang fokus seperti iklan yang ditampilkan. Nama besar juga tidak selamanya menjamin, karena biasanya justru pembicara seperti ini akan mendongeng kisah-kisah sukses masa lalu, yang mana untuk diimplementasikan pada perusahaan peserta training sangat berbeda situasinya.

2. Sulitnya para pembicara mengembangkan materi training di luar yang sudah biasa diberikan, sementara kebutuhan untuk menambah knowledge dan skill baru karyawan lebih cepat perkembangannya. Yang terjadi biasanya adalah copy paste materi termasuk contoh-contoh/ilustrasi kasus yang dibahas.

3. Modul-modul training yang ada di market sangat generik. Terkadang peserta terjebak hanya pada judul modul tanpa mengklarifikasi dan mengkonfirmasi lebih lanjut sasaran training, topik-topik training, desain dan metode yang akan disajikan.

Strategi memilih vendor training yang baik:

1. Perkuat jaringan sesama pengelola training/HRD di perusahaan. Informasi dari rekan pengelola training/HRD perusahaan lain yang pernah menggunakan jasa vendor training tersebut sangatlah penting. Ini sangat powerfull untuk mengimbangi janji-janji yang ditabur vendor training pada kegiatan promosi mereka.

2. Menjadi observer langsung di kelas yang sedang diselenggarakan oleh vendor training tersebut. Ini semacam test food dalam pemilihan catering acara pesta pernikahan. Dengan melihat, merasakan dan mengamati langsung, maka kita akan memperoleh gambaran yang lebih spesifik dan nyata mengenai kualitas, kelebihan dan kekurangan dari vendor training yang akan kita pilih.

3. Pelajari detail materi (topik-topik training) yang akan diberikan, sasaran training yang akan diraih, desain dan metode training yang dikembangkan, yang tercantum pada brosur yang ditawarkan vendor. Setelah itu silahkan menghubungi vendor training dimaksud untuk mengadakan diskusi pendalaman melalui beberapa pertanyaan pancingan guna mendapat gambaran besarnya. Dan paling akhir, bandingkan dengan modul yang sama yang disediakan oleh vendor training lainnya.

4. Kenali segmen peserta mana yang akan kita ikutkan training, kemudian cocokkan dengan vendor trainingnya. Karena ada vendor training yang kompeten dan berpengalaman bidang manufaktur, ada yang tepat untuk jasa. Ada yang cocok untuk level pimpinan, ada juga yang hanya pas untuk segmen nonpimpinan.

5. Pelajari dan cari informasi mengenai spesialisasi dari vendor training. Biasanya suatu vendor training memiliki kekuatan atau keunggulan tertentu yang tidak dimiliki oleh vendor lain. Nah, pilih saja yang menjadi unggulannya tersebut. Bila di lain waktu ada kebutuhan tentang modul yang lain, maka kita tinggal cari vendor lain yang memiliki keunggulan untuk modul tersebut.

Akhirnya, maraknya vendor-vendor training dewasa ini di Indonesia dapat kita sikapi dengan cara pandang positif dan menggembirakan. Karena, sebagai konsumen kita akan lebih dipermudah dengan semakin banyaknya vendor training. Namun kuncinya, semua berpulang kembali pada kejelian dan kepekaan kita dalam memilih mana vendor training yang berkualitas dan mana yang hanya ’jualan kecap’ semata. Semoga tulisan ini bermanfaat bagi Anda, dan selamat memilih.[kp]

* Krisnawan Putra-Progresif Motivator, pernah memimpin tim training Gramedia Majalah-Kelompok Kompas Gramedia. Ia telah mendalami dunia training sebagai praktisi selama lebih dari 10 tahun. Sekarang ia berprofesi sebagai Freelance Trainer. Misi hidupnya adalah menyentuh dan mengembangkan banyak orang agar hidup mereka lebih bermakna. Ia dapat dihubungi di krisnawanputra@yahoo.co.id atau www.krisnandira.com

THE POWER OF SOUL

Oleh: Eni Kusuma


"Dengan kekuatan jiwa, kita bisa melakukan apa pun yang kita inginkan. Segala aktivitas kita ditentukan oleh kondisi jiwa kita."
~ Eni Kusuma

Kita sepakat bahwa keseimbangan jiwa digambarkan oleh rasa ikhlas, sabar, tenang, tentram, dan damai. Sedangkan jiwa yang tidak seimbang adalah jiwa yang digambarkan oleh rasa marah, benci, malu, tidak percaya bahwa dirinya bisa atau tidak yakin memiliki potensi dan lain-lain.

Kali ini, saya hendak menceritakan tentang kekuatan keseimbangan jiwa ini. Dengan jiwa yang dalam keadaan seimbang, kita bisa melakukan apa pun yang kita inginkan atas perintah otak kita (bukankah otak sebagai dirigen dari segala aktivitas kita? Jika otak kita memerintah jari tangan kita untuk memegang pulpen, maka jari tangan kita akan menurutinya). Sebaliknya, meskipun otak kita memberi instruksi untuk melakukan sesuatu, jika jiwa kita tidak dalam keadaan seimbang maka hasilnya tidak akan maksimal, bahkan gagal (saya akan mengaitkan hal ini dengan peristiwa patahnya pencil hanya dengan satu jari dalam sharing bersama seorang motivator, Johanes Ariffin Wijaya, di Hongkong baru-baru ini).

Namun sebelumnya, izinkan saya memberi contoh lain, mengenai kinerja otak dengan kekuatan jiwa. Ketika suatu saat kita mendapati seorang teman mengatakan pada kita bahwa kita sulit sukses. Parahnya bila hal ini didukung oleh tidak saja argumen yang masuk akal, namun juga didukung sepenuhnya oleh banyak data, testimoni, dan ilustrasi yang akurat mengenai alasan-alasan kenapa kita tidak akan menjadi sukses.

Misalnya, ini sekedar contoh, "Kamu seorang pembantu rumah tangga, lulusan SMU yang tingkat intelejensinya di bawah rata-rata. Mana mungkin bisa menjadi seorang penulis buku dan menjadi seorang pembicara? Apalagi kegiatan kamu yang menunjang untuk itu tidak ada sama sekali, bahkan secara fisik kamu lemah?"

Otak kita memang menerima ini, jika data-data yang tersampaikan memang cocok dengan keadaan kita yang sebenarnya. Namun, jika jiwa kita ikut menyetujuinya, maka kemungkinan besar kita tidak akan berubah atau tetap meyakini keyakinan itu sebagai suatu kebenaran. Sehingga kita akan terbelenggu oleh keyakinan yang salah.

Jika jiwa kita lemah, informasi dari otak tersebut akan membelenggu jiwa kita untuk "tidak percaya pada kemampuan diri". Apalagi jika selama ini kita membiarkan hal-hal negatif masuk ke dalam jiwa kita, misalnya rasa pesimis. Akibatnya, kita akan percaya bahwa kita "tidak bisa". Jika kita sudah percaya bahwa kita tidak bisa, maka kita tidak akan melakukan tindakan untuk mau belajar supaya bisa. Jiwa yang lemah menggambarkan jiwa yang tidak seimbang: penuh rasa pesimis, takut gagal, tidak bergairah dan mudah menyerah.

Lain halnya jika jiwa kita kuat, informasi dari otak tersebut akan dianalisa dahulu. Jiwa yang kuat akan selalu mengatakan "aku bisa". Kenapa? Karena dalam jiwa yang kuat selalu diisi dengan berbagai makanan positif, misalnya selalu mendengar kata-kata motivasi yang mengakibatkan kita selalu optimis. Jika kita sudah percaya bahwa kita bisa, maka kita akan selalu mencari jalan untuk tujuan sukses kita. Selalu belajar dan belajar bagaimana supaya bisa. Dan jiwa yang kuat ini menggambarkan jiwa yang seimbang: penuh rasa optimis, bergairah dalam meraih tujuan, tidak pernah ada rasa takut gagal karena baginya yang ada hanya belajar.

Yup, ini berarti dengan keseimbangan jiwa, kita bisa melakukan sekaligus mengontrol apa pun yang akan kita lakukan. Jika kita gagal maka kita akan menjadikan hal itu sebagai pembelajaran, bukannya merasa putus asa. Sehingga hasil yang kita dapatkan akan maksimal. Ini juga berarti bahwa segala aktivitas kita ditentukan oleh kondisi jiwa, yaitu bagaimana kondisi jiwa kita yang terpatri dalam alam bawah sadar kita ketika melakukan sesuatu.

Bagaimana pendapat Anda?

OK, sekarang saya akan menghubungkan kekuatan jiwa yang seimbang ini dengan peristiwa patahnya pencil hanya dengan satu jari.

Saya takjub sekaligus terkesima ketika saya bisa mematahkan pencil hanya dengan satu jari telunjuk saja (sesuatu hal yang semula menimbulkan kontroversi di otak saya). Ya, saya BISA. Saya belajar ini dari motivator, inspirator sekaligus pesulap motivasi Johanes Ariffin Wijaya (JAW) ketika sharing bareng pada Minggu, 21 Januari 2007 di lapangan rumput Victoria Park, Hongkong.

Sharing yang dihadiri teman-teman TKW berlangsung sangat meriah dan sangat antusias. Bahkan Johanes Ariffin Wijaya bersama istri beliau yang cantik, Mbak Mimi ditarik-tarik buat pose bersama.

Motivasinya diawali dengan kalimat motivasi dari Andrie Wongso, motivator no 1 Indonesia:

"Jika kita keras terhadap diri kita, maka kehidupan akan lunak terhadap kita. Sebaliknya, jika kita lunak terhadap diri kita, maka kehidupan akan keras terhadap diri kita."

Dan Johanes Ariffin Wijaya mengilustrasikan kalimat motivasi di atas dengan perihal patahnya pensil hanya dengan satu jari. Jika kita keras terhadap diri sendiri (yakin bisa dan tidak ragu-ragu) maka pensil akan patah (lunak). Begitu juga sebaliknya, jika kita terlalu lunak terhadap diri kita, maka pensil akan keras (tidak terpatahkan) dan justru akan membuat jari kita sakit.

Saya gagal dua kali. Pertama melakukan (atas bimbingan Johanes Ariffin Wijaya) jari telunjuk saya sakiiiiiit sekali, kedua melakukan, sakit sekaliiiiiiiii...dan setelah mencoba ketiga kalinya saya kaget, "Ih...sudah patah toh? Berarti saya BISA, dong?" Dan Johanes Ariffin Wijaya menggesturkan jempol tangannya untuk saya, maksudnya:"Luar Biasa!"

Terus apa hubungan antara kekuatan "jiwa yang seimbang" dengan peristiwa patahnya pensil dengan satu jari? Erat, sangat erat. Pengalaman inilah yang hendak saya ceritakan. Ketika jiwa saya tidak seimbang, saya tidak bisa mematahkan pensil tersebut, bahkan sampai gagal dua kali. Pada saat itu jiwa saya menggambarkan rasa takut: takut gagal, takut jari sakit, takut jari saya patah, takut nanti pulang ke Indonesia tanpa telunjuk, takut tidak bisa, tidak yakin bisa dan lain-lain. Sehingga jiwa saya penuh gejolak, kebimbangan atau tidak dalam keseimbangan. Hal ini bisa diilustrasikan dengan sebuah neraca. Jika jiwa tidak seimbang (jiwa yang bergejolak), ibarat neraca yang mengalami gerakan-gerakan naik turun (tidak imbang-imbang gitu, yah). Jika jiwa yang seimbang (tenang), ibarat neraca yang seimbang (tidak ada gerakan naik turun).

Mendapati kegagalan saya, apa yang saya lakukan? Saya segera ambil tindakan yaitu, membenahi jiwa saya terlebih dahulu yang saya sadari, masih lemah secara kualitas. Saya harus menguatkan jiwa saya. Saya harus yakin bahwa saya BISA. Saya harus menghancurkan opini-opini di otak saya yang berusaha melakukan upaya pembenaran tentang kegagalan saya.

Saya akhirnya mencoba untuk ketiga kalinya. Konsentrasi penuh dan melakukan afirmasi: "Tidak ada kata gagal. Yang ada hanya BISA atau belajar!" (pada waktu mengatakan ini saya penuh emosi). Kemudian saya melakukan afirmasi lagi: "Ah, cuma mematahkan sebatang pensil kok." "MUDAH bagi saya." (ketika mengatakan ini, saya tiba-tiba rileks...tenang gitu ya....karena sepertinya saya SUDAH BISA, sehingga berani bilang "mudah").

Daaaaaan.......PRAK.......(pensilnya patah). LUAR BIASA !!!

Terimakasih Johanes Ariffin Wijaya!!

Dalam kesempatan ini, saya juga akan menceritakan tentang berhasilnya saya dalam menghancurkan mental block, yaitu takut tampil di depan umum. Terus terang, ketakutan terbesar dalam hidup saya adalah tampil atau berbicara di depan umum. Ini sudah terbentuk dalam jiwa saya yang sudah terpatri dalam alam bawah sadar saya dan sudah mendapat persetujuan dari otak saya.

Saya berhasil, karena saya yakin BISA dan melakukan afirmasi penuh emosi: "Tidak ada kata gagal, yang ada hanya sukses atau belajar." Kemudian rileks dengan mengatakan dan membayangkan "Sudah Bisa". Di saat itu saya berada dalam ketenangan dan dengan mudah melakukan tindakan. Jika saya belum mempunyai pengalaman, kenapa saya tidak menciptakan pengalaman pertama?

Meskipun hasilnya masih belum seperti apa yang saya bayangkan. Namun bagi saya ini adalah kesuksesan pertama saya untuk tampil di muka umum, yang mana selama ini kegiatan saya hanya berada di dalam rumah yaitu melakukan tugas sebagai pembantu rumah tangga, serta belum memilki pengalaman dalam berkegiatan di luar rumah. Dan Johanes Ariffin Wijaya sempat "memuji" (bahasa orang negatif "menghina") saya: "Luar Biasa...bagi yang baru loncat"....he he he...

Saya percaya, jika kita percaya kita BISA dan sudah terbentuk hal ini dalam jiwa kita, maka kita akan BISA.

Terimakasih untuk Bapak Motivator No. 1 Indonesia, Andrie Wongso yang kata-kata motivasinya selalu akan saya patri dalam jiwa sepanjang perjalanan hidup saya. Salam Sukses dan Salam Luar Biasa![ek]

* Eni Kusuma adalah alumnus SMU 1 Banyuwangi yang saat ini bekerja sebagai seorang pembantu rumah tangga (TKW) di Hong Kong. Di sela-sela “kesibukannya” sebagai “pemburu devisa”, ia masih sempat aktif sebagai moderator milis Backhomers, serta jadi “aktivis” di milis De Kossta dan milis Penulis Best Seller. Eni adalah penggagas rubrik "So What Gitu Loh!" di majalah “PEDULI” yang terbit di Hongkong. Eni suka menulis cerpen, puisi, dan pernah menulis sebuah naskah novel. Puisi Eni bersama 100 penyair Indonesia dibukukan dalam buku berjudul "Jogja 5,9 Skala Richter". Eni suka menulis artikel yang ditulis berdasarkan pengalaman hidupnya sebagai pembantu rumah tangga, serta proses pembelajarannya melalui bahasa tulisan. Saat ini, kumpulan artikel motivasi Eni telah terbit menjadi sebuah buku berjudul “Anda Luar Biasa!!!” (Fivestar, 2007). Eni dapat dihubungi di: eni_kusumaw@yahoo.com

WIRASWASTA DAN WIRAUSAHA: TAMPAK SAMA NYATA BEDA

Oleh: Riyanto B. Suwito


Ketika seseorang bekerja (berusaha) sendiri, tidak menjadi pegawai baik negeri maupun swasta, baik pada usaha produksi, perdagangan ataupun jasa maka dia akan disebut sebagai wiraswasta. Itu terjadi di Indonesia sekitar sepuluh tahun yang lalu atau sebelumnya. Tetapi sepuluh tahun terakhir maka orang-orang seperti itu akan disebut sebagai wirausahawan atau istilah kerennya adalah entrepreneur.

Menurut kamus Bahasa Indonesia, wiraswasta berarti “jenis usaha berdikari atas dasar percaya pada diri sendiri (tanpa mengharapkan belas kasihan orang lain)”. Sedangkan wirausaha berarti, “usaha yang digerakkan oleh semangat keberanian dan kejujuran”. Dari definisi diatas jelaslah bahwa keduanya memang berbeda. Akan tetapi dalam pemaknaan sehari-hari tentu saja agak sulit untuk membedakan secara hitam dan putih.

Walaupun kalau kita berbicara asal katanya dari Bahasa Inggris yaitu entrepreneur, tidak ada bedanya dengan capitalist, industrialist, businessman, businesswoman, atau factory owner. Kembali kepada definisi menurut kamus Bahasa Indonesia diatas, sekarang ini orang lebih merasa “keren” dan percaya diri dengan menyandang sebutan wirausaha, bahkan ada juga orang yang menyebut wirausaha mandiri daripada disebut sebagai wiraswasta. Bahasa gaulnya kalau kita menyebut wiraswasta itu “jadul” (jaman dulu) banget, udah nggak up-to date.

Tentu saja bukan tanpa alasan kalau saat ini orang yang mempunyai usaha lebih merasa nyaman disebut sebagai wirausaha daripada wiraswasta, selain karena tren yang berlaku global di seluruh belahan dunia ini. Ada satu gerakan (atau budaya) baru dalam dunia usaha yang mulai mengarah kepada spiritualisasi usaha. Hal ini terkait dengan kecenderungan secara umum manusia dewasa ini yang sudah mulai jenuh dengan segala sesuatu yang hanya bersifat materialistis, dan terbukti tidak mampu memberikan ketenangan kepada jiwa mereka.

Nilai-nilai agama (spiritual) menjadi semangat baru dalam dunia usaha, sehingga kejujuran menurut pakar marketing Indonesia dari MarkPlus and Co, Hermawan Kertajaya adalah sebuah keunggulan kompetitif di tengah dunia usaha yang menghalalkan segala macam cara. Jadi keberanian dan kejujuran lebih tepat menjadi semangat baru dunia usaha selain tentu saja kreativitas, yang akhir-akhir ini pun banyak disebut orang. Apalagi berkaitan dengan isu pembangunan berkelanjutan (sustainable development).

Selama ini pelaku usaha konvensional yang sering disebut wiraswasta atau pengusaha biasa, di dalam operasinya melakukan berbagai tindakan yang seringkali tidak mengindahkan keberlanjutan, kelestarian lingkungan, kejujuran, dan persaingan sehat berbasis kreativitas apalagi keadilan. Mereka lebih banyak mencari keuntungan dengan menghalalkan berbagai cara dan menindas yang lemah, walaupun pada akhirnya mereka akan sampai pada suatu titik di mana keuntungan materi berupa uang dan barang berharga tidak mampu memenuhi batinnya.

Sehingga sangat wajar jika pelaku usaha (apalagi usaha kecil menengah) lebih suka disebut wirausaha daripada wiraswasta. Tentu saja bagi yang mengetahui definisi diatas, dan mungkin saja karena pengaruh tren yang sedang berkembang. Akan tetapi yang lebih penting bagi kita semua adalah mengembangkan segala bentuk usaha kecil dan menengah di negeri ini untuk membangkitkan perekonomian nasional yang memang sedang terpuruk ini. Tetapi ingatlah satu hal, apa pun nama, istilah, atau sebutannya, tetapi semangat keberanian, kejujuran dan kreativitas harus menjadi dasarnya. Dan tidak cukup hanya sekadar percaya pada diri sendiri.

Apalah arti sebuah nama, begitu istilah yang masyhur dari Shakespeare, tapi mengapa ada orang yang marah-marah (minimal sewot) kalau orang lain salah menyebut namanya. Untuk mengakhiri tulisan ini saya ingin mengajukan pertanyaan kepada pembaca yang budiman, apakah Anda ingin menjadi dan disebut sebagai wirausahawan ataukah wiraswastawan? Anda tahu perbedaannya bukan? [rbs]

* Riyanto B. Suwito adalah praktisi akuntansi , manajemen dan kewirausahaan. CRS-Link Certified Trainer on Financial Education for The Poor, Aktif di PKPEK Yogyakarta, dan dapat dihubungi melalui email: rushputty@yahoo.com atau hp: 081 227 12426.

NASI GORENG PETUALANGAN

Oleh: Ardian Syam


Anda yang pernah bersekolah di Yogyakarta terutama yang tidak tinggal di orangtua dan kos di tempat dengan fasilitas standar pasti tahu apa yang terjadi ketika Anda lapar di malam hari. Setelah Anda menyelesaikan tugas sekolah, Anda lapar dan tidak ada makanan yang tersedia di tempat kos Anda, tentu saja, itu kan tempat kos dengan fasilitas standar. Anda mungkin saja akan pergi ke luar rumah dan mencari warung makan, untuk sekedar mengisi perut agar Anda dapat tidur sehingga bangun dengan perasaan enak di pagi hari.

Tetapi ternyata Anda begitu kelelahan karena tugas sekolah yang Anda kerjakan. Bukan hanya itu, kebetulan warung terdekat membutuhkan waktu lebih dari sepuluh menit jalan kaki, itu berarti Anda butuh waktu dua puluh menit untuk menuju ke warung dan pulang ke kamar kos, belum termasuk waktu untuk makan di warung. Malam sudah terlalu larut dan Anda harus segera tidur karena pagi-pagi sekali esok hari Anda harus sudah tiba di sekolah karena ada beberapa persiapan presentasi karena tugas sekolah yang baru Anda selesaikan.

Belum lagi bila Anda tetap tidak bisa memilih makanan di sana karena sudah terlalu larut. Tetapi hal yang paling buruk adalah bahwa ternyata warung itu sudah kehabisan makanan. Benar-benar buruk. Sudah berjalan sepuluh menit dalam lapar, tiba di sana dan tahu bahwa tidak ada yang bisa dimakan. Pilihan Anda adalah menempuh sepuluh menit perjalanan pulang dalam lapar, atau berjalan lebih jauh untuk menemukan warung yang masih buka. Itu pun masih ada kemungkinan Anda akan menemukan nasib yang tidak berbeda.

Bagi Anda yang selalu berpikir positif mungkin tetap akan melanjutkan perjalanan ke warung berikut karena Anda begitu yakin Anda akan menemukan warung yang masih buka dan menyediakan makanan yang dapat dan suka Anda makan. Tetapi tidak begitu dengan yang lain. Mungkin akan segera pulang dan berharap akan dapat melupakan rasa lapar. Atau dengan sangat berharap akan menemukan pedagang keliling. Waduh, mengapa baru sekarang teringat kepada para pedagang keliling setelah menempuh waktu sepuluh menit berjalan kaki dalam lapar, ya?

Ya, pedagang keliling. Mungkin penjual mi godok gaya Yogya, mungkin pedagang nasi goreng atau pedagang sate dari Madura atau yang lain. Mereka berkeliling dengan gerobak makanan masing-masing dengan bentuk, rupa dan warna khas mereka masing-masing.

Tetapi bagi saya, bila berada dalam keadaan seperti tadi maka saya akan dengan tabah duduk di depan rumah kos memegang piring dan sendok menanti pedagang keliling. Mengapa piring dan sendok sendiri? Perasaan saya akan lebih nyaman untuk membeli makanan yang disajikan di piring sendiri, saat siap disajikan, saya bayar, masuk kamar dan proses memamah biak dapat saya lanjutkan tanpa harus ditunggui sang pedagang. Kasihan bila dia harus menunggu saya selesai makan, sementara bila tidak demikian mungkin dia sudah bisa langsung berangkat untuk melayani konsumen berikut.

Sebagai orang Indonesia yang selalu merasa belum makan bila belum menemukan nasi, maka saya lebih memilih untuk membeli nasi goreng. Selain itu, merekalah yang mendominasi supply. Pedagang makanan lain tidak akan terlalu banyak yang berkeliling. Namun apa yang sering saya temukan dari sebagian besar pedagang nasi goreng di sekitar kos saya? Nasi goreng petualangan.

Mengapa saya namakan nasi goreng petualangan? Mereka mungkin menjual nasi goreng karena memang mereka butuh penghasilan untuk kehidupan minimal mereka. Mereka bukan orang yang hobi memasak apalagi chef. Sementara bahan baku yang dibutuhkan, beras, termasuk komoditas yang mudah ditemukan di pasar manapun (beda dengan mi), atau tidak perlu pengolahan yang agak repot seperti lontong atau ketupat yang harus dimasukkan dulu ke dalam bungkus dulu.

Karena hal itu pula maka mereka bukan orang yang mampu memasak dengan baik. Ketika Anda memakan masakan para chef amatir tersebut maka Anda akan menemukan bahwa di suap pertama Anda akan kepedasan karena bagian itu mengandung banyak sambal, sementara di suap berikut Anda akan merasakan nasi tersebut terlalu asin, suap ke tiga mungkin Anda bahkan menemukan nasi yang sama sekali masih putih. Itu berarti mereka tidak benar-benar mampu mengaduk nasi untuk membuat nasi goreng.

Di situlah petualangan yang saya katakan. Anda tidak akan pernah tahu apa rasa nasi goreng dalam sendok yang akan Anda masukkan ke dalam mulut. Pedas, asin atau tanpa rasa sama sekali. Anda bahkan bisa main tebak-tebakan dengan rasa nasi yang ada di sendok Anda.

Mengapa mereka tetap eksis dengan rasa masakan yang pasti akan membuat para chef asli mengkerutkan dahi? Apakah mereka tidak ditinggalkan konsumen. Saya? Yang kelelahan karena tugas sekolah kemudian lapar karena banyak berfikir berani-berani meninggalkan mereka? Saya tahu benar bahwa risiko saya adalah harus berjalan beberapa menit dengan perut lapar dan belum tentu menemukan warung yang masih menjual makanan, lalu harus jalan lebih jauh atau pulang dengan rasa lapar yang belum hilang? Mana berani saya menempuh risiko itu.

Maka saya dan orang-orang yang setipe akan lebih memilih menunggu dengan tabah kesempatan emas untuk mendapatkan pengalaman penuh petualangan itu.

Begitulah bisnis, ketika konsumen tidak berani mengambil pilihan maka bisnis akan tetap eksis. Apapun kualitas yang kita sediakan untuk konsumen, mereka tidak akan pernah berpaling dari Anda. Andai itu monopoli, maka itulah monopoli yang sejati. Semua konsumen bisa menyalahkan Anda, tetapi tetap saja mereka akan membeli dari Anda. Sayang memang bahwa itu tidak dikuasai oleh satu pihak atau satu orang saja. Tetapi mari kita singgung soal monopoli itu.

Tetapi itu tidak akan pernah lama. Akan ada orang atau orang-orang yang tahu bagaimana melayani pelanggan. Kemudian orang-orang itu tahu pula bagaimana menghemat biaya-biaya yang tidak perlu, dan itu dimanfaatkan untuk menekan harga jual produk mereka. Kemudian mereka juga tahu bagaimana memberi tahu orang-orang semua tentang hal itu. Lalu mereka memelihara konsumen dengan baik sehingga semua konsumen mereka saling memberi tahu. Apa yang akan terjadi pada pembuat petualangan tersebut?

Di mana Anda sekarang berada, di mana sekarang Anda bekerja, bagaimana perusahaan Anda memperlakukan para konsumen?

Apakah konsumen Anda mendapatkan petualangan seperti saya dengan nasi goreng yang saya tunggu dengan tabah itu?

Ketika ada orang lain, pihak lain atau perusahaan lain yang mengetahui semua taktik itu, apa yang akan terjadi dengan perusahaan tempat Anda bekerja?

Ketika itu ada beberapa pedagang nasi goreng keliling yang tidak berhasil membuat petualangan. Setiap sendok akan sama, sama-sama tidak enak, atau bahkan sama-sama enak. Tetapi tidak banyak yang bisa saya kenali sebagai ciri khas mereka.

Ketika itu, terjepit di antara rasa lelah dan rasa lapar, kemudian terisilah perut dengan nasi goreng (penuh petualangan atau tanpa petualangan) dan diikuti dengan rasa mengantuk maka saya tidak dapat dengan mudah mengingat ciri-ciri khas tampilan gerobak mereka masing-masing. Buat saya ciri tampilan gerobak mereka tidak berbeda sama sekali.

Tetapi ketika sebuah perusahaan masuk ke bisnis yang dijalankan perusahaan tempat Anda bekerja, ketika mereka tahu kelemahan produk perusahaan Anda, maka mereka jelas tidak akan menggunakan ciri identitas yang mirip dengan ciri identitas dari perusahaan tempat Anda bekerja. Sehingga akan sangat jelas beda identitas antara perusahaan mereka dengan perusahaan tempat Anda bekerja.

Andai saja ketika itu pedagang yang mampu memasak dengan baik memiliki ciri identitas yang jelas pada gerobak mereka, misal menggunakan warna yang mencolok seperti jingga, merah atau kuning, saya mungkin akan mengingat-ingat ciri tersebut. Saya mungkin mengalami kesulitan untuk mengingat ciri pedagang yang memberi petualangan kepada saya. Tetapi paling tidak saya tidak akan membeli dari pedagang yang tidak menggunakan ciri gerobak berwarna mencolok.

Saya bahkan mungkin mengingat jam berapa si pedagang dengan gerobak berwarna mencolok itu lewat. Men-set reminder dan membeli pada saat dia lewat, dan menyimpan untuk saat-saat lapar beberapa menit kemudian. Lalu akankah Anda biarkan ketidakmampuan memuaskan pelanggan menyebabkan perusahaan Anda mati?[as]

* Ardian Syam adalah penulis buku “Kacamata Kuda”.

BEKERJA DENGAN LEBIH BAHAGIA

Oleh: Maeya


“Agar orang menemukan kegembiraan dalam pekerjaan mereka, dibutuhkan tiga hal berikut ini: Mereka harus cocok dengan pekerjaannya. Mereka tidak boleh bekerja terlalu banyak. Dan mereka harus memiliki perasaan bahwa mereka berhasil dalam pekerjaan tersebut.”
~ John Ruskin

Banyak orang yang bertahan dalam pekerjaan yang tidak disukai, tetapi karena tidak ada pilihan lain untuk bisa memenuhi kebutuhan hidup dan tidak ada pilihan pekerjaan lain, akhirnya ia pun bertahan juga. Ada yang bertahan dan bekerja dengan sepenuh hati tetapi ada juga yang bertahan dengan bekerja setengah hati. Apakah Anda pernah atau sedang mengalaminya?

Jika Anda mengalami tiga sampai lima gejala dari beberapa gejala berikut ini, ada kemungkinan Anda kurang cocok dengan pekerjaan saat ini dan perlu menemukan solusi untuk bisa lebih puas dengan pekerjaan Anda atau menemukan pekerjaan lain yang lebih cocok dengan Anda:

1. Anda bangun tidur dengan perasaan sedih dan tertekan karena Anda teringat harus melakukan pekerjaan yang tidak Anda senangi.

2. Sudah lama Anda jarang tersenyum dan Anda menjadi sinis pada keindahan hidup.

3. Di malam hari Anda sulit untuk tidur nyenyak dan sering bermimpi buruk setiap kali teringat besok akan bekerja.

4. Tidak nafsu makan dan jarang merasa lapar atau sebaliknya nafsu makan Anda meningkat drastis tidak seperti biasanya.

5. Anda menjadi sering menghitung hari dan melihat jam, kapan pulang, kapan pulang, kapan pulang. Anda tidak betah berlama-lama di kantor, dan bawaannya ingin segera pulang saja.

6. Anda menjadi lebih sering mengeluh dan menceritakan hal negatif mengenai pekerjaan dibandingkan hal positif mengenai pekerjaan Anda.

7. Anda mulai sering berbohong/mencuri-curi waktu/bolos kerja/izin kerja untuk melakukan hal lain di luar pekerjaan.

8. Lebih sering membicarakan hal yang tidak berhubungan dengan pekerjaan.

9. Senang sekali jika atasan tidak datang dan langsung berencana untuk “berpesta”.

10. Anda menjadi sensitif dan mudah sekali marah tanpa sebab yang jelas.

Pekerjaan adalah sebuah pilihan, bukan sebuah paksaan. Buat apa bertahan di satu pekerjaan yang terus membuat Anda kesal dan membenci hidup Anda? Lebih baik berhenti sejenak dan memilih pekerjaan mana yang lebih cocok untuk Anda. Kalau pun Anda memilih untuk bertahan di pekerjaan Anda, daripada terus mengeluh dan menceritakan hal negatif mengenai pekerjaan, lebih baik Anda belajar untuk terus menemukan sisi menyenangkan dari pekerjaan Anda.

Masalah yang sering dikeluhkan sebagai sumber ketidakpuasan bekerja adalah ketidakpuasan terhadap gaji, atasan, rekan kerja, dan tugas pekerjaan yang tidak sesuai dengan harapan. Banyak karyawan mengeluh di dalam hati atau mengeluh kepada orang lain, betapa kecilnya gaji saya, mana mungkin bisa menabung jika gaji saya hanya sekian rupiah. Kenyataan memang menunjukkan bahwa ada standard dari penggajian karyawan di perusahaan-perusahaan Indonesia.

Misalnya: untuk level fresh graduate S-1 antara Rp1,5–2 juta, sedangkan untuk level manager adalah antara Rp6–10 juta. Rentang perbedaan cukup jauh, tetapi bukanlah tidak mungkin bagi seorang fresh graduate S-1 untuk bisa mendapatkan gaji sebesar gaji level manager.

Sekarang yang harus Anda lakukan adalah bukanlah meratapi betapa minimnya gaji Anda, melainkan Anda perlu untuk menyiasati kondisi keuangan dengan cerdas. Saat ini juga jika Anda masih merasa tidak cukup dengan gaji Anda, coba mulai dengan menganalisis dan menghitung jumlah pengeluaran per bulannya. Banyak orang yang jarang menyadari besar pengeluaran setiap bulannya. Masalahnya, ukuran besar kecil gaji sangatlah relatif, ada seorang karyawan yang berpenghasilan sebesar Rp800 ribu/ bulannya, tetapi mampu menghidupi tiga orang anaknya yang masih kecil dan karyawan ini pun mampu menabung secara rutin. Di sisi lain, ada juga karyawan yang berpenghasilan Rp2 juta, belum menikah, tetapi tidak pernah bisa menabung secara rutin karena gajinya seringkali ludes untuk keperluan barang tertier dan pemenuhan gaya hidup mewah di luar kapasitas dirinya.

Kesalahan terbesar orang-orang yang tidak bisa kaya, menurut Tung Desem Waringin, dalam bukunya yang berjudul Financial Revolution, adalah ketika menghabiskan uang untuk membayar hutang kepada bank. Dalam hal ini, salah satu contohnya adalah menggunakan kartu kredit dengan cara yang kurang bijaksana, untuk bisa memenuhi keinginan supaya bisa bergaya seperti orang kaya. Gaya hidup pada akhirnya menjadi salah satu faktor penyebab mengapa gaji rasanya tidak pernah cukup dan mengapa tidak pernah ada sisa uang untuk ditabung secara rutin. Salah satu cara untuk mengakali masalah keuangan ini adalah dengan mulai mengurangi pengeluaran yang masih bisa ditunda, biasanya berkaitan dengan kebutuhan tertier (barang mewah, barang elektronik, atau kebutuhan untuk bersenang-senang). Sebagai gantinya, Anda bisa melakukan kegiatan lain yang tidak mengeluarkan banyak biaya, misalnya: jika Anda biasanya pergi ke coffee shop untuk refreshing bersama teman-teman, Anda bisa sesekali menggantinya dengan berkumpul di rumah Anda atau rumah teman Anda dengan menikmati kopi instan buatan sendiri.

Jika Anda ingin mengetahui apakah gaji Anda yang memang terlampau kecil atau apakah pengeluaran Anda yang memang terlampau batas kebutuhan normal, Anda perlu menganalisis dan mencatat secara detail pengeluaran Anda per bulannya. Jika ternyata gaji Anda memang terlampau minim dibandingkan dengan pengeluaran biaya kebutuhan primer Anda, Anda bisa mempertimbangkan pekerjaan sampingan untuk mendapatkan penerimaan tambahan atau mulai menemukan pekerjaan yang bisa memberikan gaji sesuai kebutuhan primer Anda dan kualifikasi Anda tentunya. Saat sekarang ini terbuka banyak kesempatan untuk melakukan pekerjaan sampingan yang tidak mengganggu jam kerja kantor Anda. Misalnya: menjadi agen asuransi, menjalankan bisnis marketing freelance, menjadi agen properti di akhir pekan, menjadi guru privat di luar jam kantor, atau menjadi penulis lepas jika Anda memiliki kemampuan dan bakat menulis.

Masalah lain yang sering diungkapkan oleh karyawan adalah tidak puas dengan atasannya atau tidak cocok dengan rekan kerjanya. Keluhan pun dimulai dari ketidakpuasan dengan sikap atasan yang kurang dewasa atau kurang bertanggung jawab, sampai dengan ketidaknyamanan bekerja dalam kondisi persaingan yang tidak sehat dengan rekan kerja. Jam makan siang menjadi ajang untuk membicarakan kejelekan orang lain (atasan atau rekan kerja) dan lambat laun kegiatan mengeluh menjadi kebiasaan rutin sehari-hari. Pertanyaannya, apakah ada manfaat yang berarti dengan mengeluhkan kejelekan atasan Anda atau menjelek-jelekkan rekan kerja Anda yang terobsesi untuk naik pangkat? Sekali lagi, tidak ada gunanya mengeluh dan membicarakan hal negatif mengenai pekerjaan Anda, karena lambat laun kebiasaan ini akan membuat Anda berpandangan negatif terhadap apa yang Anda kerjakan dan merusak jiwa positif dan kepribadian Anda.

Selain masalah ketidakpuasan mengenai gaji, atasan, dan rekan kerja, masalah terakhir yang tidak kalah pentingnya adalah kecocokan seseorang dengan pekerjaan yang ia jalankan. Keluhan yang sering muncul adalah jenis pekerjaan terlalu menantang atau sebaliknya terlalu berat, tugas pekerjaan terlalu membosankan atau sebaliknya terlalu banyak tekanan. Ada kesulitan dan tantangan dari setiap profesi yang dipilih. Setiap orang memiliki porsi dan kemampuan masing-masing, tidak bisa dipaksakan untuk bekerja di profesi tertentu, ada orang yang cocok untuk melakukan pekerjaan administratif, tetapi ada juga orang yang lebih cocok untuk melakukan pekerjaan marketing yang dinamis dan tidak monoton. Untuk bisa menemukan pekerjaan yang cocok dengan karakter diri sendiri membutuhkan proses dan pembelajaran yang sabar dan telaten. Masalahnya, waktu terus berjalan dan waktu tidak akan menunggu Anda sampai menemukan pekerjaan yang cocok sesuai dengan harapan. Sebagai solusinya, terkadang kita perlu untuk belajar menyayangi pekerjaan yang ada di hadapan kita, sampai akhirnya kita mampu menentukan pekerjaan apa sebenarnya yang cocok dengan karakter kita. Pilihan pekerjaan berkaitan erat dengan karakter diri Anda dan juga goal yang ingin Anda capai dalam hidup ini. Untuk mempermudahnya, mula-mula kenali terlebih dahulu apa sifat positif dan negatif, hobi dan aktivitas yang Anda lakukan dan bisa membuat Anda bahagia. Anda juga bisa berkonsultasi kepada orang-orang yang sudah lebih dahulu berpengalaman dalam penentuan dan perencanaan karir seperti konselor karir/psikolog yang memang memahami teknik konseling karir dan penentuan pilihan pekerjaan untuk Anda.

Tidak pernah ada kata terlambat untuk mencoba hal baru yang sesuai dengan potensi dan minat Anda. Pekerjaan bukanlah paksaan, melainkan sebuah pilihan. Pilihlah pekerjaan yang memberikan kepuasan dan kebahagiaan bagi Anda. Anda pantas mendapatkan yang lebih baik jika memang Anda memiliki kualifikasi yang baik. Tentukan pilihan. Walau tidak sesuai dengan jurusan kuliah, bukanlah masalah, yang terpenting, terus kenali diri kita dan jalankan pilihan hidup secara maksimal. Hasilnya pun akan maksimal nantinya. Segala sesuatu yang dilakukan dengan perasaan terpaksa, biasanya hasilnya tidak cukup baik dan tidak maksimal.

Akhir kata, saya menyadari bahwa ada keterbatasan dalam segala aspek kehidupan, salah satunya adalah bahwa tidak semua hal di dalam hidup ini bisa dijawab dengan pikiran logis. Oleh karena itu ada saat dimana kita perlu mempercayakan semua itu pada kekuatan doa dan kemampuan pikiran alam bawah sadar untuk menjawab semua kebingungan itu. Doa yang secara rutin saya lanturkan adalah: “Semoga saya mampu memilih pekerjaan yang sesuai dengan panggilan hidup dan tugas kelahiran saya yang dapat mendukung tercapainya dunia yang damai dan tentram.”[mo]

* Mayasari Oey atau akrab dipanggil Maeya adalah alumnus Fakultas Psikologi Universitas Indonesia (2000-2004). Saat ini, selain aktif menulis, sehari-hari ia bekerja sebagai guru Bahasa Inggris. Ia juga aktif di Lembaga Training Dynamic Life Solution. Tinggal di Jakarta Barat, ia dapat dihubungi di telp: 021-98014364, 081510107536, atau via email maerose11@yahoo.com.

MENGGEDOR KETERBATASAN DENGAN IMAJINASI YANG CERDAS

Oleh: Eni Kusuma


"Tetapkan mimpi Anda dan imajinasikan ke dalam otak Anda, maka otak Anda akan menyimpan perintah itu berupa energi yang akan mewujudkan mimpi Anda."
~ Eni Kusuma

Tahukah Anda bahwa otak kita dalam aktivitasnya adalah berupa sinyal-sinyal listrik yang akan menghasilkan gelombang energi dalam berbagai skalanya?

Analoginya sebagai berikut:
Ketika kita melihat wanita cantik dan seksi, maka bayangan wanita cantik dan seksi itu akan tetangkap oleh sel-sel retina mata kita, dan kemudian diubah menjadi sinyal-sinyal listrik yang dikirim ke otak kita. Sinyal-sinyal dari kiriman retina mata akan mengaktifkan sel-sel yang bertanggung jawab terhadap proses penglihatan tersebut. Maka kita bisa melihat wanita cantik dan seksi tersebut.

Jika Anda menginginkan untuk berkenalan dengan wanita tersebut dalam proses berpikir di otak. Maka pada saat proses berpikir itu, otak menghasilkan sinyal-sinyal listrik yang berpendar-pendar. Di sana bakal dihasilkan gelombang dengan energi tertentu. Otak adalah generator sinyal-sinyal listrik yang saling terangkai menjadi kode-kode keputusan.

Sinyal-sinyal listrik itu merambat ke seluruh tubuh, lewat komando otak, menghasilkan gerakan-gerakan, mimik, tingkah laku, atau tindakan sesuai keputusan atau perintah dari otak. Dan proses ini—dari melihat wanita tersebut sampai membuat keputusan untuk berkenalan—berlangsung hanya dalam beberapa detik saja. Luar biasa, semua terkomando dan terjadi atas "kehendak" kita saja.

Dari ilustrasi di atas saya hendak menyampaikan tentang kekuatan akan "sebuah kehendak". Jika kita "menghendaki" suatu keinginan atau suatu mimpi berarti kita sudah menanamkan "perintah" di dalam otak kita . Otak kita akan menyimpan perintah tersebut. Dan secara tidak sadar otak kita akan menanamkannya dalam pikiran bawah sadar kita. Maka hendaknya perintah tersebut harus spesifik dan jelas agar pikiran bawah sadar kita memiliki program yang jelas. Kenapa pikiran bawah sadar kita dikendalikan oleh otak? Karena otak adalah pusat dari segala aktivitas pikiran sadar dan pikiran bawah sadar kita.

Otak akan tetap bekerja meskipun kita tidak sedang dalam keadaan sadar. Ini berarti dalam keadaan tidur pun otak kita masih bekerja. Buktinya otak masih mengirimkan sinyal-sinyal untuk mengatur denyut jantung, pernafasan, suhu tubuh, hormon-hormon pertumbuhan, dan sebagainya.

"Dalam keadaan tidak berada dalam kesadaran, otak tetap memancarkan sinyal-sinyal listrik alias tetap bekerja sehingga program-program yang kita informasikan pada otak, secara otomatis otak akan menanamkannya dalam pikiran bawah sadar kita."

Oleh karena itu kita hendaknya menginformasikan perintah atau program kepada otak kita dengan jelas dan spesifik. Kenapa? Karena jika otak menerima perintah yang kurang jelas atau kita menginformasikan kehendak kita secara buram, maka otak tidak bisa menginformasikan pada pikiran bawah sadar kita secara jelas dan spesifik. Sehingga hasilnya tidak maksimal atau tidak menggiring kita ke arah sukses. Padahal yang menentukan kesuksesan kita adalah karena adanya program-program dan keyakinan-keyakinan yang ada di pikiran bawah sadar kita.

Contoh gampangnya begini, jika kita ingin menjadi kaya tetapi tidak diimajinasikan secara detail kaya yang bagaimana? Maka otak akan kesulitan untuk menterjemahkan makna dari perintah tersebut. Otak akan berkata: "Wah, yang ngasih perintah ini, goblok! Ingin kaya tetapi detailnya tidak ada.” Maka otak akan kesulitan mengirim informasi ke pikiran bawah sadar kita.

Lain halnya jika perintah itu benar-benar jelas dan spesifik misalnya pada kasus saya. Saya memerintahkan pada otak saya jika saya ingin menulis buku ke dua. Saya juga menjelaskan dengan sangat gamblang pada otak saya tentang tema atau topik pada proses pembuatan buku saya nanti. Saya juga menjelaskan: apa. bagaimana, umtuk apa, kapan, di mana, dalam waktu berapa lama proses buku saya tersebut. Bahkan saya juga menjelaskan secara detail buku-buku apa saja yang harus saya baca untuk menambah wawasan saya, siapa saja yang harus saya hubungi, dan siapa saja yang bisa membantu saya dalam mewujudkan impian saya.

Program ini saya informasikan ke otak yang secara otomatis terprogram juga dalam pikiran bawah sadar saya. Karena otak yang mengendalikan pikiran sadar dan pikiran bawah sadar kita. Ketika dalam proses berpikir, otak yang berupa sinyal-sinyal listrik mengirim kepada pikiran sadar dan pikiran bawah sadar kita, untuk selanjutnya diubah menjadi kode-kode makna. Ada orang berpendapat bahwa di sinilah letak jiwa kita. Ya, jiwa kita adalah kode-kode makna tersebut. Berarti pikiran sadar dan pikiran bawah sadar kita adalah jiwa kita.

Otak yang berupa sinyal-sinyal listrik berfungsi juga seperti antena yang menginformasikan ke seluruh alam semesta apa yang kita mau (apa yang sudah terprogram). So, jangan dibilang suatu "kebetulan" jika saya berhadapan dengan kejadian-kejadian yang "kebetulan" yang mengarah ke cita-cita saya tersebut. Karena alam semesta sebenarnya sudah diprogram dari Sang Pencipta untuk mendukung kesuksesan kita.

Jadi rugi dong jika kita memprogramkan sesuatu yang buram ke otak kita. Otak tidak bekerja secara maksimal dan tidak fokus. Karena kefokusan tergantung dari kejelasan suatu informasi. Jika sudah begini, siapa yang rugi?

Ketika buku pertama saya Anda Luar Biasa!!! (Fivestar, 2007) akan diterbitkan, saya ingat apa yang saya tulis dalam buku kecil saya beberapa tahun yang lalu. Ini yang saya tulis: "Maybe One Day I Will be Famous". Untuk memberi gambaran yang lebih spesifik kepada otak saya, saya bertanya pada diri sendiri tentang passion saya. Apa yang membuat saya bergairah dalam mengerjakannya sehingga saya merasa senang tanpa beban? Ternyata saya suka menulis. Inilah passion saya.

Maka saya sampaikan ke otak bahwa saya ingin menjadi seorang penulis. Saya menulis "skenario" tentang cita-cita saya tersebut. Saya menulisnya dalam bentuk cerita. Dan jadilah sebuah naskah novel. Cerita dalam naskah novel tersebut berisi tentang impian saya yang seorang pembantu rumah tangga menjadi seorang penulis terkenal. Cerita dalam naskah novel tersebut sangat spesifik dan sangat detail, sehingga tanpa saya sadari program yang sangat detail tersebut terpatri dalam pikiran bawah sadar saya. Keyakinan "bisa menjadi seorang penulis" demikian mengkristal dalam jiwa saya. Gelombang energi dari sinyal-sinyal listrik pada otak saya menyebar ke seluruh tubuh untuk mendukung cita-cita saya.

Semua kegiatan saya mengarah ke cita-cita saya tersebut. Ada energi yang luar biasa yang dapat menembus segala keterbatasan yang saya miliki. Dari proses berpikir, memahami, dan menganalisis makna yang saya dapatkan dari proses pembelajaran saya sampai saling bekerjasamanya seluruh anggota tubuh saya dalam mewujudkan keinginan saya tersebut, semua berpusat pada otak.

Seperti yang sudah saya uraikan di depan bahwa otak juga seperti antena yang berhubungan, menginformasikannya kepada alam semesta yang mana alam semesta sudah terprogram untuk mendukung kesuksesan kita. Maka jangan dianggap suatu kebetulan jika alam semesta mendukung saya dalam mewujudkan cita-cita saya tersebut.

Seperti begini: kebetulan ada teman saya yang mengajari saya email dan memperkenalkan milis-milis kepada saya. Kebetulan saya dikirimi buku Resep Cespleng Menulis Buku Best Seller oleh seorang senior di milis. Kebetulan buku yang dikirim itu bukunya Edy Zaqeus yang nantinya menjadi mentor saya. Kebetulan artikel saya dimuat di situs Pembelajar.com sampai dibukukannya tulisan-tulisan saya. Serta serba kebetulan-kebetulan yang lain yang mendukung keinginan saya tersebut.

"Dan bukan suatu kebetulan jika impian-impian Anda menjadi kenyataan."

Jadi, tentukan impian Anda, tulis dan imajinasikan ke dalam otak Anda secara detail dan jelas. Maka otak akan bekerja, gelombang energinya akan:

1. Menanamkan ke pikiran sadar dan pikiran bawah sadar kita.

2. Menggerakkan kinerja tubuh sesuai perintah di otak.

3. Menginformasikan ke alam semesta yang sudah diprogram oleh Sang Pencipta untuk mendukung kesuksesan kita.

Tanamlah mimpi Anda mulai sekarang, tumbuh dan berkembanglah serta nikmati prosesnya! Semua terjadi hanya dengan "kehendak" Anda saja. Dan proses dari "ayam menjadi elang" bukan suatu yang luar biasa bagi kita. Bagaimana menurut Anda?[ek]

* Eni Kusuma adalah mantan pembantu rumah tangga (TKW) di Hong Kong yang kini tinggal di Banyuwangi. Ia berhasil menulis buku motivasi berjudul “Anda Luar Biasa!!!” yang diterbitkan oleh Fivestar Publishing. Belum lama ini, profilnya dimuat di harian “Jawa Pos”, “Kaltim Pos”, “Antara”, dll. Saat ini, Eni tengah mengembangkan diri sebagai seorang motivator (public speaker) dengan cara membagikan semangatnya melalui seminar-seminar untuk segala kalangan. Eni dapat dihubungi di HP: 081389641733 atau email: ek_virgeus@yahoo.co.id

LIFE BEYOND REASONS

Oleh: Nathalia Sunaidi


“Derma dan perbuatan kebajikan adalah bibit dari kekayaan dalam kehidupan ini dan kehidupan mendatang.”
~ Nathalia Sunaidi

Terkadang sangat aneh bila kita mengamati kenyataan yang terjadi dalam kehidupan ini. Ada seseorang yang sejak dilahirkan selalu berkelimpahan uang. Ia lahir di keluarga kaya, tumbuh dewasa dalam gemerlap harta dan setelah dewasa ia mewarisi perusahaan dan kekayaan keluarganya. Ia seperti hidup dalam surga dunia. Ada beberapa lahir di keluarga menengah tapi setelah tumbuh dewasa ia menikmati keberhasilan karir dan usaha. Ia menjadi sukses dengan usahanya sendiri. Ia seperti memiliki tangan emas, apa pun yang disentuhnya akan berubah menjadi emas. Bisnis apa pun yang ia jalankan atau perusahaan apa pun yang ia dirikan, di tangannya akan menjadi lahan penghasil uang yang sangat subur.

Tapi, ada juga orang-orang yang sangat merana hidupnya. Sejak kecil ia lahir di keluarga yang sederhana. Ia pintar, rajin, dan menyelesaikan pendidikannya. Setelah dewasa, ia mencoba untuk bekerja tapi semua pekerjaan yang ia dapatkan hanya memberikannya gaji yang pas-pasan. Ia pun mencoba usaha dan membangun bisnis kecil-kecilan tapi selalu bangkrut. Ia mencoba berdagang/membuka toko tapi tokonya sangat sepi. Ia mencoba bekerjasama dengan teman-temannya untuk berbisnis tapi bisnisnya gagal. Semua usaha yang dilakukannya gagal seolah-olah ia memiliki tangan pembawa sial, apa pun usaha yang disentuhnya selalu tidak berhasil.

Bila kita mau merenung akan terlihat ada yang aneh dalam kenyataan hidup ini. Seperti ada missing link yang terjadi dalam fenomena kehidupan. Banyak hukum alam yang sepertinya tidak berjalan dengan baik dalam kenyataan kehidupan ini. Ada orang-orang yang sangat baik dan tulus tapi selalu mengalami kegagalan dalam hidupnya walaupun ia sudah menerapkan berbagai hukum kesuksesan dalam tindakan dan usahanya. Tapi ada orang-orang yang seolah-olah dihujani oleh keberuntungan dalam setiap usaha yang ia lakukan.

Memang, life is beyond reasons, banyak pertanyaan yang tidak ada jawabannya dan menggugah kita untuk terus mencari.

Setelah mendalami Past Life Regression atau Regresi Kehidupan Lalu, saya baru benar-benar menemukan missing link dalam pertanyaan-pertanyaan saya. Ternyata semua kenyataan yang terjadi dalam kehidupan kita memiliki sebab dan sebab itulah yang membuat hidup kita menjadi seperti ini. Dan dari situ saya menemukan bahwa setiap perbuatan kebajikan pasti membawa kebahagiaan dan setiap perbuatan buruk akan membawa penderitaan yang menyengsarakan.

Ada seorang klien yang datang ke saya. Ia bercerita ia dilahirkan di keluarga yang miskin. Walaupun demikian, ia cukup pintar sehingga bisa menyelesaikan pendidikannya. Setelah itu ia mencoba berbagai usaha tapi usahanya sering gagal. Ia banyak mengikuti seminar motivasi dan kesuksesan. Nasihat dan hal-hal yang diajarkan dalam seminar-seminar itu ia terapkan dalam hidup dan usahanya tapi tetap saja keberuntungan belum datang kepadanya. Ia datang ke saya untuk mencari tahu mengapa nasibnya kurang beruntung.

Setelah diregresi, ia masuk ke salah satu kehidupan lalunya. Ia hidup sebagai seorang polisi di Amerika. Suatu hari ia menangkap buronan yang telah meninggal. Dalam saku buronan itu terdapat segepok uang. Tanpa sepengetahuan orang lain ia mengambil uang itu untuk dirinya sendiri, ia tidak melaporkan keberadaan uang itu kepada pihak yang berwenang.

Saya bertanya apakah hal tersebut yang menjadi sebab kemiskinan hidupnya sekarang. Ia berkata, “Pencurian adalah sebab bagi kemiskinan hidup. Pencurian itu mengakibatkan aku dilahirkan di keluarga miskin dan yang menyebabkan setiap usaha yang aku lakukan selalu gagal. Benar-benar setiap bentuk pencurian adalah sebab dari kemiskinan hidup.”

Setelah mengetahui hal tersebut, ia rajin sekali melakukan derma dan kegiatan-kegiatan sosial. Ia membuat kotak derma di kamarnya, ia berderma setiap hari dan setiap minggunya uang derma itu ia berikan kepada orang yang membutuhkan. Setelah beberapa lama melakukan hal itu, ia memberi kabar kepada saya bahwa beberapa bulan belakangan ini penghasilannya melesat berkali-kali lipat dan hidupnya menjadi lebih bahagia.

Seperti yang saya kisahkan dalam buku saya Journey To My Past Lives(Bornrich, 2007) derma dan perbuatan kebajikan adalah akar dari semua keberlimpahan hidup. Dalam buku dikisahkan seorang gadis yang dilahirkan di keluarga kaya, hidupnya penuh keberlimpahan dengan keluarga yang sangat harmonis. Ternyata di kehidupan lalunya ia adalah seorang yang selalu melakukan kebajikan setiap saatnya dan ia mendedikasikan hidupnya untuk menemukan obat yang bisa menyembuhkan orang banyak. Dari perbuatan-perbuatan kebajikan itulah ia sangat berkelimpahan harta di kehidupan sekarang ini.[ns]

* Nathalia Sunaidi adalah seorang hipnoterapis dengan spesialisasi Regresi Kehidupan Lalu (RKL). Ia telah menelurkan sebuah buku laris berjudul “Journey to My Past Lives” (Bornrich, 2007). Untuk membaca artikel-artikel Nathalia lainnya, silakan kunjungi www.nathaliasunaidi.com. Penulis dapat dihubungi nomor telepon 021-70929038 atau di email: nathaliasunaidi@yahoo.com.

MAU SUKSES? JANGAN MANJA!

Oleh: Muk Kuang


Salah seorang wirausaha sukses dari Singapura berbagi pengalaman hidupnya yang penuh dengan perjuangan. Beliau menyebutnya sebagai “pelajaran 10 sen”. Dalam kondisi demam yang tinggi, beliau menggunakan telepon umum untuk menelepon Ayahnya agar dijemput. Saat itu beliau masih berusia 10 tahun. Akan tetapi sang Ayah justru tidak terlalu kasihan dan sedih, melainkan menjawab dengan berkata, “Mengapa kamu menelepon? Mengapa kamu menghabiskan 10 sen hanya untuk hal ini? Apakah kamu bisa mendapatkan kembali uang 10 sen sekarang? Pulang sendiri. Kamu bukannya tidak bertenaga, kamu masih kuat.”

Terkesan memang agak keras didikannya, tapi pelajaran inilah yang justru membuat beliau akhirnya menyadari bahwa hidup ini harus berjuang dan kerja keras, bukan dengan sikap mental yang manja, dan pada akhirnya beliau tahu apa arti sukses.

Bagaimana dengan Anda?

Bagaimana dengan anak Anda?

Bagaimana dengan lingkungan sekitar Anda?

Apakah masih memelihara sikap mental tersebut?

Ayah saya pernah mengatakan, “Jika Anda mendapat sesuatu dengan mudah, maka Anda akan melepaskannya pun dengan mudah. Jika Anda mendapat sesuatu dengan kerja keras, maka Anda akan sangat menghargainya dan akan berpikir dua kali untuk menyia-nyiakannya.”

Pelajaran berharga ini yang selalu ditanamkan kepada anak-anaknya dan membuat saya menyadari bahwa hidup ini tidak semudah membalikkan telapak tangan, kesuksesan tidak hanya bisa diraih dengan menekan tombol remote dan langsung jadi, tapi butuh sebuah usaha dan kegigihan dari setiap orang.

Selalu belajar untuk tidak menengadahkan tangan kita untuk meminta. Apabila itu adalah pemberian dari orang lain, syukurilah. Tapi jangan pernah meminta jika kita masih bisa melakukan sesuatu dan berusaha. Karena ketika seseorang sudah terbiasa meminta, maka sikap mental ini mulai tertanam dan akan menjadi enggan untuk bekerja keras, sebab segala sesuatunya dengan mudah didapatkannya.

Fenomena ini terkadang masih ada di sekitar kita, apapun yang diminta kepada orangtuanya akan selalu diberikan. Mau mobil baru bisa langsung dipesan, Mau ganti handphone baru bisa langsung dibelikan, dan semua hal yang diinginkan dengan mudah bisa diberikan oleh orangtuanya. Inilah sikap bergantung kepada orang lain. Inilah sikap manja yang justru tidak akan memberikan dampak yang positif kepada sang anak.

Mengutip sebuah pepatah yang sangat inspiratif yaitu, “One who has not tasted bitter, knows not what sweet is.” Seseorang yang tidak pernah mengecap rasa pahit, tidak tahu rasa manis seperti apa. Anda akan jauh menghargai sebuah kesuksesan jika Anda tahu betapa pentingnya sebuah keyakinan, kemauan keras, kerja keras, dan keteguhan hati dalam menjalani proses hidup.

If you want to get something, You have to fight for it.
If you don’t want to fight for it, Never expect anything

Salam Pemenang,
Muk Kuang
People Development Trainer
Co-Founder J&K Counsels (www.jkcounsels.com)
www.ignatiusmk.blogspot.com
mukkuang@gmail.com

MENGAPA PEJABAT MESTI BACA TULISAN BURUH?

Oleh: Bonari Nabonenar


Pasar buku kita, belakangan disemarakkan pula oleh buku-buku karya para buruh [terutama buruh migran]. Anda bisa membeli dan membaca buku Catatan Harian Seorang Pramuwisma karya Rini Widyawati [asal Malang], kumpulan cerpen Penari Naga Kecil karya Tarini Sorrita [Cirebon], kumpulan cerpen Majikanku Empu Sendok karya Denok Kanthi Rokhmatika [Malang], kumpulan cerpen Hong Kong Namaku Peri Cinta [Wina Karni, dkk], kumpulan cerpen Perempuan Negeri Beton karya Wina Karnie [Magetan], kumpulan cerpen Nyanyian Imigran [Etik Juwita, dkk]. Sekadar contoh, buku-buku itu lahir dari rahim para perempuan pekerja rumah tangga [PRT] asal Indonesia yang bekerja di Hong Kong. Oh, masih ada lagi, sebuah buku yang dirilis sebagai buku baru [Jawa Pos, Minggu 1 April 2007] berjudul Anda Luar Biasa!!! karya Eni Kusuma [Banyuwangi]. Eni Kusuma adalah PRT yang selama ini juga bekerja di Hong Kong. Dan Perlu diketahui pula, Anda Luar Biasa!!! itu adalah sebuah buku motivasi, yang tak sembarang penulis bisa melahirkannya.

Masih ada lagi. Dalam bulan April ini dari rahim kreativitas mantan TKI Hong Kong asal Wonosobo, Maria Bo Niok, akan lahir tiga buah buku sekaligus: sebuah kumpulan cerpen, sebuah novel, dan sebuah buku motivasi.

Saya sedang tidak begitu tertarik untuk mengampanyekan kadar kesastraan buku-buku karya para TKI itu, melainkan lebih ingin mengingatkan bahwa buku-buku itu adalah buku-buku yang wajib dibaca dengan sungguh-sungguh oleh para Bupati/Walikota, Gubernur—yang menguasai wilayah penyetor TKI—dan bahkan Presiden Republik Indonesia sebagai orang nomor satu di negara ''pengekspor'' tenaga kerja ini. Wajib juga dibaca dengan sungguh-sungguh oleh kepala departemen [baca menteri], kepala dinas tenaga kerja, dan siapa saja yang bergelut dengan urusan perburuhan [termasuk per-TKI-an]. Sebab apa? Buku-buku itu adalah sumber informasi otentik mengenai dunia perburuhan, adalah rekaman suara buruh [migran] yang sesungguhnya—tanpa memandang lebih rendah suara-suara buruh yang disampaikan dengan saluran lain, selain tulisan.

Melalui tulisan karya para TKI-HK itu, misalnya, kita akan tahu bahwa ternyata fenomena lesbianisme di antara perempuan-perempuan kita begitu pesat 'kemajuannya' di HK, banyak perempuan kita yang menikah dengan lelaki setempat sekadar untuk mendapatkan visa independen dan bukan atas dasar cinta, karena dengan visa independen itu mereka akan leluasa untuk mendapatkan pekerjaan di sektor formal [tidak lagi menjadi PRT] dengan gaji jauh lebih besar daripada gaji PRT. Tetapi, ternyata banyak kasus, setelah menjadi istri lelaki setempat justru lebih diper-babu-kan oleh suami sendiri yang lebih sewenang-wenang daripada majikan lain. Dan masih banyak lagi informasi, misalnya melalui cerpen “Kabut Bukit Lok Fu”, Tania Roos [Malang] bertutur tentang seorang PRT dengan majikan yang cerewetnya minta ampun, dan berupaya menjinakkan sang majikan ini dengan bantuan orang pintar [baca: dukun] di Tanah Air. Sang Dukun mengirimkan secarik gombal [robekan jarik entah jarik siapa] supaya dimasukkan ke dalam periuk sayur ketika sedang memasak. Celakanya, Si PRT lupa mengambil gombal itu ketika menghidangkan sayur buat majikannya. Ketahuan, bukannya sang majikan menjadi semakin 'jinak' malah Si PRT mendapat hadiah kejutan: diinterminit.

Wahai para pejabat [terutama yang mengemban amanat mengurusi soal-soal perburuhan, termasuk per-TKI-an] bacalah dengan sungguh-sungguh tulisan para buruh itu. Dengan begitu kita bisa memandang mereka sebagai manusia yang utuh dengan segenap potensi lahir-batin, jiwa-raga mereka, dan bukan hanya melihat mereka sebagai ''komoditas ekspor.''

Juga, apakah kita akan kembali merelakan persoalan yang satu ini [persoalan buruh kita] lebih dikuasai [baca: lebih dipahami] oleh orang asing, setelah pada sekian banyak persoalan kebudayaan kita, ternyata orang asing, para orientalis, jauh lebih memahaminya daripada kita sendiri. Tak perlu jauh-jauh ambil contoh: ternyata Elizabeth D. Inandiak yang asal Perancis itu jauh lebih paham apa yang mesti diperbuat dengan Serat Centhini daripada orang Jawa yang semestinya berada di urutan pertama daftar pewaris karya agung budaya Jawa itu.

Sekitar tiga bulan lalu saya mendapat kabar bahwa Tania Roos dan Tarini Sorrita hendak menerbitkan kumpulan cerpen dan novel berbahasa Inggris mereka di Hong Kong. Tarini Sorrita, bahkan pernah disosokkan, tampil sepenuh halaman South China Morning Post, ruang yang pernah memuat 'sosok' sastrawan Indonesia sekaliber Ayu Utami dan Sitok Srengenge. Begitulah, di 'luar', buruh yang menulis ternyata dipandang dengan begitu hormat. Bagaimana halnya dengan di kampung halaman mereka sendiri?

Jika Festival Sastra Buruh 2007 yang digelar di Blitar [30 April – 1 Mei] nanti berlangsung sukses, setidaknya kita boleh merasa mendapatkan secercah harapan baru. Sebab, kita pernah mengalami masa-masa ketika para buruh itu: membaca karyanya sendiri pun dilarang. [BN]

* Bonari Nabonenar adalah seorang budayawan, penggerak sastra buruh, dan penggagas Festival Sastra Buruh 2007. Karyanya antara lain; “Cinta Merah Jambu” (JP-Book,2005), “Mimpi dan Badai” (KLogung Pustaka, 2005), dan “Semar Super” (Alfina, 2006). Ia dapat dihubungi di: bonarine@yahoo.com

toko-delta.blogspot.com

Archives

Postingan Populer

linkwithin

Related Posts with Thumbnails

Total Tayangan Halaman

Diberdayakan oleh Blogger.