toko-delta.blogspot.com

menu

instanx

Tampilkan postingan dengan label m ichsan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label m ichsan. Tampilkan semua postingan

Jumat, 17 Oktober 2008

PENTINGNYA DISKUSI KEUANGAN SEBELUM MENIKAH



Andi dan Anti bertemu waktu sama-sama kuliah di salah satu perguruan tinggi swasta terkenal di Jakarta. Setelah lulus, mereka mengambil jalan yang berbeda, Andi meneruskan kuliahnya di luar negeri dan Anti langsung bekerja. Dua tahun yang lalu, mereka bertemu kembali di sebuah pesta teman Anti. Andi diajak oleh temannya. Setelah itu mereka mulai berhubungan kembali.

Mereka membicarakan banyak hal, dari hal yang kecil sampai yang bersifat prinsipil. Dari pembicaraan tersebut, mereka meresakan adanya persamaan dalam tujuan hidup, sampai keinginan untuk membina keluarga dengan hanya dua anak. Tidak beberapa lama, mereka mulai menjalin hubungan lebih dekat. Pada bulan Januari mereka bertunangan. Pada bulan September mereka menikah.

Anti termasuk orang yang percaya bahwa uang tunai atau cash lebih baik. Sedangkan Andi merasa bahwa kartu kredit itu penting untuk berbagai transaksi dan kebutuhan darurat. Andi mempercayai bahwa dalam pernikahan, “apa yang saya miliki adalah milik pasangan saya juga”. Sehingga Andi menambahkan kartu kredit atas namanya untuk Anti.

Waktu pun berjalan, dan mereka memikirkan untuk memperbesar rumah yang sekarang mereka tinggali karena mereka berencana untuk memiliki anak. Merenovasi rumah cukup besar biayanya. Banyak kebutuhan perbaikan yang diperlukan mereka beli dengan kartu kredit. dalam waktu pendek, tagihan kartu kredi mereka meningkat cukup tajam. Tentunya, masing-masing dari mereka membayar dari tabungan mereka.

Namun, dalam suatu pertemuan penting dengan klien, Andi selalu membawa kartu kredit sebagai alat pembayaran. Setelah selesai dan ingin membayar dengan kartu kredit ternyata kartu kreditnya ditolak. Dan Andi pun mencoba kartu kredit kedua, ternyata kembali ditolak. Andi bingung, sepertinya dia selalu membayar tagihan walau memang tidak pernah secara full. Andi mencoba untuk menghubungi perusahaan penerbit kartu tersebut, ternyata, kartu kredit Andi sudah over limit.

Andi menyangka bahwa Anti juga selalu membayar tagihan kartu kreditnya. Sedangkan Anti juga menyangkan hal yang sama. Ternyata masing-masing dari mereka tidak membayar kenaikan dari tagihan karena renovasi. Hal ini mengakibatkan meningkatnya bunga yang harus dibayarkan dan jumlah total tagihan. Ternyata, mereka tidak pernah membicarakan masalah keuangan sebelum mereka memasuki kehidupan berkeluarga. Bila melihat hal ini, “ Andi berpikir, sudah seharusnyalah kami membicarakan masalah keuangan kami sebelum memasuki pernikahan”.

Anda bermaksud untuk menikah? Bila ya, sebaiknya Anda membicarakan masalah keuangan Anda dan calon pasangan Anda. Namun, Anda berkata, “ itu sih tidak romastis” orang mau menikah disuruh membicarakan maslaah keuangan. Memang bila dirasa hal ini tidaklah romastis, namun membicarakan masalah keuangan sebelum Anda memasuki masa pernikahan akan memberikan banyak manfaat bagi Anda berdua untuk mengetahui perihal keuangan masing-masing. Membicarakan hal keuangan jauh lebih baik dari berbagai hadiah yang mungkin Anda terima dari tamu-tamu yang datng ke pernikahan Anda dan calon pasangan Anda. Oleh karena itu, kami menyarankan beberapa langkah yang sebaiknya Anda dan calon pasangan Anda lakukan sebelum Anda mengatakan “I do” atau “Saya terima nikahnya…..”.

Tentukan siapa yang menjadi “Money Person”
Anda dan pasangan Anda seharusnya secara aktif inkut terlibat didalam keuangan, akan tetapi untuk mengindari kebingungan atau kesalahan, pastikan semua tagihan yang Anda berdua miliki dibayar tepat pada waktunya. Dalam hal ini ada baiknya Anda menentukan siapa yang akan membayar semua tagihan melalui tabungan atau simpanan bersama yang Anda dan pasangan Anda sisihkan dari pendapatan masing-masing. Besarnya bisa Anda diskusikan dengan pasangan Anda. Atau bila Anda merasa hal ini menjadi beban salah satu saja, trik lainnya yang bisa Anda lakukan adalah dengan membagi tanggung jawab keuangan masing-masing dalam keluarga. Misalkan, Anda sebagai istri bertanggung jawab terhadap semua kebutuhan belanja, karena biasanya istri yang lebih tau tentang hal ini. Jadi semua tagihan belanja Anda yang mengurunya. Sedangkan untuk kebutuhan biaya listrik telp, pembantu dan lainnya yang bersifat lebih tetap, suami yang bertanggung jawab. Kedua hal ini bisa saja Anda pilih salah satunya.

Saran yang bisa kami sampaikan dalam hal ini adalah tetap kumpulkan semua bill atau tagihan yang Anda dan pasangan Anda lakukan setiap bulannya. Hal ini bisa memberikan banyak manfaat bagi Anda berdua bila nantinya si kecil (anak) lahir. Sehingga Anda memiliki track record pengeluaran yang bisa Anda anggarkan setiap bulannya.

Hal ini merupakan kebutuhan harian atu bulanan keluarga, sedangkan untuk pembelian yang besar, seperti peralatan rumah tangga, barang-barang elektronik dan lain-lain sebaiknya salah satu dari Anda juga bertanggung jawab untuk maslaah pembayarannya. Namun dalam hal ini Anda berdua harus menyetujui pembelian besar yang akan Anda lakukan. Bicarakan dengan pasangan Anda sebelum keputusan diambil.

Apakah lebih baik untuk memiliki tabungan bersama dan tetap memiliki tabungan masing-masing? Menurut hemat kami, bila Anda menentukan satu orang sebagai penanggung jawab masalah pembayaran tagihan bulanan, maka sebaiknya Anda memiliki tabungan bersama. Tabungan ini merupakan penyisihan dari pendapatan Anda berdua setiap bulannya dan besarnya harus disesuaikan dengan pendapatan masing-masing.

Bila masing-masing Anda memiliki tanggung jawab masing-masing dalam hal pembayaran tagihan atau kebutuhan, maka tetap menurut hemat kami Anda memiliki tabungan bersama. Dalam hal ini, tabungan bersama lebih merupakan tabungan masa depan yang Anda dan pasangan Anda alokasikan. Karena dengan tabungan bersam akan lebih memberikan rasa kebersamaan dalam kehidupan berkeluarga.

Bicarakan masalah hutang Anda
Idealnya, Anda masing-masing tidak memiliki atau sudah membayar lunas tagihan (kartu kredit atau kredit mobil) yang masih tersisa sebelum pernikahan berlangsung. Bila hal ini tidak memungkinkan maka sebaiknya Anda membicarakan hal ini dengan calon pasangan Anda, berapa besar sisa hutang yang masih harus Anda lunasi. Dalam hal kartu kredit, ada baiknya masing-masing Anda memiliki satu kartu kredit dengan nama masing-masing dari penerbit yang berbeda. Agar masing-masing Anda memiliki catatan mengenai kredit Anda dan bermanfaat disaat kebutuhan yang mendadak.

Alokasi untuk dana darurat
Bagi mereka yang akan menikah, sebaiknya Anda memulai menyisihkan dana bersama yang dialokasikan untuk kebutuhan darurat. Para profesional keuangan keluarga selalu menganjurkan untuk menyediakan dana darurat sebesar 3-6 kali biaya hidup bulanan. Dua hal penting yang harus Anda perhatikan dalam hal dana darurat adalah dana tersebut harus dapat dengan mudah dicairkan dan tidak mengurangi nilainya. Oleh karena itu penempatan yang lazim digunakan adalah tabungan, deposito berjangka 1 bulan dan Reksadana pasar uang. Anda bisa mengalokasikan sebagian di produk-produk tersebut bukan hanya di satu tempat saja.

Koordinasi kembali benefit perusahaan atau asuransi masing-masing
Proteksi asuransi yang berlebih bisa menjadi uang yang sia-sia. Bila masing-masing Anda bekerja dan memilki benfit kesehatan maka hal ini merupakan keuntungan bagi Anda. namun bila salah satu atau Anda berdua tidak terproteksi maka ada baiknya Anda mengambil asuransi kesehatan.

Demikian pula dengan proteksi asuransi jiwa, bila masing-masing Anda sudah memilikinya, maka ada baiknya Anda meninjau ulang proteksi yang sudah dimiliki. Jangan sampai proteksi tersebut tumpang tindih. Harus disesuaikan dengan kebutuhan Anda dan pasangan Anda saat ini. Bila masing-masing Anda tidak memiliki asuransi jiwa sudah seharusnya Anda mempertimbangkannya sejak awal untuk memilikinya. Menurut hemat kami, ada empat hal yang harus dipertimbangkan sebagai faktor yang perlu diperhitungkan dalam menentukan jumlah uang pertanggungan (UP), Pertama, berapa jumlah hutang yang anda miliki(masing-masing Anda)?; kedua, berapa banyak aset/harta yang anda tinggalkan untuk keluarga?; ketiga, berapa lama aset tersebut dapat menghidupi mereka tanpa harus menurunkan standar gaya hidup mereka?; dan keempat, berapa banyak dana yang diperlukan untuk membiayai kehidupan anak-anak anda sampai mereka menjadi dewasa dan mandiri, termasuk biaya pendidikan mereka?

Mungkin untuk faktor yang terakhir, yaitu kebutuhan anak sampai mandiri dapat Anda perhitungkan bila saatnya tiba dimana Anda memiliki anak. Karena kami sangat yakin bahwa asuransi bukanlah sebuah produk namun merupakan perencanaan yang harus secara berkesinambungan di tinjau ulang dan ditambahkan bila dibutuhkan.

Mulailah menabung untuk tujuan masa depan
Memulailah menentukan tujuan yang Anda dan pasangan Anda inginkan. Tujuan keuangan yang Anda dan pasangan miliki, sangat bergantung dengan waktu, dari hanya beberapa tahun sampai lebih dari 30 tahun untuk menyisihkan dan menginvestasikan uang yang Anda hasilkan setiap bulannya. Semakin panjang waktu yang Anda miliki akan semakin sedikit uang yang harus Anda sisihkan dan investasikan untuk tujuan keuangan (nilai) yang sama. Misalkan Anda ingin memiliki uang disaat Anda berumur 50 tahun sebesar Rp. 1 milyar dan Anda hanya memiliki waktu 10, 15, 20, 25, 30, 35 dan 40 tahun untuk mencapainya maka Anda harus menyisihkan sebesar (asumsi bungan 10% pertahun):

Tahun---Tahunan--------Bulanan
10------57,041,268-----4,753,439
15------28,612,524-----2,384,377
20------15,872,386-----1,322,699
25------9,243,702------770,308
30------5,526,589------460,549
35------3,354,277------279,523
40------2,054,013------171,168

Terlihat jelas dalam contoh perhitungan ini, semakin panjang waktu yang Anda miliki akan semakin sedikit uang yang harus Anda sisihkan secara regular setiap bulan atau tahunnya. Bila Anda memiliki waktu 40 tahun lagi untuk mencapai Rp.1 milyar maka Anda hanya membutuhkan dana setipa bulannya untuk diinvestasikan sebesar Rp.171,200. Oleh karenanya, kami sangat menganjurkan Anda, untuk memulianya sekarang, saat Anda memulai kehidupan Anda berdua.

Demikianlah beberapa langkah yang menurut hemat kami seharusnya Anda lakukan sebelum melangsungkan pernikahan. Semoga kehiduoan rumah tangga yang akan Anda dan calon pasangan Anda janalni penuh berkah dan tentram.*

*M. Ichsan dapat dihubungi melalui email: ichsan02@yahoo.com

Kenalilah Profil Risiko Anda



Setiap orang punya toleransi terhadap risiko atau investment style yang berbeda-beda. Ada yang berani mengambil risiko, ada yang kurang berani atau ragu-ragu, ada pula yang benar-benar takut mengambil risiko. Sehingga untuk itu dibutuhkan sebuah pendekatan yang bisa memberikan gambaran terhadap Profil risiko atau investment style seseorang bila ingin menginvestasikan dananya untuk tujuan masa datang. “No single investment is right for everyone”.

Menurut banyak buku keuangan, profil risiko seseorang atau investor digolongkan dalam tiga golongan besar yaitu tipe risk averse, risk lover dan risk moderate.

Tipe risk averse adalah tipe orang atau investor yang enggan mengambil risiko atau cendrung berusaha menghindari risiko. Tipe risk lover adalah tipe orang atau investor yang menyukai atau akrab dengan risiko. Sedangkan tipe risk moderate adalah tipe orang atau investor yang tenang atau tidak ekstrim dalam menghadapi risiko.

Banyak faktor yang bisa membedakan padangan sesoerang mengenai risiko, misalnya saja usia. Secara umum, bila Anda pada usia yang masih muda dan berada dalam posisi awal dalam karir, maka jangka waktu adalah teman yang baik bagi Anda. sehingga kebanyakan dari mereka lebih memilih investasi yang berpeluang memberikan tingkat pengembalian tinggi dalam jangka panjang dengan risiko yang terukur. Sedangkan bila Anda memasuki masa pensiun, maka investasi yang lebih mobderat biasanya menjadi alternatif.

Dan tentunya masih banyak lagi factor-faktor yang menyebabkan Anda berpandangan seperti saat ini. Kebutuhan akan likuiditas juga bisa mempengaruhi pandangan Anda terhadp risiko. Misalnya saja bila Anda harus membayar biaya uang masuk anak Anda atau keputusan Anda untuk membeli rumah dan menyiapkan uang mukanya, maka hal ini sangat berpengaruh dengan investasi yang Anda pilih. Jangan sampai bila kebutuhan Anda sudah dekat dan Anda mendapat kesulitan untuk mencairkannya maka hal ini akan sangat berpengaruh kepada keuangan dan kelangsungan kehidupan keluarga Anda.

Mengenali profil risiko sendiri

Bagaimana mengenali profil risiko sendiri? Parameter berikut ini bisa dijadikan acuan. Di bidang financial planning, sebenarnya sudah dikenal adanya parameter untuk mengukur kepribadian atau karakter profil risiko seseorang. Parameter ini tergolong sederhana dana beragam polanya. Salah dari banyak pendekatan adalah dengan memberikan pertanyaan untuk mendeteksi profil risiko Anda.

Untuk itu kami mencoba memberikan 10 pertanyaan yang jika seseorang bersedia menjawab kesepuluh butir pertanyaan tersebut dengan jujur dengan lugas—artinya benar-benar sesuai dengan kondisi diri orang tersebut—maka dijamin akan menghasilkan gambaran profil risiko atau investment style yang kredibel.

Apakah Anda termasuk orang bertipe risk averse, risk lover atau risk moderate, akan bisa dideteksi begitu Anda selesai menjawab seluruh butir pertanyaan tersebut. Syaratnya hanya satu yaitu tadi, Anda harus bersedia menjawab secara jujur. Itu saja.

Dari jawaban-jawaban yang Anda berikan, mungkin Anda akan terdeteksi sebagai “tipe agresif”. Kalau Anda masuk tipe ini, berarti Anda menjadi anggota kelompok pecinta risiko (risk lover).

Namun jika Anda terdeteksi sebagai “tipe seimbang”, maka anda dikelompokkan menjadi anggota moderat (risk moderate). Sedangkan jika Anda terdeteksi sebagai “tipe konservatif” atau “sangat konservatif” ,maka Anda tidak boleh sewot jika digolongkan sebagai orang yang takut risiko (risk avoider atau risk averter).

Profil risiko ini dapat Anda hitung setelah Anda menjawab kesepuluh pertanyaan tersebut tidak mungkin berubah secara cepat dan diametral. Artinya, jika Anda menjalani test ulang, maka hasil test tersebut tidak mungkin berlawanan dengan hasil test sebelumya sejauh Anda telah menjawab seluruh butir pertanyaan dengan jujur dan benar-benar sesuai kenyataan.

Maka jika hasil test Anda yang sebelumnya menggolongkan Anda kedalam kategori risk lover, maka test berikutnya tidak mungkin tiba-tiba mengubah profil risiko Anda menjadi risk averter.

Hal ini masih dimungkinkan bila dilakukan di masa datang dimana perubahan kehidupan keuangan Anda bisa mempengaruhi pilihan atau tolernasi Anda terhadap risiko. Namun, perbedaannya, jarang sekali yang terlalu besar.

10 Butir Pertanyaan

Apakah Anda memiliki alokasi dana emergency fund minimal sebesar 3 bulan biaya hidup Anda?

a. Tidak b. Ya, tapi kurang dari 3 bulan c. Ya

Berapa lama masa investasi yang akan Anda lakukan pada investasi ini?

a. Kurang lebih satu tahun b. Kurang lebih 5 tahun c. Antara 5-10 tahun d. Lebih dari 10 tahun

Berapa persentasi dari total investasi Anda yang dialokasikan untuk persiapan masa pensiun?

a. Dibawah 25% b. Antara 25 dan 50% c. Antara 51% dan 75% d. Diatas 75%

Seberapa stabil pendapatan Anda 5 tahun dari sekarang?

a. Kemungkinan akan menurun b. Kemungkinan akan relative sama c. Kemungkinan akan naik sesuai inflasi d. Kemungkinan akan naik melebihi inflasi

Berapa tanggungan yang Anda miliki saat ini? (anak, istri atau suami, orang tua atau mertua)

a. Tidak ada b. 1 c. 2 d. Lebih dari 2

Berapa besar persentasi pembayaran cicilan kredit dari pendapatan, termasuk didalamnya kredit rumah (KPR)?

a. Kurang dari 10% b. Antara 10 dan 25% c. Antara 25 dan 50% d. Diatas 50%

Berbicara mengenai aset investasi Anda, mana yang Anda rasa nyaman dari pilihan berikut ini?

Saya ingin menginvestasikan secara agresif untuk mendapatkan potensial keuntungan yang terbesar walau terdapat potensial kerugian dari penurunan pasar.
Saya merasa nyaman dengan tingkat penurunan yang tidak terlalu besar dari pasar dengan maksud mencapai keuntungan yang cukup dari investasi tersebut
Saya tidak merasa nyaman bila investasi saya menurun karena penurunan harga pasar.

Bila Anda menginginkan potensial keuntungan yang lebih tinggi dengan mengambil risiko yang leb ih, apakah Anda akan merasa nyaman?

a. Ya b. Tidak

Berapa tingkat pengembalian yang Anda harapkan dari investasi yang ditempatkan?

Setara atau lebih tingi sedikit dari inflasi dengan mempertahankan stabilitas capitalnya
Tingkat pengembalian lebih tinggi dari inflasi walau dengan sedikit potensi kerugian dari capitalnya
Mendapatkan keuntungan yang tinggi walau diikuti dengan meningkatnya risiko kerugian capotalnya

Apa yang Anda butuhkan dari aset investasi Anda?

a. Pendapatan b. Kombinasi pendapatan dan peningkatan capital c. Peningkatan kapital

Bila Anda sudah menjawabnya, maka hitung jumlah total nilai berdasarkan tabel berikut ini:

a. 1 poin b. 2 poin c. 3 poin
a. 1 poin b. 2 poin c. 3 poin d. 4 poin
a. 4 poin b. 3 poin c. 2 poin d. 1 poin
a. 1 poin b. 2 poin c. 3 poin d. 4 poin
a. 4 poin b. 3 poin c. 2 poin d. 1 poin
a. 4 poin b. 3 poin c. 2 poin d. 1 poin
a. 4 poin b. 2 poin c. 1 poin
a. 2 poin b. 1 poin
a. 1 poin b. 2 poin c. 4 poin
a. 1 poin b. 2 poin c. 3 poin

Jika total nilainya antara 10-15; Anda tidak dapat mentoleransi risiko dengan baik, Anda akan merasa nyaman dengan investasi yang konservatif.
Jika nilai totalnya antara 16-20; tetap masih berada pada posisi konservatif walau menyertakan investasi dengan tingkat keuntungan yang lebih tinggi.
Jika nilai total antara 21-25; mengindikasikan risiko yang balance, dengan alokasi aset investasi pada pendapatan dan peningkatan capital.
Jika nilai total antara 26-31; mengindikasikan penerimaan yang lebih besar dari aspek risiko dengan investasi yang lebih mengutamakan peningkatan capital dengan porsi investasi pendapatan yang relative sedikit.
Sedangkan nilai total lebih besar dari 32; mengindikasikan penerimaan risiko yang tinggi dalam aset investasi.
Dengan menjawab lesepuluh pertanyaan diatas, paling tidak akan memberikan gambaran awal terhadap toleransi Anda akan risiko. Dengan begitu Anda sebagai individu akan lebih mengenal diri Anda sendiri. Kesepuluh pertanyaan ini dapat membantu dalam menentukan pilihan investasi yang sesuai dengan segala keterbatasan serta kelebihan yang Anda miliki secara pribadi. Sekali lagi pahami bahwa “no single investemnt is right for everyone”, karena setiap individu itu berbeda. Selamat mentest diri Anda sendiri!

SPENDING PLAN



Di dunia kita saat ini, sangat sedikit keluarga yang menyisihkan waktunya untuk membuat sebuah perencanan pengeluaran atau budgeting. Sebagian dari mereka merasa tidak melihat keuntungan dari pembuatan perencanaan tersebut. Sebagian lainnya merasa tidak mau menganggarkan pengeluaran sesuai dengan yang dibutuhkan. Dengan hal-hal ini, maka sangat banyak keluarga yang harus hidup “gali lubang tutup lubang” setiap bulannya. Dengan semakin menjamurnya mal dan pasar swalayan dan promosi yang jor-joran dari berbagai produsen, banyak anggota masyarakat yang membeli hanya karena dorongan keinginan atau “impulse buying” tanpa didasari dengan pemikiran dampak dari keputusan tersebut. Untuk itu dibutuhkan sebuah alat yang bisa membantu masyarakat untuk dapat mengubah kebiasaan tersebut. Salah satu alat yang sangat dibutuhkan oleh setiap keluarga adalah personal budgeting, namu kami lebih suka menyebutkannya perencanaan pengeluaran atau spending plan.

Perencanaan pengeluaran personal adalah sebuah perencanaan keuangan yang mengalokasikan dana yang diterima untuk berbagai kebutuhan keluarga dalam satu bulan tertentu. Sebuah perencanaan pengeluaran yang baik harus mempertimbangkan pendapatan yang diterima setiap bulannya, jumlah hutang yang akan jatuh tempo, tabungan untuk jangka panjang, seperti dana pensiun dan alokasi dana darurat.

Banyak orang yang tidak tau bagaimana dan kemana uang yang mereka hasilkan dibelanjakan setiap bulannya. Berapa kali Anda mengambil uang melalui ATM dan beberapa hari kemudian uang tersebut sudah habis terpakai? Dalam banyak kesempatan, sangat sulit untuk mengingat bagaimana atau ke mana Anda membelanjakannya? Perencanaan pengeluaran bisa membantu Anda mengatasi hal ini dengan memberikan tanggung jawab kepada individu bersangkutan mengenai uangnya.

Dengan perencanaan pengeluaran yang terstruktur akan memberikan indikator yang benar mengenai kemampuan Anda dari segi keuangan untuk membeli barang-barang konsumtif yang Anda inginkan. Apakah itu, rumah, mobil, atau TV baru semua ini dimungkinkan dengan melihat keterbatasan kondisi keuangan Anda dan keluarga.

Membuat sebuah perencanaan pengeluaran tidaklah cukup. Dibutuhkan disiplin dan pengambilan keputusan yang bijak mengenai keuangan Anda dan keluarga. Hal inilah yang biasanya menjadi kendala dalam pembuatan perencanaan pengeluaran. Apalagi bila individu bersangkutang selama ini memiliki kebiasaan berbelanja yang kurang produktif dengan berbelanja tanpa berpikir dua kali. Namun demikian, kami sangat percaya bahwa dalam jangka panjang dan bila dilakukan dengan disiplin, tujuan keuangan seperti kebebasan finansial, hidup terbebas dari hutang dan hidup tentram selama masa pensiun bisa tercapai.

Manfaat perencanaan pengeluaran
Seperti yang kami utarakan di atas, banyak dari masyarakat kita yang belum terbiasa dengan pola perencanaan pengeluaran. Kemudahan mengambil kredit memungkinkan keluarga atau individu untuk membeli sesuatu kapan mereka inginkan tanpa berpikir dampaknya dalam jangka panjang. Sangat sulit untuk dapat mengubah kebiasaan ini. Untuk itu dalam uraian kali ini kami akan memberikan beberapa manfaat yang bisa didapat dari perencanaan pengeluaran.

Salah satu manfaat utama dari pembuatan perencanaan pengeluaran adalah membebaskan diri dari rasa stress dari segi keuangan. Sangat menyenangkan disaat Anda berbelanja akan tetapi tidak demikian bila tagihan bulanan datang. Mereka berpikir untuk membayar pembayaran minimum setiap bulannya. Tanpa disadari, mereka sudah masuk ke dalam Lumpur yang bisa sangat membahayakan bagi keuangan mereka. keputusan ini akan menjerumuskan Anda ke dalam hutang yang tak berkesudahan. Dengan perencanaan pengaluaran yang baik, tentunya hutang yang mungkin bertambah dapat diatasi dengan perencanaan pembayaran yang lebih bijak serta Anda masih tetap bisa mengalokasikan untuk tujuan keuangan jangka panjang yang Anda miliki.

Dengan adanya perencanaan pengeluaran tentunya akan membantu Anda untuk dapat menyisihkan atau mengalokasikan sebagian dari pendapatan bulanan sebagai tabungan masa depan. Hal ini tentunya akan memberikan potensi pencapaian tujuan yang diinginkan serta terjaga dari kesulitan keuangan yang mungkin saja datang tiba-tiba.

Setiap keluarga pasti memiliki tujuan keuangan dimasa datang, baik berupa liburan akhir tahun, mobil baru atau menyiapkan biaya pendidikan. Dengan adanya perencanaan pengeluaran tentunya akan banyak membantu Anda dalam mengalokasikan dana yang dibutuhkan untuk membuat tujuan tersebut menjadi kenyataan.

Banyak keluarga yang selalu dipusingkan dengan berbagai cicilan bulanan kredit konsumtif yang mereka miliki. Tanpa perencanaan pengeluaran yang disiplin tentunya akan sangat sulit bagi mereka untuk dapat mengatasi atau melunasi hutang-hutangnya pada waktunya. Dengan perencanaan pengeluaran tentunya dapat menjadi framework yang dibutuhkan untuk menyelesaikan permasalahan kredit tersebut.

Perencanaan pengeluaran yang dilakukan secara disiplin dapat memberikan alokasi pendapatan yang terbatas setiap bulanannya untuk berbagai kebutuhan, tabungan masa depan serta membayar cicilan kredit yang jatuh tempo. Tentunya semua hal ini dapat dilakukan hanya bila Anda memiliki kemauan serta ketetapan hati untuk menjalankannya.

Lima hambatan yang bisa merusak perencaaan Anda
Dengan berbagai manfaat atau keunggulan menjalani kehidupan keuangan keluarga dengan perencaaan pengeluaran, tidak dapat dipungkiri bahwa banyak dari individu yang mencoba untuk menerapkannya. Banyak dari mereka yang mulai dapat memenuhi bukan saja semua kebutuhannya tapi juga dapat mencicil kredit yang dimilikinya dengan tetap menyisihkan untuk tabungan masa depan. Walaupun demikian, tentu sangatlah bijak bila Anda dapat melihat dan mempertimbangkan beberapa hambatan yang mungkin harus dilalui selama perencanaan ini. Bila Anda memahami berbagai hambatan yang mungkin datang, tentunya akan mengurangi dampaknya terhadap keuangan Anda.

Kartu kredit. Kartu plastik yang sekarang sedang gencar ditawarkan oleh berbagai bank di Jakarta, bisa sangat mendorong Anda untuk berbelanja berlebihan dan yang berkaibat fatal bagi keuangan Anda. Sangatlah umum dimana orang mengambil keputuan yang kurang bijak untuk berbelanja, dimana sebenarnya mereka tidak akan lakukan hanya karena ketersediaan kartu kredit. Tentunya untuk mengatasi hal ini ANda perlu mempelajari berbagai manfaat kartu kredit serta meningkatkan rasa tanggugn jawab Anda terhadap pemakaian kartu kredit tersebut. Ingat kartu kredit adalah hutang. Di akhir bulan Anda harus membayarnya. Batasi kepemilikan kartu kredit hanya dua saja. Uatamakan pemakaiannya untuk kebutuhan yang telah dianggrakan serta keadaan darurat.

Ketidak sabaran. Permasalahan seringkali timbul disaat Anda sudah menetapkan tujuan tapi Anda tidak memiliki kesabaran untuk mencapainya. Sebagai conoth, bila Anda sudah melakukan penyisihan regular untuk membeli mobil yang Anda inginkan. Setelah beberapa bulan, Anda mendapatkan mobil yang Anda inginkan dan tanpa menunggu, Anda langusng membelinya. Hal ini bisa sangat berpengaruh terhadap kondisi keuangan Anda saat ini atau ke depannya. Tentunya akan sangat dibutuhkan kesabaran untuk dapat melaksanakan perencanaan pengeluaran yang ditelah dibuat.

Tidak ada penyesuaian. Perencanaan pengaluaran dibuat sesuai dengan kebutuhan pengaluaran saat itu berdasarkan pendapataan pada saat itu juga. Bila selama perjalanan kehidupana keluarga terjadi perubahan, sudah tentu perencanaan ini juga harus diperbaharui. Tidak melakukan hal ini bisa mengakibatkan defisit keuangan keluarga Anda.

Hari raya atau natal. Seringkali dalam mengembangkan perencanaan pengeluaran, individu melupakan alokasi untuk kebutuhan hari raya atau natal. Oleh karenanya banyak yang merasa kesulitan disaat itu untuk dapat memenuhi semua kebutuhan mulai dari pakaian baru, hadiaha tau salam tempel apalagi kebutuhan untuk mudik ke kampung. Karena kebutuhan pada saat ini cukup besar, alokasikan dana untuk tujuan tersebut selama setahun berjalan.

Liburan. Kebutuhan akan liburang apalagi liburang bersama keluarga membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Terkadang Anda hanya mempertimbangakn untuk biaya perjalanan dan akomodasi. Padahl pengeluaran lainnya seperti makan selama disana, oleh-oleh dan lain-lain tidak sedikit. Harus diingat bahwa di daerah wisata seringkali harga-harga kebutuhan bisa melonjak menjadi 2 sampai 3 kali dari harga biasanya.

Mengembangkan spending plandalam keluarga Kebanyakan keluarga pada umumnya lebih memfokuskan untuk meningkatkan penghasilan baik dengan bekerja lembur atau bekerja pada hari libur. Dalam pandangan mereka, penghasilan besar merupakan solusi memenuhi semua kebutuhan dan keinginan keluarga. Masalahya, arus uang memiliki dua sisi, yaitu ada arus masuk dan arus keluar.

Untuk mencapai kesejahteraan keluarga, kedua arus ini sangat penting untuk diperhitungkan. Keseimbangan keduanya merupakan landasan untuk mencapai kebebasan finansial.

Menurut hemat kami ada satu cara sederhana yang dapat membantu, yaitu dengan mencatat semua pengeluaran yang Anda lakukan tiap harinya selama sebulan penuh. Bila Anda telah selesai membuat catatan pengeluaran harian selama satu bulan penuh, sangat mudah bagi Anda untuk menyesuaikan kebutuhan belanja Anda dan menyimpan atau menyisihkan uang dalam jumlah yang lebih besar.

Kami sangat mengerti bahwa pencatatan ini bukan pekerjaan yang natural dilakukan. Disiplin adalah kata kuncinya. Anda harus tetap pada jalur yang Anda inginkan yang pada akhirnya dapat membantu Anda membuat anggaran bulanan yang sesuai dengan keinginan serta tujuan masa depan.

Demikianlah ulasan yang bisa kami sampikan. Semoga dapat bermanfaat bagi Anda dalam mengembangkan perencanaan pengeluaran untuk mencapai tujuan keuangan yang Anda miliki.*

STRATEGI INVESTASI



Penempatan dana investasi sebagai sebuah proses perencanaan mencapai tujuan jangka panjang, dapat dilakukan melalui berbagai cara, baik dengan melakukannya sendiri maupun melalui perusahaan sekuritas atau perusahaan jasa keuangan / investasi lainnya. Penentuan cara ini sama pentingnya dengan investasi itu sendiri.

Berinvestasi mandiri melalui perusahaan sekuritas (misalnya untuk bertransaksi saham) memerlukan bukan saja pengetahuan dan informasi yang memadai tapi juga waktu. Jika kita mempunyai akses informasi namun tidak tahu penggunaannya, maka informasi tersebut tidak memberikan manfaat apapun. Kebanyakan orang pada uisa produktif hanya memiliki waktu sedikit untuk melakukan investasi sendiri karena terlalu sibuk dengan pekerjaan. Bila memaksa berinvestasi mandiri tanpa memiliki pengetahuan, informasi, dan waktu yang memadai, maka bisa jadi keuntungan yang dicari tetapi justru kerugian yang didapat.

Untuk itu kami melihat pentingnya bagi individu untuk mengenal dan mengetahui berbagai macam strategi investasi yang dikenal secara umum.

Buy and hold versus market timing
Secara umum kita mengenal dua cara berinvestasi, yaitu buy-and-hold dan market timing. Cara pertama adalah dengan membeli beberapa alternatif sarana investasi dan tetap memegangnya untuk jangka waktu yang lama. Harapannya adalah agar keajaiban bunga majemuk (the magic of compound interest) dapat terealisasi sehingga memberikan peluang untuk memberikan keuntungan besar dalam jangka panjang. Jadi perspektif konsistensi dan jangka panjang menjadi kuncinya. Pada kubu lain, para penganut market timing (MT) tidak setuju dengan argumentasi buy-and-hold (BAH). Menurut kubu MT, investor bisa dirugikan bila tidak memanfaatkan gejolak harga (volatility). Pendukung MT menganjurkan untuk mengambil keuntungan dari perubahan harga di pasar. Misalnya, bila harga sedang menurun maka Anda membelinya dan ketika harga naik Anda menjualnya. Pendeknya buy low sell high, atau beli murah jual mahal. Dengan begitu investor akan mendapatkan keuntungan maksimal dari investasi.

Strategi market timing yang akurat memang menjanjikan keuntungan yang luar biasa. Profesor Robert Merton, pemenang Hadiah Nobel Ekonomi 1997, meneliti tiga strategi investasi menggunakan data bursa saham New York pada periode 1 Januari 1927 - 31 Desember 1978. Ketiga strategi ini dimulai dengan modal awal US$ 1000. Strategi pertama, sebut saja strategi deposito, adalah investasi dalam surat berharga jangka pendek 1 bulan (misalnya commercial paper atau T-Bill) kemudian pokok dan bunganya di-rollover tiap awal bulan. Strategi kedua, disebut strategi beli dan tahan (buy-and-hold) adalah investasi di bursa saham (diwakili indeks bursa saham New York) terus menerus (capital gain dan dividen yang diperoleh diinvestasikan lagi setiap awal bulannya) selama 52 tahun tersebut.

Strategi ketiga adalah strategi market timing sempurna. Artinya, setiap awal bulan, investor berkonsultasi kepada sebuah ‘komputer peramal yang tak pernah salah’. Kalau menurut ramalan komputer ini indeks saham akan naik selama 30 hari mendatang, maka uang yang ada akan diinvestasikan dalam pasar saham. Sebaliknya, bila si komputer paranormal meramal indeks saham akan turun, maka uang yang ada dialihkan ke investasi surat berharga jangka pendek selama 30 hari mendatang. Begitu seterusnya selama 52 tahun.

Untuk strategi pertama, uang si investor ternyata hanya berkembang menjadi US$ 3600. Untuk strategi kedua, uang si investor berkembang lebih dari 60 kali lipat menjadi US$ 67.500. Yang menarik adalah hasil strategi ketiga. Dalam sebuah seminar yang dihadiri para profesor keuangan, Robert Merton memberi kuis singkat untuk mensurvei perkiraan para profesor ini tentang hasil strategi ketiga.

Nah, kalau Anda diminta menebak, berapa perkiraan Anda tentang hasil strategi ketiga ini? Kemungkinan besar, perkiraan Anda tak akan jauh berbeda dengan perkiraan para profesor keuangan ini. Perkiraan para profesor keuangan dalam seminar Profesor Merton itu ternyata tidak akurat. Umumnya perkiraan berkisar antara ratusan ribu dolar sampai puluhan juta dolar. Kami yakin tebakan Anda juga di sekitar angka itu juga. Jawaban yang tepat adalah, jangan kaget, lima koma tiga enam miliar dollar AS (jawaban ini sengaja ditulis dengan huruf agar tidak mudah diintip sebelum menebak). Luar biasa, bermula dari seribu dolar, dalam 52 tahun Anda bisa mendapatkan uang beberapa kali lipat kucuran dana IMF per periodenya yang sangat dibutuhkan pemerintah Indonesia semasa krisis.

Jadi, logika buy low sell high memang masuk akal. Investor pasti akan untung dengan membeli di harga terendah dan menjualnya di harga tertinggi. Masalahnya, apakah waktu beli yang ditetapkan akan selalu tepat saat harga berada pada level terendah dan waktu jual saat harga berada pada level tertinggi? Kemungkinan memang ada, tapi peluangnya sangat kecil. Tidak akan ada orang yang pernah selalu tepat dalam memprediksi atau memperkirakan perubahan harga di pasar. Dalam prakteknya, banyak sekali ketidak-tepatan prediksi sehingga akhirnya berdampak buruk terhadap investasi yang Anda tempatkan.

Dalam menentukan waktu beli tidak ada seorang manajer investasi pun yang berani mengatakan dengan pasti bahwa harga dari suatu saham di pasar modal adalah harga yang terendah, Mereka melakukan semua perkiraan ini juga dengan perhitungan yang mungkin sekali terjadi kekeliruan atau ketidaktepatan. Meski harga telah rendah, tidak ada jaminan bahwa harga tidak akan turun lebih jauh lagi. Sebaliknya, meski harga telah tinggi, tidak ada kepastian bahwa harga tidak akan naik lebih tinggi lagi. Bila terlalu banyak kesalahan prediksi, bukan keuntungan yang didapat malah kerugian yang menimpa investor.

Untuk tujuan keuangan yang membutuhkan waktu 10, 20 atau bahkan 40 tahun ke depan, kami menganjurkan penggunaan metode dollar cost averaging.

Dollar cost averaging
Perencanaan keuangan keluarga merupakan perencaaan yang berkesinambungan. Dibutuhkan disiplin dan motivasi yang kuat guna mencapai tujuan yang diinginkan. Dengan keterbatasan pendapatan yang diperoleh setiap bulan, sangat dianjurkan bagi keluarga untuk memulai menyisihkan dana untuk tujuan keuangan sedini mungkin. Penempatan dan alokasi dana dilakukan secara reguler setiap bulan sesuai kesanggupan keuangan keluarga. Pola investasi ini biasa disebut dengan dollar cost averaging (DCA).

Berikut ini ilustrasi DCA untuk penempatan dana di bursa saham. Konsep DCA ada hubungannya dengan diversifikasi. Para investor di bursa saham berdiversifikasi dengan menanamkan uang tak hanya pada satu saham, tapi menyebarkannya pada banyak saham di pelbagai sektor. Gagasannya: bila satu sektor sedang lesu, mungkin sektor lain bisa mengompensasinya.

Diversifikasi seperti ini sudah lazim dan dikenal banyak orang. Masalahnya, bagaimana jika semua sektor---atau dengan perkataan lain pasar saham---kebetulan pada waktu tertentu sedang merosot? Dalam situasi ini, diversifikasi seperti itu tidak bisa berbuat banyak. Salah satu cara yang pasti ampuh untuk menghindari kerugian akibat merosotnya pasar saham adalah jangan berinvestasi di saham. Memang, dengan tidak berinvestasi di pasar saham berarti tak mengalami kerugian, tapi Anda juga tak akan mengalami keuntungan kalau pasar meroket seperti yang terjadi mulai pertengahan tahun 2003 sampai awal 2004.

Strategi yang lebih menghasilkan untung lagi adalah kalau Anda tahu pasti kapan pasar akan naik dan kapan pasar akan turun (telah dijelaskan sebelumnya). Untuk itu Anda harus mempunyai kesaktian sebagai paranormal atau punya teman yang punya kesaktian melihat masa depan. Tapi, jika kesaktian melihat masa depan ini Anda miliki, untuk apa buang waktu di pasar saham. Langsung saja pergi ke Las Vegas atau Atlantic City.

Lalu, mesti bagaimana? Jangan khawatir, masih ada harapan. Ada satu jenis diversifikasi lagi yang dapat mengurangi risiko kerugian akibat kemerosotan pasar saham. Konsep yang satu ini bukan diversifikasi biasa, namanya diversifikasi waktu. Konsep aslinya sering disebut dollar cost averaging atau disingkat DCA.

Misalkan Anda punya uang Rp 1 miliar untuk diinvestasikan dalam bentuk saham. Berdasarkan hitungan rasio harga-pendapatan (price-earning ratio: PER) dan harga-nilai buku (price-to-book value: PBV), Anda pikir saham-saham di Bursa Efek Jakarta kini relatif murah. Kalau pasar meningkat pesat dalam tempo 1---2 tahun, return yang akan diperoleh bisa sangat besar.

Kendati begitu, dalam jangka pendek Anda masih ragu dengan naik-turunnya pasar. Ada kemungkinan pasar masih melorot sejenak sebelum tinggal landas. Kalau uang Rp 1 miliar ini diinvestasikan sekarang dan ternyata pasar merosot, bisa runyam. Sebaliknya, kalau investasi ditunda dan ternyata pasar segera menguat, Anda ketinggalan kereta dan terpaksa gigit jari. Pendeknya, baik masuk terburu-buru maupun menunggu terlalu lama sama-sama bisa membuat Anda menyesal.

Alternatif konservatif untuk menghindari penyesalan itu adalah dengan menginvestasikan uang Anda secara bertahap, misalnya Rp 100 juta tiap bulan selama 10 bulan. Sambil menunggu, uang yang belum diinvestasi bisa dititip di broker dengan bunga setingkat bunga deposito (tentu saja hal ini harus dikonfirmasi dan dinegosiasikan dengan broker Anda). Dengan cara begitu, bila pasar masih menurun Anda tak akan terlalu menyesal masuk saat pasar masih relatif tinggi. Serupa dengan itu, bila pasar mulai meningkat, Anda juga tak terlalu menyesal terlambat masuk pasar.

Manfaat lain dari DCA: dengan membeli sedikit-sedikit, order belinya tak membuat harga naik. Bayangkan bila seorang investor punya uang Rp 1 triliun yang sekaligus diinvestasikan dalam satu hari. Order beli tersebut tak akan bisa dipenuhi tanpa menyebabkan harga saham naik untuk sementara, terutama bila saham-saham yang dipesan kurang likuid (nilai transaksi normal per harinya hanya sedikit).

DCA juga berlaku bila Anda berencana menginvestasikan sebagian penghasilan Anda setiap bulan secara teratur. Untuk investasi yang relatif sedikit, Anda dianjurkan menggunakan sarana investasi reksadana. Dengan menggunakan reksadana, investasi Anda telah terdiversifikasi dalam banyak saham yang dimiliki oleh reksadana itu. Jadi, diversifikasi saham didelegasikan kepada reksadana, sementara diversifikasi waktu langsung Anda kendalikan sendiri.

Diversifikasi waktu melalui DCA memerlukan disiplin dan horison investasi jangka panjang. Hasilnya baru dapat dipetik bila Anda konsisten melakukannya dalam jangka panjang. Dalam banyak hal---termasuk investasi---tanpa perencanaan, disiplin, dan kesabaran sulit untuk mencapai hal yang Anda idam-idamkan.

Dengan penghasilan yang terbatas, maka Anda harus dapat secara reguler melakukan penyisihan uang dari keterbatasan itu. Metode DCA menjadi alternatif terbaik bagi keluarga. Dalam kaitannya dengan metode ini, waktu adalah teman terbaik kita sebagai sarana berdiversifikasi maupun merealisasikan kehebatan bunga majemuk.

Demikianlah uaraian singkat yang bisa kami sampaikan. Semoga ulasan ini menambah wawasan Anda dalam berinvestasi. Selamat berinvestasi.*

*M. Ichsan dapat dihubungi melalui email: ichsan02@yahoo.com

[Pembelajar.Com::]

APAKAH 1M CUKUP UNTUK MENJALANI MASA PENSIUN?



Sebut saja pasangan suami istri, Andi dan Tia, saat ini usai mereka diawal 50 tahunan. Mereka berharap uang yang selama ini ditabung untuk tujuan masa pensiun cukup untuk mereka gunakan. Saat ini Andi sebagai seorang arsitek, masih menjalani usahanya dengan baik. Sedangkan Tia, masih bekerja disebuah perusahaan swasta dalam bidang advertising.

Pasangan suami istri, Andi dan Tia, saat ini berusia 50-an, dan mereka tidak pernah berpikir menjadi seorang milliarder, tapi dari total tabungan atau investasi yang mereka lakukan selama ini mencapai angka 1 milyar. Selama kurang lebih 25 tahunan mereka menyisihkan sebagai dari pendapatan bulanannya untuk tujuan menjalani masa pensiun dengan aman dan sejahtera.

Namun demikian, 1 milliar saat ini tidaklah sama dengan 1 miliar 10 tahun yang lalu. Dengan 1 miliar 10 tahun yang lalu, kami sangat yakin dapat memenuhi semua kebutuhan yang Anda impikan dan menghapus mimpi buruk Anda mengenai kesulitan keuangan. Tapi apakah 1 miliar saat ini dapat mencukupi kebutuhan masa pensiun?

Andi dan Tia bermaksud bahwa uang Rp.1 Milyar yang mereka telah kumpulkan hanya untuk memenuhi kebutuhan mereka selama pensiun. Apakah menurut Anda jumlah tersebut dapat mencukupi? Mari kita pelajari satu-persatu.

Berapa kebutuhan tahunan selama pensiun?
Tentu saja, berapa lama satu miliar itu akan habis sangat dipengaruhi oleh pengeluaran atau kebutuhan yang diperlukan setiap tahunnya serta berapa lama Anda akan hidup. Dari sisi pengeluaran atau kebutuhan, banyak ahli keuangan yang mengatakan bahwa Anda membutuhkan minimal sekitar 70-80% dari pendapatan sebelum pensiun untuk dapat mempertahankan gaya hidup yang selama ini Anda jalani. Tentu saja Anda dapat mengeluarkan lebih sedikit dari ini, karena biasanya banyak pengeluaran-pengaluaran regular yang tidak lagi Anda lakukan, seperti, cicilan mobil, rumah dan lain-lain. Namun, terkadang biaya lain meningkat seperti biaya pengobatan dan rekreasi atau berlibur bersama pasangan Anda.

Dari sisi harapan hidup, saat ini dengan semakin majunya teknologi kesehatan dan semakin tingginya kesadaran masyarakat akan makanan sehat, dapat dipastikan bahwa usia kita akan bertambah panjang. Dari sumber estimasi SUPAS, di dapat bahwa estimasi harapan hidup masyarakat Indonesia terus bertambah panjang. Tahun 1980, untuk laki-laki, usia harapan hidupnya sekitar 50,90. sedangkan wanita, lebih panjang, 54 tahun. tapi bila kita lihat ditahun 2000, usia harapan hidup untuk laki-laki menjadi 65,92 dan wanita menjadi 69,90. Kalau Anda perhatikan, selama kurang lebih 20 tahun, usia harapan hidup masyarakat Indonesia pada umumnya meningkat lebih 15 tahun. Jadi bagi Anda yang masih jauh masa pensiunnya, perhatikan 20 tahuna mendatang mungkin akan naik 15 tahun lagi.

Sebagai prakiraan perhitungan kebutuhan masa pensiun, kami bisa memberikan contoh perhitungannya seperti berikut ini. misalkan pendapatan Andi dan Tia tahun lalu adalah Rp.120,00,000. dengan asumsi usia pensiun 55 dan kenaikan pendapatan 5% pertahun, pendapatan sebelum masa pensiun sekitar Rp.170 juta. Prakiraan kebutuhan masa pensiun diambil 70% dari pendapatan, sehingga kebutuhan diawal masa pensiun per tahun adalah sekitar Rp.119,200,000.

Perhitungan kebutuhan per tahun masa pensiun

Total Pendapatan Per Tahun (PV) : 120000000 x 1.06 = 127,200,000
Tahun Sampai Masa Pensiun (n) : 55 - 50 = 5
Peningkatan Pendapatan : 6%
Nilai Masa Depan dari Pendapatan : 170,222,293
Pendapatan Tahun pertama 70% x Rp.170,222,293 = Rp. 119,200,000 (dibulatkan)

Nah, sekarang setalah kita mendapatkan kebutuhan tahunan yang dibutuhkan oleh Andi dan Tia, maka kita bisa mencoba menghitung, apakah satu Milyar yang telah dikumpulkan bisa memenuhi kebutuhannya selama masa pensiun? Satu hal penting yang perlu diperhatikan adalah inflasi. Inflasi menggerogoti nilai uang Anda. semakin panjang masanya akan semakin besar pula penurunan daya beli atau nilai uang Anda.

Mari berhitung
Kita asumsikan bahwa tingkat inflasi sebesar 6% pertahun, mari kita lihat bagaimana dengan kondisi keuangan Andi dan Tia selama masa pensiun. Enam tahun setelah memasuki masa pensiun mereka membutuhkan dana sekitar Rp. 169 juta per tahunnya. Lima tahun kemudian mereka membutuhkan sekitar Rp.226,3 juta. Kenaikan ini diakibatkan oleh adanya inflasi. Oleh karena itu, dalam perhitungan ini sangat diharuskan untuk mempertimbangkan inflasi.

Andi termasuk investor yang tidak terlalu suka dengan risiko. Ia lebih memilih investasi yang aman-aman saja. Walau begitu, ia sangat paham bahwa dengan pertimbangan investasi seperti ii kurang menjanjikan untuk masa pensiunnya.

Kalau Andi mengambil investasi dengan prakiraan tingkat pengembalian sekitar 2% diatas inflasi (konservatif), maka uang 1 Milyar yang telah dikumpulkan akan hanya bertahan sampai 10 tahun masa pensiunnya atau diusia sekitar 65-an. Namun, kalau Andi lebih sedikit agresif dan menempatkan pada investasi dengan prakiraan tingkat pengembalian sekitar 6% diatas inflasi, maka dana tersebut akan bertahan selama 14 tahun sampai usia mereka 69 tahun.

Produk Anuitas
Selain Andi dan Tia tentunya bagi sebagian masyarakat, kehabisan dana yang telah dikumpulkan selama ini bisa sangat mengkhawatirkan. Oleh karena adakah satu produk yang dapat menjamin dana yang dibutuhkan selama kita masih hidup? Atau menjalani masa pensiun?

Anuitas jawabnya. Produk ini pada dasarnya sama dengan prosuk asuransi, yaitu memberikan proteksi terhadap kehilangan penghasilan, tetapi berbeda dari fungsi utamanya. Asuransi jiwa memberikan proteksi atas kemungkinan seseorang kehilangan penghasilan karena meninggal terlalu cepat, sedangkan anuitas, memberikan proteksi atas kemungkinan sesorang membutuhkan penghasilan karena hidup terlalu lama. Produk ini bisa menjadi alternative pilihan yang kita butuhkan bila kita takut akan kehilangan pendapatan selama kita menjalani masa pensiun atau hidup kita lebih panjang daripada dana yang kita miliki.

Sebagai illustrasi saja, bila Andi membeli produk anuitas, misalkan untuk jenis anuitas joint life, dengan asumsi tarif premi 14,03, maka Andi akan menerima seumur hidupnya dan seumur hidup pasangannya setiap tahun sekitar Rp. 71 juta-an. Tentunya ini kurang dari yang mereka butuhkan (dari hitungan diawal pertahun mereka memperkirakan kebutuhan sebesar Rp.119,200,000). Namun, dalam hal ini Andai tidak lagi dipusingkan kehabisan dana selam hidupnya, kalau ternyata Andi berumur panjang, sampai usianya 80 tahun-an.

Rumah bisa menjadi sumber dana yang besar
Disaat Anda masih bekerja dan membesarkan anak-anak, tentunya Anda membutuhkan ruang atau rumah yang cukup besar. Dengan berjalnnya waktu, anak-anak Anda sudah tidak lagi tinggal di rumah, mereka sudah mandiri, dan tinggal Anda dan pasangan Anda dirumah yang besar itu. Tinggal Anda dan pasangan Anda di rumah yang besar, tentunya membutuhkan banyak biaya.

Andi dan Tia saat ini memiliki rumah yang cukup besar dan diderah perumahan yang relative baik. Apakah Andi membutuhkan ruang atau rumah segitu besar? Tentunya tidak. Untuk itu, rumah itu bisa Anda jual dan membli rumah yang mungil namun asri untuk menjalani masa pensiun Anda berdua dengan pasangan Anda. Dari sisa dana hasil penjualan rumah yang Anda miliki bisa menjadi sarana tambahan dana bagi Anda untuk menjalani masa pensiun yang diinginkan.

Wah rumah kami dijual, tidaklah. Banyak sekali kenangan baik yang indah maupun sedih selama kami tinggal disana. Rumah biasanya memiliki histories tersendiri sehingga sulit untuk melepaskannya. Bila itu yang Anda rasakan, mungkin Anda bisa melakukan apa yang disebut reverse mortgages. Namun, fasilitas ini kami rasa belum ada di Indonesia. Tapi paling tidak Anda dapat mempelajari dan mendapat manfaat bila hal ini tersedia di Indoensia.

Cara kerja reverse mortgages. Dalam hal ini biasanya bank yang memberikan jasa ini dimana Anda menyerahkan sertifikat tanah yang Anda miliki dan sebagai gantinya bank akan memberikan sejumlah dana secara regular selama masa yang ditentukan atau sampai Anda meninggal. Setelah masa itu berlalu, maka tanah dan bangunan dimana Anda tinggal menjadi hak bank tersebut. Dengan jasa ini, Anda dapat memanfaatkan rumah yang Anda miliki sebagai salah satu sumber pendapatan selama masa pensiun.

Nah kembali ke pertanyaan judul diatas, apakah 1 milyar cukup untuk dapat hidup sejahtera selama masa pensiun? Bila pendapatan serta pengeluaran Anda sekitar pendapatan Andi dan Tia maka 1 Milyar itu akan cukup bila:

1. Anda siap menempatkan dana yang Anda miliki di investasi yang terdevirsifikasi dengan alokasi dana dalam saham selama masa pensiun yang Anda jalani.

2. Anda bisa memanfaatkan semua aset yang Anda miliki (dalam hal ini rumah) sebagai alternatif sumber dana dimasa pensiun.

3. Anda memiliki pertanggungan yang berbeda terhadap diri Anda dan pasangan Anda dari musibah terutama dari segi kesehatan.

Apakah Andai akan pensiun? Kalau melihat dari cara kerja seorang arsitek sebenarnya Andi bisaja saja terus bekerja selama ia masih dibutuhkan. Tentunya bila ia memutuskan untuk berhenti bekerja, maka dana yang sudah terkumpul harusnya sudah mencukupi untuk keperluan masa pensiun mereka. Bagaimana dengan Anda?

* Muhamad Ichsan, ChFC, MsFin, adalah parkitisi dan akademisi di bidang perencanaan keuangan. Ia adalah Managing Partner pada PrimaPlanner dan Direktur Program IFPI, serta mengajar di Ubinus dan STAN. Ichsan dapat dihubungi melalui email:ichsan02@yahoo.com

Belanja Cerdas dan Bijak



Sebagian besar masyarakat adalah pekerja atau bekerja di sebuah perusahaan sebagai pegawai. Bekerja dari senin sampai jum’at dari jam 8.00 am sampai jam 5.00 pm. Menghabiskan banyak waktu baik dijalan akibat kemacetan maupun di kantor dan merasa kelelahan sesampainya di rumah. Banyak dari klien kami yang mengeluhkan kekurangan di paruh akhir setiap bulannya, sebenarnya kemana uang yang didapat dibelanjakan? Apakah mereka termasuk yang kurang bijak dalam membelanjakan uangnya? Pertanyaan seperti ini sering terlontar. Oleh karenanya menentukan kemana uang hasil kerja keras sebulan yang Anda hasilkan pergi, menjadi sangat penting dalam mengelola keuangan menuju kebebasan financial yang diidamkan.

Masyarakat kebanyakan walau dengan pendapatan yang besar, tetap merasa sulit untuk dapat memenuhi semua kebutuhan bulanan yang harus dikeluarkan, apalagi menabung. Ini sangat berkaitan dengan kebiasaan keuangan (financial habit). Anda tetap bisa menyisihkan uang setiap bulannya berapa pun penghasilan Anda bila menjalankan kebiasaan sehat yang berkaitan dengan manejemen keuangan keluarga dan tentunya disiplin pada diri sendiri. Menurut pandangan kami, Anda tidak harus hidup susah untuk dapat menyisihkan uang. Yang harus Anda lakukan adalah dengan menjadi seorang pembelanja yang cerdas dan bijak. Dengan kebiasaan belanja yang benar tentunya Anda akan lebih memiliki kapasitas untuk menabung guna mencapai tujuan jangka panjang yang Anda miliki.

Jadikan menabung sebagai sebuah “habit”
Menabung merupakan hal yang sudah dikenal karena selama kita dibesarkan kita seringkali mendengar kata tersebut, dengan berbagi slogan seperti “ayo menabung”. Tapi celakanya, sebagian besar dari kita memiliki keterbatasan pengetahun seputar keuangan personal dan tingginya bujuk rayu iklan dari pada produsen yang mengakibatkan kita membeli yang sebenarnya tidak dibutuhkan.

Bila ingin memulai perencanaan menabung secara regular sebaiknya Anda harus membuat keseimbangan antara konsunsi dan menabung. Nah, konsumsi inilah atau pemakaian pendapatan untuk belanja yang sering kali mengakibatkan Anda tidak lagi bisa menabung. Pelit bukanlah solusi dalan mengembangkan kebiasaan menabung. Tapi yang lebih diutamakan adalah kebiasaan cerdas dalam berbelanja. Tentunya Anda juga ingin menikmati perjalanan hidup yang Anda lalui selama menjalani kehidupan keluarga.

Untuk membuat proses menabung menjadi sebuah program berkesinambungan, Anda sebaiknya melihat pada diri Anda sendiri. Bagaimana Anda bersikap dan berprilaku berkaitan dengan keuangan, khususnya belanja. Hal ini terkadang bisa dikenali, namun sulit untuk dapat mengubahnya. Perubahan menjadi sangat sulit bila Anda tidak memiliki kemauan untuk berubah. Dibutuhkan dialog dengan diri Anda sendiri seputar keputusan keuangan yang harus Anda ambil.

Pertanyaan penting sebelum berbelanja
Secara jujur harus kita akui bahwa kita berbelanja kadang bukan karena kita membutuhkan barang tersebut namun mungkin hanya tergiur atau dorongan dari diri kita sendiri. Untuk itu kami mencoba memberikan beberapa pertanyaan yang sebaiknya Anda tanyakan pada diri Anda sendiri sebelum keputusan membeli Anda lakukan.

Pertanyaan ini untuk kondisi dimana Anda sebenarnya memang tidak punya uang. dan kondisi kedua, dimana sebenarnya Anda memiliki uang untuk membeli apa yang Anda inginakan.

Dua pertanyaan pertama: “Apakah saya membutuhkannya?” “Apakah saya sanggup untuk membelinya?” Mudah saja, bila jawaban Anda untuk pertanyaan tadi adalah tidak, jangan membelinya. Kalau Anda tidak membutuhkannya, jangan beli. Kalau Anda tidak memiliki uang, jangan membelinya. Bila Anda belum membandingkan dengan hraga di toko lainnya, jangan belu dulu, karena Anda membutuhkan setiap uang yang tidak dibelanjakan untuk ditabung. Nah, bila ANda berbelanja melalui proses kedua pertanyaan diatas, Anda tau bahwa Anda sudah berbelanja dengan bijak dan cerdas.

Dua pertanyaan kedua: “Apakah saya akan menggunakannya?” Apakah ini cukup berharga untuk dibeli sekarang?”. Mungkin hal ini sedikit menjengkelkan, karena sebenarnya Anda memiliki kemampuan untuk membelinya. Lain halnya dengan dua pertanyaan sebelumnya. Namun, lucunya seringkali kita membeli hanya karena dorongan keinginan tapi tidak mendapatkan keuntungan atau manfaat dair belanja yang kkita lakukan. Bila Anda tanyakan apakah saya membutuhkannya? Bila jawabannya tidak maka jangan beli barang tersebut. Bila Anda mengatakan memerlukannya, apakah cukup berharga? Dengan membayar harga tersebut apakah memang cukup berharga untuk Anda miliki. Karena pada dasarnya, bila Anda membelinya, maka Anda kehilangan apa yang biasa disebut oleh para ekonom adalah “opportunity cost”. Jadi pahami kedua pertanyaan tersebut sebelum Anda membeli.

Kebutuhan Vs. Keinginan
Menjadi pembelanja yang cerdas dan bijak perlu memahami perbedaan antara kebutuhan dan keinginan. Sebenarnya tidak ada batasan yang pasti untuk menentukan perbedaan antara kebutuhan atau keinginan. Mari kita mulai dengan mendifinisikan keduanya. Kebutuhan adalah sesuatu yang diperlukan oleh manusia sehingga dapat mencapai kesejahteraan, sehingga bila ada diantara kebutuhan tersebut yang tidak terpenuhi maka manusia akan merasa tidak sejahtera atau kurang sejahtera. Dapat dikatakan bahwa kebutuhan adalah suatu hal yang harus ada, karena tanpa itu hidup kita menjadi tidak sejahtera atau setidaknya kurang sejahtera.

Sedangkan keinginan adalah sesuatu tambahan atas kebutuhan yang diharapkan dapat dipenuhi sehingga manusia tersebut merasa lebih puas. Namun bila keinginan tidak terpenuhi maka sesungguhnya kesejahteraannya tidak berkurang.

Namun demikian, yang namanya kesejahteraan dan kepuasan juga sangat relatif bagi setiap orang. Sedangkan kami berpendapat bahwa untuk membedakan antara kebutuhan dan keinginan, harus dilihat dari segi fungsinya. Sesuatu dikatakan sebagai keinginan kalau sudah merupakan tambahan atas fungsi utamanya.

Bagi sebagian orang, mobil sudah merupakan kebutuhan. Untuk bisa menunjang aktifitasnya yang banyak di luar rumah dan sering bepergian, maka mobil adalah alat transportasi yang menjadi kebutuhan. Jika fungsi mobil adalah untuk alat transportasi, membawa kemana kita akan pergi. Tapi seringkali kita punya keinginan untuk menambah berbagai macam aksesories mobil, bukan untuk menambah kenyamanan atau kemanan berkendara, tapi hanya sekedar mempercantik penampilannya saja. Saya rasa itu bukan kebutuhan, itu cuma keinginan saja. Dan keinginan ini bisa ditunda kalau semua kebutuhan yang lain sudah terpenuhi dengan baik.

Walaupun mungkin kini Anda merasa mampu untuk memenuhi semua keinginan Anda, tapi kita tetap harus bijaksana, jangan sampai lupa akan kebutuhan/ tujuan di masa yang akan datang. Kita harus mempersiapkan dana pensiun kita agar bisa menikmati hari tua dengan tenang, kita juga harus mempersiapkan dana pendidikan bagi anak-anak kita, dan itu semua adalah kebutuhan masa depan yang harus disiapkan sejak sekarang.

Yang harus diingat adalah, jangan sampai memenuhi keinginan dengan mengabaikan kebutuhan atau tujuan keuangan prioritas. Oleh karenanya memiliki perspektif jangka panjang dalam hal keuangan keluarga harus diperhatikan.

Demikialah uraian yang bisa kami sampaikan saat ini. semoga ulasan ini menambah wacana dan membuat Anda lebih bijak dan cerdas dalam membelanjakan pendapatan yang Anda hasilkan dengan bekerja keras setiap bulannya.*

BIAS PSIKOLOGIS DAN INVESTASI




Mengembangkan sebuah perencanaan investasi termasuk langkah yang sulit, akan tetapi terus berjalan dalam perencanaan yang telah ditetapkan jauh lebih berat. Kebanyakan investor sangat dipengaruhi oleh dua faktor utama, yaitu tamak (greed) dan takut (fear). Bila pasar sedang bergejolak, investor jadi takut. Bukannya menjual pada saat harga sedang naik malah menjual saat turun.

Mereka melakukan hal tersebut karena mereka manusia dan mereka juga kurang memiliki ketetapan hati dalam melaksanakan perencanaan yang telah dibuat atau malah tidak memiliki perencanaan investasi sama sekali. Kita sering kali mengambil keputusan berdasarkan emosi semata. Hal ini bisa merusak investasi yang telah dilakukan.

Tamak (Greed)
Sifat Pertama adalah Tamak (Greed). Sering terjadi, akibat ingin buru-buru mendapatkan keuntungan besar, investor lupa untuk berpikir rasional dan bertindak berdasarkan ‘naluri’ yang ternyata lebih bersifat emosional. Misalnya, saat IHSG meningkat dari level 400-an dan untuk pertama kalinya kembali menembus ke level 700-an, banyak investor baru terangsang emosi tamaknya. Saat itu, melihat banyak rekan atau tetangga mereka mendadak bisa beli mobil baru karena investasi di saham, para investor lugu tersebut tanpa pikir panjang langsung ikutan beli saham. Sayangnya, tak lama setelah mereka beli saham, IHSG justru menurun.

Apa jadinya? Karena kurangnya pengetahuan serta pola investasi yang sesuai bukan keuntungan yang didapat, melainkan kerugian. Maunya untung malah buntung.

Investor sangat dipengaruhi oleh informasi seputar performa sebuah investasi. Keputusan untuk mendapatkan keuntungan didasari oleh performa masa lalu sebuah investasi. Seperti kita ketahui, “past performance is no guarantee of future results” . Mungkin pada masa tersebut sebuah sektor yang dipilih oleh manajer investasi memberikan keuntungan yang tinggi. Begitu Anda mulai melihat pertumbuhan dari investasi tersebut Anda baru masuk. Namun, setelah beberapa waktu, sektor tersebut mulai melemah dan malah merugi.

Ekspektasi yang berlebihan
Karena investor merasa sangat tamak, hal ini bisa mengakibatkan Anda menjadi sangat mengharapkan sesuatu diluar kebiasaan tentang risiko investasi maupun keuntungan investasi. Menabung menjadi kurang dan mengakibatkan tidak tercapai tujuan yang diinginkan karena Anda mengharapkan keuntungan invetsai yang tidak realistik. Bila harapan Anda tidak terwujud Anda harus mencari alterntif investasi lain yang mungkin saja lebih tidak realistik, dengan harapan dapat mengejar kekurangan yang selama ini terjadi.

Takut (Fear)
Saat IHSG mulai menurun (lanjutan cerita diatas), pendulum emosi para investor baru tersebut beralih dari tamak menjadi Takut (Fear). Akibatnya mereka beramai-ramai keluar dari pasar. Jadi yang mereka lakukan bukannya beli murah jual mahal, melainkan beli mahal, jual murah, alias rugi.

Timbul rasa takut dikarenakan adanya potensi kerugian. Banyak research yang mengatakan bahwa kita lebih membeci kehilangan atau kekalahan dari pada kita mencintai kemenangan. Mengikuti perkembangan portfolio atau investasi yang Anda miliki setiap saat bisa sangat membahayakan. Seperti halnya bila Anda menginvestasikan dana di saham. Bila Anda mengikuti perkembangan setiap saat, bila kecenderungan pasar lagi turun, Anda terangsang untuk menjual saham yang Anda miliki. Karena informasi yang diperoleh hampir setiap hari, seringkali sulit untuk tetap bertahan di keputusa yang telah ditetapkan sejak semula.

Dalam hal monitoring investasi yang telah Anda alokasikan dan tempatkan akan lebih baik bila Anda melihat setiap 6 bulan atau 3 bulan sekali. Hal ini bisa mungurangi keinginan Anda untuk menjual (karena perubahan sesaat) saham-saham atau investasi yang dimiliki.

Bagaimana mengatasi hal ini?
Untuk menanggulangi emosi yang menghambat investasi Anda, langkah pertama adalah dengan melakukan otomatisasi menabung (menabung dengan memotong secaraotomatis setiap bulan dari pendapatan) yang Anda lakukan sehingga tetap berjalan di perencanaan yang telah ditetapkan dan ada tiga tindakan yang sebaiknya dipertimbangkan, Dollar Cost Averaging, Rebalancing (membalance alokasi portfolio) dan Simplifiying (dibuat simpel).

Dollar cost averaging
Perencanaan keuangan keluarga merupakan perencaaan yang berkesinambungan. Dibutuhkan disiplin dan motivasi yang kuat guna mencapai tujuan yang diinginkan. Dengan keterbatasan pendapatan yang diperoleh setiap bulan, sangat dianjurkan bagi keluarga untuk memulai menyisihkan dana untuk tujuan keuangan sedini mungkin. Penempatan dan alokasi dana dilakukan secara reguler setiap bulan sesuai kesanggupan keuangan keluarga. Pola investasi ini biasa disebut dengan dollar cost averaging (DCA).

Berikut ini ilustrasi DCA untuk penempatan dana di bursa saham. Konsep DCA ada hubungannya dengan diversifikasi. Para investor di bursa saham berdiversifikasi dengan menanamkan uang tak hanya pada satu saham, tapi menyebarkannya pada banyak saham di pelbagai sektor. Gagasannya: bila satu sektor sedang lesu, mungkin sektor lain bisa mengompensasinya.

Diversifikasi seperti ini sudah lazim dan dikenal banyak orang. Masalahnya, bagaimana jika semua sektor---atau dengan perkataan lain pasar saham---kebetulan pada waktu tertentu sedang merosot? Dalam situasi ini, diversifikasi seperti itu tidak bisa berbuat banyak. Salah satu cara yang pasti ampuh untuk menghindari kerugian akibat merosotnya pasar saham adalah jangan berinvestasi di saham. Memang, dengan tidak berinvestasi di pasar saham berarti tak mengalami kerugian, tapi Anda juga tak akan mengalami keuntungan kalau pasar meroket seperti yang terjadi mulai pertengahan tahun 2003 sampai awal 2004.

Lalu, mesti bagaimana? Jangan khawatir, masih ada harapan. Ada satu jenis diversifikasi lagi yang dapat mengurangi risiko kerugian akibat kemerosotan pasar saham. Konsep yang satu ini bukan diversifikasi biasa, namanya diversifikasi waktu. Konsep aslinya sering disebut DCA.

Misalkan Anda punya uang Rp 1 miliar untuk diinvestasikan dalam bentuk saham. Berdasarkan hitungan rasio harga-pendapatan (price-earning ratio: PER) dan harga-nilai buku (price-to-book value: PBV), Anda pikir saham-saham di Bursa Efek Jakarta kini relatif murah. Kalau pasar meningkat pesat dalam tempo 1---2 tahun, return yang akan diperoleh bisa sangat besar.

Kendati begitu, dalam jangka pendek Anda masih ragu dengan naik-turunnya pasar. Ada kemungkinan pasar masih melorot sejenak sebelum tinggal landas. Kalau uang Rp 1 miliar ini diinvestasikan sekarang dan ternyata pasar merosot, bisa runyam. Sebaliknya, kalau investasi ditunda dan ternyata pasar segera menguat, Anda ketinggalan kereta dan terpaksa gigit jari. Pendeknya, baik masuk terburu-buru maupun menunggu terlalu lama sama-sama bisa membuat Anda menyesal.

Alternatif konservatif untuk menghindari penyesalan itu adalah dengan menginvestasikan uang Anda secara bertahap, misalnya Rp 100 juta tiap bulan selama 10 bulan. Sambil menunggu, uang yang belum diinvestasi bisa dititip di broker dengan bunga setingkat bunga deposito (tentu saja hal ini harus dikonfirmasi dan dinegosiasikan dengan broker Anda). Dengan cara begitu, bila pasar masih menurun Anda tak akan terlalu menyesal masuk saat pasar masih relatif tinggi. Serupa dengan itu, bila pasar mulai meningkat, Anda juga tak terlalu menyesal terlambat masuk pasar.

Manfaat lain dari DCA: dengan membeli sedikit-sedikit, order belinya tak membuat harga naik. Bayangkan bila seorang investor punya uang Rp 1 triliun yang sekaligus diinvestasikan dalam satu hari. Order beli tersebut tak akan bisa dipenuhi tanpa menyebabkan harga saham naik untuk sementara, terutama bila saham-saham yang dipesan kurang likuid (nilai transaksi normal per harinya hanya sedikit).

DCA juga berlaku bila Anda berencana menginvestasikan sebagian penghasilan Anda setiap bulan secara teratur. Untuk investasi yang relatif sedikit, Anda dianjurkan menggunakan sarana investasi reksadana. Dengan menggunakan reksadana, investasi Anda telah terdiversifikasi dalam banyak saham yang dimiliki oleh reksadana itu. Jadi, diversifikasi saham didelegasikan kepada reksadana, sementara diversifikasi waktu langsung Anda kendalikan sendiri.

Diversifikasi waktu melalui DCA memerlukan disiplin dan horison investasi jangka panjang. Dengan mengabungkan otomatisasi pemotongan dana untuk tabungan, dan pola DCA, potensi tujuan yang diinginkan dalam jangka panjang menjadi meningkat. Dalam banyak hal---termasuk investasi---tanpa perencanaan, disiplin, dan kesabaran sulit untuk mencapai hal yang Anda idam-idamkan.

Rebalancing & simplifying
Merancang ulang target alokasi porfolio yang Anda miliki sehingga sesuai dengan investasi yang telah ditetapkan disebut dengan rebalancing. Reblanacing ini bisa dengan membeli saham atau obligasi bila terjadi perubahan harga. Misalkan dari total investasi yang Anda miliki, Anda mengalokasikan 20% di saham. Karena pasar modal sedang naik, nilai total investasi di saham jadi meningkat, yng tadinya persentasinya hanya 20% menjadi 30% dari toatl investasi. Sehingga Anda befikir untuk mengubah alokasi portfolio seperti semula yaitu dengan menjual sebagai saham yang dimiliki dana dibelikan obligasi atau investasi pasar uang.

Coba untuk menjadi investasi yang Anda lakukan semudah dan sisimpel mungkin. Hindari investasi yang mengharuskan Anda untuk emngambil terlalu banyak keputusan. Tempatkan investasi dalam bentuk reksadana karena produk ini banyak memberikan keunggulan seperti ases ke berbagai instrumen investasi, tingkat likuiditas yang tinggi, dikelola oleh manajer investasi profesional dan lain-lain.

Demikianlah penjelasn kami seputar emosi dalam pengambilan keputusan investasi. Kenali berbagai emosi yang mempengaruhi pengambilan keputusan dalam berinvestasi dan coba untuk emgatasinya dengan menetapkan perencanaan dan melakukan ketiga tindakan dalam jangka panjang. Hal ini akan meningkatkan potensi pencapaian tujuan yang selama ini diidamkan.*

MENGELOLA KEUANGAN KELUARGA



Uang seringkali menjadi penyebab terjadinya perceraian. Perselisihan mengenai keuangan bisa saja terjadi disaat uang melimpah maupun disaat kekurangan uang. Masyarakat Indonesia merasa risih bila harus membicarakan masalah keuangan dalam keluarga. Oleh karena itu kami merasa perlu untuk terus menyerukan kepada semua kalangan masyarakat terutama pasangan suami istri untuk belajar saling terbuka mengenai keuangannya masing-masing. Kami sangat percaya bahwa setiap orang memiliki pandangan mengenai uang yang berbeda-beda karena suami atau istri dibesarkan di lingkungan yang berbeda. Kegagalan dalam membicarakan soal uang di dalam keluarga berpotensi menimbulkan permasalahan.

Banyak orang merasa bahwa membicarakan keuangan dalam keluarga adalah tabu. Namun menurut hemat kami, hal ini malah seharusnya dibicarakan. Kalangan ini pernah berpikir, Apakah dengan membiarkan persoalan keuangan dalam keluarga belarut-larut akan menyelesaikan segalanya? Atau bisa menjadi bola salju yang terus membesar? Persoalan kecil bisa menjadi besar bila tidak diatasi dan diselesaikan dengan bijak. Oleh karena itu dalam hal keuangan keluarga sangat dibutuhkan sebuah pola pengelolaan dimana masing-masing individu di dalam keluarga (suami dan istri) memiliki hak dan kewajibannya masing-masing. Dengan pembagian tanggung jawab serta diskusi yang mendalam dapat meringankan persoalan yang mungkin timbul di masa depan.

Berikut ini ada tiga tipe pengelolaan yang bisa Anda pilih sesuai dengan keinginan Anda bersama pasangan Anda. Tentunya masih banyak lagi pola pengelolaan yang ada. Hal terpenting disini adalah saling keterbukaan serta menjalani kehidupan keluarga dengan tanggung jawab bersama.

1. Uang bersama dan Sistem Amplop
Penghasilan suami istri langsung digabung bersama. Setelah itu, gabungan kedua pendapatan langsung dialokasikan ke pos-pos pengeluaran rutin yang telah dihitung lebih dulu. Lazimnya, setiap pos diwakili oleh satu amplop. Pos-pos pengeluaran itu, pada beberapa keluarga, bukan saja kebutuhan rumah tangga makan minum, dan listrik saja, tapi juga termasuk membayar kredit rumah, cicilan mobil, listrik, telepon, uang sekolah anak, asuransi dan kebutuhan mobil (bensin, servis berkala, kerusakan, dan lain-lain). Bahkan tabungan, pengeluaran pribadi ayah-ibu dan liburan pun jadi amplop tersendiri. Bila ada sisa, dimasukkan ke dalam tabungan suami atau istri, atau khusus membuka lagi account bersama di bank untuk ‘menampung’ sisa amplop setiap bulannya.

2. Membagi Berdasar Persentase
Bentuk manajemen ini adalah membagi tanggung jawab dalam bentuk jumlah atau persentase Seluruh kebutuhan keluarga setiap bulan dihitung termasuk pos darurat dan pos tabungan. Masing-masing sepakat menyumbang sebesar jumlah tertentu untuk menutupi kebutuhan tersebut. Sisanya digunakan sebagai tabungan pribadi untuk kebutuhan pribadi. Misalnya, istri membeli parfum, lipstik, atau baju. Bisa juga tanpa menghitung kebutuhan keluarga terlebih dahulu, suami-istri memberi kontribusi yang sama berdasarkan prosentase. Misalnya 80:20. Artinya, masing-masing "menyetor" 80 persen dari gajinya. Sisa 20 persen disimpan untuk diri sendiri. Jika bisa berhemat, dari uang bersama yang 80 persen, bisa tersisa untuk tabungan keluarga, di samping suami dan istri juga masing-masing punya tabungan pribadi.

3. Membagi Tanggung Jawab
Misalnya, suami mengeluarkan biaya untuk urusan "berat", seperti membayar kredit rumah, cicilan mobil, listrik, telepon, uang sekolah anak, kebutuhan mobil, dan asuransi. Sementara bagian istri adalah belanja logistik bulanan, pernak-pernik rumah, jajan, dan liburan akhir pekan dan pos tabungan. Dilihat dari jumlahnya, suami menanggung lebih banyak dana. Tapi istri juga punya peranan dalam kontribusi dana rumah tangga. Kalau ternyata istri yang memiliki pendapatan lebih besar, tentunya hal ini juga bisa dilakukan sebaliknya.

Mana yang terbaik? Hal ini sangat dipengaruhi oleh kebiasaan dan tentunya kesepakatan antara suami dan istri. Diskusikan hal ini dengan pasangan masing-masing, agar persoalan keuangan keluarga bukan lagi menjadi masalah dalam keluarga.

Kalau istri tidak bekerja? Bagaimana?
Ketiga contoh diatas merupakan pola alokasi dari pendapatan suami dan istri. Dimana suami dan istri bekerja dan menghasilkan pendapatan secara regular setiap bulannya. Bagaimana pula bila hanya suami atau istri yang bekerja? Sedangkan pasangan yang lainnya tinggal di rumah?

Bila hal ini yang menjadi pola keuangan di keluarga Anda tentunya akan sangat baik bila Anda dan pasangan Anda membicarakan tugas serta tanggung jawab masing-masing. Mungkin Anda sebagai suami karena bekerja yang berusaha memenuhi semua kebutuhan keluarga. Sedangkan istri yang tinggal di rumah bertanggung jawab dalam hal rumah tangga, mulai dari persoalan belanja regular bulanan sampai alokasi tabungan (dari pendapatan suami) untuk berbagai macam tujuan keuangan keluarga yang dimiliki. Dalam hal ini istri harusnya seperti manejer dalam sebuah perusahaan.

Dengan membagi tanggung jawab bersama, suami tidak lagi merasa lebih dibandingkan istri. Karena kedua individu dalam keluarga tersebut memiliki tanggung jawab masing-masing. Untuk itulah keterbukaan dan diskusi mengenai keuangan menjadi sangat dibutuhkan.

Tiga hal penting dalam mengelola keuangan bersama
Pertama, pembagian kerja sangatlah dibutuhkan dalam hal mengatur keuangan. Contoh singkatnya, siapa yang membayar semua kebutuhan sehari-hari rumah tangga. Misalkan Anda sebagai istri yang harus membayarnya maka suami dalam hal ini harus mentransfer dana yang cukup setiap bulannya untuk memenuhi semua kebutuhan keuangan keluarga.

Bila Anda memutuskan untuk mendelegasikan satu orang untuk membayar semua tagihan bulanan keluarga maka hal penting yang harus diperhatikan adalah kejujuran. Dimana Anda berdua haruslah terbuka satu dengan yang lain berkenaan dengan permasalahan uang. Jangan sampai bila Anda menggunakan rekening bersama dan salah satu dari Anda mengambil dana dalam jumlah besar dan tidak mengatakan kepada pasagan Anda. Begitu pasangan Anda membutuhkan untuk hal yang sangat penting ternyata dan yang tersedia tidak mencukupi.

Kedua, pengeluaran yang disepakati menjadi sangat vital. Anda berdua harus mencapai kata sepakat dalam merencanakan pengeluaran. Hal ini biasanya berkaitan dengan pengeluaran yang tidak tetap, misalkan keputusan untuk mengganti mobil dengan yang baru setelah beberapa tahun? Atau apa yang Anda berdua pikirkan berkenaan dengan liburan? Sebagai kesimpulan, Anda harus membicarakan dan bersepakat dalam kebutuhan yang harus dipenuhi, apa yang menjadi keinginan bersama dan apa yang dapat Anda penuhi.

Hal terakhir yang menjadi sangat penting adalah menabung. Dalam hal ini visi kedepan menjadi sangat penting. Dimana dengan tujuan yang Anda dan pasangan tentukan akan memberikan motivasi serta pemilihan strategi yang dapat membantu Anda mencapai tujuan masa depan yang dimiliki. Dengan begitu Anda juga akan melihat pentingnya pengalokasian dana saat ini dan dimulai saat ini juga.

Demikianlah ulasan singkat seputar uang dalam kaitannya dengan hubungan suami istri di dalam keluarga. Semoga memberikan masukan dan tambahan ilmu bagi Anda.

* Muhamad Ichsan, ChFC, MsFin, adalah parkitisi dan akademisi di bidang perencanaan keuangan. Ia adalah Managing Partner pada PrimaPlanner dan Direktur Program IFPI, serta mengajar di Ubinus dan STAN. Ichsan dapat dihubungi melalui email: ichsan02@yahoo.com

MANAJER KEUANGAN KELUARGA



Banyak orang beranggapan bahwa Manajemen keuangan keluarga merupakan salah satu bidang yang rumit. Sebenarnya manajemen keuangan keluarga tidaklah rumit seperti yang dibayangkan banyak orang khususnya ibu-ibu. Untuk menjadi manajer keuangan keluarga yang cerdas dan bijak Anda tidak harus menjadi seorang ahli keuangan.

Manajemen keuangan keluarga memang membutuhkan pengetahuan dan kearifan dalam menjalankannya. Kebanyakan orang yang merasa terintimidasi dengan masalah ini, malah mengabaikannya. Persoalaan ini harusnya menjadi prioritas keluarga karena banyak sekali masalah timbul karena kurang bijaknya manajer keuangan keluarga dalam mengelola dan mengatur keuangannya. Sebagai seorang manajer keuangan keluarga, ada beberapa aspek yang menurut hemat kami perlu ditangani yaitu:

„Ã Membuat dan meninjau secara perisodik prioritas keuangan keluarga.
„Ã Mengelola pendapatan yang terbatas secara bijak.
„Ã Menghitung kebutuhan proteksi serta menginvestasikan dana dalam bentuk investasi yang sesuai.
„Ã Menentukan sebuah rencana pensiun.
„Ã Mempersiapkan dana pendidikan untuk anak-anak.
„Ã Membeli mobil dengan bijak.
„Ã Belanja dengan bijak.
„Ã Mengajarkan anak-anak mengenai keuangan.

Ini merupakan hal-hal dasar yang sebaiknya dipikirkan dan direncanakan oleh keluarga melalui seorang manajer keuangan keluarga, bisa ibu atau bapak atau keduanya. Keuangan keluarga pasti akan dihadapi dengan berbagai hambatan baik kecil maupun besar. Bisa jadi hambatan ini mengakibatkan krisis keuangan. Bila Anda berada dalam posisi ini, tidak ada untungnya Anda mengatakan bahwa kalau saja saya tau lebih dulu bagaimana belanja secara bijak atau mempunyai anggaran belanja keluarga atau menjalankan kehidupan keuangan keluarga berdasarkan prioritas-prioritas yang telah disepakati maka tentunya kita akan terhindar dari kehancuran keuangan keluarga. Cobalah untuk merencanakan bagaimana keluar dari masalah dan dapat terus menjalani kehidupan keluarga secara sejahtera.

Tiga langkah yang dibutuhkan
Untuk dapat menjalankan roda kehidupan keluarga secara bijak kami melihat pentingnya bagi sebuah keluarga untuk menjalankan tiga langkah berikut ini: pertama adalah mengidentifikasi dan menetapkan prioritas keuangan keluarga. Kedua, memikirkan dan mengembangkan sebuah rencana pencapaian dan ketiga mengembangkan prosedur pelaksanaan perencanaan yang telah dibuat.

Mengidentifikasi dan menetapkan prioritas keuangan
Menentukan prioritas keuangan secara spesifik merupakan langkah awal dalam sebuah menajemen keuangan keluarga. Menentukan prioritas keuangan keluarga yang sesuai dengan keinginan masing-masing anggota keluarga membutuhkan perbincangan yang dalam. Dibutuhkan keterbukaan serta kesepakatan anggota keluarga khususnya ibu dan bapak yang akan membawa atau memimpin keluarga.

Tujuan keuangan keluarga harus dinyatakana dalam nilai yang terukur serta jangka waktu pencapaiannya. Misalkan, Anda meneginginkan untuk dapat hidup berkecukupan di masa tua nanti. Itu merupakan tujuan tapi belum spesifik masih dibutuhkan suatu nilai yang dapat Anda tuju dimasa depan, misalkan saja Anda membutuhkan dana Rp.1 milyar untuk dapat hidup layak di masa tua nanti. Jadi tujuan keuangan yang benar adalah pensiun di usia 55 tahun dengan dana yang harus dimiliki adalah 1 milyar rupiah.

Satu hal yang juga penting dalam menentukan tujuan keuangan keluarga adalah realistik. Jangan Anda menentukan tujuan keuangan yang tidak realistik dengan keadaan keuangan Anda sekarang. Jadi hal ini bukanlah sebuah impian yang tidak mungkin dicapai seperti halnya kodok merindukan bulan. Tapi merupakan tujuan yang secara sadar dapat Anda capai melalui pelaksanaan yang berkesinambungan. Mengapa hal ini sangat penting, karena tujuan keuangan merupakan pondasi sebuah perencanaan keuangan keluarga. Menentukan tujuan keuangan diluar kemampuan malah akan menjadi bumerang bagi Anda dimasa depan. Hal ini dapat saja membuat Anda malah tidak melakukan perencanaan sama sekali.

Memikirkan dan mengembangkan sebuah rencana pencapaian
Saat Anda telah menetapkan prioritas tujuan keuangan keluarga maka Anda memerlukan sebuah stratetgi atau perencanaan yang harus dilakukan agar prioritas tersebut tercapai. Karena kondisi dan situasi keuangan setiap keluarga berbeda maka kami mencoba memberikan gambaran umum seputar hal-hal yang sebaikanya dialakukan dalam melihat strategi atau perencanaan keuangan keluarga.

1. Anda perlu sebuah anggaran belanja. Penganggaran merupakan salah satu bagian terpenting dalam mengelola keuangan keluarga. Dengan anggaran belanja akan membantu Anda mengenali kemungkinan masalah-masalah yang akan timbul dalam pola pengeluaran. Dengan begitu Anda dapat mencari cara-cara mengatasi maslaah tersebut.

2. Miliki sebuah perencanaan menabung. Bila Anda belum mengatuhi mengenai beberapa hal seputar investasi. Cari informasi sebanyak-banyak. Dalam mulailah menabung. Selama ini kita mengenal pola menabung hanya dari sisa belanja bulanan. Ah itu mah kuno. Sekarang alokasi menabung harus masuk sebagai pengeluaran yang harus didahulukan. Karena kalau menunggu sisa, seringkali tidak ada sisanya di akhir bulan.

3. Bijak mengambil hutang. Menurut hemat kami, paling tidak ada tiga (3) petunjuk dasar yang Anda butuhkan dalam mempertimbangkan pinjaman yang akan Anda ambil. (1) Jangan pernah meminjam lebih besar dari kemampuan keuangan Anda. (2) Jangan pernah untuk meminjam untuk kebutuhan barang-barang mewah, seperti mobil mewah, perhiasan, bila dengan hal itu Anda tidak dapat meminjam untuk kebutuhan keluarga seperti, pinjaman kredit rumah atau pinjaman pribadi untuk biaya sekolah anak Anda. (3) Pastikan bahwa Anda masih menyisakan kapasitas dalam meminjam untuk kebutuhan-kebutuhan yang tidak terduga.

4. Alokasikan dana untuk mencapai prioritas tujuan keuangan yang dimiliki. Setiap keluarga pasti memiliki tujuan yang berbeda. Berdasarkan prioirtas tujuan tersebut alokasikan dana untuk menacapinya. Contoh dari tujuan keuangan keluarga seperti menyiapkan dnaa pendidikan anak, masa pensiun dan lain-lain.

Mengembangkan prosedur pelaksanaan perencanaan
Bekerja sebagai sebuah tim (keluarga) dalam menajeman keuangan keluarga dapat mengurangi atau menangkis sumber permasalahan dan kesalahpahaman. Walaupun penetapan tujuan serta pengembangan perencanaan telah dilakukan, kita harus memutuskan siapa yang melaksanakan rencana¡Xatau apa yang menjadi prosedur pelaksaan perencanaan yang telah disepakati bersama.

Mungkin Anda bisa membagi tanggung jawab. Misalkan Anda berdua bekerja (suami dan istri), Anda dapat membagi siapa yang bertanggung jawab terhadap tagihan-tagihan yang ada. Misalkan Anda sebagai istri lebih memprioritaskan untuk memenuhi anggaran belanja bulanan. Sedangkan suami Anda bertanggung jawab untuk biaya listrik, telp, tabungan pendidikan, pensiun dan lain-lain.

Yang terpenting dalam hal ini adalah kesepakatan bersama. Mana prosedur pelaksanaan yang Anda tentukan adalah yang memang sesuai dengan kondisi Anda keluarga Anda. Rencanakan hidup Anda dan Hidupkan rencana Anda.

* Muhamad Ichsan, ChFC, MsFin, adalah parkitisi dan akademisi di bidang perencanaan keuangan. Ia adalah Managing Partner pada PrimaPlanner dan Direktur Program IFPI, serta mengajar di Ubinus dan STAN. Ichsan dapat dihubungi melalui email: ichsan02@yahoo.com

DIVERSIFIKASI PORTOFOLIO BAGI KELUARGA




Mengapa diversifikasi merupakan kunci emas dalam berinvestasi? Diversifikasi bertujuan untuk mengurangi tingkat risiko dan tetap memberikan potensi tingkat keuntungan yang cukup. Apa itu diversifikasi? Diversifikasi adalah sebuah strategi investasi dengan menempatkan dana dalam berbagai instrumen investasi dengan tingkat risiko dan potensi keuntungan yang berbeda, atau strategi ini biasa disebut dengan alokasi aset (asset allocation). Alokasi aset ini lebih fokus terhadap penempatan dana di berbagai instrumen investasi. Bukan menfokuskan terhadap pilihan saham dalam portofolio. Dari hasil studi, perbedaan performa lebih banyak dikarenakan oleh alokasi aset (asset allocation) bukannya pilihan investasi (investment selection).

Sebagai contoh, bila Anda memiliki dana sebesar Rp250 juta dan menempatkan seluruh dana dalam instrumen deposito yang memberikan bunga sebesar 7%, selama 25 tahun, maka dana tersebut akan berkembang menjadi sekitar Rp1,35 miliar. Namun di lain sisi, katakanlah bahwa Anda membagi dana sebesar Rp250 juta tersebut dalam 5 bagian seperti berikut ini:

1. Anda menggunakan Rp50 juta pertama untuk membeli undian. Seperti orang lain, yang juga membeli undian, Anda kehilangan semua dana tersebut. Setelah 25 tahun, dana sebesar Rp50 juta menjadi “nol”.

2. Bagian kedua, Anda menempatkan Rp50 juta di bawah bantal Anda. Setelah 25 tahun, nilainya tetap Rp50 juta.

3. Bagian ketiga, Anda membuka tabungan dengan bunga sebesar 5% sebesar Rp50 juta. Setelah 25 tahun dana tersebut berkembang menjadi sekitar Rp169 juta.

4. Bagian keempat, Anda menempatkan Rp50 juta di deposito dengan tingkat suku bunga 7%, di mana akan bertumbuh menjadi Rp271 juta setelah 25 tahun.

5. Di bagian terakhir, Anda menempatkan Rp50 juta sisanya di saham, dan memberikan tingkat keuntungan sebesar 14% selama 25 tahun, sehingga dana tersebut berkembang menjadi Rp1,32 miliar.

Jadi total dana yang ditempatkn pada 5 alternatif investasi menjadi sekitar Rp1,81 miliar. Penempatan kedua memberikan dana lebih sebesar sekitar Rp460 juta dibandingkan bila Anda menempatkan semua dana di deposito—walau Anda kehilangan semua investasi dalam bagian pertama dan tidak berkembang pada bagian kedua, menempatkan di tabungan pada bagian ketiga dan deposito pada bagian keempat dan mengambil risiko pada bagian kelima dengan menginvestasikan di saham. Mengapa hal ini mungkin terjadi?

Hasil ini dimungkinkan karena adanya strategi diversifikasi. Pengertian dasar dari strategi ini adalah mengidentifikasi bahwa kerugian maksimum dari investasi terbatas hanya dari dana yang ditempatkan, namun demikian keuntungan maksimumnya tidak terbatas. Dari contoh di atas, tentunya instrumen investasi yang dipilih tidak berupa lotere atau undian atau Anda menyimpannya di bawah bantal tapi bisa dialokasikan ke instrumen pasar uang, obligasi, saham, properti, emas, dan lain-lain.

Strategi lain untuk memperoleh manfaat diversifikasi adalah dengan menempatkan dana dalam reksadana. Reksadana sesuai dengan Undang-undang Pasar Modal no. 8 tahun 1995, pasal 1 ayat 27 adalah suatu wadah yang dipergunakan untuk menghimpun dana dari masyarakat pemodal untuk selanjutnya diinvestasikan dalam portofolio efek oleh Manager Investasi yang telah mendapat ijin dari Bapepam. Portofolio investasi dari Reksadana dapat terdiri dari berbagai macam instrumen surat berharga seperti saham, obligasi, instrumen pasar uang, atau campuran dari instrumen-instrumen di atas. Dengan memilikinya, investasi Anda sudah tersebar di berbagai instrumen investasi yang tersedia.

Satu portofolio vs. banyak portofolio
Setiap keluarga pasti memiliki banyak tujuan berbeda, dari membeli rumah sampai menyiapkan biaya pendidikan untuk anak-anak, tentunya Anda akan tergiur untuk mempertimbangkan memiliki portofolio investasi untuk masing-masing prioritas tujuan. Namun dengan memiliki banyak portofolio, kita membagi satu bagian menjadi misalkan 4 tujuan, dengan masing-masing portofolio memiliki 3 instrumen investasi. Sehingga Anda membagi satu bagian menjadi 12 bagian yang lebih kecil.

Dengan memiliki banyak portofolio, yang ditujukan untuk prioritas tujuan yang berbeda, akan banyak memakan waktu untuk mengorganisasikannya dan apalagi bila Anda harus meninjau dan merevisinya bila dibutuhkan. Dua hal negatif dalam memiliki banyak portofolio untuk berbagai macam prioritas tujuan yang dimiliki adalah biaya dan waktu.

• Biaya. Memiliki setiap instrumen investasi pasti mengandung biaya, baik fee manajemen, biaya pembelian, penjualan dan pengalihan untuk reksadana dan biaya transaksi untuk jual beli saham. Dengan memiliki banyak portofolio, maka Anda akan terus dibebankan dengan biaya yang sama untuk masing-masing instrumen. Bila Anda memiliki 5 Reksadana dengan jenis yang sama maka Anda akan terbebani dengan 5 kali biaya pembelian, penjualan atau pengalihan bila Anda bertransaksi.

• Waktu. Mengelola uang Anda membutuhkan waktu. Bila Anda secara aktif mengikuti perkembangan portofolio Anda, maka sangat mungkin Anda akan menghabiskan 10 jam sebulan (atau malah lebih) untuk menganalisa apa yang Anda miliki, bagaimana performanya dan bagaimana Anda dapat lebih mengoptimalkan. Itu hanya untuk satu portofolio. Bayangkan bila Anda memiliki 5 priortitas tujuan dengan masing-masing portofolionya, berapa waktu yang harus Anda habiskan?

Coba pikirkan bahwa dana yang Anda investasikan merupakan satu investasi atau portofolio keluarga. Satu portofolio untuk berbagai prioritas tujuan, dari menyiapkan biaya pendidikan untuk anak-anak sampai persiapan masa pensiun. Bagaimana dengan perbedaan jangka waktu prioritas tujuan? Yang harus dimengerti di sini adalah, Anda tetap menempatkan dana untuk tujuan jangka pendek dalam instrumen investasi jangka pendek dan alokasi dana untuk prioritas tujuan jangka panjang bisa dalam isntrumen saham. Kesemua aset yang Anda miliki masuk dalam portofolio Anda, termasuk di dalamnya rumah yang Anda miliki, dana tunai dan tidak termasuk di dalamnya emergency fund atau dana darurat.

Sebagai contoh portofolio keluarga adalah sebagai berikut, dalam persiapan menyambut masa pensiun Anda mengalokasikan 100% dalam saham atau sebesar Rp500 juta. Dengan dana tunai yang dimiliki sebesar Rp50 juta, maka portofolio keluarga berubah menjadi 91% di saham dan 9% dalam bentuk tunai. Tujuan prioritas lain yang Anda miliki adalah menyiapkan dana pendidikan untuk anak Anda. Saat ini investasi dalam instrumen obligasi sebesar Rp120 juta dan Rp60 juta dalam saham. Sehingga bila dilihat portofolio keluarga A berubah menjadi 7% dalam bentuk tunai, 16% dalam obligasi dan 77% dalam bentu saham (Rp500 juta + Rp60 juta). Cobalah untuk melihat investasi yang Anda alokasikan seperti contoh di atas. Tanpa Anda sadari ternyata Anda sudah mulai melakukan diversifikasi.

Satu-satunya investasi terbaik
Investasi merupakan sarana terpenting dalam meningkatkan kemampuan Anda untuk mengumpulkan dan menjaga kekayaan. Sangat penting bagi Anda untuk memahami bahwa “no single investemnt is right for everyone” . Berbagai batasan seperti kebutuhan akan uang tunai, tujuan dan prilaku serta preferensi Anda terhadap risiko, membuat setiap individu memilih investasi yang berbeda-beda. Menentukan investasi yang tepat membutuhkan sebuah perencanaan yang sesuai.

Hasil pooling yang dilakukan oleh majalah Business Week sejak tahun 1989, investasi paling diminati adalah properti. Sekitar 25-40% koresponden menyatakan hal tersebut. Reksadana masuk menjadi no.2 tapi setelah tahun 1990-an. Dan saham menjadi no.3 dimana didapat di akhir tahun 1990-an.

Apa arti dari angka tersebut? Orang menginvestasikan dananya pada suatu instrumen yang dikenalnya dan satu hal yang mereka pikir bahwa mereka mengetahui investasi tersebut adalah properti. Investasi dalam properti merupakan salah satu investasi yang membutuhkan dana besar dan secara historis selalu dapat mengimbangi tingkat inflasi. Apakah properti merupakan sarana investasi terbaik? Mungkin ya, mungkin tidak. Hal ini sangat bergantung dengan banyak aspek seperti penjelasan di atas, antara lain kebutuhan akan uang tunai, prioritas tujuan dan preferensi Anda terhadap risiko.

Revisi portfolio keluarga
Setelah Anda mengembangkan sebuah portofolio keluarga, apakah sebaiknya selalu ditinjau ulang dan direvisi bila dibutuhkan? Tentu saja dalam hal ini langkah tinjau ulang merupakan langkah yang seharusnya dilakukan. Karena kehidupan keluarga selalu berubah baik perubahan dari segi tujuan maupun kenaikan atau perubahan instrumen investasi dalam portofolio keluarga. Dalam hal ini kami ajukan beberapa langkah yang dapat dilakukan:

1. Mulailah dengan portofolio keluarga awal tahun atau perencanaan. Sebagai contoh, awal portofolio keluarga 20% pasar uang, 50% obligasi dan 30% saham.

2. cobalah untuk meninjau ulang portofolio keluarga dari waktu ke waktu. Satu tahun berlalu, karena perkembangan saham yang cukup baik, portofolio keluarga asal berubah persentasinya menjadi 15% pasar uang, 35% obligasi dan 50% saham.

3. Bila memang dibutuhkan, Anda bisa merevisi portofolio keluarga yang dimiliki. Sebaiknya Anda menentukan apakah portofolio keluarga yang baru tetap sesuai dengan prioritas tujuan, keadaan Anda dan tentunya toleransi risiko Anda. Dengan pertumbuhan saham yang tinggi, mengakibatkan persentase portofolio menjadi berubah di mana yang tadinya saham hanya 30% berkembang menjadi 50%. Sebaliknya persentase obligasi menurun dari 50% menjadi 35%. Ini mungkin kurang tepat bila Anda mengharapkan pendapatan reguler dari investasi Anda daripada pertumbuhan. Mengubah atau rebalancing portofolio keluarga dapat dilakukan dengan menjual sebagian dari saham dan membeli obligasi. Hal ini dilakukan untuk kembali pada pola portofolio perencanaan awal yang sesuai dengan kebutuhan dan prioritas tujuan.

Demikianlah beberapa hal yang berkaitan dengan alokasi aset dana yang Anda tempatkan untuk berbagai prioritas tujuan keuangan, sebaiknya digabung menjadi satu portofolio keluarga. Sesuaikan instrumen investasi dengan prioritas tujuan dan tentunya toleransi risiko Anda. Bila terjadi perubahan, dan kami sangat yakin akan berubah, maka ada baiknya bila Anda secara berkala merebalancing portofolio keluarga agar tetap sesuai dengan kondisi, prioritas tujuan dan toleransi Anda terhadap risiko. Semoga bermanfaat.*

*M. Ichsan dapat dihubungi melalui email: ichsan02@yahoo.com

toko-delta.blogspot.com

Archives

Postingan Populer

linkwithin

Related Posts with Thumbnails

Total Tayangan Halaman

Diberdayakan oleh Blogger.