toko-delta.blogspot.com

menu

instanx

Tampilkan postingan dengan label USWATUN HASANAH. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label USWATUN HASANAH. Tampilkan semua postingan

Minggu, 30 Januari 2011

Bercinta itu indah dan nikmat


agama Islam memerintahkan manusia untuk bercinta menyerukan dan menganjurkan kita kepada kecintaan. Sabda Rasul :
"Cintailah Allah. Karena Dia yang mencurahkan nikmat-nikmat Nya kepadamu, dan cintailah aku karena mencintai Allah, dan cintailah keluarga rumahkku karena mencintao aku" (HR Tirmidzi)

berdasarkan sabda Rasul di atas, maka Islam memerintahkan manusia agar mencintai Allah mencintai Rasulullah dan keluarganya, mencintai orang dan semua makhluk Allah. Perasaan cinta itu bukanlah hal yang tercela dan tidak salah. Cinta adalah tanda kehidupan di masyarakat. Manusia akan bingung di dalam kehidupan bila kehilangan cinta, sebab cinta itu jiwa bagi iman dan amal.

Dengan rasa cinta maka diciptakan alam semesta, bumi, langit dan segala isinya. Atas dasar rasa cinta pula segala makhluk Allah di beri fithrah. Bahkan cinta bisa menjadi obat yang dapat menghilangkan penyakit, yang bersarang di hati. Kebahagiaan manusia pun akan bisa diraih dan dirasakan bagi manusia yang bercinta.

Namun cinta juga bisa membawa bencana dan kecelakaan apabila keliru menempatkannya. Apabila manusia keliru menyerahkan cintanya kepada yang bukan forsinya. Maka Allah memberikan peringatan keras, sebagai berikut:
QS At-Taubah: 24:
”Katalanlah, jika Bapak-bapakmu, dan anak-anakmu, dan pasangan-pasanganmu, dan kaum keluargamu, dan harta benda yang kamu usahakan,dan perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya adalah lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya serta jihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan.. Dan Allah tidak menyukai orang-orang yang fasik”


Cinta yang bisa menjadi bencana adalah cinta buta, yang tidak peduli adanya rambu-rambu akhlaq karimah dan etika. Cinta yang bukan karena Allah adalah bencana. Amalan-amalan yang tidak didasari iman kepada Allah adalah sia-sia. Laki-laki dan wanita yang bercinta bukan karena Allah, bukan karena menikah, tapi karena selingkuh adalah bencana besar dan tercela. Tetapi suami Istri yang bercinta karena Allah, karena nikah adalah cinta indah dan nikmat.

Itulah sebabnya Islam mengajarkan beramal lah karena iman dan bercinta lah karena Allah. Cinta karena Allah itu indah dan nikmat.

Cintailah keindahan, karena Allah itu Indah. Barang siapa yang mencintai keindahan maka sesungguhnya mencintai Allah sebab Allah maha Indah.

Cintailah kemuliaan, karena kemuliaan itu milik Allah, Barang siapa yang mencintai kemuliaan, maka sesungguhnya dia mencintai Allah, karena Allah maha mulia.

Cintailah keadilan, karena keadilan itu milik Allah. Barangsiapa mencintai keadilan, maka sesungguhnya dia mencintai Allah, karena Allah itu maha adil.

CIntailah Ibadah, karena ibadah itu mengabdi kepada Allah, tunduk kepada Allah dan mencintai Allah. Barang siapa yang mencintai ibadah, sesungguhnya dia mencintai Allah, karena Allah itu Maha Cinta, Maha Pengasih, Maha Penyayang.

Mengapa kita diperintahkan mencintai Allah?
Sabda rasul di atas memberi alasan karena Allah telah mencurahkan nikmat-nikmat kepadamu. Allah lah yang memberi segala kenikmatan yang sangat banyak. Karena sangat banyaknya nikmat Allah itu, sehingga tidak bisa dihitung berapa jumlahnya, walaupun menghitungnya dengan komputer yang canggih. Allah berfirman :
QS Ibrahim: 34. Dan Dia telah memberikan kepadamu (keperluanmu) dan segala apa yang kamu mohonkan kepadanya. Dan jika kamu menghitung ni'mat Allah, tidaklah dapat kamu menghinggakannya. Sesungguhnya manusia itu, sangat zalim dan sangat mengingkari (ni'mat Allah).

Meskipun nikmat Allah tidak dapat dihitung, maka berbahagialah orang orang yang menyadari akan banyaknya nikmat Allah itu. Dia yakin bahwa Allah benar benar Maha Pengasih. Maha Penyayang. Meskipun Allah mencurahkan nikmat begitu banyak. Allah tidak meminta imbalan yang aneh aneh. Allah hanya meminta hamba hamba NYa beribadah pada Nya.

Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus.(Al Bayyinah : 5)


Maka barang siapa yang beribadah, shalat, zakat, berakhlak baik, melaksanakan perintah Allah dengan ajeg selama hidupnya. Berarti orang itu mencintai Allah dan Rasul Nya. Itulah orang yang jatuh cinta. Orang yang jatuh cinta akan merasa rindu dan ingin bertemu. Bila sudah bertemu ingin berlama-lama akrab berbicara.

Rasa cinta, rindu ingin bertemu pasti timbul rela berkorban, berkorban apa saja. Seorang hamba yang mencintai Allah selalu rela berkorban. Itulah tandanya mabuk cinta. Di waktu malam yang mestinya tidur, kemudian menuju kamar mandi, berwudhu, kemudian berpakaian rapi, menuju ke tempat sujud, shalat malam berdialog akrab sekali dengan yang dicintai. Rasanya nikmat dan indah. Demikianlah bahwa bercinta itu indah dan nikmat.

Buah mencintai Allah

Puncak kenikmatan yang paling tinggi adalah mencintai Allah. Karena Allah itu sebagai obyek pertama "prima causa" dari Alam raya ini. Barang siapa yang mencintai Allah, Allah akan membalas cintanya. Barang siapa yang di cintai Allah segala masalah yang di hadapi meskipun berat akan menjadi ringan. Perasaan takut akan hilang dan aman. Kesulitan dan kesedihan akan cepat berganti kesengangan yang diridhoi Nya.

Allah selalu melindungi mengawasi dan menjaga seluruh anggota jasmani dari perbuatan yang tercela. Lisan akan sangat mudah berdzikir mengingat Allah, doa doa akan dikabulkan. Karena selalu menyebut nama nama Nya. Allah akan memudahkan segala urusan, lahir batinnya yang menjadi tujuan hidupnya hanya untuk mencari ridho Nya. karena diridhoi Allah tentu saja dosa dosanya akan diampuni. Seperti firman Allah Katakanlah: "Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu". Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Ali Imran :31)

Sabtu, 29 Januari 2011

Tanggung jawab orang tua kepada anaknya

 
Dan ingatlah ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya :"hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah sesungguhnya mempersekutukan Allah adalah benar-benar kezaliman yang besar" (Luqman : 12)



Setiap orang pasti menginginkan hal-hal yang baik bagi anaknya. Keduanya rela mengeluarkan dana cukup besar untuk kebaikan dan kesuksesan anak-anaknya. Tenaga, pikiran, ototnya, bahkan hingga darahnya rela di korbankan demi kebahagian sang anak. Inilah fitrah.

Hanya saja banyak orang tua tidak paham terhadap posisinya sebagai orang tua. Rata-rata orang tua tidak membekali diri dengan ilmu bagaimana cara mendidik anak yang baik. Mereka tidak tau harus memulai dari mana. Semua terjadi begitu saja. Mereka menjadi orang tua karena didepannya sudah ada anaknya. Sudah terlahir.

Anak ibarat anak panah yang berada dalam genggaman orang tuannya masing masing. Ia siap diarahkan kemana saja oleh orang tuanya. Jika orang tuannya mengerti tujuan tujuan hidup yang di gariskan oleh Allah maka anaknya pun diarahkan sebagaimana apa maunya Allah. Sebaliknya jika orang tua tidak tau arah, tidak mengerti tujuan hidup, tidak tau untuk apa ia hidup dan memiliki anak, maka sungguh sang anak betul betul dalam bahaya besar. Repotnya kebanyakan orang tua pada zaman sekarang adalah model orang tua seperti ini. Sehingga anak tidak terarah dan tidak terkendali.

Anak lebih banyak diarahkan agar dapat bertahan hidup, agar punya pekerjaa tetap dan punya tempat tinggal yang layak. Tanggung jawab orang tua terhadap anaknya telah kehilangan orientasi. Rata-rata hanya siap mengantarkan anak mampu mencari nafkah, mampu berkeluarga dan pemenuhan perkara-perkara duniawi lainnya. Hal ini terlihat jelas dari gaya mendidiknya. Ketika anak berusia tujuh tahun dan belum bisa membaca, mereka menjadi bingung dan kelimpungan. Namun ketika anak belum bisa shalat, mereka merasa biasa-biasa saja. Tidak ada perasaan bersalah. Banyak harta dikeluarkan untuk biaya privat yang macam macam. Mereka bersedia membayar mahal agar anaknya bisa menguasai bahasa Inggris. Matematika, Piano, Balet, dll. Namun merasa kemahalan ketika di minta membayar SPP Rp 20.000,-di TPQ. Naudzubillah !

Apa jadinya anak di kemudian hari adalah hasil didikan orang tua sebelumnya.

Abu Hurairah berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda : "setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah (yaitu suci dan bersih) Kedua orang tuanyalah yang membuat menjadi Yahudi, Nasrani, atau Majusi." (HR. Bukhori Muslim)

Jadi jelaslah bahwa pengaruh orang tua sangatlah besar dalam pembentukan pribadi anak-anaknya. Kemudian apa saja tanggung jawab orang tua terhadap anak, agar anak tersebut tidak menjadi musuh bagi orang tua dan musuh bagi Allah.

1. Memberikan pendidikan yang benar.

Anak ibarat kaset kosong. Bisa juga di ibaratkan seperti sebuah buku yang masih putih bersih, belum ada tulisannya sama sekali. Nah orang tuanya lah yang bertanggung jawab untuk menorehkan tinta kebaikkan padanya.

Apakah kita akan menuliskan kalimat yang baik-baik atau sebaliknya justru menuliskan kalimat yang buruk-buruk. Jangan artikan kalimat yang baik jika mengantarkan anak hingga bisa kuliah S1, S2, S3. Atau telah menjadikan mereka orang kaya yang berkecukupan. Salah besar ! Bahkan semua itu adalah perkara nomer dua bila dibandingkan dengan keimanan.

Adapun bagaimana pendidikan yang benar menurut Allah? Allah telah memberi contoh dengan Lukman al Hakim Dalam Al Quraan.

Allah berfirman: Dan ingatlah ketika lukman berkata kepada anaknya. Diwaktu ia memberi pelajaran kepadanya: "hai anakku janganlah kamu mempersekutukan Allah. Sesungguhnya mempersekutukan Allah adalah benar-benar kezaliman yang besar (Lukman : 12)

ya hal pertama yang harus dikenalkan orang tua terhadap anak anaknya adalah mengenalkan mereka kepada Allah. Mendidik mereka agar mentauhidkan Allah. Dan tidak menyekutukan NYA. Mendidiknya menjadi anak yang sholeh. Anak sholeh yang di maksud adalah anak yang mengenal Allah dan agama NYA. Dan segala hal yang wajib ia imani dan amalkan, terkait dengan kewajibannya sebagai hamba Allah. Agar juga mereka menjadi anak yang berbakti kepada orang tuannya. Memberi manfaat bagi orang disekitarnya.

Pendidikan ini tidak bisa diberikan sambil lalu. Ia harus mendapatkan penekanan dan perhatian khusus. Karena itu anak harus mendapatkan nasihat yang berulang-ulang agar mau menoleh dan menurut terhadap apa yang dikatakan orang tua.

Sayangnya orang tua masa kini hanya berorientasi menjadikan anaknya menjadi orang saja. Artinya mempunyai kedudukan, punya pekerjaan tetap, mandiri dll

2. Membiasakan dan memberi contoh yang baik

Anak adalah peniru paling mahir. Apa saja yang ia lihat dan ia dengar dengan cepat akan diadopsi dan ditiru. Kalau kita memberi contoh yang baik maka anak pun akan mencontohnya namun jika kita mencontohkan yang tidak baik maka anak pun akan meniru yang tidak baik tersebut.

Karena itu disamping memberi nasihat yang baik orang tua harus pula mencontohkannya, membiasakannya sehingga menjadi karakter sejati pada diri anak. Orang tua akan kesulitan mentransfer nilai-nilai kebaikan jika tidak ada pembiasan dari orang tua itu sendiri.

Jika kita ingin anak kita rajin shalat maka anak harus sering melihat kita sedang mengerjakan shalat, Jika kita ingin mereka terbiasa membaca Al Quraan maka kita pun harus rajin membaca Al Quraan. Tidak mungkin kita menyuruh anak berangkat kemasjid untuk shalat sedang saat itu kita asyik menonton TV. Mungkin kita bisa memaksanya dengan ancaman. Namun ketika kita tidak ada dan mereka tidak terawasi maka mereka akan meninggalkan apa yang kita perintahkan.

Jika kita ingin mereka bersikap sopan dan santun tutur katanya. Maka kita pun harus mencontohkan dan membiasakan dengan tutur kata yang santun. Kita harus mampu mengendalikan ucapan kita. Jangan sekali kali keluar kata-kata yang kasar. Contohkan kata-kata yang santun di hadapan kakek nenek mereka. (bapak ibu kita) Jika terhadap bapak dan ibu sering berkata kasar maka mereka anak-anak kita pun akan berkata kasar pada kita.

Dalam hal ini Allah telah mengajarkan dalam firmannya. "dan Tuhan mu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain DIa dan hendaklah kamu berbuat baik terhadap ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduannya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali jangan kamu mengatakan kepada keduanya perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan ucapan penuh kesayangan dan ucapkanlah:"Wahai Tuhanku kasihilah mereka keduanya sebagai mana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil" (Al Isro' 23-24)



3. Memberikan lingkungan yang mendukung.
Setelah kita memeberikan pendidikan yang baik. Membiasakan dengan kebiasaan yang baik dan memberi contoh yang baik pula. Maka kita selanjutnya harus memilih bagi mereka lingkungan yang baik pula. Pepatah mengatakan anak adalah anak dari lingkungannya. Jika lingkungan disekitar anak baik maka jadi baiklah anak tersebut. Namun jika lingkungannya buruk maka menjadi buruklah anak tersebut.

Coba kita bayangkan ! Kita telah mendidik mereka dengan didikan yang baik. Juga memberi contoh yang baik. Tetapi kita memilih tinggal di kawasan lokalisasi (pelacuran) Setiap hari terdengar dentuman musik penggoda iman, rinkikan wanita wanita jalang dan lalu lalang lelaki hidung belang. Maka nantinya anak kita tidak akan jauh prilakunya dari lingkungannya.

Karena itu kita harus memilih untuk mereka lingkungan yang mendukung terhadap pertumbuhan keimanannya. Insya Allah jika kita lakukan tiga proses di atas, anak anak kita menjadi anak yang shalih.
 http://klikunic.com

Taubat

8. Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nasuhaa (taubat yang semurni-murninya). Mudah-mudahan Rabbmu akan menutupi kesalahan-kesalahanmu dan memasukkanmu ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, pada hari ketika Allah tidak menghinakan Nabi dan orang-orang mukmin yang bersama dia; sedang cahaya mereka memancar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, sambil mereka mengatakan: "Ya Rabb kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kami dan ampunilah kami; Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu." (Qs At Tahrim 8 )



Ayat tersebut menghimbau kepada orang-orang yang percaya atau orang yang beriman, agar bertaubat kepada Allah dengan benar-benar taubat maka Allah akan memberikan bonus berupa penghapusan segala kesalahan-kesalahan atau menghapuskan dosa-dosa dan memasukkan kedalam suatu tempat yang penuh dengan nikmat yaitu surga yang didalamnya penuh dengan fasilitas-fasilitas yang sangat menyenangkan. 


Taubat berasal dari kata kerja-taba, ya tubu = rujuk atau kembali, jadi yang dimaksud dengan taubat ialah kembali dari kemaksiatan kepada jalan yang benar, menghilangkan dosa-dosa yang pernah dikerjakan, menjauhkan diri dari perbuatan maksiat. Orang yang bertaubat itu berarti orang yang telah melakukan dosa dan kembali tidak melakukan dosa. Dosa memang mengakibatkan seseorang menjauh dari posisi semula, baik kedekatan posisinya terhadap Allah maupun kedekatannya dengan sesama manusia.


Ketika nabi Adam dan Hawa berada di surga. Allah menyampaikan pesan.
"Hai Adam, diamilah oleh kamu dan isterimu surga ini, dan makanlah makanan-makanannya yang banyak lagi baik dimana saja yang kamu sukai, dan janganlah kamu dekati pohon ini, yang menyebabkan kamu termasuk orang-orang yang zalim.( Al Baqarah 35)


Namun keduanya melanggar apa yang telah menjadi perintah Allah. Karena berdosa memakan buah pohon itu. Dengan melanggar itu Allah menyerukan keduanya
maka syaitan membujuk keduanya (untuk memakan buah itu) dengan tipu daya. Tatkala keduanya telah merasai buah kayu itu, nampaklah bagi keduanya aurat-auratnya, dan mulailah keduanya menutupinya dengan daun-daun surga. Kemudian Tuhan mereka menyeru mereka: "Bukankah Aku telah melarang kamu berdua dari pohon kayu itu dan Aku katakan kepadamu: "Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi kamu berdua?"(QS Al-A'raf 22)


Kesan dalam dua ayat tersebut bahwa sebelum terjadinya peanggaran Allah bersama Adam dan Hawa berada pada satu posisi berdekatan yaitu masing-masing tidak jauh dari pohon itu. Ketika Adam dan Hawa melanggar mereka beruda menjauh dari posisi semula, dan Allah pun demikian, sehingga Allah menyeru mereka dari tempat yang jauh. Disini terlihat antara Allah dan Adam masing-masing menjauh. Tetapi Adam dan Hawa bertaubat. Maka mereka dekat kembali.


Funsi Taubat yaitu penghapus dosa. Sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah. Taubat baru di anggap sah apabila menemui syarat-syarat. Menyangkut hak Allah yakni menyesal karena terlanjur berbuat dosa, berhenti dari perbuatan maksiat dan berkeinginan dan merkemauan yang sungguh-sungguh tidak akan mengulangi lagi perbuatan maksiat. Firman Allah SWT


Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui.(QS Ali Imran 135)

Adapun kesalahan yang berhubungan dengan sesama manusia jika kesalahan itu menyangkut hak milik misalnya mengambil harta milik orang lain hendaknya harta itu dikembalikan pada pemiliknya.  Atau ahli warisnya. Rasulullah di dalam hadits nya mengatakan

Barang siapa yang mengambil hak orang lain walau sejengkal tanah, akan dikalungkan padanya tujuh bukit (HR Ahmad, Bukhori, dan Muslim)



Apabila kesalahan itu yang menyangkut kehormatan pribadi, mencaci maki merusak nama baik dengan memfitnah, menghina, membuka aib di depan orang, menyakiti secara fisik, maka segera diselesaikan dengan cara minta maaf kepada yang bersangkutan baik secara langsung maupun pernyataan terbuka lewat pers, maupun alat-alat elektronik dengan demikian akan menghapuskan dosa yang pernah di perbuat terhadap sesama manusia.Atau orang yang di dolimi bersikap proaktif mengambil inisiatif meminta maaf kepada orang yang mendolimi justru lebih baik dan lebih berkesan pada diri orang yang mendolimi, Sebagaimana Rasulullah ketika diusir, dianiaya diludahi, Rasulullah berlapang dada memaafkan orang yang bersikap aniaya terhadap dirinya. Walaupun sikap atau perbuatan itu sangat-sangat menyakiti dirinya dan keluarganya. Firman Allah SWT

Hai orang-orang mukmin, sesungguhnya di antara isteri-isterimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka dan jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka) maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS Attaghabun 14)


Dan janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kamu bersumpah bahwa mereka (tidak) akan memberi (bantuan) kepada kaum kerabat(nya), orang-orang yang miskin dan orang-orang yang berhijrah pada jalan Allah, dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang, (QS Annur 22)


(Tetapi) karena mereka melanggar janjinya, Kami kutuki mereka, dan Kami jadikan hati mereka keras membatu. Mereka suka merubah perkataan (Allah) dari tempat-tempatnya, dan mereka (sengaja) melupakan sebagian dari apa yang mereka telah diperingatkan dengannya, dan kamu (Muhammad) senantiasa akan melihat kekhianatan dari mereka kecuali sedikit diantara mereka (yang tidak berkhianat), maka maafkanlah mereka dan biarkan mereka, sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.(QS Al Maidah 13)




Kata Alafwa berarati keterhapusan. Memaafkan berarti menghapuskan luka atau bekas-bekas luka yang ada di dalam hati.


Kesan ayat tersebut adalah anjuran untuk tidak menanti permohonan maaf dari orang yang bersalah atau berbuat dolim terhadap kita melainkan kita diperintah bersikap proaktif. Memberi maaf sebelum di perintah oleh orang yang melukai kita. Oleh karena itu Dengan sikap demikian kita mendapat ampunan dari Allah , dan disenangi oleh Allah, ayat tersebut tidak sekedar mita maaf, dan memaafkan pada orang yang mendolimi, kita. Tetapi kita juga harus berlapang dada.

Dalam Al-Quraan di sebut al-shaf ini lebih tinggi posisinya bukan sekedar memaafkan tetapi lebih dari itu. Demikian bagi yang merasa mempunyai kekayaan, mempunyai kedudukan jabatan sehingga bertindak sewenang-wenang terhadap bawahan. Memecat, mengsengsarakan anak istri yang di dolimi, sehingga nama baiknya menjadi tercemar di mata masyarakat.


Apabila merasa demikian harus bersikap proaktif dengan menghilangkan rasa sombong dan angkuh karena sebelumnya mempunyai posisi, setelah tidak punya posisi segera mendatangi dengan merendah diri  meminta maaf kepada orang yang di dolimi dengan lapang dada, hati yang ikhlas sebelum berhadapan dengan Allah pada hari kiamat kelak, atau keluarga yang di tinggalkan harus terus mencoba mencari untuk meminta di maafkan. Apabila hal ini tidak dilakukan baik yang bersangkutan maupun keluarganya. Maka kita dan manusia menjadi orang yang bangkrut. di hadapan Allah swt.


Yang dimaksud dengan manusia yang bangkrut ialah manusia yang mendholimi orang lain, kemudian tidak meminta maaf kepada yang di dholimi sampai wafat maka. Pada hari kiamat amal atau ibadahnya yang berupa amal shalehnya di dunia di berikan kepada orang yang di dolimi. Demikian dosa bagi orang yang di dholimi. Dibebankan kepada yang mendolimi Sebagaimana Rasullulah SAW


 Barang siapa berubat dhalim kepada seseorang  baik berupa kehormatan diri atau harta atau lainnya hendaknya segera minta halal (maafnya) sekarang juga, sebelum datang suatu hari yang tidak harta. (di akhirat perbuatan zhalim tidak bisa ditebus dengan harta) Jika mereka mempunyai amal shaleh. Maka akan di ambil menurut (kadar) penganiayaannya dan ketika tidak mempunyai amal shaleh/atau kebaikan. Maka diambilkan dari kejahatan orang yang dianiaya untuk ditangguhkan kepadanya

toko-delta.blogspot.com

Archives

Postingan Populer

linkwithin

Related Posts with Thumbnails

Total Tayangan Halaman

Diberdayakan oleh Blogger.