toko-delta.blogspot.com

menu

instanx

Tampilkan postingan dengan label rab a broto. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label rab a broto. Tampilkan semua postingan

Rabu, 12 November 2008

Multi Stimulus Hasilkan Pengalaman Belajar Efektif

Oleh Rab A. Broto


Mengingat masa kecilnya yang hanya menunjukkan kemampuan akademik pas-pasan, mungkin tidak ada orang menyangka bahwa Albert Einstein, akan bisa sukses dan terkenal dalam hidupnya. Apalagi menjadi mahaguru fisika dan penemu Teori Relativitas.

Cerita yang nyaris sama juga terjadi pada Thomas Alva Edison, penemu lampu listrik, yang bahkan di masa anak-anaknya disebut oleh sebagian guru di sekolahnya sebagai idiot karena kesukaran belajar sehingga sempat beberapa kali pindah sekolah.

Daftar tentang anak-anak yang sebetulnya termasuk cerdas namun tidak dapat berprestasi di sekolah ini pasti bisa Anda perpanjang sendiri dengan cerita dari lingkungan sekitar. Denomena seperti ini sudah sangat lazim ditemui dalam kehidupan sehari-hari.

Dari pengalaman praktiknya, Seto Mulyadi, pakar psikologi anak, mengungkapkan sering menjumpai anak semacam ini. Oleh orangtuanya anak-anak ini dikeluhkan sebagai bodoh, nakal, atau sulit belajar.

"Menurut penelitian ada sekitar 15%-40% anak, kebanyakan laki-laki, yang tampil kurang bersemangat, tidak tertarik pada mata pelajaran di sekolah, atau cenderung mudah putus asa," kata Seto yang juga dosen di Universitas Tarumanegara ini.

Dalam kondisi yang agak berbeda, pada prinsipnya orang dewasa sebenarnya juga mengalami pesoalan menipisnya motivasi belajar. Dengan bertambahnya usia ternyata terjadi learning shutdown yang menguras banyak tenaga kreatif manusia.

"Proses penghancuran kreativitas itu memang terjadi begitu anak masuk sekolah pada usia sekitar lima tahun. Saat awal ketika citra negatif diri mulai terbentuk akibat adanya kritik atau komentar negatif dari lingkungan," kata Seto.

Jack Canfield, psikolog yang meneliti masalah kepercayaan diri, berdasar risetnya tahun 1982 pada 100 anak menemukan bahwa setiap anak dalam sehari rata-rata mendapat 460 komentar negatif dan 75 komentar positif.

"Umpan balik negatif berkesinambungan ini sangat berbahaya karena setelah beberapa tahun sekolah 'kemadekan belajar' yang sesungguhnya benar-benar terjadi."

Anak-anak, lanjutnya, menghalangi atau menutup diri dari pengalaman belajarnya secara tidak sadar. Mulai saat itu, kata Canfield, belajar menjadi tugas berat dan keraguan semakin tumbuh dalam diri sehingga orang mulai mengurangi risiko sedikit demi sedikit.

Quantum Learning
Padahal menurut Marian Diamond, peneliti otak yang telah berpengalaman lebih dari 30 tahun, pada umur berapapun kemampuan mental manusia sebenarnya masih bisa dioptimalkan. "Makin terangsang otak dengan aktivitas intelektual dan interaksi lingkungan, makin banyak kemampuan yang berkembang."

Optimalisasi kemampuan mental manusia ini dapat dilihat dengan jelas pada anak yang belajar berjalan. Dia pasti jatuh bangun berkali-kali, namun tak ada orang mengkritik atau berkomentar negatif melainkan memberi dorongan dan semangat untuk mencoba lagi.

Dalam waktu satu tahun anak biasanya sudah sanggup berjalan. Padahal berjalan adalah sebuah rangkaian gerak yang sangat kompleks baik secara fisik maupun neurologis. Begitu pula saat usia dua tahun anak mulai belajar berbahasa.

Dalam lima tahun, anak mengetahui sekitar 90% dari semua kata yang biasa digunakan oleh orang-orang dewasa. Ajaibnya, semuanya bisa dilakukan tanpa mempelajari buku tatabahasa atau kurikulum yang sistematik.

Menurut Bobbi DePorter, pakar pendidikan, optimalisasi kemampuan mental itu bisa dimunculkan lagi melalui pendekatan baru yang disebut Quantum Learning (QL). "Pendekatan ini berupa seperangkat metode dan falsafah belajar yang efektif untuk semua tipe orang segala usia."

Pendekatan QL yang disebut juga accelerated learning (pemercepatan belajar), lanjut Bobbi, memadukan keterampilan dalam hidup, keterampilan akademik, dan prestasi mengatasi tantangan fisik untuk mencapai sukses.

Pendekatan QL berakar pada upaya Georgi Lozanov, pendidik berkebangsaan Bulgaria, yang bereksperimen dengan suggestology atau suggestopedia. Prinsipnya sugesti dapat dan pasti mempengaruhi hasil situasi belajar dan setiap detil apapun memberi sugesti positif maupun negatif.

Beberapa teknik yang diterapkan Lozanov untuk menimbulkan sugesti positif adalah mendudukan murid secara nyaman, memasang musik latar di dalam kelas, meningkatkan partisipasi individu, dan menempel poster berisi kata mutiara untuk menyemangati dan menonjolkan informasi.

Pendekatan QL secara prinsip merupakan metode yang memungkinkan siswa mempelajari sesuatu secara cepat dengan upaya normal yang dibarengi kegembiraan. "Hal terpenting dari QL adalah belajar 'bagaimana cara belajar'."

Cara ini menyatukan unsur-unsur seperti hiburan, permainan, warna, cara berpikir positif, kebugaran fisik, dan kesehatan emosional yang sekilas tampak tidak berhubungan namun ternyata bekerja sama untuk menghasilkan pengalaman belajar yang efektif.

Musik berperan
Pendekatan QL, ungkap Bobbi, mencakup aspek penting dalam program neurolinguistik (NLP) yaitu suatu penelitian bagaimana otak mengatur informasi. Suatu program yang meneliti hubungan bahasa dan perilaku.

"Para pendidik dengan pengetahuan NLP mengetahui bagaimana menggunakan bahasa positif untuk meningkatkan tindakan positif yang merupakan faktor penting untuk merangsang fungsi otak yang paling efektif untuk belajar."

Selain itu selama belajar yang merupakan pekerjaan mental berat, lanjutnya, tekanan darah naik, frekuensi gelombang otak meningkat, dan otot-otot menjadi tegang. Hal ini tidak bisa diatasi dengan relaksasi meskipun cara ini bisa menguranginya.

"Namun dalam kondisi deeply relaxed sangat sukar untuk berkonsentrasi yang sangat diperlukan saat belajar. Sebaliknya sangat sukar melakukan relaksasi dalam keadaan konsentrasi penuh."

Penelitian Lozanov menunjukkan jenis musik tertentu bisa membuat orang menjadi setengah rileks sehingga tetap mampu berkonsentrasi atau relaxed focus. Jenis musik paling kondusif untuk belajar ini adalah musik barok seperti karya Bach, Handel, Pachelbel, dan Vivaldi.

Saat belajar, belahan otak kiri yang proses berpikirnya bersifat linear, logis, sekuensial, dan rasional, diaktifkan. Sedangkan proses berpikir otak kanan yang bersifat acak, tidak teratur, intuitif, dan holistik, tidak.

"Belahan otak kanan yang dibiarkan inilah yang sering mengganggu konsentrasi saat belajar [dengan membuat orang berkhayal]. Di sinilah musik berfungsi, yaitu merangsang otak kanan sehingga tidak mengganggu kinerja otak kiri.

Penggunaan unsur estetika, khususnya musik ini, kata dia, diperlukan karena sebagian besar komunikasi, mulai pendidikan, bisnis, sampai sains, diungkapkan secara verbal atau tertulis yang merupakan spesialisasi kemampuan otak kiri.

"Untuk menyeimbangkan kecenderungan masyarakat yang terlalu mengutamakan penggunaan otak kiri inilah yang mendasari perlunya penggunaan unsur estetika dalam pengalaman belajar, selain memberikan umpan balik positif pada diri anak didik."

Semua itu, lanjut Bobbi, menimbulkan siklus emosi positif-kekuatan otak-keberhasilan-kehormatan diri, "Siklus aktif ini akan dapat mengangkat Anda lebih tinggi dan lebih tinggi lagi." Apalagi, kata dia, hal pertama yang dilakukan adalah mempelajari keterampilan belajar mendasar seperti cara mencatat, menghafal, dan membaca cepat.

*Rab A. Broto adalah penulis dan editor alumni Lembaga Penelitian, Pendidikan dan Pengembangan Yogyakarta (LP3Y) dengan pengalaman 10 tahun. Sebelumnya, ia bekerja sebagai wartawan dan redaktur di Harian Ekonomi Bisnis Indonesia. Hingga kini ia telah menulis 2.000 straight news (berita pendek ekonomi, politik dan budaya), 400 features (ekonomi, psikologi, iptek dan kesehatan), 5 makalah seminar dan buku Parent Guide (bagian dari paket pendidikan anak My First One Year Activity Book produksi Pustaka Lebah). Kini Rab A. Broto adalah ketua dewan redaksi pada majalah bulanan Indonesian Tax Review Digest dan Buletin Bee Parent yang diterbitkan Lembaga Manajemen Formasi. Ia dapat dihubungi melalui e-mail: nauram@yahoo.com.

Pola Piramida + Keserakahan = Korban

Oleh Rab A. Broto


Konon keledai pun tidak akan mau terjerumus dua kali ke lubang yang sama. Tapi entah mengapa peribahasa itu sepertinya tak berlaku bagi masyarakat investor di berbagai daerah Indonesia yang dalam lima tahun terakhir entah untuk ke berapa kalinya terjerumus dalam kasus sama.

Investor jadi korban karena tergiur iming-iming mendapatkan untung besar dan cepat sejak dari praktik penggandaan uang, bank gelap, pencarian harta karun raja-raja di Nusantara sampai bisnis bagi keuntungan. Sering kebuntungan itu hanya jadi rentetan kisah sedih yang terpapar di media massa.

Akibatnya sampai kini dana berbilang triliun rupiah milik puluhan ribu investor itu terkatung-katung nasibnya. Korban biasanya tak bisa banyak menuntut karena aset pemberi janji—yang mestinya merupakan kumpulan modal yang disetor banyak orang—telah mengkeret jauh bahkan bagai hilang tak berbekas.

Simak kasus Qurnia Subur Alam Raya (QSAR), Pohon Mas (Pomas), Pro Best, sampai skandal Bank Global. Yang terbaru tak jelasnya nasib dana senilai jutaan dolar yang menurut agen pemasaran Trust Property, Singapura, diinvestasikan pada pembangunan hotel dan resort di Pulau Hainan serta perkebunan lengkeng di Huazhou, China.

Dalam banyak kasus para pelaku kunci biasanya melarikan diri—dan aset usahanya—yang seketika membuat investor blingsatan dan bahkan memicu rusuh massal. Masih segar dalam ingatan saat sebagian kota Pinrang, Sulawesi Selatan, hangus. Juga ketar-ketirnya warga Medan, Surabaya, Jakarta, serta beberapa kota besar lainnya.

Proses itu diawali pemberian keuntungan—setelah korban menyetor modal—yang semula lancar tapi lambat laun kian seret dan mandek. Saat modal akan ditarik, biasanya sudah macet total. Entah itu karena usahanya [yang benar-benar ada] tak bisa memberi tingkat keuntungan sesuai janji maupun proses ‘gali lubang tutup lubang’ sudah mentok.

Jelasnya administrasi usaha mulai kacau dan yang terpenting, setoran modal yang didapat dari nasabah baru yang bergabung dalam bisnis, nilainya sudah tidak mencukupi untuk membayar bonus maupun bagi hasil kepada nasabah yang bergabung sebelumnya. Sistem mulai runtuh karena ‘makin besar pasak, kian mengkerut tiang pendukungnya’.

Misterius malah efektif
Karena itu beruntunglah investor bila masalah ‘tipu-tipu’ ini sudah bisa diendus sejak awal sehingga bisa diselesaikan secara damai maupun ditangani polisi dan diajukan ke pengadilan. Yang sering terjadi investor hanya bisa sekadar menyesali nasib dan tak tahu harus mengadu ke mana.

Modus penawaran bisnis dengan menyetor modal dengan janji pembagian keuntungan atau menyimpan uang dengan rate bunga per bulan yang jauh di atas bunga deposito itu tampaknya akan tetap marak di masa mendatang. Sepertinya tetap ada saja orang ‘pintar’ yang pandai membujuk dan berani menempuh risiko melanggar hukum demi keuntungan besar yang akan diraih.

Mereka sepertinya sudah sangat tahu profil psikologi investor lokal yang belum rasional. Artinya ikut berbisnis atau menyetor modal dengan [hanya] berpedoman pada naluri, ikut-ikutan, tak terbiasa meganalisis detil situasi dan kondisi sektor usahanya, bahkan percaya pada aspek mistik dari investasi yang ditawarkan.

Proposal sistem investasi—yang dalam sejumlah kasus—sengaja dikesankan misterius ini terbukti malah efektif guna menarik perhatian dan menyihir khalayak. Dalam proses yang hanya memperkaya segelintir orang itu,salah satu perusahaan diberitakan bisa merekrut 80 anggota biasa dan 20 anggota kelas eksekutif dalam hitungan bulan.

Setiap anggota memiliki ratusan anggota lain di bawah kendalinya karena organisasinya berkedok maupun mengklaim menerapkan sistem yang lazim terjadi di bisnis MLM (Multi Level Marketing). ‘Bonus’ senilai puluhan sampai ratusan ribu rupiah akan didapat anggota bila bisa memasukkan satu nasabah yang membeli paket yang per buahnya bernilai jutaan rupiah.

Bonus ini membuat setiap anggota berupaya mendapatkan nasabah sebanyak mungkin. Sedangkan nasabah diiming-imingi duitnya akan berbiak jauh lebih cepat daripada perolehan bunga deposito yang hampir stagnan. Jadi satu lagi aspek penting yang tampaknya terlalu penting untuk tidak dimanipulasi, yaitu sifat dasar manusia yang [cenderung] serakah.

Sekte merusak
Praktik penggandaan uang yang berkedok maupun menggunakan metode atau sistem MLM menurut Steve Hassan, psikolog dan penulis Combatting cult mind control, ternyata tak ada bedanya dengan praktek sekte (cults) yang merusak.

Pengertian cults, lanjutnya, adalah sekelompok manusia yang mengorganisasi diri di sekitar figur otoritas yang kuat. Seperti banyak kelompok lain, ungkapnya, sekte juga berupaya memperluas pengaruhnya demi tujuan mendapatkan uang ataupun kekuasaan.

"Organisasi piramid maupun multi-level marketing adalah satu dari empat tipe dasar sekte yang bersifat destruktif. Motivasinya adalah komersial," katanya seraya mengatakan tiga tipe lainnya adalah sekte keagamaan, psikologis, dan politis.

Hassan mengatakan sekte tidak secara otomatis sesuatu yang jelek. Menurutnya sekte baru berkonotasi merusak saat pimpinan kelompok menerapkan cara manipulatif dan destruktif untuk mengendalikan atau menggunakan anggota kelompoknya guna mencapai agendanya sendiri.

"Sekte destruktif biasanya menggunakan gabungan teknik bujukan (influence) dan penipuan untuk mendapatkan kontrol psikologis terhadap anggota atau orang yang baru saja direkrut."

Perbedaan mendasar dengan kelompok agama yang sudah mantap ataupun gerakan sosial lain, kata dia, adalah tujuannya. Sekte, tambahnya, melayani kepentingannya sendiri karena kegiatannya semata-mata untuk memenuhi kebutuhan pemimpinnya.

Menurut psikolog yang pakar sekte Margaret T. Singer, kelompok semacam ini tumbuh subur selama periode ketidakpastian sosial dan politis. Selain itu juga saat hancurnya struktur dan aturan masyarakat yang semula diagung-agungkan.

Menyangkut krisis moral
Kondisi ini sedikit banyak sejalan dengan ungkapan A.S. Munandar, guru besar psikologi UI, bahwa meskipun Indonesia tampak sudah mulai bisa mengatasi krisis ekonomi dan politik, sampai sekarang belum tampak adanya kemajuan dalam mengatasi krisis moral.

"Padahal krisis moral lebih merugikan karena membuat kinerja seseorang kurang atau tidak bermutu akibat rendahnya pengetahuan, keterampilan, motivasi dan etik kerjanya," ungkapnya dalam seminar Membentuk angkatan kerja bermoral dan bermutu serta kaitannya dengan etika bisnis di Indonesia.

Krisis moral dalam kaitannya dengan kerja inilah yang terutama membuat produktivitas angkatan kerja Indonesia termasuk yang terendah di dunia. Moral tenaga kerja kita sangat rendah dan ini mudah kita saksikan sehari-hari.

Khususnya kesenangan untuk untuk memperoleh uang dengan dengan menyalahgunakan kekuasaan melalui jabatan yang dipegangnya. Prinsipnya senang untuk mendapatkan uang secara mudah tanpa usaha keras.

Untuk mengatasi hal ini, Munandar menyarankan perlunya dilakukan tindakan terpadu dan menyeluruh dari semua kalangan agar masyarakat, khususnya mereka yang tergolong usia kerja, menjadi lebih bermutu dan bermoral.

"Salah satunya adalah bagaimana mengubah cara dan sistem pendidikan untuk merangsang siswa bisa berpikir mandiri dan kreatif. Dengan ini siswa siap untuk menghadapi berbagai masalah di masa depan.”

Ilmu, menurut dia, bukan sekadar untuk diterima dan ditiru tapi bagaimana bisa dikuasai dan selanjutnya dikembangkan. Pendidikan hendaknya diarahkan agar lulusan siap menjadi pencipta kerja atau pekerja andal.

Kiat penanggulangan Untuk mengatasi godaan agar tidak terjerumus praktek sekte merusak yang terbukti akan terus mengancam mengandaskan kehidupan ekonomi dan kesejahteraan banyak orang itu, Hassan mengungkapkan beberapa hal yang perlu diperhatikan.

"Bila Anda berminat pada suatu organisasi, cari tahu latar belakang pimpinannya. Seperti: apakah dia memiliki catatan kriminal serta apakah dia pernah berprofesi salesman, penjual obat, penulis cerita fiksi ilmiah, ataupun pengusaha yang cenderung melanggar hukum."

Dia mengungkapkan tidak ada hal yang salah secara mendasar pada semua profesi itu. Tapi, tambah dia, tampaknya ada persamaan umum bahwa semuanya adalah profesi yang sering menggunakan bujukan.

"Semua profesi itu memberi bekal istimewa untuk berkarir sebagai pemimpin spiritual," ujar Hassan seraya mengatakan banyak pemimpin sekte belajar trik-trik memanipulasi orang pada profesi atau karir yang dijalani sebelumnya.

Sedangkan menyangkut struktur kekuasaan dalam organisasi, katanya, sekte punya satu pemimpin otoriter yang menuntut pengabdian total anggota. Dalam sekte komersial yang merusak, strukturnya berbentuk piramid yang mana orang yang di puncak menjadi penangguk untung terbesar.

"Pertanyaan terpenting yang harus ditanyakan pada diri sendiri adalah apakah Anda merasa direkrut untuk menjadi anggota. Agar tidak terjebak, langkah perekrutan ini perlu diwaspadai karena seringkali dilakukan meski tidak selalu terjadi."

* Rab A. Broto adalah penulis dan editor alumni Lembaga Penelitian, Pendidikan dan Pengembangan Yogyakarta (LP3Y) dengan pengalaman 10 tahun. Sebelumnya, ia bekerja sebagai wartawan dan redaktur di Harian Ekonomi Bisnis Indonesia. Hingga kini ia telah menulis 2.000 straight news (berita pendek ekonomi, politik dan budaya), 400 features (ekonomi, psikologi, iptek dan kesehatan), 5 makalah seminar dan buku Parent Guide (bagian dari paket pendidikan anak My First One Year Activity Book produksi Pustaka Lebah). Kini Rab A. Broto adalah ketua dewan redaksi pada majalah bulanan Indonesian Tax Review Digest dan Buletin Bee Parent yang diterbitkan Lembaga Manajemen Formasi. Ia dapat dihubungi melalui e-mail: nauram@yahoo.com

Psikologi Duit, Kesejahteraan dan Keberlimpahan

Oleh: Rab A Broto


Apa yang menghentikan seseorang dari sukses secara finansial? Jawabnya karena orang biasanya terfokus pada keyakinan (belief) bahwa sukses keuangan bukan merupakan satu kemungkinan (possibility). Tegasnya banyak orang yang menciptakan beragam hambatan sehingga terus mencegahnya meraih keberlimpahan (abundance).

“Pasalnya saat punya keyakinan pembatas (limiting) tentang uang pada level bawah sadar (unconscious), Anda akan sangat susah bergerak mengatasi berbagai keterbatasan finansial karena pikiran bawah sadar itu akan selalu melawan upaya yang dilakukan untuk sukses.”

“Itulah mengapa sejumlah orang menghabiskan seluruh hidupnya dari tagihan yang satu ke tagihan yang lain dalam kadar berbeda karena mereka tidak percaya bisa berbuat lebih baik,” tandas pakar NLP (Neuro Linguistic Programming) Kris Hallbom dan Armand D’alo dalam artikelnya.

Bahkan saat ada niat positif untuk mengatasi berbagai hambatan finansial, banyak orang tidak mengenali bagaimana keseluruhan kehendaknya. Sementara mereka yang mengetahui sejumlah niat dalam tingkatan yang lebih baik pun masih belum tahu bagaimana bisa mengatasi berbagai hambatan yang ditemui.

Pada level kesadaran, hampir semua orang berpikir mereka akan melakukan segala sesuatu yang mungkin untuk mewujudkan keinginannya. Sayangnya ada bagian bawah sadarnya yang yang tidak yakin bisa berhasil. Semakin menghindari bagian bawah sadar ini, kian banyak hambatan yang akan muncul dalam kesehariannya. “Itulah cara pikiran (mind) bekerja.”

Sebagai contoh, bayangkan kenalan yang Anda ketahui membaca semua buku cara menjadi kaya, menghadiri berbagai seminar keuangan, menyatakan ikrar harian, dan masih terus bokek. Apa yang dilakukan jelas sangat berharga, meskipun sering semuanya belum cukup mencapai ‘inti’ (core) masalah yang biasanya melibatkan sejumlah keyakinan negatif.

Sikap Hidup
Masing-masing orang punya beragam keyakinan atau asumsi berbeda tentang uang. Beberapa yang umum adalah:

- Perlu uang untuk menghasilkan uang.
- Tidak punya cukup uang untuk dikelola dengan baik.
- Sudah terlambat dan tidak tahu apa yang harus dilakukan.
- Saat saya berinvestasi, pasar pasti akan melesu.
- Soal perduitan terlalu rumit.

Itu semua adalah keyakinan sebab-akibat (cause/effect) yang sungguh sedikit kaitannya dengan bagaimana mencapai keberlimpahan. Kepercayaan jenis itu akan membatasi seseorang karena mencari jawaban di luar diri orang bersangkutan. Padahal faktanya kunci menuju ke sana ada di dalam diri karena keberlimpahan bukan apa yang orang miliki.

Keberlimpahan adalah sikap hidup (state of mind). Banyak orang yang sukses hidupnya dari sisi keuangan, sering punya kepercayaan positif tentang kekayaan dan keberlimpahan. Saat memahami dan bergerak dari kungkungan kepercayaan sebab-akibat menuju ide “Apa yang mungkin?” dalam dunianya, orang bergerak ke tingkat pemikiran yang secara keseluruhan berbeda.

Dengan berpikir apa yang mungkin terjadi atau dilakukan, orang akan lebih bersikap dan berperilaku lebih positif dalam jangka panjang. Ini bisa terjadi, kata Hallbom yang wakil direktur NLP Institute of California di situs www.nlpcomprehensive.com, karena dengan begitu seseorang telah mengembangkan kerangka mentalnya berkaitan dengan uang.

Ironisnya sebagai ganti memusatkan perhatian pada apa yang mungkin, banyak orang menghabiskan waktunya memikirkan apa yang tidak dimiliki. Satu pola menarik pun berkembang dan membuat mereka menjadi marah dan putus asa atas situasi yang dihadapi yang melahirkan lebih banyak keterbatasan dan hambatan dalam hidupnya.

Perlu diingat bahwa jauh lebih mudah mengawali dan melakukan terobosan dalam hidup saat anda datang dari pikiran yang damai dan tenang (peaceful) dibandingkan bila datang dari kerangka pikir yang kemrungsung dan dipenuhi kemarahan. Langkah pertama untuk menolong orang yang terjebat dalam kerangka pikir negatif adalah dengan mengeksplorasi penyebab asal.

Langkah Pertama: Identifikasi
Sebagai contoh, orang itu mungkin punya orangtua yang miskin dan selanjutnya membentuk mentalitas ‘masa krisis’. Sejak itu mereka mengembangkan keyakinan bawah sadar bahwa dia akan selalu harus berjuang secara finansial karena itulah yang dilakukan orangtuanya.

Atau bisa jadi memang mereka punya orangtua yang selalu mengatakan berulang kali bahwa mereka tak akan pernah sukses dan akhirnya mereka mulai meyakininya. Jadi sangat biasa bagi anak secara tak sadar membentuk keyakinan yang membatasi seputar soal uang pada masa awal kehidupannya.

Tipe keyakinan semacam itu dalam NLP disebut imprints yang pada dasarnya adalah satu memori yang terbentuk pada masa awal yang bisa berperan sebagai asal muasal (root). Baik menyangkut kepercayaan yang membatasi maupun yang memberdayakan (empowering) yang kita kembangkan sebagai anak.

Sejumlah keyakinan yang kita kembangkan di usia muda tidak selalu menyehatkan. Itu semua lahir sebagai hasil pengalaman yang traumatik atau membingungkan yang mestinya dilupakan. Bagaimana kita secara sadar atau tak sadar melihat dunia dari kacamata keuangan biasanya berdasarkan keyakinan tidak sehat ini.

Jadi mengidentifikasi keyakinan pembatas adalah langkah pertama yang penting. Begitu Anda mengetahui apa saja keyakinan dasar tersebut, Anda bisa menggunakan sejumlah teknik NLP untuk mengatasi berbagai hambatan mental terkait soal uang. Teknik ini memungkinkan Anda melihat dan mengalami semua peluang finansial yang tersedia.

Perbedaan psikologis utama antara mereka yang sukses secara finansial dan yang gagal berputar di sekitar keyakinan tentang kemungkinan. Sebut soal banyak orang yang bahkan tak mempertimbangkan sukses finansial sebagai pilihan. Mereka tak mampu membuka diri pada semua peluang tersedia untuk meraih keberlimpahan.

Dua Cara
Sering mereka terjerat dalam tagihan rutin dari bulan ke bulan dan tak berkehendak mengambil risiko atau mencoba sesuatu yang lain karena takut akhirnya akan lebih terpuruk dari kondisi saat ini. Apa yang tidak diketahui oleh orang-orang jenis ini adalah hal biasa melangkah mundur bila diperlukan untuk bisa melangkah maju.

Banyak jutawan bangkrut di satu masa hidupnya dan mendadak membalik situasi finansialnya menjadi lebih baik. Selain itu orang yang memulai bisnisnya sendiri sering awalnya harus kehilangan uang. Namun mereka tetap gigih karena percaya bahwa bisnis barunya akan berkembang dan suatu saat akan bisa melunasi semua kerugian dan untung.

Tidak semua orang harus ambil risiko atau melangkah mundur untuk maju, meskipun penting untuk secara sadar membuka diri pada ide tentang apa yang mungkin untuk Anda. Untuk bisa bertahan pada ide ini, pertama Anda harus punya kemampuan mengubah kegiatan harian rutin dengan melakukan sesuatu secara berbeda.

Ini termasuk belajar bagaimana melihat dunia Anda lewat kacamata kekayaan dan keberlimpahan sebagai pengganti kelangkaan dan kemiskinan. Untuk itu cobalah cara ini setiap ada kesempatan. Pertama, pikirkan sesuatu yang diinginkan dan semua kemungkinan yang dimiliki untuk mendapatkannya.

Tanyakan kepada diri sendiri: “Apa saja yang mungkin dilakukan?” Kemudian coba cara berbeda (cara kedua): pikirkan sesuatu yang tidak dimiliki tapi ingin dimiliki. Pikirkan kenapa Anda kini tidak memilikinya dan apa yang ingin dilakukan agar dapat memilikinya. Rasakan sepenuhnya mana yang membuat Anda lebih nyaman.

Dengan mudah bisa dirasakan cara pertamalah yang membuat perasaan lebih baik karena pernyataan ‘apa yang mungkin’ didesain untuk memperluas kerangka sadar dan bawah sadar seputar kekayaan dan keberlimpahan. Menakjubkan membayangkan apa yang bisa terjadi begitu seseorang mengubah sikap dan keyakinannya terkait kemungkinan ini.

Begitu orang berkehendak mulai berubah, dia akan menyaksikan hasilnya nyaris seketika. Hasil perubahan itu mungkin kecil saat pertama. Tapi bila yang bersangkutan terus konsisten melakukan cara berpikir barunya, banyak kemungkinan ‘keajaiban’ akan terbuka untuknya.

Rab A. Broto adalah penulis dan editor alumni Lembaga Penelitian, Pendidikan dan Pengembangan Yogyakarta (LP3Y) dengan pengalaman 10 tahun. Sebelumnya, ia bekerja sebagai wartawan dan redaktur di Harian Ekonomi Bisnis Indonesia. Hingga kini ia telah menulis 2.000 straight news (berita pendek ekonomi, politik dan budaya), 400 features (ekonomi, psikologi, iptek dan kesehatan), 5 makalah seminar dan buku Parent Guide (bagian dari paket pendidikan anak My First One Year Activity Book produksi Pustaka Lebah). Kini Rab A. Broto adalah ketua dewan redaksi pada majalah bulanan Indonesian Tax Review Digest dan Buletin Bee Parent yang diterbitkan Lembaga Manajemen Formasi. Ia dapat dihubungi melalui e-mail: nauram@yahoo.com.

Selasa, 11 November 2008

(2) Psikologi Duit: Konsisten Pangkal Kaya

Oleh: Rab A. Broto


Perubahan dari khawatir kondisi akan lebih buruk bila melakukan hal lain ke pola pikir ‘apa yang mungkin’ jelas memberi konsekuensi berbeda. Berpikir tentang ‘apa yang mungkin’ memperluas wawasan sadar dan bawah sadar tentang keberlimpahan. Kasus nyata bisa diamati adalah pada sejumlah anggota komunitas manusia perahu Vietnam yang berimigrasi ke AS. Banyak warga Amerika mengkhawatirkan dampak negatif yang bisa terjadi pada kesejahteraan dan layanan publik lainnya saat mereka masuk.

Tapi menariknya banyak imigran Vietnam yang masuk ke dunia bisnis dengan inisiatif sendiri sering akhirnya menuai kesuksesan besar. Jawaban jelas kenapa mereka sukses adalah bahwa para manusia perahu itu telah melampaui ambang batas ketertindasan.

Dari awalnya berada di negeri yang bila berkata salah saja konsekuensinya adalah kepalanya ditembus pelor, mereka kini masuk ke negeri di mana hal terburuk yang mungkin terjadi adalah orang akan menelepon atau menghinanya saat tak bayar utang.

“Jika Anda datang dari dunia di mana kematian adalah kenyataan yang sering sekali dihadapi ke dunia di mana pilihan tak terbatas, jelas sama sekali tak ada alasan untuk tidak mencoba berbagai kemungkinan yang tersedia.”

Jadi alih-alih marah atau nelangsa karena mesti meninggalkan negeri tumpah darahnya, mereka tampak sangat mensyukuri hidup. Alih-alih tenggelam dalam kesesalan atau mengasihani diri sendiri, banyak di antara manusia perahu mengadopsi sikap kreatif.

Sikap kreatif ini terutama berada di seputar pertanyaan ‘apa yang mungkin?’ Meskipun jelas saat di awal kedatangannya dua atau tiga keluarga harus berdesakan tinggal dalam satu apartemen sempit dan mendapat gaji minimum saat mulai mencari nafkah.

Kreatifnya dalam keterbatasan itu justru mereka mengumpulkan sisa gaji dari yang dibelanjakan bagi kebutuhan hidup rutin. Saat uang tabungan bersama itu mencapai jumlah cukup, mereka memutuskan memulai usaha sendiri dan semua keluarga membantu di situ.

Begitu bisnis berkembang dan memberikan hasil, mereka membeli aset properti untuk investasi. Begitu seterusnya. Bagi para mantan manusia perahu itu, sukses merupakan satu penegasan tentang apa yang mungkin bagi mereka.

Mereka mau dengan sepenuh hati menderita beberapa waktu untuk meraih tujuan jangka panjangnya agar makmur dan sejahtera. Ini jelas hanya masalah menentukan prioritas dan bagaimana mereka mengelompokkan sejumlah kemungkinan yang berbeda.

Jadi prinsipnya setiap orang bisa melakukan apapun yang diinginkan. Pertanyaannya: apa yang akan mereka lakukan untuk mendapatkan kemungkinan hasil tersebut?

Kesabaran menentukan
Dalam soal itu mungkin kebanyakan orang Jerman bisa diteladani. Merupakan satu hal yang lazim bagi kebanyakan orang Jerman untuk menabung uangnya sebelum melakukan pembelian barang yang mahal agar bisa membayar secara kontan pada saatnya.

Di Jerman, satu-satunya utang yang kebanyakan orang miliki adalah cicilan rumah dan mobilnya. Sementara di negeri ini sangat sering warganya menulis surat pembaca karena diperlakukan kasar debt collector karena tak bisa membayar cicilan minimum kartu kreditnya.

Tampaknya orang Jerman menikmati menabung sedikit demi sedikit untuk sesuatu yang spesial. Sebabnya mereka melihat jauh ke depan, pada ganjaran mendapatkan apa yang diinginkan. Segera setelah merasakan kepuasan, mereka segera mulai menabung lagi untuk barang mahal selanjutnya atau liburan petualangannya.

Fenomena warga Jerman yang berkemampuan menunda pemuasan segera yang bisa diberikan kartu kredit ini menarik. Mereka bisa melihat ke depan saat mereka bisa mendapatkan apa yang mereka inginkan degnan antisipasi dan rasa ekstase.

Mereka tak mengeluh sama sekali karena harus menyisihkan uang setiap waktu untuk bisa mencapai tujuan selanjutnya. Mereka bahkan memusatkan diri pada rasa betapa bersyukurnya mereka atas apa yang dimiliki dan dengan sabar terus melihat apa yang akan mereka dapat.

Kemampuan menunda pemuasan adalah keterampilan yang mumpuni. Menurut Daniel Goleman, penulis buku Emotional Intelligence pada 1995, ini merupakan satu kemenangan penalaran otak atas kehendak impulsif.

“Orang yang mampu mengasah kesabarannya dengan menunda pemuasan kebutuhannya seketika cenderung akan lebih berhasil dalam hidup,” tambah Goleman yang mengutip satu hasil penelitian pada 1960-an tentang sekelompok anak yang diberi melon untuk mengetes kesabarannya.

Anak-anak dalam eksperimen tersebut diundang satu per satu masuk ke satu ruangan oleh peneliti dan masing-masing diberi satu melon. Kamu bisa memiliki satu melon ini sekarang, kata si peneliti, tapi jika menunggu sesaat saat aku pergi kamu akan mendapat dua melon saat aku kembali. Dan si anak ditinggal pergi.

Sebagian anak langsung mengambil buah itu dan sebagian mau menunggu sebelum akhirnya tak bisa menahan godaan ingin segera memakannya. Tapi ada pula yang tetap menunggu. Mereka menutup mata, bersenandung, menundukkan kepala, bermain atau bahkan tidur. Mereka melakukan apa saja untuk bertahan.

Berdasarkan survei kepada orangtua dan guru, anak-anak yang dalam usia empat tahun berkemampuan menunggu beberapa waktu untuk mendapatkan melon kedua, itu memang beda. “Mereka biasanya tumbuh dengan adaptasi diri yang lebih baik, lebih populer, suka tantangan, percaya diri dan bisa diandalkan.”

Berdasarkan uraian Goleman, bukti ini memastikan bahwa kesabaran sepertinya memainkan peran penting dalam kesuksesan banyak orang. Terkait dengan mereka yang sudah dewasa, kemampuan untuk menolak atau mengendalikan hasrat (impuls) dapat dikembangkan lewat praktik.

Saat tiba-tiba dilanda godaan kuat membelanjakan uang untuk sesuatu yang tidak sungguh Anda perlukan, ingatkan pada diri tentang berbagai tujuan jangka panjang keuangan Anda. Benturkan pula dengan situasi keuangan saat ini dengan menyadari bahwa Anda menabung sungguh untuk masa depan yang sejahtera dan berkelimpahahan.

* Rab A. Broto adalah penulis dan editor alumni Lembaga Penelitian, Pendidikan dan Pengembangan Yogyakarta (LP3Y) dengan pengalaman 10 tahun. Sebelumnya, ia bekerja sebagai wartawan dan redaktur di Harian Ekonomi Bisnis Indonesia. Hingga kini ia telah menulis 2.000 straight news (berita pendek ekonomi, politik dan budaya), 400 features (ekonomi, psikologi, iptek dan kesehatan), 5 makalah seminar dan buku Parent Guide (bagian dari paket pendidikan anak My First One Year Activity Book produksi Pustaka Lebah). Kini Rab A. Broto adalah ketua dewan redaksi pada majalah bulanan Indonesian Tax Review Digest dan Buletin Bee Parent yang diterbitkan Lembaga Manajemen Formasi. Ia dapat dihubungi melalui e-mail: nauram@yahoo.com

toko-delta.blogspot.com

Archives

Postingan Populer

linkwithin

Related Posts with Thumbnails

Total Tayangan Halaman

Diberdayakan oleh Blogger.