toko-delta.blogspot.com

menu

instanx

Kamis, 04 November 2010

Empat Wanita Kaya Dunia Bermodal "Dengkul"


38 wanita terkaya dunia yang lain hanyalah pewaris dari kerajaan-kerajaan bisnis keluarga.
Selasa, 26 Oktober 2010, 11:43 WIB
Hadi Suprapto
Ratu talk show Oprah Winfrey (AP Photo/Chris Pizzello)
BERITA TERKAIT
  • Foto-Foto Pilot Cantik, Muda dan Kaya Raya
  • Tiga Universitas Penghasil Miliarder Dunia
  • Pilot Cantik Ini, Taipan Terkaya di Thailand
  • Rumah Mewah Para Triliuner Top Dunia
  • Boediono Gandeng Miliarder Warren Buffett
VIVAnews - Ini merupakan tahun besar bagi ratu talk show Oprah Winfrey yang mengumumkan akan mengakhiri talk show-nya pada musim ini. Oprah akan meluncurkan jaringan televisi sendiri dengan menampilkan selebriti papan atas seperti Rosie O'Donnell, Julia Roberts, Sarah Ferguson, dan Gayle King.

Di tengah rencana mengakhiri talk show-nya, kekayaan Oprah justru kian  menumpuk. Majalah Forbes, Senin 25 Oktober 2010, menyatakan pada tahun lalu Oprah menerima pendapatan US$315 juta atau sekitar Rp2,8 triliun dan US$1,35 miliar (Rp12,15 triliun) pada lima tahun terakhir.

Forbes menaksir kekayaan Oprah bernilai US$2,7 miliar (Rp24,3 triliun), naik US$400 juta (Rp3,6 triliun) dari tahun lalu. Tak heran bila Oprah menjadi salah satu dari 42 wanita yang masuk dalam daftar 400 orang terkaya dunia.

Memang, Oprah menempati peringkat ke 15 di antara perempuan Amerika, tetapi dia kaya dengan membangun bisnis bermodal "dengkul". Pencapaian yang sulit karena hanya dilakukan empat dari 42 perempuan, atau 1 persen dari 400 orang terkaya dunia. 

Istilah bermodal "dengkul" sering digunakan bagi para pebisnis atau praktisi bisnis yang memulai usaha dari nol. Bukan bisnis warisan keluarga.

Ketiga perempuan lain yang merintis bisnis dengan modal "dengkul" adalah pemilik Gap Doris Fisher, pemilik ABC Supply Diane Hendricks, dan pendiri eBay Meg Whitman. Diane Hendricks awalnya merintis usaha bersama suaminya, namun suaminya meninggal sebelum mereka sukses.

Sisanya, 38 wanita terkaya dunia yang lain hanyalah pewaris dari kerajaan-kerajaan bisnis keluarga. Keluarga peritel raksasa Wal-Mart misalnya, bisa menghasilkan empat wanita terkaya dunia, salah satunya Christy Walton.

Istri John Walton yang meninggal dalam kecelakaan pesawat pada 2005 ini merupakan wanita terkaya dengan kekayaan bersih US$24 miliar (Rp216 triliun). Dia menempati peringkat keempat orang terkaya dunia setelah Bill Gates, Warren Buffett, dan Larry Ellison. (hs)
• VIVAnews
Masukkan Data-Data Anda Di Bawah! Dapatkan Petuah Sukses Secara Berkala - Selamanya GRATIS! :-)

Name:
Email:

Dari Buruh Pabrik Jadi Ratu Properti China



Siapa sangka, ratu properti ini masa kecilnya penuh dengan kesengsaraan.
Selasa, 2 November 2010, 04:24 WIB
Hadi Suprapto
Zhang Xin, taipan kaya China (forbes.com)
BERITA TERKAIT
  • Empat Wanita Kaya Dunia Bermodal "Dengkul"
  • Foto-Foto Pilot Cantik, Muda dan Kaya Raya
  • Tiga Universitas Penghasil Miliarder Dunia
  • Pilot Cantik Ini, Taipan Terkaya di Thailand
  • Rumah Mewah Para Triliuner Top Dunia
VIVAnews - Namanya begitu populer di China. Namun siapa sangka, ratu properti ini masa kecilnya penuh dengan kesengsaraan.

Zhang Xin, sang ratu properti, menghabiskan masa kecilnya di lantai lima, rumah susun di pinggiran Beijing. Makan nasi ransum dengan mangkuk besi bersama anak-anak pekerja keras China yang lain.

Saat remaja,  ia sempat menjadi buruh pabrik di Hong Kong. Bekerja 12 jam dengan shift. Saat kerja inilah, sedikit demi sedit, Zhang bisa mengumpulkan uang.

Pada usia 20, Zhang telah memiliki uang cukup, dan memutuskan hijrah ke Inggris. Dia mendapatkan bea siswa di Sussex. Kemudian, dia melanjutkan di Cambridge untuk menyelesaikan gelar master.

Kini, dua dekade setelah dia bekerja keras, Zhang bisa menatap dari lantai atas salah satu bangunan paling bergaya dan bergengsi di Beijing. Itulah bangunan miliknya, yang dibangun dari keringatnya sendiri. Zhang pun menjadi salah satu wanita terkaya dunia.

Baru-baru ini majalah Forbes menurunkan profil 10 perempuan miliarder dunia yang kekayaannya dari keringat sendiri. Bukan warisan maupun hibah. Salah satunya Zhang, yang memiliki kekayaan US$2 miliar atau sekitar Rp18 triliun.

Di bawah bendera SOHO, Zhang berhasil membangun kerajaan bisnis properti bersama suaminya. Dia berhasil mengubah cakrawala dari rumah beton kotor yang ia tinggali hingga 1970, menjadi gedung yang indah dan futuristik. "Pembangunan ini bertahap dan begitu lama," kata dia kepada The Sunday Telegraph.

"Saya teringat ketika kami sedang berjuang membayar gaji dan tagihan. Bagaimana pun perusahaan harus terus bergerak meskipun dengan utang. Dengan kontrol biaya yang ketat, kami pun secara bertahap bisa mendapat keuntungan."

Meski telah sukses, dia tidak mau memamerkan kekayaannya. Penampilannya sangat sederhana. Bila menggunakan make up, tidak begitu kentara. Begitu juga dengan perhiasan, juga tidak berlebih.

Ditanya mobil apa yang dia pakai, dia ragu-ragu. Namun akhirnya menjawab. "Oh, itu Lexus. Saya tidak tahu modelnya."

Bahkan dengan triliunan rupiah kekayaan yang ia punya, Zhang tetap mempertahankan sikap hemat. Bila menggunakan pesawat, dia akan menolak menggunakan kelas satu. Padahal bagi dia, sangat mudah terbang ke mana pun dengan tiket paling mahal sekali pun.

"Ini bukan soal keterjangkauan, ini tentang hati nurani," katanya. "Kelas bisnis ini sudah cukup nyaman."

Zhang yang sekarang berusia 45, lahir di China. Tumbuh dewasa selama paruh kedua dari Revolusi Kebudayaan (1966-1976). Dia merupakan putri generasi ketiga imigran Tionghoa yang pindah ke Burma dan kembali lagi ke Beijing pada 1950.

Keluarga ini tinggal di sebuah bangunan utilitarian. Ibunya bekerja sebagai penerjemah resmi membantu menyebarluaskan pernyataan Deng Xiaoping dan Zhou Enlai. Saat sekolah, setiap siang Zhang pulang untuk makan nasi ransum dari kantin gedung itu.

"Hanya ada tiga jenis makanan, semua cukup buruk," kenang dia. "Kami masing-masing memegang mangkuk nasi dan dibawa ke kantin. Petugas membagikan makanan dari wadah yang sangat besar," kata dia sambil menunjuk foto pekerja konstruksi yang sedang mengantre makan di salah satu proyek bangunannya. "Rasanya seperti itu, hanya jauh lebih buruk."

Saat itu, Zhang mengatakan, Beijing adalah kota muram. "Bangunan-bangunan itu kelabu, semua orang berpakaian abu-abu. Kami tidak pernah melihat langit. Tidak ada gagasan dari langit biru untuk sebuah kemakmuran," katanya.

"Semua orang berpakaian sama, makan sama, perbedaan antara satu orang dengan lain sangat kecil. Mungkin sama seperti perbedaan satu rambut dengan rambut lain di kepala Anda," ujar Zhang.

Bekerja sebagai buruh pabrik di Hong Kong baginya tidak jauh lebih baik. "Itu mengerikan," katanya.

Setelah "melarikan diri" ke Inggris, pintu Zhang mulai terbuka. Dengan gelar master ekonomi pembangunan di tangannya, ia mendapat pekerjaan pertamanya di Goldman Sachs.

Pada 1994 ia kembali ke China, tergoda seperti ekspatriat lainnya yang terpikat oleh tawaran zona ekonomi khusus dan reformasi ekonomi.

Seorang teman menyarankan Zhang memulai bisnis properti. Pan Shiyi namanya. Dia yang datang dari keluarga lebih miskin dari Zhang, memandang masa depan bisnis properti sangat bagus.

Empat hari kemudian, Pan mengusulkan semua ide kepada perempuan itu. Lalu mereka mendirikan SOHO. Bersama Pan yang kemudian menjadi suaminya, Zhang memulai bisnisnya.
Pada 2007, perusahaan yang dibangunnya  sempat kolaps dengan utang US$1,65 miliar, namun kemudian sedikit demi sedikit utang itu bisa direstrukturisasi. (hs)
Sumber: Forbes dan Telegraph


Masukkan Data-Data Anda Di Bawah! Dapatkan Petuah Sukses Secara Berkala - Selamanya GRATIS! :-)

Name:
Email:

Antara Merapi, Keraton dan Pantai Selatan


Ada garis lurus antara Keraton dan Merapi. Apa arti gunung itu bagi Keraton Yogyakarta?
Jum'at, 29 Oktober 2010, 22:54 WIB
Ismoko Widjaya
Keraton Yogyakarta dan Gunung Merapi satu garis (web.ugm.ac.id/ Google Earth)
BERITA TERKAIT
  • Merapi, Mbah Maridjan, dan Wawan
  • Infografik: Amuk Merapi
  • Tekad Menyelamatkan si Mbah
VIVAnews - Wedhus gembel atau awan panas dari erupsi Gunung Merapi pada Selasa 26 Oktober 2010 petang menewaskan 35 orang termasuk Mas Penewu Ki Suraksohargo atau penjaga Gunung Merapi, Mbah Maridjan, dan rekan kami Redaktur Senior VIVAnews.com, Yuniawan Wahyu Nugroho.
Mbah Maridjan adalah sosok kontroversial. Namanya meroket sejak menolak perintah Sri Sultan Hamengkubuwono X,  ketika Merapi meletus pada tahun 2006, untuk mengungsi dari tempat tinggalnya di Dusun Kinahrejo, Kecamatan Cangkringan, Kabupaten Sleman, Yogyakarta. Tempat tinggalnya memang sangat rawan, merupakan daerah tertinggi yang paling dekat dengan puncak Merapi.
Sudah menjadi pengetahuan umum bahwa keengganan Mbak Maridjan mengungsi merupakan bentuk loyalitas terhadap perintah Sri Sultan Hamengkubuwono IX untuk menjaga Merapi. Yang menjadi pertanyaan mengapa raja Yogyakarta sampai perlu memerintahkan orang untuk “menjaga’ gunung paling aktif dan destruktif di dunia tersebut?
Menurut Nelly Murni Roossadha, dari Departemen Antropologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Politik, Universitas Indonesia, dalam makalahnya berjudul Merapi: Gejala Alam, Sistem Tanda, dan Interaksi Sosial,  gunung tersebut menduduki posisi penting dalam mitologi Jawa.
Diyakini sebagai pusat kerajaan mahluk halus, sebagai ‘swarga pangrantunan’, tempat di alam baka untuk menunggu giliran para roh yang meninggal dipanggil ke surga.
Gunung Merapi, kata dia,  selain  merupakan sebuah fenomena alam, yang dapat dijelaskan oleh para ilmuwan vulkanologi,  dengan segala perangkat canggihnya, juga merupakan simbol kekuatan magis yang melingkupi Yogyakarta.
Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, Pantai Parang Kusumo di Laut Selatan, dan juga Gunung Merapi berada dalam satu garis lurus yang dihubungkan oleh Tugu Jogja di tengahnya.
Pengamatan citra satelit memang memperlihatkan lokasi-lokasi tersebut, berikut jalan yang menghubungkannya, hampir terletak segaris dan hanya meleset beberapa derajat.
Keberadaan garis imajiner tersebut dibenarkan oleh mantan Guru Besar Filsafat Universitas Gadjah Mada Profesor Damarjati Supadjar. "Garis imajiner itu sudah menjadi wacana lama," kata Damarjati kepada VIVAnews.com, Jumat 20 Oktober 2010.
Gunung Merapi terletak di perbatasan DIY dan Jawa Tengah, yang juga sebagai batas utara Yogyakarta. Disinilah garis lurus itu dimulai. Membujur ke arah selatan, terdapat Tugu Yogya.
Tugu menjadi simbol 'manunggaling kawulo gusti' yang juga berarti bersatunya antara raja (golong) dan rakyat (gilig). Simbol ini juga dapat dilihat dari segi mistis yaitu persatuan antara khalik (Sang Pencipta) dan makhluk (ciptaan).
Garis selanjutnya mengarah ke Keraton dan kemudian lurus ke selatan terdapat Panggung Krapyak.  Gedhong Panggung, demikian bangunan itu kini disebut,  merupakan podium batu bata setinggi 4 meter, lebar 5 meter, dan panjang 6 meter. Tebal dindingnya mencapai 1 meter.  Bangunan di sebelah selatan Keraton ini menjadi batas selatan kota tua Yogyakarta. Titik terakhir dari garis imajiner itu adalah Pantai Parang Kusumo, di Laut Selatan dengan mitos Nyi Roro Kidul-nya. Seperti Merapi, pada titik ini juga ada juru kuncinya, yaitu RP Suraksotarwono.
Bagi Damarjati, daerah-daerah yang dilintasi garis lurus imajiner itu hanya 'kebetulan' saja terlintasi garis. Tetapi yang sesungguhnya memiliki arti adalah titik di masing-masing ujung imajiner, Merapi dan Laut Selatan.
Dua lokasi itu memiliki arti yang sangat penting bagi Keraton yang dibangun berdasarkan pertimbangan keseimbangan dan keharmonisan. Keraton merupakan titik imbang dari api dan air. Api dilambangkan oleh Gunung Merapi, sedangkan air dilambangkan pada titik paling selatan, Pantai Parang Kusumo. Dan keraton berada di titik tengahnya. "Keraton dan dua daerah itu merupakan titik keseimbangan antara vertikal dan horizontal," jelas Damarjati.
Keseimbangan horizontal dilambangkan oleh Laut Selatan yang mencerminkan hubungan manusia dengan manusia. Sedangkan Gunung Merapi melambangkan sisi horizontal yang mencerminkan hubungan antara manusia dengan Yang Maha Kuasa.
Filosofi garis lurus imajiner dari Merapi hingga Laut  Selatan ini sarat kearifan lokal. Damarjati menyarankan pemimpin di negeri ini harus peka terhadap peristiwa letusan Merapi yang menewaskan sang juru kunci. Menurut dia,  magma dalam gunung Merapi itu tidak boleh tersumbat untuk memuntahkan laharnya. Karena kalau tersumbat, dan terlambat, maka akan mengakibatkan letusan yang luar biasa. "Seperti kalau suara rakyat tersumbat, maka akan terjadi revolusi sosial.” 
• VIVAnews Masukkan Data-Data Anda Di Bawah! Dapatkan Petuah Sukses Secara Berkala - Selamanya GRATIS! :-)

Name:
Email:

Tekad Menyelamatkan si Mbah


Wartawan VIVAnews.com berniat menjemput Mbah Maridjan. Dia gugur bersama si juru kunci.
Jum'at, 29 Oktober 2010, 22:49 WIB
Nezar Patria, Indra Darmawan
Yuniawan Wahyu Nugroho (Facebook Yuniawan Nugroho)
BERITA TERKAIT
  • Merapi, Mbah Maridjan, dan Wawan
  • Infografik: Amuk Merapi
  • Antara Merapi, Keraton dan Pantai Selatan
VIVAnews - Mengamuknya Merapi, gunung berapi berusia jutaan tahun silam itu, menjadi headlines di hampir media sejak pekan lalu. Yuniawan Wahyu Nugroho, seorang wartawan senior portal berita ini, VIVAnews.com, memantaunya dari newsroom kami di lantai 31, Menara Standard Chartered, Casablanca, Jakarta Pusat.
Bekerja sebagai wartawan lebih dari sepuluh tahun, Wawan--demikian Yuniawan biasa disapa, rajin mengontak  sejumlah sumbernya di Yogyakarta. Dia juga teringat Mbah Maridjan, sang juru kunci Merapi yang sikapnya ditunggu masyarakat sekitar, setiap kali Kiai Merapi--nama mistik dari gunung itu--‘marah’.
Pada 2006, saat Merapi memuntahkan lahar, Maridjan memilih tetap tinggal di rumahnya, di Kinahrejo, Umbulharjo, Cangkringan, empat kilometer dari puncak Merapi yang membara.
Sultan Hamengkubuwono X pernah memerintahkannya turun, tapi Maridjan tak peduli. “Saya diberi amanah Sultan Hamengkubuwono IX menjaga Merapi,” begitu alasannya. Ulahnya terang membuat Raja Jawa itu sewot.
Sikap keras memegang amanah, dan nyaris naif itu, justru membuat nama Mbah Maridjan melambung. Selaku juru kunci, dia dipercaya bisa berbicara dengan Merapi, yang oleh masyarakat Jawa sekitar dianggap punya roh. Maridjan diyakini hafal perilaku gunung itu. Warga Kinahrejo pun menjadikannya panutan.
Apalagi, pada 2006, saat debu panas bak gumpalan bulu domba menyapu lereng Kinahrejo. Warga menyebut awan maut itu sebagai wedhus gembel. Semua tumbuhan dan hewan yang dilewatinya tumpas. Tapi Maridjan tetap bertahan di rumahnya. Dia tak mau mengungsi.
Inilah ajaibnya. Awan bersuhu 600-800 derajat Celsius, dan mampu lari 100-300 km per jam itu, seperti tak bisa melewati Kinahrejo. Wedhus gembel itu berhenti, tak jauh di belakang rumah Mbah Maridjan. Masyarakat tercengang. Mbah Maridjan sontak dianggap punya daya linuwih: kekuatan melebihi manusia biasa.
Namanya melejit. Di Jakarta, satu produk minuman berenergi menjadikan dia ikon iklan.
Tapi, Maridjan tak larut dalam dunia selebriti itu. Dia tetap di Kinahrejo. Artis Rieke Dyah Pitaloka yang menjadi pasangannya di klip video reklame itu mengatakan Maridjan sosok sederhana. “Honor perpanjangan kontrak dia bagikan ke beberapa desa di sekitar Kinahrejo. Dia lelaki sederhana, dan tulus mencintai alam,” ujar Rieke kepada VIVAnews.com, Kamis, 28 Oktober 2010.
***
Sejak beberapa hari sebelum 26 Oktober 2010, Yuniawan berniat bertemu Mbah Maridjan untuk wawancara. Dalam rapat editor, dia mengusulkan pergi ke Yogyakarta untuk berjumpa si juru kunci. Usul itu sempat ditolak, karena wawancara dinilai bisa dilakukan kontributor setempat.
Wawan kembali mengontak Agus Wiyarto, seorang kerabat Maridjan, untuk mengusulkan kontributor mewawancarai Maridjan. Agus menjadi semacam jembatan buat Wawan ke Mbah Maridjan. Ternyata Maridjan, kata Agus, menolak. Dia ingin wawancara dilakukan oleh Wawan sendiri.
Rapat editor pun menyetujui usul itu. Wawan bersiap berangkat ke Yogyakarta pada Selasa siang, 26 Oktober 2010.
Wawan mengenal Maridjan saat liputan bencana Merapi 2006. Saat itu dia bekerja sebagai wartawan di Suara Pembaruan. Seorang seniornya di Suara Pembaruan, Sabar Subekti, mengatakan Wawan mengenal baik Mbah Maridjan. “Sewaktu Merapi meletus 2006 itu, dia nongkrong di rumah Mbah Maridjan,” ujar Sabar, bekas Pemimpin Redaksi Suara Pembaruan.
Sabar waktu itu juga turun ke lapangan. Dia memantau situasi dari Yogyakarta. Sementara Wawan memberikan laporan dari Kinahrejo. Waktu itu, rumah Mbah Maridjan menjadi semacam posko bagi para wartawan. “Dari pagi sampai sore, Wawan berada di sana,” Sabar menambahkan.
Lahir di Blora, 1 Juni 1968, Wawan dikenal sebagai wartawan politik piawai. Sejak lama tampaknya dia berminat pada politik. Pada 1987, dia masuk ke Fakultas Filsafat UGM. Di kampus itu, Wawan lulus dengan skripsi Etika Politik dalam Filsafat Agustinus.
Saat bekerja sebagai wartawan di harian Suara Pembaruan, Wawan meliput di DPR RI. Di sana pula dia belajar jurnalisme presisi, dan itu dibuktikannya saat meliput Pemilu 1999.
“Saya sangat terkesan dengan liputannya di KPU. Berkat kerja Wawan, kami mampu memprediksi hasil pemilu saat itu dengan akurat,” ujar Sabar Subekti, yang pada saat Pemilu 1999 itu menjadi redaktur politik Suara Pembaruan.
Wawan bergabung dengan VIVAnews, sejak situs berita ini berdiri dua tahun lalu. Setelah itu, dia sempat bergabung sebentar dengan Koran Jakarta, sebelum kembali lagi bekerja di VIVAnews, 1 Agustus 2010.
***
Berbekal pengalaman meliput Merapi 2006 itu, pada Selasa 26 Oktober siang, Wawan terbang ke Yogyakarta. “Kami bertemu di Apotek Kentungan, Yogyakarta,” ujar Agus Wiyarto, yang menjemput Wawan bersama kerabatnya, relawan PMI Bantul Tutur Prijono. Saat itu pukul 16.30. Setelah sempat makan sebentar, mereka melaju kencang ke kediaman Mbah Maridjan.
Menurut Agus, sambil makan, Wawan sempat mendiskusikan sejumlah pertanyaan buat Mbah Maridjan. Agus menyarankan wawancara seputar kearifan lokal, dan perkembangan teknologi. Wawan mengambil buku catatannya bersampul hitam, dan mencatat hal-hal penting.
Lalu mereka bertiga meluncur lagi ke arah Kinahrejo. Sekitar sembilan kilometer dari Merapi, di Dusun Beduyu, Agus mendapat informasi ada erupsi ke arah barat sejauh tujuh kilometer. Mereka melaju kencang menuju Kinahrejo. Senja mulai turun.
Di rumah Mbah Maridjan, mereka bertemu putra si Mbah, dan lalu dengan Mbah Maridjan. Menurut Agus, belum banyak yang dibicarakan, hanya ngobrol-ngobrol sebentar.
Agus pun menyampaikan bahwa ada erupsi di bagian barat. Dia berniat membawa turun warga di sana, dan meminta izin si Mbah. “Tapi waktu itu Mbah Maridjan diam saja,” ujar Agus. Saat itu, azan maghrib menggema.
Mengetahui soal erupsi itu, sekitar pukul 17.45, kantor redaksi VIVAnews.com di Jakarta menelepon Wawan. Sinyal tak begitu bagus, dan pembicaraan terputus-putus. Intinya, Wawan mengabarkan dia berada di rumah Mbah Maridjan, bersama orang-orang Satkorlak. Selaku Redaktur Pelaksana yang membawahinya, saya (penulis artikel ini) menelepon Wawan, mengingatkan bahwa telah terjadi erupsi, dan memintanya turun.
Pembicaraan telepon terputus, dan Wawan mengirimkan SMS ke saya, mengulang informasi yang disampaikannya tadi.
“Aku lagi di rumah Mbah Maridjan. Ini banyak tamu orang Satkorlak. Mbah Maridjan masih mau salat,” tulis Wawan.
Lalu, saya membalas: “Hati-hati Wan, jangan sampai kena wedhus gembel.”
Jam menunjukkan pukul 17.50. Ini adalah kontak terakhir Wawan dengan kantor redaksi.
Menurut Agus kemudian, mereka rupanya sempat turun ke lokasi aman. Dia, Wawan, dan Tutur stand by di dekat mobil menunggu orang-orang salat. Baru rakaat pertama, terdengar sirene tanda bahaya. Agus menyuruh sejumlah wartawan dan petugas PLN yang mengecek jaringan untuk segera pergi mengungsi. Sementara Agus masih menunggu keluarga Maridjan dan warga sekitar yang sedang salat.
“Begitu selesai, saya minta semua naik mobil,” ujar Agus.
Awalnya, Wawan tak mau naik. “Akhirnya saya paksa. Dia mau juga masuk ke mobil,” ujar Agus. Ada dua mobil mengangkut orang-orang dari rumah Mbah Maridjan. Satu mobil si Mbah yang mengangkut keluarganya. Mbah Maridjan tak ikut, dia masih salat. Satunya lagi mobil Agus, yang membawa serta warga turun.
Di dalam mobil, kata Agus, Wawan gelisah. “Seharusnya saya bersama si Mbah,” ujar Wawan kepada Agus. Selama di mobil, berkali-kali dia mengulang kalimat itu. Agus diam tak menjawab.
***
Dari barak pengungsian Umbulharjo, mobil berbelok ke rumah Agus. Orang-orang lalu diturunkan.
Tak lama, relawan PMI Tutur Prijono bersama Wawan menyambangi Agus. “Pak, kami mau jemput si Mbah,” ujar Tutur. Agus berusaha mencegah dan meminta mereka jangan sembrono. Tapi, Tutur dan Wawan berkukuh. Agus pun menyerah.
Tutur dan Wawan akhirnya meluncur lagi naik Suzuki APV ke Kinahrejo. Mereka kembali menuju rumah Mbah Maridjan. Sayup-sayup, sirene terdengar meraung.
Sesampainya di Kinahrejo itu, Wawan masih sempat menelepon Rinny Soegiyoharto, seorang sahabat karibnya di Bandung. “Dia bilang ada di rumah Mbah Maridjan, dan menunggu si Mbah yang lagi salat. Saya mendengar ada suara sirene, dan bertanya apakah tak seharusnya dia turun,” ujar Rinny.
Tapi Wawan, kata Rinny, sangat tenang. “Dia mengatakan tak apa-apa, dia menunggu Mbah Maridjan salat.” Wawan yakin, si Mbah sudah bersedia untuk turun bersamanya ke lokasi yang aman.
Pembicaraan terus berlanjut di tengah raungan sirene.
Tiba-tiba, kata Rinny, dia mendengar suara Wawan seperti mengaduh kesakitan. “Aduh, kok ada api ... Aduhh! Panas... Auwww! ... Auwww!” Rinny menirukan suara Wawan. Saat itu sekitar pukul 18.30 WIB.
Telepon Wawan mendadak mati. Lelaki itu tak lagi bisa dikontak, untuk seterusnya.
Di Jakarta, kantor redaksi VIVAnews.com diliputi kecemasan luarbiasa. Para wartawan yang bertugas malam itu menghubungi semua sumber informasi yang mungkin dikontak, dari PMI, SAR, dan juga melapor ke polisi. Kami juga menghubungi Agus Wiyarto, yang juga cemas menunggu informasi tentang Wawan dan Tutur.
Menjelang pukul 23.00 WIB, informasi diterima dari relawan Dompet Dhuafa yang nekat memasuki Kinahrejo untuk mengetahui kondisi korban di sana. Di rumah Mbah Maridjan terkapar 15 mayat dalam keadaan menyedihkan.
Dari dompet sesosok mayat, ditemukan SIM A atas nama Yuniawan Wahyu Nugroho. Dia, kata seorang aktivis Dompet Dhuafa, Iman, ditemukan telungkup. Di sebelahnya tergeletak Tutur, relawan PMI Bantul itu.
“Ikhlaskan, Mas. Mereka telah meninggalkan kita,” ujar Iman kepada Maryadie, seorang redaktur kami.
***
Malam itu, di ruangan redaksi VIVAnews.com semua orang menundukkan kepala. Kursi kosong di meja kerja tempat Wawan biasa duduk, mendadak begitu menikam perasaan. Dia pergi. Tapi, kami semua mengenang Wawan, bahwa dedikasinya pada tugas dan keberaniannya menyelamatkan sesama, menjadi ilham yang akan terus hidup.
Selamat jalan, kawan…
• VIVAnews Masukkan Data-Data Anda Di Bawah! Dapatkan Petuah Sukses Secara Berkala - Selamanya GRATIS! :-)

Name:
Email:

Merapi, Mbah Maridjan, dan Wawan


Mengapa juru kunci bergaji Rp8.000 sebulan itu memilih bertahan menghadapi debu panas?
Jum'at, 29 Oktober 2010, 22:38 WIB
Indra Darmawan

Mbah Maridjan sehari sebelum wafat, 25 Oktober 2010 (Antara/ Regina Safri)

BERITA TERKAIT
  • Infografik: Amuk Merapi
  • Tekad Menyelamatkan si Mbah
  • Antara Merapi, Keraton dan Pantai Selatan
VIVAnews - Jarum jam menunjuk pukul 04.00 WIB. Rabu itu, 27 Oktober 2010, hari masih gelap, tapi rombongan tim SAR telah bersiap. Mereka adalah tim evakuasi gelombang kedua yang hendak menyisir korban keganasan wedhus gembel, debu panas Gunung Merapi. Mereka bergegas berangkat dari posko yang letaknya 1 km dari dukuh yang akhir-akhir ini jadi begitu tersohor, Kinahrejo.

Berdua-dua mereka berboncengan motor menuju ke atas. Ada pula yang berjalan kaki. Semua dilakukan dengan gerak cepat, menuju titik-titik yang telah ditentukan saat briefing. Di antara rombongan beranggotakan sekitar 24 orang itu, Hidayat Wahid, kamerawan tvOne--yang lebih dikenal dengan nama udara Don Wahid--berada di barisan terdepan.

Dan kekhawatiran mereka segera terbukti.

Mereka menemukan jenazah pertama tergolek di pinggiran jalan. Tim langsung memasukkannya ke dalam kantung mayat, dan kembali melanjutkan pencarian.

Cahaya pagi mulai nampak, memperjelas pandangan mengerikan di sekeliling perjalanan. Di kanan-kiri semua hancur. Pohon dan tanaman tumbang, hangus, meranggas, berselimut debu vulkanik yang masih terhirup menembus masker, walaupun sudah dirangkap dua. Bagi Don Wahid, suasana kehancuran ini seperti mimpi. Sepi, mencekam.

Kinahrejo sudah di hadapan. Rumah-rumah terlihat porak-poranda. Cuma Masjid Al Amien yang masih terlihat bentuk aslinya. Bulu kuduk Don merinding ketika ia memasuki rumah Mbah Maridjan, sang juru kunci Gunung Merapi yang dulu sering ia sambangi ketika masih menjadi mahasiswa pecinta alam.

Kursi-kursi kayu panjang tempat si Mbah sering duduk-duduk di depan, sudah lenyap. Rumah itu kini menjadi puing-puing. Beberapa bagiannya bahkan tertutup debu putih hingga setebal 30 cm.

Tim langsung merangsek ke bagian belakang rumah Mbah Maridjan yang berbentuk huruf ‘L’. Perlahan mereka menggali tumpukan debu vulkanik. Tiba-tiba, pandangan mereka tertumbuk pada sesosok jenazah yang tertindih puing kayu. Posisinya sedang bersujud.

“Si Mbah, si Mbah...,” beberapa anggota Tim SAR berseru, sembari buru-buru menyingkirkan puing kayu.

Don terhenyak. Ia semula tak percaya bahwa tubuh tak bernyawa itu adalah Mbah Mardijan. Apalagi, sebelumnya beredar kabar bahwa Mbah Maridjan telah ditemukan selamat, meski dalam kondisi lemah. Tapi, beberapa anggota Tim SAR yang mengenal baik Mbah Maridjan meyakinkannya bahwa itu memang jenazah sang penjaga Merapi.

Pakaian koyak yang melekat di tubuh itu memang batik dan sarung yang biasa dikenakan si Mbah. Salawat pun bergema. Air mata Don dan anggota tim lain langsung mengembang. Mereka pun memasukkan jenazah si Mbah di kantung mayat, menuliskan huruf ‘M’ di atasnya dengan spidol, dan langsung melarikannya ke RSUP Dr. Sardjito, Yogyakarta.

Roger...
Bagi sebagian anggota tim SAR, Mbah Maridjan memang bukan sosok yang asing. Bila mendaki Merapi lewat jalur selatan, mereka selalu sowan terlebih dahulu ke tempat Si Mbah. Di rumah yang kini telah porak poranda itu, dulu mereka sering bercengkerama.

Berkat interaksinya dengan para pemuda pecinta alam itulah, yang selalu membawa perangkat komunikasi radio handy talkie, si Mbah mengenal istilah ‘roger’. Maka, jangan heran bila di akhir kalimat pembicaraannya, Mbah Maridjan sering mengimbuhi kata "..., roger.”

Kenangan itu kini terkubur tebalnya lapisan debu vulkanik.
Pada 26 Oktober 2010, pukul 17.02 WIB Merapi mulai ‘batuk’ lagi, sejak meletus terakhir 2006. Diperkirakan, pada letusan yang kedelapan pada pukul 18.21 WIB, Merapi mengembuskan wedhus gembel yang tanpa ampun menyapu bersih dukuh Kinahrejo, Umbulharjo, Cangkringan, Sleman, Yogyakarta.

Hingga berita ini diunggah, awan piroklastik itu setidaknya menyudahi nyawa 36 orang di Kinahrejo dan dusun sekitarnya, termasuk editor senior VIVAnews.com Yuniawan Wahyu Nugroho dan relawan PMI Sleman, Tutur Prijono.

Sebenarnya, Wawan--nama sapaan Yuniawan--dan Tutur, sudah sempat mengungsi dari Kinahrejo, bersama Agus Wiyarto (asisten dan kerabat Mbah Maridjan), anggota keluarga si Mbah, dan beberapa penduduk desa. Akan tetapi, sesampainya di pengungsian Umbulharjo, dengan mengendarai minibus Suzuki APV, Tutur dan Wawan berkeras kembali untuk menjemput Mbah Maridjan yang memilih bertahan di rumahnya. Di tengah hari yang mulai gelap, mereka tanpa ampun disergap bara wedhus gembel.

Tim evakuasi gelombang pertama menemukan jenazah mereka di belakang mobil APV yang diparkir di depan rumah Mbah Maridjan. Saat ditemukan, mesin mobil masih menyala dengan pintu terbuka. Kemungkinan, Wawan dan Tutur sedang menunggu Mbah Maridjan yang sedang salat. (Kisah Wawan selengkapnya bisa dibaca di sini)

Mbah Maridjan dikenal tak pernah meninggalkan salat lima waktu. Menurut Agus Wiyarto, si Mbah selalu bergegas meninggalkan segala aktivitasnya saat terdengar azan untuk menunaikan salat. Jika ada tamu, si Mbah selalu mengajak salat bersama.

Kebiasaan itu masih begitu lekat dalam ingatan Jangkung Suseno Aji, kamerawan Rumah Produksi Indigo. Usai mewawancarai si Mbah pada 2006, Seno dan reporternya bersiap untuk pulang. Namun, karena sudah malam, si Mbah menyarankan mereka untuk bermalam.

“Jangan turun dulu, salat dulu. Besok pagi saja pulangnya, sekarang sudah gelap,” kata Mbah Maridjan dalam bahasa Jawa.

Sepanjang malam, Si Mbah bercerita banyak hal sambil menyelipkan nasihat-nasihatnya. Meski apa yang diucapkannya sepintas terdengar sepele karena diutarakan dengan cara yang lugu, perkataan si Mbah buat Seno punya arti mendalam.

Saat Merapi kembali aktif pada pertengahan April-Mei 2006, banyak wartawan datang meliput. Mbah Maridjan berkali-kali mengatakan, “Kenapa datang ke sini? Merapi sih sudah biasa batuk-batuk. Kenapa tidak justru ke Selatan, karena akan terjadi sesuatu.”
Dua pekan setelah itu--entah kebetulan entah tidak--ucapan Mbah Maridjan terbukti. Pada 27 Mei 2006, Yogyakarta diguncang gempa dan menelan lebih dari 6.200 korban jiwa.
Tiga minggu setelahnya, pada 8 Juni, gunung berapi itu menyemburkan debu panas, melewati kawasan Kaliadem. Namun, ketika itu wedhus gembel tak menyiram Kinahrejo sehingga Mbah Maridjan dan warga pengikutnya yang memilih bertahan, selamat.

Gaji Rp8.000
Bagi warga sekitar Merapi, Mbah Maridjan adalah tokoh panutan. Apalagi, kakek yang lahir 83 tahun lalu itu adalah putra juru kunci Merapi sebelumnya, Mbah Hargo. Ia mulai dilibatkan sebagai asisten juru kunci oleh ayahnya sejak 1965, sebelum diangkat menjadi abdi dalem keraton pada 1974.
Ketika ayahnya meninggal, pria bernama asli Mas Penewu Surakso Hargo itu akhirnya dilantik menjadi juru kunci oleh Sri Sultan Hamengkubuwono IX dengan titel Raden Ngabehi Surakso Hargo.

Sebagai juru kunci, ia diberi amanat untuk menjaga dan mengawasi Merapi. Ia memimpin berbagai ritual di Merapi, termasuk upacara tahunan Labuhan, di mana warga Merapi melemparkan sesaji ke kawah.

Menurut keterangan Agus, untuk jabatannya itu si Mbah hanya digaji Rp8.000 sebulan.
Ketika si Mbah menjadi bintang iklan Kuku Bima Energi, banyak yang mempertanyakan kenapa tiba-tiba sang penjaga Merapi jadi komersil. Tentang ini, Irwan Hidayat, CEO Sido Muncul, bercerita.
Pertama kali bertemu Mbah Maridjan, ia diantar almarhum Sumadi Wonohito, pemilik Harian Kedaulatan Rakyat. Di awal bertamu, Irwan diperkenalkan sebagai seorang pengusaha kaya dari Jakarta. Mendengar itu, reaksi si Mbah datar-datar saja. Menoleh pun tidak. Sekadar menjaga kesopanan, ia hanya berkata, “Inggih, inggih... (iya, iya...)."
Baru setelah Irwan memperkenalkan diri sebagai adik ipar Anton Sujarwo, si Mbah menoleh dan bersikap ramah. “Saya tidak tahu kalau Bapak adik ipar Pak Anton,” Irwan mengenang.

Ditawari jadi maskot Kuku Bima, si Mbah semula menolak. Ia baru bersedia setelah Irwan membujuknya sembari membawa-bawa nama Anton Sujarwo. “Pak Anton itu orang baik. Karena Beliau, warga di sini bisa mendapat air, memelihara ternak, dan sebagainya,” Irwan menirukan Mbah Maridjan.
Mbalelo
Dikisahkan Agus, si Mbah adalah orang yang bersahaja. Ia berprinsip manusia baru punya nilai dan dianggap berkarya bila mampu mengemban amanah dan tanggung jawab. Begitu pula ia memaknai posisinya sebagai juru kunci.
Karena itulah dia kerap berseberangan pandangan soal bahaya Merapi. Tiap kali Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kegunungapian merilis data peningkatan aktivitas Merapi, Mbah Maridjan tak mau mengungsi. Ia merasa sudah menjadi tugasnya untuk menjaga Merapi sampai akhir hayat.

Anton Sujarwo, tokoh yang mengenal baik Mbah Hargo, mengatakan sifat-sifat Mbah Maridjan itu menurun dari ayahnya. “Mbah Hargo menurunkan sifat-sifat keteguhan hati, dedikasi, dan pengabdian,” katanya.

Anton mengenal Mbah Hargo sejak 1970, saat yayasannya, Dian Desa, memulai proyek sosial pemasangan jaringan pipa air bersih ke tujuh dukuh di sekitar lereng Merapi. Menurutnya, pengabdian itu diwujudkan si Mbah dalam bentuk kerelaan hidup sederhana di tempat berbahaya seperti Merapi.
Karena keteguhan hatinya itu, tak jarang Mbah Maridjan disebut sebagai orang yang keras kepala. Tak kurang, oleh Sri Sultan HB X, si Mbah disebut abdi dalem yang mbalelo (membangkang).
Pada 15 Mei 2006, Merapi meletus. Presiden SBY meninjau dan bermalam di lokasi. Seluruh kepala dukuh di sekitar Merapi menghadap. Cuma satu yang absen. Dia adalah Mbah Maridjan.
Ketika Sri Sultan HB X secara langsung membujuk Mbah Maridjan untuk turun mengungsi, ia tak menggubrisnya.
"Wartawan, tentara, polisi punya tugas. Saya juga punya tugas untuk tetap di sini," kata dia.
Si Mbah rupanya kerap tak cocok dengan pilihan langkah Sri Sultan HB X. Menurut Agus, ia misalnya prihatin ketika Raja Jawa itu mencalonkan diri menjadi Presiden.
“Kalau Sri Sultan menjadi presiden, nanti Beliau didemo orang. Lebih baik Beliau menjadi Raja Jawa saja, tidak akan ada yang mendemo," Agus menirukan si Mbah. "Mbok yo ojo nggolek jenang, ning jeneng. Yen nggolek jenang, mengko jenenge keri. Nanging yen nggolek jeneng, jenange katut.” (Semestinya jangan mencari jenang [dodol], tapi mencari jeneng [nama baik, kehormatan]. Kalau mencari jenang, nanti jeneng-nya hilang. Tapi kalau mencari jeneng, jenang sudah pasti termasuk di dalamnya].
Sikap keras kepala itu juga yang ditunjukkan dia sampai akhir hidupnya. Lima hari sebelum Merapi meletus, kata Agus, si Mbah masih hakulyakin aliran lava Merapi akan mengarah ke Kali Opak dan berhenti di Gunung Anyar, tanpa melukai penduduk.

Mendengar peringatan pemerintah, Mbah Maridjan cuma berkali-kali berujar, “Ning arep mati ojo keakehan polah. Nrimalah (kalau akan meninggal, jangan kebanyakan tingkah. Berpasrah diri sajalah)."
Kala kepundan Merapi masih memuntahkan material panas ke angkasa, nisan Mbah Maridjan ditancapkan di tanah pemakaman keluarga di Dusun Srunen, Desa Glagahharjo, Cangkringan. Jasad sang penjaga Merapi kini menyatu dengan bumi yang selama ini dijaganya.
Selamat jalan, Mbah. Roger...
(Laporan: KDW dan Fajar Sodiq, Yogyakarta | kd)
• VIVAnews

Masukkan Data-Data Anda Di Bawah! Dapatkan Petuah Sukses Secara Berkala - Selamanya GRATIS! :-)

Name:
Email:

Delapan Eksekutif Wanita Berpengaruh di Asia


Mereka tak sekedar memimpin ekspansi bisnis, namun berani mengambil putusan kontroversial.
Selasa, 2 November 2010, 17:01 WIB
Heri Susanto, Nur Farida Ahniar
Zeti Akhtar Aziz (biz.thestar.com.my)
BERITA TERKAIT
  • Dari Buruh Pabrik Jadi Ratu Properti China
  • Empat Wanita Kaya Dunia Bermodal "Dengkul"
  • Foto-Foto Pilot Cantik, Muda dan Kaya Raya
  • Tiga Universitas Penghasil Miliarder Dunia
  • Pilot Cantik Ini, Taipan Terkaya di Thailand
VIVAnews- Kini peran wanita tak bisa dipandang remeh dibanding pria. Dengan tangan dinginnya, para eksekutif wanita ini mampu membawa perubahan bagi negara dan perusahaannya.
Mereka bukan sekedar memimpin ekspansi perusahaan untuk mendorong pertumbuhan bisnis, namun berani mengambil kebijakan kontroversial kendati ditentang banyak pihak. Sebut saja misalnya, Gubernur bank negara Malaysia yang berani mengambil kebijakan kontrol devisa yang dikritik tajam oleh Dana Moneter Internasional.

Untuk menghargai para wanita berpengaruh di dunia tersebut, Forbes pun menempatkan 100 wanita dalam jajaran eksekutif perempuan yang berpengaruh.

Dari jajaran tersebut, Forbes menyoroti pula delapan eksekutif Top Wanita di Asia baru-baru ini. Berikut ini jajaran mereka.

1. Zeti Akhtar Aziz, Gubernur Bank Negara Malaysia (63 tahun)

Sejak 10 tahun menjabat sebagai Gubernur Bank Sentral Malaysia, Dr Aziz atau sering dipanggil Zeti, adalah wanita pertama yang menduduki peringkat teratas dari 10 gubernur bank sentral dunia.

Ekonom The University of Pennsylvania itu awalnya sebagai Gubernur ad interim dalam keadaan sulit saat krisis finansial Asia 1998. Pendahulunya memilih berhenti ketimbang harus memaksakan mengambil kebijakan kontrol modal masuk untuk melindungi ringgit dari spekulasi pada 1998 pada masa pemerintah an dipimpin Perdana Menteri Mahatir Mohamad. Meski terus dikritik, terutama dari IMF, Aziz mematok mata uang terhadap Dolar AS dan melarang perdagangan mata uang dari offshore. Wanita bersuara lembut namun pragmatis ini mengawasi transisi ringgit yang mengambang pada 2005 dan relaksasi aturan devisa.

Dengan hubungan baik antara bank Malaysia dengan China, pertukaran renminbi dengan Ringgit dibuka Agustus. Ini seperti jendela bagi pasar emerging market yang menggunakan mata uang di luar Dolar AS, sehingga dapat memicu perdagangan barang.

Aziz juga memperjuangkan sistem keuangan Islam (syariah), sehingga Malaysia menjadi garda depan pasar uang syariah. Aziz berasal dari keluarga Turki dan Arab. Ayahnya adalah ekonom dan ibunya aktivis sosial. Pamannya, Hussein Onn adalah Perdana Menteri ketiga Malaysia.

2. Kim Jeong-ah (48)
Chief executive CJ Entertainment Korea Selatan


Ia menjalankan perusahaan media terbesar di negaranya, ia juga penyedia utama video game online. Sebagai perintis bisnis pertunjukan dan produser. Dia memulai memimpin CJ Entertainment's menjadi marketing dan distribusi pada 2005 dan diangkat menjadi CEO Januari lalu. Ia juga menjadi pendukung film asing. CJ Entertainment memegang distribusi film Iron Man, Indiana Jones dan the Kingdom of the Crystal Skull, Kung Fu Panda dan lainnya di Korea. Ia berencana untuk memproduksi film 3 Dimensi  (1492 Pictures), studio yang dikenal untuk menghasilkan tiga film awal Harry Potter. CJ Group dimulai pada 1995.

3. Jamelah Jamaluddin (54)
CEO of Kuwait Finance House Malaysia


Ia adalah kepala bank syariah terbesar di Malaysia dengan kapitalisasi US$ 640 juta, berafiliasi dengan perusahaan syariah terbesar di dunia. Sebelumnya ia memegang Malaysia 's RHB Islamic Bank, menjadi CEO wanita pertama dalam industri perbankan syariah. Sebagai orang yang berkecimpung selama 25 tahun, ia diminta bergabung kembali dengan perusahaan Kuwait untuk membereskan masalah kredit perumahan setelah terkena serangkaian kredit macet.

4. Kwon Sook Kyo (53)
Chief Executive Woori Finance Information System, Korea Selatan

Ia menjadi wanita pertama yang memimpin Woori Financial Group. Dia mengawasi rencana perluasan ke China, India dan Asia Tenggara. Ia meraih gelar sarjana matematika dari Ewha Womens University dan MBA dari Sogang Univerity. Ia bergabung dengan Citibank cabang Seoul pada 1985 dan menjadi supervisor departemen IT sebelum menjadi managing director.
Bersambung ....
• VIVAnews
Masukkan Data-Data Anda Di Bawah! Dapatkan Petuah Sukses Secara Berkala - Selamanya GRATIS! :-)

Name:
Email:

Tiga Pendiri Facebook, Orang Kaya Termuda AS


Masuknya Facebook membuat standar rata-rata usia orang terkaya menjadi menurun.
Kamis, 4 November 2010, 06:58 WIB
Antique, Nur Farida Ahniar
Pendiri Facebook, Mark Zuckerberg (AP Photo)
BERITA TERKAIT
  • Delapan Eksekutif Wanita Berpengaruh di Asia
  • Dari Buruh Pabrik Jadi Ratu Properti China
  • Empat Wanita Kaya Dunia Bermodal "Dengkul"
  • Foto-Foto Pilot Cantik, Muda dan Kaya Raya
  • Tiga Universitas Penghasil Miliarder Dunia
VIVAnews - Industri teknologi terbukti mudah melambungkan anak muda menjadi miliarder. Terbukti, tiga pendiri Facebook masih menempati peringkat teratas untuk miliarder termuda di Amerika Serikat (AS).

Menurut versi majalah Forbes, pendiri Facebook masih menjadi miliarder termuda yang masuk dalam 20 jajaran miliarder Amerika. Masuknya Facebook membuat standar rata-rata usia orang terkaya menjadi menurun. Terlihat, terdapat delapan miliarder Amerika yang berusia di bawah 40 tahun dan tiga di antaranya adalah pendiri Facebook.

Pendiri Facebook, Mark Zuckerberg bukanlah menjadi orang kaya termuda Amerika, namun justru teman sekamarnya yang lebih muda delapan hari dibanding Zuckerberg, yaitu Dustin Moskovitz.
Dustin menangani teknologi di situs jaringan sosial itu. Ia meninggalkan Facebook pada 2008 dan memulai kerja di sana, sebuah perusahaan software yang memungkinkan individu di perusahaan kecil bekerja sama. Kekayaan Moskovitz diperkirakan mencapai US$1,4 miliar yang berasal dari keutungan sahamnya sebesar enam persen.

Peringkat kedua, pendiri Facebook Mark Zuckerberg. Meski tak lagi menjadi miliarder termuda dari 400 orang terkaya dunia, namun dia telah membukukan keuntungan terbesar tahun ini. Kekayaannya melonjak menjadi US$6,9 miliar dari US$2 miliar. Keuntungan ini lebih tinggi lima kali lipat dibanding Moskovitz dan melebihi keuntungan Apple.

Peringkat ketiga, juga ditempati salah satu pendiri Facebook, Eduardo Saverin yang berusia 28 tahun. Ia pernah memiliki sepertiga saham Facebook. Ketika Zukerberg dan Moskovitz berhenti kuliah dan pindah ke California, Saverin tetap tinggal untuk menyelesaikan kuliahnya. Setahun kemudian Facebook menggugatnya.
Ia lalu mendapatkan lima persen saham dan menjadi wakil pendiri Facebook dalam biografi di situs Facebook. Kepemilikan saham itu membuat ia mempunyai kekayaan sekitar US$1,15 miliar.

Memang bidang teknologi, khususnya internet telah lama menjadi pilihan untuk menjadi orang kaya di usia muda. Bill Gates memulai debutnya dalam daftar tersebut pada 1986 di usia 30 dengan kekayaan bersih US$315 juta.
Sementara itu, Michael Dell memulai debutnya pada usia 26, dan 19 tahun kemudian ia masih masuk 20 orang kaya termuda. Demikian juga untuk pendiri Yahoo David Filo dan Jerry Yang, yang juga membuatnya menduduki peringkat pertama daftar 20 miliarder termuda Amerika.
• VIVAnews

Masukkan Data-Data Anda Di Bawah! Dapatkan Petuah Sukses Secara Berkala - Selamanya GRATIS! :-)

Name:
Email:

Cara Jadi Miliarder Sukses di Usia Muda


Memulai bisnis dari usia belasan tahun, mereka kini sukses menjadi miliarder.
Kamis, 4 November 2010, 13:22 WIB
Heri Susanto, Nur Farida Ahniar
Michael Dell dengan Porsche Boxster tahun 2004  
BERITA TERKAIT
  • Tiga Pendiri Facebook, Orang Kaya Termuda AS
  • Delapan Eksekutif Wanita Berpengaruh di Asia
  • Dari Buruh Pabrik Jadi Ratu Properti China
  • Empat Wanita Kaya Dunia Bermodal "Dengkul"
  • Foto-Foto Pilot Cantik, Muda dan Kaya Raya
VIVAnews - Pendiri Facebook Mark Zuckerberg kini dikenal sebagai sosok miliarder muda, yang memulai debutnya di usia 19 tahun. Dia memulai membuat Facebook dari asrama Harvard pada 2004 dan saat ini berusia 26 tahun. Ia juga menjadi filantropis yang menyumbangkan US$ 10 juta untuk sekolah distrik Newark NJ.

Sosok Zuckerberg yang masih muda memberi kisah yang insipiratif bagi banyak orang. Di luar Zuckerberg, sesungguhnya beberapa perguruan tinggi juga telah mencetak miliarder muda setiap tahunnya.

Namun, menjadi miliarder muda tentu tak semudah membalikkan telapak tangan. Seperti dikutip VIVANews dari Kiplinger.com, menjadi pengusaha di usia muda membutuhkan visi, kecerdasan, tekad kuat, dan sedikit keberuntungan. Berikut ini kisah para pengusaha yang memulai kariernya di bawah 25 tahun.

1. Michael Dell, Pendiri dan CEO Dell Computers.
Ia memulai debutnya pada usia 19 tahun. Dell meluncurkan komputernya pada 1984 tepat sebelum putus kuliah dari University of Texas. Melalui penjualan langsung, Dell menjual komputer dengan harga lebih murah sehingga mendapatkan banyak pelanggan. Pada usia ke 24, perusahaannya meraup pendapatan US$ 258 juta. Diperkirakan kekayaan terakhirnya sebesar US$ 13,5 miliar. Saat ini ia berusia 45 tahun.

Ia berpesan kepada pengusaha muda yang akan merintis usaha, "Anda harus bergairah dengan usaha itu. Lakukan yang benar-benar anda cintai dan membuat anda bersemangat," ujarnya ketika diwawancarai dengan Academy of Achievement.

2. Catherin Cook
Ia adalah pendiri myyearbook.com yang memulai bisnis pada usia 18 tahun. Pada 2005, Catherine dan adiknya mendirikan situs jejaring sosial yang berfungsi seperti buku tahunan digital. Isinya, berupa gambar teman, juga mata uang virtual yang sering disebut "lunch money". Saat ini ia memiliki 20 juta anggota dan merupakan salah satu dari 25 situs web yang paling populer di AS. Saat ini ia berusia 20 tahun.

Kunci yang ia pegang yaitu,"Berhenti berpikir mengenai suatu hal, namun buatlah hal itu terjadi."

Menurutnya, masa-masa di usia muda adalah waktu terbaik untuk memulai bisnis sendiri. Sebab, pada saat masih muda, anda tidak mempunyai tanggung jawab seperti halnya saat anda tua. "Seandainya anda gagal sekarang, setidaknya anda telah mempunyai pengalaman pertama yang membuat anda sukses berikutnya," ujarnya.

3. Sean Belnick, pendiri BizChair.com.
Ia mulai mendirikan situsnya sejak usia 16 tahun. Belnick menjual perabot bisnis online selama hampir satu dekade. Namun ia baru lulus dari Sekolah Bisnis Goizueta Univeritas Emory.

Menurutnya untuk memulai sesuatu, tidak ada kata terlalu dini. Ketika berumur 14 tahun, ia menemukan banyak info di internet. "Lakukan penelitian dan temukan cara untuk melakukan apa yang ingin anda lakukan," itu sarannya.

4. Juliette Brindak, pendiri/CEO MissOandFriends.com.
Perempuan yang saat ini berusia 21 tahun ini memulai usahanya pada usia 19 tahun. Meski tak mau membocorkan berapa kekayaannya pada saat menjadi jutawan, namun nilai perusahaannya mencapai US$15 juta ketika ia masih berusia 19 tahun.

Pada umur 10 tahun, Brindak memulai dengan melukis kartun seorang gadis yang "keren" dan menjadi bintang di situs komunitas remaja pada 2005.

Ia mempuyai saran: Carilah tim solid untuk mendukung ide anda."Jika seseorang mulai meragukan perusahaan anda, serta apa yang anda lakukan, anda harus singkirkan mereka."
• VIVAnews

Masukkan Data-Data Anda Di Bawah! Dapatkan Petuah Sukses Secara Berkala - Selamanya GRATIS! :-)

Name:
Email:

toko-delta.blogspot.com

Archives

Postingan Populer

linkwithin

Related Posts with Thumbnails

Total Tayangan Halaman

Diberdayakan oleh Blogger.