toko-delta.blogspot.com

menu

instanx

Selasa, 21 Oktober 2008

MENCOBA APA YANG DITAKUTKAN



Hari ini hari pertama saya membuka “tulisan” ,artinya ini merupakan benar-benar tulisan pertama saya,saya mencoba apa yang selama ini saya takutkan, takut kaidah penulisan saya salah, takut pemenggalan kata salah, takut berbau provokasi negative dan takut mendapat cibiran dingin dari penulis-penulis yang lebih “jago”.
Lalu apa gunanya saya menbaca selama ini dan mempelajari tulisan dari orang lain,kutipan pedas dari seorang penulis yang sepintas lalu saya dapatkan dan yang sangat dalam mengenai hati saya adalah “jika kamu berpikir untuk membuat tulisan lalu kapan kamu akan mulai menulis”.Dari hal tersebut sebenarnya ketakutan terbesar dalam hidup adalah dimana kita belum berusaha untuk suatu hal tetapi kita sudah menyimpulkan hasilnya.




Garis besarnya memang seperti itu, kita ada di suatu sisi dimana kita akan memperbaharui bahkan ingin memajukkan kemampuan kita (katakanlah secara umum memajukkkan hidup kita) , tetapi kita terbentur prosedur bahkan memikirkan syarat teknis untuk bisa melakukan perubahan tersebut.Namun, apa salahnya jika kita mendapat jalan pintas tanpa prosedur , kenapa tidak kita lakukan segera?? Apalagi jika jalan pintas itu berbuah hasil yang sama.
Dari setiap yang kita lakukan pasti ada resikonya,”semua hal” menghasilkan resiko, mau tak mau kita harus menghadapinya,sekarang ataupun besok,semakin tidak berani menghadapi resiko tersebut, berarti anda akan menumpuk ketakutan anda dan tidak akan pernah belajar memahaminya.Kebalikannya, semakin cepat ada mengambil sikap semakin siap anda akan kemungkinan resiko yang akan datang,dengan kritik yang semakin membangun dari setiap sandungan masalah, diri anda akan semakin siap untuk menempuh pembaruan berikutnya dan menuju masa-masa dimana anda akan dapat memberi solusi terhadap masalah dan resiko yang akan orang lain terima.
Saya tak berbekal apa-apa dalam menulis ini, pengetahuan motivasi saya pun juga masih mendasar,lalu kenapa saya berani mengambil sikap??.Pertama, mulai hari ini dan seterusnya saya hanya ingin menyakinkan bahwa diri saya berani,dalam artian saya siap memulai perubahan dan membangun diri saya. Kedua,Saya ingin tahu “Benarkah masih ada yang saya takutkan dalam hidup saya( eksplorasi diri )??”, Ketiga , membangun motivasi besar dalam hidup saya ,seperti ungkapan“dia saja bisa kenapa saya tidak” ( dia = binatang yang bertahan hidup ).
Jadi inilah hal yang besar yang harus kita mulai, belajar memahami rasa takut dan memanfaatkannya menjadi suatu pengetahuan.

SELAMAT, ANDA TELAH GAGAL!

Oleh: Victor Asih

Suatu ketika, seorang mahasiswi pernah berkeluh kesah kepada saya mengenai berbagai kegagalan yang dialaminya saat menyelesaikan tugas kuliah yang saya berikan pada minggu sebelumnya. Dia merasa sangat sedih serta kecewa dengan kegagalannya itu dan merasa putus asa.

Saya menanggapi dengan tersenyum sambil menyodorkan tangan kanan untuk menjabat-tangannya sambil berkata, “Selamat, Anda sudah gagal !” Respon saya menanggapi keluhannya sungguh sangat di luar dugaan. Dia spontan terkejut dan hampir tak percaya.

“Lho, kok Bapak berkata seperti itu ...?” tanyanya dengan nada heran dan hampir menangis. Mungkin dia pikir saya mengejek kegagalannya.

Kemudian saya jelaskan kepada mahasiswi tersebut mengenai kegagalan. “Selama proses pencapaian impian, mungkin Anda harus mengalami berbagai kegagalan atau terhempas pada suatu kondisi yang sangat tidak menyenangkan. Yang perlu Anda kuasai untuk menghadapi kegagalan adalah bagaimana Anda mengelola kegagalan, yang kita sebut sebagai manajemen kegagalan atau failure management.” Kegagalan atau kesuksesan sebenarnya adalah kondisi yang sama, seperti koin mata uang yang sama, tetapi dilihat dari sisi yang berbeda. Sisi yang satu berisi angka dan sisi yang lain berisi gambar. Sebagai contoh, saat seorang pemuda ditolak cintanya oleh gadis pujaan hatinya. Pemuda itu boleh menganggap penolakan itu sebagai kegagalan cintanya. Kegagalan itu pasti membuat hatinya sangat sedih dan hancur.

Tetapi pemuda pemuda itu juga boleh menganggap penolakan itu sebagai keberhasilan, yaitu berhasil mengetahui bahwa gadis itu bukanlah jodoh yang tepat baginya. Sehingga, dia bisa mencari gadis lain yang lebih baik, yang telah disediakan Tuhan baginya. Pemikiran ini akan membuat hati pemuda tersebut tetap berbahagia, karena memiliki kesempatan untuk menemukan gadis yang lebih tepat untuk menjadi pasangan hidupnya. Gadis yang lebih baik daripada gadis yang telah menolak cintanya tersebut.

Dua pandangan yang berbeda untuk kondisi yang sama, yaitu ditolak cintanya. Pandangan yang pertama (pandangan negatif) menggunakan kegagalan sebagai “batu sandungan” yang membuatnya jatuh terjerembab sehingga menghancurkan hatinya sendiri. Sedangkan pandangan yang kedua (pandangan positif) menggunakan kegagalan sebagai “batu loncatan” untuk mencapai kesuksesan yang lebih tinggi.

Seperti bila kita mendaki puncak gunung demi puncak gunung. Setelah mencapai satu puncak gunung, kita akan dapat melihat gunung lain yang lebih tinggi. Untuk mencapai puncak gunung yang lebih tinggi tersebut, kita harus terlebih dahulu turun ke lereng gunung. Bahkan mungkin kita harus turun ke lembah dan jurang yang dalam, sebelum kita dapat mulai mendaki menuju puncak gunung yang lebih tinggi.

Mungkin suatu hari Anda terjebak dalam situasi yang paling buruk yang pernah terjadi dalam hidup Anda. Anda mungkin merasa sudah berada di “dasar jurang terdalam” dari kesengsaraan Anda. Kalau memang Anda telah berada di dasar jurang terdalam, kabar baiknya adalah tidak ada lagi tempat yang lebih dalam. Berikutnya hanya ada satu jalan, kalau tidak sama datarnya pasti menuju ke tempat yang lebih tinggi.

Berarti tidak akan ada lagi kondisi yang lebih menyengsarakan daripada yang Anda sedang alami saat ini. Esok hari pasti lebih baik. Jadi, berjuang dan bertahanlah. Berusaha terus untuk dapat keluar dari kondisi malang tersebut.

Dalam keadaan kalut, tertekan, kecewa, marah, sakit hati, stres, dan depresi, Anda akan mengalami banyak godaan untuk bersikap destruktif atau menghancurkan. Sebagai pelampiasan kekecewaan, mungkin saja Anda terdorong untuk menghancurkan diri Anda sendiri atau orang lain disekitar Anda. Tetapi Anda harus tetap mempertahankan pikiran yang positif. Memang ini adalah proses yang harus Anda alami untuk meningkat kepada puncak gunung kesuksesan yang lebih tinggi.

Jangan sampai Anda terbujuk bisikan setan, “Minumlah bayxxx chayank...”, seperti plesetan iklan salah satu obat nyamuk cair terkenal. Di media massa, sempat saya membaca beberapa kisah mengenai orang-orang yang sangat menderita menjelang ajal karena sesaat terbujuk bisikan setan ini. Menyesal pun tidak ada gunanya lagi, jika sudah terlanjur terjadi.

Anda juga jangan pernah mencoba belajar menjadi Superman, terjun bebas meloncat dari lantai atas gedung tinggi. Kalau Anda mau menjadi seperti Superman, biasakan dulu gaya busana sehari-hari Superman. Superman selalu pakai celana kolor (celana dalam) di luar, bukannya di dalam.

“Ya, iyalah…,” tukas seorang teman. “Kalau pakai celana kolor di dalam sih namanya Suparman, bukannya Superman.” Jangan pula sekali-kali mencoba bermain ayunan dengan tali yang menjerat leher Anda. Bermain ayunan dengan cara ini bisa dipastikan tidak akan dapat menghibur kesedihan Anda. Paling banter Anda akan menjadi tontonan warga, menjadi konsumsi berita di media massa, dan menakut-nakuti anak kecil.

Semua cara yang pernah dicoba beberapa orang itu tidak akan membuat Anda berhasil mengatasi kegagalan. Paling banter hanya berhasil menambah satu orang lagi pengikut setan, yaitu Anda! “Jangan bikin neraka tambah penuh,” kata teman saya, yang sering merasa khawatir akan masuk ke neraka kalau meninggal dunia nanti.

Sekacau apa pun keadaan Anda saat ini, tenangkan pikiran Anda dan bersyukurlah kepada Tuhan. Masih banyak orang yang bernasib jauh lebih malang dari pada Anda. Kalau Anda masih bisa bernapas dan masih bisa bergerak, sementara banyak orang di rumah sakit tergeletak tak berdaya. Bahkan untuk bernapas pun harus dibantu peralatan khusus. Anda masih memiliki banyak keberuntungan dan anugerah dari Tuhan yang mengasihi Anda.

Anda bisa mencari teman sejati untuk berbagi perasaan kecewa Anda. Kalau tidak bisa menemukan teman yang bisa diajak berbagi (curhat), Anda bisa mencari lembaga-lembaga konseling. Atau Anda meminta referensi teman untuk diperkenalkan pada orang-orang yang dapat membantu Anda.

Saya teringat pada sebuah lagu yang sering saya nyanyikan sewaktu masih kecil dulu. Liriknya adalah sebagai berikut:

“ Hati yang gembira...a...a.... adalah obat...
Seperti obat, hati yang senang...
Tapi semangat yang padam, keringkan tulang...
Hati yang gembira.... Tuhan senang...”

Di kala saya merasa sedih atau kecewa, saya sering menyanyikan lagu ini saat kecil dulu. Sambil bernyanyi, saya meresapi kata demi kata dalam lagu itu dengan keluguan. Hati saya menjadi terhibur, dan berangsur merasakan bahagia kembali ditengah berbagai penderitaan yang sedang saya alami waktu itu. Pada masa kecil, saya memang banyak mengalami kekecewaan, sakit hati, dan penderitaan. Tidak seperti yang dialami oleh anak-anak kecil sebaya saya pada umumnya.

Hati yang gembira adalah obat. Banyak testimoni orang sembuh dari berbagai penyakit karena hati yang selalu gembira. Dan banyak juga orang yang mengalami penyakit parah (kanker) karena kesedihan hatinya yang berlarut-larut. Jadi sumbernya adalah hati. Seperti lirik lagu salah seorang Kyai kondang di Tanah Air, “Jagalah hati, jangan kau nodai. Jagalah hati, lentera hidup ini....”

Bagaimana cara menjaga perasaan hati ? Perasaan hati dipengaruhi oleh pikiran. Pikiran negatif akan membuat perasaan menjadi tidak nyaman. Sebaliknya pikiran positif akan membuat perasaan nyaman dan bahagia. Jadi, jagalah pikiran Anda supaya tetap positif supaya perasaan hati Anda terjaga tetap tenang dan merasa bahagia.[va]

* Victor Asih dapat dihubungi di victorasih@yahoo.co.id atau bagi Anda yang ingin sekolah bisnis gratis, silakan klik www.usbschool.com

MENGUBAH BATU JADI PATUNG

Oleh: A. Asep Syarifuddin

SUATU hari seorang pematung datang membawa sebuah batu yang bukup besar berukuran sekitar panjang 2 meter dan lebarnya setengah meter. Batu itu diambil dari pegunungan yang dekat dengan rumahnya. Bentuknya sama saja dengan batu-batu biasa yang dapat kita lihat di sungai. Pematung itu membeli sebongkah batu hanya dengan harga Rp 100.000.

Setelah itu pematung mulai memahat batu tersebut. Mulai dari membentuk kepala, wajah, leher, badan, tangan, kaki sampai jari-jari kaki. Pekerjaan itu dilakukan dari waktu ke waktu dari hari ke hari dengan penuh rasa gembira. Orang yang sempat lewat di depan pematung itu tidak begitu menghiraukan apa yang tengah diperbuat olehnya.

Enam bulan kemudian bongkahan batu tersebut sudah berubah total menjadi sebuah patung yang sangat indah. Bahkan sudah ada orang yang menawar patung tersebut dengan harga yang cukup tinggi. Berapa patung tersebut ditawar? Mereka berani menawar Rp 50 juta. Berapa kali lipatkah harga antara pembelian pertama yang masih sebongkah batu dengan sesudah menjadi patung yang indah? Berlipat-lipat. Pertanyaannya, apa yang menjadikan batu itu berbeda. Dilihat sepintas, patung itu masih juga batu, tetapi mengapa nilainya menjadi lebih tinggi.

Semua orang mengetahui, perubahan nilai bisa kita peroleh apabila terjadi gesekan, benturan, pahatan bahkan bantingan. Batu yang diukir akan memiliki nilai berbeda bila dibandingkan dengan batu apa adanya. Bagaimana halnya dengan manusia? Apakah manusia juga sama memiliki nilai lebih apabila dibenturkan, ditempa, "dipahat", digosok?

Tidak semua orang menyadari bahwa perjalanan hidup yang kadang terasa pahit, membosankan, menjengkelkan, penuh dengan problematika, pusing, kadang-kadang agak stres, tidak bisa tidur, dll. Semua itu adalah proses untuk mencapai keadaan tertentu. Bila kita bandingkan dengan kasus tukang batu di atas, persoalan sehari-hari tersebut ibarat pahat yang sedang membentuk diri kita supaya memiliki nilai lebih dari sebelumnya. Apabila kita memiliki konsistensi dalam memahat diri, baik dengan belajar secara terus menerus, menghadapi persoalan dengan positive thinking dan positive feeling, tanpa disadari kualitas dan nilai diri kita dari waktu ke waktu terus berubah.

Ada hukum proses yang mesti kita jalani, di sana butuh waktu dan butuh action untuk sampai pada satu tujuan tertentu. Kebanyakan manusia lupa akan hukum proses pembentukan sesuatu. Inginnya cepat mencapai sesuatu, cepat kaya, cepat sukses, cepat menduduki posisi tertentu. Bisa saja itu terjadi. Seseorang dalam kurun waktu satu tahun bisa kaya mendadak dengan menjual seluruh warisan orangtuanya. Tapi karena kekayaan yang dia miliki tidak berbasis mental kaya, maka bisa ditebak ujungnya. Orang tersebut tidak perlu menunggu waktu terlalu lama, dia akan menjadi miskin kembali.

Mengapa menjadi miskin kembali? Karena secara mental dia tidak siap untuk menjadi kaya. Yang muncul adalah sikap konsumtif yang mendorong dirinya membelanjakan seluruh kekayaannya untuk memenuhi gaya hidupnya. Dia sama sekali lupa bahwa kekayaan yang dimilikinya mestinya diinvestasikan dengan cara tertentu, sehingga kekayaannya dari waktu ke waktu semakin bertambah.

Patung adalah salah satu contoh bahwa ada proses dan tempaan yang harus kita hadapi untuk mencapai perubahan yang lebih bernilai. Kita juga bisa menengok contoh kasus lain yang sering terlihat dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya seekor ulat ingin menjadi kupu-kupu harus menempuh waktu tidak kurang dari tujuh hari. Selama di dalam kepompong ulat tersebut berdiam diri, tidak makan tidak minum dan pada saatnya dia keluar menjadi kupu-kupu yang sangat indah, terbang ke sana kemarin.

Bagaimana kalau sebelum tujuh hari kepompong tersebut dibuka oleh seseorang? Misalnya saja, seorang anak kecil iba melihat ulat di dalam kepompong. Maka dibukalah kepompong tersebut padahal baru tiga hari. Ulat itu keluar dan masih berbentuk ulat. Tapi satu hari kemudian ulat tersebut mati dan tidak bisa mewujudkan impiannya untuk menjadi kupu-kupu yang indah. Niat baik anak kecil tadi melawan hukum alam yang ada. Sehingga akibatnya jauh lebih fatal terhadap ulat tadi, tidak menjadi kupu-kupu malah mati.

Demikian halnya manusia, apabila menghadapi persoalan hidup yang ruwet, susah, dll, itu adalah proses untuk mencapai kualitas manusia yang lebih tinggi. Bahasa orang tua dulu, kalau Anda hidup prihatin, maka Anda akan mencapai apa yang dicita-citakan. Percaya atau tidak percaya, kehidupan telah memberikan jawaban yang lengkap atas seribu satu pertanyaan manusia yang belum juga sadar akan hukum-hukum tersebut.[aas]

* A. Asep Syarifuddin adalah seorang jurnalis. Ia dapat dihubungi di email:

PEMIMPIN YANG BERINTEGRITAS

Oleh: Saumiman Saud

Jawab mereka: "Engkau tidak memeras kami dan engkau tidak memperlakukan kami dengan kekerasan dan engkau tidak menerima apa-apa dari tangan siapapun.”
~ Alkitab, 1 Samuel 12:4

Apabila seseorang tidak berbuat salah, maka ia tidak perlu merasa takut. Selama pemerintah di dunia menjalankan pengawasan yang benar, maka orang-orang benar tidak perlu merasa takut. Sebab, yang benar tetaplah benar; kecuali dipersalahkan dengan cara yang diselewengkan. Di kota Gilgal kira-kira 3.000 tahun yang lalu ada seorang yang sungguh berani mempertaruhkan hidupnya di hadapan orang banyak. Orang itu bernama Samuel. Samuel menyampaikan pidato yang bukan sekadar muluk-muluk.

Samsudin Berlian seorang Magister Etika dan Sosial juga seorang Sarjana Teologi di dalam Harian Kompas menuliskan bahwa pada waktu itu Samuel itu tidak berjanji tentang kemajuan ekonomi, politik, dan keamanan. Ia bukan pula mengucapkan berbagai perbaikan diri atas kegagalan yang telah diperbuatnya. Namun, ia justru berkata demikian, “Di sinilah aku berdiri, berikanlah kesaksian menentang aku di hadapan Tuhan. Lembu siapakah yang telah kuambil? Keledai siapakah yang telah kuambil? Siapakah yang telah kuperas? Siapakah yang telah kuperlakukan dengan kekerasan? Dari tangan siapakah telah kuterima sogok sehingga aku harus tutup mata? Aku akan mengembalikannya padamu?”

Mengapa Samuel begitu berani secara gamblang menantang rakyatnya? Apa rahasianya? Mulanya orang Israel mendesak Samuel agar mereka boleh memiliki seorang raja seperti negeri-negeri lain. Sebenarnya, selama ini Samuel sendiri memiliki dua jabatan. Ia sebagai hakim yang memimpin orang Israel sama seperti raja, dan ia juga sebagai nabi. Negeri Israel berlaku sistem pemerintahan theokrasi, artinya Allah sendiri yang memimpin umat Israel secara langsung melalui Samuel.

Pasal 8:1, di sana mencatat bahwa ketika Samuel telah tua, maka anak-anaknya Yoel dan Abia menggantikannya menjadi hakim. Tetapi sayang sekali, anak-anaknya tidak hidup seperti ayahnya. Mereka senantiasa mengejar laba, menerima suap, dan memutarbalikkan keadilan. Itu sebabnya maka tua-tua Israel berkumpul, mereka datang pada Samuel di Roma, dan berkata kepadanya, “Engkau sudah tua, dan anak-anakmu tidak hidup seperti engkau, maka angkatlah sekarang seorang raja atas kami untuk memerintah kami seperti pada segala bangsa lain.”

Kalimat ini sangat mengesalkan hati Samuel. Itu sebabnya Samuel datang kepada Tuhan. Lalu, Tuhan memberikan penghiburan kepadanya, “Bahwa sesungguhnya yang mereka tolak itu bukan engkau tetapi Aku.” Dengan demikian maka Samuel diminta Tuhan untuk mengurapi seorang raja manusia bagi orang Israel . Waktu itu yang terpilih adalah Saul.

Nah, pidato yang disampaikan oleh Samuel justru tatkala ia tidak lagi memegang jabatan. Saat itu Samuel sudah menjadi masyarakat biasa. Ia datang menantang di muka umum. Samsudin Berlian menambahkan bahwa seorang pemimpin yang licik akan menantang rakyatnya pada saat ia sedang berkuasa, sebab saat itu rakyatnya pasti tidak berani menyalahkannya. Sering kita mendengar ABS, Asal Bapak Senang, jadi walaupun sang pemimpin bobrok, brengsek, lebih baik diam saja. Salah berkomentar malah jabatan sendiri terdepak. Samuel tidak demikian, saat ini justru ia tidak berkuasa lagi; jadi terbuka kesempatan bagi rakyat untuk menyelidikinya. Saul raja yang terpilih juga hadir di sana, dan ia bertindak sebagai saksinya.

Memang Samuel bukan orang yang sempurna seratus persen, sebab anak-anaknya tidak menjadi teladan yang baik sebagai hakim. Itu sebabnya di dalam 1 Samuel 12:2 Samuel berkata “Anak-anakku laki-laki ada di antara kamu.” Banyak penafsir yang mengartikan bahwa Samuel itu telah mencabut kedudukan anak-anaknya dengan tegas. Sehingga saat ini anak-anaknya bukan lagi sebagai hakim lagi namun masyarakat biasa yang ada bersama-sama orang Israel. Samuel tidak kompromi, ia juga tidak KKN atau tutup sebelah mata seperti para pemimpin masa kini. Pemimpin masa kini AAUSB? Apa itu? Asal Ada Uang Semua Beres? Berbeda dengan Imam Eli, ia terlalu lemah bertindak terhadap anak-anaknya. Sehingga kesalahannya berlarut-larut.

Satu tantangan bagi setiap orang dan keluarga orang percaya yang memiliki anak-anak. “Berkat Tuhan, kalau tidak dijaga dan dipelihara serta dipakai baik-baik. Akan menjadi malapetaka.” Kecantikan dan uang adalah berkat, bila tidak dipakai secara baik-baik maka akan menimbulkan malapetaka. Demikian juga kepandaian (otak cemerlang) bahkan anak-anak kita. Bila kepandaian tidak terkendali dan mengarah pada takut akan Tuhan, maka malapetaka akan terjadi.

Tahun lalu saya sempat mengunjungi sebuah College di San Jose. Kami membuka stan di sana untuk menyambut anak-anak Indonesia yang baru datang sekolah di San Jose. Dalam rangka itu secara tidak langsung kami juga memperkenalkan pelayanan kaum muda di GII San Jose tentunya. Melalui perbincangan dengan seorang bapak yang kebetulan mengantar anaknya ke sekolah; kami sempat berbicara banyak tentang masalah kehidupan. Memang saya ada bertanya apa usahanya, namun beliau tidak sempat memberitahukan. Tetapi, dari pembicaraan itu saya mengetahui bahwa beliau tinggal di Kalimantan dan memiliki rumah di Surabaya.

Anaknya ada tiga orang, namun semua sudah di Amerika. Dia merasa kesepian sekali, sebab istrinya juga lebih sering di Amerika ketimbang di Indonesia. Setiap Sabtu ia terbang dari Kalimantan ke Surabaya, hanya berkumpul dengan teman-teman, kongkow-kongkow, dan berolahraga. Dia katakan di dunia ini walaupun uangnya banyak, namun tidak bisa berbuat banyak. Dahulu ia berpikir kalau uang banyak maka ia boleh setiap hari berpesta. Namun, kenyataannya uang banyak makan malah harus ditakar dan banyak pantangan. Salah makan maka darah tinggi kambuh.

Saya sempat makan siang bersama dengannya, namun karena keterbatasan waktu saya hanya katakan kalimat singkat padanya, “Bahwa Tuhan Yesus adalah sahabat Anda yang sejati.” Uang banyak akan menjadi malapetaka kalau tidak dipergunakan dengan penuh hikmat dari Tuhan, bukan?

Lihat Amsal 13:24, “Siapa yang tidak menggunakan tongkat, benci kepada anak-anaknya tetapi siapa yang mengasihi anaknya menghajar dia pada waktunya.” Amsal 19:18, “Hajarlah anakmu selama ada harapan, tetapi jangan engkau menginginkan kematiannya.” Amsal 23:13-14, “Jangan menolak didikan dari anakmu ia tidak akan mati kalau engkau memukulnya dengan rotan. Engkau memukulnya dengan rotan, tetapi engkau menyelamatkan nyawanya dari dunia orang mati.“

Pada ayat 3 Samuel menantang mereka: Lihatlah tantangannya, “Lembu/keledai siapa yang pernah kuambil? Siapakah yang pernah kuperas/kuperlakukan dengan kekerasan? Dari siapa aku telah merima sogok atau suap?” Saya mengutip apa yang dikatakan Budi Asali yakni kata sogok (bribe) terjemahan hurufiah a covering (penutup adalah sogok/suap untuk menutupi mata hakim terhadap kesalahan seseorang sehingga membenarkan yang salah.

Tantangan Samuel dalam ayat 3 ini mirip dengan tantangan Tuhan Yesus dalam Injil Yohanes 8:6a, “Siapakah di antaramu yang membuktikan bahwa Aku berbuat dosa?” Ternyata tidak ada seorang pun yang berani menerima tantangan itu. Jawab mereka, “Engkau tidak memeras kami, dan engkau tidak memeperlakukan kami dengan kekerasan dan engkau tidak menerima apa-apa dari tangan siapa pun.” Umat Israel tetap memuji integritas kepemimpinan Samuel. Ia bersih, ia bebas dari kesalahan. Jadi benar sekali apa yang Tuhan katakan bahwa umat Israel bukan menolak Samuel, tetapi mereka menolak Tuhan.

Apa yang bisa kita pelajari dari Samuel ini? Kehidupan manusia itu sifatnya sementara. Pengkhotbah mengatakan semua itu ada waktunya. Saya coba dengan bahasa saya sendiri menguraikannya. Ada waktu untuk bertemu dan ada waktu untuk berpisah. Ada waktu untuk naik dan ada waktu untuk turun. Ada waktu untuk sukses dan ada waktu untuk gagal. Ada waktu untuk hidup dan ada waktu untuk mati. Jadi bukan seberapa lanjutnya usia kita lalu menentukan kita ini hidup berkualitas; tetapi dalam kurun waktu yang diberikan Tuhan untuk kita boleh hidup di dunia ini. Apa yang kita isi di dalam hidup ini?

Salah seorang pemuda di San Francisco, Jumat lalu, bersaksi demikian. Senin siang ia makan di sebuah restoran di downtown. Baru saja ia meneguk segelas Coke, tiba-tiba ia merasa sesak dan dengan cepat ia jatuh tergeletak. Kepalanya bocor karena terbentur meja marmer dan saya lihat oleh dokter dijepretkan beberapa steples. Dalam kesaksiannya ia berkata, waktunya berlangsung cepat sekali, ia tidak sempat bekata-kata, tidak ada pilihan lain kecuali jatuh. Saya coba menyimpulkan bahwa hidup kita yang rentan ini butuh hikmat supaya setiap kita memakai kesempatan yang ada. Hidup bukan mainan yang dapat dimain-mainkan.

Beranikah kita menantang orang-orang sekitar untuk mengecek dan menilai hidup kita? Adakah salahku? Adakah orang-orang yang pernah aku rugikan? Adakah orang yang pernah kusakiti hatinya? Adakah orang-orang yang pernah merasa terhina olehku? Adakah orang-orang yang menemukan kesalahanku? Apakah Anda juga ditemukan seperti Samuel yang bersih dan bebas dari kesalahan? Lalu kita tingkatkan lagi, mungkin kepada manusia kita tidak bersalah, karena kepandaian kita menutupi kesalahan kita. Namun bagaimana di hadapan Tuhan? Beranikah kita bertanya juga pada Tuhan Yesus? Lihat, dan ingat Ia begitu megasihi kita. Ia rela mati untuk kita di atas kayu salib. Ia menyelamatkan kita dari dosa-dosa. Beranikah kita datang padanya dan manantang? Tuhan Yesus, apakah aku setia pada-Mu? Tuhan Yesus apakah dalam pelayananku masih ada motivasi buruk yang terselubung? Tuhan Yesus apakah aku lebih mengutamakan engkau atau hal-hal lain?[sas]

* Saumiman Saud adalah penulis buku-buku rohani, pemerhati, dan pendeta yang saat ini berdomili di kota Lynnwood, Washington. Dapat dihubungi via email saumiman@gmail.com.

MENJADI GURU POSITIF DENGAN TEKNOLOGI PIKIRAN

Oleh: Syahril Syam

Ketika Dr. Robert Hartley dari University of London sedang berjuang mengatasi prestasi akademis buruk dari anak-anak yang kurang beruntung, tiba-tiba ia teringat sesuatu. Ketika masih menjadi murid sekolah, Hartley mengalami kebuntuan ketika harus menulis esai yang penting. Akhirnya ia membayangkan seorang pembaca berita membahas topik itu. Inspirasi pun datang. Hartley muda yang putus asa membayangkan dirinya sebagai pengulas berita dan kalimat mulai mengalir. Dapatkah “berpura-pura” menggerakkan yang lain untuk mencapai kemajuan?

Hartley menghadapi anak-anak yang buruk dalam mengerjakan tes memasangkan gambar. “Coba bayangkan orang yang sangat pintar yang kamu kenal,” begitu kata dia kepada anak-anak itu. “Jadilah kamu aktor. Tutup matamu. Bayangkan bahwa kamu menjadi orang yang sangat pintar itu dan melakukan tes sebagaimana dia melakukannya.”

Anak-anak membayangkan dirinya sangat pintar dan menjadi pintar. Skor mereka naik secara signifikan. Prestasi “slow learners” tidak dapat lagi dibedakan dari anak-anak yang cerdas. Salah seorang di antara mereka tidak mempercayai nilainya. “Waw, ini bukan hasil aku,” katanya protes. “Itu pasti hasil orang pandai itu.” Langkah imajinatif berikutnya, Hartley mencatat, ialah memperbaiki citra diri yang buruk.

***

Anda baru saja membaca kisah yang dialami langsung oleh Dr. Robert Hartley dalam mendidik anak-anak yang kurang pandai atau “buruk”. Dapat Anda lihat bahwa kekuatan pikiran (salah satunya adalah imajinasi) dapat mengubah anak-anak yang “buruk” menjadi anak-anak yang cerdas. Jika dipandang dari sisi kerja pikiran dengan seperangkat hardware-nya (otak), maka tak satu pun anak itu dikatakan “bodoh”. Mari kita lihat penelitian terkini tentang kemampuan otak dan kerja pikiran manusia.

Otak manusia adalah suatu organ yang beratnya sekitar 1,5 kg atau sekitar 2% dari berat tubuh dan dioperasikan dengan bahan bakar glukosa dan oksigen. Saat bayi dilahirkan, otaknya telah berukuran ¼ dari ukuran otak orang dewasa. Semua manusia sejak dilahirkan telah memiliki 100.000.000.000 (seratus miliar) sel otak aktif dan didukung oleh 900.000.000.000 (sembilan ratus miliar) sel pendukung. Jadi, total ada 1 triliun sel otak. Apabila Anda merangkai seluruh sel otak tersebut membentuk barisan panjang, panjangnya akan menyamai jarak perjalanan pulang pergi ke bulan.

Setiap sel otak memiliki kemungkinan koneksi dari 1 hingga 20.000 koneksi. Kecerdasan seseorang tergantung dari seberapa banyak koneksi yang ada pada otaknya. Koneksi antarsel otak akan terjadi bila kita menggunakan dan melatih otak kita. Semakin sering kita kita menggunakan dan melatihnya, maka akan semakin banyak terjadi koneksi. Dengan kata lain, semakin sering proses belajar yang efektif yang dilakukan, maka akan semakin banyak koneksi antarsel yang tercipta (cerdas).

Lantas, bagaimana dengan berpikir? Ketika Anda melakukan proses berpikir, maka sebuah gelombang elektromagnetis bergerak turun ke cabang sel otak untuk melakukan koneksi dengan sel otak yang lain. Pada tahun 1960-an telah diteliti bahwa jumlah “jejak pikiran” (informasi yang telah diketahui, kebiasaan atau ingatan) bagi setiap manusia yang lahir/bayi adalah angka satu yang diikuti seratus angka nol. Angka ini lebih besar daripada jumlah puluhan ribu bintang di alam semesta.

Namun, perhitungan di tahun 1960-an tersebut keliru. Di awal tahun 1970-an diadakan perhitungan kembali, dan menjadi sebuah angka baru: angka satu diikuti oleh delapan ratus angka nol. Angka ini kira-kira sama dengan jumlah atom yang terdapat di Alam Semesta yang kita kenal.

Angka raksasa ini ternyata juga salah!

Sesaat sebelum meninggal di tahun 1974, Petr Anokhin, ilmuwan otak terkenal berkebangsaan Rusia dan murid utama Pavlov menghitung ulang angka tersebut. Dia berkata, dalam pernyataan terakhirnya kepada publik, bahwa semua angka terdahulu salah, dan bahwa sehubungan dengan kemampuan pembuatan pola dari otak bayi, atau tingkat kebebasan pikiran di seluruh otak, angka sebenarnya adalah: “… begitu besarnya sehingga jika ditulis dalam ukuran karakter teks normal akan membentuk deretan angka sepanjang lebih dari 10,5 juta kilometer! Dengan begitu banyaknya kemungkinan tersebut, otak manusia adalah sebuah keyboard yang dapat memainkan ratusan juta juta melodi – berbagai tingkah laku atau kecerdasan – yang berbeda. Tidak ada seorang pun yang masih hidup atau pernah hidup yang bahkan pernah mendekati penggunaan otak secara maksimal. Tidak ada pembatasan kekuatan otak manusia – kekuatan ini tidak terbatas.”

Untuk sebuah contoh sederhana akan kekuatan otak dan kemampuan berpikir manusia, kita ambil sebuah contoh serangga, yaitu lebah yang hanya memiliki tujuh ribu (7.000) sel otak. Lebah dapat melakukan kemampuan sebagai berikut: terbang, berkelahi, melihat, mendengar, mencium, mengecap, meraba, menyentuh, membangun, mengendalikan suhu, menghitung, melindungi, kemampuan bernavigasi, berjalan, berlari, mengingat, bermain, mengasuh, berkembang biak, bekerja secara konstruktif, dan kooperatif dalam sebuah komunitas. Jika Anda melihat kemampuan lebah ini, bayangkan dengan seorang manusia yang baru lahir, dengan kemampuan otak yang luar biasa!

Bukan hanya kemampuan di atas saja yang dimiliki manusia. Penelitian Roger Sperry membuktikan bahwa manusia pun memiliki dua belahan otak (kiri-kanan) yang mempunyai dua fungsi yang berbeda. Penelitian ini mengarahkan kita akan metode pembelajaran sinergis (berpikir dengan menggunakan seluruh bagian otak). Sebagai contoh akan pemikiran sinergis ini adalah Albert Einstein. Einstein memadukan kemampuan logika, numeris, dan analitis dengan kemampuan luar biasanya untuk berimajinasi dan berangan-angan.

Berkaitan dengan penemuan dua belahan otak–di paruh akhir abad kedua puluh–telah disadari bahwa manusia bukan hanya memiliki satu kecerdasan saja (IQ hanya berhubungan dengan kerja otak kiri saja). Telah ditemukan bahwa manusia memiliki lebih dari satu kecerdasan, yang sering disebut dengan kecerdasan majemuk.

Seperti yang telah kita lihat bahwa setiap manusia sungguh luar biasa. Tak satu pun anak yang harus disebut dengan kata “bodoh”. Kemampuan yang luar biasa ini – seperti yang telah terurai di atas – hanyalah berupa potensi. Kecerdasan adalah ketika setiap anak senantiasa melatih dirinya, dengan kata lain kecerdasan adalah terjadinya koneksi-koneksi antarsel otak. Oleh sebab itu, kecerdasan anak sangat berkaitan erat dengan metode pendidikan dari orangtua dan guru.

Banyak orangtua dan guru tidak menyadari bahwa tak satu pun anak yang bodoh. Kata “bodoh” seharusnya diganti dengan BELUM BISA. Artinya, ketika sang anak terus dilatih maka suatu saat akan tercipta koneksi dalam sel otaknya. Dan pada saat inilah, sesuatu yang masih BELUM BISA dikerjakan menjadi BISA dikerjakan.

Ke-BELUMBISA-an seorang anak sangat berkaitan erat dengan apa yang dilakukan oleh orangtua dan guru terhadap anak tersebut. Sebagai contoh: kreativitas anak ternyata sangat luar biasa. Anda bisa membayangkan seberapa kreatif seorang anak dengan kemampuan otak dan berpikir yang telah kita urai di atas. Namun, penelitian Dr. Amabile menyatakan bahwa tekanan psikologis yang mematikan kreativitas terjadi pada usia dini. Apa saja bentuk tekanan psikologis tersebut? Berikut uraiannya:

Pengawasan yang berlebihan terhadap anak.
Evaluasi: membuat anak khawatir tentang bagaimana orang lain menilai apa yang mereka kerjakan.
Hadiah: pemberian hadiah seperti bintang emas, uang, atau mainan yang berlebihan.
Kompetisi: menempatkan anak dalam situasi menang-kalah yang terlalu sengit, yakni hanya satu orang yang bisa meraih titik puncak.
Kontrol berlebihan: mengatakan kepada anak secara terperinci cara melakukan sesuatu – pekerjaan rumah mereka, tugas mereka di rumah, bahkan permainan mereka.
Membatasi pilihan: mengatakan kepada anak aktivitas mana yang harus mereka lakukan, alih-alih membiarkan mereka digiring oleh rasa ingin tahu dan kesukaan mereka.
Tekanan: menetapkan harapan besar pada kinerja anak.
Waktu: terlalu membatasi waktu akan kesenangan anak dalam menikmati dan menjelajahi aktivitas atau material tertentu sepuasnya.

Uraian Dr. Amabile ini juga mengisyarakan kepada kita – sebagai orangtua atau guru – akan pentingnya mendidik diri terlebih dahulu. Kenapa demikian? Bukankah kedelapan tekanan psikologis di atas sering kita alami waktu kita kecil dulu? Hal ini sering memicu kita – tanpa sadar – untuk mendidik anak kita dengan cara demikian pula. Oleh sebab itu, menjadi orangtua/guru positif adalah menjadi pendidik yang memiliki konsep diri positif. Dan salah satu teknik ampuh untuk memiliki konsep diri positif adalah dengan menggunakan teknologi pikiran (hasil riset ilmiah tentang kerja pikiran), seperti yang ditunjukkan oleh Hartley pada pembahasan kita di atas, yaitu dengan teknik imajinasi yang benar.

Sebagai penutup akan diskusi kita, saya ingin mengutipkan kepada Anda sebuah kutipan dari Jean Houston:

“Berapa banyak pemikir dan jiwa kreatif yang disia-siakan, berapa banyak kekuatan otak yang terbuang percuma karena pandangan kuno dan picik kita tentang otak dan pendidikan?”[ss]

* Syahril Syam adalah seorang konsultan, terapis, public speaker, dan seorang sahabat yang senantiasa membuka diri untuk berbagi dengan siapa pun. Ia memadukan kearifan hikmah (filsafat) timur dan kebijaksanaan kuno dari berbagai sumber dengan pengetahuan mutakhir dari dunia barat. Teman-temannya sering memanggilnya sebagai Mind Programmer, dan dapat dihubungi melalui ril_faqir@yahoo.com.

PERLUAS WAWASAN DENGAN MEMBACA DAN MENULIS

Oleh: Debbi Sianturi

Saya benar-benar kagum pada situs Andriewongso.com dan Pembelajar.com yang mana telah memunculkan banyak penulis anyar (baru) di dunia maya Indonesia. Dengan banyaknya penulis itu, walaupun masih amatir, maka sudah saatnya bangsa Indonesia tidak lagi mengeluh. Melainkan, apa pun yang terjadi di Indonesia ini perlu dimaknai, bahwa sesungguhnya ada arti di balik semua itu.

Menurut saya, salah satu penyakit kita di Indonesia ini, yang harus dibasmi adalah senang mengeluh. Akibatnya, kita selalu negatif dan apatis dalam hidup serta dalam pekerjaan. Perlu diketahui, jika mengeluh dijadikan kebiasaan, akhirnya bisa-bisa orang bertindak nekat, yaitu BUNUH DIRI. Dan, ini sudah tampak dari tindakan-tindakan ekstrim yang dilakukan warga Indonesia.

Dalam buku Hillary Clinton (calon presiden Amerika Serikat), Living History dan Women in Charge dikatakan bahwa kerabatnya, Vince Foster pun bunuh diri akibat frustrasi dan mengeluh dengan keadaan sekitarnya. Konon kabarnya, isteri Vince Foster sudah menganjurkan suaminya untuk menulis buku sebagai ungkapan kekecewaan dan mengungkap jalan keluar dalam masalah yang dihadapi.

Tidak mengherankan bila judul buku baru yang terbit di Amerika Serikat bisa mencapai di atas 50.000 judul. Sebab, setiap orang aktif mengungkapkan apa yang dialami, harapan-harapan, atau hal yang diinginkan dalam bentuk tulisan.

Dan dari informasi yang saya peroleh, di Indonesia baru menghasilkan 7.000 judul setiap tahunnya. Padahal, jumlah penduduk produktif 145 juta jiwa. Memang, ini hitungan secara kasar, tapi minimal kita mendapat gambaran bahwa Indonesia adalah lapangan yang luas untuk menulis buku. Beberapa orang berpendapat bahwa pembaca lebih berminat pada tulisan yang bersifat kontroversial. Namun, menurut penilaian saya, sudah saatnya bangsa Indonesia memperluas wawasan dengan membaca dan terus membaca, tidak hanya yang bersifat kontroversial.

Apalagi dengan perkembangan globalisasi seperti sekarang serta masuknya Indonesia ke pasar bebas tahun 2010, maka semua pihak haruslah memperluas terus wawasan. Membaca dan menulis dapat memperluas wawasan kita. Hanya saya perhatikan, banyak sekali orang mencari-cari alasan yang tidak masuk akal untuk tidak menulis. Memang, sangat sulit untuk mengubah paradigma seseorang jika sudah berpikiran negatif untuk suatu hal.

Netter yang budiman. Teruslah menulis dan tidak pernah berhenti untuk mengungkapkan pemikiran Anda. Membagi pengetahuan yang kita miliki adalah salah satu cara agar kita tetap bisa mengisi pemikiran kita dengan hal-hal yang baru. Bayangkan, otak kita bagaikan gelas yang diisi air, ada saatnya gelas menjadi penuh dan perlu dituang isinya ke gelas lain, dan kemudian diisi lagi. Dengan merenungi makna perumpamaan tadi, maka kita dapat merasakan bahwa kita berada dalam hidup yang sangat indah dan bermakna.

Salam sukses luar biasa dan teruslah menulis![ds]

* Debbie Sianturi adalah aktivis sebuah partai politik dan alumnus workshop Sekolah Penulis Pembelajar. Ia dapat dihubungi di nomor: 08881606587

BUDAYA INSTAN

Oleh: Agustinus Prasetyo

Keinginan untuk serba cepat tanpa mau menunggu sudah merambah seluruh bidang kehidupan kita. Coba tengok restoran-restoran fast food yang menyediakan makanan siap saji menjamur – mengolah makanan dianggap membuang waktu (meskipun para dokter mengatakan lebih sehat).

Bimbingan belajar yang menawarkan jurus-jurus ampuh menempuh UMPTN dan sekarang ujian nasional menjamur. Pendidikan seolah-olah hanya untuk mengejar nilai tanpa memahami betul prosesnya…

Dalam hal yang berkait dengan birokrasi pemerintah terdapat istilah jalur cepat dan jalur lambat. Contoh, dalam pengurusan KTP bila diurus sendiri (hal itu sangat baik karena merupakan ajang pertemuan camat dengan warganya) tapi dalam kenyataannya bila diurus sendiri sangat menyita waktu karena petugas datangnya siang dan sering tidak langsung bekerja (membaca koran/majalah atau membuat kopi dulu), sehingga kita mesti minta izin 3 jam pada atasan untuk pengurusannya.

Dalam melakukan pekerjaan pun kebiasaan ingin mudah atau ingin cepat kaya juga tampak jelas. Contoh yang paling jelas bagi masyarakat Jawa Timur adalah bencana lumpur Lapindo yang mengakibatkan ratusan rumah terendam lumpur, ratusan orang kehilangan pekerjaan karena pabrik terendam lumpur (pengusaha, buruh, tukang ojek, warung nasi, dll), puluhan pengemis berjajar di pinggir jalan yang macet, serta ribuan orang kehilangan waktu dalam perjalanan sehingga roda perekonomian tersendat.

Bila melihat cara petani bekerja tampak jelas bahwa alam mempunyai irama dalam mematangkan segala sesuatunya. Segala sesuatu harus melalui sebuah proses – tidak bisa langsung jadi. Benih harus dikubur dalam tanah dulu dan tidak tampak apa-apa di atas tanah selama beberapa hari. Lalu, ketika tampak ada tunas selalu dimulai dari tunas yang kecil yang harus dirawat agar dapat menjadi besar dan berbuah.

Meskipun saat ini di dunia pendidikan sedang gencar-gencarnya menstimulasi anak agar masa depannya lebih cerah, seorang wakil kepala sekolah (Bapak Ariesandi) mengatakan bahwa IQ memang dapat dikarbit, namun kematangan mental tetap mengikuti hukum alam (baca: tidak dapat dikarbit).

Demikian juga kita saat mengalami masalah dalam hidup juga berproses untuk mengerti hikmah dari peristiwa itu . Contoh: Suatu ketika saya mengalami kesulitan dalam membayar utang. Tadinya saya tenang-tenang saja karena ada piutang yang sudah lama jatuh tempo dijanjikan akan segera dibayar. Tetapi semakin mendekati hari H pembayaran utang, ternyata janji tersebut tinggal sekadar janji. Saya mencoba minta personal loan dari bank X, namun hasilnya nihil. Akhirnya, tinggal satu hari dan hampir saja saya pasrah pada nasib. Saat berdoa dan merenungi nasib, tiba-tiba terpikir suatu jalan. Singkat cerita saya berhasil lolos pada saat terakhir.

Akhirnya, saya berkesimpulan bahwa Tuhan bukanlah tongkat ajaib yang siap sedia mengerjakan keinginan saya. Diperlukan kerja keras manusia (usaha tekun) karena Tuhan juga bekerja lewat pikiran, karya, dan talenta yang manusia miliki untuk mencapai apa yang manusia idamkan.

BE BETTER EVERYDAY[ap]

* Agustinus Prasetyo adalah karyawan.Saat ini sedang belajar menuliskan hikmah dari peristiwa sehari-hari. Dapat dihubungi di ag_prasetyo@hotmail.com.

Senin, 20 Oktober 2008

REAKTIF IDENTIK DENGAN KEMISKINAN? -

Oleh: Riyanto B. Suwito

Kata tersebut sering digunakan untuk menyebut tindakan yang hanya didasarkan pada stimulus dari luar (eksternal), tindakan yang membabi buta, gelap mata dan lain-lain. Stimulus ini disebut aksi – untuk selanjutnya kita akan bereaksi. Begitulah proses yang terjadi dalam sebuah hubungan saling memengaruhi atau resiprokal. Adakah hal tersebut terkait dengan kemiskinan? Jawabannya bisa jadi sangat beragam.

Kita sering mendengar dari para pakar dan analis ekonomi maupun politik, istilah kebijakan pemerintah yang bersifat reaktif dan jangka pendek. Menariknya istilah ini sering kali dipergunakan untuk menyebut kebijakan pemerintahan negara berkembang atau miskin.

Di sisi lain kita juga mendengar tentang sikap reaktif orang “miskin”, saya beri tanda kutip karena ada beberapa sudut pandang dalam menyebut kata tersebut. Bagi pakar psikologi dan ilmu jiwa menyebut miskin bisa berkaitan dengan persoalan mental dan bukan semata-mata kondisi fisik dan materi. Sedangkan bagi kalangan lainnya menyebut miskin akan identik dengan kondisi prasejahtera – meskipun ada banyak versi dan indikator yang belum seragam – secara fisik dan materi.

Mereka - orang yang disebut miskin ini - sering kali bertindak otomatis begitu ada stimulus dari luar – kalau bahasa mereka disebut keterpaksaan. Kalau ditanya siapa yang memaksa? Jawabannya bisa macam-macam, tapi yang paling umum dituduh sebagai biangnya adalah “keadaan”. Misalnya mereka berutang yang pada akhirnya memberatkan atau malah menjerat mereka sendiri – walaupun mereka sadar konsekuensinya – tetapi tetap dilakukan dengan alasan dipaksa oleh keadaan.

Benarkah sesuatu yang bernama “keadaan” ini demikian kejamnya sehingga sering kali memaksa orang miskin atau negara miskin untuk melakukan sesuatu yang tidak mereka inginkan dan sukai? Untuk menjawab hal ini pun bisa diajukan pernyataan yang beragam.

Tapi coba kita lihat pada kasus yang lainnya – misalnya pengambilan keputusan dan tindakan karena ketidaktahuan – apakah mereka termasuk kategori “miskin”? sepertinya jawabannya adalah YA. Alasannya adalah – bahwa ketidaktahuan adalah bukti kemiskinan (kekurangan) informasi dan ilmu. Tetapi ada juga lho orang yang miskin data tapi bisa mengambil tindakan dengan bijak. Ini kasus lain, mereka biasanya adalah orang yang memiliki intuisi yang tajam – dan ini berkaitan dengan kapasitas diri yang mumpuni, bahkan bisa jadi berlebih.

Lantas bagaimana halnya dengan pernyataan yang menyebutkan bahwa kemiskinan identik dengan kebodohan? Apakah hal tersebut salah? Ataukah hal itu merupakan salah satu dari pernyataan yang mendukung premis di atas? Saya akan balik bertanya, apakah kebodohan itu suatu kondisi “kekurangan” atau “kelebihan” ilmu? Jawabannya saya pastikan sudah di tangan Anda. Lantas bagaimana jika kemiskinan ilmu dan wawasan atau informasi digabungkan dengan kemiskinan materi? Sebuah kolaborasi mahadahsyat – yang sering kali dialami oleh mayoritas masyarakat atau negara miskin. Inilah jawaban mengapa sikap reaktif identik dengan kemiskinan. Karena dengan demikian lengkaplah sudah alasan kejamnya keadaan sebagai landasan untuk bertindak atau lebih tepatnya bereaksi terhadap keadaan tersebut.

Secara naluriah, orang yang mendapatkan tekanan dari keadaan mestinya dia akan menekan balik. Sayangnya tekanan balik yang ditunjukkan dari sikap reaktif sering kali justru terbalik – yaitu menekan diri sendiri dan bukan kepada pihak lain (lawannya).

Saya yakin, kalau dalam Tai Chi (ilmu beladiri dari China) – hal ini pasti dianggap sebagai sebuah kesalahan yang sangat mendasar. Karena mereka – para Tai Chi Master - justru menggunakan teknik menyerang balik dengan menggunakan tenaga (tekanan) dari lawan – sehingga semakin besar tekanan dari lawan, maka akan semakin hebat serangan balik yang bisa dilakukan.

Jika demikian, sikap reaktif sebenarnya bukanlah sebuah proses membela diri (defend) atau mencari selamat (survival) tetapi lebih tepat disebut sebagai tindakan bunuh diri (suicide). Coba kita periksa relevansinya dengan kasus nyata di negeri ini. Apakah kebijakan pemerintah yang bersifat reaktif (seperti pembatasan BBM, Listrik, pencabutan subsisdi di saat yang tidak tepat, kebijakan pembebasan bea impor bahan pangan tertentu, dll) apakah bisa disebut sebagai sebuah mekanisme bertahan hidup? Ataukah sedang mencoba untuk bunuh diri? Karena kekurangan kepercayaan diri dan ketakberdayaan (powerless) menghadapi keadaan atau pihak lain?

Bandingkan juga dengan sikap orang miskin yang berutang kepada rentenir atau “terpaksa” berutang untuk konsumsi, bisakah disebut sebagai tindakan bertahan hidup? Ataukah sedang berusaha untuk membunuh diri sendiri daripada dibunuh pihak lain? Lagi-lagi tidak tepat jika hal tersebut dikategorikan sebagai aksi heroik untuk mempertahankan hidup. Lebih tepat jika disebut sebagai tindakan bunuh diri yang terselubung.

Lantas apakah tindakan bunuh diri yang terang-terangan - seperti minum racun serangga rasa jeruk (bercanda, lho..), terjun dari gedung tinggi, menggantung diri, dll – apakah juga merupakan tindakan reaktif? Dan apakah mereka – yang melakukan hal tersebut – termasuk kategori miskin? Jawabannya saya yakin, YA. Bisa miskin harta, miskin ilmu, miskin mental, miskin teman (hubungan), miskin hati, miskin kepercayaan (baik terhadap diri maupun orang lain), miskin pertimbangan, miskin wawasan, miskin stimulus, miskin pujian, dan miskin-miskin yang lain.

Tetapi kata kunci yang menyebabkan mereka bertindak reaktif atau gelap mata tersebut tetaplah berakar dari kemiskinan atau kekurangan (poverty or lack) sesuatu atau bahkan sering kali lebih dari satu atau kolaborasi dari beberapa kemiskinan. Hati-hatilah terhadap kemiskinan, bantulah orang yang miskin dan kekurangan – begitu salah satu pesan orang bijak. Dan masih menurut orang bijak, salah satu cara untuk menolong orang miskin adalah dengan tidak menjadi bagian dari mereka. Sehingga menurut hemat saya – yang kebetulan belum bisa disebut orang bijak - mudahnya, cukup dengan tidak bertindak reaktif – itu sudah berarti turut membantu mereka, karena kita tidak menjadi seperti mereka. Termasuk dalam menyikapi tulisan singkat ini. Jangan reaktif! Lihat dulu judulnya.[rbs]

* Riyanto B. Suwito adalah entrepreneur, trainer, konsultan, dosen dan sedang belajar menulis. Dapat dihubungi di hp: 081 227 12426 atau email: riyantosuwito@gmail.com – aktif di PKPEK – fairbiz@indo.net.id . Salah satu trainer bersertifikat dari CRS-Links Certified Trainer on Financial Education for the Poor).

toko-delta.blogspot.com

Archives

Postingan Populer

linkwithin

Related Posts with Thumbnails

Total Tayangan Halaman

Diberdayakan oleh Blogger.