toko-delta.blogspot.com

menu

instanx

Jumat, 31 Oktober 2008

THE POWER WITHIN YOU

Oleh: Muk Kuang


Pada sebuah festival kesenian seorang penjual balon melepaskan satu balon warna hijau ke udara, dan beberapa saat kemudian dia melepaskan satu buah balon lagi. Hal ini dilakukan semata-mata untuk menarik perhatian pengunjung festival.

Kemudian seorang anak berumur 6 tahun menghampiri penjual balon tersebut, dan bertanya, "Kalau balon berwarna merah dilepaskan apakah bisa terbang ke udara juga ?"

Kemudian si penjual balon berkata, "Yang membuat balon tersebut terbang ke udara bukan karena warnanya. Tidak peduli mau warna merah, hitam, biru, atau warna lainnya semuanya tetap bisa terbang. Karena yang membuatnya bisa terbang ke udara adalah gas yang terdapat dalam balon tersebut.”

Cerita yang begitu luar biasa ini saya kutip dari buku international bestseller karangan Shiv Kera berjudul You Can Win. Pada dasarnya balon dalam cerita tersebut sama seperti manusia.

Manusia dapat berhasil mencapai puncak kesuksesan karena kekuatan yang dimiliki dari dalam dirinya sendiri.

P.O.W.E.R atau Kekuatan seperti apa yang mampu membuat seseorang lebih berhasil dari sebelumnya?

P = Positive
Apa pun yang Anda pikirkan, Anda katakan, Anda perbuat lakukanlah dengan positif. Berawal dari pikiran atau mindset kita. Jika Anda mau menanam dan memelihara mindset yang negatif, konsekuensinya apa yang dihasilkan dari pikirkan tersebut tidak akan positif.

O = Optimist
Melihat kondisi sulit, mendengar komentar negatif orang lain terhadap kita, mengalami kegagalan terus menerus umumnya membuat kita menjadi down dan pesimis. Manusiawi sekali memang, tapi mau sampai kapan jadi pesimis? Seumur hidup? Saya lebih memilih bangkit dan coba lagi. Gagal dan mengalami penolakan sudah biasa, tapi yang luar biasa adalah keyakinan dalam diri setiap orang.

W = Willingness
Yakin saja tidak cukup, seseorang memang harus ada kemauan dan action untuk mewujudkannya. Kalau ditanya mau berhasil? Pasti semua mau berhasil. Tapi kata orang bijak ”Will is not enough, you have to do”. Kalau memang sudah tidak ada kemauan berhasil, ini perkara sudah repot. Orang tersebut harus menolong dirinya sendiri.

E = Enthusiasm
Manusia kalau tidak punya antusiasme sama seperti mobil kehabisan bensin. Sebagus dan semahal apa pun mobilnya kalau tidak ada bensin percuma saja. Sama seperti kita kalau punya impian yang luar biasa, mindset yang positif, tapi ketika mulai action tidak punya antusiasme maka semuanya sia-sia.

R = Refill
Batu baterai saja ada waktunya habis, apalagi dengan kekuatan dalam diri kita. Adalakalanya kita memasuki masa sulit, sehingga kekuatan dalam diri kita semakin melemah. Apa yang harus kita lakukan?

Isi ulang (refill) kekuatan Anda. Dengan apa?

Isi dengan sesuatu yang mampu meningkatkan power Anda kembali. Baca buku, fokus pada achievement pada masa lalu, bangkitkan kembali potensi, masukkan informasi yang positif ke telinga Anda.

Jadi jangan khawatirkan latar belakang Anda, apa pun pendidikan Anda baik itu lulusan lokal maupun lulusan impor, pesona fisik Anda cantik atau kurang cantik....karena bukan itu semua yang menentukan seberapa tingginya Anda akan mencapai kesuksesan tapi lebih kepada POWER yang ada dalam diri Anda.

Selamat mengembangkan Power Anda.

* Muk Kuang adalah People Development Trainer, Motivational Speaker, Writer Email: mukkuang@gmail.com. Personal Blog : http://ignatiusmk.blogspot.com.

VIRGINIA WOOLF: NOVELIS YANG MENAHAN DERITA DENGAN MENULIS

Oleh: M. Iqbal

Dalam sastra Barat nama Virginia Woolf sudah tak asing lagi. Ia merupakan sastrawan Inggris yang karya-karyanya disejajarkan dengan sastrawan lainnya seperti William Shakespeare, T.S. Elliot, Charles Dickens, atau George Orwel. Namun, di telinga kita nama tersebut memang masih asing, tak sepopuler yang lainnya, seperti halnya william Shakespeare dengan Romeo and Juliet-nya. Mungkin saja dikarenakan karyanya tak lazim dengan selera pembaca Indonesia. Karya-karya Virginia masih sangat jarang untuk diterjemahkan ke bahasa Indonesia. Memang, karyanya tergolong tak seperti halnya pengarang lainnya. Ia sering membuat karya dengan gaya yang berbeda dengan kebanyakan sastrawan lainnya.

Virginia mengidap penyakit kejiwaan yang amat sangat menyiksa hidupnya. Namun ia masih terus menulis, dan menjadikan obat bagi penyakitnya itu. Seolah-olah derita telah tertahankan saat ia merangkai dunia imajinasinya, walau pada akhirnya ia mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri.

Nama lengkapnya adalah Adeline Virginia Woolf, dilahirkan di London pada tahun 1882 dari pasangan Leslie dan Julia Stephen. Ayahnya adalah seorang redaktur Cornhill Magazine dan penyunting Dictionary of National Biography. Bakat menulisnya tertular dari ayahnya. Ia hanya belajar membaca dan menulis dari orangtuanya, dan tak pernah merasakan bangku sekolah. Ia banyak menghabiskan waktunya di perpustakaan yang letaknya di dalam rumahnya sendiri.

Bimbingan orangtuanya serta semangat belajarnya membuat bakat kepenulisannya cepat berkembang. Semakin lama semakin terasah pula insting menulisnya yang pada akhirnya ia mengabdikan hidupnya untuk menulis. Setelah menikah, ia bersama suaminya membuat penerbit Hogarth Press. Selain menerbitkan karya-karyanya ia juga menerbitkan pengarang lainnya yang terkenal seperti puisi T.S. Elliot.

Dalam penulisan karya sastranya, ia memperkenalkan corak yang tak lazim dilakukan oleh sastrawan lainnya. Ia telah mengembangkan temuannya William James dalam gaya penceritaan yaitu yang dikenal dengan istilah arus kesadaran (stream of consciosness) atau juga dikenal dengan dialog batin, di mana teknik tersebut akan menghasilkan efek yang berbeda di mata pembacanya. Efek dari teknik tersebut adalah seperti yang dituturkan oleh Kurniasih dalam pengantar novel Mrs. Dalloway karya Virginia, “Meski di satu sisi cerita itu terkesan sangat 'dingin', karena minimnya dialog langsung di antara para tokohnya, tetapi pembaca akan menyadari sebuah kenyataan yang tak bisa disangkal karena kelazimannya. Yaitu, kenyataan tentang kesendirian manusia. Kesendirian di sini bukan berarti tanpa keberadaan orang lain, tetapi tentang kondisi ketika manusia pada dasarnya sibuk dengan dirinya sendiri, sebuk dengan kerumitan pikiran dan kecamuk perasaannya sendiri. Pembaca seakan tengah mendengarkan keluhan-keluhan langsung dari orang yang hatinya sedang cemas. Di dalam hatinya seperti tengah terjadi konflik yang luar biasa rumit.”

Selain kegiatan menulis, ia juga pejuang hak asasi perempuan. Ia seorang feminis yang memperjuangkan hak-hak perempuan pada masa itu yang dianggap telah dirugikan kedudukannya. Kedudukannya amat berpengaruh lantaran ide-ide feminisnya yang bisa membuat merah telinga orang yang mendengarnya.

Gangguan jiwa yang dialaminya semenjak remaja semakin hari semakin parah. Mulai dari anorexia (tidak bernafsu makan), sakit kepala, depresi, hypermania (perasaan gembira berlebihan), hingga kehilangan kesadaran akan realitas membuat hidupnya semakin tak bergairah. Menurut para peneliti, badan Virginia adalah badan yang sakit. Keadaan seperti itu mendorong ia mencoba untuk melakukan bunuh diri, tapi selalu saja gagal.

Untunglah ia menulis. Menulis adalah semacam cara untuk menyembuhkan penyakitnya tersebut. Segala perasaan yang dialaminya ia tuangkan ke dalam karyanya. Maka tak heran jika karya-karyanya sering menggambarkan tentang keadaan dan perasaan yang dimilikinya. Lewat karyanya, ia membuat dunia ciptaannya di mana ia bisa tinggal, sesuai dengan kehendaknya, dan ia merasa nyaman di dalamnya. Namun setelah merampungkan ceritanya sering terjadi dualisme dalam dirinya, yaitu antara rasa plong dan menderita kembali seperti ketika sebelum ia menuliskan cerita tersebut.

Bagai seorang ibu, setiap kali melahirkan tulisannya ia merasa senang sekaligus merasa kehilangan sesuatu setelah diterbitkan karyanya itu. Namun setidaknya dengan menulis ia bisa menghilangkan tekanan jiwanya itu, walau pada akhirnya ia berhasil bunuh diri, lantaran penyakitnya yang sudah akut. Tapi, seandainya tidak karena menulis boleh jadi peristiwa tersebut akan terjadi sedini mungkin. Menulis, bisa dikatakan, adalah penyelamat hidupnya, yang ikut memperlambat proses percobaan bunuh dirinya tersebut.

Virginia bukan hanya menulis novel dan cerpen saja, tetapi ia juga menulis catatan harian, biografi, dan esai-esai tentang hak asasi perempuan. Di antara karya-karyanya ialah The Voyage Out (1915) dan Night and Day (1919), Mondays or Tuesday (1921), Jacob's (1927) dan The Waves (1931), Mrs. Dalloway, dan masih banyak lagi karya yang lainnya.[miq]

* M. Iqbal adalah seorang penulis yang tinggal di Yogyakarta. Ia dapat dihubungi di: ..

TRIAL AND ERROR ATAU TRIAL AND SUCCESS

Oleh: Syahril Syam

“Yang ada hanyalah hasil,” kata Anthony Robbins. Jika hasil yang ada tidak sesuai dengan yang Anda inginkan, maka Anda tidak mengubah cara Anda untuk mendapatkan hasil yang Anda inginkan. Ini mengingatkan saya akan pentingnya syarat-syarat yang harus dipenuhi dalam mencapai sesuatu yang diinginkan. Mengenai pembahasan syarat-syarat ini akan kita bicarakan secara lebih detail pada artikel lainnya nanti.

Saya ingin mengajak Anda untuk memikirkan sejenak perkatan Anthony Robbins di atas. Apakah betul bahwa otak kita bekerja berdasarkan “trial and error” atau “trial and success”. Jika merujuk pada perkataan Anthony Robbins, maka sudah pasti yang benar adalah pilihan yang kedua, bahwa manusia itu pada dasarnya bekerja dan otaknya berfungsi sesuai dengan sistem “trial and success”.

Coba Anda bayangkan! Kalau otak itu bekerja dengan cara “trial and error”, maka yang terjadi adalah: mencoba, mencoba, mencoba, mencoba, mencoba, mencoba, mencoba, mencoba, mencoba, mencoba. Dan hasilnya adalah kesalahan, kesalahan, kesalahan, kesalahan, kesalahan, kesalahan, kesalahan, kesalahan, kesalahan, kesalahan. Ini berarti apa? Ini berarti bahwa tidak ada satu pun yang bisa berjalan baik di muka bumi, karena setiap kali seseorang mencoba sesuatu, yang terjadi adalah kesalahan melulu. Anda tidak akan melihat kemajuan hidup dengan proses seperti ini. Padahal kenyatan hidup berbicara lain, yaitu senantiasa terjadi kemajuan dalam hidup ini.

Tapi jika kita balik, dengan menggunakan pendekatan “trial and success”, maka yang terjadi adalah: mencoba, mencoba, mencoba, mencoba, mencoba, mencoba, mencoba, mencoba, mencoba, mencoba. Dan hasilnya adalah keberhasilan, keberhasilan, keberhasilan, keberhasilan, keberhasilan, keberhasilan, keberhasilan, keberhasilan, keberhasilan, keberhasilan. Anda sesungguhnya telah melakukan suatu keberhasilan. Andaikan pun keberhasilan yang terjadi tidak sesuai yang diharapkan, maka Anda sesungguhnya telah mendapatkan informasi baru yang berharga.

Hal ini memberikan implikasi besar dalam hidup ini. Bahwa alam semesta ini sudah dirancang sedemikian rupa, agar kita sebagai manusia dapat memetik hikmah dalam setiap proses perjalanan hidup. Anda (kita semua) adalah makhluk pembelajar yang selalu memberikan hasil dari setiap pengalaman hidup kita. Hanya saja, masih banyak yang belum menyadari hal ini. Mungkin karena hikmah itu begitu dekat dengan kita dan begitu sederhana, sehingga kita tidak melihat dan menyadarinya. Marilah belajar dan membuka diri untuk menerima berbagai hikmah kehidupan!!![bersambung]

* Syahril Syam adalah seorang konsultan, terapis, publik speaker, dan seorang sahabat yang senantiasa membuka diri untuk berbagi dengan siapa pun. Ia memadukan kearifan hikmah (filsafat) timur dan kebijaksanaan kuno dari berbagai sumber dengan pengetahuan mutakhir dari dunia barat. Ia sering disebut sebagai Mind Programmer, dan dapat dihubungi melalui ril_faqir@yahoo.com.

GURU GAYA BARU

Oleh: Lamser Aritonang

Bagi sebagian orang profesi guru adalah pekerjaan yang sangat serius. Berangkat pagi-pagi dengan setumpuk buku dalam tas, berpakaian rapi tersetrika dengan pilihan warna netral. Sifatnya tegas, disiplin, berwibawa dan kadang-kadang jaim (jaga image). Tapi bagi saya profesi guru berbeda.

Penampilan dan pembawaan bukanlah hal yang terlalu penting. Modal menjadi guru cukup suka membaca, suka berbicara, dan suka menulis. Itu saja. Ketiganya berguna untuk bergaul. Ya, bergaul dengan murid, rekan guru, dan orangtua. Pokoknya, bagaimana supaya komunikasi nyambung. Karena itu guru perlu bersikap terbuka. Guru wajib banyak belajar dan mengembangkan keterampilan di bidang yang sangat penting ini. Tak perlu malu dan ragu, juga tak perlu cari-cari dalih.

Dengan membaca guru menambah pengetahuan. Pengetahuan tentang apa yang akan ditulis atau tentang kejadian terbaru. Misalnya, sekarang planet tidak 9 lagi, tetapi 8 saja. Dengan berbicara guru mengungkapkan apa yang ada dalam kepala. Isi kepala yang banyak tanpa dikeluarkan hanya membuat orang besar kepala. Akibatnya, bisa pusing atau sakit kepala. Cuma, pilihan kata dan cara menyampaikannya dengan melihat sikon. Lain bicara di depan kelas, lain dengan guru, lain pula dengan orangtua.

Begitu pula dengan menulis. Kata ahlinya,”Tulis yang kamu lakukan, dan lakukan yang kamu tulis.” Mungkin ini yang mendasari program Departemen Pendidikan Nasional RI supaya guru membuat portofolio. Ini pula yang dilakukan oleh perusahaan nasional dan multinasional untuk memperoleh ISO. Dengan mencatat atau menulis, pengetahuan tersimpan dan tahan lama.

Singkatnya, jadi guru sebenarnya hanya perlu kemampuan komunikasi. Komunikasi dengan stakeholder terpenting; murid, orangtua, dan sesama guru. Lebih baik lagi bila dapat menjalin komunikasi dengan pihak luar seperti Depdiknas dan masyarakat luas. Makin banyak membaca otak makin berisi. Makin banyak bicara, pengetahuan pengetahuan makin tersebar. Makin banyak menulis ilmu makin berkembang dan teruji. Makin berkomunikasi—secara lisan dan tulisan—makin pas jadi guru. Tidak sulit bukan?[la]

* Lamser Aritonang, guru SD Imanuel, Pondok Gede, Jakarta Timur. Ia menyelesaikan studi S-2 pada Program Pascasarjana Fakultas Psikologi UI, Kekhususan Psikologi Industri dan Organisasi. Alumnus Sekolah Penulis Pembelajar (SPP) Angkatan 4 ini adalah editor “en Theos”, sebuah buletin internal gereja HKI Cililitan, Jakarta. Lamser dapat dihubungi lewat email: lamser_art@yahoo.com atau HP 0913 8565 6398.

ANAK SEBAGAI MOTIVASI UTAMA KELUARGA SAKINAH MAWADDAH WAROHMAH

Oleh: Ir. Anom Wiratnoyo, MM


Allah SWT berfirman:
“Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap mereka.”

Rasulullah SAW bersabda:
“Setiap bayi dilahirkan dalam keadaan fitroh. Kedua orang tuanyalah yang menjadikannya yahudi, nasroni atau majusi.”

Keadaan seorang ibu yang hamil sungguh luar biasa. Tiba-tiba semua ibu-ibu yang ditemuinya di jalan, di pasar, di tempat kerja, di mal, dan di mana pun terlihat sedang hamil atau mendorong kereta bayi. Ini bukanlah hipnotis atau si ibu itu sakit mata. Tapi, puncak kebahagiaan telah menyedot fokus perhatiannya kepada setiap ibu hamil yang tertangkap pandangan matanya. Sehingga, ibu-ibu yang tidak hamil terlewat dari perhatiannya. Seperti seorang remaja baru mendapat hadiah motor Honda. Maka, seolah seluruh motor di jalan adalah Honda yang setipe dengan miliknya. Kegembiraan telah mengarahkan perhatian orang kepada objek yang menjadikan kegembiraannya. Dan mengabaikan yang lain.

Kata pertama yang terucap oleh si ibu, setiap berbicara dengan orang dekat atau siapa pun, adalah soal bayi yang dikandungnya. Tak mau kalah, teman yang bertemu dengan sangat antusias menanyakan keadaan si bayi, seolah berebut menarik perhatian si jabang bayi. Tak ketinggalan, keempat kakek-neneknya berlomba menjadi juru bicara paling canggih bagi si makhluk mungil dalam rahim itu. Semua dengan bayangan yang sama, seorang bayi mungil yang lucu, sehat, menggemaskan, menggugah semangat, dan memberi harapan masa depan yang cerah.

Ayahnya pun demikian. Setiap telepon ke rumah yang ditanyakan adalah keadaan bayinya. Semangat kerjanya terpompa hampir sepuluh kali lipat. “Semua keringat yang menetes ini adalah untuk belahan jiwaku,” katanya. Jauh hari sebelum kelahiran musyawarah dilakukan untuk mempersiapkan perlengkapan si bayi. Kalau bisa, yang terbaik dan termahal yang mampu dibeli. Hari-hari diisi dengan menata ulang posisi furnitur di kamar utama. Mengatur posisi terbaik untuk tempat tidur bayi.

Seluruh kebahagiaan, antusias dan semangat yang dibalut cinta ini adalah rahmat Allah SWT. Rahmat yang menghapus penderitaan seorang ibu yang membawa beban 1,5 – 3 kilogram ke mana pun dia pergi. Beban yang tidak bisa dilepasnya sedetik pun untuk disimpan sejenak di atas meja. Seperti tasnya yang hanya 0,6 kilogram diletakkan sejenak di meja untuk mengurangi sedikit rasa pegal ketika kondangan. Allah mengabadikan penderitaan ini dengan firman-Nya (QS 31:14), “Lemah yang bertambah-tambah.”

Rahim yang hanya sebesar telur bebek tiba-tiba membesar untuk dapat menampung bayi yang panjangnya 50 sentimeter dan beratnya 3 kilogram. Makhluk yang tidak hanya berdiam diri di perut ibunya. Bahkan, malam hari ketika si ibu tertidur lelap pun terkadang bayi mungil ini menendang dinding rahim. Memaksa rahim untuk lentur dan kuat. Ibu yang terkejut terbangun seketika. Mulutnya langsung tersenyum. Tangannya mengusap perutnya yang buncit sambil berdoa, “Nak, apa pun yang kau lakukan ibu rida.”

Tibalah masa persalinan. Allah SWT mengabadikannya dengan firman-Nya (QS 46:15), “Susah payah.” Bayi dengan panjang 50 sentimeter dan berat 3 kilogram itu harus keluar melalui lubang persalinan yang tak sebanding dengan ukurannya. Perjuangan si ibu melahirkan sering disebut sebagai perjuangan hidup dan mati. Sakit yang luar biasa. Energi harus dikuras dengan teknik napas tertentu. Ketika si bayi berhasil keluar, lemaslah seluruh persendian. Luluh seluruh syaraf. Lemah terasa seluruh otot. Roh seakan melayang entah ke mana. Sejenak seakan berada di satu ruang kosong tak bertepi. Begitu bayi mungil disodorkan ke lengan kanan si ibu yang masih tergeletak, satu sentuhan menyentak syaraf lengannya. Mengalir dengan kecepatan super ke seluruh tubuh. Memanggil kembali roh yang sempat limbung. Menghidupkan kembali seluruh sel, jaringan, dan syaraf. Kekuatan baru mendadak muncul. Berlipat ganda dibanding sebelumnya. Rahmat Allah SWT kembali memeluk si ibu yang berjuang penuh keikhlasan dan cinta.

Pengasuhan 1-2 tahun adalah masa yang sangat kritis. Karena bayi betul-betul dalam keadaan tidak berdaya. Sangat bergantung pada orang dewasa. Ayah dan ibu sibuk mengurusnya siang dan malam. Terkadang, kedua nenek ikut mengasuh dan menjaga. Bersenandung sambil mengajarkan kalimat, “Laa ilaha illa-llah.”

Umur 2-5 tahun adalah masa pengasuhan yang sangat melelahkan. Anak mulai menjelajah. Bukan hanya wilayah bergeraknya yang makin meluas. Semua barang ingin dikenalnya dengan menyentuh atau menggigitnya, tanpa tahu sedikit pun bahayanya. Tapi, masa balita ini pun dapat dilalui dengan baik. Tidak satu pun balita di dunia ini yang menjengkelkan. Semuanya lucu dan menggemaskan jika dipandang. Pandangan yang dipenuhi rahmat Allah SWT.

Memasuki usia sekolah adalah masa yang membutuhkan biaya sangat besar. Sering kali bukan hanya ayah, ibu pun ikut bekerja. Kondisi yang makin menjauhkan hubungan orangtua dan anak. Keadaan perlahan mulai berubah. Cinta dan kasih sayang yang telah terjalin hampir 6 tahun dari sejak kandungan. Cinta dan kasih sayang yang diselimuti rahmat Allah SWT mulai menghampiri titik baliknya. Ayah-ibu yang sibuk dan lelah bekerja seakan belajar untuk mengumpat anaknya, “Nggak tahu bapak capek. Kamu bisanya minta mainan melulu. Kapan kamu belajar?!”

Sungguh tidak ada yang memungkiri lelahnya ayah, dan juga ibu, yang bekerja. Juga tidak ada yang menolak bahwa hasil bekerjanya itu adalah untuk anak. Untuk gizi, prestasi, dan kesenangan anak lainnya. Tapi, jika ada ayah, apalagi ibu, yang berkata atau bersikap kasar bahkan mengumpat kepada anaknya, sungguh bukan suatu cara yang diridai oleh Allah SWT. Ayah dan ibu tidak perlu bersikap kasar kepada anak—bagaimanapun keadaannya—dengan alasan capek yang langsung diucapkan maupun terselubung. Capek terselubung adalah ketika orangtua tidak menyadari kondisi lelahnya, langsung merespon kesalahan anak. Yang terjadi adalah pengendalian emosi yang sangat lemah. Kemarahan bisa meledak tanpa ujung pangkal. Jika hal ini sering diulang maka menjadi kebiasaan yang akan dibenarkan oleh orangtua itu sendiri. Karena hanya 1 per 1.000.000 orangtua yang mau mengakui kesalahannya dalam mendidik anak.

Sebutlah Pak Bakri, yang menyadari betapa susah dan beratnya berusaha mengubah perilaku terhadap kedua anaknya, Hasanah dan Nurul. Selama 20 tahun umur Hasanah dan 17 tahun umur Nurul, jarang sekali dia berkata manis pada mereka. Sifatnya yang emosional dan kekesalannya di sekolah ditumpahkannya di rumah. Istrinya yang semula tidak pernah berkata kasar, jadi terbawa virus emosi yang disebarkannya. Nuansa rumahnya adalah nuansa emosi, dari bangun tidur sampai menjelang tidur kembali. Hanya saat tidurlah yang bebas dari ucapan keras di rumah itu.

Sekarang, bahkan untuk mengucapkan “sayang” kepada anaknya saja terasa kaku di lidah. Seakan kata itu adalah kosa kata asing yang baru dipelajarinya. Tetapi, tekadnya sudah bulat dan mantap. “Aku harus berubah atau api neraka akan menyantapku,” begitu kalimat yang diucapkannya di sela doanya.

Terbayang suasana di akhirat yang dengan dramatis dan berkesan disampaikan Ustaz Sobar dalam satu pengajian, “Diriwayatkan ada seorang hamba yang berjalan hendak masuk ke dalam surga. Malaikat mengiringinya dengan menebarkan bau yang harum. Ketika hamba ini sudah siap masuk ke surga, tiba-tiba terdengar suara yang keras, ‘Tahan! Dia ayahku, aku adalah anaknya. Aku ada di neraka adalah gara-gara dia. Dulu, dia tidak pernah mengajariku ibadah dengan benar. Dia membiarkan aku tidak shalat. Dia membiarkan aku tidak puasa. Dia membiarkan aku berani melawan padanya dan pada ibuku. Dia membiarkan aku berzina. Sekarang, aku akan menuntutnya’”.

Mutiara Hikmah:
1.Orangtua telah mengorbankan segala sesuatu untuk mempersiapkan kelahiran bayi, mengasuh dan mendidiknya.
2.Seharusnyalah pengorbanan itu dituntaskan dengan pengasuhan yang penuh kasih sayang dan pendidikan yang mengakar pada akidah, syariat, dan akhlak secara kuat.
3.Kesalahan orangtua dalam mendidik anaknya—besar maupun kecil—akan menjadi tuntutan di hari penuntutan.

* Ir. Anom Wiratnoyo, MM adalah Kepala SMA pada Yayasan Pendidikan Insan Kamil, Bogor, Jawa Barat. Artikel ini merupakan penggalan dari seri tulisan renungan ramadhan untuk Jam’an Marhuman Indonesia. Alumnus Sekolah Penulis Pembelajar (SPP) Angkatan 4 ini juga seorang ustaz dan dapat dihubungi di telepon: 0251-332307.

MANAJEMEN TINJU

Oleh: Ardian Syam

Memang tulisan ini terinspirasi oleh kenyataan meninggalnya Anis Dwi Mulya setelah pertandingan di Gelar Tinju Profesional. Jelas diinspirasi oleh tulisan Pak Mimbar di www.wikimu.com yang menyatakan sejak tahun 1948 ada 21 orang petinju Indonesia yang meninggal akibat benturan kerasnya kepalan tangan.

Ini daftar yang didapat oleh Pak Mimbar: Ke 21 petinju yang tewas adalah Jimmy Koko (1948), Ricky Huang (1959), Sarono (1961), Robby Paff (1970), Aceng Jim (1978), Domo Hutabarat (1982), Agus Souissa (1987), Wahab Bahari (1987). Bongguk Kendy (1990), Yance Semangun (1993), Akbar Maulana (1995), Dipo Saloko (2000), Bayu Nyong Tray (2001), John Namtilu (2001), Alfaridzi (2001), Donny Maramis (2001), Johanes Bones Fransiskus (2003), Mula Sinaga (2003), dan Antonius Moses (2004), Jack Ryan (2004), Anis Dwi Mulya (2007).

Sangat tragis. Bahkan bila Anda perhatikan selama 7 tahun terakhir (2000-2007) ada 10 orang dalam daftar tersebut. Ini benar-benar ajaib. Begitu banyak orang yang suka pertunjukan gladiator di zaman dulu. Begitu pula dengan tinju, cukup banyak orang yang suka. Apakah ini cara kita menghargai kemanusiaan dan manusia itu sendiri? Lucunya dalam setiap pertandingan, sebuah kemenangan knock out bisa menghilangkan nilai yang sudah diraih.

Ini sangat persis dengan cara kita bersaing dalam bisnis. Knocked out. Di situs motivasi www.pembelajar.com saya pernah menulis artikel Kompetisi Formula Satu.

Benar bahwa perusahaan mengemban amanat sebagai multiplying wealth organization. Tetapi itu berarti melaju lebih kencang, sekencang yang mampu dilakukan. Bisa saja dalam perjalanan menjadi lebih kencang, kita harus melampaui perusahaan yang sudah berada di depan. Tenang saja. Itu Tantangan Leader (seperti yang bisa Anda baca di www.andriewongso.com) dan leader yang harus berpikir untuk mempertahankan posisi mereka sendiri.

Tetapi tetap saja ketika berbisnis Anda tidak perlu membuat kompetitor Anda menjadi knocked out. Bisnis adalah bisnis. Perusahaan diminta untuk menjadi lebih makmur. Berlipat ganda setiap saat.

Saat kita berhadapan dengan kompetitor, ada pilihan yang harus kita ambil. Berusaha menjadi lebih baik dari kompetitor dan membiarkan konsumen yang memilih, atau berusaha menjatuhkan kompetitor dan menjadi sendirian dalam bisnis tersebut.

Saya pernah baca salah satu tulisan Bondan Winarno tentang sebuah pabrik mobil di Detroit, Amerika Serikat. Ketika itu salah satu komponen mobil dijual dengan harga US$100. Lalu ada peniru di wilayah yang sama dan menjual komponen tersebut dengan harga US$50. Padahal menurut perhitungan pabrik mobil itu, biaya produksi komponen tersebut saja sudah di atas US$80.

Pabrik tersebut justru dengan tenang menjual komponen itu di harga US$40. Luar biasa memang, karena yang terjadi kemudian adalah para peniru yang, tentu saja, tidak mampu membuat dengan kualitas bahan yang sama dan menetapkan margin laba yang tidak tinggi, akan kelabakan bila harus menjual di bawah US$40. Tentu saja, para peniru yang tidak didukung modal yang cukup kuat, dengan segera gulung tikar.

Tidak jelas benar apakah peniru tersebut menggunakan merek yang sama, tetapi rasanya tidak. Karena bila mereka menggunakan merek yang sama, akan dengan mudah pabrik besar tersebut menuntut secara hukum. Komponen itu mungkin hanya dibuat dengan ukuran dan bentuk yang sama tetapi menggunakan merek yang berbeda.

Pada saat itu, sebenarnya sangat tergantung dengan keinginan konsumen. Mereka tentu tahu komponen mana yang memiliki kualitas yang tinggi. Walaupun memiliki fungsi yang sama, tetapi bila diproduksi dengan biaya yang sangat rendah (terlihat dari harga jual yang jauh lebih rendah), tentu saja memiliki kualitas yang lebih rendah. Bahkan mungkin umur penggunaan juga akan lebih pendek.

Tetapi, seperti pemain tinju, maka pabrik besar itu meng-knockout kompetitornya. Sayang memang, karena saat itu TQM belum mendunia dan Six Sigma bahkan belum diperkenalkan. Sehingga matilah para kompetitor kecil itu.

Itulah masalah yang muncul ketika berbisnis seperti pertandingan tinju. Lawan harus dihentikan kemampuan kompetisinya bila ingin menang. Tidak harus begitu, bisa saja mereka tetap hidup dan konsumen yang memilih sesuai kebutuhan masing-masing.

Kabar buruk lain dari kasus tersebut, setelah para kompetitor mati, pabrik besar itu tidak punya kompetitor lagi. Monopolis baru itu menjual komponen yang dibicarakan senilai US$125.[as]

* Ardian Syam dapat dihubungi di: Ardian.syam@gmail.com

PENDIDIKAN “TERAMPIL BERPIKIR”

Oleh: Roni Djamaloeddin


Pada umumnya, berpikir dianggap sebagai sebuah tuntutan/kebutuhan. Artinya, bila keadaan mengharuskan untuk berpikir, barulah (secara otomatis dan alami) pikiran bekerja. Misalnya, ketika menghadapi masalah, merencanakan sesuatu, maupun ketika bekerja yang memang memerlukan pemikiran (bukan pekerjaan yang monoton). Hal-hal seperti ini memang menuntut pikiran untuk bekerja. Namun bila keadaan biasa (santai), tidak menuntut aktivitas berpikir, hampir pasti pikiran tidak dibekerjakan—tidak diasah agar terampil dan tajam.

Pada sisi lain, banyak yang beranggapan bahwa kemampuan berpikir—atau tepatnya keterampilan berpikir—adalah merupakan “gawan bayi” (watak bawaan). Ia tidak bisa diubah ke arah yang lebih baik. Usaha apa pun yang dilakukan, diprasangka akan sia-sia. Tidak banyak berarti bagi perkembangan keterampilan berpikir seseorang.

Ironisnya, keterampilan berpikir ini umumnya disejajarkan dengan tingkat pendidikan. Semakin tinggi tingkat pendidikan, semakin baik keterampilan berpikirnya. Sebaliknya, rendahnya jenjang pendidikan, diasumsi rendah pula etos pikirnya.

Ironis lainnya, terampil berpikir ini disetarakan dengan terampil berbicara. Mereka yang terampil berbicara (di depan publik) dianggap pula terampil berpikir. Sedang yang kebetulan tidak pandai bicara, maka dianggaplah tidak terampil berpikir—walau ada kemungkinan sebagai pemikir yang baik.

Yang lebih parah lagi, serangkaian mata pelajaran di sekolah maupun berbagai mata kuliah di perguruan tinggi, disepadankan sebagai sarana melatih keterampilan berpikir. Kegiatan pembelajarannya pun kemudian diasumsikan sebagai sarana melatih keterampilan berpikir pula.

Apakah Memang Demikian?
Sama sekali tidak. Berpikir bukan hanya sekedar tuntutan/kebutuhan. Ia bisa diarahkan dan diubah menjadi sebuah keterampilan. Yaa, keterampilan berpikir namanya. Ia seperti halnya keterampilan-keterampilan lain pada umumnya. Keterampilan berenang, bernyanyi, akting, pidato, menulis buku, mengarang cerita, berjalan di atas tali, mengendarai sepeda roda satu, dan lain sebagainya. Kesemuanya butuh ”super serius” mempelajari dan mendalami agar menjadi terampil—dari peringkat sebelumnya yang sekadar bisa.

Keterampilan berpikir ini bisa didalami oleh siapa saja tanpa memandang usia. Ia bahkan bisa dilatihkan pada anak sejak usia dini—sebagaimana yang diajarkan Edward de Bono pada anak-anak usia 10 tahun (Erlangga, 1988). Keterampilan ini bukan sifat/watak bawaan. Ia tidak bisa disejajarkan dengan tingkat pendidikan. Belum tentu mereka yang tinggi pendidikannya (walaupun telah mengantongi berbagai gelar S3 di berbagai disiplin ilmu), tingkat berpikirnya mesti baik. Sebab, nyatanya, tidak sedikit di antaranya yang justru memprihatinkan cara berpikirnya. Dan belum tentu pula anak yang usianya baru 10 tahun itu mesti belum bisa berpikir.

Salah satu contoh pikiran yang telah terampil bekerja (berpikir) adalah sebagaimana pengalaman muridnya de Bono yang baru berumur 10 tahun—yang kalau di Indonesia umur-umur sekian itu masih duduk di kelas 4 SD—ketika diberi pertanyaan: “Bagaimana sikap dan tanggapan Anda bila para murid yang sedang belajar di sekolah itu digaji?” Pikiran terampilnya telah bisa mengapresiasi dengan “sempurna”. Di antara hasil pemikirannya:

“Sekolah itu (mencari ilmu agar pandai, cerdas, dan cakap) adalah butuhnya si murid, tidak sepantasnya bila ia mendapat gaji. Justru yang layak mendapat gaji adalah pengajarnya. Sebab merekalah yang telah bekerja keras, bersusah payah mendidik dan mencerdaskan para murid.”

“Dari pada dananya diberikan pada murid, lebih bijak bila dana tersebut dibelikan sarana pelengkap yang dapat menunjang kegiatan belajar mengajar. Toh para murid juga yang akan menuai hikmahnya, serta menjadikannya lebih pandai dan cerdas.”

“Pemberian gaji pada murid justru akan membelenggu dan meracuni pikiran si murid sendiri. Niatan belajarnya yang semula mencari ilmu, menambah wawasan dan pengetahuan, akan berubah menjadi mencari uang. Belajarnya kemudian tidak tulus dan tidak sungguh-sungguh, karena dalam hatinya hanya menanti gajian.”

Serta masih banyak lagi pikiran-pikiran terampil lainnya.

Namun, bagi pikiran yang belum terampil bekerja, tanpa berpikir panjang akan menjawab setuju. Menerima tawaran gaji dengan senang hati dan tangan terbuka. Senang bangga bahagia campur aduk menjadi satu, tanpa ada pemikiran terhadap pihak lain. Sama sekali tidak memikirkan dari mana asal dananya, mengapa mesti digaji, dan lain sebagainya. Selanjutnya berhayal yang bukan-bukan. Beli ini, beli itu, beli portabel, laptop, handphone 3G, dan seterusnya.

Bisa dibayangkan, pada taraf usia yang masih kanak-kanak, yang pada umumnya hanya bermain bermain dan bermain, masih sangat jauh dikatakan bisa “berpikir”, tapi nyatanya pikirannya di atas dewasa. Pikirannya benar-benar terampil, bahkan mendekati ”sempurna”. Tidak lagi dikuasi oleh ego dan nafsu. Malah sebaliknya, ego dan nafsunya telah ditundukkan oleh pikirannya dengan bijak—hikmah dari keterampilan berpikirnya.

Bagaimana bila mereka disuruh untuk memikirkan hal-hal lainnya, misalnya pendidikan, kenakalan remaja, atau bahkan korupsi yang merajalela? Saya optimis mereka mampu mengapresiasi dan memberi solusi dengan baik—sudah tentu erat kaitannya dengan referensi yang pernah dibaca dan kematangan psikologi kejiwaannya.

Keadaan pola pikir yang demikian ini, bagaimana bila dibandingkan dengan rata-rata pola pikir bangsa kita? Saya optimis, yang jenjang S1-S3 pun belum tentu “mampu” berpikir terampil seperti ini. Apalagi yang jenjang dasar dan menengah, sama sekali tidak ”nyambung”.

Benar-benar jauh berbeda. Bahkan bisa dikatakan bertolak belakang. Sebab, etos pikir bangsa kita rata-rata dijajah dan dibelenggu oleh ego dan nafsunya sendiri-sendiri. Oleh karenanya tidak heran bila negara kita sekarang mendapat gelar negara terkorup nomor dua di dunia.

Coba cermati. Yang katanya wakil rakyat, kumpulan orang-orang terhormat, begitu turun jabatan tidak sedikit yang justru masuk penjara. Yang namanya pejabat, mestinya melayani rakyat, tapi nyatanya tidak jarang yang malah menginjak-injak rakyat. Bahkan tidak sedikit yang justru mengambil alih hak mereka. Yang namanya mahasiswa, konon merupakan kumpulan masyarakat berpendidikan dan berlogika, nyatanya masih sering menyelesaikan masalah dengan tawuran, atau bahkan dengan “perang batu”.

Bagaimana Dengan Pendidikan?
Pendidikan yang ada selama ini sama sekali tidak mengarah (menyasar) pada keterampilan berpikir. Bisa dibuktikan sendiri, adakah di antara alumni pendidikan kita yang terampil berpikir sebagaimana muridnya de Bono di atas? (Kalau memang ada, tentunya menjadi manusia langka yang sangat berbahagia akibat mempunyai keterampilan berpikir. Saya salut kepada beliaunya.)

Pendidikan terlanjur identik dengan pengajaran serangkaian mata pelajaran di kelas. Pendidikan tingginya (seolah-olah) hanya disamakan dengan penguasaan materi bahan kuliah. Yang pada akhirnya, ending pendidikan hanyalah ”angka-angka” (nilai rapor dan ijazah).

Aneka cara modifikasi strategi dan pembaruan sistem pembelajaran, bongkar pasang kurikulum, tak banyak berarti bagi perkembangan keterampilan berpikir. Yang lebih ironis, banyak guru yang penerapan KBK (Kurikulum Berbasis Kompetensi) belum paham, sudah diganti dengan KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan). KTSP pun “nanti” belum berjalan sesuai harapan, (kira-kira saja) akan diganti lagi dengan KBLP (Kurikulum Berbasis Live Perfect), atau apa pun namanya. Begitu seterusnya, pergantian demi pergantian, perbaikan demi perbaikan, seolah tiada henti. Persis mottonya suzuki “inovasi tiada henti”. Namun sayang, hasilnya tak banyak berarti.

Akankah perbaikan demi perbaikan menjamin perubahan menuju masyarakat terdidik yang terampil berpikir? Wallahu a’lam. Namun, secara logika saya optimis hasilnya tidak banyak berubah. Sebab, para praktisi pendidikan sendiri, baik tingkat paling atas (pejabat struktural) sampai yang paling bawah (guru mata pelajaran), tidak banyak yang memahami apa itu keterampilan berpikir. (Jangankan memahami, mengerti saja mungkin belum.)

Penyebabnya, pendidikan yang dulunya telah diterima, tidak mengajarkan bagaimana keterampilan ini mesti dikembangkan. “Kurikulum Nasional”-nya (dulu) juga tidak menekankan bagaimana mencerdaskan diri, mengembangkan diri, serta mengkreasi diri untuk terampil berpikir. Pintu kran untuk hal-hal semacam ini tertutup erat. Terkondisikan karena perintah atasan. Bila atasan tidak memerintah, maka bawahan dilarang bertindak—beride pun (mungkin) juga dilarang. Sehingga kreativitas berpikir bawahan sangat kecil, bahkan bisa jadi tidak ada sama sekali.

Mereka juga tidak mengembangkan bagaimana berpikir yang kritis, cerdas, dan bijak itu mesti dilatih dan diterapkan. Sebagaimana kritik Hutabarat dkk dalam bukunya Logika (Erlangga, 1999), “Bahwa banyak di antara pelajar dan mahasiswa hanya dapat berpikir secara terpimpin, yaitu hanya sanggup menguasai/menghafal bahan-bahan kuliah dan diktat tanpa ada kemampuan berpikir secara kritis yang mutlak diperlukan dalam menuntut ilmu.” Satu-satunya penyebabnya, karena para guru/dosennya sendiri tidak mengajari yang demikian. Terpaku oleh aturan juklak dan juknis yang memang tidak mengatur hal demikian—konon aturan ini dijadikan pijakan utama dalam mengajar.

Lantas, solusinya?
Tak ubahnya tim sepak bola, agar diperoleh pemain-pemain yang terampil dalam bermain bola, maka pelatihan dan pendidikan persepakbolaan harus dimulai sejak dini. Dirikan sekolah sepak bola khusus untuk anak-anak. Datangkan para guru (pelatih) yang benar-benar mumpuni (profesional). Jangan asal comot dan asal pandai komentar.

Demikian halnya keterampilan berpikir. Agar diperoleh peserta didik yang terampil berpikir—sebagai generasi penerus bangsa yang kondisinya sangat memprihatinkan ini—, maka terapkan pendidikan terampil berpikir. Ajari mereka bagaimana berpikir yang baik. Kalau perlu—sebagaimana pengalaman de Bono—terapkan pelajaran baru. “Pelajaran Berpikir” namanya. Walau nampaknya asing, ia telah terbukti sangat ampuh digunakan oleh negara-negara maju.

Sebab, mata pelajaran ini telah diterapkan sebagai suatu subyek kurikulum pada ribuan sekolah di Inggris, Irlandia, Canada, Australia, Selandia Baru, USA, Malta, dan Israel. Dengan jenjang pendidikan mulai dari sekolah dasar, perguruan tinggi, hingga program latihannya sekelompok “milyarder”—yang masing-masing menangani lebih dari satu miliar dolar setahun. Bahkan, pelajarannya pun telah banyak dicari oleh berbagai perusahaan terkenal seperti IBM, Shell, Unilever, ICI, Dupon, dan sebagainya.

Tanpa ada keberanian merombak pola-pola pendidikan yang sudah ada, “mustahil” kiranya bangsa ini bangkit dari keterpurukan yang melanda semua sendi kehidupan. Sebaliknya, dengan memancang pondasi baru yang berupa “Pendidikan Terampil Berpikir”, sedikit demi sedikit namun pasti, bangsa ini akan mampu bangkit memperbaiki diri, mengembangkan diri, sekaligus mencerdaskan diri. Menuju bangsa madani yang merdeka sejati dan sempurna. Dan pada saatnya nanti—sebagaimana pengetahuannya para winasis—menjadi mercusuarnya dunia. [rj]

* Roni Djamaloeddin dapat dihubungi di ronijamal@yahoo.com.

SUKSES DENGAN MENCURI

Oleh: Eko Jaya Saputra

Mendengar kata mencuri, konotasi orang pasti negatif. Sebab mencuri adalah mengambil hak orang lain. Bagaimana dengan mencuri ilmu dan sukses orang lain? Apakah dua perbuatan ini melanggar hukum?

Sejauh ini saya belum pernah mendengar orang dipenjara karena mencuri ilmu dan sukses orang lain. Yang ada mencuri sendal, motor, uang, perhiasan dan lain-lain.

Untuk kasus pencurian tersebut, tidak akan dibahas dalam tulisan ini. Tapi kita akan melihat bagaimana proses mencuri ilmu dan sukses orang lain untuk mencapai sukses dan kebahagiaan kita.

Ini sebuah ceritanyata. Suatu sore, saya kedatangan tamu. Dia masih terbilang adik angkat. Dengan semangatnya dia mengatakan kalau ingin berhenti bekerja.

Mendengar perkataanya itu, saya sempat terkejut. Maklum, karena dia baru satu bulan bekerja di sebuah klinik pengobatan tersebut.

Alasannya, dia ingin membuka klinik sendiri. Saya tambah bingung dan terheran-heran, begitu nekatnya adik saya ini. Padahal, saya tahu dia tidak punya uang dan modal yang cukup untuk membuka klinik pengobatan.

Tanya punya tanya, rupanya dia sudah menguasai beberapa pengobatan alternatif. Di antaranya akupunktur, SEFT, hipnoterapi, pijat refleksi, dan meramu minuman herbal.

Hebatnya, dia hanya butuh waktu kurang dari satu bulan untuk mempelajari ilmu-ilmu itu. Kebetulan selama sebulan si adik ini “mencuri” ilmu sang dokter si pemilik klinik pengobatan tersebut.

“Memang saya tidak pernah belajar langsung pada dokter. Tapi saya selalu memperhatikan ketika dia sedang menangani pasien. Ternyata mengobati orang lain itu mudah. Saya sudah praktikkan ilmu-ilmunya pada orang lain. Ternyata hasilnya cespleng. Mengapa saya tidak buka sendiri?” tegasnya dengan nada penuh semangat.

Singkat cerita, keesokan harinya adik ini membuka pengobatan sendiri di rumahnya. Modalnya cuma papan nama bertuliskan Pusat Pengobatan Alternatif. Terus di papan nama itu ditulis juga berbagai penyakit yang bisa diatasi.

Marketingnya pun cukup sederhana. Dia hanya membuat brosur sebanyak satu rim. Brosur itu dibagikan kepada tetangga, di pasar, dan mal-mal.

Dalam brosur itu ditulis pengobatan gratis selama tiga hari untuk berbagai penyakit. Hasilnya?

Luar biasa! Setelah mengalakukan pengobatan gratis selama tiga hari, sedikitnya sepuluh pasien dari berbagai keluhan datang menemuinya. Dalam satu hari dia bisa mengantongi uang minimal Rp100 ribu. Artinya, dalam satu bulan dia rata-rata mendapat Rp3 juta.

Untuk seorang pria lanjang seperti dia, uang sejumlah itu sudah cukup besar. Penghasilan seperti ini belum pernah dia dapat selama meniti karir.

“Kalau saya tetap bekerja di klinik itu, penghasilan saya tidak lebih dari Rp1 juta. Dengan seperti ini, penghasilan saya dua kali lipat lebih besar,” kata dia.

Saya teringat filosofi tokoh Motivator No.1 Indonesia, Andri Wongso bahwa sukses adalah milik semua orang. Termasuk adik angkat saya itu.

Meski hanya tamatan SMA dia mampu merintis usaha menjadi seorang miliader muda dengan pengobatan alternatifnya. Itu pun dia tidak belajar langsung, hanya melalui sebuah proses “mencuri” ilmu dari orang lain.

Bicara masalah mencuri, saya juga teringat salah satu pengalaman Eni Kusuma, TKW yang sukses membuat buku best-seller berjudul Anda Luar Biasa!!!.

Menurut pengakuannya di buku itu, dia juga kerap “mencuri” waktu untuk bisa menyelesaikan bukunya itu. Caranya, dia menyempatkan diri browsing di internet untuk mencari bahan tulisan saat mengantar anak majikannya kursus bahasa Inggris.

Setelah sekian kali “mencuri” Eni akhirnya berhasil menyelesaikan bukunya. Dia juga mampu menggugah dunia dengan keteguhan dan semangatnya menyelesaikan buku Anda Luar Biasa!!! tersebut.

Eni sendiri mengaku suksesnya itu didapat lewat sebuah proses pembelajaran cukup panjang. Mulai dari hanya berkhayal sampai dengan mencuri ide-ide dari para penulis sukses.

Sekarang pertanyaannya, bagaimana agar kita sukses “mencuri” dan meraih sukses lainnya? Coba simak ucapan seorang Mind Navigator dan Re-Educator, yang juga mentor saya, Adi W. Gunawan di website-nya http://www.adiwgunawan.com/:

Kunci sukses itu ada lima. Pertama adalah doa. Menurut sejumlah ahli psikologi, doa merupakan senjata paling hebat dimiliki manusia untuk mewujudkan impiannya.

Sayangnya, orang kerap melupakan dirinya kalau punya senjata ampuh tersebut. Kalaupun sadar punya senjata ampuh, dia tidak mampu menggunakannya dengan baik. Kalau mau mencuri ilmu agar doa kita bisa cespleng, baca buku-buku karangan Adi W. Gunawan atau browsing ke website-nya tersebut.

Kedua, kita harus memahami impian kita (dream building).

Ketiga, yakin. Maksudnya, kita harus yakin kalau impian kita itu bisa terwujud.

Keempat, kita harus banyak bersyukur atas nikmat melimpah yang telah diberikan Tuhan kepada kita.

Kelima, pasrah. Mas Adi mengatakan kunci sukses adalah tidak boleh terpaku pada impian kita. Kita harus benar-benar menyerahkan diri kita kepada Sang Pencipta alam semesta ini. Nah, masalahnya sejauh mana kita benar-benar memasrahkan diri kepada Tuhan?

Ternyata lewat mencuri kita bisa mengembangkan dan melakukan transformasi diri. Saya pun akhirnya berprinsip, akan selalu “mencuri” demi mewujudkan impian hidup.

Bahkan, untuk menyelesaikan tulisan ini, saya terpaksa mencuri tulisan Mas Adi tanpa sepengetahuan orangnya. Tapi saya yakin Mas Adi tak akan marah. Yang jelas, saya tidak melanggar hukum. Karena saya sudah menulis sumbernya. Betul, Mas Adi?

Saya juga teringat dengan ungkapan seorang teman pemasaran di kantor yang baru mengikuti pelatihan pemasaran di surat kabar harian Fajar.

Dia mengatakan, untuk menjadi sukses kita harus pandai-padai mencuri. Bagaimana caranya? Sangat mudah. ATM (Ambil Tiru Modifikasi) sesuatu yang baik milik orang lain.

Ya, banyak orang sukses karena menjalankan prinsip ATM. Anda juga mau sukses? Awalilah dengan “mencuri” ide orang lain. Lakukan modifikasi. Kemudian, yakinlah Anda sukses, banyaklah besyukur, pasrahkan semua kepada yang kuasa, dan jangan lupa berdoa.[ejs]

* Eko Jaya Saputra adalah Wakil Pimpinan Redaksi SKH “Rakyat Lampung”, praktisi hipnosis, professional stage hypnosis di “Siger TV” Lampung, SEFTER, dan Humas KONI Kota Bandarlampung. Ia dapat dihubungi melalui email: ekorakyat@yahoo.com

toko-delta.blogspot.com

Archives

Postingan Populer

linkwithin

Related Posts with Thumbnails

Total Tayangan Halaman

Diberdayakan oleh Blogger.