toko-delta.blogspot.com

menu

instanx

Sabtu, 08 November 2008

Menceburkan Diri ke Dalam Lautan Masalah

Oleh: Ade Asep Syarifuddin


KATA masalah atau persoalan bagi sekelompok orang merupakan kata yang "menakutkan". Terbayang dalam pikirannya situasi yang tidak menentu yang bisa mengganggu kenyamanan dirinya. Tapi bagi sekelompok yang lainnya, kata masalah disimbolkan sebagai sesuatu peluang di dalam pikirannya, karena dengan datangnya masalah berarti dirinya tengah diuji dengan salah satu bentuk soal yang harus dijawab. Tingkat kesulitan soal tersebut menentukan grade kita dalam salah satu mata kuliah kehidupan ini. Semakin sulit, maka akan semakin advanced level mentalitas kita dalam hidup ini, sementara bila masalahnya biasa-biasa saja, sama saja dengan siswa SMA mengerjakan soal-soal ujian anak kelas 6 SD, mudah dijawab, tapi tidak memberikan peningkatan kualitas dirinya. Jadi, apa inti masalah dalam sudut pandang orang-orang sukses?

Kita tahu, sebilah pedang atau golok untuk menjadi pedang yang indah dan tajam, awalnya dari sebatang besi yang harus melalui proses pemanasan dalam suhu yang sangat tinggi sampai membara, kemudian dipukul berkali-kali sampai membentuk pedang. Tanpa dipanaskan, tidak mungkin besi batangan akan menjadi pedang yang indah dan tajam. Demikian halnya peralatan rumah tangga yang dibuat dari kayu jati yang indah, apakah kursi, buffet, mebeul, meja, awalnya adalah kayu gelondongan yang tidak memiliki bentuk. Oleh pengrajin digergaji, dibuang bagian-bagian yang tidak bermanfaat, digosok-gosok dengan ampelas sampai halus, diukir, dirakit menjadi barang rumah tangga yang indah dan mahal harganya. Bahan baku yang bagus, pengolahan yang baik akan menghasilkan kualitas yang bagus dan harganya yang tinggi. Sementara bahan baku yang kurang baik, pengolahannya asal-asalan, harganya juga bisa-biasa saja.

Cerita di atas bisa juga diterapkan untuk manusia. Bila kita ingin menjadi manusia yang berkualiktas dengan harga tinggi, maka harus berani membayar dengan harga tinggi pula dalam melalui proses "pencetakan" SDM berkualitas. Anggap saja kita ibarat sepotong besi yang belum memiliki bentuk, api yang membara ratusan derajat celcius ibarat beratnya beban persoalan hidup yang menghimpit dan terjadi sehari-hari dan pedang yang bagus adalah mentalitas matang, pantang menyerah dan keterampilan yang tinggi dalam mengelola hidup ini. Dengan demikian, bila ingin menjadi manusia berkualitas maka secara sengaja kita harus menceburkan diri ke dalam lautan persoalan yang lebih banyak –bukan hanya persolan-persoalan kecil yang datang kepada kita—tapi sengaja kita mencari persoalan tadi. Dengan catatan, di tengah banyaknya persoalan tadi kita mengurai benang persoalan satu per satu sampai semuanya tuntas, dan tidak mundur sebelum selesai. Setelah menyelesaikan persoalan yang satu, cari lagi persoalan yang lain yang lebih berat, demikian terus menerus dilakukan tiada henti. Bila mengacu kepada analogi di atas, ketika terus menerus berltih menyelesaikan persoalan maka kita sudah memiliki pedang-pedang yang tajam dalam jumlah banyak, golok, kelewang, celurit atau bahkan senjata lainnya untuk memudahkan jalannya hidup. Bagaimana kalau kita tidak memiliki alat atau senjata sementara kita hidup di tengah hutan belantara? Bisa dibayangkan, kondisinya jauh lebih sulit bila dibandingkan dengan memiliki senjata yang lengkap.

Senjata dalam hidup memang tidak terlihat seperti pedang. Tapi bisa dibedakan siapa yang memiliki senjata yang lengkap dan siapa yang tidak dalam mengarungi hidup ini ketika benar-benar menghadapi situasi krusial. Senjata-senjata manusia yang harus dimiliki adalah, mentalitas pantang menyerah, ulet, disiplin, kesabaran melalui proses, kejujuran dalam berkata dan bersikap, optimis menghadapi semua kondisi yang terlihat menyenangkan dan tidak menyenangkan. Bila senjata-senjata itu terus dipelihara, dipertajam, dan digunkan setiap saat, maka manfaatnya akan langsung kita rasakan. Sebaliknya, bila senjata-senjata yang dimiliki tidak dimanfaatkan semaksimal mungkin, bisa jadi akan menjadi karatan, tumpul dan akhirnya menjadi besi biasa yang hanya laku di mata tukang lowak yang berkeliling dari rumah ke rumah yang harganya sangat-sangat murah.

Jadi, untuk apa mengeluh kalau menghadapi persoalan. Lebih baik persoalan tersebut diajak dialog, mengapa persoalan itu datang, apakah manfaat yang menyertai persoalan tersebut dan yang lebih penting lagi bagimana solusi atau cara menyelesiakannya dan sisi positif apa yang menyertai persoalan tadi. Alhasil, bila persoalan dilihat dari sudut pandang yang berbeda, maka akan memunculkan kreatifitas yang cukup tinggi bagi si penemunya. Mungkin Edison tidak akan menemukan lampu pijar listrik kalau ia tidak penasaran melakukan eksperimen, kendaraan tidak akan ditemukan kalau kita merasa puas dengan jalan kaki atau naik kuda, dan lain-lain. Masalah, bagi orang kreatif dan positif thinking adalah peluang. Karena dari sana dituntut untuk menemukan jawaban untuk mengatasinya. Berbeda dengan watak orang pesimis, masalah yang datang bisa menciutkan nyalinya untuk mencoba sesuatu yang lain yang lebih menantang, atau masalah diibaratkan sebagai penghalang untuk mencapi tujunnya.

Berbahagialah kalau dalam kehidupan sehari-hari masih menjumpai masalah. Carilah hikmah di balik sesuatu yang tidak mengenakkan. Garam akan terasa asin kalau langsung mengunyahnya, tapi akan melezatkan masakan kalau komposisinya tepat oleh juru masak yang lihai. Gula pun bila langsung dimakan akan muncul sakit perut, tapi kalau dituang ke dalam air panas ditambah sedikit teh atau kopi, aromanya akan sangat menggoda. Hidup ini lebih banyak dibutuhkan banyak seni dalam menghadapinya. Tidak cukup hanya mengetahui ilmu hidup. Seni artinya seperti juru masak, satu jenis masakan dibutuhkan garam yang banyak, tapi masakan yang lain hanya butuh sedikit garam. Bagaimana kita tahu apakah satu masakan butuh lebih banyak garam daripada masakan lainnya? Banyak-banyaklah belajar memasak, nanti Anda tahu sendiri bagaimana menghasilkan masakan yang lezat. Banyak-banyaklah mencoba resep-resep yang ada kalau kita ingin menjadi juru masak handal.

Kita adalah "juru masak" untuk kehidupan kita sendiri. Kalau ingin mahir, maka harus sering latihan mencoba resep-resep kehidupan ini yang pernah dicoba orang lain. Karena belum tentu resep orang lain yang bagus, akan langsung bagus ketika dicoba hanya sekali oleh kita. Dibutuhkan latihan yang sering, terus menerus sampai resep-resep tersebut terasa enak. Bahkan tanpa disadari, suatu ketika, kita akan menciptakan resep-resep baru, original buatan kita sendiri yang akan diikuti dan dicoba oleh ribuan orang. Bila resep kita terbukti dirasakan enak oleh orang lain, jangan kaget kalau banyak orang mencari kita untuk berguru dan bertanya bagaimana sampai resep tersebut terasa enak.(aas)

* Ade Asep Syarifuddin adalah trainer yang berbasiskan NLP. Tulisan dan artikelnya tersebar di berbagai media massa. Sehari-hari ia adalah Editor in Chief dan General Manager Harian Radar Banyumas. Bisa dihubungi lewat e-mail ade_asep@yahoo.com

Sponge: Clean or Dirty?

Oleh: Ignatius Muk Kuang


Mendengar kata 'Sponge' (Spons) apa yang terlintas pertama kali di benak Anda?

Umumnya banyak yang langsung mengkorelasikan dengan ‘spongebob’ sebuah serial kartun yang digemari di kalangan anak-anak, tetapi ada pula yang mengatakan sebagai sebuah alat/media untuk membersihkan sesuatu.

Terlepas dari itu semua yang menarik dari alat ini adalah, jika kita meletakkan sebuah spons di sebuah wajan berisi air dan sebagian besar dari air dalam wajan tersebut akan diserap oleh spons. Sesuatu yang pernah atau mungkin sangat sering anda perhatikan. Bila Anda memasukkan air yang bersih di dalam wajan, maka yang diserap juga air yang bersih, tetapi sebaliknya jika air kotor yang ada di dalam wajan maka yang diserap oleh spons tersebut juga air kotor.

Manusia pada prinsipnya kurang lebih sama dengan filosofi sebuah spons. Setiap individu adalah spons. Manusia memiliki kemampuan untuk menyerap dan menerima informasi, berita dan menyimpannya dalam memori pikiran. Yang membedakan adalah informasi negatif atau positif yang ingin diserap. Sama halnya spons tadi mau menyerap air yang bersih atau air yang kotor. Semuanya yang menentukan adalah Anda sendiri.

Lalu apa sih informasi positif dan informasi negatif itu?

Negatif ketika informasi itu membuat Anda khawatir, ragu, bimbang, takut untuk mengambil langkah ke depan. Sebut saja contoh yang paling mudah ketika kita sering membaca berita kriminalitas akhirnya menjadi sangat takut akan menjadi korban, senang sekali mendengar berita kegagalan orang lain dan menyebarkannya kembali tanpa menggali apa penyebab kegagalan orang lain, mau dan dengan rela diberitahu kalau Anda tidak bisa sukses.

Apa yang akan terjadi kalau informasi ini terus menerus Anda serap dan sebarkan lalu Anda serap lagi informasi negatif yang lain? Anda bisa bayangkan kalau spons terus menerus menyerap air kotor dan diperas lalu menyerap air kotor lagi. Betapa kotornya spons itu !

Bagaimana dengan otak serta pikiran kita kalau secara kontiniu mendengar hal yang tidak akan membuat kita menjadi lebih baik.

Jadi salahkah kalau mendengar informasi negatif? Tidak ada yang salah! Salah ketika kita tidak mau melihat apa yang menyebabkan ini bisa menjadi negatif. Salah ketika kita terus menerus mendengar hal yang negatif sepanjang hidup tanpa mau membuka telinga untuk hal yang positif.

Positif ketika informasi itu bisa memberi semangat hidup, menginspirasi anda untuk mengambil sebuah action, menambah wawasan berpikir Anda. Contoh paling mudah adalah kalau menghadiri sebuah seminar, membaca buku pengembangan kepribadian, mendengar kisah sukses orang ternama, semua hal itu bisa memberikan nilai tambah dalam diri Anda.

Saya teringat sebuah tagline di salah satu iklan yang mengatakan demikian "Buku yang Anda baca akan menentukan masa depan Anda". Jika menyerap air kotor ketika diperas airnya pun kotor. Jika anda membaca, mendengar dan menjalankan hal yang positif, hasilnya pun positif.

Jadi mau dimasukkan ke wajan air bersih atau kotor spons Anda?

Salam Sukses!
LIFE INSPIRATION
“Think and Act like a Winner”


* Ignatius Muk Kuang adalah seorang trainer, speaker (Motivation, Self-Development, Salesmanship, Presentation, Public Speaking) dan aktif menulis artikel tentang pengembangan diri. Ia dapat dihubungi di email: mukkuang@yahoo.com

Quality Time

Oleh: Ardian Syam


Istilah quality time sudah bukan hal baru bagi semua pembaca, saya bisa pastikan itu. Tetapi benarkah kita telah menjalankan konsep tersebut dengan benar? Bagaimana kita bisa menjalankan dengan benar?

Pekerjaan di kantor seringkali menuntut fokus perhatian dan konsentrasi yang tinggi. Karena hal tersebut pula lah maka Anda bisa dengan optimal mengeluarkan seluruh kompetensi yang dimiliki untuk penyelesaian pekerjaan. Sehingga konsentrasi yang sangat tinggi di kantor akan terbawa ketika tiba di rumah kembali. Konsentrasi kita masih kepada pekerjaan di perusahaan tempat kita bekerja dan kurang konsentrasi terhadap masalah yang terjadi di rumah maupun yang terjadi dalam keluarga kita sendiri.

Saya bahkan punya teman yang sama sekali tidak bisa mengalihkan perhatian kepada pekerjaan di perusahaan tempat dia bekerja. Teman saya ini bahkan menderita penyakit hepatitis karena sering terlalu lelah bekerja. Lebih buruk lagi ketika penyakit teman saya itu kambuh dan diharuskan istirahat oleh dokter yang merawat, tetap saja dia tidak dapat mengalihkan perhatian pada pekerjaan di kantor.

Perusahaan tempat dia bekerja telah menggunakan teknologi informasi sehingga seluruh data tersimpan dalam beberapa server dan bila diberikan akses maka data tersebut dapat dilaksanakan dari rumah. Lalu bagaimana bisa Anda memberikan quality time kepada keluarga bila Anda tetap tidak bisa mengalihkan perhatian dari pekerjaan bahkan ketika ada di rumah.

Pernah ada teman yang menyatakan bahwa dia bekerja lebih dari 12 jam setiap hari, berangkat ketika matahari belum benar-benar muncul di langit dan keluar dari kantor ketika matahari telah tidak terlihat di langit.

Saya mencoba mengutip sebuah tulisan yang saya dapat dari sebuah milis:
Suatu hari, seorang ahli 'Manajemen Waktu' berbicara di depan sekelompok mahasiswa bisnis, dan ia memakai ilustrasi yg tidak akan dengan mudah dilupakan oleh para siswanya.

Ketika dia berdiri di hadapan siswanya dia berkata: "Baiklah, sekarang waktunya kuis" Kemudian dia mengeluarkan toples berukuran galon yg bermulut cukup lebar, dan meletakkan di atas meja. Lalu ia juga mengeluarkan sekitar selusin batu berukuran segenggam tangan dan meletakkan dengan hati-hati batu-batu itu ke dalam toples. Ketika batu itu memenuhi toples sampai ke ujung atas dan tidak ada batu lagi yg muat untuk masuk ke dalamnya, dia bertanya: "Apakah toples ini sudah penuh?"

Semua siswanya serentak menjawab, "Sudah!"

Kemudian dia berkata, "Benarkah?” Dia lalu meraih dari bawah meja sekeranjang kerikil. Lalu dia memasukkan kerikil-kerikil itu ke dalam toples sambil sedikit mengguncang-guncangkan, sehingga kerikil itu mendapat tempat diantara celah-celah batu-batu itu. Lalu ia bertanya kepada siswa sekali lagi: "Apakah toples ini sudah penuh?"

Kali ini para siswa hanya tertegun. "Mungkin belum!", salah satu dari siswa menjawab.

"Bagus!" Kembali dia meraih kebawah meja dan mengeluarkan sekeranjang pasir. Dia mulai memasukkan pasir itu ke dalam toples, dan pasir itu dengan mudah langsung memenuhi ruang-ruang kosong diantara kerikil dan bebatuan. Sekali lagi dia bertanya, "Apakah toples ini sudah penuh?"

"Belum!" serentak para siswa menjawab.

Sekali lagi dia berkata, "Bagus!" Lalu ia mengambil sebotol air dan mulai menyiramkan air ke dalam toples, sampai toples itu terisi penuh hingga ke ujung atas. Lalu si Ahli Manajemen Waktu ini memandang para siswa dan bertanya: "Apakah maksud dari ilustrasi ini?"

Seorang siswanya yangg antusias langsung menjawab, "Betapapun penuh jadwalmu, jika kamu berusaha kamu masih dapat menyisipkan jadwal lain!"

"Bukan!" jawab si ahli. "Bukan itu maksud ilustrasi ini. Ilustrasi ini mengajarkan kita bahwa: JIKA BUKAN BATU BESAR YANG PERTAMA KALI KAMU MASUKKAN, MAKA KAMU TIDAK AKAN PERNAH DAPAT MEMASUKKAN BATU BESAR ITU KE DALAM TOPLES TERSEBUT.

"Apakah batu-batu besar dalam hidupmu? Mungkin anak-anakmu, suami/istrimu, orang-orang yang kamu sayangi, persahabatanmu, kesehatanmu, mimpi-mimpimu, ibadahmu pada Tuhanmu. Hal-hal yang kamu anggap paling berharga dalam hidupmu. Ingatlah untuk selalu meletakkan batu-batu besar tersebut sebagai yang pertama, atau kamu tidak akan pernah punya waktu untuk memperhatikan hal tersebut. Jika kamu mendahulukan hal-hal yang kecil dalam prioritas waktumu, maka kamu hanya memenuhi hidupmu dengan hal-hal yang kecil, kamu tidak akan punya waktu untuk melakukan hal yang besar dan berharga dalam hidupmu.”

Saya pikir sangat sedikit orang yang menganggap keluarga sebagai hal yang paling dapat diabaikan dibandingkan pekerjaan di kantor. Maka sangat sedikit orang yang menganggap pekerjaan di kantor sebagai batu besar.

Ada sekian banyak unsur dalam hidup kita. Ada keluarga, ada pekerjaan, ada hobi, ada kesehatan dan masih banyak lagi yang lain. Kesemua hal tersebut harus diperhatikan, harus seimbang.

Ada sebuah computer game yang patut Anda perhatikan pada saat Anda tertarik untuk bicara tentang keseimbangan, tentang quality time: SIM. Sekarang sudah ada begitu banyak add-ins untuk game tersebut, cobalah cari seri yang paling standar dan cobalah miliki manual untuk memainkan game tersebut. Permainan dapat Anda pilih apakah menjadi seorang bujangan sendirian, bujangan kakak beradik, keluarga tanpa anak atau keluarga dengan anak. Sebagai pemula lebih baik Anda pilih peran sebagai bujangan sendirian.

Dari game tersebut Anda akan belajar bagaimana menyeimbangkan hidup. Ada delapan indikator termasuk tingkat kesehatan, tingkat kesenangan, tingkat rasa cinta, dan tingkat kepintaran. Lebih unik lagi adalah Anda tidak akan mendapatkan promosi di tempat pekerjaan Anda dalam game tersebut bila ada stau indikator yang menyatakan tingkat yang buruk. Berarti Anda baru dapat promosi bila semua indikator menunjukkan nilai baik dan ada indikator yang menunjukkan tingkat yang istimewa.

Anda lihat, bahkan sebuah computer game mengajarkan keseimbangan antar sisi-sisi kehidupan Anda. Lalu bagaimana Anda bisa lebih fokus pada pekerjaan dan melupakan hal lain dari sisi kehidupan Anda? Keseimbangan sehingga tidak ada yang sangat tinggi sementara ada tingkat yang sangat rendah.

Anda mungkin merasa sudah terlalu banyak hal yang selama ini Anda abaikan sehingga akan sulit untuk memulai kembali. Bila itu menjadi masalah bagi Anda saya ingatkan bahwa Anda mungkin pernah naik sepeda dulu di waktu Anda kecil kemudian sekarang Anda sudah terlalu sering tidak naik sepeda maupun sepeda motor, lalu Anda ingin mencoba naik sepeda lagi. Anda tahu bahwa Anda akan kaku dan mungkin akan jatuh, tetapi tidak akan terlalu lama sehingga Anda bisa mengendarai sepeda lagi.

Jadi cobalah lagi lakukan hal yang selama ini telah Anda abaikan. Anda mungkin sudah lama tidak membaca buku, cobalah membaca buku pembangkit motivasi, pilih yang cukup tipis. Bila keluarga sudah mulai Anda abaikan, cobalah bicara dengan anak Anda, tentang siapa saja teman mereka di sekolah sehingga pembicaraan akan meluncur ke hal-hal apa saja yang teman mereka lakukan di sekolah. Bila kesehatan Anda sendiri yang Anda abaikan cobalah sekali waktu Anda bangun sangat pagi dan cobalah berlari keliling lingkungan tempat tinggal Anda.

Seimbang bukan harus melakukan semua hal tersebut setiap hari, karena mungkin Anda beralasan tidak ada waktu yang cukup untuk melakukan semua itu dalam stau hari. Sekarang, buat daftar apa saja yang selama ini telah Anda abaikan lalu rencanakan untuk melakukan satu hingga tiga dari hal tersebut setiap hari dan dalam satu minggu semua hal itu bisa Anda lakukan.

Ada sebuah perusahaan yang menetapkan hari Rabu sebagai hari quality time. Tidak tanggung-tanggung, karena hari quality time tersebut justru dicanangkan langsung oleh Direksi perusahaan tersebut. Pencanangan tersebut didorong karena selama ini Direksi memperhatikan bahwa sebagian besar pegawai perusahaan tersebut masih berada di kantor jauh setelah jam kerja harian berakhir. Tidak hanya itu, pada hari-hari Sabtu dan Minggu pun ada beberapa pegawai yang masih tetap ke kantor. Sehingga ditetapkan bahwa setiap hari Rabu, pegawai perusahaan tersebut harus pulang ke rumah masing-masing begitu jam kerja hari itu berakhir.

Sebuah upaya yang sangat serius karena bila hidup tidak Anda jadikan cukup berarti, maka jangan harap pekerjaan Anda juga akan cukup berarti. Dengan keseimbangan, dengan quality time akan mendorong Anda untuk menghasilkan quality product atau service. Berniat mencoba?

* Ardian Syam dapat dihubungi melalui email: ardian.syam@gmail.com

Menguak Rahasia Etos Pelayanan Konsumer yang Topcer (2)

Oleh: Joshua W. Utomo, M.Div., D.Hyp., C.Ht.,


Rahasia Dua:

”Pelayanan konsumer yang topcer adalah sebuah Sikap (attitude), Etos (ethos) yang merupakan refleksi dari Cara berPikir (the way of thinking) seseorang. Ini bukanlah sebuah konsep mati dan adanya lembaga departemen pelayanan konsumer masih belum bisa menjamin secara 100 persen adanya pelayanan konsumer yang topcer, apalagi bila staf di departemen tersebut tidak memiliki SECP (Sikap, Etos, dan Cara Pikir) yang topcer.” Pada artikel bagian pertama yang lalu, saya yakin Anda telah mengetahui apa isi Rahasia Satu yang amat vital itu. Dan saya pun yakin bahwa Anda bahkan pasti bisa mengulang isi Rahasia Satu itu di luar kepala.

”Bagus, jawaban Anda seratus persen benar!”

Rahasia Satu itu memang berbunyi:“ Pelayanan (service) topcer adalah jantung dan urat nadi serta tulang sumsum dari setiap organisasi, nirlaba ataupun yang untuk laba” persis dengan jawaban yang Anda sampaikan itu.

Baik, marilah sekarang kita melangkah kepada Rahasia Kedua untuk bisa lebih membantu dan memperlengkapi Anda dalam menjalankan setiap bentuk usaha yang Anda jalankan demi meningkatkan produktifitas, efektifitas dan efisiensi kerja dalam organisasi Anda.

Dalam setiap perusahaan--besar ataupun kecil biasanya kita bisa menemukan departemen atau sub-departemen yang khusus bergerak dan bertanggung-jawab di bidang pelayanan konsumer ( customer service). Memang keberadaan departemen customer service dalam sebuah perusahaan secara otomatis akan menambah citra yang positif bagi perusahaan yang bersangkutan.

Ini merupakan pertanda yang baik dan secara otomatis bisa memberi kesan bahwa perusahaan yang bersangkutan telah memiliki pikiran maju, mau berusaha untuk menyediakan produk dan jasa yang terbaik bagi para pelanggannya, sekaligus menunjukkan niat baik dari pengusaha dan perusahaan yang bersangkutan untuk menjaga hubungan dengan para konsumer (baik dalam dan luar) secara baik dan harmonis tak hanya untuk jangka pendek saja, tapi yang lebih penting lagi untuk jangka panjang.

“Pertanyaannya sekarang adalah: sejauh mana dan apakah departemen-departemen pelayanan konsumer itu sungguh-sungguh mampu memberikan pelayanan kepada konsumernya secara topcer?” Bila kita melihat dan memperlakukan pelayanan konsumer ini hanya sebatas konsep mati belaka atau mengidentikkannya dengan dinding-dinding perlembagaan departemen pelayanan konsumer semata-mata, maka akan sangat sulit atau malah mungkin sangat mustahil (sudah mustahil, sangat lagi) menemukan jawaban bagi pertanyaan yang saya ajukan di atas.

Tapi, bila kita bisa memahami, melihat dan memperlakukan pelayanan konsumer ini lebih sebagai sebuah Sikap (attitude), Etos (dari bahasa Yunani ethos: adat; juga berarti: karakter, nilai-nilai moral, atau keyakinan yang menjadi panutan bagi seseorang, kelompok atau institusi), dan cara berpikir (the way of thinking)—seperti yang terungkap dalam Rahasia Dua ini, maka dengan mudah kita bisa menemukan jawaban bagi pertanyaan di atas.

Kantor yang indah, megah dan penuh glamour, staf yang cantik, seksi menawan atau yang berwajah ganteng rupawan tak akan bisa mengangkat reputasi baik perusahaan Anda, atau menambah jumlah konsumer baru yang loyal pada perusahaan Anda, atau meningkatkan income perusahaan Anda, bila setiap anggota keluarga besar (staf) dalam perusahaan Anda itu masih belum mengerti, menerima, dan menerapkan Rahasia Dua ini Ingatan saya pun melayang menerawang tahun-tahun yang lalu ketika saya dan istri selalu pergi memesan pigura-pigura bagi koleksi lukisan kami ke toko pembuatan pigura langganan kami di kota Brookline yang terbilang paling besar dan terkenal di sekitar kota itu.

Sudah beberapa kali kami memesan pigura dengan pelbagai macam desain, ukuran, dan warna bagi lukisan-lukisan koleksi kami. Dan selama ini hasilnya memuaskan. Tapi ada satu hal yang sangat menonjol dan sangat kami sukai dari toko pigura ini—pelayanan mereka pada kami. Pelayanan mereka pada konsumer mereka sangat bagus. Beberapa kali saya menyempatkan diri menyampaikan rasa salut saya pada staf maupun pemilik toko pigura tersebut atas keberhasilan mereka menerapkan konsep dalam Rahasia Dua ini. Senyum simpul pun mengembang di wajah-wajah mereka yang ramah itu. Semua puas dan kami pun pulang dengan hati yang senang.

Namun, beberapa bulan yang lalu ketika kami berdua kembali lagi ke toko pigura itu seperti biasanya untuk memesan pigura bagi tiga lukisan kami yang baru, ternyata banyak sekali perubahan yang kami rasakan di toko tersebut. Sayang seribu sayang jika perubahan yang kami jumpai itu adalah perubahan negatif: senyum ramah sirna entah ke mana, ucapan salam saat kami masuk ke dalam toko pun tak terucapkan. Wajah-wajah yang pernah kami kenal tak satu pun dapat kami jumpai di sana. Suasana toko yang sekaligus studio tempat memproduksi segala macam pigura dan alat-alat lukis itu terasa senyap dan dingin. Yang terdengar hanya suara bising alat-alat produksi yang sedang aktif bekerja.

Akhirnya, setelah melihat-lihat sebentar beberapa lukisan dan foto-foto baru yang dipajang di dinding toko, kami pun segera mendekati meja pemesanan pigura sekaligus tempat para konsumer meneken kontrak yang terletak di tengah-tengah toko itu. Di balik meja kayu besar itu nampak sesosok wanita muda yang belum pernah kami lihat sebelumnya. Keacuhan tampak jelas menggelantung di raut wajahnya yang cemberut itu. Tampak sekali kalau dia sangat enggan atau bahkan jengkel ketika kami dekati.

Tanpa mempedulikan keacuhan dan kecemberutannya itu, dengan ramah dan senyum mengembang kami sapa dia, “Good afternoon and how are you this afternoon?”

“Mungkin dengan senyum bersahabat dan sapaan salam yang ramah dan tulus, kami bisa memulai percakapan dan proses pemesanan pigura itu dengan dia secara mulus dan penuh ceria seperti waktu-waktu yang lalu,” awalnya begitu pikir kami saat itu.

Harapan kami ternyata sangat meleset. Bukannya dia membalas sapaan dan senyuman kami yang tulus itu, malah dia langsung bertanya singkat dengan nada kesal.

”Apa yang kau mau, cepat katakan!” sembari melemparkan pensil yang selama itu dia pegang ke atas meja kayu itu. “Klothaaakkk!”

“Uppsss, walah pegawai model apaan ini?!” batinku.

“Ya sudah, mungkin dia lagi bete atau pas lagi ada masalah, dimaafkan saja dech, toh sebentar lagi dia pasti akan tersenyum lagi”, begitu gumamku menyabarkan diri.

Ternyata setelah itu, sikap dan perlakuannya pada kami sebagai konsumernya yang seharusnya berhak mendapatkan pelayanan dan perlakuan yang sopan, ramah dan baik, bukan semakin ramah atau membaik, tapi malah semakin memburuk dan sangat tidak sopan.

Kami sudah bersabar dan menoleransi sikapnya itu, tapi ada saatnya bagi kami untuk menghentikan pelayanan buruk dan sikapnya yang angkuh itu. Dengan tegas dan lugas kami nyatakan ketaksenangan kami padanya. Setelah kami rasa percuma adanya berurusan dengan seseorang yang sulit untuk berubah dan seakan sudah stuck dalam dunianya yang buram dan negatif, kami pun terpaksa menemui manajer dan pemilik toko tersebut. Kami sampaikan opini kami mengenai sikap dan pelayanan staf mereka itu dengan harapan agar mereka bisa mengambil langkah yang lebih bijaksana. Tak lupa kami sampaikan juga rasa sedih dan belas kasihan kami pada si wanita muda yang sangat negatif itu.

Singkat cerita, siang itu kami tak jadi memesan tiga pigura dari toko yang selama ini dengan setia kami datangi. Tak hanya mereka kehilangan tambahan pemasukan uang paling tidak antara $400 hingga $1300 dalam transaksi singkat itu. Mereka juga kehilangan salah satu konsumer setia (loyal client) mereka yang akan selalu memesan atau membeli produk-produk mereka di masa mendatang. Satu hal lagi, mereka sangat kehilangan salah satu duta (ambasador) mereka yang tak segan-segan akan mengajak dan memberi rekomendasi yang baik tentang toko mereka itu kepada orang-orang lain agar orang-orang lain pun membeli dan memesan produk dari toko itu. Dan bahayanya kalau sang konsumer ini memiliki jaringan teman global—hancur sudah reputasi toko pigura itu.

Pesan kami pada jaringan persahabatan yang kami miliki inti dasarnya berbunyi,“Jangan datang ke toko itu, pelayanan mereka pada konsumer sangat tidak bagus, staf mereka angkuh dan tidak sopan!”

“Tuh khan, bahkan Anda yang berada jauh di Indonesia pun pasti akan enggan mampir ke toko pigura di Brookline yang sangat mengabaikan Rahasia Dua ini.”

Anda bisa melihat betapa ampuhnya pengaruh Rahasia Dua (juga Rahasia Satu) ini bagi perusahaan Anda:

- Abaikan kedua rahasia pelayanan konsumer yang topcer ini, maka para konsumer (dalam dan luar) Anda pun pasti akan mengabaikan Anda dan perusahaan Anda.
- Lupakan kedua rahasia pelayanan konsumer yang topcer ini, maka cepat atau lambat para konsumer (dalam dan luar) Anda pun akan segera melupakan Anda.
- Buang dan singkirkan kedua rahasia pelayanan konsumer yang topcer ini, maka jangan menangis tersedu bila para konsumer Anda pun akan segera membuang dan menyingkirkan Anda dan perusahaan Anda dalam kamus transaksi bisnis mereka.

Selamat menerapkan kedua Rahasia Etos Pelayanan yang Luar Biasa ini dan semoga sukses selalu.

Masih ingin menyimak Rahasia-rahasia lainnya? Silahkan berkunjung kembali ke situs Pembelajar.com secepatnya, sebab saya akan menguak rahasia-rahasia lainnya khusus bagi Anda para pembaca setia Pembelajar.com. Terima kasih.

*) Joshua W. Utomo, M.Div., D.Hyp., C.Ht., psikoterapis, penyair, corporate trainer/entertainer, motivator/hipnoterapis, dan penulis yang sekarang sedang berkelana di Boston, AS. Dia adalah pendiri dari Heal & Grow Center™ (www.healandgrowcenter.com) sebuah pusat penyembuhan holistik. Bersama istrinya (Cynthia C. Laksawana) mendirikan Sanggar Kinanthi™(www.sanggar-kinanthi.com) dan JW Utomo Productions™ (http://masterhypnotistusa.tripod.com) sebagai wahana mereka berseni-budaya dan berkiprah bagi kemanusiaan. Dia dapat dihubungi via prof_jw@yahoo.com

Menguak Rahasia Etos Pelayanan Konsumer yang Topcer (2)

Oleh: Joshua W. Utomo, M.Div., D.Hyp., C.Ht.,


Rahasia Dua:

”Pelayanan konsumer yang topcer adalah sebuah Sikap (attitude), Etos (ethos) yang merupakan refleksi dari Cara berPikir (the way of thinking) seseorang. Ini bukanlah sebuah konsep mati dan adanya lembaga departemen pelayanan konsumer masih belum bisa menjamin secara 100 persen adanya pelayanan konsumer yang topcer, apalagi bila staf di departemen tersebut tidak memiliki SECP (Sikap, Etos, dan Cara Pikir) yang topcer.” Pada artikel bagian pertama yang lalu, saya yakin Anda telah mengetahui apa isi Rahasia Satu yang amat vital itu. Dan saya pun yakin bahwa Anda bahkan pasti bisa mengulang isi Rahasia Satu itu di luar kepala.

”Bagus, jawaban Anda seratus persen benar!”

Rahasia Satu itu memang berbunyi:“ Pelayanan (service) topcer adalah jantung dan urat nadi serta tulang sumsum dari setiap organisasi, nirlaba ataupun yang untuk laba” persis dengan jawaban yang Anda sampaikan itu.

Baik, marilah sekarang kita melangkah kepada Rahasia Kedua untuk bisa lebih membantu dan memperlengkapi Anda dalam menjalankan setiap bentuk usaha yang Anda jalankan demi meningkatkan produktifitas, efektifitas dan efisiensi kerja dalam organisasi Anda.

Dalam setiap perusahaan--besar ataupun kecil biasanya kita bisa menemukan departemen atau sub-departemen yang khusus bergerak dan bertanggung-jawab di bidang pelayanan konsumer ( customer service). Memang keberadaan departemen customer service dalam sebuah perusahaan secara otomatis akan menambah citra yang positif bagi perusahaan yang bersangkutan.

Ini merupakan pertanda yang baik dan secara otomatis bisa memberi kesan bahwa perusahaan yang bersangkutan telah memiliki pikiran maju, mau berusaha untuk menyediakan produk dan jasa yang terbaik bagi para pelanggannya, sekaligus menunjukkan niat baik dari pengusaha dan perusahaan yang bersangkutan untuk menjaga hubungan dengan para konsumer (baik dalam dan luar) secara baik dan harmonis tak hanya untuk jangka pendek saja, tapi yang lebih penting lagi untuk jangka panjang.

“Pertanyaannya sekarang adalah: sejauh mana dan apakah departemen-departemen pelayanan konsumer itu sungguh-sungguh mampu memberikan pelayanan kepada konsumernya secara topcer?” Bila kita melihat dan memperlakukan pelayanan konsumer ini hanya sebatas konsep mati belaka atau mengidentikkannya dengan dinding-dinding perlembagaan departemen pelayanan konsumer semata-mata, maka akan sangat sulit atau malah mungkin sangat mustahil (sudah mustahil, sangat lagi) menemukan jawaban bagi pertanyaan yang saya ajukan di atas.

Tapi, bila kita bisa memahami, melihat dan memperlakukan pelayanan konsumer ini lebih sebagai sebuah Sikap (attitude), Etos (dari bahasa Yunani ethos: adat; juga berarti: karakter, nilai-nilai moral, atau keyakinan yang menjadi panutan bagi seseorang, kelompok atau institusi), dan cara berpikir (the way of thinking)—seperti yang terungkap dalam Rahasia Dua ini, maka dengan mudah kita bisa menemukan jawaban bagi pertanyaan di atas.

Kantor yang indah, megah dan penuh glamour, staf yang cantik, seksi menawan atau yang berwajah ganteng rupawan tak akan bisa mengangkat reputasi baik perusahaan Anda, atau menambah jumlah konsumer baru yang loyal pada perusahaan Anda, atau meningkatkan income perusahaan Anda, bila setiap anggota keluarga besar (staf) dalam perusahaan Anda itu masih belum mengerti, menerima, dan menerapkan Rahasia Dua ini Ingatan saya pun melayang menerawang tahun-tahun yang lalu ketika saya dan istri selalu pergi memesan pigura-pigura bagi koleksi lukisan kami ke toko pembuatan pigura langganan kami di kota Brookline yang terbilang paling besar dan terkenal di sekitar kota itu.

Sudah beberapa kali kami memesan pigura dengan pelbagai macam desain, ukuran, dan warna bagi lukisan-lukisan koleksi kami. Dan selama ini hasilnya memuaskan. Tapi ada satu hal yang sangat menonjol dan sangat kami sukai dari toko pigura ini—pelayanan mereka pada kami. Pelayanan mereka pada konsumer mereka sangat bagus. Beberapa kali saya menyempatkan diri menyampaikan rasa salut saya pada staf maupun pemilik toko pigura tersebut atas keberhasilan mereka menerapkan konsep dalam Rahasia Dua ini. Senyum simpul pun mengembang di wajah-wajah mereka yang ramah itu. Semua puas dan kami pun pulang dengan hati yang senang.

Namun, beberapa bulan yang lalu ketika kami berdua kembali lagi ke toko pigura itu seperti biasanya untuk memesan pigura bagi tiga lukisan kami yang baru, ternyata banyak sekali perubahan yang kami rasakan di toko tersebut. Sayang seribu sayang jika perubahan yang kami jumpai itu adalah perubahan negatif: senyum ramah sirna entah ke mana, ucapan salam saat kami masuk ke dalam toko pun tak terucapkan. Wajah-wajah yang pernah kami kenal tak satu pun dapat kami jumpai di sana. Suasana toko yang sekaligus studio tempat memproduksi segala macam pigura dan alat-alat lukis itu terasa senyap dan dingin. Yang terdengar hanya suara bising alat-alat produksi yang sedang aktif bekerja.

Akhirnya, setelah melihat-lihat sebentar beberapa lukisan dan foto-foto baru yang dipajang di dinding toko, kami pun segera mendekati meja pemesanan pigura sekaligus tempat para konsumer meneken kontrak yang terletak di tengah-tengah toko itu. Di balik meja kayu besar itu nampak sesosok wanita muda yang belum pernah kami lihat sebelumnya. Keacuhan tampak jelas menggelantung di raut wajahnya yang cemberut itu. Tampak sekali kalau dia sangat enggan atau bahkan jengkel ketika kami dekati.

Tanpa mempedulikan keacuhan dan kecemberutannya itu, dengan ramah dan senyum mengembang kami sapa dia, “Good afternoon and how are you this afternoon?”

“Mungkin dengan senyum bersahabat dan sapaan salam yang ramah dan tulus, kami bisa memulai percakapan dan proses pemesanan pigura itu dengan dia secara mulus dan penuh ceria seperti waktu-waktu yang lalu,” awalnya begitu pikir kami saat itu.

Harapan kami ternyata sangat meleset. Bukannya dia membalas sapaan dan senyuman kami yang tulus itu, malah dia langsung bertanya singkat dengan nada kesal.

”Apa yang kau mau, cepat katakan!” sembari melemparkan pensil yang selama itu dia pegang ke atas meja kayu itu. “Klothaaakkk!”

“Uppsss, walah pegawai model apaan ini?!” batinku.

“Ya sudah, mungkin dia lagi bete atau pas lagi ada masalah, dimaafkan saja dech, toh sebentar lagi dia pasti akan tersenyum lagi”, begitu gumamku menyabarkan diri.

Ternyata setelah itu, sikap dan perlakuannya pada kami sebagai konsumernya yang seharusnya berhak mendapatkan pelayanan dan perlakuan yang sopan, ramah dan baik, bukan semakin ramah atau membaik, tapi malah semakin memburuk dan sangat tidak sopan.

Kami sudah bersabar dan menoleransi sikapnya itu, tapi ada saatnya bagi kami untuk menghentikan pelayanan buruk dan sikapnya yang angkuh itu. Dengan tegas dan lugas kami nyatakan ketaksenangan kami padanya. Setelah kami rasa percuma adanya berurusan dengan seseorang yang sulit untuk berubah dan seakan sudah stuck dalam dunianya yang buram dan negatif, kami pun terpaksa menemui manajer dan pemilik toko tersebut. Kami sampaikan opini kami mengenai sikap dan pelayanan staf mereka itu dengan harapan agar mereka bisa mengambil langkah yang lebih bijaksana. Tak lupa kami sampaikan juga rasa sedih dan belas kasihan kami pada si wanita muda yang sangat negatif itu.

Singkat cerita, siang itu kami tak jadi memesan tiga pigura dari toko yang selama ini dengan setia kami datangi. Tak hanya mereka kehilangan tambahan pemasukan uang paling tidak antara $400 hingga $1300 dalam transaksi singkat itu. Mereka juga kehilangan salah satu konsumer setia (loyal client) mereka yang akan selalu memesan atau membeli produk-produk mereka di masa mendatang. Satu hal lagi, mereka sangat kehilangan salah satu duta (ambasador) mereka yang tak segan-segan akan mengajak dan memberi rekomendasi yang baik tentang toko mereka itu kepada orang-orang lain agar orang-orang lain pun membeli dan memesan produk dari toko itu. Dan bahayanya kalau sang konsumer ini memiliki jaringan teman global—hancur sudah reputasi toko pigura itu.

Pesan kami pada jaringan persahabatan yang kami miliki inti dasarnya berbunyi,“Jangan datang ke toko itu, pelayanan mereka pada konsumer sangat tidak bagus, staf mereka angkuh dan tidak sopan!”

“Tuh khan, bahkan Anda yang berada jauh di Indonesia pun pasti akan enggan mampir ke toko pigura di Brookline yang sangat mengabaikan Rahasia Dua ini.”

Anda bisa melihat betapa ampuhnya pengaruh Rahasia Dua (juga Rahasia Satu) ini bagi perusahaan Anda:

- Abaikan kedua rahasia pelayanan konsumer yang topcer ini, maka para konsumer (dalam dan luar) Anda pun pasti akan mengabaikan Anda dan perusahaan Anda.
- Lupakan kedua rahasia pelayanan konsumer yang topcer ini, maka cepat atau lambat para konsumer (dalam dan luar) Anda pun akan segera melupakan Anda.
- Buang dan singkirkan kedua rahasia pelayanan konsumer yang topcer ini, maka jangan menangis tersedu bila para konsumer Anda pun akan segera membuang dan menyingkirkan Anda dan perusahaan Anda dalam kamus transaksi bisnis mereka.

Selamat menerapkan kedua Rahasia Etos Pelayanan yang Luar Biasa ini dan semoga sukses selalu.

Masih ingin menyimak Rahasia-rahasia lainnya? Silahkan berkunjung kembali ke situs Pembelajar.com secepatnya, sebab saya akan menguak rahasia-rahasia lainnya khusus bagi Anda para pembaca setia Pembelajar.com. Terima kasih.

*) Joshua W. Utomo, M.Div., D.Hyp., C.Ht., psikoterapis, penyair, corporate trainer/entertainer, motivator/hipnoterapis, dan penulis yang sekarang sedang berkelana di Boston, AS. Dia adalah pendiri dari Heal & Grow Center™ (www.healandgrowcenter.com) sebuah pusat penyembuhan holistik. Bersama istrinya (Cynthia C. Laksawana) mendirikan Sanggar Kinanthi™(www.sanggar-kinanthi.com) dan JW Utomo Productions™ (http://masterhypnotistusa.tripod.com) sebagai wahana mereka berseni-budaya dan berkiprah bagi kemanusiaan. Dia dapat dihubungi via prof_jw@yahoo.com

Menguak Rahasia Etos Pelayanan Konsumer yang Topcer (2)

Oleh: Joshua W. Utomo, M.Div., D.Hyp., C.Ht.,


Rahasia Dua:

”Pelayanan konsumer yang topcer adalah sebuah Sikap (attitude), Etos (ethos) yang merupakan refleksi dari Cara berPikir (the way of thinking) seseorang. Ini bukanlah sebuah konsep mati dan adanya lembaga departemen pelayanan konsumer masih belum bisa menjamin secara 100 persen adanya pelayanan konsumer yang topcer, apalagi bila staf di departemen tersebut tidak memiliki SECP (Sikap, Etos, dan Cara Pikir) yang topcer.” Pada artikel bagian pertama yang lalu, saya yakin Anda telah mengetahui apa isi Rahasia Satu yang amat vital itu. Dan saya pun yakin bahwa Anda bahkan pasti bisa mengulang isi Rahasia Satu itu di luar kepala.

”Bagus, jawaban Anda seratus persen benar!”

Rahasia Satu itu memang berbunyi:“ Pelayanan (service) topcer adalah jantung dan urat nadi serta tulang sumsum dari setiap organisasi, nirlaba ataupun yang untuk laba” persis dengan jawaban yang Anda sampaikan itu.

Baik, marilah sekarang kita melangkah kepada Rahasia Kedua untuk bisa lebih membantu dan memperlengkapi Anda dalam menjalankan setiap bentuk usaha yang Anda jalankan demi meningkatkan produktifitas, efektifitas dan efisiensi kerja dalam organisasi Anda.

Dalam setiap perusahaan--besar ataupun kecil biasanya kita bisa menemukan departemen atau sub-departemen yang khusus bergerak dan bertanggung-jawab di bidang pelayanan konsumer ( customer service). Memang keberadaan departemen customer service dalam sebuah perusahaan secara otomatis akan menambah citra yang positif bagi perusahaan yang bersangkutan.

Ini merupakan pertanda yang baik dan secara otomatis bisa memberi kesan bahwa perusahaan yang bersangkutan telah memiliki pikiran maju, mau berusaha untuk menyediakan produk dan jasa yang terbaik bagi para pelanggannya, sekaligus menunjukkan niat baik dari pengusaha dan perusahaan yang bersangkutan untuk menjaga hubungan dengan para konsumer (baik dalam dan luar) secara baik dan harmonis tak hanya untuk jangka pendek saja, tapi yang lebih penting lagi untuk jangka panjang.

“Pertanyaannya sekarang adalah: sejauh mana dan apakah departemen-departemen pelayanan konsumer itu sungguh-sungguh mampu memberikan pelayanan kepada konsumernya secara topcer?” Bila kita melihat dan memperlakukan pelayanan konsumer ini hanya sebatas konsep mati belaka atau mengidentikkannya dengan dinding-dinding perlembagaan departemen pelayanan konsumer semata-mata, maka akan sangat sulit atau malah mungkin sangat mustahil (sudah mustahil, sangat lagi) menemukan jawaban bagi pertanyaan yang saya ajukan di atas.

Tapi, bila kita bisa memahami, melihat dan memperlakukan pelayanan konsumer ini lebih sebagai sebuah Sikap (attitude), Etos (dari bahasa Yunani ethos: adat; juga berarti: karakter, nilai-nilai moral, atau keyakinan yang menjadi panutan bagi seseorang, kelompok atau institusi), dan cara berpikir (the way of thinking)—seperti yang terungkap dalam Rahasia Dua ini, maka dengan mudah kita bisa menemukan jawaban bagi pertanyaan di atas.

Kantor yang indah, megah dan penuh glamour, staf yang cantik, seksi menawan atau yang berwajah ganteng rupawan tak akan bisa mengangkat reputasi baik perusahaan Anda, atau menambah jumlah konsumer baru yang loyal pada perusahaan Anda, atau meningkatkan income perusahaan Anda, bila setiap anggota keluarga besar (staf) dalam perusahaan Anda itu masih belum mengerti, menerima, dan menerapkan Rahasia Dua ini Ingatan saya pun melayang menerawang tahun-tahun yang lalu ketika saya dan istri selalu pergi memesan pigura-pigura bagi koleksi lukisan kami ke toko pembuatan pigura langganan kami di kota Brookline yang terbilang paling besar dan terkenal di sekitar kota itu.

Sudah beberapa kali kami memesan pigura dengan pelbagai macam desain, ukuran, dan warna bagi lukisan-lukisan koleksi kami. Dan selama ini hasilnya memuaskan. Tapi ada satu hal yang sangat menonjol dan sangat kami sukai dari toko pigura ini—pelayanan mereka pada kami. Pelayanan mereka pada konsumer mereka sangat bagus. Beberapa kali saya menyempatkan diri menyampaikan rasa salut saya pada staf maupun pemilik toko pigura tersebut atas keberhasilan mereka menerapkan konsep dalam Rahasia Dua ini. Senyum simpul pun mengembang di wajah-wajah mereka yang ramah itu. Semua puas dan kami pun pulang dengan hati yang senang.

Namun, beberapa bulan yang lalu ketika kami berdua kembali lagi ke toko pigura itu seperti biasanya untuk memesan pigura bagi tiga lukisan kami yang baru, ternyata banyak sekali perubahan yang kami rasakan di toko tersebut. Sayang seribu sayang jika perubahan yang kami jumpai itu adalah perubahan negatif: senyum ramah sirna entah ke mana, ucapan salam saat kami masuk ke dalam toko pun tak terucapkan. Wajah-wajah yang pernah kami kenal tak satu pun dapat kami jumpai di sana. Suasana toko yang sekaligus studio tempat memproduksi segala macam pigura dan alat-alat lukis itu terasa senyap dan dingin. Yang terdengar hanya suara bising alat-alat produksi yang sedang aktif bekerja.

Akhirnya, setelah melihat-lihat sebentar beberapa lukisan dan foto-foto baru yang dipajang di dinding toko, kami pun segera mendekati meja pemesanan pigura sekaligus tempat para konsumer meneken kontrak yang terletak di tengah-tengah toko itu. Di balik meja kayu besar itu nampak sesosok wanita muda yang belum pernah kami lihat sebelumnya. Keacuhan tampak jelas menggelantung di raut wajahnya yang cemberut itu. Tampak sekali kalau dia sangat enggan atau bahkan jengkel ketika kami dekati.

Tanpa mempedulikan keacuhan dan kecemberutannya itu, dengan ramah dan senyum mengembang kami sapa dia, “Good afternoon and how are you this afternoon?”

“Mungkin dengan senyum bersahabat dan sapaan salam yang ramah dan tulus, kami bisa memulai percakapan dan proses pemesanan pigura itu dengan dia secara mulus dan penuh ceria seperti waktu-waktu yang lalu,” awalnya begitu pikir kami saat itu.

Harapan kami ternyata sangat meleset. Bukannya dia membalas sapaan dan senyuman kami yang tulus itu, malah dia langsung bertanya singkat dengan nada kesal.

”Apa yang kau mau, cepat katakan!” sembari melemparkan pensil yang selama itu dia pegang ke atas meja kayu itu. “Klothaaakkk!”

“Uppsss, walah pegawai model apaan ini?!” batinku.

“Ya sudah, mungkin dia lagi bete atau pas lagi ada masalah, dimaafkan saja dech, toh sebentar lagi dia pasti akan tersenyum lagi”, begitu gumamku menyabarkan diri.

Ternyata setelah itu, sikap dan perlakuannya pada kami sebagai konsumernya yang seharusnya berhak mendapatkan pelayanan dan perlakuan yang sopan, ramah dan baik, bukan semakin ramah atau membaik, tapi malah semakin memburuk dan sangat tidak sopan.

Kami sudah bersabar dan menoleransi sikapnya itu, tapi ada saatnya bagi kami untuk menghentikan pelayanan buruk dan sikapnya yang angkuh itu. Dengan tegas dan lugas kami nyatakan ketaksenangan kami padanya. Setelah kami rasa percuma adanya berurusan dengan seseorang yang sulit untuk berubah dan seakan sudah stuck dalam dunianya yang buram dan negatif, kami pun terpaksa menemui manajer dan pemilik toko tersebut. Kami sampaikan opini kami mengenai sikap dan pelayanan staf mereka itu dengan harapan agar mereka bisa mengambil langkah yang lebih bijaksana. Tak lupa kami sampaikan juga rasa sedih dan belas kasihan kami pada si wanita muda yang sangat negatif itu.

Singkat cerita, siang itu kami tak jadi memesan tiga pigura dari toko yang selama ini dengan setia kami datangi. Tak hanya mereka kehilangan tambahan pemasukan uang paling tidak antara $400 hingga $1300 dalam transaksi singkat itu. Mereka juga kehilangan salah satu konsumer setia (loyal client) mereka yang akan selalu memesan atau membeli produk-produk mereka di masa mendatang. Satu hal lagi, mereka sangat kehilangan salah satu duta (ambasador) mereka yang tak segan-segan akan mengajak dan memberi rekomendasi yang baik tentang toko mereka itu kepada orang-orang lain agar orang-orang lain pun membeli dan memesan produk dari toko itu. Dan bahayanya kalau sang konsumer ini memiliki jaringan teman global—hancur sudah reputasi toko pigura itu.

Pesan kami pada jaringan persahabatan yang kami miliki inti dasarnya berbunyi,“Jangan datang ke toko itu, pelayanan mereka pada konsumer sangat tidak bagus, staf mereka angkuh dan tidak sopan!”

“Tuh khan, bahkan Anda yang berada jauh di Indonesia pun pasti akan enggan mampir ke toko pigura di Brookline yang sangat mengabaikan Rahasia Dua ini.”

Anda bisa melihat betapa ampuhnya pengaruh Rahasia Dua (juga Rahasia Satu) ini bagi perusahaan Anda:

- Abaikan kedua rahasia pelayanan konsumer yang topcer ini, maka para konsumer (dalam dan luar) Anda pun pasti akan mengabaikan Anda dan perusahaan Anda.
- Lupakan kedua rahasia pelayanan konsumer yang topcer ini, maka cepat atau lambat para konsumer (dalam dan luar) Anda pun akan segera melupakan Anda.
- Buang dan singkirkan kedua rahasia pelayanan konsumer yang topcer ini, maka jangan menangis tersedu bila para konsumer Anda pun akan segera membuang dan menyingkirkan Anda dan perusahaan Anda dalam kamus transaksi bisnis mereka.

Selamat menerapkan kedua Rahasia Etos Pelayanan yang Luar Biasa ini dan semoga sukses selalu.

Masih ingin menyimak Rahasia-rahasia lainnya? Silahkan berkunjung kembali ke situs Pembelajar.com secepatnya, sebab saya akan menguak rahasia-rahasia lainnya khusus bagi Anda para pembaca setia Pembelajar.com. Terima kasih.

*) Joshua W. Utomo, M.Div., D.Hyp., C.Ht., psikoterapis, penyair, corporate trainer/entertainer, motivator/hipnoterapis, dan penulis yang sekarang sedang berkelana di Boston, AS. Dia adalah pendiri dari Heal & Grow Center™ (www.healandgrowcenter.com) sebuah pusat penyembuhan holistik. Bersama istrinya (Cynthia C. Laksawana) mendirikan Sanggar Kinanthi™(www.sanggar-kinanthi.com) dan JW Utomo Productions™ (http://masterhypnotistusa.tripod.com) sebagai wahana mereka berseni-budaya dan berkiprah bagi kemanusiaan. Dia dapat dihubungi via prof_jw@yahoo.com

Seorang Penulis Dikuburkan Tidak Bersama Kata-Katanya

Oleh: M. Iqbal Dawami


Judul di atas saya dapatkan saat senin malam pukul 23.00 (13 Februari 2006) dari buku “Catatan Pinggir 5” karya Goenawan Muhammad. Namun itu bukanlah sebuah sub judul dari buku tersebut, melainkan kalimat Goenawan saat membuka sub judulnya yaitu “mas wir”.

Mas wir adalah seorang penulis yang produktif pada tahun 60-an. Nama lengkapnya adalah wiratmo soekito. Tulisan-tulisannya bercorak pemikiran-pemikiran, dimana ia rajin memperkenalkan pemikiran barat seperti fenomenologi Husserl, teori sejarah Toynbee, filsafat Marx, namun kadang juga pemikiran Bung Karno. Tak sedikit para pembaca tulisan mas wir ini, merasakan kesulitan memahaminya. Argumentasinya sungguh ruwet, tapi Goenawan, sebagai orang yang dekat dengannya, mengakumulasikan pemikiran mas wir ini, yaitu dalam masalah “sejarah, “kebudayaan”, dan “revolusi”. Kritikannya terhadap pemerintah dan realitas sungguh tajam, walau “tanpa emosi”, ujar Goenawan Muhammad. Situasi politik yang mencekam tentang adanya tarik menarik kekuasaan antara PKI dan revolusi membuat dirinya banyak tawaran untuk dijadikan alat kekuasaan, namun ia tetap independen.

Pengabdiannya terhadap negara tak diragukan lagi. Baginya, sebagaimana yang dikutip goenawan, “Indonesia” adalah sebuah definisi kerja untuk pengabdian. Ia mengabdi dengan menuliskan kata-kata yang berjuta-juta, mulai untuk surat kabar, majalah, siaran radio, makalah ceramah, dan lain-lain.

Coba kita lihat cerita-cerita Goenawan Muhammad selaku saksi sejarah tentang proses kreatif mas wir ini;

“Saya akan selalu teringat ini; hampir kapan saja di dini hari tahun 1963, ia akan tampak di sebuah kamar sempit yang lusuh, yang sesak oleh ratusan buku, hampir melengkung. Ia menulis untuk surat kabar ini dan majalah itu, untuk siaran radio, untuk makalah ceramah, seakan-akan tak henti-hentinya. Pasti itu juga berlangsung sebelum tahun 1963 itu, pasti sampai akhir hayatnya di tahun 2001.”

“Ia tinggal di sebuah kamar di sudut jalan Cilasari, Jakarta (kini sudah tidak ada lagi), ia tak punya apa-apa selain ratusan buku dan sebuah mesin ketik Remington tua. Kadang-kadang tempat tidurnya yang apak diberikannya kepada saya, yang menginap, dan ia akan terbujur di tikar sampai pagi. Ia tak pernah mengeluh atau membanggakan cara hidup ini, dan terus menulis berpuluh-puluh kata tiap malam. Ia akan selalu pergi siaran ke stasiun radio RRI di Jl. Merdeka Barat, kalau perlu dengan meminjam sepeda temannya dan menempuh hujan. Ia tak pernah meminta. Kalau bisa, ia akan memberi. Ia tak hendak mencari hidup yang lebih baik.”

Mendengar cerita Goenawan tentang mas wir ini sungguh luar biasa. Keadaannya yang jauh dari hidup mewah membuatku malu yang hidup saat ini, yang begitu dimanjakan oleh keadaan dengan fasilitas memadai. Nampaknya kalau saya cermati saat ini, banyak para penulis yang bersifat pasar oriented, dan pengabdian terhadap negara kian hari kian luntur saja. saya tidak tahu, masih adakah mas wir-mas wir lain saat ini?

* * M. Iqbal Dawami adalah penulis yang aktif di komunitas GARIS, Yogyakarta.

Bangga Saya Jadi Orang Indonesia (6): Pak Madraji 20 Tahun Mendorong Gerobak - 27

Oleh: Eben Ezer Siadari


Anda dan saya mungkin sudah sering bertemu dengan orang Madura pedagang sate keliling. Juga melihat dari dekat bagaimana mereka mengelilingi jalan-jalan di sekitar perumahan menjajakan dagangannya. Tetapi tetap saja saya belum bisa membayangkan betapa uletnya Pak Madraji. Selama 20 tahun Pak Madraji berjalan kaki, setiap sore hingga larut malam dari rumahnya di Kawasan Sentiong Jakarta ke Sawah Besar tempat dia menjajakan sate Madura dalam gerobaknya. Di Kawasan Sawah Besar itu, ia juga masih akan berkeliling lagi. Panas, hujan, jalanan berdebu, becek dan deru knalpot berasap tebal di tengah bersiliwerannya kendaraan, ia lalui terus karena ia harus tetap jualan.

Bagi Anda yang tidak akrab dengan Jakarta, bolehlah membayangkan Sentiong dan Sawah Besar itu merupakan dua kawasan yang dipisahkan jarak sekitar tiga kilometer. Jalan yang dilalui adalah jalan besar. Kalau ditempatkan dalam konteks sekarang, jalan yang menghubungkan kedua kawasan itu boleh lah disebut wild wild west-nya Jakarta. Semua jenis kebengalan orang ada di situ. Juga semua tingkatan keganasan orang berkendaraan lengkap ditemukan di jalanannya.

Dan, Pak Madraji melaluinya selama 20 tahun. Setiap malam, kecuali kalau dia sakit. Apa yang mendorongnya?

Saya lalu menemuinya di Warung Anda, warung sate miliknya yang laris-manis di kawasan Atrium Senen, Jakarta. Saya sudah sering makan di warung sate itu, tetapi karena ingin menulis tentang bisnis orang Maduralah saya mau berlama-lama menunggunya. Pak Madraji ternyata sosok yang ramah. Walau kalau kita memesan sate di sana ia terkesan cuek, menanyakan seperlunya apa yang kita pesan, ia rupanya orang yang kocak dan easy going bercerita.

Pak Madraji dilahirkan dari orang tua beretnis Madura, tinggal di Cirebon. Setelah dia dewasa, 20 tahun lalu ia memberanikan diri berangkat ke Jakarta, mengadu nasib. Tidak ada ijazah. Ia tidak tamat Sekolah Dasar. Yang ia tahu, ia ingin mengikuti tradisi orang Madura, berbisnis besi tua. Ia pun mencoba peruntungannya di bisnis ini, dengan menggandeng mitra yang sudah lebih dulu menerjuni bisnis ini.

Ternyata bisnisnya tidak jalan dan tidak semulus yang ia bayangkan. Ia mengaku sering tertipu. Tidak bisa berbuat apa-apa. Modalnya ludes.

Pendek cerita ia banting setir, kembali kepada keahlian yang dibekalkan kedua orang tuanya dan juga masih tetap mereka tekuni, yakni berdagang sate. Ia berdagang sate keliling. Mula-mula dengan satu gerobak. Ia tekuni pekerjaan ini seperti kedua orangtuanya mencintai pekerjaan ini. Ia membeli sendiri kambing yang akan ia jadikan sate. Ia memotongnya sendiri. Ia membuat bumbunya sendiri dan ia menjajakannya sendiri.

Saya agak tertegun ketika dia menceritakan ini. Saya masih tetap mencari, apa motivasinya. Apa faktor paling penting yang mendorong dia berbuat begitu. Apakah, misalnya, tidak sebaiknya dia pulang ke Cirebon dan meneruskan usaha sate ayah dan ibunya?

Oh tidak, kata dia. Tidak ada kata 'pulang' dalam kamus dia. Dia bertekad harus bisa mencari uang sendiri. Apalagi ia merasa malu kepada calon istri kalau harus minta-minta uang dari kampung halaman. Jadilah Madraji berdagang sate. Selama 20 tahun, ia mendorong gerobak satenya dari Kawasan Sentiong yang padat ke Kawasan Sawah Besar yang ramai.

Setelah 20 tahun, tujuh tahun lalu sebuah lompatan besar ia lakukan. Ia membuka warung sate di kawasan Senen. Dia tidak lagi berdagang keliling. Masakan satenya yang sudah punya pelanggan, ditambah lokasi yang ia pilih menyediakan banyak pembeli, membuat warungnya berkembang maju. Itu mendorong dia membuka satu warung lagi, persis bersebelahan dengan pintu masuk Mal Atrium. Warung ini bahkan lebih laris lagi. Dinamainya warung itu dengan nama Warung Anda. Nama itu memang kedengaran ramah, sama sekali tidak memancarkan keangkuhan yang selama ini kerap disematkan kepada orang Madura.

Warung Anda menjual dan menghabiskan tiga kambing setiap hari (dijadikan 900 tusuk sate ditambah sop kambing), 50 kg ayam (dijadikan sate ayam) dan kini ia menambah item baru: sate bebek. Setiap hari dari Warung Anda Madraji mengantongi penjualan Rp3 juta. Madraji hanya buka siang sampai sore di hari kerja, menyebabkan penjualannya dari Warung Anda berkisar Rp60 juta per bulan.

Madraji kini punya empat outlet satenya. Tiga warungnya, satu di Kawasan Senen, satu di depan Mal Atrium, satu di depan Rumah Sakit Gatot Subroto. Outletnya yang lain adalah salah satu restoran di Hotel Borobudur. Setiap malam ia memasok 500 tusuk sate ke restoran tersebut. Pak Madraji tertawa saja ketika ditanyakan berapa ia mengantongi penjualan setiap hari. "Cukup lah Pak," kata dia. "Rumah sudah rumah sendiri. Tidak ngontrak lagi." Anaknya yang sulung kini duduk di bangku kuliah. Dua adiknya menikmati pendidikan yang baik. "Cukup lah saya yang hanya belajar di pesantren dan tidak tamat SD," kata dia.

Yang menyenangkan melihat Pak Madraji kerja adalah ketekunannya. Ia bukan majikan. Ia masih ikut membakarkan sate, menyajikannya kepada pembeli dan bahkan melobi pelanggan-pelanggan besarnya, yakni mereka yang akan menyelenggarakan pesta pernikahan atau kenduri lainnya, dan memesankan sate dari warungnya.

Tidak ada kesan dirinya telah menjadi Orang Kaya Baru (OKB). Para anak buahnya yang jumlahnya kini belasan, kadang-kadang masih dengan tanpa malu-malu meminjam motor yang digunakan Pak Madraji bepergian kemana-mana, termasuk mengecek warung-warungnya.

Mungkin saja saya termasuk orang yang terlalu cepat mengagumi orang. Tetapi memang, saya benar-benar tidak bisa menghindari untuk kagum pada Pak Madraji. Apalagi bila melihat semangatnya. Saya menanyakan kepada orang tua yang umurnya kira-kira 50-an tahun ini, apakah masih ada keinginannya yang tak terbatas. Saya menanyakan pertanyaan ini karena membayangkan dia akan menjawab, "Syukur, saya sudah merasa puas. Tinggal meneruskan bisnis ini saja." Jawaban seperti ini sudah kerap saya temukan dari pengusaha kita.

Tetapi tidak. Pak Madraji mempunyai keinginan lain. Tidak muluk-muluk dan tampaknya bakal dia capai. Ia punya impian dalam dua sampai lima tahun ke depan ia bisa membuka warungnya di mal atau dekat dengan mal. "Sebenarnya tahun lalu sudah hampir dapat Pak," kata dia. Waktu itu, ia sudah hampir deal dengan seorang pemilik kios di kawasan Mal Cempaka Mas. Uang muka pun sudah ia setujui, bahkan siap-siap akan dia bayarkan. Dasar nasib sial, lama sekali ia baru bisa bertemu langsung dengan sang pemilik kios. Ketika bertemu, ternyata Pak Madraji sudah keduluan oleh orang lain. "Mungkin bukan rezeki saya Pak," seru Pak Madraji.

Tiap kali melewati warungnya itu pada malam hari, ketika warung yang sudah tutup itu berubah tempat mangkal sejumlah pengangguran yang setengah preman, saya mengelus dada. Memang kalau kita hanya melihat pemandangan yang suram itu, kita mungkin akan putus asa. Namun, ketika pikiran saya arahkan kepada Pak Madraji, saya kembali bersyukur. Alangkah bangganya kita menjadi orang Indonesia karena Indonesia masih mempunyai orang seperti Pak Madraji. Jumlahnya saya kira banyak sekali.[]

* * Eben Ezer Siadari tinggal dan bekerja sebagai wartawan di Jakarta. Buku karyanya sebagai penyunting antara lain, Sketsa 50 Eksekutif Indonesia (WartaEkonomi, 1996), The Power of Value in Uncertain Business World, Refleksi Seorang CEO (Gramedia Pustaka Utama,2004) dan Gubernur Gorontalo Menjawab Rakyat (2005). Catatan-catatan pribadinya dapat dilihat di THE BEAUTIFUL SARIMATONDANG, www.sarimatondang.blogspot.com dan BANGGA SAYA JADI ORANG INDONESIA, www.banggaindonesia.blogspot.com.

toko-delta.blogspot.com

Archives

Postingan Populer

linkwithin

Related Posts with Thumbnails

Total Tayangan Halaman

Diberdayakan oleh Blogger.