toko-delta.blogspot.com

menu

instanx

Rabu, 12 November 2008

Belajarlah ke dan dari Cina

Oleh Marzuki Usman (Sinar Harapan)


Rasulullah Muhammad S.A.W, lebih dari 14 (empat belas) abad yang lalu telah bersabda, ”Tututlah Ilmu Walaupun ke Negeri Cina”. Kemudian Napoleon Bonaparte lebih dari dua abad yang lalu pernah berkata, ”Biarkan Cina tidur dan jangan sampai dia bangun, karena jika ia terbangun dunia akan geger dibuatnya!”

Ternyata Cina, baca RRC, telah bangun sejak awal tahun 1980-an dan hanya dalam waktu dua dasawarsa telah tumbuh bak meteor dan telah mengoncangkan dunia. Betapa tidak, fakta-fakta berikut ini mendemonstrasikan bahwa RRC telah beralih dari negara miskin yang tertutup diawal tahun 1980-an, sekarang telah menjadi negara kaya yang terbuka.

Dua puluh tahun yang lalu cadangan devisanya masih minus, sekarang di tahun 2004 sudah memiliki cadangan devisa sekitar US$ 500 miliar, yakni nomor dua terbesar setelah Jepang yang cadangan devisanya sekitar US$ 900 miliar.

Dulu di tahun 1980-an, jumlah Penanaman Modal Asing (PMA)-nya sama sekali tidak ada, sekarang setiap tahun terealisasikan Penanaman Modal Asing (PMA) di Cina sebanyak US$ 60 miliar, yakni nomor dua setelah Penanaman Modal Asing (PMA)-nya Amerika Serikat yang jumlahnya sebesar US$ 215 miliar pertahun.

Kenapa RRC begitu drastis bisa berubah? Apa yang menjadi kuncinya? Apakah memang orang-orang RRC itu merupakan mahluk/manusia yang berbeda dari manusia lain di dunia? Sebenarnya tidak ada yang aneh.

Pada prinsipnya di dalam ilmu ekonomi, manusia itu dianggap sama sifatnya. Kalau bisa makan perei, ya mari dinikmati. Jika mencuri atau menggerogoti harta/kekayaan negara tidak dihukum, ya mari rame-rame kita gerogoti saja.

Jika rakyat diberikan milik awal (initial endowment) seperti tanah dan penguasaan terhadap bahan-bahan tambang yang ada di bawah tanah itu, setiap rakyat akan berpotensi untuk menjadi kaya. Rakyat juga masih bisa menjadi kaya walaupun milik awal adalah nol, akan tetapi jika memiliki keterampilan yang misalnya diperoleh dari Balai Latihan Kerja (BLK), ia juga bisa tetap menjadi kaya.

Lihatlah contoh Inul Daratista dengan tarian ngebor-nya. Inul menjadi kaya karena keterampilannya menari yang ditekuninya semenjak masa anak-anak. Terakhir, rakyat pun masih bisa menjadi kaya walaupun tidak memiliki tanah dan atau keterampilan, akan tetapi ia memiliki kepandaian (professional).

Tulisan singkat ini mengajak pembaca untuk belajar dari pengalaman RRC atau belajar ke RRC bagaimana mereka beralih secara dratis dari sistem ekonomi yang direncanakan dan dikontrol oleh Pemimpin Pusat (Central Committee - CC) Partai Komunis Cina ke sistem ekonomi yang bersahabat kepada pasar (market friendly).

Tidak Percaya
Saya tidak percaya bahwa orang Cina itu mahkluk spesial atau mahkluk istimewa. Selama fa’al fisiknya sama dengan rakyat Indonesia, berarti selama itu pula kitapun bisa menyaingi Cina (RRC). Uraian tentang ”Belajar ke dan dari Cina”. kita fokuskan dulu kepada sumber daya alam (tanah). Pada kesempatan berikutnya akan kita bahas pula faktor sumber daya manusianya (SDM).

Sejarah dunia memperlihatkan bahwa negara di mana rakyatnya diberikan modal awal berupa tanah, karena itu rakyatnya lalu doyan bekerja keras. Hasil akhirnya pendapatan rakyat meningkat dan pada gilirannya meningkatkan penerimaan Pemerintah Pusat (pajak penghasilan, pajak pertamabahan nilai, dan sebagainya) dan juga Pemerintah Daerah berupa penerimaan Pajak Bumi dan Bangunan (PBB), dan sebagainya.

Amerika Serikat pada awalnya meneriakkan slogan, ”Go west, you may become rich”. Realisasinya rakyat Amerika Serikat banyak yang eksodus ke Amerika bagian Barat, dan mengambil tanah negara secara bebas bea dan langsung bersertifikat.

Menurut Hernando De Soto, berarti telah terjadi pengkayaan nilai tanah (asset recapitalization) yang dimiliki oleh rakyat. Hal yang sama telah dipraktikkan oleh Cina, Taiwan di tahun 1949 di bawah pimpinan Jenderal Chiang Kai Sek.

Juga oleh Korea Selatan di awal tahun 1960-an oleh Presiden Park Chung He. Jepang juga melaksanakan hal yang sama di zamannya Restorasi Meji. Malaysia pun memberikan tanah kepada rakyat di zamannya Tun Abdurazak dengan proyek Pelda (pemberian lahan dan bantuan untuk membangun kebun sawit rakyat).

RRC juga mempraktikkan hal yang sama, yaitu tanah-tanah yang dikuasai negara oleh rezimnya Mao Tse Dung, oleh Deng Xiou Ping dikembalikan lagi kepada petani. Slogan nasional yang semula oleh Chairman Mao, berbunyi ”From each according to his ability to each according to his need”.

Artinya setiap orang bekerja keras dan hanya mendapat jatah untuk kebutuhan hidup sederhana saja. Tidak heran, di RRC di periode 1960-an dan 1970-an, banyak pengangguran dan banyak kelaparan dan miskin. Tidak ada insentif bagi pelaku ekonomi (economic agent) untuk bekerja lebih keras. Karena, kalaupun bekerja lebih keras, dapatnya sama untuk semua rakyat.

Deng Xiou Ping selanjutnya mengubah slogan nasional dan ia hanya mengubah satu huruf saja, yang lalu berbunyi, ”From each according to his abilitv. to each according to his deed.” Artinya, semakin keras ia bekerja semakin tinggi penghasilannya dan ini bisa langsung ia nikmati. Jadi satu huruf saja yang diubah, yaitu dari huruf n pada kata need menjadi huruf d pada kata deed. Hasil akhirnya, semua rakyat senang bekerja keras dan rakyat tidak mau lagi menganggur.

Keadaan menjadi lebih baik lagi karena peraturan perburuhannya lebih mengacu kepada produktivitas dan bukan kepada prinsip-prinsip sosial. Buruh-buruh yang prestasinya di bawah suatu standard produktivitas yang telah ditetapkan, buruh seperti ini dibebastugaskan. Akibatnya, buruh-buruh di Cina bekerja rajin dan keras sekali, sebanyak 15 jam sehari, 7 hari seminggu, dan 30 hari sebulan dan sepanjang tahun.

Dikuasai Negara
Di Indonesia tanah dikuasai oleh negara, dan karena negara itu yang memilikinya adalah rakyat, disimpulkan oleh penguasa bahwa tanah ini adalah milik negara dan negara adalah milik rakyat, otomatis tanah ini sudah menjadi milik rakyat. Akhirnya yang menguasai tanah adalah pejabat-pejabat negara atau pengusaha yang dekat dengan pejabat-pejabat.

Adapun rakyat, mereka tidak memiliki atau mendapat pembagian tanah dari negara. Terjadilah distorsi dalam pemilikan/penguasaan tanah. Beberapa pengusaha mengusai tanah/memiliki hak atas tanah itu seluas 5,5 juta hektar Hak Penguasa Hutan (HPH), atau 1 juta hektar sebagai HGU untuk perkebunan sawit, dan sebagainya.

Akibatnya, rakyat miskin setiap hari bertambah banyak. Sekarang sudah hampir 40 juta orang miskin di Indonesia dimana mereka hidup dengan uang kurang dari US$ 2,- ekivalen Rp. 1.800 perhari.Untuk membuat rakyat Indonesia menjadi kaya, pemerintah haruslah mau memberikan tanah milik negara kepada rakyat yang miskin itu dengan sistem yang sederhana, murah, dan efektif, serta langsung bersertifikat.

Untuk itu, orang-orang asli mendapat duluan, setelah itu baru kepada saudara-saudara pendatang (transmigrasi) dan langsung bersertifikat. Misalnya, orang Papua Barat mendapat 50 ha per kepala keluarga langsung bersertifikat dan orang-orang pendatang memperoleh 10 ha per kepala keluarga. Agar rakyat doyan bekerja keras, sistem pengupahannya haruslah berorientasi kepada prioduktivitas dan bukan kepada prinsip sosial.

Lebih jauh, nanti terhadap HPH yang sudah habis masa konsesinya, tanahnya dikembalikan ke negara dan terus dibagi-bagi kepada rakyat disekitar HPH itu. Demikian pula dengan Hak Guna Usaha (HGU), apabila telah selesai masa berlakunya HGU itu, tanahnya dikembalikan kepada negara dan terus dibagi-bagikan kepada rakyat.

Dengan demikian usul Hernando De Soto untuk merekapitalisasi aset rakyat kita terapkan di Indonesia. Pada gilirannya usaha mikro, kecil, dan menengah akan memperoleh kemudahan terhadap pembiayaan dan perbankan berupa kredit, karena, ia para petani telah memiliki kekayaan yang secara legal dapat di agunkan (diajukan sebagai jaminan).

Sejarah telah membuktikan bahwa negara-negara yang mengkayakan rakyat yaitu dengan memberikan tanah kepada rakyat, maka rakyatnya menjadi kaya dan negarapun menjadi kaya, karena rakyatnya menjadi sangat mampu untuk membayar pajak.

Negara-negara seperti ini akan awet. Sebaliknya, negara-negara yang menganut paham bahwa jika negaranya kaya berarti rakyatnya juga menjadi kaya. Di dalam kenyataannya negara seperti ini pada bubar. Contoh Uni Soviet, Rusia, dan beberapa negara Afrika.

Menarik juga untuk disitir tabel yang terbit di Majalah Time edisi bulan Maret 2005, di situ ditayangkan hubungan antara pendapatan per kepala (rich) dengan tingkat kebahagiaan (happy). Ternyata Jepang yang pendapatan per kepala di atas US$ 20.000/tahun, tingkat kebahagiaannya (happy) jauh di bawah Indonesia yang pendapatan per kepala masih tetap berkutat di kisaran US$ 1.000.

Jadi rakyat yang tinggal dikawasan kumuh dan miskin, ternyata lebih happy dibandingkan dengan orang Jepang yang sudah kaya raya. Di Jepang tidak heran kenapa banyak yang merasa tidak bahagia lalu hara kiri.

*Penulis adalah pengamat ekonomi dan mantan Ketua Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI). Artikel ini dimuat dengan meminta izin dari redaksi Sinar Hara

BACK TO THE FLOOR

Oleh Arief Yuntanu


Ada sebuah acara stasiun TV swasta yang kebetulan saya lihat. Dalam acara tersebut ada seorang petinggi/direktur sebuah perusahaan jasa pemindahan barang yang cukup besar sedang melakukan pekerjaan survei. Ia mengangkat barang di rumah klien. Pokoknya dia melakukan pekerjaan yang dikerjakan oleh anak buahnya.

Walaupun agak segan melihat bosnya ikut dalam pekerjaan kasar, tetapi si pekerja tersebut semakin akrab dengan bosnya. Sampai akhirnya, keputusan-keputusan strategis yang diambil si bos berasal dari pengalamannya melakukan pekerjaan bersama anak buahnya.

Biasanya seseorang yang punya jabatan tinggi jarang sekali melihat secara langsung atau tahu proses pekerjaan yang dilakukan oleh bawahannya. Mereka hanya senang dan tenang berada di kursi empuk di balik meja kerjanya saja. Tak hanya itu, ruangan yang sejuk oleh ruangan AC tak jarang membuat mereka terlena untuk tidak meninggalkan ruangannya. Alasannya, sibuk mendisposisi surat, meeting, dan sebagainya. Dari kondisi tersebut tak banyak anak buah yang kenal dengan bosnya, demikian pula sebaliknya. Mereka hanya kenal namanya namun kompetensi dan hasil kerja tidak tahu sama sekali.

Pada saat penilaian kinerja karyawan ternyata hanya berdasarkan atas nilai kira-kira dan cenderung subyektif sehingga sangat besar pengaruh biasnya.

Perilaku back to the floor sepertinya layak untuk dilakukan oleh seorang manajer, direktur, petinggi perusahaan, atau para pembuat keputusan strategis lainnya. Baik keputusan-keputusan mengenai sumberdaya manusia maupun tentang strategi bisnis. Kalau saja mereka mau jujur, sebenarnya kontribusi karyawan dalam proses usaha perusahannya sangatlah besar. Sayangnya mereka tahu tetapi tidak mau tahu.

Perilaku yang biasa terjadi pada seorang pejabat, yang sudah mendarah daging, atau sudah jadi penyakit kronis. Yaitu menggunakan kekuasaan dan pengaruh bukan untuk kepentingan perusahaan tetapi untuk kepentingan karir pribadinya. Mereka menumpuk uang untuk disetor sebagai upeti ke atasan yang lebih tinggi demi kelancaran jabatannya. Hubungan kemanusiaan dengan karyawan yang mendukung dirinya malah diabaikan. Seorang dengan tingkat korupsi “tinggi” malah lancar sekali kariernya. Sedang karyawannya yang bekerja setengah mati memeras keringat tidak pernah dapat menikmati jenjang karier yang seharusnya dipikirkan oleh seorang pejabat atau petinggi perusahaan tersebut.

Kekuasaan dan pengaruh seorang manajer seharusnya dipergunakan secara tepat dan lebih luas untuk merujuk kemampuan manusia (karyawan) sebagai hasil dari perwujudan kompetensi manajer tersebut.

Seorang Akio Morita, pendiri perusahaan elektronik terkenal Sony Corp., mengatakan tidak ada keajaiban dalam sukses perusahaan maupun manajernya selain daripada bagaimana memberlakukan karyawan sebagai manusia. Filosofi dasar Sony tentang karyawan adalah mereka diperlakukan sebagai rekan dan asisten, bukan hanya sebagai sarana untuk mendatangkan keuntungan perusahaan saja. Karyawan merupakan faktor penting karena mereka adalah bagian permanen dari sebuah perusahaan.

Sukses yang diraih Sony membuktikan kebenaran pandangan Akio Morita. Morita menegaskan bahwa sumber daya manusia memang paling penting dalam suatu perusahaan. Apalagi mereka yang mampu memberikan kerja, talenta, kreatifitas, inovasi, dan semangat pada perusahaannya. Sangat logis jika salah satu tugas seorang manajer yang paling penting adalah memperhatikan hal-hal tersebut di lingkungan perusahaannya. Proses seleksi, pelatihan dan pengembangan karyawan tidak akan optimal jika seorang manajer tidak “Back To The Floor”

Manajer yang selalu menjadi legenda (dikenang dan dihormati) adalah orang yang selalu bisa mencetak generasi yang lebih baik, perilaku yang lebih baik, memberi bekal kail yang kokoh untuk mencari ikan. Bukan orang yang mudah bagi-bagi uang dan upeti.

Bagaimana dengan Anda?

* Arief Yuntanu adalah seorang pegawai BUMN di Pekanbaru, Riau

Belajarlah ke dan dari Cina

Oleh Marzuki Usman (Sinar Harapan)


Rasulullah Muhammad S.A.W, lebih dari 14 (empat belas) abad yang lalu telah bersabda, ”Tututlah Ilmu Walaupun ke Negeri Cina”. Kemudian Napoleon Bonaparte lebih dari dua abad yang lalu pernah berkata, ”Biarkan Cina tidur dan jangan sampai dia bangun, karena jika ia terbangun dunia akan geger dibuatnya!”

Ternyata Cina, baca RRC, telah bangun sejak awal tahun 1980-an dan hanya dalam waktu dua dasawarsa telah tumbuh bak meteor dan telah mengoncangkan dunia. Betapa tidak, fakta-fakta berikut ini mendemonstrasikan bahwa RRC telah beralih dari negara miskin yang tertutup diawal tahun 1980-an, sekarang telah menjadi negara kaya yang terbuka.

Dua puluh tahun yang lalu cadangan devisanya masih minus, sekarang di tahun 2004 sudah memiliki cadangan devisa sekitar US$ 500 miliar, yakni nomor dua terbesar setelah Jepang yang cadangan devisanya sekitar US$ 900 miliar.

Dulu di tahun 1980-an, jumlah Penanaman Modal Asing (PMA)-nya sama sekali tidak ada, sekarang setiap tahun terealisasikan Penanaman Modal Asing (PMA) di Cina sebanyak US$ 60 miliar, yakni nomor dua setelah Penanaman Modal Asing (PMA)-nya Amerika Serikat yang jumlahnya sebesar US$ 215 miliar pertahun.

Kenapa RRC begitu drastis bisa berubah? Apa yang menjadi kuncinya? Apakah memang orang-orang RRC itu merupakan mahluk/manusia yang berbeda dari manusia lain di dunia? Sebenarnya tidak ada yang aneh.

Pada prinsipnya di dalam ilmu ekonomi, manusia itu dianggap sama sifatnya. Kalau bisa makan perei, ya mari dinikmati. Jika mencuri atau menggerogoti harta/kekayaan negara tidak dihukum, ya mari rame-rame kita gerogoti saja.

Jika rakyat diberikan milik awal (initial endowment) seperti tanah dan penguasaan terhadap bahan-bahan tambang yang ada di bawah tanah itu, setiap rakyat akan berpotensi untuk menjadi kaya. Rakyat juga masih bisa menjadi kaya walaupun milik awal adalah nol, akan tetapi jika memiliki keterampilan yang misalnya diperoleh dari Balai Latihan Kerja (BLK), ia juga bisa tetap menjadi kaya.

Lihatlah contoh Inul Daratista dengan tarian ngebor-nya. Inul menjadi kaya karena keterampilannya menari yang ditekuninya semenjak masa anak-anak. Terakhir, rakyat pun masih bisa menjadi kaya walaupun tidak memiliki tanah dan atau keterampilan, akan tetapi ia memiliki kepandaian (professional).

Tulisan singkat ini mengajak pembaca untuk belajar dari pengalaman RRC atau belajar ke RRC bagaimana mereka beralih secara dratis dari sistem ekonomi yang direncanakan dan dikontrol oleh Pemimpin Pusat (Central Committee - CC) Partai Komunis Cina ke sistem ekonomi yang bersahabat kepada pasar (market friendly).

Tidak Percaya
Saya tidak percaya bahwa orang Cina itu mahkluk spesial atau mahkluk istimewa. Selama fa’al fisiknya sama dengan rakyat Indonesia, berarti selama itu pula kitapun bisa menyaingi Cina (RRC). Uraian tentang ”Belajar ke dan dari Cina”. kita fokuskan dulu kepada sumber daya alam (tanah). Pada kesempatan berikutnya akan kita bahas pula faktor sumber daya manusianya (SDM).

Sejarah dunia memperlihatkan bahwa negara di mana rakyatnya diberikan modal awal berupa tanah, karena itu rakyatnya lalu doyan bekerja keras. Hasil akhirnya pendapatan rakyat meningkat dan pada gilirannya meningkatkan penerimaan Pemerintah Pusat (pajak penghasilan, pajak pertamabahan nilai, dan sebagainya) dan juga Pemerintah Daerah berupa penerimaan Pajak Bumi dan Bangunan (PBB), dan sebagainya.

Amerika Serikat pada awalnya meneriakkan slogan, ”Go west, you may become rich”. Realisasinya rakyat Amerika Serikat banyak yang eksodus ke Amerika bagian Barat, dan mengambil tanah negara secara bebas bea dan langsung bersertifikat.

Menurut Hernando De Soto, berarti telah terjadi pengkayaan nilai tanah (asset recapitalization) yang dimiliki oleh rakyat. Hal yang sama telah dipraktikkan oleh Cina, Taiwan di tahun 1949 di bawah pimpinan Jenderal Chiang Kai Sek.

Juga oleh Korea Selatan di awal tahun 1960-an oleh Presiden Park Chung He. Jepang juga melaksanakan hal yang sama di zamannya Restorasi Meji. Malaysia pun memberikan tanah kepada rakyat di zamannya Tun Abdurazak dengan proyek Pelda (pemberian lahan dan bantuan untuk membangun kebun sawit rakyat).

RRC juga mempraktikkan hal yang sama, yaitu tanah-tanah yang dikuasai negara oleh rezimnya Mao Tse Dung, oleh Deng Xiou Ping dikembalikan lagi kepada petani. Slogan nasional yang semula oleh Chairman Mao, berbunyi ”From each according to his ability to each according to his need”.

Artinya setiap orang bekerja keras dan hanya mendapat jatah untuk kebutuhan hidup sederhana saja. Tidak heran, di RRC di periode 1960-an dan 1970-an, banyak pengangguran dan banyak kelaparan dan miskin. Tidak ada insentif bagi pelaku ekonomi (economic agent) untuk bekerja lebih keras. Karena, kalaupun bekerja lebih keras, dapatnya sama untuk semua rakyat.

Deng Xiou Ping selanjutnya mengubah slogan nasional dan ia hanya mengubah satu huruf saja, yang lalu berbunyi, ”From each according to his abilitv. to each according to his deed.” Artinya, semakin keras ia bekerja semakin tinggi penghasilannya dan ini bisa langsung ia nikmati. Jadi satu huruf saja yang diubah, yaitu dari huruf n pada kata need menjadi huruf d pada kata deed. Hasil akhirnya, semua rakyat senang bekerja keras dan rakyat tidak mau lagi menganggur.

Keadaan menjadi lebih baik lagi karena peraturan perburuhannya lebih mengacu kepada produktivitas dan bukan kepada prinsip-prinsip sosial. Buruh-buruh yang prestasinya di bawah suatu standard produktivitas yang telah ditetapkan, buruh seperti ini dibebastugaskan. Akibatnya, buruh-buruh di Cina bekerja rajin dan keras sekali, sebanyak 15 jam sehari, 7 hari seminggu, dan 30 hari sebulan dan sepanjang tahun.

Dikuasai Negara
Di Indonesia tanah dikuasai oleh negara, dan karena negara itu yang memilikinya adalah rakyat, disimpulkan oleh penguasa bahwa tanah ini adalah milik negara dan negara adalah milik rakyat, otomatis tanah ini sudah menjadi milik rakyat. Akhirnya yang menguasai tanah adalah pejabat-pejabat negara atau pengusaha yang dekat dengan pejabat-pejabat.

Adapun rakyat, mereka tidak memiliki atau mendapat pembagian tanah dari negara. Terjadilah distorsi dalam pemilikan/penguasaan tanah. Beberapa pengusaha mengusai tanah/memiliki hak atas tanah itu seluas 5,5 juta hektar Hak Penguasa Hutan (HPH), atau 1 juta hektar sebagai HGU untuk perkebunan sawit, dan sebagainya.

Akibatnya, rakyat miskin setiap hari bertambah banyak. Sekarang sudah hampir 40 juta orang miskin di Indonesia dimana mereka hidup dengan uang kurang dari US$ 2,- ekivalen Rp. 1.800 perhari.Untuk membuat rakyat Indonesia menjadi kaya, pemerintah haruslah mau memberikan tanah milik negara kepada rakyat yang miskin itu dengan sistem yang sederhana, murah, dan efektif, serta langsung bersertifikat.

Untuk itu, orang-orang asli mendapat duluan, setelah itu baru kepada saudara-saudara pendatang (transmigrasi) dan langsung bersertifikat. Misalnya, orang Papua Barat mendapat 50 ha per kepala keluarga langsung bersertifikat dan orang-orang pendatang memperoleh 10 ha per kepala keluarga. Agar rakyat doyan bekerja keras, sistem pengupahannya haruslah berorientasi kepada prioduktivitas dan bukan kepada prinsip sosial.

Lebih jauh, nanti terhadap HPH yang sudah habis masa konsesinya, tanahnya dikembalikan ke negara dan terus dibagi-bagi kepada rakyat disekitar HPH itu. Demikian pula dengan Hak Guna Usaha (HGU), apabila telah selesai masa berlakunya HGU itu, tanahnya dikembalikan kepada negara dan terus dibagi-bagikan kepada rakyat.

Dengan demikian usul Hernando De Soto untuk merekapitalisasi aset rakyat kita terapkan di Indonesia. Pada gilirannya usaha mikro, kecil, dan menengah akan memperoleh kemudahan terhadap pembiayaan dan perbankan berupa kredit, karena, ia para petani telah memiliki kekayaan yang secara legal dapat di agunkan (diajukan sebagai jaminan).

Sejarah telah membuktikan bahwa negara-negara yang mengkayakan rakyat yaitu dengan memberikan tanah kepada rakyat, maka rakyatnya menjadi kaya dan negarapun menjadi kaya, karena rakyatnya menjadi sangat mampu untuk membayar pajak.

Negara-negara seperti ini akan awet. Sebaliknya, negara-negara yang menganut paham bahwa jika negaranya kaya berarti rakyatnya juga menjadi kaya. Di dalam kenyataannya negara seperti ini pada bubar. Contoh Uni Soviet, Rusia, dan beberapa negara Afrika.

Menarik juga untuk disitir tabel yang terbit di Majalah Time edisi bulan Maret 2005, di situ ditayangkan hubungan antara pendapatan per kepala (rich) dengan tingkat kebahagiaan (happy). Ternyata Jepang yang pendapatan per kepala di atas US$ 20.000/tahun, tingkat kebahagiaannya (happy) jauh di bawah Indonesia yang pendapatan per kepala masih tetap berkutat di kisaran US$ 1.000.

Jadi rakyat yang tinggal dikawasan kumuh dan miskin, ternyata lebih happy dibandingkan dengan orang Jepang yang sudah kaya raya. Di Jepang tidak heran kenapa banyak yang merasa tidak bahagia lalu hara kiri.

*Penulis adalah pengamat ekonomi dan mantan Ketua Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI). Artikel ini dimuat dengan meminta izin dari redaksi Sinar Harapan.

Belajarlah ke dan dari Cina

Oleh Marzuki Usman (Sinar Harapan)


Rasulullah Muhammad S.A.W, lebih dari 14 (empat belas) abad yang lalu telah bersabda, ”Tututlah Ilmu Walaupun ke Negeri Cina”. Kemudian Napoleon Bonaparte lebih dari dua abad yang lalu pernah berkata, ”Biarkan Cina tidur dan jangan sampai dia bangun, karena jika ia terbangun dunia akan geger dibuatnya!”

Ternyata Cina, baca RRC, telah bangun sejak awal tahun 1980-an dan hanya dalam waktu dua dasawarsa telah tumbuh bak meteor dan telah mengoncangkan dunia. Betapa tidak, fakta-fakta berikut ini mendemonstrasikan bahwa RRC telah beralih dari negara miskin yang tertutup diawal tahun 1980-an, sekarang telah menjadi negara kaya yang terbuka.

Dua puluh tahun yang lalu cadangan devisanya masih minus, sekarang di tahun 2004 sudah memiliki cadangan devisa sekitar US$ 500 miliar, yakni nomor dua terbesar setelah Jepang yang cadangan devisanya sekitar US$ 900 miliar.

Dulu di tahun 1980-an, jumlah Penanaman Modal Asing (PMA)-nya sama sekali tidak ada, sekarang setiap tahun terealisasikan Penanaman Modal Asing (PMA) di Cina sebanyak US$ 60 miliar, yakni nomor dua setelah Penanaman Modal Asing (PMA)-nya Amerika Serikat yang jumlahnya sebesar US$ 215 miliar pertahun.

Kenapa RRC begitu drastis bisa berubah? Apa yang menjadi kuncinya? Apakah memang orang-orang RRC itu merupakan mahluk/manusia yang berbeda dari manusia lain di dunia? Sebenarnya tidak ada yang aneh.

Pada prinsipnya di dalam ilmu ekonomi, manusia itu dianggap sama sifatnya. Kalau bisa makan perei, ya mari dinikmati. Jika mencuri atau menggerogoti harta/kekayaan negara tidak dihukum, ya mari rame-rame kita gerogoti saja.

Jika rakyat diberikan milik awal (initial endowment) seperti tanah dan penguasaan terhadap bahan-bahan tambang yang ada di bawah tanah itu, setiap rakyat akan berpotensi untuk menjadi kaya. Rakyat juga masih bisa menjadi kaya walaupun milik awal adalah nol, akan tetapi jika memiliki keterampilan yang misalnya diperoleh dari Balai Latihan Kerja (BLK), ia juga bisa tetap menjadi kaya.

Lihatlah contoh Inul Daratista dengan tarian ngebor-nya. Inul menjadi kaya karena keterampilannya menari yang ditekuninya semenjak masa anak-anak. Terakhir, rakyat pun masih bisa menjadi kaya walaupun tidak memiliki tanah dan atau keterampilan, akan tetapi ia memiliki kepandaian (professional).

Tulisan singkat ini mengajak pembaca untuk belajar dari pengalaman RRC atau belajar ke RRC bagaimana mereka beralih secara dratis dari sistem ekonomi yang direncanakan dan dikontrol oleh Pemimpin Pusat (Central Committee - CC) Partai Komunis Cina ke sistem ekonomi yang bersahabat kepada pasar (market friendly).

Tidak Percaya
Saya tidak percaya bahwa orang Cina itu mahkluk spesial atau mahkluk istimewa. Selama fa’al fisiknya sama dengan rakyat Indonesia, berarti selama itu pula kitapun bisa menyaingi Cina (RRC). Uraian tentang ”Belajar ke dan dari Cina”. kita fokuskan dulu kepada sumber daya alam (tanah). Pada kesempatan berikutnya akan kita bahas pula faktor sumber daya manusianya (SDM).

Sejarah dunia memperlihatkan bahwa negara di mana rakyatnya diberikan modal awal berupa tanah, karena itu rakyatnya lalu doyan bekerja keras. Hasil akhirnya pendapatan rakyat meningkat dan pada gilirannya meningkatkan penerimaan Pemerintah Pusat (pajak penghasilan, pajak pertamabahan nilai, dan sebagainya) dan juga Pemerintah Daerah berupa penerimaan Pajak Bumi dan Bangunan (PBB), dan sebagainya.

Amerika Serikat pada awalnya meneriakkan slogan, ”Go west, you may become rich”. Realisasinya rakyat Amerika Serikat banyak yang eksodus ke Amerika bagian Barat, dan mengambil tanah negara secara bebas bea dan langsung bersertifikat.

Menurut Hernando De Soto, berarti telah terjadi pengkayaan nilai tanah (asset recapitalization) yang dimiliki oleh rakyat. Hal yang sama telah dipraktikkan oleh Cina, Taiwan di tahun 1949 di bawah pimpinan Jenderal Chiang Kai Sek.

Juga oleh Korea Selatan di awal tahun 1960-an oleh Presiden Park Chung He. Jepang juga melaksanakan hal yang sama di zamannya Restorasi Meji. Malaysia pun memberikan tanah kepada rakyat di zamannya Tun Abdurazak dengan proyek Pelda (pemberian lahan dan bantuan untuk membangun kebun sawit rakyat).

RRC juga mempraktikkan hal yang sama, yaitu tanah-tanah yang dikuasai negara oleh rezimnya Mao Tse Dung, oleh Deng Xiou Ping dikembalikan lagi kepada petani. Slogan nasional yang semula oleh Chairman Mao, berbunyi ”From each according to his ability to each according to his need”.

Artinya setiap orang bekerja keras dan hanya mendapat jatah untuk kebutuhan hidup sederhana saja. Tidak heran, di RRC di periode 1960-an dan 1970-an, banyak pengangguran dan banyak kelaparan dan miskin. Tidak ada insentif bagi pelaku ekonomi (economic agent) untuk bekerja lebih keras. Karena, kalaupun bekerja lebih keras, dapatnya sama untuk semua rakyat.

Deng Xiou Ping selanjutnya mengubah slogan nasional dan ia hanya mengubah satu huruf saja, yang lalu berbunyi, ”From each according to his abilitv. to each according to his deed.” Artinya, semakin keras ia bekerja semakin tinggi penghasilannya dan ini bisa langsung ia nikmati. Jadi satu huruf saja yang diubah, yaitu dari huruf n pada kata need menjadi huruf d pada kata deed. Hasil akhirnya, semua rakyat senang bekerja keras dan rakyat tidak mau lagi menganggur.

Keadaan menjadi lebih baik lagi karena peraturan perburuhannya lebih mengacu kepada produktivitas dan bukan kepada prinsip-prinsip sosial. Buruh-buruh yang prestasinya di bawah suatu standard produktivitas yang telah ditetapkan, buruh seperti ini dibebastugaskan. Akibatnya, buruh-buruh di Cina bekerja rajin dan keras sekali, sebanyak 15 jam sehari, 7 hari seminggu, dan 30 hari sebulan dan sepanjang tahun.

Dikuasai Negara
Di Indonesia tanah dikuasai oleh negara, dan karena negara itu yang memilikinya adalah rakyat, disimpulkan oleh penguasa bahwa tanah ini adalah milik negara dan negara adalah milik rakyat, otomatis tanah ini sudah menjadi milik rakyat. Akhirnya yang menguasai tanah adalah pejabat-pejabat negara atau pengusaha yang dekat dengan pejabat-pejabat.

Adapun rakyat, mereka tidak memiliki atau mendapat pembagian tanah dari negara. Terjadilah distorsi dalam pemilikan/penguasaan tanah. Beberapa pengusaha mengusai tanah/memiliki hak atas tanah itu seluas 5,5 juta hektar Hak Penguasa Hutan (HPH), atau 1 juta hektar sebagai HGU untuk perkebunan sawit, dan sebagainya.

Akibatnya, rakyat miskin setiap hari bertambah banyak. Sekarang sudah hampir 40 juta orang miskin di Indonesia dimana mereka hidup dengan uang kurang dari US$ 2,- ekivalen Rp. 1.800 perhari.Untuk membuat rakyat Indonesia menjadi kaya, pemerintah haruslah mau memberikan tanah milik negara kepada rakyat yang miskin itu dengan sistem yang sederhana, murah, dan efektif, serta langsung bersertifikat.

Untuk itu, orang-orang asli mendapat duluan, setelah itu baru kepada saudara-saudara pendatang (transmigrasi) dan langsung bersertifikat. Misalnya, orang Papua Barat mendapat 50 ha per kepala keluarga langsung bersertifikat dan orang-orang pendatang memperoleh 10 ha per kepala keluarga. Agar rakyat doyan bekerja keras, sistem pengupahannya haruslah berorientasi kepada prioduktivitas dan bukan kepada prinsip sosial.

Lebih jauh, nanti terhadap HPH yang sudah habis masa konsesinya, tanahnya dikembalikan ke negara dan terus dibagi-bagi kepada rakyat disekitar HPH itu. Demikian pula dengan Hak Guna Usaha (HGU), apabila telah selesai masa berlakunya HGU itu, tanahnya dikembalikan kepada negara dan terus dibagi-bagikan kepada rakyat.

Dengan demikian usul Hernando De Soto untuk merekapitalisasi aset rakyat kita terapkan di Indonesia. Pada gilirannya usaha mikro, kecil, dan menengah akan memperoleh kemudahan terhadap pembiayaan dan perbankan berupa kredit, karena, ia para petani telah memiliki kekayaan yang secara legal dapat di agunkan (diajukan sebagai jaminan).

Sejarah telah membuktikan bahwa negara-negara yang mengkayakan rakyat yaitu dengan memberikan tanah kepada rakyat, maka rakyatnya menjadi kaya dan negarapun menjadi kaya, karena rakyatnya menjadi sangat mampu untuk membayar pajak.

Negara-negara seperti ini akan awet. Sebaliknya, negara-negara yang menganut paham bahwa jika negaranya kaya berarti rakyatnya juga menjadi kaya. Di dalam kenyataannya negara seperti ini pada bubar. Contoh Uni Soviet, Rusia, dan beberapa negara Afrika.

Menarik juga untuk disitir tabel yang terbit di Majalah Time edisi bulan Maret 2005, di situ ditayangkan hubungan antara pendapatan per kepala (rich) dengan tingkat kebahagiaan (happy). Ternyata Jepang yang pendapatan per kepala di atas US$ 20.000/tahun, tingkat kebahagiaannya (happy) jauh di bawah Indonesia yang pendapatan per kepala masih tetap berkutat di kisaran US$ 1.000.

Jadi rakyat yang tinggal dikawasan kumuh dan miskin, ternyata lebih happy dibandingkan dengan orang Jepang yang sudah kaya raya. Di Jepang tidak heran kenapa banyak yang merasa tidak bahagia lalu hara kiri.

*Penulis adalah pengamat ekonomi dan mantan Ketua Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI). Artikel ini dimuat dengan meminta izin dari redaksi Sinar Harapan.

BACK TO THE FLOOR

Oleh Arief Yuntanu


Ada sebuah acara stasiun TV swasta yang kebetulan saya lihat. Dalam acara tersebut ada seorang petinggi/direktur sebuah perusahaan jasa pemindahan barang yang cukup besar sedang melakukan pekerjaan survei. Ia mengangkat barang di rumah klien. Pokoknya dia melakukan pekerjaan yang dikerjakan oleh anak buahnya.

Walaupun agak segan melihat bosnya ikut dalam pekerjaan kasar, tetapi si pekerja tersebut semakin akrab dengan bosnya. Sampai akhirnya, keputusan-keputusan strategis yang diambil si bos berasal dari pengalamannya melakukan pekerjaan bersama anak buahnya.

Biasanya seseorang yang punya jabatan tinggi jarang sekali melihat secara langsung atau tahu proses pekerjaan yang dilakukan oleh bawahannya. Mereka hanya senang dan tenang berada di kursi empuk di balik meja kerjanya saja. Tak hanya itu, ruangan yang sejuk oleh ruangan AC tak jarang membuat mereka terlena untuk tidak meninggalkan ruangannya. Alasannya, sibuk mendisposisi surat, meeting, dan sebagainya. Dari kondisi tersebut tak banyak anak buah yang kenal dengan bosnya, demikian pula sebaliknya. Mereka hanya kenal namanya namun kompetensi dan hasil kerja tidak tahu sama sekali.

Pada saat penilaian kinerja karyawan ternyata hanya berdasarkan atas nilai kira-kira dan cenderung subyektif sehingga sangat besar pengaruh biasnya.

Perilaku back to the floor sepertinya layak untuk dilakukan oleh seorang manajer, direktur, petinggi perusahaan, atau para pembuat keputusan strategis lainnya. Baik keputusan-keputusan mengenai sumberdaya manusia maupun tentang strategi bisnis. Kalau saja mereka mau jujur, sebenarnya kontribusi karyawan dalam proses usaha perusahannya sangatlah besar. Sayangnya mereka tahu tetapi tidak mau tahu.

Perilaku yang biasa terjadi pada seorang pejabat, yang sudah mendarah daging, atau sudah jadi penyakit kronis. Yaitu menggunakan kekuasaan dan pengaruh bukan untuk kepentingan perusahaan tetapi untuk kepentingan karir pribadinya. Mereka menumpuk uang untuk disetor sebagai upeti ke atasan yang lebih tinggi demi kelancaran jabatannya. Hubungan kemanusiaan dengan karyawan yang mendukung dirinya malah diabaikan. Seorang dengan tingkat korupsi “tinggi” malah lancar sekali kariernya. Sedang karyawannya yang bekerja setengah mati memeras keringat tidak pernah dapat menikmati jenjang karier yang seharusnya dipikirkan oleh seorang pejabat atau petinggi perusahaan tersebut.

Kekuasaan dan pengaruh seorang manajer seharusnya dipergunakan secara tepat dan lebih luas untuk merujuk kemampuan manusia (karyawan) sebagai hasil dari perwujudan kompetensi manajer tersebut.

Seorang Akio Morita, pendiri perusahaan elektronik terkenal Sony Corp., mengatakan tidak ada keajaiban dalam sukses perusahaan maupun manajernya selain daripada bagaimana memberlakukan karyawan sebagai manusia. Filosofi dasar Sony tentang karyawan adalah mereka diperlakukan sebagai rekan dan asisten, bukan hanya sebagai sarana untuk mendatangkan keuntungan perusahaan saja. Karyawan merupakan faktor penting karena mereka adalah bagian permanen dari sebuah perusahaan.

Sukses yang diraih Sony membuktikan kebenaran pandangan Akio Morita. Morita menegaskan bahwa sumber daya manusia memang paling penting dalam suatu perusahaan. Apalagi mereka yang mampu memberikan kerja, talenta, kreatifitas, inovasi, dan semangat pada perusahaannya. Sangat logis jika salah satu tugas seorang manajer yang paling penting adalah memperhatikan hal-hal tersebut di lingkungan perusahaannya. Proses seleksi, pelatihan dan pengembangan karyawan tidak akan optimal jika seorang manajer tidak “Back To The Floor”

Manajer yang selalu menjadi legenda (dikenang dan dihormati) adalah orang yang selalu bisa mencetak generasi yang lebih baik, perilaku yang lebih baik, memberi bekal kail yang kokoh untuk mencari ikan. Bukan orang yang mudah bagi-bagi uang dan upeti.

Bagaimana dengan Anda?

* Arief Yuntanu adalah seorang pegawai BUMN di Pekanbaru, Riau.

Positive Habit Development !

Oleh : Ignatius Muk Kuang*


Masih ingatkah anda saat pertama kali belajar mengendarai motor atau mobil ? Pada awalnya memang begitu sulit, dan belum terbiasa. Anda mungkin harus terus memikirkan sudah gigi berapa ya motor saya, sudah dekat lampu merah maka harus rem, melihat lampu spion jika ingin masuk jalur kanan atau kiri. Semua hal diatas masih dilakukan atas perintah otak kita. Tapi seiring berjalan waktu dan tiap hari harus mengendarainya maka dengan sendirinya hal tersebut menjadi sebuah habit(kebiasaan).

Ayah saya selalu mengatakan bisa dan biasa adalah dua hal yang berbeda. Anda mengatakan bisa mengendarai motor, tapi mungkin anda tidak terbiasa dengannya. Tapi jika anda biasa mengendarai motor otomatis anda bisa. Hal yang perlu dikembangkan dalam hidup anda adalah habit-habit yang positif untuk mendapatkan hasil yang positif

Catherine Levison (Book Author and Presenter to parenting and educational audiences) dalam artikelnya "The Power of Habit" mengatakan Habit merupakan salah satu dari sekian banyak elemen yang dapat menentukan kesuksesan anda. Anda harus mampu mengidentifikasi mana yang good habit dan mana yang bad habit. Sebagai contoh, bayangkan apabila anda lebih memilih tidur sepanjang hari tanpa melakukan apa-apa, coba analisa apa pengaruh secara langsung maupun tidak langsung pada studi anda, pekerjaan anda, dan masa depan anda. Jika disadari bahwa hal tersebut tidak memberi kontribusi yang positif untuk anda dan orang lain, maka sikap perubahan ke habit yang baru harus mulai dilakukan. Mengubah kebiasaan memang tidak mudah, tapi bukan berarti tidak bisa. Catherine mengatakan membentuk habit baru membutuhkan kurang lebih 6 minggu selama anda benar-benar konsisten menjalankannya.

Habit adalah sesuatu yang tidak dapat anda lihat secara fisik tapi dapat anda rasakan dampaknya bagi kehidupan anda. Habit dibentuk ketika anda terus menerus mengulang suatu aktivitas sampai anda menjadi terbiasa.Menciptakan good habit dapat memberikan perbedaan yang signifikan dalam hidup anda, mulai dari hal yang sangat kecil seperti menjadwalkan kegiatan rutin anda maka lama kelamaan anda terbiasa dengan hidup yang teratur.

Banyak orang mengatakan saya sudah mencoba untuk mengubah kebiasaan buruk saya, tapi saya tidak bisa. Permasalahannya adalah bukan karena anda sudah coba atau tidak, tapi sudah berapa kali anda berusaha dan mencoba untuk mengubah habit itu. Segala sesuatunya harus dimulai dari tekad anda dan komitmen yang kuat untuk mengubah habit ke arah yang positif.

Karir, studi, bisnis, kesuksesan, hubungan dengan sesama, semua hal ditentukan dari habit yang anda kembangkan. Tinggal bagaimana anda memilih habit yang mau dikembangkan apakah itu positif atau yang negatif. Jadi mulai ubah habit anda ke arah yang lebih positif mulai detik ini.

“When you change your habit, you change your life”.

Salam sukses!

*Ignatius Muk Kuang: Bachelor Degree from Bina Nusantara University, (2003-2004) President of Bina Nusantara English Club. (2003) Indonesia Representative as Adjudicator in World Universities Debating Championship, Singapore. Trainer and Speaker: Motivation-Self Development, etc. Associate Trainer (Freelance) for Debating, Public Speaking, etc. Invited Jury/Adjudicator for various English tournaments. Actively write some articles related to people-development. Email: mukkuang@yahoo.com & writer_imk@yahoo.com

Multi Stimulus Hasilkan Pengalaman Belajar Efektif

Oleh Rab A. Broto


Mengingat masa kecilnya yang hanya menunjukkan kemampuan akademik pas-pasan, mungkin tidak ada orang menyangka bahwa Albert Einstein, akan bisa sukses dan terkenal dalam hidupnya. Apalagi menjadi mahaguru fisika dan penemu Teori Relativitas.

Cerita yang nyaris sama juga terjadi pada Thomas Alva Edison, penemu lampu listrik, yang bahkan di masa anak-anaknya disebut oleh sebagian guru di sekolahnya sebagai idiot karena kesukaran belajar sehingga sempat beberapa kali pindah sekolah.

Daftar tentang anak-anak yang sebetulnya termasuk cerdas namun tidak dapat berprestasi di sekolah ini pasti bisa Anda perpanjang sendiri dengan cerita dari lingkungan sekitar. Denomena seperti ini sudah sangat lazim ditemui dalam kehidupan sehari-hari.

Dari pengalaman praktiknya, Seto Mulyadi, pakar psikologi anak, mengungkapkan sering menjumpai anak semacam ini. Oleh orangtuanya anak-anak ini dikeluhkan sebagai bodoh, nakal, atau sulit belajar.

"Menurut penelitian ada sekitar 15%-40% anak, kebanyakan laki-laki, yang tampil kurang bersemangat, tidak tertarik pada mata pelajaran di sekolah, atau cenderung mudah putus asa," kata Seto yang juga dosen di Universitas Tarumanegara ini.

Dalam kondisi yang agak berbeda, pada prinsipnya orang dewasa sebenarnya juga mengalami pesoalan menipisnya motivasi belajar. Dengan bertambahnya usia ternyata terjadi learning shutdown yang menguras banyak tenaga kreatif manusia.

"Proses penghancuran kreativitas itu memang terjadi begitu anak masuk sekolah pada usia sekitar lima tahun. Saat awal ketika citra negatif diri mulai terbentuk akibat adanya kritik atau komentar negatif dari lingkungan," kata Seto.

Jack Canfield, psikolog yang meneliti masalah kepercayaan diri, berdasar risetnya tahun 1982 pada 100 anak menemukan bahwa setiap anak dalam sehari rata-rata mendapat 460 komentar negatif dan 75 komentar positif.

"Umpan balik negatif berkesinambungan ini sangat berbahaya karena setelah beberapa tahun sekolah 'kemadekan belajar' yang sesungguhnya benar-benar terjadi."

Anak-anak, lanjutnya, menghalangi atau menutup diri dari pengalaman belajarnya secara tidak sadar. Mulai saat itu, kata Canfield, belajar menjadi tugas berat dan keraguan semakin tumbuh dalam diri sehingga orang mulai mengurangi risiko sedikit demi sedikit.

Quantum Learning
Padahal menurut Marian Diamond, peneliti otak yang telah berpengalaman lebih dari 30 tahun, pada umur berapapun kemampuan mental manusia sebenarnya masih bisa dioptimalkan. "Makin terangsang otak dengan aktivitas intelektual dan interaksi lingkungan, makin banyak kemampuan yang berkembang."

Optimalisasi kemampuan mental manusia ini dapat dilihat dengan jelas pada anak yang belajar berjalan. Dia pasti jatuh bangun berkali-kali, namun tak ada orang mengkritik atau berkomentar negatif melainkan memberi dorongan dan semangat untuk mencoba lagi.

Dalam waktu satu tahun anak biasanya sudah sanggup berjalan. Padahal berjalan adalah sebuah rangkaian gerak yang sangat kompleks baik secara fisik maupun neurologis. Begitu pula saat usia dua tahun anak mulai belajar berbahasa.

Dalam lima tahun, anak mengetahui sekitar 90% dari semua kata yang biasa digunakan oleh orang-orang dewasa. Ajaibnya, semuanya bisa dilakukan tanpa mempelajari buku tatabahasa atau kurikulum yang sistematik.

Menurut Bobbi DePorter, pakar pendidikan, optimalisasi kemampuan mental itu bisa dimunculkan lagi melalui pendekatan baru yang disebut Quantum Learning (QL). "Pendekatan ini berupa seperangkat metode dan falsafah belajar yang efektif untuk semua tipe orang segala usia."

Pendekatan QL yang disebut juga accelerated learning (pemercepatan belajar), lanjut Bobbi, memadukan keterampilan dalam hidup, keterampilan akademik, dan prestasi mengatasi tantangan fisik untuk mencapai sukses.

Pendekatan QL berakar pada upaya Georgi Lozanov, pendidik berkebangsaan Bulgaria, yang bereksperimen dengan suggestology atau suggestopedia. Prinsipnya sugesti dapat dan pasti mempengaruhi hasil situasi belajar dan setiap detil apapun memberi sugesti positif maupun negatif.

Beberapa teknik yang diterapkan Lozanov untuk menimbulkan sugesti positif adalah mendudukan murid secara nyaman, memasang musik latar di dalam kelas, meningkatkan partisipasi individu, dan menempel poster berisi kata mutiara untuk menyemangati dan menonjolkan informasi.

Pendekatan QL secara prinsip merupakan metode yang memungkinkan siswa mempelajari sesuatu secara cepat dengan upaya normal yang dibarengi kegembiraan. "Hal terpenting dari QL adalah belajar 'bagaimana cara belajar'."

Cara ini menyatukan unsur-unsur seperti hiburan, permainan, warna, cara berpikir positif, kebugaran fisik, dan kesehatan emosional yang sekilas tampak tidak berhubungan namun ternyata bekerja sama untuk menghasilkan pengalaman belajar yang efektif.

Musik berperan
Pendekatan QL, ungkap Bobbi, mencakup aspek penting dalam program neurolinguistik (NLP) yaitu suatu penelitian bagaimana otak mengatur informasi. Suatu program yang meneliti hubungan bahasa dan perilaku.

"Para pendidik dengan pengetahuan NLP mengetahui bagaimana menggunakan bahasa positif untuk meningkatkan tindakan positif yang merupakan faktor penting untuk merangsang fungsi otak yang paling efektif untuk belajar."

Selain itu selama belajar yang merupakan pekerjaan mental berat, lanjutnya, tekanan darah naik, frekuensi gelombang otak meningkat, dan otot-otot menjadi tegang. Hal ini tidak bisa diatasi dengan relaksasi meskipun cara ini bisa menguranginya.

"Namun dalam kondisi deeply relaxed sangat sukar untuk berkonsentrasi yang sangat diperlukan saat belajar. Sebaliknya sangat sukar melakukan relaksasi dalam keadaan konsentrasi penuh."

Penelitian Lozanov menunjukkan jenis musik tertentu bisa membuat orang menjadi setengah rileks sehingga tetap mampu berkonsentrasi atau relaxed focus. Jenis musik paling kondusif untuk belajar ini adalah musik barok seperti karya Bach, Handel, Pachelbel, dan Vivaldi.

Saat belajar, belahan otak kiri yang proses berpikirnya bersifat linear, logis, sekuensial, dan rasional, diaktifkan. Sedangkan proses berpikir otak kanan yang bersifat acak, tidak teratur, intuitif, dan holistik, tidak.

"Belahan otak kanan yang dibiarkan inilah yang sering mengganggu konsentrasi saat belajar [dengan membuat orang berkhayal]. Di sinilah musik berfungsi, yaitu merangsang otak kanan sehingga tidak mengganggu kinerja otak kiri.

Penggunaan unsur estetika, khususnya musik ini, kata dia, diperlukan karena sebagian besar komunikasi, mulai pendidikan, bisnis, sampai sains, diungkapkan secara verbal atau tertulis yang merupakan spesialisasi kemampuan otak kiri.

"Untuk menyeimbangkan kecenderungan masyarakat yang terlalu mengutamakan penggunaan otak kiri inilah yang mendasari perlunya penggunaan unsur estetika dalam pengalaman belajar, selain memberikan umpan balik positif pada diri anak didik."

Semua itu, lanjut Bobbi, menimbulkan siklus emosi positif-kekuatan otak-keberhasilan-kehormatan diri, "Siklus aktif ini akan dapat mengangkat Anda lebih tinggi dan lebih tinggi lagi." Apalagi, kata dia, hal pertama yang dilakukan adalah mempelajari keterampilan belajar mendasar seperti cara mencatat, menghafal, dan membaca cepat.

*Rab A. Broto adalah penulis dan editor alumni Lembaga Penelitian, Pendidikan dan Pengembangan Yogyakarta (LP3Y) dengan pengalaman 10 tahun. Sebelumnya, ia bekerja sebagai wartawan dan redaktur di Harian Ekonomi Bisnis Indonesia. Hingga kini ia telah menulis 2.000 straight news (berita pendek ekonomi, politik dan budaya), 400 features (ekonomi, psikologi, iptek dan kesehatan), 5 makalah seminar dan buku Parent Guide (bagian dari paket pendidikan anak My First One Year Activity Book produksi Pustaka Lebah). Kini Rab A. Broto adalah ketua dewan redaksi pada majalah bulanan Indonesian Tax Review Digest dan Buletin Bee Parent yang diterbitkan Lembaga Manajemen Formasi. Ia dapat dihubungi melalui e-mail: nauram@yahoo.com.

MITRA?

Oleh: Ardian Syam


Lebih dari 1 dekade yang lalu banyak ahli manajemen SDM menyatakan bahwa pegawai perusahaan, bila dilihat dari pendekatan akuntansi, dapat dikatakan intangible asset. Saat itu pendekatan ini dianggap paling tepat karena perusahaan mengeluarkan biaya untuk recruitment yang bisa diartikan sebagai invesmen atau pengadaan aktiva.

Kemudian pada saat para SDM tersebut diterima maka perusahaan mulai mengeluarkan biaya untuk gaji, allowances dan benefits, yang dengan konsep tadi dapat diartikan sebagai beban operasi dan pemeliharaan aktiva. Kemudian karena performansi yang luar biasa maka para SDM tersebut diberikan promosi atau kenaikan pangkat yang berarti naik pula gaji, allowances dan benefits yang perlu dikeluarkan perusahaan untuk para SDM, yang bila dilihat dari pendekatan aktiva tetap dapat diartikan sebagai beban penyusutan aktiva tetap.

Namun dari konsep tersebut tidak dapat dikatakan bahwa kita sudah memanusiakan manusia (ngewongke wong) karena kita lalu menganggap manusia adalah barang, benda mati, sesuatu yang dapat diperlakukan sekehendak hati dan tidak perlu dipedulikan apakah aktiva tetap tersebut suka atau tidak diperlakukan demikian. Bila memang aktiva tetap yang sedang dibicarakan adalah alat produksi yang dapat bekerja 24 jam sehari 7 hari seminggu memang kita sedang membicarakan mesin. Tetapi intangible asset yang sedang dibicarakan justru manusia. Mungkin mereka tinggal di rumah di sebelah rumah kita. Mungkin mereka sangat baik ke anak-anak kita. Mungkin mereka setiap siang makan di meja di sebelah meja kita. Mungkin mereka yang menyelamatkan kita ketika kita mengalami kecelakaan akibat tabrakan di jalan.

Benarkah mereka memang intangible asset? Sebuah cara berfikir yang memang pantas dipertanyakan. Apakah kita memang sudah tidak lagi dapat memperlakukan manusia sebagai manusia? Saat anda menganggap SDM di bawah anda sebagai intangible asset, pernahkah terfikir saat mereka menjadi atasan kita suatu hari nanti, bagaimana mereka akan menganggap kita, intangible asset juga? Bagaimana bila satu saat kita sudah pensiun dan mereka yang menjadi pimpinan, bagaimana mereka menganggap kita? Aktiva tetap yang telah dihapuskan?

Kemudian semua pakar manajemen SDM di seluruh dunia beramai-ramai menyebut bahwa SDM perusahaan adalah mitra perusahaan. Bila perusahaan diartikan sebagai manajemen maka berarti SDM di bawah pihak manajemen adalah mitra para manajemen. Konsep yang enak didengar. Berarti para mitra di kedua belah pihak berdiri sejajar. Untuk banyak hal, bargaining position kedua belah pihak berada di level yang sama. Sebuah konsep yang menyenangkan.

Bagaimana dengan kenyataan? Benarkah demikian? Benarkah anda, sebagai manajemen, menganggap SDM yang anda pimpin adalah mitra anda. Berdiri sejajar, berada pada bargaining position yang sama kuat? Benarkah anda bersedia mendengarkan isi hati mereka yang mereka suarakan kepada anda?

Di kondisi-kondisi seperti ini, memang tidak nyaman menjadi manajemen. Di satu sisi, kita memiliki sekumpulan tugas, tanggung-jawab, order, tujuan perusahaan, yang harus kita laksanakan bersama-sama. Di sisi ini kita berarti perlu mendelegasikan seluruh tugas kepada semua SDM di bawah kita. Equally sesuai kompetensi mereka masing-masing. Kondisi ini bukanlah kondisi yang sulit untuk anda jalankan, pasti.

Di sisi lain, bagaimana bila konsep anda, rencana anda untuk mereka bertentangan dengan konsep mereka, rencana mereka untuk diri mereka sendiri?

Dalam kondisi ini sangat tergantung cara berfikir yang mana yang anda pilih untuk anda percayai. Apakah anda benar-benar percaya pada cara berfikir intangible asset atau anda lebih percaya pada cara berfikir bahwa SDM adalah mitra.

Saat anda berfikir bahwa SDM di dalam organisasi yang anda pimpin adalah intangible asset maka akan dengan mudah anda memindahkan mereka ke tempat yang anda anggap tepat, anda tidak merasa perlu mempertanyakan pertimbangan mereka atas rencana anda terhadap mereka. Anda akan dengan mudah pula memposisikan mereka di jabatan yang anda anggap tepat.

Pernahkah anda terfikir bagaimana bila anda adalah mereka dan mereka berada di posisi anda, di jabatan anda sekarang? Pernahkah anda mencoba merasakan apa yang mereka rasakan karena tindakan anda terhadap mereka?

Seringkali SDM yang sedang tidak memegang kekuasaan tidak dapat berdiri sejajar dengan para personil yang menjadi anggota manajemen dari berbagai level. Para manajemen merasa tidak perlu memberitahukan kepada seluruh personil dalam perusahaan bahwa salah satu posisi manajemen telah kosong dan ada serangkaian persyaratan untuk memegang posisi tersebut.

Seringkali pula para manajemen menetapkan seorang personil memegang posisi tertentu tanpa bertanya terlebih dahulu kepada personil tersebut apakah mereka bersedia memegang posisi tersebut atau tidak, bersediakah mereka berada di lokasi tersebut atau tidak. Seringkali kondisi ini menjadi pemicu masalah, kebanyakan personil yang menduduki jabatan tertentu ternyata kinerja mereka menjadi menurun karena mereka tidak merasa senang ditempatkan di posisi tersebut, di lokasi tersebut.

Kinerja menurun? Nah, anda mungkin baru tersadar sekarang. Pernahkah anda perhatikan pejabat tertentu, ketika dia belum menjabat posisi tersebut, dan setelah dia menjabat posisi tersebut? Saya sangat yakin, anda bukan berniat membuat personil ini menjadi terlihat buruk, memiliki kinerja yang menurun, kemudian mendapatkan hukuman dari perusahaan. Tetapi hal ini bisa menjadi kenyataan bila mereka yang anda posisikan tidak merasa senang menjabat posisi tertentu atau berada di lokasi tertentu.

Mungkin anda berfikir bahwa setiap personil yang belum pernah mendapatkan jabatan tertentu berarti mereka masih membutuhkan basic need (masih ingat piramid Abraham H Maslow?) sehingga penghasilan yang lebih besar karena menduduki jabatan tertentu dapat membuat mereka bahagia? Beberapa personil tertentu tidak lagi membutuhkan basic need, mungkin karena mereka telah mempunyai penghasilan cukup besar di luar, mungkin karena mereka bukanlah ‘penduduk material world’. Sehingga mereka sudah berada di lantai self esteem dalam piramid Maslow.

Memang, bila anda menganggap SDM adalah mitra perusahaan maka mau tidak mau anda harus lebih mengalah dalam mengatur organisasi. Anda mungkin merasa posisi tertentu di organisasi anda yang pimpin sudah perlu untuk diisi orang baru. Maka yang dapat anda lakukan adalah mentenderkan posisi tersebut sehingga semua personil dalam perusahaan mengetahui hal ini. Tentu saja tidak tertutup kemungkinan anda menghubungi orang tertentu untuk ikut mendaftar, bila yang bersangkutan memang ingin menduduki posisi tersebut. Kemudian anda tinggal memilih yang terbaik dari yang telah mendaftar. Dengan metode seperti ini anda dapat menghindari kinerja menurun dari pejabat baru tersebut.

Masihkah SDM merupakan mitra perusahaan?

* Ardian Syam menempuh pendidikan terakhir di Magister Akuntansi, UGM, Yogyakarta, 2004. Saat ini ia bekerja sebagai Financial Analyst di PT Telekomunikasi Indonesia Tbk., Divisi Regional I Sumatera, sekaligus menjadi dosen Fakultas Ekonomi, Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara. Ardian dapat dihubungi di: ardian.syam@gmail.com

toko-delta.blogspot.com

Archives

Postingan Populer

linkwithin

Related Posts with Thumbnails

Total Tayangan Halaman

Diberdayakan oleh Blogger.