toko-delta.blogspot.com

menu

instanx

Rabu, 29 Oktober 2008

PENERIMAAN DIRI APA ADANYA ADALAH MODAL AWAL UNTUK SUKSES

Oleh: Soesilowati

Kita tentu masih ingat pepatah “Bersatu kita teguh bercerai kita runtuh”. Pepatah ini juga berlaku saat kita ingin meraih sukses atau tujuan tertentu. Manusia mempunyai pikiran sadar dan pikiran bawah sadar. Sederhananya, semua informasi yang diterima oleh manusia akan direkam dalam pikirannya. Informasi yang sering digunakan/baru didengar masuk ke pikiran sadar, sedangkan informasi yang jarang sekali digunakan/pernah didengar akan direkam dalam pikiran bawah sadar. Nah, untuk mencapai suatu tujuan diperlukan kekompakan antara pikiran sadar dan bawah sadar.

Wah, penjelasannya kok ruwet, ya? Eit… hati-hati dengan perkataan yang digunakan. Menurut pakar teknologi pikiran, kalimat yang negatif menyebabkan hidup jadi lebih negatif (bukan lebih hidup, lho…).

Beberapa alasan mengapa kita tidak dapat menerima diri apa adanya:
1. Persepsi orang di sekeliling kita (misal, karena gender, keturunan, dll)
2. Kondisi fisik
3. Tindakan orang lain yang tidak dapat kita terima (trauma).

Bahkan, anak kecil pun dapat mengalami trauma dari kejadian yang tampaknya sepele. Contoh, anak saya yang baru berumur empat tahun. Kemarin, dia mengalami trauma untuk pergi ke dokter. Selidik punya selidik, ternyata saat ke dokter terakhir kali volume suara dokter cukup tinggi. Dan, nada suaranya pun kurang bersahabat. Meskipun hal itu tidak ditujukan pada anak saya, tapi itu sudah ‘dianggap’ kejadian yang tidak menyenangkan.

Salah satu ciri orang yang tidak dapat menerima diri sendiri adalah suka marah dan memaksakan kehendak. Sebaliknya, ciri-ciri orang yang dapat menerima diri sendiri adalah suka senyum dan mudah mengucapkan terima kasih atau bersyukur.

Mungkin saja kita berkomentar, “Bagaimana kita disuruh bersyukur kalau kita sedang mendapat masalah?” Untuk lebih jelasnya saya kutipkan cerita berikut ini.

Sejak sakitnya menjadi parah, Masaru Emoto bangun tiap pukul empat pagi (meskipun kata dokter hal itu tidak banyak membantu karena umurnya akibat kanker tinggal tiga bulan) Pesan yang diberikan dokternya hanya banyak istirahat, mengurangi pekerjaan, dan berdoa. Siapa tahu Tuhan memberi waktu lebih panjang? Karena pesan ketiga itulah sekarang ia sangat mencintai suasana pagi hari.

Maka, usai mencuci muka, ia keluar dan menaiki atap rumahnya. Ada yang selalu indah ketika ia menatap ke Timur. Udara segar dihirupnya dalam-dalam. Setiap kali dihembuskan napas, tiba-tiba bibirnya terbisik kata “terima kasih”.

Mula-mula ia hanya merasa, kalau pagi hari memang indah. Perasaannya jadi lebih tenang. Mengherankan, lama-kelamaan ia tidak memikirkan lagi sakitnya. Ia hanya merasa Tuhan begitu baik. Tuhan memberinya hari demi hari yang indah. Belum pernah ia mengalami perasaan setenang dan sebahagia itu.

Masaru Emoto akhirnya terbebas dari kanker ganas dan ia menyerukan kepada dunia, “Dengan hati yang dipenuhi syukur dan cinta, Anda akan memiliki kekuatan untuk mengalahkan segalanya!”

Apakah Anda mau menerima diri apa adanya?[soe]

* Soesilowati mengawali kariernya sebagai staf IT di Kasogi. Kecintaannya pada dunia anak, dan apa yang dapat membantu anak dalam belajar mendorongnya mempelajari sempoa dan metode memori, akhirnya mempertemukannya dengan Adi W. Gunawan (pemilik sekolah Anugerah Pekerti). Sekarang, ia menjadi guru di sekolah tersebut. Soesilowati dapat dihubungi di soesi_wati@yahoo.com.

MEMILIH MEDIA SILATURAHMI BISNIS YANG TEPAT

Oleh: Gagan Gartika

Anda tahu nepotisme? Atau, pernahkah Anda mendengar kata koneksi? Dua hal tersebut, meski belakangan dimaknai sebagai suatu hal yang cenderung negatif, sebenarnya punya dampak yang sangat positif. Sebab, berhasilnya sebuah bisnis, kadang ditentukan oleh seberapa besar jaringan yang dimiliki oleh pemilik bisnis. Jaringan itu bisa berupa pertemanan, jaringan distribusi, jaringan pemasaran, atau jaringan lainnya.

Sayangnya, kadang kita kurang mampu memaksimalkan potensi jaringan ini. Padahal, caranya cukup mudah. Salah satunya, yaitu dengan membuat berbagai media sebagai wadah untuk berkomunikasi.

Ada berbagai macam cara untuk mendapatkan media yang tepat. Salah satunya dengan memanfaatkan hobi. Tenis atau golf misalnya. Berapa banyak orang yang menjadikan olahraga tersebut sebagai media untuk pengembangan bisnis. Cara lain, dengan media sharing pengetahuan. Coba lihat, klub-klub eksekutif kini bertebaran. Mereka biasanya punya agenda membahas aneka masalah seputar bisnis atau hal lain. Dari sini, perbincangan soal pengembangan bisnis pun bisa dilakukan. Tengok pula munculnya berbagai asosiasi dalam berbagai bidang. Asosiasi tersebut selain untuk mengakomodasi kepentingan anggotanya, juga menjadi sebuah media interaksi antaranggota demi kemajuan bisnis mereka.

Jika menilik manfaat positif media-media semacam ini, maka sebenarnya urusan nepotisme atau koneksi sebenarnya bukan sesuatu yang negatif. Sepanjang sama-sama saling menguntungkan, serta tetap mengindahkan aspek dan norma hukum yang berlaku, memanfaatkan media semacam ini sah-sah saja dilakukan.

Bahkan, dengan menggunakan media semacam ini, jaringan bisnis bisa makin diperluas. Upaya saling dukung antarbidang yang terhubung melalui media-media semacam ini dapat memajukan pelaku bisnis yang bersangkutan. Inilah suatu bentuk implementasi silaturahmi yang saling menguntungkan. Kekuatan dari potensi silaturahmi yang dikembangkan, bisa dimaksimalkan dalam media-media semacam ini.

Masalahnya, bagaimana agar bentuk silaturahmi ini benar-benar bisa mencapai sasaran seperti yang diinginkan? Media seperti apakah yang bisa dimaksimalkan potensinya agar bisa menyokong kemajuan bisnis kita? Seperti contoh di atas, berikut akan kita bahas beberapa bentuk media yang bisa kita pilih agar maksimal potensinya.

Menggunakan media berdasarkan hobi
Hampir setiap orang mempunyai hobi atau kesenangan masing-masing. Kadang, ada yang unik. Misalnya, hobi memelihara burung kicau jenis tertentu. Ada pula yang hobinya sangat menantang, seperti pecinta alam. Selain itu, banyak pula yang hobinya berolahraga, seperti tenis dan golf.

Dua hobi terakhir inilah yang selama ini paling sering dijadikan ajang silaturahmi bisnis. Dari klub-klub tenis dan golf, biasanya banyak eksekutif berkumpul. Selain bersantai, mereka pun acap kali membicarakan persoalan bisnis di lapangan. Tak jarang, ’deal-deal’ besar bisnis pun ditentukan di lapangan.

Bisa dikatakan, keuntungan menggunakan hobi sebagai media silaturahmi bisnis cukup banyak. Selain bisa rileks, kita juga bisa sekaligus meningkatkan kemampuan dalam hobi yang kita tekuni. Suasana rileks inilah yang bisa mendukung kita untuk bicara mengenai hal apa pun. Termasuk, urusan pengembangan bisnis. Namun, perlu kita ingat. Tak semua orang ingin menjadikan hobi sebagai media silaturahmi bisnis. Kadang, ada juga yang benar-benar ingin menjadikan hobi sekadar pelepas stres. Karena itu, kita harus pandai-pandai melihat situasi.

Yang jelas, apa pun hobi kita, biasanya selalu ada komunitas yang punya kesamaan hobi dengan kita. Kalau pun belum ada, kita pun bisa membentuknya. Dan, setelah bergabung, kita harus selalu aktif. Dengan begitu, kita akan cepat dikenal dalam kelompok tersebut. Makin dikenal, sudah tentu akan makin luas pula pergaulan dan pengaruh kita dalam komunitas tersebut.

Menggunakan media berdasarkan dasar minat pengetahuan
Saat ini, hampir setiap hari di media dibombardir iklan seminar. Baik seminar bisnis, keuangan, atau seminar lainnya. Tak jarang, para peserta seminar, selain bertujuan untuk mendapatkan ilmu, juga untuk menjadikan ajang seminar sebagai silaturahmi bisnis dengan peserta seminar lain. Sebab, biasanya, mereka yang datang dalam sebuah seminar, memiliki minat yang sama terhadap bidang pengetahuan yang disajikan dalam seminar tersebut. Dari kesamaan minat inilah, sebuah awal silaturahmi bisnis dilakukan. Bahkan, acapkali, seusai seminar, para peserta akan saling bertukar kartu nama. Ujung-ujungnya, akan dilanjutkan dengan pertemuan-pertemuan lain.

Inilah salah satu media silaturahmi bisnis yang bisa kita manfaatkan. Karena itu, tak heran, saat ini banyak bermunculan klub-klub eksekutif yang mengakomodasi kesamaan minat pada bidang tertentu ini. Misalnya, klub keuangan atau klub marketing. Keuntungannya jelas. Jika kita bergabung dengan komunitas marketing, kemampuan ilmu pemasaran kita bisa makin terasah. Kita jadi makin banyak tahu trik memasarkan suatu produk karena sering berdiskusi dengan kelompok tersebut. Kemudian, saat bergabung di klub keuangan, kita bisa membicarakan perencanaan keuangan, baik pribadi, keluarga, ataupun perusahaan.

Menggunakan media berdasarkan kesamaan bidang
Hampir mirip dengan pola silaturahmi bisnis sebelumnya, media yang digunakan kali ini adalah berdasarkan kesamaan bidang yang digeluti. Dari sini, biasanya akan muncul berbagai macam asosiasi usaha atau bisnis tertentu.

Setiap perusahaan mempunyai bidang bisnis yang berlainan. Apakah bergerak di bidang jasa atau jual beli barang, tentu berbeda penanganannya. Dengan mengetahui bidang bisnis yang kita geluti, akan lebih mudah bagi kita memilih media sebagai tempat pengembangan diri untuk memperluas jaringan. Misalnya, jika kita bergerak di bidang jasa arsitek, kita bisa bergabung di komunitas persatuan pekerja arsitek. Atau, jika punya bisnis di pasar, kita bisa bergabung di asosiasi pedagang pasar.

Komunitas-komunitas tersebut merupakan media tempat mengembangkan jaringan bisnis. Bahkan, kalau perlu kita bisa mendirikan asosiasi sendiri. Kita bisa mengajak relasi yang memiliki kesamaan bidang bisnis. Saya pun menempuh cara ini, yaitu mengumpulkan teman untuk mengembangkan usaha di bidang depo dan pergudangan menjadikan suatu asosiasi yang mampu melahirkan peluang baru berkaitan dengan penyediaan tempat penumpukan petikemas dan juga penampungan barang.

Begitulah, bisnis tanpa jaringan akan sulit mencapai kemajuan. Karena itu, kita pun harus pandai-pandai bersosialisasi untuk memperluas silaturahmi bisnis yang kita jalani. Dengan begitu, kita bisa memperkuat jaringan bisnis ke mana dan di mana saja kita berada.[gg]

* Gagan Gartika adalah praktisi Silaturahmi Marketing, pemilik beberapa bidang usaha serta Ketua Lembaga Pendidikan dan Pengembangan Bisnis (LPPB) Sinergi, dan Alumni Sekolah Penulis Pembelajar angkatan ke-5. Ia dapat dihubungi di: gagan@kumaitucargo.co.id.

KEBAHAGIAAN “INTERNAL” DAN “EKSTERNAL”

Oleh: A. Asep Syarifuddin


KAPAN Anda merasa bahagia? Apakah ketika memperoleh hadiah? Habis bulan? Mendapatkan ucapan selamat? Atau... semua itu bisa menjadikan kita bahagia karena ada stimulus dari luar yang membuat kita dapat memenuhi kebutuhan. Tapi, bagaimana ceritanya ketika semua yang datang kepada kita itu habis? Hilang? Lenyap atau tidak lagi menjadi milik kita? Sudah tentu bila sumber kebahagiaan tersebut tidak ada maka yang muncul adalah ketidakbahagiaan. Dengan sendirinya kita harus mengejar kembali sesuatu yang dapat membuat kita bahagia tadi. Apakah ini model kebahagiaan yang salah? Tidak juga, tapi kalau Anda merasa bahagia karena sesuatu yang datang dari luar, maka siap-siap saja untuk kecewa karena sesuatu yang datangnya dari luar tidak abadi sifatnya. Ironisnya model kebahagiaan seperti ini nyaris diyakini oleh 80 persen orang kebanyakan yang hidup di dunia ini.

Lantas, apakah ada model kebahagiaan yang lain? Ada dan ini sifatnya abadi. Model kebahagiaan kedua adalah kebahagiaan "internal". Kebahagiaan ini datangnya dari dalam diri kita dan bukan dari luar diri kita. Tapi, bagaimana caranya kita memiliki model kebahagiaan seperti ini? Sepertinya susah untuk merealisasikannya. Lagi pula, kebanyakan orang bisa merasakan kebahagiaan apabila mencapai sesuatu dan mengejar hal lain bila sesuatu itu sudah tercapai. Kita bisa mencapai kebahagiaan internal dan kabar gembiranya, bila kita memiliki kebahagiaan internal, maka kebahagiaan eksternal bisa tercapai. Sementara, bila hanya mencapai kebahagiaan eksternal, maka kebahagiaan internal tidak bisa dimiliki. Caranya sederhana, ciptakan batin kita menjadi bahagia. Caranya bermacam-macam, salah satunya dengan selalu memiliki rasa bersyukur.

Coba hitung, anugerah yang sudah kita peroleh sejak lahir sampai sekarang. Kita diberi nikmat hidup, bentuk tubuh yang indah, bernapas, diberi mata, diberi hidung, mulut, lidah, paru-paru, jantung, ginjal, hati, dan pikiran. Belum lagi di luar kita, kita memiliki orangtua, saudara, tetangga, dll. Allah SWT sudah memberikan segala kebutuhan kita di dunia ini lengkap dengan segala fasilitasnya. Apakah masih kurang segala sesuatu yang sudah diberikan kepada kita? Sepertinya kita memang kurang memiliki rasa bersyukur atas hal-hal di atas yang selama ini sudah menopang hidup kita. Cobalah kita syukuri satu per satu, maka hasilnya akan sangat luar biasa bahagia.

Ya Allah ...
Aku bersyukur hari ini masih diberikan kesempatan untuk hidup.
Aku bersyukur hari ini masih bisa bernafas, terimakasih hidung, terimakasih paru-paru, terimakasih oksigen, terimakasih matahari dan pepohonan yang sudah mengubah karbondioksida menjadi oksigen dan udara bersih di pagi hari.
Aku bersyukur diberikan kesehatan, sehingga aku bisa menjalankan aktivitas sehari-hari.
Aku bersyukur atas segala nikmat yang sudah diberikan kepadaku baik yang disadari maupun yang tidak disadari. Betapa banyaknya, dan aku tidak bisa menghitungnya.
Terimakasih Tuhan, terimakasih alam, terimakasih anggota tubuhku, terimakasih alam, aku sayang kepadamu, aku mencintaimu.

Ucapkan kata-kata di atas dalam suasana hening, penuh dengan perasaan, bayangkan semuanya memberikan ucapan selamat kepada Anda, menepuk-nepuk bahu Anda, bersalaman kepada Anda. Tuhan pun tersenyum melihat Anda penuh rasa syukur dan Dia berjanji akan menambah nikmat-nikmat yang lain walaupun tidak kamu minta. Subhanallah.... Cara lain yang biasa saya lakukan adalah bangun malam untuk salat Tahajud dan tadarus Alquran. Agar dipermudah bangun malam baca tulisan saya yang berjudul 'Berdamai dengan Diri Sendiri'. Ada satu perasaan bahagia yang tiada tara ketika membuka mata pada pukul 03.00. Sambil mengucapkan alhamdulillah saya bangun dengan penuh senyum dengan perasaan Allah juga senang melihat hambanya bangun pada dini hari.

Saya ambil air wudu, saya basuh satu per satu anggota rukun wudu sampai selesai. Saya ambil sajadah, kain sarung, dan baju sopan yang bersih serta mengenakan tutup kepala. Allahu Akbar.... Kuucapkan kebesaran Tuhan Yang Maha Kuasa di keheningan malam. Lagi-lagi aku melihat Tuhan tersenyum lebar, gembira melihat hambanya bertafakur, berdoa, bermunajat, merendahkan diri, bersujud di depan Sang Pencipta. "Sesungguhnya salatku, hidup, dan matiku hanyalah milik Allah, tidak ada sekutu bagi-Mu." Ayat demi ayat dilantunkan secara perlahan, benar-benar terasa nikmat dan lapang dada. Ketika saya ingat dosa-dosa saya tak terasa air mata pun berlinang, apakah Allah masih mau untuk memaafkan saya? Padahal dosa selama hidup baik yang terasa maupun yang tidak terasa jumlahnya sangat banyak. Saya pasrahkan kepada kebesaran Zat Yang Maha Pengampun, mudah-mudahan masih mau untuk mengampuni hamba yang zalim ini.

Saya benar-benar menikmati gerakan demi gerakan salat sampai salam. Lagi-lagi entah mengapa rasa bahagia tersebut seolah masuk ke dalam diri dan memeluk erat-erat seakan tidak mau terlepas dari batin dan tubuh saya. Setelah berdoa saya ambil HP untuk mengirimkan SMS kepada teman-teman yang biasa qiamulail (salat di tengah malam secara teratur: red) atau kepada siapa saja yang sekiranya saya kenal. Siapa tahu dia terbangun dan menjalankan salat malam juga. Isinya kira-kira, "Ass wr wb. Dengan segala kerendahan hati, marilah kita menyerahkan diri kepada Zat Sang Maha Pencipta untuk salat malam, tadarus Alquran." Kalau kebetulan hari Senin atau Kamis pagi ditambah dengan kata-kata, “ .... bagi yang berniat puasa sunah Senin atau Kamis dipersilakan untuk makan sahur." Kemudian saya kembali salat sampai beberapa kali takbiratulihram (takbir yang diucapkan pada awal salat: red) dan salam. Selesai salat ada yang membalas SMS tersebut. Muncul lagi perasaan bahagia karena bisa berbagi kebahagiaan dengan sesama. Usai salat dilanjutkan dengan tadarus Alquran sampai datang waktu salat subuh.

Keesokan harinya rasa bahagia tersebut menjadi teman sampai sore hari bahkan sampai malam harinya lagi. Ketika berjalan seakan-akan alam menyapa dan senyuman dan lambaian. Semuanya tersenyum, semuanya melambai, semuanya mendukung. Kondisi seperti itu benar-benar memengaruhi kita ketika berkomunikasi dengan orang-orang. Terlihat penuh semangat, antusias, percaya diri, dan yang lebih penting muncul ketulusan dalam berbagai bentuk pembicaraan. Pekerjaan tidak terasa sebagai beban tapi terasa senang menjalankannya. Kebahagiaan internal benar-benar dapat mempengaruhi kondisi eksternal dan akhirnya bisa mencapai kebahagiaan eksternal. Sampai di sini saya dapat mengambil kesimpulan, apabila kita menggapai kebahagiaan internal, maka kebahagiaan eksternal dengan sendirinya dapat dicapai. Memang untuk mencapai kebahagiaan ekstrnal berupa materi membutuhkan waktu. Sesuatu kalau ingin terwujud secara materi ada hukum-hukum tersendiri yang tidak bisa dilawan. Misalnya saja, kalau kita ingin berhasil sudah tentu kita harus ulet, rajin, konsisten, dan berusaha terus-menerus. Demikian juga kalau ingin mencapai yang kita inginkan, ada jeda waktu untuk mencapainya. Tapi, kalau kondisi kita berada dalam positive feeling, maka waktu tersebut tidak menjadi masalah asalkan bisa tercapai. Kita memiliki sikap sabar dan tawakal.

Hidup Penuh Makna, Bahagia,
Damai dan Sejahtera. [aas]

* A. Asep Syarifuddin adalah pimpinan redaksi sebuah koran di Jawa Tengah. Ia dapat dihubungi melalui blog: http://hidupbermakna.wordpress.com

MENULIS UNTUK MEMBERDAYA DIRI: MELUKIS KEHIDUPAN

Oleh: Adjie

“People have all the resources they need to bring about change and success.”

Pembelajar yang menyukai pendekatan berbasis NLP (Neuro Linguistic Programming), pasti sudah sering mendengar pernyataan di atas. Ada semacam nilai atau keyakinan yang hendak ditawarkan kepada khalayak, seraya mengingatkan kita semua tentang dahsyatnya sumber daya dalam diri.

Dalam kalimat yang senada, seorang kawan pernah menulis bahwa, “Setiap orang adalah ahli tentang masalah-masalah yang dialami dalam hidupnya. Orang memiliki keterampilan, kompetensi, keyakinan, nilai, komitmen, dan kemampuan untuk mengurangi pengaruh dari masalah-masalah yang dialaminya.” Lagi-lagi, seharusnya ini juga bukan pernyataan bombastis yang aneh. Ini mestinya menjadi kalimat biasa saja, apalagi ketika kita memandang dengan kaca mata berbau agama, di mana sudah ditegaskan bahwa manusia adalah makhluk ciptaan yang sempurna. Dengan kesempurnaannya, manusia mestinya memiliki modal lebih dari cukup untuk mendapat dan meraih yang ia mau, bukan?

Kalau kemudian realitasnya masih banyak di antara kita yang tak mulus berubah dan meraih sukses, tentu ada yang perlu kita cermati lebih dalam. Kalau fakta hari ini memberi data tentang betapa banyak di antara kita yang justru merasa gagal dan bingung, mungkin ini pertanda ada yang perlu ditelaah lebih lanjut. Kita perlu mencari tahu, apa yang kurang pas dan tidak efektif yang membuat kita mengalami kegagalan? Apa yang salah sehingga kita bahkan tak tahu apa saja sumber daya yang kita miliki itu?

Bahkan, ketika telah banyak pelatihan kita ikuti, banyak buku kita baca, banyak ceramah kita dengar, pada kenyataannya saya menduga bahwa jumlah orang yang merasa sukses jauh lebih sedikit ketimbang jumlah yang orang yang ikut pelatihan, mendengar pencerahan, dan membaca buku-buku pengembangan diri.

Ini tentu hanya hipotesis permukaan yang memiliki banyak kelemahan. Apalagi ketika tidak didukung banyak data ilmiah. Dan saya juga tak hendak bersibuk mempertahankan hipothesis ini, karena lebih penting buat saya justru mengajak kita semua berkaca, melihat ke dalam dan menggali pengalaman keseharian, atau sekadar melihat pengalaman kawan-kawan di sekitar. Coba saja lihat dan bertanya pada mereka. Seorang penulis buku bahkan sempat mengaku, bahwa ia pun mengalami kejadian serupa: success rate-nya pernah berada pada tingkatan yang tidak memuaskannya.

Tentu tak ada yang salah dengan banyak buku, beragam pelatihan, dan hiruk pikuk ceramah pencerahan yang pernah kita ikuti, baca, dan dengar. Jelas, semua pasti ada manfaatnya. Persoalan kita kali ini adalah bagaimana mengakselerasi proses sukses yang kita maksud dan kita impikan itu.

Mengingat bahwa saya sendiri pernah mengikuti sejumlah pelatihan yang bahkan berbiaya belasan juta, saya bahkan pernah mengajukan pertanyaan bernada sinis pada diri sendiri: ”Benarkah aku sedemikian parah? Sehingga untuk sebuah perubahan, aku harus mengeluarkan uang demikian banyak?” Jangan-jangan, kalau kita sungguh disiplin mengikuti petunjuk dari satu saja buku tentang kesuksesan, maka besar kemungkinan keberhasilan yang kita impikan bakal dengan cepat terwujud.

Kabar miris jenis inilah yang kemudian mendorong saya untuk mulai mencari gagasan alternatif, yang paling sedikit akan dapat melengkapi gagasan lain dalam jagat pengembangan diri.

Maka, sampailah saya pada gagasan yang hendak mengeksplorasi aktivitas tulis-menulis justru sebagai media untuk memberdaya diri.

Aktivitas dan dunia tulis menulis yang sekarang saya pikirkan ini bisa sangat berbeda dengan arus utama yang mewarnai pemahaman umum masyarakat. Coba saja, silahkan Anda lihat apa yang belakangan ini semarak ditawarkan di pasar pelatihan dan perbukuan, khususnya yang mendalami aktivitas tulis-menulis.

Sepanjang yang saya cermati, yang selama ini banyak ditawarkan adalah aktivitas tulis-menulis dalam kerangka yang berbeda. Kalau ada pelatihan tentang tulis-menulis, biasanya ditujukan untuk meningkatkan keterampilan seseorang dalam menulis. Ada yang menjanjikan percepatan peningkatan kompetensi membuat cerita pendek dan tak sedikit yang mengajarkan bagaimana cara menulis sebuah buku. Jadi, yang coba ditingkatkan adalah keterampilan menulisnya. Jadi, yang banyak diulas adalah persoalan teknik seputar penulisan, semisal mencari ide, memfokuskan ide, hingga menerjemahkan ide jadi bahan tulisan.

Nah, yang saya pikirkan sangat berbeda. Saya justru tak terlalu peduli dengan persoalan kemampuan mengeksplorasi bahasa dan menuangkannya jadi tulisan. Paling tidak di tahap awal, saya justru tak memikirkan persoalan gaya menulis dan pakem-pakem teknik penulisan. Yang penting orang itu sekedar bisa menulis, maka cukuplah modal untuk memanfaatkan pendekatan ini. Sambil senyum, saya sendiri jadi makin disadarkan betapa gagasan ini memiliki faktor pembeda dari yang sudah banyak diungkap di pasaran. Pun ketika disandingkan dengan keyakinan bahwa tak ada yang terlalu baru di kolong langit ini, maka paling tidak coretan ini bisa menjadi gagasan alternatif. Kalau gagasan ini selaras dan bersinggungan dengan gagasan besar lain, maka semoga ini menjadi sebuah upaya yang akan memperkaya warna dan dinamika proses pemberdayaan itu sendiri.

Aktivitas tulis-menulis yang saya maksud di sini justru adalah bagaimana kita memanfaatkan tulis-menulis untuk mulai mengenali diri sendiri, makin bersahabat dengan kekuatan-kekuatan yang terpendam, makin percaya pada potensi besar dalam diri, dan akhirnya menjadikan itu semua sebagai modal untuk melesatkan busur sukses yang kita impikan.

Lihatlah betapa gagasan ini cenderung tak ingin bersibuk dengan perkara teknik dan kemampuan membuat tulisan. Ia justru lebih mementingkan proses menulisnya itu sendiri dan kemudian mengambil manfaat dari tulisan-tulisan itu. Tulisan yang saya yakini bisa menjadi alat memberdaya diri itu tak lain adalah narasi kehidupan kita sendiri. Jadi, yang dituliskan sungguh hanyalah kisah tentang diri kita sendiri.

Karena, akarnya tertancap di dalam diri, maka awalnya adalah mengenal diri sendiri. Untuk mengenal diri sendiri dengan begitu kita perlu membaca kembali kisah perjuangan, sepak terjang, cerita sukses dan sedih yang kita alami sendiri. Jadi, tulisan untuk pemberdayaan diri ini tak lain adalah tulisan tentang diri sendiri. Ini adalah narasi diri kita sendiri. Tulisan-tulisan macam inilah yang kemudian menjadi cermin pembelajaran bagi kita, sang tokoh dalam kisah yang kita tulis sendiri itu.

Inilah sisi unik lainnya. Kalau selama ini kita mungkin sibuk membaca tulisan tentang orang lain, maka kini kita diajak untuk mulai membaca tulisan berisi kisah kita sendiri. Kalau selama ini kita kagum pada banyak kisah sukses orang lain, maka dengan cara ini kita diajak berkaca dan perlahan menumbuhkan kekaguman, rasa syukur atas apa yang sudah kita capai. Ini semua akan membantu kita membangun percaya diri.

Menariknya lagi, dengan disiplin menjalankan langkah sederhana itu, kita tak akan berhenti pada masa lalu. Setelah membangun percaya diri dari kisah sukses masa lalu—sekecil apa pun itu—maka pelahan diharapkan akan tumbuh kesadaran yang makin kokoh betapa kita memiliki sejumlah sumber daya lain yang selama ini terpendam sebatas menjadi potensi saja.

Berbekal percaya diri, berbekal pemahaman akan potensi diri itu kita juga akan makin dikuatkan untuk mulai memanfaatkan kekuatan yang kita punya untuk merancang masa depan kita, merancang sukses kita, merancang narasi baru kehidupan kita. Jelas dan tegas bahwa Andalah penggagas masa depan Anda sendiri. Pemahaman diri, rasa percaya diri, penerimaan diri ibarat kuas dan warna-warni tinta sang pelukis. Ketika pada saat yang sama kanvas kehidupan telah terhampar di semesta ini, maka tinggal tangan pelukislah yang memutuskan hendak menggambar apa di atas kanvas itu. Terserah sang pelukis hendak menggunakan warna apa untuk gambar indahnya. Dan, Andalah pelukis itu.

Dengan begitu, melalui tulisan kita juga bisa merancang masa depan dan kisah sukses kita sendiri. Gagasan ini menjadi semacam penegasan betapa pentingnya menuliskan visi dan impian Anda. Setelah itu fokuskan perhatian, pikiran, dan usaha pada impian yang sudah Anda tulis itu. Kelak Anda tak perlu terkejut ketika menyadari bahwa perlahan Anda akan meraih apa yang pernah Anda tulis hari itu. Jadi, mulailah membangun masa depan dengan mulai menuliskannya. Mulailah menulis narasi masa depan kehidupan Anda pada hari ini. Tulislah kisah sukses masa depan Anda sekarang juga. Sungguh, mulailah menulis sepanjang kata yang Anda mampu, karena dari sanalah kisah panjang tentang sukses masa depan Anda justru dimulai.

Lalu, bagaimana teknik memanfaatkan aktivitas tulis menulis agar ia menjadi efektif sebagai alat memberdaya diri? Tentang ini akan saya tuangkan dalam tulisan terpisah.

Sebagai penutup bagian ini, saya teringat salah satu prinsip lain (presuposisi) yang dianut NLP, yang menyebut bahwa, “People create their own experience”. Saya ingin memahaminya secara sederhana dan mengaitkannya dengan gagasan inti tulisan kali ini. Selaras dengan gagasan yang saya usung, maka ketika kita mulai menuliskan narasi kita, maka sesungguhnya kita tengah memulai proses penciptaan pengalaman dan masa depan kita.[adjie]

* Adjie adalah karyawan sebuah perusahaan multi-national. Sehari-hari, selain terus berlatih menulis, ia juga menempatkan diri sebagai Facilitator for Human Resiliency Development (FHRD). Ayah empat orang anak ini adalah peminat tema life balance dan mind empowerment. Ia dapat dihubungi di: purwaji.purwaji@cognis.com

MENGEMBANGKAN IDE-IDE KREATIF YANG SIAP DILAKSANAKAN -

Oleh: Risfan Munir


“If your mind can conceive it, and your heart can believe it, you can achieve it.”
~ Jesse Jackson

Dalam kehidupan pribadi, keluarga, dan terutama di tempat kerja, kita sering harus berpikir dan mengerahkan kreativitas dalam menyusun rencana, merancang produk/jasa ataupun acara. Dalam situasi itu biasanya disarankan untuk bisa berpikir sebebas-bebasnya, agar semua kretivitas dapat dimunculkan tanpa kendala. Namun kenyataannya, berpikir bebas itu ternyata sulit karena pada saat itu juga kita dihantui oleh risiko-risiko gagal, malu kalau tidak perfect, dst. Akibatnya, proses berpikir kreatif menjadi terkendala dan ide cemerlang menjadi buyar.

Peoses berpikir kreatif memang sering bertabrakan, konflik dengan pemikiran kritis yang terjadi di kepala. Oleh karena itu, diperlukan strategi berpikir yang lebih positif, tidak saling meniadakan. Untuk permasalahan seperti itu NLP (neuro linguistic programming) punya kiat yang dipelajari oleh penemunya. Kiat ini disebut model berpikir ala Walt Disney, yang terdiri dari tiga tahap, yaitu tahap kreatif, tahap realitis, dan tahap kritis.

Pertama, berpikir kreatif. Sarannya adalah perankan diri kita sebagai si Kreatif yang memulai rancangan dengan menggali dan mengungkapkan, menulis ide secara bebas. Seperti seniman "urakan" yang duduk di sebuah taman yang hijau, diteduhi pohon rindang, tanpa peduli keadaan sekeliling, apalagi komentar orang. Ide-ide dibiarkan mengalir secara bebas, tanpa peduli logika atau format, tata bahasa atau aturan lainnya. Yang penting adalah mengungkap ide seluas-luasnya, dengan cepat. Mengapa harus cepat? Karena daya konsentrasi pikiran tidak bisa berlangsung terlalu lama. Kalau sudah terinterupsi hal lain biasanya kembalinya juga butuh waktu yang lama. Jangan pula risau soal bahan, referensi, nanti saja itu, yang penting semua ide tertuang dahulu. Mencari referensi, membaca buku/artikel bisa membuyarkan ide orisinal, dan memudarkan momentum menulis atau merancang ide lainnya.

Kedua, berpikir logis/realistis. Setelah tahap kreatif di atas dianggap memadai, kita berganti peran sebagai si Logis. Bayangkan kita menghadapi setumpuk naskah, atau draf desain, yang diserahkan oleh seorang penulis atau seniman. Tugas kita harus mematangkannya. Maka, yang akan kita lakukan adalah melihat sistematika dan kelengkapannya, lalu menilai apakah kerangka sudah logis, strukturnya mengikuti kaidah-kaidah yang standar, wajar, dan konsisten? Apakah detail-detailnya sudah memadai, lengkap dengan unsur spesifik yang menguatkan keunikan dan citra yang ingin ditonjolkan? Tugas si Logis di sini yang menyistematisasi, membuatnya lebih fokus dan konsisten pada tema utama, serta melengkapinya dengan detail, gaya, unsur-unsur yang unik, menggugah perasaan penikmat.

Ketiga, berpikir kritis. Kini saatnya pekerjaan dialihkan kepada si Kritikus. Sesuai namanya, di sini kita berperan sebagai tukang kritik. Mulai dari menantang tema, tujuan, hipotesis, hingga asumsi yang digunakan. Menantang sistematika, konsistensi pengungkapan atau penulisan. Hingga sikap kritis terhadap aspek-aspek teknis dan finishing, seperti tata bahasa, titik koma, dan kaidah-kaidah dasar lainnya.

Si Kritikus perlu bersikap sebagai lawan, penguji, atau anggota tim penilai atas proposal (karya). Memosisikan diri sebagai pembeli, konsumen, atau pengguna sehingga hasil yang diharapkan adalah karya yang tahan uji dan layak jual.

Dengan memerankan ketiga aktor/aktris tersebut, maka ketiga peran masing-masing tadi diberi kesempatan untuk berkontribusi. Karena kalau tidak, biasanya, ketiganya bisa saling mengganggu. Saat menggali ide dan mengungkapkan gagasan, muncul gangguan untuk mengoreksi, mengedit; atau "ancaman" dan kekhawatiran kalau ditolak, ditertawakan oleh penguji atau konsumen.

Ketiga tahapan tersebut bisa diulang (iterasi), sampai dirasa lengkap dan meyakinkan untuk disajikan kepada penikmat.

Ikat Makna:
1. Silakan Anda mengambil posisi relaks, santai, bernapas dengan teratur, lupakan sejenak urusan apa pun.
2. Cobalah mengingat suatu saat di mana Anda merasa sangat kreatif, cobalah ingat kapan dan peristiwa apakah itu. Kalau sudah, beralih ke saat Anda merasa sangat realistis, bayangkan peristiwanya, apa yang Anda pikir dan rasakan. Kemudian, beralih ke saat-saat di mana Anda sangat kritis, tajam melihat persoalan, ingat-ingat peristiwa apa itu, bagaimana pikiran dan perasaan Anda saat itu.
3. Cobalah ambil ide, rencana kegiatan, atau rancangan produk yang akan Anda garap.

4. Bawalah ide tersebut ke situasi di mana Anda dalam kondisi yang kreatif, secara bebas keluarkan gagasan apa pun, seideal-idealnya, seaneh-anehnya, hingga jadi ide yang betul-betul Anda inginkan.
5. Bawalah ide yang kreatif itu ke situasi di mana Anda sangat realistis. Kaitkan dengan sumber daya yang ada, baik waktu, dana, kapasitas organisasi, dan manusia yang ada atau bisa diadakan, dan sesuaikan ide Anda dengan pikiran-pikiran realistis.
6. Berikutnya, bawa ide dan usulan penyempurnaan si Realis itu ke situasi di mana Anda merasa jadi kritikus. Cobalah mengkritisi ide tersebut secara konstruktif, adakah yang kurang, risiko gagal atau 'diserang' lawan, dan seterusnya. Lalu, sesuaikan ide tersebut, sehingga menjadi ide kreatif yang sudah disesuaikan dengan realitas kondisi dan diuji secara kritikal.
7. Kalau Anda kurang puas, masih ada yang mengganjal, maka silakan mengulang proses kreatif, realistis, dan kritis tersebut sekali lagi, sampai dirasa siap dilaksanakan.[rm]

* Risfan Munir, konsultan, pelatih di bidang manajemen dan perencanaan, serta penulis buku “Pengembangan Ekonomi Lokal Partisipatif” (2006). Tinggal di Jakarta dan bisa dihubungi melalui email: risfano@yahoo.com.

UNIK: TAK ADA YANG BISA MENJAMIN ANDA SUKSES

Oleh: Syahril Syam

“Engkau harus berjalan, para Buddha hanya menunjukkan jalannya.
~ Dhammapada 276

“Obat bagi kebodohan adalah bertanya dan belajar.”
~ Nabi Muhammad SAW

Saya ingin mengawali tulisan saya ini dengan mengutip sebuah penjelasan menarik yang saya ambil dari buku What Would Buddha Do At Work, berikut ini:

“Berulangkali Buddha mencegah kita mematok pelajarannya menjadi sistem kecil yang rapi. Ia paham betapa kita menginginkan kepastian dan jaminan dalam dunia yang selalu berubah ini. Kita ingin agar dia memberikan “Tujuh Langkah Mudah Menuju Pencerahan”, atau “Sepuluh Cara Agung untuk Mendapatkan Nirwana Sekarang.” Cobalah Saudara melihat-lihat toko buku sekarang—beribu-ribu buku menuliskan tentang cara berpikir manusia. Kita menyukai buku yang menjanjikan kehidupan yang gemilang karena mengikuti sejumlah X langkah, petunjuk, atau daftar.
… Buddha mengatakan bahwa para pengajar harus bisa menahan diri agar tidak merebus semua bahan menurut resep tertentu. Para pelatih tidak boleh memberikan janji-janji palsu dengan menyederhanakan kerumitan dunia usaha. Belajar tidak pernah bisa sistematis karena setiap orang mempunyai caranya tersendiri. Setiap orang harus membuat percobaan, membuat kesalahan, berjuang, bertanya-tanya, menggali berbagai alternatif, dan menemukan caranya sendiri ke jalan menuju pekerjaan yang menyenangkan.
Buddha tinggal bersama para muridnya untuk membantu mereka menemukan jalannya masing-masing.
… mungkin saja Saudara memang memerlukan sedikit pertolongan, memerlukan seseorang tempat bertanya untuk memecahkan masalah, menggali alternatif-alternatif, dan menciptakan kesempatan baru. Akan tetapi, jangan biarkan orang lain mendikte cara-cara mengurus departemen atau organisasi Saudara. Seorang konsultan yang baik adalah seperti seorang dokter: Ia bisa mendiagnosis penyakit Saudara, ia dapat mempelajari kekuatan Saudara, dan ia bisa memberikan informasi serta cara-cara untuk membantu Saudara menjadi sembuh. Namun, pada akhirnya, Saudara sendirilah yang harus makan makanan sehat, menjalani terapi fisik, beristirahat, makan obat yang benar pada waktunya, dan mengerahkan segala upaya untuk menjadi sehat. Saudara sendirilah yang harus mengerjakan dan menyembuhkan diri. Tak ada orang yang bisa menggantikan kewajiban itu, bahkan bila orang itu telah menulis buku tentang bisnis yang sangat laku dan telah tercantum di daftar NY Times. Jadi, jangan sekali-kali bergantung pada kekuasaan orang lain, sekali pun kepada Buddha. Berusahalah!”

Setelah Anda membaca petikan di atas, cobalah untuk melakukan eksperimen sederhana berikut ini: Ambillah sebuah benda (bisa berupa batu, pulpen, atau apa saja) dan kemudian lemparkanlah benda tersebut ke depan Anda sejauh beberapa meter. Sebelum melempar, tandailah terlebih dahulu di mana posisi Anda ketika melempar benda itu. Begitu juga setelah melempar benda tersebut, tandailah juga di mana benda itu jatuh dan berhenti. Nah, sekarang (setelah Anda melempar untuk pertama kalinya) cobalah lagi untuk melempar benda yang sama, dan usahakan agar benda itu jatuh di tempat yang sama. Dan, cobalah untuk melakukannya beberapa kali.

Jika Anda melakukan eksperimen tadi dengan teman Anda, maka kemungkinan teman Anda akan meragukan Anda bisa melempar dan mengenai tempat semula benda itu jatuh. Atau paling tidak, jika Anda masih berhasil melakukannya untuk yang kedua kalinya, maka teman Anda mungkin akan berkata: “Ah, itu kan kebetulan saja.” Tapi, sesungguhnya hal itu bukanlah suatu kebetulan. Artinya, jika Anda memiliki syarat-syarat yang sama ketika pertama kali Anda melempar, maka Anda bisa melakukannya untuk beberapa kali, bahkan dalam percobaan yang tak terhingga sekali pun.

Apa saja syarat-syarat tersebut? Tenaga yang Anda berikan kepada benda tadi, fokus, dan perhatian Anda, kekuatan hembusan angin ketika Anda melempar, dan berbagai macam syarat yang bisa Anda tambahkan. Jadi, jika Anda memberikan tenaga yang sama pada saat melempar kali pertama, begitu juga dengan syarat-syarat yang lain, maka berapa kali pun Anda melempar Anda bisa membuat benda tersebut jatuh di tempat yang sama.

Eksperimen ini menunjukkan kepada kita beberapa hal: Pertama, kita bisa berhasil melakukan apa pun yang kita inginkan jika kita melakukan semua syarat secara persis sama dengan yang dilakukan oleh orang lain yang kita tiru. Namun, hal ini pun menyisakan satu variabel lain yang menjadi pelajaran berikutnya. Kedua, pada saat melempar sebuah benda, tidak selamanya seseorang itu berhasil melakukannya berkali-kali untuk melemparkannya dan mengenai sasaran yang sama. Kenapa demikian? Jawaban yang mungkin adalah: Tidak setiap saat seseorang selalu berada dalam kondisi yang sama yang sesuai dengan syarat-syarat yang dibutuhkan. Untuk menyiapkan kondisi diri supaya selalu persis sama dalam semua syarat sebagaimana keadaan yang diinginkan itu bukanlah hal mudah. Bahkan, itu membutuhkan usaha yang terus-menerus, tanpa henti.

Jawaban yang lain adalah: Masih banyak variabel lain yang mungkin menjadi syarat terpenuhinya suatu keadaan, tapi kita tidak mengetahuinya. Sebagai contoh, ketika kita melemparkan sebuah benda, telah disebutkan variabel-variabel yang menjadi syarat-syarat seperti kekuatan tenaga, kekuatan hembusan angin, fokus dan perhatian. Ini adalah variabel-variabel yang menjadi syarat-syarat terpenuhinya kondisi yang diinginkan. Tapi, kita tidak bisa menutup kemungkinan akan selalu ada variabel lain yang menjadi syarat terhadap kondisi yang kita inginkan. Hanya saja, kita belum mengetahuinya.

Contoh bagus untuk hal ini adalah penelitian-penelitian yang dilakukan oleh begitu banyak peneliti yang meneliti bidang tertentu. Misalkan saja kita ambil satu bidang, yaitu kesuksesan. Begitu banyak penelitian yang dilakukan, yang selalu saja melahirkan variabel baru yang menjadi syarat bagi terpenuhinya kesuksesan seseorang. Belum lagi jika kita memerhatikan faktor keunikan setiap orang.

Penting untuk Anda ketahui bahwa setiap orang tidak sama dengan yang lain. Adalah betul bahwa kita ini sama-sama manusia, namun di balik kesamaan itu, kita pun memiliki berbagai macam perbedaan. Jika kita meninjau argumen ini dari sudut pandang filsafat, maka dua hal yang sama persis itu seharusnya tidak menunjukkan dua hal. Jika kedua benda itu sama persis, maka yang ada semestinya hanya satu benda, dan bukan dua buah benda. Adanya dua buah benda mengisyaratkan kepada kita bahwa ada sesuatu yang berbeda yang dimiliki oleh masing-masing benda tersebut, walaupun juga memiliki beberapa kesamaan.

Nah, perbedaan antara satu manusia dengan manusia lainnya ini, dalam bahasa popular, disebut sebagai UNIK. Penelitian di bidang genetika pun telah membuktikan hal ini, bahwa tidak ada satu pun manusia yang sama persis. Semuanya memiliki keunikan tersendiri. Penelitian ini juga telah membuktikan bahwa untuk setiap satu orang terdapat 70 triliun kombinasi gen yang mungkin terjadi. Dengan demikian, adanya kombinasi gen yang tak terhingga memastikan bahwa tidak akan pernah ada dua makhluk yang sama persis. Anda begitu unik, lho…!

Dengan melihat keunikan ini saja, maka dapat diambil kesimpulan bahwa masih terbuka kemungkinan yang sangat besar untuk adanya variabel lain yang menjadi syarat bagi terpenuhinya keadaan yang diinginkan. Keunikan ini juga mengisyaratkan kepada kita bahwa kondisi yang dimiliki oleh setiap orang itu berbeda-beda. Sebagai contoh, kesabaran. Untuk keperluan tulisan ini, saya ingin mengartikan kesabaran sebagai kemampuan untuk selalu intens melakukan hal-hal yang baik dan bermanfaat bagi diri sendiri. Kita juga bisa melihat dengan sudut pandang yang sedikit berbeda, yaitu kemampuan untuk selalu intens keluar dari zona kenyamanan.

Nah, melakukan hal-hal yang bermanfaat secara rutin itu memerlukan usaha tersendiri, yang takkan bisa jika orang tersebut tidak sabar; karena bisa saja “ketersiksaan” yang dialami pada saat melakukan sesuatu itu akan dipandang sebagai penderitaan. Oleh sebab itu, kesabaran sangat erat kaitannya dengan bersyukur, karena bersyukur bisa diartikan sebagai kemampuan untuk menerima keadaan/kenyataan hidup. Jika Anda merasa “tersiksa” dan mengartikannya sebagai penderitaan, maka kemungkinan besar Anda akan berhenti untuk bersabar.

Kondisi-kondisi seperti ini adalah variabel-variabel yang menjadi syarat untuk sukses, tetapi memiliki tingkatan yang berbeda-beda. Kita tidak bisa serta-merta mengatakan bahwa kita sudah bersabar, karena sesungguhnya kesabaran itu memiliki tingkatan nilai yang berbeda-beda. Perbedaan kondisi ini antara setiap orang berbeda, karena keunikan yang dimiliki oleh masing-masing orang. Jadi tidak alasan untuk menjamin kesuseksan seseorang.

Namun, penting untuk diingat bahwa tulisan ini tidak dimaksudkan bahwa Anda harus berhenti mengikuti berbagai seminar atau workshop, terlebih lagi bagi yang memberikan jaminan kesuksesan bagi Anda. Justru sebaliknya, karena keunikan Anda, maka Anda membutuhkan banyak varibel lain yang membuka peluang besar bagi Anda, sehingga syarat-syarat yang dibutuhkan untuk menggapai kesuksesan bisa terpenuhi. Mengikuti berbagai pelatihan akan membuka wawasan Anda, dan Anda memiliki kemungkinan yang sangat besar untuk menemukan variabel kesuksesan Anda.

Oleh sebab itu, marilah kita mengikuti anjuran Nabi Muhammad SAW: Obat bagi kebodohan adalah bertanya dan belajar. Bukankah kesuksesan itu adalah sebuah proses belajar terus-menerus?[ss]

* Syahril Syam adalah seorang konsultan, terapis, public speaker, dan seorang sahabat yang senantiasa membuka diri untuk berbagi dengan siapa pun. Beliau memadukan kearifan hikmah (filsafat) timur dan kebijaksanaan kuno dari berbagai sumber dengan pengetahuan mutakhir dari dunia barat. Teman-temannya sering memanggilnya sebagai Mind Programmer, dan dapat dihubungi melalui ril_faqir@yahoo.com

UNIK: TAK ADA YANG BISA MENJAMIN ANDA SUKSES

Oleh: Syahril Syam

“Engkau harus berjalan, para Buddha hanya menunjukkan jalannya.
~ Dhammapada 276

“Obat bagi kebodohan adalah bertanya dan belajar.”
~ Nabi Muhammad SAW

Saya ingin mengawali tulisan saya ini dengan mengutip sebuah penjelasan menarik yang saya ambil dari buku What Would Buddha Do At Work, berikut ini:

“Berulangkali Buddha mencegah kita mematok pelajarannya menjadi sistem kecil yang rapi. Ia paham betapa kita menginginkan kepastian dan jaminan dalam dunia yang selalu berubah ini. Kita ingin agar dia memberikan “Tujuh Langkah Mudah Menuju Pencerahan”, atau “Sepuluh Cara Agung untuk Mendapatkan Nirwana Sekarang.” Cobalah Saudara melihat-lihat toko buku sekarang—beribu-ribu buku menuliskan tentang cara berpikir manusia. Kita menyukai buku yang menjanjikan kehidupan yang gemilang karena mengikuti sejumlah X langkah, petunjuk, atau daftar.
… Buddha mengatakan bahwa para pengajar harus bisa menahan diri agar tidak merebus semua bahan menurut resep tertentu. Para pelatih tidak boleh memberikan janji-janji palsu dengan menyederhanakan kerumitan dunia usaha. Belajar tidak pernah bisa sistematis karena setiap orang mempunyai caranya tersendiri. Setiap orang harus membuat percobaan, membuat kesalahan, berjuang, bertanya-tanya, menggali berbagai alternatif, dan menemukan caranya sendiri ke jalan menuju pekerjaan yang menyenangkan.
Buddha tinggal bersama para muridnya untuk membantu mereka menemukan jalannya masing-masing.
… mungkin saja Saudara memang memerlukan sedikit pertolongan, memerlukan seseorang tempat bertanya untuk memecahkan masalah, menggali alternatif-alternatif, dan menciptakan kesempatan baru. Akan tetapi, jangan biarkan orang lain mendikte cara-cara mengurus departemen atau organisasi Saudara. Seorang konsultan yang baik adalah seperti seorang dokter: Ia bisa mendiagnosis penyakit Saudara, ia dapat mempelajari kekuatan Saudara, dan ia bisa memberikan informasi serta cara-cara untuk membantu Saudara menjadi sembuh. Namun, pada akhirnya, Saudara sendirilah yang harus makan makanan sehat, menjalani terapi fisik, beristirahat, makan obat yang benar pada waktunya, dan mengerahkan segala upaya untuk menjadi sehat. Saudara sendirilah yang harus mengerjakan dan menyembuhkan diri. Tak ada orang yang bisa menggantikan kewajiban itu, bahkan bila orang itu telah menulis buku tentang bisnis yang sangat laku dan telah tercantum di daftar NY Times. Jadi, jangan sekali-kali bergantung pada kekuasaan orang lain, sekali pun kepada Buddha. Berusahalah!”

Setelah Anda membaca petikan di atas, cobalah untuk melakukan eksperimen sederhana berikut ini: Ambillah sebuah benda (bisa berupa batu, pulpen, atau apa saja) dan kemudian lemparkanlah benda tersebut ke depan Anda sejauh beberapa meter. Sebelum melempar, tandailah terlebih dahulu di mana posisi Anda ketika melempar benda itu. Begitu juga setelah melempar benda tersebut, tandailah juga di mana benda itu jatuh dan berhenti. Nah, sekarang (setelah Anda melempar untuk pertama kalinya) cobalah lagi untuk melempar benda yang sama, dan usahakan agar benda itu jatuh di tempat yang sama. Dan, cobalah untuk melakukannya beberapa kali.

Jika Anda melakukan eksperimen tadi dengan teman Anda, maka kemungkinan teman Anda akan meragukan Anda bisa melempar dan mengenai tempat semula benda itu jatuh. Atau paling tidak, jika Anda masih berhasil melakukannya untuk yang kedua kalinya, maka teman Anda mungkin akan berkata: “Ah, itu kan kebetulan saja.” Tapi, sesungguhnya hal itu bukanlah suatu kebetulan. Artinya, jika Anda memiliki syarat-syarat yang sama ketika pertama kali Anda melempar, maka Anda bisa melakukannya untuk beberapa kali, bahkan dalam percobaan yang tak terhingga sekali pun.

Apa saja syarat-syarat tersebut? Tenaga yang Anda berikan kepada benda tadi, fokus, dan perhatian Anda, kekuatan hembusan angin ketika Anda melempar, dan berbagai macam syarat yang bisa Anda tambahkan. Jadi, jika Anda memberikan tenaga yang sama pada saat melempar kali pertama, begitu juga dengan syarat-syarat yang lain, maka berapa kali pun Anda melempar Anda bisa membuat benda tersebut jatuh di tempat yang sama.

Eksperimen ini menunjukkan kepada kita beberapa hal: Pertama, kita bisa berhasil melakukan apa pun yang kita inginkan jika kita melakukan semua syarat secara persis sama dengan yang dilakukan oleh orang lain yang kita tiru. Namun, hal ini pun menyisakan satu variabel lain yang menjadi pelajaran berikutnya. Kedua, pada saat melempar sebuah benda, tidak selamanya seseorang itu berhasil melakukannya berkali-kali untuk melemparkannya dan mengenai sasaran yang sama. Kenapa demikian? Jawaban yang mungkin adalah: Tidak setiap saat seseorang selalu berada dalam kondisi yang sama yang sesuai dengan syarat-syarat yang dibutuhkan. Untuk menyiapkan kondisi diri supaya selalu persis sama dalam semua syarat sebagaimana keadaan yang diinginkan itu bukanlah hal mudah. Bahkan, itu membutuhkan usaha yang terus-menerus, tanpa henti.

Jawaban yang lain adalah: Masih banyak variabel lain yang mungkin menjadi syarat terpenuhinya suatu keadaan, tapi kita tidak mengetahuinya. Sebagai contoh, ketika kita melemparkan sebuah benda, telah disebutkan variabel-variabel yang menjadi syarat-syarat seperti kekuatan tenaga, kekuatan hembusan angin, fokus dan perhatian. Ini adalah variabel-variabel yang menjadi syarat-syarat terpenuhinya kondisi yang diinginkan. Tapi, kita tidak bisa menutup kemungkinan akan selalu ada variabel lain yang menjadi syarat terhadap kondisi yang kita inginkan. Hanya saja, kita belum mengetahuinya.

Contoh bagus untuk hal ini adalah penelitian-penelitian yang dilakukan oleh begitu banyak peneliti yang meneliti bidang tertentu. Misalkan saja kita ambil satu bidang, yaitu kesuksesan. Begitu banyak penelitian yang dilakukan, yang selalu saja melahirkan variabel baru yang menjadi syarat bagi terpenuhinya kesuksesan seseorang. Belum lagi jika kita memerhatikan faktor keunikan setiap orang.

Penting untuk Anda ketahui bahwa setiap orang tidak sama dengan yang lain. Adalah betul bahwa kita ini sama-sama manusia, namun di balik kesamaan itu, kita pun memiliki berbagai macam perbedaan. Jika kita meninjau argumen ini dari sudut pandang filsafat, maka dua hal yang sama persis itu seharusnya tidak menunjukkan dua hal. Jika kedua benda itu sama persis, maka yang ada semestinya hanya satu benda, dan bukan dua buah benda. Adanya dua buah benda mengisyaratkan kepada kita bahwa ada sesuatu yang berbeda yang dimiliki oleh masing-masing benda tersebut, walaupun juga memiliki beberapa kesamaan.

Nah, perbedaan antara satu manusia dengan manusia lainnya ini, dalam bahasa popular, disebut sebagai UNIK. Penelitian di bidang genetika pun telah membuktikan hal ini, bahwa tidak ada satu pun manusia yang sama persis. Semuanya memiliki keunikan tersendiri. Penelitian ini juga telah membuktikan bahwa untuk setiap satu orang terdapat 70 triliun kombinasi gen yang mungkin terjadi. Dengan demikian, adanya kombinasi gen yang tak terhingga memastikan bahwa tidak akan pernah ada dua makhluk yang sama persis. Anda begitu unik, lho…!

Dengan melihat keunikan ini saja, maka dapat diambil kesimpulan bahwa masih terbuka kemungkinan yang sangat besar untuk adanya variabel lain yang menjadi syarat bagi terpenuhinya keadaan yang diinginkan. Keunikan ini juga mengisyaratkan kepada kita bahwa kondisi yang dimiliki oleh setiap orang itu berbeda-beda. Sebagai contoh, kesabaran. Untuk keperluan tulisan ini, saya ingin mengartikan kesabaran sebagai kemampuan untuk selalu intens melakukan hal-hal yang baik dan bermanfaat bagi diri sendiri. Kita juga bisa melihat dengan sudut pandang yang sedikit berbeda, yaitu kemampuan untuk selalu intens keluar dari zona kenyamanan.

Nah, melakukan hal-hal yang bermanfaat secara rutin itu memerlukan usaha tersendiri, yang takkan bisa jika orang tersebut tidak sabar; karena bisa saja “ketersiksaan” yang dialami pada saat melakukan sesuatu itu akan dipandang sebagai penderitaan. Oleh sebab itu, kesabaran sangat erat kaitannya dengan bersyukur, karena bersyukur bisa diartikan sebagai kemampuan untuk menerima keadaan/kenyataan hidup. Jika Anda merasa “tersiksa” dan mengartikannya sebagai penderitaan, maka kemungkinan besar Anda akan berhenti untuk bersabar.

Kondisi-kondisi seperti ini adalah variabel-variabel yang menjadi syarat untuk sukses, tetapi memiliki tingkatan yang berbeda-beda. Kita tidak bisa serta-merta mengatakan bahwa kita sudah bersabar, karena sesungguhnya kesabaran itu memiliki tingkatan nilai yang berbeda-beda. Perbedaan kondisi ini antara setiap orang berbeda, karena keunikan yang dimiliki oleh masing-masing orang. Jadi tidak alasan untuk menjamin kesuseksan seseorang.

Namun, penting untuk diingat bahwa tulisan ini tidak dimaksudkan bahwa Anda harus berhenti mengikuti berbagai seminar atau workshop, terlebih lagi bagi yang memberikan jaminan kesuksesan bagi Anda. Justru sebaliknya, karena keunikan Anda, maka Anda membutuhkan banyak varibel lain yang membuka peluang besar bagi Anda, sehingga syarat-syarat yang dibutuhkan untuk menggapai kesuksesan bisa terpenuhi. Mengikuti berbagai pelatihan akan membuka wawasan Anda, dan Anda memiliki kemungkinan yang sangat besar untuk menemukan variabel kesuksesan Anda.

Oleh sebab itu, marilah kita mengikuti anjuran Nabi Muhammad SAW: Obat bagi kebodohan adalah bertanya dan belajar. Bukankah kesuksesan itu adalah sebuah proses belajar terus-menerus?[ss]

* Syahril Syam adalah seorang konsultan, terapis, public speaker, dan seorang sahabat yang senantiasa membuka diri untuk berbagi dengan siapa pun. Beliau memadukan kearifan hikmah (filsafat) timur dan kebijaksanaan kuno dari berbagai sumber dengan pengetahuan mutakhir dari dunia barat. Teman-temannya sering memanggilnya sebagai Mind Programmer, dan dapat dihubungi melalui ril_faqir@yahoo.com

UNIK: TAK ADA YANG BISA MENJAMIN ANDA SUKSES

Oleh: Syahril Syam

“Engkau harus berjalan, para Buddha hanya menunjukkan jalannya.
~ Dhammapada 276

“Obat bagi kebodohan adalah bertanya dan belajar.”
~ Nabi Muhammad SAW

Saya ingin mengawali tulisan saya ini dengan mengutip sebuah penjelasan menarik yang saya ambil dari buku What Would Buddha Do At Work, berikut ini:

“Berulangkali Buddha mencegah kita mematok pelajarannya menjadi sistem kecil yang rapi. Ia paham betapa kita menginginkan kepastian dan jaminan dalam dunia yang selalu berubah ini. Kita ingin agar dia memberikan “Tujuh Langkah Mudah Menuju Pencerahan”, atau “Sepuluh Cara Agung untuk Mendapatkan Nirwana Sekarang.” Cobalah Saudara melihat-lihat toko buku sekarang—beribu-ribu buku menuliskan tentang cara berpikir manusia. Kita menyukai buku yang menjanjikan kehidupan yang gemilang karena mengikuti sejumlah X langkah, petunjuk, atau daftar.
… Buddha mengatakan bahwa para pengajar harus bisa menahan diri agar tidak merebus semua bahan menurut resep tertentu. Para pelatih tidak boleh memberikan janji-janji palsu dengan menyederhanakan kerumitan dunia usaha. Belajar tidak pernah bisa sistematis karena setiap orang mempunyai caranya tersendiri. Setiap orang harus membuat percobaan, membuat kesalahan, berjuang, bertanya-tanya, menggali berbagai alternatif, dan menemukan caranya sendiri ke jalan menuju pekerjaan yang menyenangkan.
Buddha tinggal bersama para muridnya untuk membantu mereka menemukan jalannya masing-masing.
… mungkin saja Saudara memang memerlukan sedikit pertolongan, memerlukan seseorang tempat bertanya untuk memecahkan masalah, menggali alternatif-alternatif, dan menciptakan kesempatan baru. Akan tetapi, jangan biarkan orang lain mendikte cara-cara mengurus departemen atau organisasi Saudara. Seorang konsultan yang baik adalah seperti seorang dokter: Ia bisa mendiagnosis penyakit Saudara, ia dapat mempelajari kekuatan Saudara, dan ia bisa memberikan informasi serta cara-cara untuk membantu Saudara menjadi sembuh. Namun, pada akhirnya, Saudara sendirilah yang harus makan makanan sehat, menjalani terapi fisik, beristirahat, makan obat yang benar pada waktunya, dan mengerahkan segala upaya untuk menjadi sehat. Saudara sendirilah yang harus mengerjakan dan menyembuhkan diri. Tak ada orang yang bisa menggantikan kewajiban itu, bahkan bila orang itu telah menulis buku tentang bisnis yang sangat laku dan telah tercantum di daftar NY Times. Jadi, jangan sekali-kali bergantung pada kekuasaan orang lain, sekali pun kepada Buddha. Berusahalah!”

Setelah Anda membaca petikan di atas, cobalah untuk melakukan eksperimen sederhana berikut ini: Ambillah sebuah benda (bisa berupa batu, pulpen, atau apa saja) dan kemudian lemparkanlah benda tersebut ke depan Anda sejauh beberapa meter. Sebelum melempar, tandailah terlebih dahulu di mana posisi Anda ketika melempar benda itu. Begitu juga setelah melempar benda tersebut, tandailah juga di mana benda itu jatuh dan berhenti. Nah, sekarang (setelah Anda melempar untuk pertama kalinya) cobalah lagi untuk melempar benda yang sama, dan usahakan agar benda itu jatuh di tempat yang sama. Dan, cobalah untuk melakukannya beberapa kali.

Jika Anda melakukan eksperimen tadi dengan teman Anda, maka kemungkinan teman Anda akan meragukan Anda bisa melempar dan mengenai tempat semula benda itu jatuh. Atau paling tidak, jika Anda masih berhasil melakukannya untuk yang kedua kalinya, maka teman Anda mungkin akan berkata: “Ah, itu kan kebetulan saja.” Tapi, sesungguhnya hal itu bukanlah suatu kebetulan. Artinya, jika Anda memiliki syarat-syarat yang sama ketika pertama kali Anda melempar, maka Anda bisa melakukannya untuk beberapa kali, bahkan dalam percobaan yang tak terhingga sekali pun.

Apa saja syarat-syarat tersebut? Tenaga yang Anda berikan kepada benda tadi, fokus, dan perhatian Anda, kekuatan hembusan angin ketika Anda melempar, dan berbagai macam syarat yang bisa Anda tambahkan. Jadi, jika Anda memberikan tenaga yang sama pada saat melempar kali pertama, begitu juga dengan syarat-syarat yang lain, maka berapa kali pun Anda melempar Anda bisa membuat benda tersebut jatuh di tempat yang sama.

Eksperimen ini menunjukkan kepada kita beberapa hal: Pertama, kita bisa berhasil melakukan apa pun yang kita inginkan jika kita melakukan semua syarat secara persis sama dengan yang dilakukan oleh orang lain yang kita tiru. Namun, hal ini pun menyisakan satu variabel lain yang menjadi pelajaran berikutnya. Kedua, pada saat melempar sebuah benda, tidak selamanya seseorang itu berhasil melakukannya berkali-kali untuk melemparkannya dan mengenai sasaran yang sama. Kenapa demikian? Jawaban yang mungkin adalah: Tidak setiap saat seseorang selalu berada dalam kondisi yang sama yang sesuai dengan syarat-syarat yang dibutuhkan. Untuk menyiapkan kondisi diri supaya selalu persis sama dalam semua syarat sebagaimana keadaan yang diinginkan itu bukanlah hal mudah. Bahkan, itu membutuhkan usaha yang terus-menerus, tanpa henti.

Jawaban yang lain adalah: Masih banyak variabel lain yang mungkin menjadi syarat terpenuhinya suatu keadaan, tapi kita tidak mengetahuinya. Sebagai contoh, ketika kita melemparkan sebuah benda, telah disebutkan variabel-variabel yang menjadi syarat-syarat seperti kekuatan tenaga, kekuatan hembusan angin, fokus dan perhatian. Ini adalah variabel-variabel yang menjadi syarat-syarat terpenuhinya kondisi yang diinginkan. Tapi, kita tidak bisa menutup kemungkinan akan selalu ada variabel lain yang menjadi syarat terhadap kondisi yang kita inginkan. Hanya saja, kita belum mengetahuinya.

Contoh bagus untuk hal ini adalah penelitian-penelitian yang dilakukan oleh begitu banyak peneliti yang meneliti bidang tertentu. Misalkan saja kita ambil satu bidang, yaitu kesuksesan. Begitu banyak penelitian yang dilakukan, yang selalu saja melahirkan variabel baru yang menjadi syarat bagi terpenuhinya kesuksesan seseorang. Belum lagi jika kita memerhatikan faktor keunikan setiap orang.

Penting untuk Anda ketahui bahwa setiap orang tidak sama dengan yang lain. Adalah betul bahwa kita ini sama-sama manusia, namun di balik kesamaan itu, kita pun memiliki berbagai macam perbedaan. Jika kita meninjau argumen ini dari sudut pandang filsafat, maka dua hal yang sama persis itu seharusnya tidak menunjukkan dua hal. Jika kedua benda itu sama persis, maka yang ada semestinya hanya satu benda, dan bukan dua buah benda. Adanya dua buah benda mengisyaratkan kepada kita bahwa ada sesuatu yang berbeda yang dimiliki oleh masing-masing benda tersebut, walaupun juga memiliki beberapa kesamaan.

Nah, perbedaan antara satu manusia dengan manusia lainnya ini, dalam bahasa popular, disebut sebagai UNIK. Penelitian di bidang genetika pun telah membuktikan hal ini, bahwa tidak ada satu pun manusia yang sama persis. Semuanya memiliki keunikan tersendiri. Penelitian ini juga telah membuktikan bahwa untuk setiap satu orang terdapat 70 triliun kombinasi gen yang mungkin terjadi. Dengan demikian, adanya kombinasi gen yang tak terhingga memastikan bahwa tidak akan pernah ada dua makhluk yang sama persis. Anda begitu unik, lho…!

Dengan melihat keunikan ini saja, maka dapat diambil kesimpulan bahwa masih terbuka kemungkinan yang sangat besar untuk adanya variabel lain yang menjadi syarat bagi terpenuhinya keadaan yang diinginkan. Keunikan ini juga mengisyaratkan kepada kita bahwa kondisi yang dimiliki oleh setiap orang itu berbeda-beda. Sebagai contoh, kesabaran. Untuk keperluan tulisan ini, saya ingin mengartikan kesabaran sebagai kemampuan untuk selalu intens melakukan hal-hal yang baik dan bermanfaat bagi diri sendiri. Kita juga bisa melihat dengan sudut pandang yang sedikit berbeda, yaitu kemampuan untuk selalu intens keluar dari zona kenyamanan.

Nah, melakukan hal-hal yang bermanfaat secara rutin itu memerlukan usaha tersendiri, yang takkan bisa jika orang tersebut tidak sabar; karena bisa saja “ketersiksaan” yang dialami pada saat melakukan sesuatu itu akan dipandang sebagai penderitaan. Oleh sebab itu, kesabaran sangat erat kaitannya dengan bersyukur, karena bersyukur bisa diartikan sebagai kemampuan untuk menerima keadaan/kenyataan hidup. Jika Anda merasa “tersiksa” dan mengartikannya sebagai penderitaan, maka kemungkinan besar Anda akan berhenti untuk bersabar.

Kondisi-kondisi seperti ini adalah variabel-variabel yang menjadi syarat untuk sukses, tetapi memiliki tingkatan yang berbeda-beda. Kita tidak bisa serta-merta mengatakan bahwa kita sudah bersabar, karena sesungguhnya kesabaran itu memiliki tingkatan nilai yang berbeda-beda. Perbedaan kondisi ini antara setiap orang berbeda, karena keunikan yang dimiliki oleh masing-masing orang. Jadi tidak alasan untuk menjamin kesuseksan seseorang.

Namun, penting untuk diingat bahwa tulisan ini tidak dimaksudkan bahwa Anda harus berhenti mengikuti berbagai seminar atau workshop, terlebih lagi bagi yang memberikan jaminan kesuksesan bagi Anda. Justru sebaliknya, karena keunikan Anda, maka Anda membutuhkan banyak varibel lain yang membuka peluang besar bagi Anda, sehingga syarat-syarat yang dibutuhkan untuk menggapai kesuksesan bisa terpenuhi. Mengikuti berbagai pelatihan akan membuka wawasan Anda, dan Anda memiliki kemungkinan yang sangat besar untuk menemukan variabel kesuksesan Anda.

Oleh sebab itu, marilah kita mengikuti anjuran Nabi Muhammad SAW: Obat bagi kebodohan adalah bertanya dan belajar. Bukankah kesuksesan itu adalah sebuah proses belajar terus-menerus?[ss]

* Syahril Syam adalah seorang konsultan, terapis, public speaker, dan seorang sahabat yang senantiasa membuka diri untuk berbagi dengan siapa pun. Beliau memadukan kearifan hikmah (filsafat) timur dan kebijaksanaan kuno dari berbagai sumber dengan pengetahuan mutakhir dari dunia barat. Teman-temannya sering memanggilnya sebagai Mind Programmer, dan dapat dihubungi melalui ril_faqir@yahoo.com

toko-delta.blogspot.com

Archives

Postingan Populer

linkwithin

Related Posts with Thumbnails

Total Tayangan Halaman

Diberdayakan oleh Blogger.