toko-delta.blogspot.com

menu

instanx

Sabtu, 08 November 2008

Kekuatan Pilihan

Oleh: Syahril Syam


Cobalah Anda perhatikan di sekeliling Anda. Perhatikanlah dengan seksama alam semesta ini. Mari kita awali analisis kita pada tumbuhan. Baik yang pertumbuhan awalnya lewat biji atau tunas, semua tumbuhan itu mengawali tumbuhnya mulai dari kecil hingga besar. Perkembangan tumbuhan ini tidak terjadi dengan sekejap, tapi memiliki ketentuan waktu. Dan antara tumbuhan satu dengan tumbuhan yang lain memiliki kadar waktu yang berbeda-beda.

Ada tumbuhan yang proses tumbuhnya menghasilkan bunga saja, dan ada yang menghasilkan buah. Pada tumbuhan juga terjadi proses fotesintesis/asimilasi, dimana proses ini mengolah makanan yang di ambil oleh akarnya. Akar tumbuhan “bergerak” menyebar dan mendalam ke dalam tanah. Jika bertemu dengan benda keras, maka akar ini akan berbelok arah untuk memperkokoh dirinya dan mendapatkan makanan yang penting bagi dirinya. Walhasil proses perkembangan tumbuhan ini berjalan sudah dengan kadar yang semestinya, dan pada akhirnya akan mengalami mati.

Setelah kita melihat tumbuhan, kita akan mengamati binatang. Tidak jauh berbeda dengan tumbuhan, binatang pun mengawali proses hidupnya lewat telur, dan tumbuh menjadi besar. Kalau kita mengambil satu sampel binatang, yaitu burung, maka akan kita dapati bahwa dalam proses beranjak dewasa, burung akan belajar untuk terbang dan mencari makanan untuk dirinya sendiri. Awalnya, burung tersebut akan mengalami beberapa hambatan ketika mengawali terbang perdananya. Namun, dalam proses tersebut, tak ada burung yang berhenti mencoba dan mencoba untuk terbang.

Jika kita perhatikan, maka upaya burung tersebut untuk terbang sama dengan upaya kita sewaktu kecil untuk mencoba berbalik, duduk, merangkak, dan berdiri. Semua upaya ini dilakukan dengan beberapa hambatan. Namun, seperti halnya burung tersebut, kita pun dulu tidak pernah berhenti untuk mencoba dan mencoba.

Seperti layaknya tumbuhan dan binatang, terdapat sesuatu pada diri kita yang memilki proses yang sama dengan tumbuhan dan binatang, yaitu raga/fisik kita. Kita pun mengawali proses hidup kita dari telur dan berkembang menjadi besar. Semua ini adalah proses alam. Dalam bahasa filsafat semua ini memiliki tujuan, hingga proses berkembang tersebut sebenarnya proses menuju tujuan atau menuju kesempurnaan. Oleh karena ini proses alam yang menuju tujuan, maka setiap hambatan adalah bagian dari proses menuju tujuan atau proses menyempurna. Itulah sebabnya, istilah gagal tidak ada dalam kamus tumbuhan, binatang, dan raga/fisik kita. Seperti layaknya tumbuhan tadi, jika akarnya menemukan benda keras, maka akarnya akan berbelok arah. Menggugurkan daun pun merupakan cara tumbuhan dalam melewati proses hidupnya ketika menemukan hambatan. Begitu pula ketika seekor burung belajar terbang, belum bisanya burung tersebut mengepakkan sayap secara sempurna membuatnya untuk terus berusaha. Hal ini juga terlihat jelas pada seorang anak kecil yang baru belajar berjalan.

Dalam proses menyempurna ini, tak ada pilihan. Semuanya bersifat deterministik. Oleh karena itu gerak alam ini bersifat deterministik, dan berjalan sesuai dengan hukum-hukumnya. Karena bersifat deterministik dan sesuai hukum-hukumnya, maka setiap hambatan itu bukanlah sebuah kegagalan, namun merupakan bagian dari proses menuju tujuan atau menyempurna. Hambatan ini bersifat investasi atau berbagi.

Perlu diketahui bahwa tak ada satu pun dari alam ini yang lahir dari ketiadaan. Karena ketiadaan mustahil melahirkan ketiadaan. Itulah sebabnya dalam fisika dikenal hukum kekekalan energi. Bahwa energi itu tak dapat diciptakan juga tak dapat dimusnahkan. Energi hanya mengalami proses perpindahan atau perubahan bentuk saja. Proses perubahan atau proses menuju tujuan atau proses menyempurna ini mengalami saling berbagi/investasi antara satu dan yang lainnya untuk suatu keharmonisan hidup dan kelangsungan hidup. Dengan kata lain keseimbangan alam akan terjadi jika proses berbagi ini dijalankan. Keseimbangan alam ini akan menjamin semua elemen untuk bertahan hidup lama dan “memunculkan” elemen alam yang lain.

Hambatan inilah yang menjadi “warning” bagi alam untuk senantiasa berbagi/investasi. Jika mengalami musim tertentu atau waktu-waktu tertentu, tumbuhan akan menggugurkan daunnya. Menggugurkan daun merupakan cara bagi tumbuhan untuk berbagi dengan tanah. Hal ini juga merupakan investasi bagi tumbuhan, dimana menggugurkan daun akan meningkatkan vitalitas tumbuhan dalam berfotosintesis dan juga akan membuat tanah menjadi subur. Begitu pula ketika akarnya menemukan benda keras, maka hal ini akan membuat akar tersebut bekerja ekstra dan berbagi ruang dengan benda keras, sehingga membuat tumbuhan tersebut menjadi kokoh.

Pada binatang pun demikian. Hambatan pertama ketika mengepakkan sayap dari seekor burung akan justru menguatkan sayapnya untuk suatu saat nanti membuat dirinya terbang. Begitu pula pada seorang anak kecil. Jika Anda mengalami kerugian jutaan sampai miliaran rupiah, lihatlah hambatan ini sebagai sebuah investasi/berbagi. Siapa tahu, memang, Anda belum cukup memberi selama ini kepada orang-orang di sekitar Anda.

Seperti yang telah dikemukakan, deterministiknya alam ini tidak melahirkan pilihan. Dan oleh karena itu, hambatan yang ada merupakan bagian dari proses untuk menyempurna. Itulah sebabnya istilah gagal tak ada dalam kamus alam. Namun, lain halnya dengan manusia. Sewaktu kecil, potensi kehendak bebasnya belum teraktual. Anak-anak masih bergerak didasarkan pada kebutuhan-kebutuhan fisik semata (sama halnya dengan tumbuhan dan binatang). Dan ketika kehendak bebasnya telah teraktual, maka lahirlah apa yang disebut dengan PILIHAN. Jadi, kekuatan pilihan adalah sebuah konsekuensi dari adanya kehendak bebas yang manusia miliki. Dengan kehendak bebas, seorang manusia bebas memilih untuk selaras dengan alam (yaitu melakukan proses menuju tujuan atau menyempurna, bersama-sama dengan raga/fisiknya) atau kemudian memilih untuk berhenti berproses ketika menemukan hambatan hidup. Pada titik berhenti berproseslah (ketika menemukan hambatan), istilah gagal itu tercipta. Jadi, kegagalan adalah sebuah ilusi yang dibuat manusia karena mereka (dengan kehendak bebasnya) lebih memilih untuk berhenti menyempurna, dibandingkan untuk terus berproses menuju kesempurnaan hidup.

Lantas, untuk apa kita memiliki kekuatan pilihan ini. Dengan adanya pilihan hidup, maka kita bisa lebih cepat menuju tujuan hidup/menyempurna. Kita bisa dengan bebasnya memilih strategi-strategi hidup yang kita inginkan. Kita bisa memilih jalan yang lebih cepat. Kita bisa memilih untuk senatiasa belajar untuk keperluan hidup kita.

Namun, kekuatan pilihan juga menciptakan konsekuensi yang lain pula. Seperti yang telah dikemukakan di atas. Kita pun bisa memilih untuk tetap seperti keadaan kita saat ini, atau kita juga bisa memilih untuk berlawanan arah dengan tujuan hidup yang sesungguhnya atau menyempurna. Inilah, mungkin, yang dimaksudakan dalam ajaran agama, bahwa manusia itu bisa lebih sempurna daripada malaikat dan bisa juga lebih jahat dan hina daripada binatang. Semua itu berpulang pada kita untuk memanfaatkan kekuatan pilihan yang ada pada kita. Yang jelas, kekuatan pilihan yang lahir dari kehendak bebas, adalah suatu anugerah bagi kita (kaum manusia) untuk bisa memilih jalan hidup yang terbaik (sekaligus mengatur keseimbangan alam, karena pengaturan alam tak dapat dilakukan oleh tumbuhan dan binatang yang tak punya kekuatan pilihan) atau bisa juga kita memilih untuk stagnan, kembali ke masa lalu, dan berbuat sesuatu yang berlawanan dengan fitrah kemanusiaan kita yang ingin senantiasa menuju kesempurnaan yang hakiki. Semua tergantung dari PILIHAN ANDA?[]

* Syahril Syam adalah seorang trainer tentang peningkatan kualitas hidup. Saat ini saya berdomisili di Makassar. Anda bisa menghubungi saya di ril_faqir@yahoo.com.

INSTRUMEN ORANG KAYA

Oleh: Ardian Syam*


Sebagian besar orang kaya di Indonesia adalah pengusaha. Sebagian adalah pegawai dengan posisi tertinggi di perusahaan tempat mereka masing-masing bekerja. Sebagian besar dari semua orang kaya Indonesia, saya yakin, suka memberikan sumbangan. Baik diketahui publik maupun tidak. Sangat menyenangkan memang bila kita lihat dari sisi tersebut. Setiap orang akan saling membantu sehingga masalah yang sangat besar menjadi mengecil dan dapat ditanggulangi.

Satu hal yang dilupakan oleh para pengusaha tersebut. Pasar tidak hanya bisa dicari, tetapi juga bisa dibuat. Setiap kali Anda, para pengusaha, mengalami hambatan di satu pasar yang selama ini menjadi tempat mereka berusaha, maka mereka akan mencari pasar yang baru. Mungkin juga Anda akan mencari produk baru yang biasa disebut second curve product karena Anda menganggap pasar mulai jenuh dengan produk yang selama ini Anda jual.

Tetapi pasar bisa dibuat. Bila sekelompok orang di wilayah atau di negara Anda berada di bawah tingkat ekonomi tertentu sehingga saat ini belum mampu membeli produk yang Anda jual, pernahkah Anda pikirkan bahwa bila mereka menjadi lebih makmur, maka mereka akan mampu membeli produk Anda?

Ya, Anda pasti ingin produk Anda lebih banyak terjual. Hal yang paling sering Anda lakukan adalah menghemat biaya produksi. Anda menggunakan konsep activity-base cost system sehingga tercapai cost effectiveness bagi produk yang Anda jual, sehingga harga jual produk menjadi lebih kompetitif dibanding pesaing. Tetapi apa yang terjadi kemudian?

Kompetitor Anda kemudian akan merasa bahwa mereka yang sekarang mulai kehilangan pembeli, produk mereka yang terjual menjadi berkurang. Mereka kemudian akan melakukan hal yang kurang lebih sama dengan yang telah Anda lakukan. Kemudian harga produk mereka menjadi lebih kompetitif dibandingkan dengan produk yang Anda jual. Dan perang ini tidak akan pernah selesai sampai salah satu dari Anda kemudian mati dan menambah jumlah orang miskin di negara ini.

Sebuah kejadian yang sama sekali tidak lagi menarik? Anda sedang berusaha dengan gaya petinju. Anda baru bisa menang bila lawan tergeletak lemas dan tidak lagi bisa melanjutkan pertandingan. Pernah terpikir berusaha dengan gaya pembalap? Anda menang karena lebih baik dan tidak perlu menyebabkan lawan berhenti dan tidak lagi bisa melanjutkan permainan. Bila belum pernah melakukan, cobalah sesekali Anda lihat pertandingan balap F1 atau balap sepeda. Semua peserta pertandingan terus melakukan permainan, terus berlomba sampai mereka menyelesaikan lintasan yang harus dilalui walaupun telah ada pemenang. Anda tidak perlu membuat pesaing kehilangan kemampuan berusaha sekedar agar Anda bisa menang.

Daripada mematikan pesaing Anda, bagaimana bila kita semua mulai memikirkan bagaimana meningkatkan daya beli, makmurkan lebih banyak lagi orang, sehingga mereka berada di tingkat ekonomi yang dapat membeli dan mengkonsumsi produk Anda. Anda bukan hanya memenangkan kompetisi, Anda juga akan dihargai oleh kompetitor, juga oleh orang-orang yang Anda makmurkan.

Lalu pada saat Anda ingin membuat mereka menjadi lebih makmur, menjadi konsumen yang memiliki daya beli untuk mendapatkan produk Anda, maka tidak ada jalan lain selain dimakmurkan dengan menggunakan instrumen yang Anda gunakan untuk menjadikan diri Anda lebih makmur.

Merujuk pada 4 kuadran yang diajarkan oleh Robert T Kiyosaki, maka yang menjadi cara yang paling tepat untuk menjadi kaya adalah 2 kuadran yang berada di kanan: menjadi pemilik bisnis atau menanamkan investemen kepada bisnis lain yang sudah ada.

Andai Anda masih belum percaya mari kita lihat 2 kuadran sebelah kiri yaitu: employee dan self employment. Sebagai seorang pegawai perusahaan Anda tidak akan bisa benar-benar kaya sebagaimana yang Anda inginkan. Bahkan sebagai seorang Direktur Utama, Anda harus menunggu waktu satu kali setahun minimal, yaitu pada saat rapat umum pemegang saham, bila Anda ingin meningkatkan gaji Anda. Bahkan bila Anda menduduki posisi lebih rendah tentu saja Anda harus menunggu orang lain termasuk Direktur Utama bila ingin naik gaji. Sehingga employee bukanlah cara untuk menjadi orang kaya. Menjadi pegawai bukan instrumen orang kaya.

Self employment yang dicontohkan oleh Kiyosaki adalah pengacara atau dokter yang praktek sendiri. Sebagai profesional Anda dapat mengendalikan biaya yang akan Anda keluarkan dalam usaha. Tetapi kalau Anda tidak dapat meningkatkan laba usaha, Anda tidak dapat mempercepat perolehan pendapatan. Mengapa demikian? Anda hanya berusaha sendiri. Andai pun ada perawat atau paralegal membantu Anda, tetapi mereka hanya membantu dalam pekerjaan yang datang. Tidak ada seorang pun yang membantu untuk memasarkan usaha Anda.

Tanggung jawab, kewenangan, kerja keras untuk melakukan pemasaran hanya berada di pundak Anda. Anda akan kelelahan melakukan dua hal yang berbeda. Tanggung jawab memasarkan dan tanggung jawab menjaga kualitas layanan yang Anda berikan. Anda yang bekerja di perusahaan tentu tahu bahwa kedua tanggung jawab tersebut tidak dilakukan oleh tim yang sama. Akan lebih berat lagi bila dua tanggung jawab tersebut dilaksanakan oleh satu orang yang sama.

Saya pernah tahu seorang dokter obgin yang kemudian punya klinik bersalin. Tiga tanggung jawab bahkan dia rangkap sendiri. Menjaga kualitas layanan sebagai dokter, melakukan upaya-upaya pemasaran, dan mengelola klinik. Dokter itu sangat kelelahan dan kemudian sering melakukan kesalahan diagnosa ataupun kesalahan dalam melakukan tindakan atas kasus-kasus yang muncul. Apa yang kemudian terjadi? Klinik itu semakin lama semakin sepi karena para pasien mulai tidak percaya dengan kualitas layanan sang dokter.

Berarti sekarang tinggal 2 kuadran yang di sisi kanan yang masih bisa dianggap sebagai instrumen orang kaya. Pemilik bisnis, adalah salah satu instrumen orang kaya. Dengan memiliki bisnis sendiri, sesuai sumber daya yang dimiliki maka kita bisa memiliki tim yang melakukan operasi harian usaha kita dan ada tim lain yang melakukan upaya-upaya pemasaran. Cari kesenangan Anda yang bisa dijadikan produktif. Pendidikan, perdagangan umum, pertanian, penginapan apa saja yang Anda minati. Karena Anda bisa lebih konsentrasi dalam mengelola, mengarahkan langkah-langkah operasional dan memandu upaya-upaya pemasaran karena minat Anda cukup tinggi di bisnis tersebut.

Anda bisa memodali bisnis tersebut sendiri atau bersama-sama dengan orang lain. Silakan baca buku yang ditulis Purdi E Chandra bila ingin tahu cara memulai bisnis dengan modal atau uang orang lain. Dengan menjalankan bisnis maka Anda dan tim yang menentukan berapa penghasilan yang akan Anda terima. Baca lagi pula Cashflow Quadrant karya Kiyosaki sehingga Anda tahu bagaimana mengatur cash flow Anda dengan baik.

Bila Anda telah menjalankan bisnis sendiri dan telah mencapai omset di atas 1 miliar rupiah per tahun, apalagi telah mencapai 1 miliar rupiah per triwulan, maka sudah tiba saat bagi Anda untuk memperhatikan orang-orang yang punya semangat, konsentrasi penuh, dan bersedia menjalankan bisnis sendiri. Dengan demikian Anda akan menumbuhkan satu pebisnis baru sekaligus mengajarkan orang itu bagaimana cara yang terbaik untuk menjalankan bisnis dengan uang orang lain.

Berusahalah untuk tidak terlalu serakah. Buatlah pembagian laba 50:50, toh Anda tidak menjalankan sendiri bisnis tersebut. Anda hanya menginveskan modal untuk menjalankan bisnis tersebut. Semakin banyak bisnis orang lain yang Anda bantu untuk tumbuh maka akan semakin banyak kemakmuran tumbuh di sekitar Anda. Bila bisnis Anda sendiri menghasilkan produk atau jasa yang berkualitas tinggi, maka bisnis mereka akan mengkonsumsi produk atau jasa yang dihasilkan oleh bisnis Anda. Bisa Anda bayangkan seberapa banyak konsumsi mereka bila bisnis mereka sudah tumbuh semakin besar. Dengan demikian Anda akan memiliki pelanggan yang setia, tentu saja selain karena kualitas produk atau jasa dari bisnis Anda memang baik, toh Anda yang membantu mereka untuk tumbuh. Sehingga sangat sedikit alasan bagi mereka untuk mengkonsumsi produk atau jasa dari perusahaan lain.

Sekarang selain Anda telah memasuki kuadran investemen untuk menjadi lebih makmur, Anda juga sudah membuat orang lain menjadi lebih makmur. Orang-orang yang akan menjadi pasar dari bisnis Anda sendiri. Orang-orang yang akan bersama-sama Anda membantu orang lain lagi untuk mempunyai bisnis sendiri dan menjadi lebih makmur. Kemudian semua orang makmur dalam kelompok ini akan membantu banyak orang miskin, membantu sekolah-sekolah, menciptakan lebih banyak lagi lapangan kerja, memintarkan generasi muda.

Menjadi kaya dengan instrumen orang kaya ternyata bisa membuat hidup banyak orang menjadi lebih indah. Hidup memang indah, bukan?

* Ardian Syam adalah seorang akademisi yang tinggal di Medan dan saat ini sedang menyusun sebuah buku. Ia dapat dihubungi di: ardian.syam@gmail.com

Membangun Bangsa dengan Entrepreneur

Oleh: Abdul Muid Badrun*


Diakui atau tidak, sebagian besar masyarakat kita saat ini masih beranggapan bahwa sekolah (kuliah) atau menuntut ilmu hanya bisa dilakukan di jalur formal semata, mulai dari TK sampai Perguruan Tinggi (PT). Anggapan ini dilatar belakangi adanya pemahaman bersama bahwa pendidikan formal dipercaya mampu mengantarkan anak didik menuju kesuksesan. Baik secara materi (finansial) maupun non-materi (kebahagiaan).

Menuntut ilmu, entah itu namanya sekolah, kuliah, kursus, atau yang lain, tidak mesti dilakukan di lingkungan formal. Karena, jika hal itu dimaknai sebagai proses belajar, maka kita bisa melakukannya di mana pun kita berada dan kapan pun. Prinsipnya, belajar adalah proses yang punya tujuan pasti. Jika tidak, maka proses itu akan berakhir dengan sis-sia.

Melihat kenyataan angka pengangguran yang semakin meningkat dewasa ini, mestinya masyarakat tidak menggantungkan nasib hanya dari modal kuliah semata. Rumusan bahwa kuliah menjamin pekerjaan mapan seharusnya ditinggalkan.

PT yang selama ini dituduh menjadi salah satu penyebab meningkatnya angka pengangguran juga tidak mampu berubah dari kebiasaan lamanya. Yaitu, tetap menganggap mahasiswa sebagai bagian dari faktor produksi semata. Akibatnya, kemajuan sebuah PT baik negeri maupun swasta saat ini sangat ditentukan dari besarnya input mahasiswa diterima dan besarnya sumbangan yang dibayarkan.

Kita lihat saja di Yogyakarta misalnya, sebanyak 84 Perguruan Tinggi Swasta (PTS) dan 4 Perguruan Tinggi Negeri (PTN), hidupnya sangat bergantung pada pemasukan dari mahasiswa. Fenomena PTS yang gulung tikar selama ini lebih disebabkan karena tiadanya mahasiswa yang mendaftar. Menjadi lulusan PTN (meski sekarang mahal biayanya) juga tidak menjamin bisa langsung diterima kerja. Semua terasa sama saja.

Menurut saya, setidaknya ada tiga alasan mendasar yang bisa diungkap berkaitan dengan masalah sulitnya lulusan PT bisa diterima dunia kerja.

Pertama, institusi pendidikan (TK, SD, SMP, SMA, PT) telah menjadi alat politik kekuasaan, sehingga membonsai kemajuan pendidikan itu sendiri.

Kedua, kurikulum yang diajarkan sejak awal tidak berorientasi pada kebutuhan pasar. Sehingga, ketika lulus, dia kesulitan mau kerja apa dan di mana. Lahirlah generasi mertanggung (pintar tidak, bodoh juga tidak).

Ketiga, kesejahteraan pendidik (guru maupun dosen) masih sulit diharapkan. Akibatnya, mengajar bukan lagi menjadi profesi utama melainkan profesi sampingan.

Berdasarkan realitas di atas, muncul pertanyaan mendasar, apakah pendidikan tinggi itu diperlukan atau tidak? Jawabannya, tentu bukan perlu atau tidak perlu, namun karena sekolah, kuliah, maupun pendidikan formal lainnya tetap diperlukan. Lebih-lebih dalam menghadapi persaingan global. Akan tetapi, masyarakat jangan lagi terjebak pada mitos bahwa kuliah adalah cara paling ideal meraih sukses.

Karena itu, bagi yang tidak bisa kuliah sampai sekarang karena makin tingginya biaya kuliah, maka jangan berpikiran masa depannya akan suram. Karena, banyak jalan menuju kesuksesan hidup, salah satunya adalah dengan berwirausaha (menjadi entrepreneur atau buka bisnis).

Dalam Buku Kaya Tanpa Bekerja (2004) Safak Muhammad memberikan jawaban bagaimana orang melanjutkan kuliah atau tidak kuliah sangat tergantung pada empat hal.

Pertama, tujuan hidup. Jika tujuan hidup anda ingin sukses dan ukurannya adalah pekerjaan 'aman' dan gaji bagus, maka kuliah (mungkin) tepat. Akan tetapi, anda harus bersiap-siap kecewa bahkan frustasi jika dikemudian hari tidak berhasil mendapatkannya.

Berbagai penelitian di Amerika, seperti yang dilakukan Thomas Stanley terhadap lebih dari 730 miliarder ternyata memiliki bisnis sendiri (entrepreneur) dan sisanya profesional yang bekerja sendiri (self employee) seperti dokter dan akuntan publik. Riset ini, membuktikan bahwa kuliah ternyata tidak mampu menjadi satu-satunya jalan untuk meraih kemakmuran hidup.

Kedua, bakat, minat dan potensi diri. Jika anda yakin kuliah merupakan cara tepat mengembangkan bakat, minat, dan potensi diri anda, serta mendekatkan kepada tujuan hidup anda, maka pilihan kuliah cukup realistis. Jika tidak, maka anda harus memilih cara lain seperti berbisnis daripada membuang-buang waktu untuk hal-hal yang tidak sesuai dengan potensi anda. Jika dipaksakan, meski anda mendapat pekerjaan, maka anda tidak akan mencintai pekerjaan anda. Akibatnya, anda terpaksa bekerja dan karir anda akan sulit berkembang.

Ketiga, biaya. Sekali lagi, ada pemahaman salah di tengah masyarakat yang berkata satu-satunya cara mendapatkan pekerjaan harus dengan kuliah. Puluhan juta bahkan ratusan juta rupiah mereka keluarkan untuk kuliah agar nanti dapat pekerjaan. Kenyataannya, jika tidak mendapat pekerjaan atau dapat kerja namun dengan gaji pas-pasan maka ia akan kecewa, stres, dan semakin miskin. Bayangkan, jika biaya ratusan juta itu dipakai untuk modal membuka bisnis (menjadi entrepreneur). Maka, peluang kecewa itu bisa diminimalisir. Tidak rugi waktu juga uang.

Keempat, waktu. Untuk menjadi sarjana, sedikitnya dibutuhkan waktu empat sampai lima tahun, sehingga jangan sampai anda sia-siakan waktu panjang itu. Itu artinya, jika anda tidak yakin bahwa kuliah bisa mendekatkan pada tujuan hidup sementara anda tetap saja kuliah, maka Anda akan membuang waktu percuma. Hasilnya, anda akan menjadi manusia setengah-setengah dan tidak mampu bersaing ditingkat nasional maupun global. Karena itu, jangan sampai anda membuat keputusan yang salah dalam masalah penting ini.

Nah, dengan empat pertimbangan di atas, diharapkan seluruh masyarakat khususnya para mahasiswa menyadari betul apa sebenarnya tujuan hidup yang ingin dicapai. Bila Anda sekarang kebetulan telah memilih menjadi entrepreneur karena tidak kuliah, maka jangan takut dikatakan tidak intelek atau tidak berpendidikan. Karena, Anda bisa belajar secara otodidak. Bisa dengan cara membaca buku, mengikuti seminar, diskusi, workshop, training, dan lain sebagainya.

Karena itu, belajar tidak harus di sekolah formal. Sebab, ilmu ada di mana-mana, di "sekolah besar" kehidupan ini. Dengan bahasa lain, mulai sekarang kita perlu mengubah mindset (pola pikir) masyarakat Indonesia pada umumya bahwa sukses (kemakmuran, kekayaan, penghasilan tinggi) tidak selalu identik dengan gelar akademik, tetapi sukses adalah hak semua orang meski tidak pernah mengenyam bangku kuliah sekalipun.

Melihat realitas hidup yang ada sekarang, kebutuhan melahirkan generasi entrepreneur untuk bisa meraih kemakmuran hidup bisa menjadi solusi bangsa ini ke depan. Sejak kecil anak didik kita mesti diajarkan bagaimana hidup mandiri, mengenal dan mengelola uang, serta belajar untuk hidup disiplin. Peran orangtua dalam menumbuhkembangkan jiwa dan mentalitas mandiri bagi lahirnya generasi entrepreneur sangat dibutuhkan. Bagaimana mungkin, bangsa ini bisa mengurangi pengangguran jika tidak ada keberanian untuk melahirkan generasi entrepreneur (wirausaha).

Pesan yang disampaikan Shibusawa Eiichi, seorang wirausahawan dan aktor perubahan sosial di Jepang patut kita renungkan: "Jika engkau seorang yang berkemampuan jadilah pedagang, namun jika engkau setengah-setengah jadilah pegawai. Semoga, bangsa ini bisa bercermin diri akan masalah banyaknya pengangguran dewasa ini. Sehingga, tidak lagi disebut bangsa besar bermental kuli, namun bangsa besar yang berdikari dalam bidang ekonomi.[]

* Abdul Muid Badrun adalah Direktur Eksekutif Center for Education and Entrepreneurship Studies (CEES) dan Pembelajar Bisnis dan Manajemen STIE Widya Wiwaha Yogyakarta. Ia dapat dihubungi di: abdulmuidbadrun@yahoo.com

Mengatasi Perasaan Takut Gagal

Oleh Ade Asep Syarifuddin


KAWAN saya sudah lima tahun berpacaran, tapi belum juga melangsungkan pernikahan. Dia bilang takut bercerai setelah menikah. Sementara tetangga saya ingin sekali mengembangkan bisnis jual beli pakaian seperti pamannya, tapi setelah ditimbang-timbang nggak mulai-mulai. Di bilang takut rugi, apalagi kondisi perekonomian sedang lesu. Kalau untung tidak masalah, kalau rugi kan risikonya cukup besar. Dan banyak lagi cerita-cerita yang sering kita dengar sehari-hari yang intinya takut melangkah karena takut dengan risiko kegagalan.

Pandangan-pandangan tersebut jelas merupakan cara berpikir yang tidak tepat. Hidup ini pilihan-pilihan, kita sendiri yang menentukan jadi apa, apakah jadi pengusaha, pegawai negeri, pedagang, tentara, polisi, wartawan, penyiar radio, konsultan atau apa pun profesi yang ada dan setiap pilihan ada risiko-risiko yang mesti ditanggung. Seorang polisi lalulitas misalnya, memiliki risiko berpanas-panasan apabila jalanan macet. Itu benar-benar terjadi di kota-kota besar, sementara seorang wartawan pun tidak lepas dari risiko komplain dari pembacanya apabila beritanya cukup kritis kepada kelompok tertentu. Jadi, profesi apa yang tidak memiliki risiko? Apakah pegawai negeri lantas tidak mempunyai risiko? Tidak juga, pegawai negeri sipil risikonya memiliki pendapatan bulanan yang pas-pasan karena usahanya juga pas-pasan dan sangat minimal. Karena semua profesi rentan dengan risiko, berarti kita harus selalu siap menghadapi perubahan-perubahan jaman dan kompetisi dengan pihak lain dan tidak lantas bermalas-malasan karena merasa pekerjaannya ada di wilayah yang aman.

Bagaimana hubungan antara risiko dengan takut gagal? Sebelum membahas risiko dan kegagalan ada baiknya kita membahas dulu cara kerja pikiran kita. Bila ada sesuatu kejadian di luar diri kita, sesuatu kejadian itu sifatnya netral, yang memberikan makna kepda kejadian itu adalah pikiran kita sendiri. Ketika mendengar satu kata, pikiran lantas membuat makna berupa simbol terhadap kata tadi sekaligus membuat makna yang berisi nilai—positif maupu negatif—dari kata tadi. Kalau referensi awal tentang satu kata tersebut negatif, maka setiap mendengar kata tersebut akan negatif terus. Sebaliknya, apabila referensi awalnya positif, akan positif selamanya. Tapi tidak usah khawatir, ada satu cara untuk me-reporgramming pikiran kita, sehingga mindset awal yang negatif bisa diubah menjadi positif dengan suatu metode.

Kalau pikiran bisa diprogram, berarti kesuksesan pun apakah bisa diprogram? Betul sekali, kesuksesan bisa diprogram asalkan memiliki komitmen dan kemauan untuk senantiasa memelihara pikiran ke arah yang kita inginkan. Kita mengendalikan pikiran, bukan kita yang dikendalikan oleh pikiran. Sukses misalnya, itu bisa diprogram lewat pikiran dengan cara kita selalu berpikir tentang kesuksesan yang kita inginkan. Contoh, kita ingin menjadi pengusaha yang memiliki keuntungan sebulan Rp50 juta. Namun pada bulan pertama keinginan tersebut belum tercapai. Tapi terus menerus dicoba lagi dan dicoba lagi sampai akhirnya tercapai. Selagi pikiran kita berpikir sukses, maka kemungkinan sukses itu akan datang. Persoalannya hanya waktu yang mungkin tidak sesuai dengan yang kira harapkan. Bila kita cukup sabar dan yakin suatu ketika akan sukses, ini merupakan modal awal yang cukup berharga. Sebab, waktu kita bukanlah waktu Tuhan. Kita ingin secepatnya mencapai suatu tujuan. Kesannya tergesa-gesa, terburu-buru, sementara Tuhan sendiri memiliki waktu sendiri. Artinya, selagi orang itu memelihara keinginan disertai dengan usaha dan berdoa, maka suatu ketika akan sampai juga. Problemnya, kita tidak mengetahui jarak tempuh untuk mencapai tujuan kita itu berapa lama. Ini merupakan rahasia Tuhan yang harus dilengkapi dengan senjata optimisme terus menerus. Jadi, sukses = usaha terus menerus + optimisme yang membara.

Bila kita melakukan sesuatu dan belum tercapai, itulah sebenarnya yang menurut kamus orang yang tidak sukses disebut g-a-g-a-l. Padahal menurut kamus orang sukses, hal itu hanyalah keinginan yang belum tercapai. Keinginan yang belum tercapai tersebut bisa jadi rugi, untung kecil, atau kondisi pasar tidak kondusif. Kondisi-kondisi tersebut dinamakan risiko. Artinya, ketika kita merencanakan sesuatu dalam kehidupan ini, hal apa saja, kemudian kita sudah siap risiko yang paling tidak enak sekalipun, maka pada saat itu juga tidak ada kata g-a-g-a-l. Maju terus pantang mundur.

Jadi, ketika sudah mematangkan suatu rencana berikut untung rugi dan risikonya, langkah kedua adalah berbuat. Setelah berbuat, kita akan tahu, mengapa belum tercapai rencana-rencana yang kita tetakan dan dari sana kita bisa mengetahui penyebabnya. Tapi kalau belum apa-apa sudah takut melangkah karena takut g-a-g-a-l, dan mengeset pikirannya untuk g-a-g-a-l, maka yang dipikirkannya akan terjadi. Wong sewaktu kita menetapkan tujuan, salah satu risikonya adalah tidak tercapai, mengapa kita merasa takut tujuan itu tidak tercapai. Kalau belum tercapai ya coba lagi dan coba lagi sampai tercapai, titik. Beres kan. Mengapa terlalu banyak pertimbangan yang akhirnya tidak melakukan perbuatan apa-apa. Lebih baik gagal lima kali, tapi mencoba 15 kali, ketimbang tidak gagal tapi tidak pernah berbuat apa pun.

Tipe-tipe orang yang tidak mau menghadapi risiko adalah tipe orang yang mencari aman, berada di wilayah comfort zone. Menurut Robert K. Tiyosaki orang yang berada di comfort zone salah satunya adalah karyawan. Setiap bulan dia mendapatkan kepastian finansial.,Kerja keras atau tidak keras pendapatannya tetap segitu-gitu saja sebelum gajinya dinaikkan. Tapi memang secara risiko mereka aman, tidak akan dipusingkan oleh harga-harga di luar yang naik turun, fluktuasi dollar terhadap rupiah. Tapi lagi-lagi “tipe karyawan” --saya sebutkan di sini tipe karyawan, tidak semua karayawan seperti ini karena banyak karyawan yang memiliki usaha sendiri—sangat sulit untuk berkembang, karena dirinya telah membuat tembok-tembok yang kuat untuk membentengi dirinya supaya aman dan nyaman dan tidak ada badai risiko yang bisa tembus ke benteng tadi.

Sementara tipe pengusaha, entrepreneur, adalah orang yang memiliki watak dare to fail berani gagal (judul buku Billi PS Liem). Ini adalah dunia yang sebenar-benarnya. Manusia hidup dalam sebuah reality show yang menarik. Dibutuhkan seni untuk menghadapinya, sehingga kasus demi kasus yang terjadi dapat disikapi dengan tepat dan membawa kita ke arah pola hidup dan cara pikir yang lebih baik lagi. Bagaimana kalau pengusaha tidak berani, khawatir tujuannya tidak tercapai, terlalu banyak pertimbangan, lebih banyak memikirkan risiko ketimbang fokus ke tujuan. Saya jamin dia akan batal jadi pengusaha. Karena tipe pengusaha itu coba dulu baru evaluasi, bahkan prinsip mereka agak dekat ke nekat-nekat gitu, risiko belakangan.

Acara-acara reality show di televisi yang menguji ketangguhan dan keberanian seseorang apakah Fear Factor, atau yang lainnya, cukup positif untuk dijadikan bahan perbandingan kita dalam menginspirasi untuk mencapai tujuan. Hanya yang berani, ulet, tekun, gigih, pantang menyerah dan mental baja sajalah yang dapat menjadi juara alias mencapai tujuan yang diinginkan. Sementara yang pesimis, negatif thingking, buruk sangka, mengambil kesimpulan jelek sebelum sesuatu terjadi, dia hanya akan menjadi pecundang dan merugikan dirinya sendiri. Jadi tinggal pilih juga sebenarnya, mau sukses atau mau g-a-g-a-l. Kalau ingin sukses, sekali lagi, pikirkah tentang kesuksesan setip saat, kapan pun dan di mana pun, sebeliknya kalau mau jadi pecundang, pikirlah yang tidak enak-tidak enak.

Dalam kenyataannya, pikiran memiliki hukum-hukum sendiri. Pikiran itu bukan kita dan kita buka pikiran. Pikiran itu sangat liar dan tidak bisa diatur kecuali oleh pawangnya. Hukum pikiran yang pertama, pikirkan segala sesuatu yang ingin kita pikirkan, kedua, hentikan berpikir apabila kita tidak ingin memikirkan sesuatu pikiran, yang ketiga, kontrol pikiran dengan kesadaran. Kesadaran itulah yang menjadi pawang pikiran, asalkan segala pikiran yang muncul dikonfirmasi ulang kepada kesadaran, maka kita akan senantisa berpikir yang kita inginkan. Contoh sederhana, kita berpikir tentang sesuatu, ingin ke luar negeri misalnya karena mendapatkan bonus akhir tahun, kalau kita bertanya ulang kepada diri sendiri, mengapa saya harus ke luar negeri, apa manfaatnya, apakah bukan pemborosan? Setelah ditimbang-timbang ternyata disimpulkan, memang harus ke luar negeri untuk mengadopsi pengalaman dan kultur negeri lain yang sudah maju. Proses berpikir ulang dan menimbang-nimbang itu adalah posisi kesadaran mengontrol pikiran. Demikian halnya apabila kita berpikir tentang keburukan seseorang, tanyakan kembali, mengapa kita harus berburuk sangka pada orang itu, apa manfaatnya, apakah lebih baik berbaik sangka saja karena belum ada bukti yang kuat bahwa orang itu berbuat salah. Proses memikirkan kembali itu adalah posisi kesadaran juga. Di sini kesadaran sudah berbuat sesuai dengan yang kita inginkan, bukan sebaliknya, berbuat sesuatu yang pikiran inginkan.

Kembali kepada gagasan awal, tidak ada alasan untuk takut gagal karena mencoba sesuatu. Kalu mau mencoba ya, lakukan saja kalau sudah melalui tahap pertimbangan yang cukup matang dan tidak lantas terjebak dalam kebingungan, bimbang, ragu dan sikap-sikap sejenisnya. Dan yang perlu dicatat, orang yang berani mengambil risiko hanyalah orang-orang yang sukses. Terserah, tinggal pilih yang mana. Kegagalan atau keberhasilan dimulai dari pikiran kita sendiri.[] * Ade Asep Syarifuddin adalah trainer yang berbasiskan NLP, motivator SDM. Selain menekuni training SDM, ia juga adalah Editor in Chief dan General Manager pada Harian Radar Banyumas di Purwokerto. Dia dapat dihubungi lewat e-mail: ade_asep@yahoo.com atau Hp: +628122670444.

Keuntungan-keuntungan Luar Biasa yang Bisa Anda Nikmati Bila Pelayanan Konsumer Topcer Anda Terapkan

Oleh: Joshua W. Utomo, M.Div., D.Hyp., C.Ht.*


(Bagian 3)

“If we don’t take care of the customer…somebody else will.”

Artikel ini saya tulis sebagai lanjutan dari dua seri artikel saya sebelumnya, sekaligus untuk menjawab keraguan beberapa pembaca mulai yang masih mempertanyakan dan bahkan meragukan pentingnya pelayanan (service) konsumer dan peran kuncinya bagi kesinambungan, peningkatan, dan perkembangan usaha (perusahaan atau organisasi nirlaba) yang kita kelola.

Untuk lebih memperjelas perbincangan kita kali ini, saya ingin menyarikan pertanyaan-pertanyaan yang masih simpang-siur itu--baik yang secara implisit atau eksplisit masih meragukan akan pentingnya pelayanan (service) ini kedalam satu pertanyaan singkat berikut ini:

“Mengapa pelayanan (service) konsumer topcer ini memegang peran yang sangat penting (vital) bagi organisasi (laba dan nirlaba) yang kita kelola?”

Anda mungkin akan menemukan beberapa informasi atau pembahasan yang tertuang dalam artikel ini sudah pernah saya singgung sebelumnya lewat dua artikel saya yang lalu (Rahasia Satu dan Dua) itu. Ini saya sengaja dan ingat kesalahan bukan pada pesawat televisi Anda—ini semua ada maksudnya, kok yaitu: penerapan prinsip repetisi (pengulang-ulangan; silahkan membaca tentang prinsip yang sangat penting ini dalam artikel saya yang lainnya).

Baiklah, mari kita kembali pada pertanyaan singkat: ” Kenapa pelayanan (service) konsumer topcer ini memegang peran yang sangat penting bagi organisasi (laba dan nir-laba) yang kita kelola?” itu. Sebuah pertanyaan yang amat sederhana, namun, kini tugas kita untuk mencari jawabannya.

Untuk menjawab pertanyaan sederhana itu, saya pertama-tama ingin mengajak Anda untuk melihat keuntungan-keuntungan luar biasa dan yang mampu mengalirkan suasana yang amat positif yang bisa Anda, perusahaan Anda, dan para konsumer Anda nikmati bila pelayanan konsumer topcer ini Anda terapkan.

Anda mungkin masih bertanya-tanya: “Apa sih sebenarnya keuntungan-keuntungan (the profits), manfaat (the benefits), dan hasil positif (the positive results) yang bisa saya petik dari penerapan pelayanan konsumer topcer ini?” Jawabannya: ada banyak sekali keuntungan (the profits), manfaat (the benefits), dan hasil positif (the positive results) yang bisa Anda nikmati di antaranya:

1. Anda dan para staf Anda (konsumer dalam) akan merasa lebih santai, tenang dan senang saat melakukan aktifitas kerja. Suasana kerja benar-benar berubah menjadi lebih enak dan menyenangkan. Efektifitas dan efisiensi kerja pun tercapai dan terjaga dengan baik sehingga akhirnya tingkat produktivitas kerja pun akan meningkat secara signifikan pula.

2. Konsumer luar (External Client) Anda pun akan menjadi lebih senang dan lebih mudah untuk dilayani; kontak bisnis Anda dengan mereka akan berlangsung mulus dan berjalan dengan lancar.

3. Konsumer luar (External Client) dan para staf perusahaan(Internal Client) Anda pun pasti akan merasa puas dan senang. Mereka pun pada akhirnya tak akan segan-segan untuk mengungkapan ucapan terima kasih, apresiasi, dan penghargaan mereka pada Anda dengan tulus.

4. Reputasi, pamor, dan kebonafiditasan Anda sebagai pribadi sekaligus pengusaha pun akan naik dan,

5. Secara otomatis reputasi, pamor, dan kebonafiditasan perusahaan Anda pun akan semakin meroket saja;

6. Lalu ketika Anda/staf perusahaan Anda melakukan kesalahan, atau jika sekalipun ada sesuatu yang salah saat memproses transaksi Anda dengan para konsumer Anda itu, konsumer Anda pasti akan dengan senang hati, terbuka, dan murah hati memaafkan Anda/staf perusahaan Anda.

Sebenarnya masih banyak lagi keuntungan-keuntungan yang bisa Anda/staf Anda nikmati, bila Anda dan semua staf Anda berkenan menerapkan pelayanan konsumer topcer dengan baik dan sepenuh hati.

Apabila nanti Anda sekalian telah benar-benar menerapkan Rahasia Pelayanan Konsumer Topcer ini dan telah bisa menikmati keuntungan-keuntungan, manfaat, dan hasil positif darinya, silahkan mengirimkan e-mail Anda ke Pembelajar.com atau langsung kepada saya (prof_jw@yahoo.com). Terima kasih!

+++++++

Baiklah, kita telah membahas secara panjang lebar manfaat, keuntungan dan hasil positif yang luar biasa bagi Anda dan perusahaan Anda jika Anda menerapkan Rahasia Pelayanan Konsumer Topcer itu, sekarang apa manfaat, keuntungan, dan hasil positif yang bisa dinikmati oleh para konsumer Anda?

Satu prinsip lagi yang harus kita ingat: “Anda harus mampu memberikan jaminan nyata bahwa konsumer Anda akan mendapatkan dan bisa menikmati manfaat, keuntungan, dan hasil yang terbaik jika mereka melakukan transaksi bisnis dengan Anda”.

Prinsip penting selanjutnya: “Setiap konsumer pasti selalu mencari manfaat, keuntungan, dan hasil yang positif dan terbaik yang bisa mereka nikmati ketika melakukan transaksi bisnis entah skala kecil atau besar.”

Tanpa adanya jaminan nyata dari Anda dan perusahaan Anda bahwa mereka akan bisa menerima dan menikmati manfaat, keuntungan dan hasil terbaik dari transaksi bisnis yang akan mereka lakukan, kemungkinan besar mereka pasti akan segera menghentikan rencana bisnis mereka dengan Anda. Dengan kata lain: rencana tinggal rencana, transaksi bisnis hanyalah fantasi belaka.

Dan seperti yang saya sebutkan di awal artikel berseri ini: “If you don’t take care of your customer…somebody else will,” – jangan menangis atau menyesal bila konsumer-konsumer Anda itu akan segera meninggalkan Anda, lari mendekati perusahaan-perusahaan lain di sekeliling Anda. Mereka beruntung, sebaliknya Anda pun amat buntung!

Nah, untuk itu sekarang marilah kita membahas dengan tuntas keuntungan-keuntungan, manfaat, hasil positif yang bisa dinikmati oleh para konsumer perusahaan Anda bila Anda semua menerapkan pelayanan konsumer topcer:

1. Konsumer Anda pasti akan merasa senang, tenang, dan tak khawatir lagi saat menjalin transaksi bisnis dengan perusahaan Anda;

2. Konsumer Anda pasti akan merasa beruntung karena mereka merasa telah mengambil pilihan yang terbaik dengan melakukan transaksi bisnis dengan perusahaan Anda.

3. Konsumer Anda pasti tak akan pernah merasa ragu atau bimbang untuk terus melakukan jalinan bisnis dengan Anda di masa sekarang dan mendatang, karena mereka merasa yakin (seyakin-yakinnya) bahwa Anda pasti akan memberikan pelayanan Anda yang terbaik, yang luar biasa dan sangat professional ketika menjawab setiap pertanyaan, kekhawatiran, dan masalah mereka yang mungkin muncul saat melakukan kontak bisnis dengan perusahaan Anda.

Apabila nanti Anda telah menerima komplimen, sanjungan, dan komentar positif dari para konsumer Anda atas keberhasilan Anda menerapkan pelayanan konsumer topcer ini—silahkan kirimkan pengalaman Anda ke Pembelajar.com atau langsung kepada saya via prof_jw@yahoo.com.

Dan buat para konsumer sekalian bila Anda menerima pelayanan topcer jangan sungkan-sungkan kirimkan juga pengalaman Anda! Terima kasih!

* Joshua W. Utomo, M.Div., D.Hyp., C.Ht., adalah seorang psikoterapis, penyair, corporate trainer/entertainer, motivator/hipnoterapis, dan penulis yang sekarang sedang berkelana di Boston, AS. Dia adalah pendiri Heal & Grow Center™ (www.healandgrowcenter.com) sebuah pusat penyembuhan holistik. Bersama istrinya (Cynthia C. Laksawana) mendirikan Sanggar Kinanthi™(www.sanggar-kinanthi.com) dan JW Utomo Productions™ (http://masterhypnotistusa.tripod.com) sebagai wahana mereka berseni-budaya dan berkiprah bagi kemanusiaan. Dia dapat dihubungi via prof_jw@yahoo.com.

MEMBERDAYAKAN DIRI DAN MENJADI MANUSIA PEMBERDAYA

Oleh Sansulung John Sum


Ada hal yang lebih besar daripada yang sekadar berwujud, lebih besar dan melampaui kesuksesan. Orang-orang yang penuh semangat akan hal ini digerakkan oleh suara hati mereka. Mereka mengerjakan apa yang menurut suara hatinya pantas dan esensial untuk dikerjakan.

Selalu ada orang-orang yang lebih sukses daripada mereka, tetapi mereka tidak membiarkannya mempengaruhi panggilan unik yang mereka jalani. Mereka mengejar sesuatu yang lebih bernilai bagi kehidupan mereka. Itulah signifikansi atau kebermaknaan, yang menunjuk pada sifat penting, arti, nilai, esensi, dan relevansi suatu hal.

Istilah Suara yang didengungkan oleh Stephen Covey dalam The 8th Habit, sejatinya adalah Makna Personal Yang Unik—kebermaknaan yang tersingkap ketika kita menghadapi tantangan-tantangan kita yang terbesar, dan yang membuat kita mengimbangi tantangan-tantangan tersebut.

Konsultan pengembangan karier dan kreativitas, Dick Richards mengungkapkan empat sumberdaya energi yang perlu dipadukan untuk menjawab aneka tantangan, yaitu: Fisik, Mental, Emosional, dan Spiritual. Jika Anda sukses menyertakan keempat energi tersebut, maka hasil yang Anda raih akan bertahan dalam jangka panjang. (Artful Work,Metalexia, 2003).

Di dalam diri Anda dan saya terdapat kerinduan yang mendalam, yang ada sejak kita lahir, dan yang hampir tak terucapkan, untuk menemukan panggilan jiwa atau makna kita yang unik dalam hidup ini. Pertanyaan-pertanyaan di bawah ini akan membantu atau mengarahkan radar hati kita untuk menemukan Suara panggilan kita itu. Keempat pertanyaan ini paralel dengan empat perspektif yang saya tampilkan dalam lampiran buku saya, Awaking The Excellent Habit (Gradien Books, 2006).

1. Finansial (Fisik/PQ): Kebutuhan apa yang saya rasakan, dalam keluarga saya, dalam komunitas saya, dalam organisasi tempat kerja saya?

2. Mental (Pikiran/IQ): Apakah saya punya bakat yang bila diterapkan dengan disiplin dapat memenuhi kebutuhan tersebut?

3. Sosial (Hati/EQ): Apakah kesempatan untuk memenuhi kebutuhan tersebut akan membuat saya bergairah?

4. Spiritual (Jiwa/SQ): Apakah sanubari saya menginspirasi saya untuk bertindak dan terlibat di situ?

Jika kita dapat menjawab keempat pertanyaan tersebut secara positif dan bersedia melakukan kebiasaan untuk mengembangkan rencana tindakan, dan kemudian mulai bekerja, Stephen Covey menjamin kita akan mulai menemukan Suara panggilan jiwa kita yang sesungguhnya dalam hidup kita. Hidup kita akan penuh makna, amat memuaskan, dan penuh keagungan.

Keempat dimensi paradigma pribadi lengkap itu, menurut Covey, mencerminkan empat kebutuhan motivasi dasar dari semua orang. Fisik atau ekonomis untuk bertahan hidup, pikiran untuk belajar (tumbuh dan berkembang), hati untuk menyayangi (jalinan hubungan), dan jiwa untuk meninggalkan warisan (makna dan kontribusi).

Segala ketidakpuasan dan ketidakberhasilan mendayagunakan sumberdaya manusia kebanyakan berpangkal dari paradigma mengenai kodrat manusia yang tidak lengkap dan utuh. Apabila kita mengabaikan satu saja dari keempat bagian paradigma pribadi lengkap itu, kita menjadikan manusia sebagai sebuah benda. Sebaliknya, paradigma pribadi lengkap membuat kita cenderung menginspirasi dan memotivasi, ketimbang mengintimidasi dan memanipulasi.

Salah satu hal penting dalam menempuh perjalanan menuju kebermaknaan adalah kemurnian motif kita. John Maxwell secara gamblang memaparkan kegunaan motif yang benar, yaitu: mencegah kita dari memanipulasi sesama, menguatkan kita di masa-masa susah, memberi kita kredibilitas di mata sesama, memungkinkan kita melayani sesama, dan membuat Sang Pencipta berkenan kepada kita.

Semua manfaat kemurnian motif kita akan membuat kita bekerja lebih efisien, karena kita tidak akan terjebak dalam penyesalan akan kelalaian di masa lampau atau kecemasan berlebihan akan masa depan. Efisiensi energi ini selanjutnya membuat kita dapat melampaui diri sendiri untuk mulai memberdayakan orang lain.

Kalau Anda tidak berbuat sesuatu dengan kehidupan Anda, tidaklah menjadi soal berapa lama usia Anda. Kalau Anda berbuat sesuatu dengan kehidupan Anda, juga tidak menjadi soal berapa lama usia Anda. Kehidupan bukanlah terdiri dari tahun-tahun usia Anda, melainkan kebergunaannya. Fokus Anda hendaklah melampaui diri sendiri. Kalau Anda memberi, mengasihi, melayani, menolong, mendorong, dan memberikan nilai tambah bagi sesama, Anda menjalani kehidupan yang berguna. Itulah kebermaknaan. (Perjalanan dari Sukses menuju Kebermaknaan, John C. Maxwell, Interaksara, 2004).

Pengembang kepemimpinan Wayne Cordeiro menjuluki orang yang memberikan nilai tambah bagi sesama atau manusia pemberdaya sebagai pembebas impian. Dalam pandangannya, jutaan impian terbelenggu di dalam diri banyak orang di sekeliling kita. Impian-impian itu tertanam secara ilahi di dalam jiwa mereka. Di dalamnya, terkandung gairah, potensi, dan panggilan jiwa mereka. Tetapi, seperti seekor burung yang terkurung dalam sangkar, impian itu tetap terbelenggu.

Realita dunia ini dipenuhi dengan orang-orang yang membutuhkan pembebasan dari belenggu emotional illiterate, orang-orang yang belum berhasil mengelola emosi dan gagasannya. Banyak orang belum memiliki kemampuan mendayagunakan Akal-penalar dan Budi-pekerti secara melek emosional, untuk menciptakan hubungan serasi antara pengalaman mental dan pengalaman fisis. Kemampuan olah emosi itu sebut Daniel Goleman sebagai kecerdasan emosional.

Wayne menantang, “Maukah Anda menunjukkan tanda sebagai seorang pembebas impian? Maukah Anda meminta Allah untuk mengembangkan hati, mata, dan mulut Anda demi membebaskan impian yang masih terkurung di dalam begitu banyak orang lain? Dunia ini menjerit meminta pembebas impian.”

Pada awal 1990-an, seorang pemimpin berkata kepada saya, “Sum, lima tahun mendatang, kamu bukanlah kamu yang sekarang.” Kata-kata yang keluar dari hati dan mulut Kiman Samiton itu, walaupun kelihatannya wajar saja, telah sangat kuat mempengaruhi saya ketika beranjak dari usia remaja saat itu. Beliau lalu memberi kesempatan kepada saya untuk mengembangkan diri melalui tugas-tugas dalam organisasi yang dipimpinnya.

Suatu ketika, tatkala saya merasa tanggung jawab yang diberikan terlalu berat dan berniat mengundurkan diri, ia pun berkata kira-kira seperti ini, “Saya berikan energi dan waktu saya untuk kamu selama ini karena saya melihat ada potensi kepemimpinan di dalam diri kamu.” Akhirnya, saya menyadari bahwa ia berupaya membebaskan impian yang tersembunyi dalam kehidupan saya.

Apabila kita ingin menghancurkan seseorang, merusak dia sepenuhnya, atau memberikan hukuman yang paling menyakitkan, yang perlu kita lakukan hanyalah memberinya pekerjaan yang tak berguna, sia-sia, dan irasional. (Fyodor Dostoyevsky). Sebaliknya, ketika kita menghargai, menghormati, dan menciptakan cara bagi sesama kita untuk memberi suara pada keempat bagian dari kodrat mereka secara lengkap dan utuh, maka menurut Stephen Covey, kecerdasan manusiawi, kreativitas, gairah hidup, bakat, dan motivasi yang masih tersembunyi dalam diri manusia menjadi merebak ke luar dan berkembang. Impian-impian terbebas dari belenggunya.

Kebiasaan ke-8 yang diperkenalkan oleh Stephen Covey adalah finding our own voice and inspiring others to find theirs (menemukan suara panggilan jiwa kita dan mengilhami orang-orang lain untuk menemukan suara mereka). Kebiasaan ini pantas menjadi latihan sehari-hari yang wajib bagi seorang pembebas impian atau manusia pemberdaya. Kebiasaan ini akan men-transformasi diri kita agar dapat menghadapi realita baru dunia ini.[]

* Sansulung John Sum, Penulis Buku “Awaking The Excellent Habit, Memberdayakan Akal-Budi untuk Sukses bersama: Abdullah Gymnastiar, Andrias Harefa, Andrie Wongso”.

TEMUKAN EPIFANI ANDA

Oleh: Syahril Syam


Apa itu epifani? Epifani didefenisikan sebagai peristiwa istimewa dalam kehidupan seseorang yang menjadi titik balik dalam kehidupannya. Pengaruhnya berbeda-beda, bisa negatif atau positif, bergantung pada apakah epifaninya besar atau kecil. Contoh menarik dari sebuah epifani adalah kisah yang dialami oleh Martin Seligman. Martin Seligman adalah seorang profesor di bidang psikologi. Psikologi yang digelutinya dulu adalah psikologi yang senantiasa berorientasi pada sifat-sifat buruk manusia. Bahkan pada saat sekarang ini pun banyak pakar psikologi yang memulai analisanya pada sifat-sifat negatif manusia. Apa yang menyebabkan manusia berperangai buruk? Kenapa manusia memiliki kecenderungan-kecenderungan negatif? Ini adalah sebagian pertanyaan yang senantiasa menggambarkan psikologi kita. Pada intinya manusia itu bertabiat buruk, sehingga perilaku-perilaku aneh manusia, selalu dicari sebab-sebab negatif yang menyebabkannya.

Psikologi senantiasa berkutat pada kekurangan-kekurangan manusia, dan penyakit-penyakit kejiwaan. Tidak ada satu pun aliran psikologi yang membahas dan fokus pada kekuatan-kekuatan manusia. Aliran psikologi yang berkutat pada kelebihan-kelebihan manusia inilah, yang diusung oleh Martin Seligman. Seperti yang telah saya gambarkan, bahwa Seligman pun dulu bergelut dengan psikologi “negatif” hingga beliau menemukan epifaninya. Martin Seligman kemudian mengisahkan dirinya:

Waktu itu saya sedang menyiangi taman kami bersama putri saya, Nikki, yang berumur lima tahun. Saya harus mengakui bahwa walaupun telah menulis sebuah buku dan banyak artikel tentang anak-anak, saya tidak terlalu pandai menghadapi mereka. Saya berorientasi-tujuan dan hemat waktu, dan ketika menyiangi taman, saya hanya menyiangi. Namun, Nikki melemparkan rumput-rumput liar itu ke udara sambil menari dan menyanyi. Oleh karena dia mengganggu, saya berteriak kepadanya, dan dia berjalan menjauh. Beberapa menit kemudian dia kembali, dan berkata, “Ayah, aku ingin bicara dengan Ayah.”

“Ya, Nikki?”

“Ayah ingat sebelum ultahku yang ke-5? Sejak berumur 3 tahun sampai 5 tahun, aku suka merengek. Aku merengek setiap hari. Pada hari ultahku yang ke-5, aku memutuskan untuk tidak lagi merengek. Itu hal tersulit yang pernah kulakukan. Dan kalau aku bisa berhenti merengek, Ayah juga bisa berhenti menjadi penggerutu.”

Setelah “menemukan” epifani di atas, Martin Seligman kemudian berkata, “Ini ilham bagi saya. Perkataan Nikki tepat sasaran. Saya memang penggerutu. Saya telah menghabiskan lima puluh tahun hidup saya sebagian besar dengan cuaca mendung di dalam jiwa, dan sepuluh tahun terakhir saya bagaikan awan nimbus yang berjalan di sebuah rumah tangga yang disinari mentari. Nasib apa pun yang saya dapatkan barangkali bukan karena saya seorang penggerutu, lebih tepatnya saya tetap bernasib baik walaupun saya penggerutu. Pada saat itu, saya memutuskan untuk berubah.”

Dan pada akhirnya, Martin Seligman kemudian melahirkan sebuah aliran baru dalam psikologi, yang disebutnya sebagai Psikologi Positif. Jika selama ini psikologi selalu meneliti penyakit-penyakit kejiwaan pada manusia, maka psikologi positif ini memfokuskan dirinya untuk meneliti kekuatan-kekuatan dan kelebihan-kelebihan yang ada pada manusia, yang akan mengantarkan dirinya untuk mendapatkan kebaikan dan kebahagiaan.

Kita telah melihat sebuah epifani dari Martin Seligman. Saya ingin mengajak Anda untuk melihat sebuah epifani yang dialami oleh Malcolm. Kisah ini dituturkan oleh Mark Victor Hansen:

“Pada suatu akhir pekan, seorang pria bernama Malcolm, bertempat tinggal di Vancouver, mengajak tunangannya berjalan-jalan melewati hutan utama British Columbia.

Entah bagaimana mereka terjebak di antara seekor induk beruang dan anak-anaknya. Induk beruang itu, karena ingin melindungi anak-anaknya, menarik dan mencengkeram tunangan Malcolm. Tinggi badan Malcolm hanya sekitar 157 cm, sedangkan beruang itu sangat besar. Namun, dia mempunyai keberanian dan berhasil membebaskan tunangannya. Kemudian, induk beruang menangkap Malcolm dan mulai meremukkan setiap tulang pokok di tubuhnya.

Induk beruang mengakhiri serangan dengan menancapkan cakarnya pada wajah Malcolm dan mencakar lurus hingga ke kepala bagian belakang.

Ajaib, ternyata Malcolm tetap hidup. Selama delapan tahun dia berulang-ulang menjalani operasi pemulihan. Selama itu, para dokter telah melakukan semua bedah kosmetik yang mungkin bisa mereka lakukan. Namun, semua itu tidak cukup menolong Malcolm dan Malcolm memandang dirinya sebagai si buruk rupa. Dia tidak ingin lagi tampil di hadapan umum.

Oleh karena itu, pada suatu hari Malcolm naik dengan kursi rodanya ke atap lantai-sepuluh gedung pusat rehabilitasi. Ketika sedang bersiap-siap untuk mendorong tubuhnya melintasi batas bangunan, ayahnya muncul. Sebelumnya, sang ayah mendengar bisikan hatinya yang menyuruh dia untuk menemui anaknya.

Pada waktu yang tepat, sang ayah muncul di puncak tangga dan berkata, “Malcolm, tunggu sebentar.”

Mendengar suara ayahnya, Malcolm membalikkan badan di atas kursi rodanya.

Ayahnya berkata, “Malcolm, setiap manusia memiliki bekas luka di suatu tempat yang tersembunyi dalam dirinya. Rata-rata mereka menyembunyikannya dengan senyuman, kosmetik, dan pakaian indah. Kebetulan kau harus memakai bekas luka itu di bagian luar. Namun, kita semua sama, Anakku. Kita sama-sama punya luka.”

Malcolm tidak lagi mampu melompat dari atap gedung itu.

Tidak lama kemudian, seorang teman membawakan beberapa rekaman kaset mengenai motivasi. Pada salah satu kaset, dia menyimak kisah Paul Jeffers, yang kehilangan pendengarannya pada usia empat puluh dua tahun dan berhasil menjadi salah satu wiraniaga terkenal di dunia. Malcolm mendengar saat Paul berkata, “Halangan diberikan kepada orang-orang biasa agar mereka menjadi luar biasa.”

Malcolm berkata pada dirinya sendiri, “Itu kan saya. Saya luar biasa!”

Malcolm harus melawan rasa takut ditolak karena fisiknya kini cacat. Dia bangun setiap hari dengan kesadaran bahwa selalu ada kemungkinan (untuk ditolak), namun dia tetap melangkah maju sedikit demi sedikit. Malcolm memutuskan untuk bekerja sebagai wiraniaga asuransi – suatu pekerjaan yang akan menghadapkan dia pada penolakan berkali-kali setiap hari. Dia memutuskan untuk menjadikan kekurangannya yang utama sebagai modal.

Dia memasang foto diri pada kartu bisnisnya, dan ketika dia memberikannya kepada orang lain, dia akan berkata, “Saya buruk rupa di luar, tetapi ganteng di dalam jika saja Anda punya kesempatan untuk mengenal saya.”

Setahun kemudian, Malcolm menjadi agen asuransi nomor satu di Vancouver.

Malcolm telah menemukan epifaninya, dan hal itu telah mengubah hidupnya. Epifani ini adalah sejenis pembimbing. Setiap orang yang ingin sukses, “haruslah” memiliki pembimbing. Dalam buku The One Minute Millionaire, dijelaskan bahwa pembimbing itu tidak harus manusia. Apa pun yang membuat Anda mengubah arah kehidupan Anda bisa berfungsi sebagai pembimbing.

Tiba-tiba saya teringat lagi sebuah epifani yang dialami oleh Huo Yuanji – seorang ahli Wu Shu cina, yang memopulerkan Wu Shu di dunia. Peristiwa pertama yang mengubah hidup Huo Yuanji adalah kekalahan ayahnya – sebagai ahli Wu Shu – pada pertandingan bela diri antar sesama ahli bela diri. Sebenarnya ayahnya telah menang, akan tetapi pada pukulan terakhir, ayahnya menahan pukulan, sehingga membuat lawannya memanfaatkan kesempatan ini untuk membuatnya ke luar arena, hingga dinyatakan kalah. Dan inilah kekalahan pertama ayahnya.

Kekalahan itu membuat Huo Yuanji terpukul dan bersumpah untuk tidak terkalahkan dengan mengalahkan lawan-lawannya, dengan menggunakan kemampuan Wu Shu, yang menjadi tradisi bela diri di keluarganya. Inilah epifani pertama dalam hidupnya.

Pertandingan demi pertandingan dilewati dan tidak satu pun lawannya yang mampu mengalahkannya, hingga menjadikan dirinya sombong. Ibunya sering menasehati bahwa lawan terbesarnya adalah dirinya sendiri. Hingga suatu ketika, kesombongan dan kepongahannya membawa dendam pada keluarga lawan yang dibunuhnya. Dan hal ini mengakibatkan kematian ibu dan anak tercintanya. Inilah epifani kedua dari Huo Yuanji.

Epifani itu telah membawanya ke suatu desa, dimana penduduk desa itu mengajarkan arti hidup yang sesungguhnya pada dirinya. Huo Yuanji pun kemudian mengubah lagi hidupnya. Dia tampil sebagai ahli bela diri Wu Shu yang bijaksana, yang bukan mencari lawan tapi senantiasa mencari teman. Pertandingan bela diri dijadikan untuk intropeksi diri, melihat kekurangan-kekurangan dirinya untuk kemudian diperbaiki. Ia telah memahami nasehat ibunya untuk mengalahkan diri sendiri, dan telah memahami kenapa ayahnya dulu tidak jadi melanjutkan pukulannya di saat ayahnya hampir menang.

Huo Yuanji telah beberapa kali mengalami epifani. Dan, setiap epifani telah menjadi pengubah dan pelajaran bagi hidupnya. Saya sendiri pun telah mengalami epifani. Menurut saya epifani itu bukanlah peristiwa yang dicari-cari. Anda tidak harus bertanding dengan beruang untuk menjadi seperti Malcolm. Anda tidak harus menjadi penggerutu dan memiliki anak yang menegur Anda untuk menjadi seperti Seligman. Begitu pula Anda tidak harus menjadi ahli bela diri Wu Shu yang sombong untuk menjadi seperti Huo Yuanji. Yang perlu Anda lakukan adalah membuka pikiran Anda untuk senantiasa memperhatikan detil-detil kehidupan Anda. Karena boleh jadi epifani itu terjadi ketika Anda membaca sebuah buku, atau mungkin ketika Anda membaca artikel sederhana ini. Temukan Epifani Anda dengan senatiasa membuka pikiran Anda setiap saat!

* Syahril Syam adalah seorang trainer tentang peningkatan kualitas hidup, yang berdomisili di Makassar. Syahril bisa dihubungi di ril_faqir@yahoo.co

RESEP SUKSES PASTI GAGAL!

Oleh: Suryanto Wijaya


Saya sih tidak tahu apa resep sukses saya tapi saya tahu secara pasti rumus kegagalan. Cobalah untuk menyenangkan semua orang. PASTI Anda Gagal…!!!!
Bill Cosby

Pernahkah Anda melakukan sesuatu akan tetapi apa pun yang Anda lakukan selalu mengalami kegagalan? Apakah Anda pernah melakukan sesuatu dan apa pun hasilnya Anda tidak pernah puas? Karena ada orang lain yang berpikiran bahwa hasil kerja Anda belumlah memuaskan mereka?

Hmn… Bagaimana yah, rumus pasti sukses di segala bidang? Waduh saya tak tahu tuh! Mendingan juga kita mencari tahu rumus pasti gagal supaya kita bisa menghindari kegagalan. Toh, kalau kita tidak gagal berarti kita sukses. Apa sih yang benar-benar pasti menjadi penyebab dari semua kegagalan yang terjadi?

Berikut ini adalah sebuah kisah tentang kegagalan.

Dahulu kala ada seorang kakek bersama dengan cucunya sedang keluar kota menemui sanak keluarganya. Perjalanan yang harus dilalui si kakek dan cucunya itu melewati empat kota. Barulah mereka sampai ke tujuan. Dalam perjalanan jauh itu si kakek dan cucunya berjalan bersamaan dengan seekor keledai. Keledai itu ditunggangi cucunya.

Pada saat mereka melewati kota yang pertama, orang-orang kota yang melihat mereka berkata: “Dasar cucu tidak tahu diri! Masa kakeknya yang sudah tua dibiarkan jalan sendirian? Sementara dia enak-enakan saja duduk di atas keledai...”

Mendengar hal itu, si cucu pun tak enak hati. Ia segera turun serta meminta kakeknya naik keledai. Lalu mereka melanjutkan perjalanannya.

Sesampainya di kota kedua, ada lagi orang yang berkata: “Wah…dasar kakek tidak tahu diri. Sudah tua begitu masih saja menunggangi seekor keledai dan membiarkan cucunya yang masih kecil berjalan. Sungguh kakek yang pemalas!”

“Cucuku,” kata kakek itu kemudian. “Mungkin lebih baik kakek turun saja. Biar kita jalan bersama.” Mereka pun melanjutkan perjalanan sambil menuntun si keledai yang sekarang tanpa beban tunggangan.

Sesampainya di kota ketiga, orang-orang di kota itu berkata: “Wah...wah…bodoh sekali kakek dan cucunya ini! Kenapa mereka tidak menggunakan keledai itu untuk dinaiki? Ngapain harus berjalan capek-capek begitu? Punya keledai kok malah tidak digunakan!” seru mereka heran campur sinis.

Setelah mendengar apa kata orang-orang di kota itu, lalu si kakek dan cucunya buru-buru menaiki keledai itu bersama-sama.

Pada saat memasuki kota keempat, orang-orang di kota itu berkomentar: “Busyet....dah! Dasar kakek dan cucu yang tidak berperikebinatangan. Masa keledai sekecil itu masih diperas tenaganya hanya untuk kepentingan diri mereka sendiri?”

Mendengar komentar seperti itu, si kakek merasa apa yang mereka katakan masuk akal juga. Lalu dengan susah payah si kakek menggendong keledai di pundaknya, sementara kepala si keledai tampak menyandari di atas kepalanya. Si cucu ikut memegangi dari belakang supaya keledai tidak jatuh dari gendongan. Mereka menggendong si keledai itu sampai ke rumah sanak keluarga mereka.

Sesampainya di rumah yang dituju, sanak keluarga itu bertanya dengan nada penuh keheranan. “Aduh kakek... kok malah kakek yang menggendong keledai itu sih? Kenapa bukan kakek yang naik keledainya?”

Mendengar pertanyaan dan komentar seperti itu, si kakek itu pun kesal. Apa pun yang dikerjakannya selalu saja gagal dan dicela oleh orang lain.

Untuk sebagian orang, tampaknya cara untuk tidak melakukan kegagalan adalah berdiam diri saja dan tidak melakukan apa pun. Akan tetapi mereka sendiri malah akan dicela dan masih bisa dikategorikan sebagai orang gagal. Maksudnya, gagal dalam mengembangkan potensi terbaik dalam diri mereka sendiri.

Pernahkah Anda rapat lalu di dalam rapat itu ada orang-orang yang banyak bicara tapi kemudian malah dicela? Mereka yang sedikit bicara juga dicela. Bahkan mereka yang diam saja masih juga dicela. Bukankah di dunia ini sesungguhnya tidak ada yang bisa bebas dari celaan?

Untuk itulah saya ingin mengajak Anda semuanya untuk mengubah pemikiran atau mindset tentang apa itu gagal. Apakah tidak berbuat apa pun berarti kita tidak pernah gagal? Terus menerus mencoba dan tidak berhasil, apakah itu gagal? Mengingat bahwa tidak peduli apa pun yang kita perbuat, kita selalu akan dicela? Tak peduli sesempurna apa pun kita. Para nabi, Buddha, dan Yesus pun masih dicela. Kemungkinan kita dicap gagal oleh orang lain itu selalu ada. Kalau begitu mengapa kita tidak berbuat sesuatu? Toh kita pasti gagal jika kita menginginkan untuk memuaskan semua orang? Kita pasti dicela karena apa pun hasil kerja kita tidak mungin memuaskan semua orang.

Cobalah untuk menginginkan hanya yang baik saja terjadi pada diri kita, maka kita pasti kecewa akan kenyataan yang terjadi pada diri kita. Ada kalanya orang mendefinisikan tidak ada kata gagal yang ada hanya feed back atau saran-saran yang bisa membuat kita jadi lebih baik lagi.

Pada saat saya membuat artikel ini, sempat terlintas dalam pikiran saya, nanti kalau menulis ini, apa kata orang? Trus baiknya bagaimana, yah? Ah...ganti saja dengan kata yang ini. Terus nanti kalau gunakan kalimat ini yang ada pasti pro dan kontra dengan pendapat saya. Ah....pusing!

Kita semua tahu, “Tidak ada manusia yang sempurna”. Pepatah lama ini akan mungkin benar jika pengertian sempurna secara umum adalah baik di segala bidang menurut semua orang dan tidak mungkin salah. Hanya mendapatkan setengah dari kehidupan dan tidak mendapatkan sepenuhnya. Hanya mendapat yang baik-baik saja, hanya positifnya saja demikian sebaliknya hanya mendapat yang negatifnya saja.

Untuk itu jika ingin gagal maka cobalah menjadi “sempurna” dalam semua tindakan Anda dengan keluarga, teman, pacar, dan rekan bisnis. Cobalah berkeinginan untuk memuaskan semua orang akan hasil kerja Anda dan buktikan sendiri hasilnya.

Jika ada yang bisa, silakan hubungi saya dan akan saya berikan seluruh hidup saya padanya, uang saya kepadanya. Karena setiap apa pun yang dia kerjakan selalu laku dijual di dunia.

* Suryanto Wijaya adalah seorang Pembelajar sekolah kehidupan, IT Manager, dan dapat dihubungi melalui email CuSenWan200x@yahoo.com .

toko-delta.blogspot.com

Archives

Postingan Populer

linkwithin

Related Posts with Thumbnails

Total Tayangan Halaman

Diberdayakan oleh Blogger.