toko-delta.blogspot.com

menu

instanx

Minggu, 19 Oktober 2008

KACAMATA SUASANA

Oleh: Leonarda Katarina Erika Untung

Doraemon dan Nobita. Pernahkah kamu menonton kisah mereka? Kepribadian sepasang sahabat itu sangat menarik. Di satu sisi, Doraemon adalah pribadi yang selalu ceria dan selalu menyemangati Nobita. Dan di sisi lain, Nobita adalah seorang anak yang selalu merasa bahwa dirinya tidak mampu melakukan apapun dan selalu mengandalkan orang lain, terutama Doraemon.

Pada suatu hari, saya sedang bersantai dan melihat tayangan video Doraemon di YouTube. Dan pada edisi yang saya tonton, ada sebuah pelajaran menarik yang dapat saya petik dan saya ingin membagikannya melalui artikel ini.

Edisi yang saya tonton berjudul “Kacamata Suasana”. Dikisahkan bahwa pada suatu siang, Nobita pulang sekolah dalam keadaan panik karena akan ada ujian olahraga pada esok harinya. Karena itu, Giant (teman Nobita yang paling kuat) memaksa teman-temannya untuk melakukan latihan fisik pada sore harinya. Nobita kemudian mengeluh pada Doraemon bahwa dia pasti akan menjadi yang paling lamban, yang paling lemah, serta diejek oleh teman-temannya yang lain karena ia pikir bahwa biasanya memang begitu. Kemudian karena Doraemon kasihan melihat sahabatnya, maka ia pun mengeluarkan sebuah Kacamata Suasana.

Kacamata Suasana mempunyai 5 tombol yang dapat mengatur suasana hati pemakainya, yaitu merah (marah), kuning (ceria), hitam (sedih), biru (terharu), serta putih (netral). Kemudian Nobita memakainya pada latihan fisik di sore. Ketika latihan lompat jauh, Nobita pun menekan tombol kuning sehingga suasana hatinya menjadi ceria dan ia dapat melambung tinggi karena melompat bahagia. Pada saat latihan memukul baseball, Nobita menekan tombol merah, sehingga suasana hatinya dipenuhi oleh emosi yang menggebu-gebu ketika akan memukul dan pukulannya ternyata menghasilkan home run. Demikian seterusnya hingga latihan fisik tersebut berakhir. Dan hasilnya adalah: Nobita ternyata mempunyai potensi luar biasa yang selama ini tidak disadarinya. Bahkan teman-temannya pun terpana melihat kemampuan Nobita (mereka tidak mengetahui bahwa ternyata Nobita menggunakan Kacamata Suasana untuk mengatur mood-nya).

Bagaimana dengan kamu? Apakah kamu selalu merasa bahwa kamu itu tidak PeDe, lemah, bodoh, payah, dkk? Kemudian kamu menyibukkan pikiran dengan mengeluh dan mengeluh. Kamu juga terlalu sibuk mengucapkan “...seandainya ... seandainya ...“ Bahkan ketika ada tantangan, kamu pun sibuk berpikir bahwa biasanya memang begitu (sama seperti image negatif yang selalu dikeluhkan). Kalau begitu, kamu tidak ada bedanya dengan Nobita donk. Namun bedanya adalah tidak ada robot dari masa depan seperti Doraemon yang dapat menolong kamu.

Saya ingin berbagi pengalaman bahwa memang benar apa yang kita pikirkan itu akan memberikan dampak yang berarti pada apa yang akan dihasilkan. Pada waktu kompetisi saya yang pertama melalui sebuah Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) di BiNus, sebenarnya saya nekat saja pada waktu ditanya apakah mau mencoba ikut kompetisi tersebut atau tidak (story telling di sebuah universitas). Pada awalnya saya menyetujui untuk didaftarkan bukan karena saya PeDe bahwa kemampuan saya dalam bidang bahasa Inggris itu bagus ... tidak, bukan karena itu. Tapi lebih dikarenakan oleh dorongan dari beberapa senior saya yang yakin bahwa saya cukup ‘gila’ untuk mengikuti kompetisi tersebut (karena saya adalah tipe orang yang nekat).

Seminggu sebelum kompetisi (setelah briefing dari pihak panitia), saya langsung D–O–W-N. Karena apa? Structure grammar, creativity, pronounciation, dkk, semuanya itu dinilai! Ya ampun. Pikiran saya mulai dikuasai oleh hal-hal negatif hingga saya sempat menyesali karena telah mendaftar kompetisi tersebut. Sebagai info, bahwa sebelum masuk kuliah, saya sangat membenci yang namanya bahasa Inggris. Sudah menjadi momok banget karena pengalaman saya belajar bahasa Inggris dengan guru-guru yang bukannya membuat saya termotivasi, malah membuat saya membenci pelajaran tersebut karena kejadian-kejadian tertentu.

Namun, ada 2 orang senior saya yang mungkin dapat dikatakan bahwa tingkat ‘nekat dan gila’-nya sama dengan saya. Mereka kemudian memberikan saya latihan ‘private’ yang darurat. Pada hari pertama dan kedua, saya bahkan hanya dapat menggumam karena saya grogi untuk tampil di depan umum, padahal ketika face to face saya bisa ‘lepas’ bicara dan bertingkah apa adanya. Hari ketiga, senior saya memberi saya motivasi yang sangat bagus: “Ketika kamu berada di depan penonton, jadilah tokoh dalam cerita tersebut. Pada saat itu, jangan masukkan pikiran dan perasaanmu ke dalam cerita. Tapi kamulah yang harus dapat masuk ke dalam mood cerita tersebut. Kamu hanya punya 2 pilihan hasil ketika kamu tampil. Yang pertama, kamu maju ke depan dengan ‘lepas dan PeDe’ atau bahkan bertingkah malu-maluin pun tidak apa-apa karena itu akan meninggalkan kesan bagi yang melihatnya ... dan penonton akan bersorak-sorai karena penampilanmu yang luar biasa. Atau yang kedua, kamu sudah panik dan cemas duluan sehingga ketika di depan kamu terlihat seperti orang bodoh, kemudian penonton akan berteriak ‘huuu..’ pada kamu. Itu malah memalukan. Semua ending itu, kamu yang menentukan.. “.

Pada saat itu juga saya tersentak. Kalau saya hanya sibuk berpikir bahwa saya panik, cemas, takut, dkk. Tetap saja masalah di depan saya tidak akan berubah. Namun, sayalah yang harus berubah agar saya tidak malu-maluin di depan penonton. Saya segera mengubah cara berpikir saya. Setiap kali pikiran negatif saya mulai menggoda, saya berusaha untuk meyakinkan bahwa diri saya mampu. Saya mulai latihan mimik serta gerakan lucu dengan bercermin. Bahkan untuk menambah kefasihan saya berbahasa inggris lisan, saya sampai latihan hingga larut malam. Berulangkali saya yakinkan diri saya kalau bahasa Inggris itu menarik. Hingga lama kelamaan tanpa sadar saya sekaligus belajar hal-hal baru juga, terutama grammar, vocabulary, dan pronounciation. Dan hasilnya ... Puji Tuhan, tanpa disangka penampilan saya menarik perhatian para juri dan penonton hingga membuahkan prestasi.

Sejak kejadian itu, ketika menghadapi tantangan akan masalah apa pun di dalam hidup sehari-hari, saya selalu ingat akan pengalaman di atas. Yakinlah bahwa setiap dari kamu dan saya pada dasarnya mempunyai potensi yang belum disadari. Dan untuk menyadari hingga potensi tersebut dapat dikembangkan. Mulailah dari pikiran kita dulu. Masalah? Inget Kacamata Suasana Doraemon… Jangan sampai salah tekan tombol untuk mengatur bagaimana cara kamu melihat masalah itu…

Ingat, bahwa ending segala sesuatu dalam masalah yang kamu hadapi, sebenarnya itu bergantung pada bagaimana kamu melihat masalah. Ketika kamu melihat bahwa masalah itu pasti ada solusinya, maka suasana hatimu akan senang sehingga kamu bersemangat. Segala sesuatu yang dilakukan dengan bersemangat akan menunjukkan penampilan terbaikmu.

--Terinspirasi dari pengalaman pribadi. Terimakasih kepada Joni Liu (BiNusian 2006) dan Angelina Tejaya (BiNusian 2007) yang telah membuat saya belajar sesuatu yang sangat berharga.--

* Leonarda Katarina Erika Untung lahir di Jakarta, 24 Maret 1987 dan saat ini berstatus sebagai mahasiswa Universitas Bina Nusantara Jurusan Teknik Informatika. Tahun 2005-awal 2007 ia pernah aktif dan berprestasi sebagai story teller, scrabble player, dan tutor di Bina Nusantara English Club. Selain kuliah, ia adalah pengajar lepas komputer, desain, web freelancer, dan moderator di Jawaban.Com. Erika dapat dihubungi di: E-mail: erikauntung@yahoo.com atau blog: http://leoerk.multiply.com/

MENGHARGAI DIRI

Oleh: Syahril Syam

Suatu ketika ada seorang perempuan muda, sebut saja Nidar, datang untuk berkonsultasi kepada saya. Ia merasa ada sebuah penghalang besar yang menghalangi dirinya, sehingga ia tidak bisa meraih sukses atau pekerjaan yang layak bagi dirinya.

Akhirnya setelah melakukan beberapa interview, saya pun melakukan proses hypnotherapy kepada dirinya. Saya membawanya ke kondisi profound somnambulism, dan kemudian melacak problem sesungguhnya yang di alami oleh Nidar.

Ternyata ia merasa dirinya tidak cantik, tidak tinggi, dan tidak langsing. Padahal dalam pekerjaan yang pernah ia geluti sebelumnya, ia berharap seperti demikian. Padahal menurut saya, Nidar ini adalah perempuan yang cantik, tinggi, dan cukup langsing. Tapi ia tidak merasa demikian. Ia menghakimi dirinya sendiri. Nidar ini pada dasarnya merasa disepelekan dan tidak dihargai, dan ketiga kategori di atas adalah parameter ia merasa dihargai.

Akhirnya setelah melewati proses terapi selama satu setengah jam, akhirnya ia kembali menghargai dirinya sendiri. Setelah terapi, ia merasa badannya terasa sangat ringan, seperti ada sebuah beban yang tiba-tiba hilang dari dirinya. Ia merasa sangat plong, dan ia merasa seperti ingin terbang dan begitu bahagia.

Begitu banyak orang yang mencoba menyangkal dan tidak mengakui shadow mereka dengan melakukan yang sebaliknya dan berusaha untuk menutupinya. Bahkan yang lebih parah lagi adalah menjadi pembenci orang lain atas sikap mereka, dimana sikap tersebut adalah shadow-nya sendiri. Steven, seorang konsultan bisnis sukses tapi gagal dalam membangun hubungan cinta pernah bercerita bahwa ia begitu membenci salah seorang yang ia temui. Steven menganggap orang tersebut pengecut dan Steven sangat membenci orang yang pengecut.

Setelah ia menyelami dirinya sendiri, ia mendapati dirinya sendiri bahwa saat ia berusia lima tahun, ayahnya mengajaknya masuk ke sirkus kuda. Steven belum pernah melihat kuda sungguhan, dan hal itu membuatnya menjadi takut. Ketika Steven mengatakan kepada ayahnya bahwa ia tidak ingin masuk ke sirkus kuda karena takut, ayahnya memarahinya, “Akan jadi laki-laki seperti apa kamu ini? Dasar bocah penakut, kamu mempermalukan keluarga kita.” Steven pun dihukum. Dan sejak saat itu ia memutuskan untuk tidak lagi bersikap seperti penakut. Ia menghabiskan hidupnya untuk membuat ayahnya bangga. Ia meraih sabuk hitam karate, bermain futbol semasa kuliah, ikut angkat besi. Dan semua ini dilakukannya untuk sekedar membuktikan bahwa ia bukan banci.

Ia berhasil membuktikan bahwa dirinya bukan pengecut kepada ayahnya, dengan berusaha membuktikan dirinya; tapi ternyata kenyataan tersebut masih menghantui dirinya. Ia berusaha menolaknya dengan ikut membenci orang-orang yang pengecut. Dan sebagai bukti bahwa ia tidak menerima dirinya adalah bahwa ketika ia mencoba menjalin hubungan dengan perempuan, ternyata sikapnya menjadi penakut. Ia takut kepada perempuan, takut berkomunikasi secara jujur, dan hal ini mengakibatkan banyak masalah dalam kehidupan pribadinya.

Banyak orang membenci orang kaya, membenci orang lain bisa sukses, membenci keberhasilan orang lain, dan semua kebencian itu selalu dengan alasan yang nampak rasional. Sikap seperti ini mungkin saja karena orang-orang tersebut juga membenci dirinya sendiri dan membenci kekayaan, kesuksesan, dan keberhasilan.

Bahkan ada yang mencoba meraih suskes karena ingin membuktikan kepada keluarga, teman, dan orang lain bahwa dirinya bisa dan apa yang mereka ungkapkan itu tidak benar. Di satu sisi ini merupakan motivasi dan tidak jarang ada yang betul-betul sukses dan berhasil membuktikan dirinya. Tetapi, apakah kita ini sadar bahwa kehidupan itu bukan hanya sekedar menutupi kebencian dan berusaha membuktikan sesuatu, tetapi lebih kepada meraih kebahagiaan dan kesempurnaan yang hakiki menuju kepada Sang Sumber Cahaya.

* Syahril Syam adalah seorang konsultan, terapis, public speaker, dan seorang sahabat yang senantiasa membuka diri untuk berbagi dengan siapa pun. Ia memadukan kearifan hikmah (filsafat) timur dan kebijaksanaan kuno dari berbagai sumber dengan pengetahuan mutakhir dari dunia barat. Ia juga adalah penulis buku best seller The Secret of Attractor Factor. Teman-temannya sering memanggilnya sebagai Mind Programmer, dan dapat dihubungi melalui ril@trainersclub.or.id

KEPUTUSAN ANDA SENDIRILAH KUNCINYA

Oleh: Sugeng Widodo

Mulai dari bangun pagi hingga tidur lagi pada malam hari, setiap hari dalam kehidupan pribadi kita selalu dihadapkan pada pilihan. Setiap keputusan atas suatu pilihan berupa pikiran, perasaan, sikap maupun tindakan kita membuahkan suatu hasil. Singkatnya hasil apapun yang kita capai di berbagai bidang kehidupan pribadi kita sungguh merupakan hasil keputusan kita sendiri. Sadarkah Anda?

Agar tidak menyesal, mulai sekarang juga ada baiknya Anda memutuskan pilihan tentang apa saja yang menjadi keinginan Anda. Tidak peduli posisi maupun level kehidupan Anda saat ini. Bukankah lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali. Banyak orang tidak tahu persis apa sesungguhnya yang diinginkan. Akibat tidak tahu persis yang diinginkan, maka yang sering diperoleh adalah yang tidak diinginkan.

Setelah Anda memutuskan suatu pilihan, lalu buatlah strategi atau langkah-langkah untuk mencapainya, dan bertindaklah sesuai dengan rencana yang ditetapkan tadi.

Anda perlu memperhatikan hasil sementara atas tindakan Anda. Dari hasil sementara itu Anda bisa mengetahui apakah tindakan Anda sudah sesuai dengan tujuan atau tidak. Jika tindakan Anda membuahkan hasil yang tidak diinginkan atau tidak membuat Anda lebih mendekati pada tujuan Anda, maka perlu dicermati mungkin tindakan Anda tidak tepat. Ubahlah strategi dan tindakan Anda, agar tindakan Anda bisa mendekatkan kepada tujuan. Jika tindakan Anda konsisten tujuan itu cepat atau lambat dapat dicapai.

Menetapkan Apa yang Diinginkan
Pernahkah Anda berpikir tentang kehidupan pribadi seperti apa yang Anda inginkan pada lima tahun mendatang? Karir atau bisnis apa yang Anda inginkan pada lima tahun mendatang? Petanyaan serupa dapat Anda pertanyakan pada aspek kehidupan pribadi Anda yang lain seperti spiritual, kesehatan, keluarga, pendidikan atau pengembangan diri, sosial, hobi, termasuk aset berupa harta benda Anda.

Bagaimana cara mengetahui apa yang kita inginkan? Mudah saja, cara pertama, imajinasikan bila saat ini juga Allah SWT mengabulkan semua doa Anda, apa saja yang Anda ingin terwujud, Anda miliki, Andai capai, tempat untuk Anda kunjungi? Tulislah semua yang Anda inginkan.

Cara kedua, Anda juga bisa mulai dengan menentukan apa yang tidak anda inginkan terjadi pada diri Anda. Setelah Anda mengetahui apa yang tidak Anda inginkan, dari setiap yang tidak diinginkan itu kemudian buat kontras dan bertanyalah pada diri sendiri: “Jadi, apa yang sesungguhnya saya inginkan?”

Michael J. Losier dalam bukunya Law of Attraction memberikan contoh menarik sebagai berikut:

Yang Tidak Diinginkan
1. Uang saya tak cukup
2. Banyak rekening atau tagihan
3. Uang hanya cukup untuk bertahan hidup
4. Tak bisa membeli apa yang saya inginkan
5. Penghasilan tak pasti
6. Saya tak pernah memenangkan undian
7. Penghasilan saya tidak pernah meningkat
8. Rezeki keluarga saya memang seret
9. Saya harus banting tulang untuk bayar sewa
10. Masalah keuangan membuat saya stres

Yang Diinginkan
1. Uang yang berlimpah
2. Cepat dan mudah membayar tagihan
3. Selalu ada kelebihan uang
4. Selalu ada cukup uang untuk membeli apa yang saya inginkan
5. Arus pemasukan yang ajeg dari berbagai sumber
6. Sering memenangkan undian dan pemberian hadiah gratis
7. Penghasilan selalu meningkat dari sumber yang diketahui atau tidak
8. Saya mudah mencari uang
9. Pembayaran sewa lancar dan selalu punya uang
10. Tidak lagi dipusingkan masalah keuangan

Jika Anda ingin menetapkan suatu keinginan misalnya tingkat penghasilan. Peningkatan penghasilan itu sebaiknya tidak terlalu tinggi tetapi juga tidak terlalu rendah. Umumnya peningkatan yang bisa ditoleransi sekitar 20% dari tingkat penghasilan sebelumnya. Keinginan peningkatan penghasilan yang rasional dan terjangkau ini penting agar pikiran bawah sadar kita bisa menerima. Jika keinginan kita terlalu tinggi kemungkinan besar ditolak oleh pikiran bawah sadar. Akibatnya, walaupun secara logika sangat mungkin dicapai, tetapi pikiran bawah sadar menolak sehingga justru keinginan itu sulit dicapai.

Namun, bukan berarti keinginan yang terlalu tinggi itu tidak bisa dicapai. Pikiran bawah sadar Anda dapat diprogram untuk mendukung pencapaian sasaran, tujuan, atau apa yang Anda inginkan walapun secara logika tidak mungkin. Caranya? Anda bisa menggunakan doa, self hipnosys, afirmasi, dan pembiasaan.

Buat Strategi dan Bertindaklah
Seorang atlet lompat tinggi yang terbaik mungkin tanpa menggunakan alat mampu melompat paling tinggi 3 – 4 meter. Kalau atlet tadi diminta untuk melompat ketinggian 10 meter menurut Anda dia mampu atau tidak? Kalau dia diminta melompat dengan ketinggian 15 meter, 50 meter? Kalau Anda menjawab tidak mungkin, jawaban Anda salah. Yang benar adalah mungkin saja. Tergantung strateginya. Jika dia melompat tanpa menggunakan alat seperti matras, galah atau parasit bisa tidak mungkin bisa kecuali memang mau bunuh diri. Dengan menggunakan matras dan galah seorang atlit bisa melompat ketinggian 10 mter atau lebih. Dengan parasit atlit juga bisa melompat ketinggian 50 meter atau lebih.

Strategi Anda berpengaruh terhadap kegagalan ataupun keberhasilan Anda mewujudkan apa yang Anda inginkan. Seorang penjual atau agen asuransi yang memiliki rata-rata penghasilan dari komisi setiap bulan Rp 5 juta mungkinkah memiliki penghasilan rata-rata sebulan Rp 100 juta atau setahun Rp 1,2 milyar. Mungkin saja, lagi-lagi tergantung pada strateginya. Strategi penjual untuk mendapatkan komisi sebulan Rp 5 juta tentu berbeda dengan strategi untuk mendapatkan komisi sebulan Rp 100 juta. Stategi penjual itu bisa dari aspek produk yang ditawarkan, target pasar, motivasi, dan kompetensinya.

Setelah strategi ditetapkan, kita bertindak secara konsisten sesuai dengan strategi tadi. Strategi merupakan langkah-langkah jangka panjang yang akan dilaksanakan. Strategi ini diterjemahkan dalam bentuk rencana tindakan jangka pendek. Tindakan-tindakan untuk mengimplementasikan strategi hendaknya merupakan tindakan yang konsisten.

Membuat agar tindakan kita konsisten tidaklah mudah. Kita akan selalu menghadapi tantangan, rintangan, halangan, dan hambatan selama proses mencapai tujuan. Yang diperlukan adalah kita perlu memiliki kesiapan mental. Mindset kita harus berkembang. Yaitu, kita memiliki pola pikir yang berorientasi pada perubahan untuk menjadi lebih baik.

Yang perlu diingat, jika suatu saat hasil tindakan ternyata tidak sesuai dengan keinginan alias gagal, maka kegagalan itu bukanlah berarti kita bodoh atau kita tidak mampu. Kegagalan itu hanyalah hasil sementara atas tindakan dan strategi kita sebelumnya yang tidak tepat. Oleh karena itu, kita perlu terus mencari alternatif strategi dan tindakan yang tepat. Untuk itulah, kita perlu memperbaiki dan meningkatkan kompetensi kita.

Selama proses pencapaian tujuan, apapun yang terjadi, kita sebaiknya memposisikan diri sebagai orang yang sedang berkembang. Dengan mindset berkembang ini kita tidak lagi merasa takut, khawatir, cemas, apalagi putus asa. Mengapa? Karena kita terus bertumbuh dan berkembang lebih besar daripada masalah maupun kesulitan yang dihadapi.

Tahukah Anda, keputusan Anda sekarang berakibat pada hasil yang Anda peroleh di masa depan. Semua keputusan pada dasarnya baik pada waktu diputuskan karena sesuai dengan konteksnya saat itu. Agar keputusan Anda tepat dan berhasil membawa Anda pada tujuan yang diinginkan, keputusan hendaknya dibuat berdasarkan informasi yang akurat. Carilah informasi sebanyak-banyaknya sebelum membuat keputusan. Semakin banyak informasi berkualitas yang digunakan sebagai bahan pertimbangan maka keputusan Anda makin berkualitas.

Masa depan Anda terletak pada keputusan-keputusan yang Anda buat setiap hari, setiap minggu, setiap bulan, dan setiap tahun. Putuskanlah sekarang juga kehidupan seperti apa yang ingin Anda nikmati mungkin 5 tahun mendatang, 10 tahun mendatang, atau 20 tahun mendatang. Ingat bahwa keadaan Anda sekarang adalah hasil keputusan Anda di masa lalu. Kesalahan yang terjadi di masa lalu jangan terjadi lagi di masa depan. Buatlah skenario kehidupan Anda di masa depan mulai sekarang. Bukan tidak mungkin, skenario Anda betul-betul terjadi di masa depan Anda.

Dr. Norman VincenPeale menyatakan bahwa apa yang Anda pikirkan cenderung menjadi kenyataan. Pikirkanlah yang baik-baik, niscaya kehidupan Anda akan baik-baik saja. Jauhkan imajinasi yang negatif agar tidak menjadi kenyataan. Keputusan Andalah kuncinya.***

* SSugeng Widodo adalah alumnus FISIP Universitas Indonesia tahun 1999 dan program Magister Manajemen Konsentrasi Manajemen Pemasaran STIE Dharma Bumiputera tahun 2002. Saat ini masih aktif sebagai Staf Ahli Direktur Utama AJB Bumiputera 1912, Trainer Motivasi berbasis NLP dan Spiritual, Kolomnis Majalah Asuransi. Ia adalah alumnus Pembelajar Writing School. Ia dapat dihubungi di: sugeng_widodo@bumiputera.com.

[Pembelajar.Com::]

INGIN CEPAT SUKSES? ''HIPNOTIS'' BOS ANDA -

Oleh: Ahmad Arwani R

Siapa sih orangnya yang tidak ingin disukai oleh atasan? Semua orang pasti berusaha keras mengambil hati “pak bos” dengan motif yang sama. Apalagi kalau bukan karir dan gaji. Dengan dipercaya oleh atasan, akan memudahkan kita untuk naik ke jenjang karir yang lebih tinggi yang otomatis gaji juga bertambah tentunya. Dan percayalah jika anda sudah mulai tidak disukai bos, bersiap-siaplah untuk introspeksi dan berbenah diri atau cari “jalan keluar (maksudnya mulailah cari kerjaan lain)”.

Saking kerasnya persaingan di dunia kerja, tak jarang teman jadi lawan dan semua cara dihalalkan untuk memenangkan hati para bos. Tak sedikit dari kita yang lupa, sehingga harus menjatuhkan kawan sekantor hanya untuk terlihat “lebih” di mata bos. Dan semua permintaan atasan kita patuhi tanpa terkecuali agar terbina hubungan baik dengannya, pokonya asal bapak senang. Padahal belum tentu permintaannya tersebut reasonable, efektif dan produktif untuk kelangsungan bisnis.

Berurusan dengan bos memang gampang-gampang susah. Sangat tergantung dari karakter bos yang dihadapi dan cara kita membawakan diri. Bagi anda yang berada dibawah seorang bos dengan wawasan yang luasdan terbuka, mau mendengar masukan, serta memberikan kesempatan untuk anda maju tentu akan sangat membantu dan berperan positif terhadap karir anda.

Namun bagaimana dengan bos pemarah, dia yang selalu benar, keras kepala, sok tahu dan “bossy”. Tentu bukan hal yang mudah untuk berkompromi dengannya bukan? Disinilah tantangannya.Ada banyak hal yang harus kita pertimbangkan dengan cermat sebelum berbicara kepada bos. Carilah waktu (timing) dan kondisi yang tepat untuk mengutarakan hal ini kepada bos. Salah sedikit saja bisa berakibat fatal.

Jika anda memiliki gagasan yang brilian namun atasan tidak mau mendengarkannya dan kejadian ini berulang-ulang, kira-kira apa yang anda rasakan? Anda sangat mungkin akan mengalami frustasi. Setidaknya ada dua hal utama yang harus dipertimbangkan, emosi dan strategi.

Andaikan argumen anda sangat rasional dan bermanfaat, namun tidak membangkitkan emosi si bos tentunya anda akan pulang tanpa tanggapan. Tahukah anda bahwa 90% pengambilan keputusan berdasarkan pertimbangan emosi? Disamping argumen yang membakar emosional si bos, namun jika tidak disertai strategi implementasi dengan jelas dan efektif, kritik saran anda hanya akan berakhir di tataran ide saja.

Janganlah khawatir segalak dan susahnya seorang bos, dia tetaplah seorang manusia biasa seperti kita. Yang akan senang jika dipuji, akan marah jika kita kecewakan dan hal normal lainnya. Jadi jika kita mampu mengusik sisi kemanusiaannya, si bos pasti akan tergerak.

Dalam menghadapi “Bos yang susah” ada beberapa hal yang harus kita cermati :

1. Sabda bos tidak pernah salah
Jangan pernah sekalipun menyanggah perkataan bos saat beliau di depan umum/ sedang mempresentasikan sesuatu di hadapan banyak orang. Tahanlah sejenak jika ada ide bos yang kontraproduktif atau tidak efektif. Biarkanlah semua berjalan sesuai yang bos inginkan. Kenapa ini tidak boleh dilakukan? Jelaslah karena setiap orang punya ego dan gengsi yang harus dijaga dan tonjolkan ketika berada di depan orang banyak yang merupakan bawahan dia. Walaupun mungkin ide yang kita sampaikan itu bermaksud baik, namun belum tentu akan diterima dengan pikiran terbuka. Jadi bersabarlah sejenak untuk tidak memberi masukan saat itu. Namun catat, ini hanya sementara. Kita akan melakukan “serangan balik” kemudian.

2. Kemukakan ide saat hatinya senang
Sesulit-sulitnya orang jika pada saat hatinya senang dia akan menularkan perasaan tersebut kepada orang lain. Coba ingat kembali, saat kita kembali berlibur atau baru saja naik gaji tentunya hati kita sedang senang alang kepalang dan hal tersebut kita tularkan ke lingkungan kita bukan. Begitu juga saat Pak Bos sedang senang karena baru saja ulang tahun atau mendapatkan pujian/compliment dari partner atau orang lain, inilah saatnya untuk masuk dengan ide kita. Pasti dengan senang hati si Bos akan mendengarkan dengan lebih baik dibanding biasanya.

3. Terapkan hukum kesamaan
Tentunya pastikan bahwa ide atau saran yang anda sampaikan sejalan dengan gaya kepemimpinan, policy yang dibuatnya, atau strategi yang sudah si bos canangkan. Bawalah ide tersebut dari kesamaan concern anda dengan pemikiran si bos. Jangan lupa pastikan bahwa ide tersebut berawal dari pemikiran beliau yang kemudian menginsprasikan hal ini. Dengan cara ini anda telah memancing “si bos serba susah” mulai menggeliat karena emosinya akan terpancing. Dia pasti akan tergerak mendengar seluruh perkataan anda. Karena orang tidak mau dianggap plin-plan bukan? Semua orang pasti ingin menjadi orang yang penuh komitmen dan bertanggung jawab. Sisi inilah yang kita manfaatkan.

4. Gunakan data faktual dibanding dengan asumsi
Di saat anda mendapatkan kesempatan untuk “ngobrol” dengan si bos, kemukakanlah segala conern dan ide di dukung dengan data-data faktual di lapangan. Hindarkanlah sejauh mungkin asumsi. Semakin sedikit anda melibatkan asumsi maka saran anda akan sangat tinggi keshahihan dan kualitasnya. Dengan memberikan data faktual ini si bos akan mulai terbuka matanya dan menyimak lebih seksama saran anda.

5. Ceritakan berita baiknya
Jika terlihat bos mulai dengan cermat melihat dan mempertimbangkan paparan anda, jangan lupa berikan berita baiknya. Sampaikan dengan sederhana tentang imbalan atau manfaat dari diterapkannya saran anda. Jika manfaat yang diperoleh bisa diangkakan atau diuangkan, bos manapun pasti akan terbalalak matanya dan ngiler. Karena ini merupakan insentif bagi si bos sendiri. Kekuatan uang tidak pernah berbohong..

6. Berikan gambaran detailnya
Nah pada saat inilah anda sudah siapkan bagaimana penerapan sarn anda tersebut. Semakin detail akan semakin bagus, karena akan memberikan gambaran detail mengenai pelaksanaan kepada si bos akan membuat paket saran anda akan ampuh. Catatan terpenting pada tahapan ini adalah siapa melakukan apa dan kapan.

7. Sertakan tangan bos
Last but not least, tangan bos harus diajak sebagai penentu kebijakan. Sampaikan bahwa ide ini hanya bisa berjalan jika mendapat dukungan dan support darinya. Pastikan bahwa tanpa kehadirannya tingkat kesuksesan projek tersebut tidak dijamin. Langkah terakhir ini adalah langkah yang krusial dan penting karena disinilah kita “mengikat” komitmen si bos untuk mendukung saran anda terlaksana…

* Ahmad Arwani R lahir di Semarang pada 1 Juni 1977. Ia tinggal di Kompleks Mutiara Elok Blok B-16 Kreo Selatan, Ciledug, Tangerang, Ban

MODAL SPIRITUAL



Oleh: M. Iqbal Dawami

Modal Spiritual Modal spiritual adalah istilah yang dipopulerkan oleh Danah Zohar. Kedua kata ini menjadi konsep yang dikembangkan olehnya dan suaminya, Ian Marshall. Awal mulanya ia menemukan konsep ini saat ia digerakkan oleh sebuah ketakutan pada dunia yang bergerak di sekitarnya. Ketika itu anaknya bertanya untuk apa ia hidup di dunia, lalu pertanyaan ke manakah ia seharusnya melanjutkan pendidikan kelak.

Setelah berpikir lama, Zohar akhirnya menemukan jawabannya. "Hidup manusia adalah untuk memberi arti bagi manusia lain dan lingkungannya," katanya. Pertanyaan sang anak kemudian menamparnya lebih keras. Ia mengembalikan pertanyaan itu kepada dirinya sendiri. "Saat itu saya merasa berada pada titik terendah kehidupan," katanya.

Di mata Zohar, perilaku lingkungan dan budaya Barat menjerumuskannya ke dalam depresi berat. "Saya menghadapi banyak pengkhianatan personal, ketololan, kesembronoan, atau kekerasan yang dipaparkan terus-menerus sepanjang hari," katanya.

Saat ia berbicara dengan banyak orang mengenai ciri-ciri kecerdasan manusia, semua orang ingin tahu bagaimana kecerdasan itu bisa digunakan untuk menggali dan mendapatkan sebanyak mungkin uang. Semuanya telah diukur dengan kapital, alias duit. Dan di mata Zohar, cara-cara seperti itu sudah salah kaprah. "Inilah kapitalisme cara Barat, monster yang memangsa dirinya sendiri."

Banyak penelitian menunjukkan bahwa kinerja perusahaan sangat tergantung pada sejauh mana perusahaan berpegang pada prinsip etika bisnis di dalam kegiatan bisnis yang dilakukannya. Untuk berperilaku sesuai dengan kaidah etik perusahaan memeliki berbagai perangkat pendukung etik, yang salah satunya adalah manusia yang memiliki moral yang maengharamkan perilaku yang melanggar etik. Kehancuran dan kemunduran berbagai perusahaan besar di USA seperti Enron (perusahaan listrik terbesar), dan Arthur Anderson (perusahaan konsultan keuangan yang beroperasi di seluruh dunia) disebabkan oleh perilaku bisnis yang melanggar etika bisnis. Demikian pula dengan kasus krisis keuangan di Indonesia tahun 1997-1978 yang membuat perbankan Indonesia bangkrut karena kasus BLBI (Bantuan Likuiditas Bank Indonesia) adalah disebabkan oleh perilaku para pemain bisnis yang tidak berpegang pada etika bisnis.

Banyak juga hasil penelitian menunjukkan bahwa perusahaan yang berpegang pada prinsip etika memiliki citra perusahaan yang baik. Citra ini tidak hanya membuat orang suka membeli produk dan jasa perusahaan tersebut, tetapi juga membuat harga saham di pasar bursa meningkat secara signifikan. Selain itu perusahaan yang berperilaku etikal juga akan menarik banyak calon pekerja yang berkualitas untuk melamar menjadi pekerja di perusahaan tersebut (lihat Strategic Finance, vol 83, No. 7, p.20, January 2002). Sebaliknya kalau sebuah perusahaan melakukan perilaku yang melanggar etika bisnis maka kerugianlah yang akan dialaminya. Sebagai contoh sepatu Nike kehilangan banyak pembeli setelah ada publikasi yang luas mengenai anak-anak di bawah umur yang bekerja di perusahaan nike di negara dunia ke tiga pembuat sepatu Nike ( Hawkins, D.I; Best, R.J. & Coney, K.A: Consumer Behavior: Building Marketing Strategy, McGraw-Hill, 1998 , p. 16).

Zohar menceritakan bagaimana perusahaan-perusahaan besar seperti coca-cola, british petroleoum, van city, merck (perusahaan farmasi terbesar di amerika) dan dan amul (koperasi susu terbesar di Gujarat) yang mengoptimalisasikan modal spiritual ini. Secara sederhana, modal spiritual menunjuk pada modal dasar yang dimiliki perusahaan-perusahaan itu untuk bekerja dan berusaha tidak semata-mata demi keuntungan finansial dan materi. Ada dimensi jangka panjang yang lebih diharapkan melalui optimalisasi modal spiritual ini.

Oleh karena itu untuk mengubah budaya bisnis agar tidak berorientasi pada laba semata, menurut Danah, para pemimpin seharusnya memadukan tiga modal yang dimiliki. Pertama adalah modal material. Ia dibentuk oleh kecerdasan rasional (IQ), berfungsi menjawab pertanyaan-pertanyaan rasional seperti, "apa yang saya pikir".

Kedua, modal sosial, diukur dengan tingkat kepercayaan di masyarakat, saling merasakan, empati, serta komitmen terhadap kesehatan masyarakat. Ini dibentuk oleh kecerdasan emosional (EQ), berfungsi menjawab pertanyaan-pertanyaan yang menyangkut perasaan, seperti, "apa yang saya rasakan".

Ketiga adalah modal spiritual—di dalamnya termasuk modal moral—dibentuk oleh kecerdasan spiritual (SQ), dibangun dengan mengeksplorasi secara spiritual pertanyaan-pertanyaan seperti "untuk apa saya ada, apa tujuan hidup saya, apa yang sebenarnya ingin saya capai".

Modal spiritual melampaui modal intelektual yang mendasarkan pada paradigma newtonian dan materialisme yang melihat kehidupan secara linear. Dengan modal ini kehidupan dapat dikendalikan dan dikuasai, serta memberi keuntungan dalam bisnis. Modal spiritual juga melampaui modal sosial, yaitu kekayaan material dan keuntungan sosial yang didapat suatu masyarakat dengan mengandalkan sikap saling percaya (trust).

Menurut Zohar, banyak cara sederhana untuk mulai menerapkan modal spiritual di satu perusahaan. Ia memberi contoh sejumlah perusahaan yang menciptakan kebijakan peduli lingkungan serta menyisihkan sebagian modal perusahaan untuk mengembangkan pendidikan dan pemberdayaan masyarakat. "Meski kelihatannya mengeluarkan biaya lebih besar, banyak perusahaan yang tidak sadar bahwa modal spiritual akan mendatangkan kelanggengan bisnis dalam jangka panjang."

Tentu saja modal spiritual juga dapat diterapkan dalam kehidupan masing-masing manusia. Hal-hal sepele namun dapat memberikan keuntungan yang sangat memuaskan, yang tidak bisa diukur dengan kapital.

Di bawah ini ada dua kisah tentang bagaimana bagaimana seseorang dapat menerapkan modal spiritual dalam kehidupannya.

Pertama, kisah Taufik Pasiak yang membantu dua sahabatnya yang sedang membutuhkan uang.

“Kamis lalu, secara tiba-tiba dua orang kenalan dekat menelepon saya. Ini waktu yang tidak lazim bagi mereka menelepon. Karena itu, saya sangat heran. Biasanya orang yang menelepon tiba-tiba ini kalau bukan hendak berkonsultasi soal penyakit pasti mau [injam uang. Rupanya dugaan saya yang kedua yang benar. Dua kenalan ini bermaksud meminja uang; kenalan pertama untuk mengongkosi mertuanya yang sakit, kenalan kedua untuk membayar bunga atas barang gadaian yang hampir jatuh tempo. Uang yang dipinjam pun tidak banyak dan mereka mohon dalam waktu setengah jam saya dapat memberikannya. Saya bukan orang kaya, apalagi dengan uang berlimpah. Karena itu, saya sedikit defensif dan kaget. Syukur, pikiran waras saya mengatakan bahwa orang-orang ini harus dibantu karena saat ini mereka memerlukannya. Kalau ditunda, seberapa pun uang yang saya berikan, tidak lagi bermakna. Mereka butuh hari ini karena itu harus saya berikan hari ini juga.

Singkat kata, uang yang diberikan saya anggap tidak dipinjam, tetapi hadiah dari saya bagi mereka. Saya sedikit plong karena tidak memberikan utang pada orang lain dan membuat kesulitan bagi mereka ketika ditagih. Pun bagi saya yang menagih. Dalam pikiran saya juga berkelebat banyak kejadian serupa yang memberikan hikmah sangat besar. Saya beroleh banyak keuntungan, yang bukan material, untuk sesuatu yang pernah saya berikan.”

Kedua, kisah yang saya kutip dari kisah yang dituturkan Ary Ginanjar, pengarang ESQ.

“Ada kisah menarik dari Dr Sheikh Muszaphar angkasawan Malaysia, satu-satunya orang Melayu yang pergi ke angkasa. la terpilih dari 11000 orang. Ketika turun ia tersenyum bahagia dan berkata, "Di angkasa saya menemukan jati diri saya. Selama ini saya mencarinya dengan pergi ke Kamboja, Afghanistan, untuk kegiatan kemanusiaan, namun saya selalu merasakan kekosongan yang tidak saya mengerti. Di Angkasa saya melihat keindahan ciptaan Tuhan hingga menyentuh saya secara spiritual. Saat ini saya tidak lagi melihat hal kecil dalam kehidupan, saya bicara kemiskinan, kemelaratan, perdamaian dan persoalan dunia yang kini menjadi rumah saya."

M.IQBAL DAWAMI Penulis buku The True Power of Writing;Menulis itu Menyembuhkan (2007), pemilik blog http://penulispinggiran.blogspot.com. dan http://resensor.blogspot.com

Uang

Oleh: J.I. Michell Suharli

Salam Winner!
Cicero menuliskan bahwa tak ada benteng yang demikian kuat sehingga uang tak dapat memasukinya. Kehidupan sosial, politik, religius, dan pendidikan menjadi lembab menyerap uang. Lahirlah ungkapan “Uang memang tidak menentukan segalanya, namun tanpa uang segalanya menjadi tidak menentu”. Di hadapan uang, semua orang menjadi sama. Seandainya saja cinta seperti itu !

MIND-SET UANG
Berdasarkan pola pikir tentang uang, manusia terbagi menjadi tiga kelompok. Kelompok pertama memandang uang sebagai sumber segala yang tidak baik. Disini uang dilihat sebagai sumber kejahatan yaitu: perampokan, penculikan dan pembunuhan. Uang mampu menganugerahi orang selembar ijazah. Uang menjadi sebab putusnya tali persaudaraan. Singkatnya, mereka memandang uang punya kuasa kejahatan yang membungkam suara hati.

Kelompok kedua memandang uang sebagai penopang hidup. Kelompok ini berpikir bahwa kita tidak mungkin membuat segala hal menjadi baik tanpa uang. Mereka memandang positif mengenai sosok “Robinhood”. Kelompok ini mengatakan bahwa tidak mungkin menolong orang yang kelaparan dengan tangisan. Kita diajak untuk mencintai dan bijaksana kepada UANG. Semakin orang mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya dan bijaksana menggunakannya maka semakin bahagia dan berbudi.

Kelompok ketiga memandang uang mempunyai sifat netral. Pribadi lepas pribadi yang membuat orang bertindak positif maupun negatif karena uang. Uang bisa memisahkan tetapi juga menyatukan, uang bisa jadi akar kejahatan tetapi juga akar kebaikan. Bagi kelompok ini tidak ada yang salah dari uang, seperti air, api dan angin. Uang juga yang akan menyejahterakan tetapi juga menyengsarakan banyak orang. Kebijaksanaan manusialah yang menentukan apakah uang jadi malaikat, atau jadi iblis.

BELIEVE UANG
Iblis tampak dalam keserakahan Si Kaya Sesat dengan cara korupsi, kelaliman, kolusi dan nepotisme. Praktek bisnis kejam, dunia hitam dan judi menjadi keseharian orang jenis ini. Iblispun bertepuk tangan ketika Si Kaya Sesat menipu Si Miskin, suami-istri bercerai karena krisis uang, kakak-adik tak tegur sapa karena rebutan warisan, mahasiswa lulus setelah menyogok dosen dan seterusnya.

Hardiman (2003) mengungkapkan ‘semua manusia sama dihadapan uang’, bisa sama benarnya dengan ‘semua manusia sama dihadapan Tuhan’. Uang begitu di-Tuhankan sehingga begitu di-cinta dan di-kejar. Satu cara menggapai Tuhan adalah meraup uang dengan cara apapun. Drama seperti itu mem-program believe kita bahwa uang adalah akar segala kejahatan.

Iblis juga tampak dalam cerita-cerita seru Si Miskin Jahat. Orang ini menyambung hidup dengan uang yang diperoleh dari kejahatannya. Iblis bersorak sorai ketika ada yang terbunuh demi uang, perampok tertembak, kapak merah beraksi sampai pengangguran yang dibayar untuk melakukan kekerasan dalam unjuk rasa. Seharusnya kisah Si Miskin Jahat dapat mem-program ulang believe kita bahwa tidak punya uang adalah akar segala kejahatan.

PEMENANG tidak pernah membiarkan iblis bersorak. PEMENANG selalu mampu mengalahkan iblis dengan memilih believe yang tepat. Dalam hal uang, PEMENANG selalu menolak menjadi Si Kaya Sesat ataupun Si Miskin Jahat. PEMENANG adalah orang-orang dalam kelompok Si Kaya Budiman. PEMENANG selalu punya harapan kepada uang yang dimilikinya, untuk mampu mengalahkan kemiskinan orang lain. Harapan agar believe orang banyak tentang uang berubah menjadi lebih positif.

Satu hal yang harus diingat tentang berharap adalah pesan manis dari Khalil Gibran: “Jangan pernah berharap apapun dari hutan, bukan karena hutan tidak punya harapan, melainkan karena hutan adalah pusat pengharapan itu sendiri “

Dan diri kitalah hutan itu melalui believe yang positif tentang uang![jims]

J. I. Michell Suharli Writer . Inspirator . eduitainNER WINNER institute - training & education - Inspirator “Winning Mindset @ Work” Penulis buku “Winning Strategy for Winning People” Email: jimsmichell@yahoo.com

Jumat, 17 Oktober 2008

Aa Gym: Kuncinya, Hati yang Bersih





KH Abdullah Gymnastiar atau orang lebih mengenalnya dengan panggilan “Aa Gym”, sebuah nama yang telah berkembang menjadi personal branding yang kuat. Hampir semua orang aware dengan nama tersebut. Hanya saja, selama ini umumnya lebih mengenal dirinya sebagai pendakwah. Jarang yang tahu bahwa Aa Gym juga seorang pebisnis yang sukses dalam mengembangkan usahanya.

Manajemen Qolbu (MQ) Corporation, perusahaan yang didirikannya sekitar empat tahun lalu, kini telah memiliki 16 anak usaha yang bergerak dalam berbagai bidang, seperti televisi (MQTV), radio (MQ 102,65 FM), travel (MQ Travel), tabloid (MQ Media), dan berbagai bidang lainnya. Keberhasilan ini tentunya tidak dapat dilepaskan dari peran Aa Gym sebagai pemimpin sekaligus pembimbing.

“Inti terpenting di dalam perusahaan itu minimal masalah. Artinya, orang yang bekerja dibuat sangat jujur sehingga uang yang sedikit bisa optimal. Hal ini yang pertama kali kami benahi, suasana bisnis dengan hati bersih,” kata Aa Gym menguraikan kiat suksesnya. Berbincang dengannya memang memberikan banyak pencerahan. Berikut petikan lengkap wawancara Noor Yanto bersama fotografer Hendra Ocky Willyanto dari MARKETING dengan KH Abdullah Gymnastiar.

Apa yang mendorong Anda mendirikan MQ Corporation?
Jadi yang paling penting bagi saya adalah, pertama, menjadikan jiwa entrepreneur untuk menjadi nafas kehidupan masyarakat kita. Semula mungkin senang menjadi pekerja, saya ingin sekali orang lebih luas dalam berkarya. Kedua, dengan semakin luasnya lapangan kerja atau pekerjaan seperti itu, diharapkan akan tumbuh ekonomi menengah, UKM, yang bisa kita berikan bantuan jalan distribusi. Selain tumbuh jiwa entrepreneurship itu, juga tumbuh usaha-usaha kecil menengah. Salah satu yang dicontohkan Nabi Muhammad adalah jiwa entrepreneur. Dan saya lihat, umat Islam di Indonesia harus ditumbuhkan dan dimaksimalkan semangat entrepreneurship-nya. Oleh karena itu, saya tidak bisa bicara tentang hal tersebut sebelum memulainya dari diri saya sendiri dahulu. Saya juga ingin punya “laboratorium”: apakah bisnis dengan sangat mengutamakan etika bisa maju atau tidak. Ternyata bisa, jadi memiliki laboratorium bahwa etikalah yang menjadi sumber dasar dari sebuah bisnis.

Kemudian orang harus punya keuangan yang liquid, sehingga saya bisa membiayai semua kegiatan tanpa tergantung ke pihak manapun. Lalu mudah-mudahan bisa menjadi contoh, bahwa untuk menjadi kaya itu tidak usah bermewah-mewah. Kalau saya sederhana karena tidak punya apa-apa, mungkin karena memang tidak terbeli. Kalau kita dititipkan sesuatu yang sanggup beli apa saja dan kita bisa menahan diri, mudah-mudahan ini memotivasi orang-orang yang ditakdirkan kaya supaya tidak tergiur untuk hidup bermewah-mewah. Lebih tergiur hidup bermanfaat bagi sesama.

Berarti itu juga target yang mau dicapai?
Iya, betul.

Bagaimana kiat-kiat Anda mengembangkan bisnis ini?
Prinsip bisnis di dalam Islam cirinya dua. Ketika mencarinya harus benar, lalu sesudah mendapatkannya juga harus benar cara penggunaannya. Nah, yang dinamakan untung itu apa? Pertama, yang namanya keuntungan itu kalau bisnis menjadi amal ibadah kita atau amal saleh kita. Sehingga tidak boleh melanggar dari apa yang ditentukan oleh aturan Allah. Apalah artinya untung dapat, tetapi pahala tidak dapat? Kedua, bisnis itu harus membangun citra nama baik. Jadi, kunci di dalam Islam adalah citra. Bagi Nabi Muhammad sebelum menyebut Islam, beliau dikenal dengan panggilan Al Amin (seorang yang sangat kredibel).

Ketiga, bisnis yang baik itu dikatakan untung kalau dengan bisnisnya bisa terus meng-up grade SDM. Semakin berkualitas dan semakin berkembang kemampuannya. Bisnis yang tidak membuat manusianya berkembang, sebetulnya tidak untung karena keuntungan terpenting adalah SDM-nya yang berkembang terus kemampuannya. Keempat, bisnis disebut untung kalau bisa membangun silaturahmi yang banyak. Network. Semakin banyak saudara, semakin bagus. Kelima, disebut untung itu kalau mempunyai multi efek manfaat yang besar bagi banyak pihak. Barulah yang keenam, itu uang yang barokah, insya Allah.

Berarti bisnis secara umum pada dasarnya sama?
Ada yang sama, ada yang berbeda. Dalam kaitan MLM, kita kan betul-betul bagi hasil, tidak boleh mengeksploitasi orang lain. Kita tidak boleh untung, sementara orang lain merugi. Jadi yang dibagikan tidak boleh berasal dari uang pendaftaran, kalau uang pendaftaran bukan dari hasil keringatnya.

Lalu kiat sukses Anda memimpin MQ Corporation?
Inti terpentingnya adalah bagaimana di dalam perusahaan itu minimal masalah. Artinya, orang yang bekerja dibuat sangat jujur sehingga uang yang sedikit bisa optimal. Minimal konflik internnya sehingga energi kita tidak saling menyakiti. Baik dengan kesombongan, iri, dengki maupun pamer. Manajemen Qolbu inilah sebenarnya yang membuat teman-teman merasa bekerjanya tidak saling mengganggu, bahkan saling bersinergi. Kalau tidak hati-hati, energi itu banyak terbuang karena berkelahi di dalam. Konflik intern, lalu yang punya kedudukan sombong sehingga membuat perusahaan tidak bisa maju karena ide dan gagasan tidak berkembang. Belum lagi iri hati dan dengki sesama, membuat saling sikut-menyikut atau minder sehingga tidak optimal. Hal ini yang pertama kali kami benahi, suasana bisnis dengan hati bersih.

Bagaimana cara meminimalkan masalah itu, sementara setiap orang berbeda-beda?
Itulah Manajemen Qolbu. Begini ada empat tehniknya. Pertama, dengan keteladanan. Harus diupayakan para pemimpin, yaitu orang-orang yang bisa menjadi suri tauladan dalam akhlak, sehingga dia tidak menimbulkan masalah baru. Kedua, kami terus mendidik, melatih, dan membina semua karyawan agar memiliki visi yang sama serta terlatih dengan akhlak yang baik. Ketiga, sistem kami diupayakan kondusif untuk perubahan. Keempat, kekuatan ibadah supaya berkah dan mendapat pertolongan Allah.

Apakah sistem ini merupakan perpaduan konsep keislaman dengan bisnis?
Memang, Islam itu selalu aktual. Islam itu tidak pernah terpisah dengan apapun, dengan ekonomi maupun politik. Yang membuat ekonomi jadi jelek bukan karena modernnya, tetapi keserakahannya. Niat dan cara yang jelek membuat ekonomi jadi buruk. Jadi, memang seharusnya, seorang Islam yang baik adalah memiliki tata nilai baik dalam bisnis dan produktivitas tinggi dalam memberikan kontribusi kepada masyarakat.

Dakwah dan berbisnis sangat berbeda. Satu urusan akhirat, lainnya bersifat duniawi. Bagaimana cara Anda memadukan keduanya?
Itu saya heran, kenapa harus terpisah. Bagi saya, bekerja itu adalah ibadah bukan urusan semata-mata dunia. Dunia itu sudah dibagikan oleh Allah, tinggal kita jemput saja. Tidak perlu kita takut karena tidak kebagian dunia. Yang harus kita takuti justru dunia tidak menjadi bekal untuk di akhirat. Kalau kita kerja bagus, dunia pasti ketemu. Tidak usah risau. Jadi justru tidak ada bedanya antara ahli dunia dengan akhirat, yang membedakan adalah niat dan cara. Kalau ahli dunia, dia takut tidak kebagian, maka dia akan menghalalkan segala cara dalam mencarinya. Sehingga jika sudah dapat, hanya untuk kepentingan diri. Tetapi, kalau yang cita-citanya akhirat, dia sudah mulai dari niatnya saja, itu sudah ibadah. Tidak perlu takut tidak kebagian. Benar-benar terjaga kejujurannya serta profesionalismenya, dan kalau sudah dapat untuk kontribusi.

Beragam pekerjaan pernah ditekuni oleh suami dari Dra Hj Ninih Muthmainah ini. Aa Gym pernah menjadi guru madrasah; sales di sebuah perusahaan elektronik; wirauasaha di bidang foto, percetakan, dan busana muslimah; pimpinan pondok pesantren; sebelum akhirnya merintis MQ Corporation. Motto hidupnya “hidup adalah untuk berprestasi, yang bermakna bagi dunia dan berarti bagi akhirat nanti”. Hidup berprestasi merupakan hal yang benar-benar dijalani pria kelahiran Bandung, 29 Januari 1962 ini. Dari hari ke hari, waktunya diisi dengan berdakwah dan berbisnis.

Manajemen Qolbu merupakan hal baru dan juga brand baru. Strategi dalam pengembangannya?
Strateginya sederhana saja, setiap orang mencari orang yang jujur. Kita belanja kepada pedagang yang jujur, kita punya uang ingin dikelola oleh orang-orang yang jujur juga. Kenapa kita tidak menjadi orang jujur? Berarti kita pasti akan dicari oleh orang lain. Sekarang di mana-mana orang gelisah dan stres. Pasti orang-orang itu ingin tenang. Siapa saja ingin tenang. Kenapa kita tidak berikan jalan untuk tenang?

Apa visi dan filsafat MQ?
MQ itu setiap manusia punya potensi, hatinya harus di-manage. Kalau hati semakin terkendali, maka pikiran pun semakin terkendali. Lalu tutur kata dan perilaku pun akan terkendali. Yang jadi masalah adalah hati yang tidak terkendali. Akibatnya, pikiran, nafsu dan perilaku tidak terkendali dan itulah yang jadi sumber masalah. Jadi siapapun yang bisa mengendalikan hatinya, dia akan jauh lebih cerdas akal pikirannya karena tidak punya waktu untuk sombong atau takabur.

Lalu apa bedanya Manajemen Qolbu dengan yang lain?
Manajemen Qolbu itu adalah bagaimana me-manage hati. Dari me-manage hati timbullah cara berpikir yang bagus, cara bersikap yang bagus sehingga manajemen dalam bentuk apapun jadi bagus. Jadi kepada pembentukan karakter manusianya. Atittude.

Untuk MQ Corporation, strategi promosi bagaimana?
Strategi promosinya ialah kami percaya, kalau orang puas akan menyampaikan kepada yang lain. Jadi, yang paling penting, orang tahu persis bahwa bisnis kami ini insya Allah bersih. Kedua, orang puas. Ketiga, mereka tahu bahwa bisnis ini bermanfaat untuk orang banyak. Dari kepuasaan itulah sambung-bersambung menjadi sebuah promosi yang kuat.

Selama menjalankan bisnis ini, ada kendala yang dihadapi?
Iya, karena SDM kami tidak semua sudah ahli, yang kami ambil dari pesantren dan teman-teman seadanya. Jadi kalau dari segi akhlak, kejujuran, dan kedisiplinan sudah baik; hanya skill yang harus selalu ditingkatkan. Solusinya, kami mencari konsultan yang ahli di bidangnya, dan di dalam kami training. Kami juga mencari SDM baru yang sudah punya keahlian tetapi memiliki visi sama.

Aa Gym sendiri sudah jadi brand. Bicara Aa Gym, maka brand-nya MQ. Apakah itu strategi yang dipakai?
Memang strategi awalnya orang percaya ke Aa dulu. Lama-lama digeser kepada brand Manajemen Qolbu, kemudian digeser kepada profesionalisme. Sehingga nanti orang puasnya bukan karena Aa-nya, bukan karena MQ-nya, tetapi karena profesionalismenya.

Memang sekarang orang masih melihat ada Aa Gym, tetapi lambat laun bergeser. Saat ini dalam beberapa produk sudah jarang ada Aa Gym, tetapi tetap saja bisa bersaing dengan baik. Beberapa sudah lepas. Ada beberapa tayangan teve yang tidak ada Aa Gym-nya, masih banyak diminati.

Terakhir, pandangan Aa Gym terhadap dunia marketing kita?
Paling penting adalah jangan sampai menipu konsumen. Kita menawarkan kelihatannya bagus, padahal kenyataannya seperti itu. Hal tersebut tidak akan membawa berkah. Jadi Islam sangat mengajarkan kejujuran. Kita jangan takut tidak kebagian konsumen, tetapi takut tidak kebagian kejujuran, tidak kebagian keberkahan. Karena setiap orang rezekinya sudah ada. Kita tidak disuruh mencari, kita disuruh menjemput rezeki. Kalau mencari belum tentu ada, kalau menjemput pasti ada. Nah, yang dicari nilai tambah dari rezeki kita. Bisa berupa amal, persaudaraan, citra nama baik, manfaat untuk orang banyak, dan peningkatan kualitas diri. Jadi tidak membuat kita stres dalam bisnis dan persaingan tidak akan mengurangi rezeki kita. Tetapi pesaing adalah bagian nikmat dari Allah, agar kita lebih kreatif dalam memompa keterampilan kita. Menjemput jatah kita.*


Great Marketer (box)

Sehari Bersama Aa Gym

Pagi hari di bulan Oktober, tepat pukul 06.35 “WG” (Waktu Gambir), kereta Argo Gede tujuan Bandung merayap perlahan meninggalkan ibukota tercinta. Saya bersama fotografer Majalah MARKETING, Hendra Ocky Willyanto, berada di dalam kereta tersebut. Tugas kami adalah “memburu” seorang tokoh, yang bukan hanya dikenal sebagai pendakwah, tapi juga sebagai pebisnis.

Masih kosong di benak kami, bagaimana bentuk wawancara dan tempat untuk pemotretan nantinya. Biasanya untuk rubrik Great Marketer, kami cukup datang mewawancarai narasumber sesuai tempat dan waktu yang dijanjikan. Tapi untuk Aa Gym, ada pengecualian. Maklum, jadwal acaranya yang sangat padat.

Menjelang pukul 11.00, kami tiba di Gegerkalong, markas Daarut Tauhiid. Ternyata kedatangan kami telat 10 menit. Aa Gym sudah keburu pergi ke Polres Cimahi untuk bertemu dengan para tersangka kasus pembunuhan santri Daarut Tauhiid. Kami dapat informasi, Aa Gym pergi ke sana dengan bersepeda.

Satu jam kemudian, akhirnya kami bertemu dengan Aa Gym. Sempat bersalaman dan memperkenalkan diri, kami diminta menanti selesai shalat Jum’at. Sembari menunggu, kami dibawa “berwisata” oleh staf Aa Gym bernama Mirawaty, melihat-lihat kantor beberapa anak perusahaan MQ Corporation.

Setelah puas berkeliling, kami kembali ke rumah Aa Gym. Mobil dan supirnya tampak masih nangkring di sana. Saya bertanya kepada Sobirin, ajudan Aa Gym, kapan berangkat karena rencananya kami akan ikut Aa Gym ke kantor Telkom Bandung. Di sana Aa Gym akan berceramah. “Lho, Aa mah sudah berangkat barusan,“ ungkapnya. “Hah? Kemana? Ke Telkom? Naik apa?“ tanya kami kaget.

“Biasa, naik sepeda,” papar Sobirin. Usut punya usut, ternyata Aa Gym memang lebih suka naik sepeda jika pergi berdakwah di seputar Bandung. Selain menyehatkan, waktu tempuhnya juga lebih cepat jika dibandingkan dengan naik mobil.

Selang beberapa menit, kami menyusul naik mobil Aa Gym ke Telkom. Kami harus menunggu kurang lebih sejam. Selesai ceramah, dalam perjalanan pulang kembali ke rumah, wawancara kami lakukan di dalam mobil. Sesuai perkiraan, perbincangan tidak akan selesai dalam satu kesempatan saja. Tampaknya harus dilakukan di sela-sela acara Aa Gym hari itu.

Sesampainya di rumah, kami memberi waktu Aa Gym istirahat sejenak sambil menunggu jadwal berikutnya. Sesuai keterangan, Aa Gym selanjutnya akan menuju perumahan Villa Parahyangan. Di sana ada syuting untuk acara ceramah di MQTV. “Wah, bakal wawancara di dalam mobil lagi nih.“

Agar tidak tertinggal lagi, kami menanti Aa Gym di depan saungnya. Beberapa saat kemudian, Aa Gym sudah terlihat bersiap-siap. Tapi… bukan menuju ke mobil, ia langsung menghampiri sepedanya! Namun, dari penuturan supir pribadinya, ia bersepeda hanya sampai pesantren saja. Jaraknya memang tidak jauh. Kami pun mengikuti Aa Gym menuju pesantren.

Di dalam mobil menuju lokasi syuting, babak kedua wawancara dilakukan. Tadinya, kami kira wawancara berikutnya pasti selesai shooting. Ternyata, sesampai di lokasi, Aa Gym menuju ke ruang ganti baju. Kesempatan itu langsung kami pakai untuk wawancara babak ketiga. Tapi sebelum tuntas, ia sudah dipanggil produser. Terpaksa menunggu lagi. Saat ganti baju, hanya dengan memakai kaus dalam saja Aa Gym berkata, “Kalau sedang begini, Aa jangan di foto ya, enggak enak atuh sama ibu-ibu,“ ujarnya sambil tersenyum kepada Hendra. Kami pun tertawa.

Di sela-sela break syuting, kami melihat kesempatan untuk menuntaskan wawancara. Kami minta izin sutradara, dan… akhirnya, wawancara babak keempat berlangsung. Aa Gym sempat kaget, “Lho, saya pikir mah wawancaranya sudah selesai atuh, “ ujarnya dengan logat Bandung yang kental.

Akhirnya, selesai sudah wawancara dengan KH Abdullah Gymnastiar. Sehari penuh kami bersamanya. Melihat kegiatan yang dilakukan, mendengarkan ceramahnya, dan melihat sisi lain dari sosok Aa Gym sehari-hari. Selesai berpamitan, kami bergegas menuju stasiun Bandung, mengejar kereta terakhir ke Jakarta. (Noor Yanto).

*Wawancara dan artikel di atas dimuat pertama kali di Majalah MARKETING (www.majalahmarketing.com) Edisi November 2004. Dimuat kembali di Pembelajar.Com dengan izin tertulis dari redaksi Majalah MARKETING.

Ida Kuraeny: Ratu Asuransi Indonesia Buka Rahasia Sukses -





Ida Kuraeny, profesional agent PT. Asuransi Jiwa Sewu New York Life (kini berganti nama menjadi Sequislife: red), bisa dibilang “ratunya” jagad asuransi Indonesia. Betapa tidak? Cukup berbekal pendidikan formal SMKK, dan sejumlah program ekstensi, Ida melejit sebagai penjual asuransi terbaik di negeri ini. Sejak tahun 1997 hingga 2001 lalu, Ida selalu masuk kualifikasi MDRT (Million Dollar Round Table). Tahun 1999 ia mencapai posisi Top of the Table. Sebuah posisi prestisius di antara para anggota MDRT lainnya. Tahun 1998, ia meraih penghargaan sebagai Top Agent of the Year. Dan tahun 2000 dan 2003 ia meraih Top Agent Award versi Dewan Asuransi Indonesia (DAI) kategori Best Senior Productive Producer. Terlalu panjang jika disebutkan semua pernghargaan yang diraihnya.

Menekuni asuransi sejak usia 24 tahun, Ida menganggapnya sebagai profesi “kecelakaan”. “Tidak ada seorang agen pun, di asuransi ini, yang awalnya bercita-cita menjadi agen,” kenang Ida, kelahiran Surabaya, 13 Agustus 1969. Keluarga tidak mendukung karena cerita-cerita miring di profesi ini. Syukur, sang suami malah paling semangat mendukungnya. Namun, keputusan “mantan” pegiat MLM dan sales door to door ini tidak salah. Ia menemukan jati diri bisnisnya di asuransi.

Dengan prinsip learning by doing, Ida membuktikan profesinya sangat layak diperhitungkan. Bahkan patut jadi kebanggaan. Ida berhasil menjual premi rata-rata per tahun di atas Rp500 juta. Kini ia memiliki lebih dari 600 nasabah. Khusus tahun 2001 lalu, total penghasilan dari komisi tahun berjalan, komisi tahun sebelumnya, berbagai bonus, dan renewel business, bisa mencapai di atas Rp500 juta!

Bukan itu saja! Kepiawaian di bidang asuransi --yang ditimbanya dari pengalaman-- telah melahirkan lembaga konsultan marketing bernama Ida Kuraeny & Associates yang berkantor di Lt.37 Wisma GKBI, Jl. Jend. Sudirman, Jakarta Pusat. Sebuah lembaga yang memberikan pelayanan public speaking bidang asuransi, marketing, customer service, dan management skills. Dengan lembaga itu, Ida ingin supaya ketika orang bicara asuransi, mereka ingat namanya. Tentu saja impian itu makin menjadi kenyataan setelah Ida berhasil menyelesaikan bukunya tentang seluk beluk profesi agen asuransi yang berjudul Membuat Impian Menjadi Kenyataan (Gramedia, 2003).

“Saya dulu sering perhatikan orang-orang di sekeliling Sudirman, di mal-mal, di café-café. Keren-keren bajunya…bawa mobil mewah. Kapan ya bisa seperti itu? Saya bayangkan kalau bisa seperti mereka. Itu memotivasi diri saya,” kenang Ida. Dan mimpi ibu dari Oto, Ony, Sela, dan Ridho ini kesampaian sudah. Berikut petikan wawancara Edy Zaqeus dengan Ida Kuraeny di kantornya di Jakarta Selatan.

Bagaimana awal ceritanya Anda bisa nyemplung di bisnis asuransi?
Tidak ada seorang agen pun, yang awalnya bercita-cita menjadi agen asuransi. Nggak ada. Accident. Kita tahu kan profesi agen asuransi itu paling tidak diminati, paling ditakuti, atau pilihan terakhir. Bahkan keluarga awalnya sama sekali tidak mendukung. Padahal, menjual asuransi yang kita dekati kan keluarga dulu, seperti di MLM. Dengan kondisi seperti itu saya tertantang. Tapi karena waktu itu leader saya kurang memperhatikan, tahun 1991 saya hanya bertahan tiga bulan di asuransi Universal Lifeindo dari Philipina dan partner Indonesianya dari Gunung Sewu Kencana. Tahun 1992 mereka diakuisisi New York Life International, saya kembali masuk tahun 1994. Tahun itu keputusan saya bulat. Dari situlah saya mulai menjadi agen.

Apa yang dilakukan seorang agen asuransi?
Sebenarnya sama dengan MLM. Kalau MLM produk dalam bentuk barang, kalau saya bentuknya kertas jaminan masa depan. Sifatnya abstrak. Butuh kemampuan luar biasa untuk meyakinkan mereka supaya membeli produk asuransi. Seperti di industri MLM, pertama kita harus mengumpulkan bank nama. Investasi atau aset terbesar kita ada di bank nama itu. Di asuransi minimal kita punya 100 bank nama. Dari 100 nama itu kita kembangkan, diklasifikasikan mana yang potensial membeli asuransi.

Dulu saya berawal dari pasar-pasar kecil. Karena saya bukan anak orang kaya. Mau nawari direktur, ya saat itu nggak punya nyali. Yang membuat saya surprais sampai hari ini adalah, dari pasar yang kecil-kecil, saya berubah jadi (mempunyai) pasar besar. Orang-orang di perusahaan mengenal saya sebagai agen kelas teri. Tapi kecil-kecil beratnya bisa satu ton ha ha ha... Saya bisa menjual 100 polis dalam satu tahun, secara konsisten tiga tahun berturut-turut.

Bagaimana dari agen kelas teri jadi ke pangsa pasar yang besar?
Karena saya merawat after sales service. Komisi di asuransi besar, kan? Kita tahu komisinya 30%, ditambah bonus-bonus kalau kita mencapai level tertentu. Dengan komisi tadi saya alokasikan sebagian untuk biaya servis. Hal itu jarang dilakukan oleh agen lain. Saya punya moto, masa depan saya merupakan investasi saya hari ini. Sebagai agen kita tidak punya bos, bisnis sendiri, wirausaha mandiri. Kita itu entrepreneur. Berarti harus punya modal. Modalnya apa? Yaitu tadi bagaimana maintenance klien saya after sales service. Contohnya kartu ucapan edisi khusus untuk para nasabah. Saya juga kerjasama dengan tukang bunga, tukang kue, tukang balon untuk saya kirim kepada mereka.

Mengapa nyemplung di asuransi?
Waktu saya keluar, suami saya tetap menekuni asuransi. Setelah di resepsionis saya kan di marketing, deal dengan orang-orang lain. Sehari punya target ketemu delapan customer, delapan tempat. Lalu suami menyarankan, ‘Dengan ketemu delapan orang sehari, kenapa tidak di asuransi? Uangnya lebih gedhe?’. Di marketing saya dapat semua fasilitas. Hanya saja orang umumnya agak sulit melepaskan kenyamanan kan? Tapi dengan kepercayaan ketemu jumlah orang yang sama, uang akan lebih besar, saya bilang saya mau dapat yang lebih besar lagi!

Lalu saya mulai di asuransi dari nol. Saya lebih memilih ke professional agent. Saya tidak memilih di manajemen, karena kalau di manajemen berarti saya employee tidak beda dengan yang dulu. Sebagai professional agent pendapatannya tidak terbatas. Yang saya lihat fleksibel waktu dan fleksibel income.

Bagaimana cara memprospek orang-orang atas?
Menghadapi prospek seorang direktur pun, saya harus punya posisi selevel dengan dia. Dalam arti income ya…. Kalau kepintaran mungkin dia lebih pintar di bidangnya. Tapi bidang asuransi, sayalah ahlinya. Itu harus diciptakan! Supaya calon prospek melihat, ‘Oh ya, saya nggak salah orang nih’. Self confidence kita harus dibentuk dengan bantuan performance tentunya, skill, attitude, dan pola pikir. Dia akan melihat apakah ‘Orang ini layak nggak berbisnis dengan saya’.

Pada dasarnya kita mencari kesamaan, kan? Baru kita bisa in di situ. Sekarang saya lebih banyak ke pengusaha. Berarti pola pikir saya harus sama dengan seorang pengusaha. Misalnya, apa saja sih yang mereka pikirkan? Bicara masa depan, masalah karyawan. Saya sekarang lebih suka jual pada owner perusahaan. Sekali kerja saya bisa dapat polis di atas sepuluh. Yang saya incar karyawannya, makanya saya harus berpola pikir sebagai owner. Begitu ketemu bikin janji, kita nyambung.

Makanya tergantung pasarnya. Bahasa saya menyesuaikan. Jadi mereka bisa melihat ‘Eh, gaya bahasanya sama dengan saya’. Saya terbiasa menyamakan logat dengan calon prospek. Saya ketemu orang Jawa saya ikuti logatnya, ketemu orang Sunda saya bahasa Sunda. Senang mereka. Itu bermanfaat sekali karena suasana pembicaraan jadi alami. Jadi saya harus menyamakan kedudukan saya dulu.

Dari mana Anda belajar teknik-teknik seperti itu?
Learning by doing. Dengan saya sering ketemu orang, lama kelamaan saya tahu karakter orang. Belajar dengan sendirinya. Baca juga, itu informasi paling murah dan cepat. Saya bukan lulusan S-1, S-2, MBA bukan…. SMA saja. Mereka yang punya titel lebih tinggi itu pasti lebih pintar dari saya seharusnya.

Ketrampilan-ketrampilan dasar apa yang mesti dimiliki seorang agen asuransi?
Sederhana. Etiket nomor satu, karena itu yang menjembatani kita bisa bicara lebih dalam. Kalau kesan pertama tidak mengenakkan, apa akan terjadi pertemuan kedua? Etiket adalah tata krama, tata bahasa, intonasi suara, gaya bahasa, itu mempengaruhi. Gaya bahasa menunjukkan intelektualitas kita, kan? Gaya bahasa dan kepandaian berkomunikasi menentukan.

Harus punya ketrampilan membaca situasi. Saya harus bisa analisis. Dari suara pun bisa. Performance. Kita harus bisa menempatkan diri dengan siapa yang akan kita temui. Saya harus menyesuaikan. Kita juga perlu tahu asuransi dipandang dari sudut agama, dari segi hukum, segi ekonomi, sosial, psikologi. Saya ndak harus sekolah dulu di UI ambil semua jurusan ha ha ha… Ndak mungkin, kan? Belajar sambil jalan. Baca sambil ketemu orang dan menganalisa.

Saat bertemu prospek pertama kali, biasanya apa yang ditawarkan?
Awalnya –saat tidak berhasil—saya langsung tabrak lari. Artinya, begitu dapat janji ketemu, saya datang dengan proposal. Ndak peduli perasaan cocok apa ndak, main tembak aja, Rp100 juta uang pertanggungan bayar premi Rp12 juta. Orang shock! Jadi kegagalan itu saya analisis. Saya harus tahu dulu masa depan dia. Saya bertindak sebagai seorang konsultan. Bukan sebagai penjual asuransi. Konsultan memberikan solusi, bukan memberi produk langsung. Jadi fact finding dulu, orang ini ke mana arah hidupnya. Harus banyak bertanya dan banyak mendengar.

Di situ kuncinya. Kita akan bisa mengarahkan. Bagaimana tekniknya, ya banyak belajar dan bertemu orang setiap hari. Di perusahaan kami, standar ketemu dua orang sehari, saya lebihkan empat. Rasionya ketemu sepuluh, baru satu closing (yang mau beli: red). Itu bagi yang baru bergabung. Seperti saya sekarang, sekali ketemu bisa closing dengan uang pertanggungan cukup besar.

Saat bertemu prospek, jangan bersikap seperti hakim yang mendakwa kliennya. Mereka tidak akan senang. Kuncinya, saat ingin dapat informasi, berilah informasi tentang diri kita dulu. Kreatifitas harus tinggi. Insting dan ketajaman harus bisa menyesuaikan dengan situasi.

Pernah mengalami kesulitan dalam memrospek?
Pada saat bertemu dengan orang yang sudah kaya, sulit sekali mengambil uang mereka. Sulit meyakinkan bahwa dia tetap butuh asuransi. Duitnya nggak bakalan habis, bagaimana? Dari segi agama sudah ndak mempan, ekonomi apa lagi? Lalu dari mana lagi? Saya singgung dari segi egonya, psikologinya. Saya sangat percaya bisnis dia tidak habis untuk tujuh turunan. Tapi saya juga yakin dalam kondisi sudah di puncak tertinggi, dia butuh pengakuan secara sosial-ekonomi. Butuh aktualisasi diri, masuk ke lingkungan badan sosial, ke yayasan-yayasan. Kan banyak yayasan-yayasan sosial sebagai bentuk aktualisasi diri, supaya seseorang dihargai masyarakat luas? Nah, saya masuk dari situ. Mereka bisa memberi dana abadi kepada yayasan. Kita dibenarkan memberikan santunan kematian dengan ahli waris berbentuk yayasan.

Pengalaman “menyedihkan” ada?
Ada! Saya dimarahin. Kalau Anda pernah ditolak asuransi (karena hasil medical check-up: red), masuk ke asuransi lain lebih sulit. Boleh dibilang 90% tidak diterima lagi. Kecuali, asuransi itu main-main, atau ada data-data yang disembunyikan. Pada waktu ditolak, tidak semua orang siap. Akhirnya nasabah tadi marah.

Bagaimana menaklukkan prospek yang sudah ikut asuransi atau banyak alasan penolakan?
Diskusikan kembali, karena asuransi banyak jenisnya. “Kalau Bapak sudah beli, saya malah senang hati. Berarti saya tidak ketemu orang yang salah!” Kenapa? Karena mereka jelas lebih mengerti dong. Saya tidak perlu menerangkan dari awal sekali. “Saya sudah banyak lho asuransinya..” Tidak selalu, kalau prospek ada masalah, langsung saya jawab. Capek kalau begitu. Saya analisis dulu, apakah ini benar-benar masalah, objections, atau sekedar kepura-puraan untuk menolak. Saya selalu bilang, “Kalau saya bisa menjawab semua keberatan Bapak, Bapak mau beli asuransi dari saya...?” Saya tantang begitu.

Perbedaanya orang Indonesia dengan orang Amerika kalau beli asuransi; orang Indonesia…”Ida, berapa nanti yang bakal gue terima? Duit gue bakal berapa 15 tahun kemudian?” Kalau orang Amerika, yang sudah mengenal asuransi..”Nanti yang akan diterima keluargaku berapa?” Beda, kan? Satu buat ‘keluarga’, satu buat ‘saya’… ego, kan?

Solusinya apa?
Ajaklah prospek diskusi dulu. Tidak ada ikatan membeli, kan? Tidak ada maksud menggurui. Kalau agen kreatif, dia bisa mengubah prospek yang semula sekadar ingin tahu, berubah jadi pembeli. Tugas kita hanya menjelaskan. Di asuransi jiwa itu yang diasuransikan adalah nilai ekonomi kita pengertiannya, bukan jiwanya. Kalau meninggal, tidak bekerja, income hilang dong. Jadi yang diasuransikan incomenya, bukan jiwanya. Saya harus tahu financial commitment prospek. Saya harus tahu income dan pengeluarannya, karena saya seorang konsultan, bukan penjual. Kebanyakan agen kita menjual secara umum saja. Nasabah beli Rp.1-10 juta sudah cukup. Dianggap sudah besar oleh seorang agen. Ini kejadian, saya gali lagi nasabah itu, dia bisa beli Rp100 juta!

Berapa waktu Anda alokasikan untuk setiap prospek?
Tergantung, ya. Di industri kita pada dasarnya kalau ada buying signal (tanda-tanda membeli) baru akan terjadi penjualan. Tanda-tanda itu harus kita ciptakan dulu. Itu mempercepat proses. Buying signal itu antara lain begini; ”Ya, udah deh, kamu datang dulu ke tempatku, jelaskan 15 menit saja!” Kedua, dia banyak bertanya detailnya. “Kalau ada perang bagaimana?”, “Kalau saya pindah ke luar negeri bagaimana?” Kita harus ciptakan dengan pertanyaan-pertanyaan yang mengarah ke buying signal.

Pengalaman paling menyenangkan di bisnis ini?
Wow....kalau dapat cash besar! Satu keluarga beli Rp600 juta premi dalam waktu dua tahun. Padahal waktu itu rekor tertingginya di tahun 1998, sekali beli adalah Rp250 juta. Jadi boleh dibilang Allah mengijinkan… Pada waktu krisis penjualan saya meningkat. Tahun 1998 itu saya yang pertama memecahkan rekor Rp1 milyar untuk perusahaan saya. Rekor perusahaan sejak 1992 baru terpecahkan tahun 1998 oleh saya. Secara nasional itu rekor kedua, karena yang pertama dipecahkan oleh AIA Rp1 milyar di tahun 1997. Saya baru bisa pecahkan tahun 1998. Saya the Best Agent tahun 1999 di perusahaan. Sekarang untuk the Best Agent harus menjual Rp2,5 milyar setahun.

Apakah Anda punya target-target dalam bisnis ini?
Tahun 2000 saya dapat penghargaan sebagai Top Agent Award kategori Best Senior Productive Producer (Peringkat I) dari DAI. Saya berprinsip harus punya peringkat di DAI. Itu prestisius nasional. Tapi yang lebih prestisius lagi adalah anggota MDRT yang anggotanya para agen seluruh dunia. Ada tiga katagori MDRT; biasa, Court of Table, dan Top of the Table. Untuk jadi Top of the Table, dia harus punya kualifikasi penjualan enam kalinya MDRT biasa. Untuk MDRT biasa tahun 2001, dia harus menjual Rp439 juta premi. Saya sudah lima kali berturut-turut kualifikasi MDRT. Di Indonesia (sampai 2002: red), kurang dari delapan orang dengan kualifikasi MDRT lima kali berturut-turut. Tahun 2001 adalah MDRT keenam saya berturut-turut. Mimpi saya adalah menjadi MDRT seumur hidup. Kedua, bisa sepuluh kali berturut-turut. Enam kali sudah, itu rekor di Indonesia (data terakhir hingga 2004, Ida sudah meraih kualifikasi MDRT 10 kali: red).

Mimpi lainnya?
Mimpi lain saya menjadi (public) speaker. Saya sekarang sudah punya accociate sendiri untuk mengeducate para agen. Visi saya, dengan menjadi agen profesional, kita juga bisa punya bisnis sendiri. Ssalah satunya adalah sebagai public speaker. Secara finansial, saya tidak ingin punya masalah keuangan. Alhamdulilah, kami sudah lewati masa-masa kritis tersebut. Saya juga ingin membuktikan kepada masyarakat, bahwa profesi agen asuransi itu bukan profesi yang dipandang sebelah mata. Saya bangga sebagai agen profesional, karena saya bisa diterima di kalangan mana pun. Kalau kita profesional, hasil jerih payah kita itu ada harganya.

Saran saya kepada agen baru adalah disiplin. Milikilah disiplin kerja yang tinggi, karena pekerjaan kita hari ini tidak langsung berbuah. Kalau mandeg, maka untuk memulai usaha lagi sulit. Disiplin diri, membangun performance diri, membangun motivasi diri, dan tularkan antusias kita kepada mereka, yang selama ini belum mengerti asuransi. Belajarlah pada mereka yang sudah sukses.*

Dapatkan wawancara menarik seperti ini dengan 10 entrepreneur sejati lainnya, seperti Bob Sadino, Widia Soerjaningsih, Purdie Chandra, Andrie Wongso, Sofia Achmad, Sunarno, Billi PS Lim, Liem Lie Sia, Lisa Kuntjoro, dan Gede Prama, dalam buku best seller "Kalau Mau Kaya Ngapain Sekolah" (Gradien, 2004

toko-delta.blogspot.com

Archives

Postingan Populer

linkwithin

Related Posts with Thumbnails

Total Tayangan Halaman

Diberdayakan oleh Blogger.