toko-delta.blogspot.com

menu

instanx

Sabtu, 08 November 2008

Mengatasi Perasaan Takut Gagal

Oleh Ade Asep Syarifuddin


KAWAN saya sudah lima tahun berpacaran, tapi belum juga melangsungkan pernikahan. Dia bilang takut bercerai setelah menikah. Sementara tetangga saya ingin sekali mengembangkan bisnis jual beli pakaian seperti pamannya, tapi setelah ditimbang-timbang nggak mulai-mulai. Di bilang takut rugi, apalagi kondisi perekonomian sedang lesu. Kalau untung tidak masalah, kalau rugi kan risikonya cukup besar. Dan banyak lagi cerita-cerita yang sering kita dengar sehari-hari yang intinya takut melangkah karena takut dengan risiko kegagalan.

Pandangan-pandangan tersebut jelas merupakan cara berpikir yang tidak tepat. Hidup ini pilihan-pilihan, kita sendiri yang menentukan jadi apa, apakah jadi pengusaha, pegawai negeri, pedagang, tentara, polisi, wartawan, penyiar radio, konsultan atau apa pun profesi yang ada dan setiap pilihan ada risiko-risiko yang mesti ditanggung. Seorang polisi lalulitas misalnya, memiliki risiko berpanas-panasan apabila jalanan macet. Itu benar-benar terjadi di kota-kota besar, sementara seorang wartawan pun tidak lepas dari risiko komplain dari pembacanya apabila beritanya cukup kritis kepada kelompok tertentu. Jadi, profesi apa yang tidak memiliki risiko? Apakah pegawai negeri lantas tidak mempunyai risiko? Tidak juga, pegawai negeri sipil risikonya memiliki pendapatan bulanan yang pas-pasan karena usahanya juga pas-pasan dan sangat minimal. Karena semua profesi rentan dengan risiko, berarti kita harus selalu siap menghadapi perubahan-perubahan jaman dan kompetisi dengan pihak lain dan tidak lantas bermalas-malasan karena merasa pekerjaannya ada di wilayah yang aman.

Bagaimana hubungan antara risiko dengan takut gagal? Sebelum membahas risiko dan kegagalan ada baiknya kita membahas dulu cara kerja pikiran kita. Bila ada sesuatu kejadian di luar diri kita, sesuatu kejadian itu sifatnya netral, yang memberikan makna kepda kejadian itu adalah pikiran kita sendiri. Ketika mendengar satu kata, pikiran lantas membuat makna berupa simbol terhadap kata tadi sekaligus membuat makna yang berisi nilai—positif maupu negatif—dari kata tadi. Kalau referensi awal tentang satu kata tersebut negatif, maka setiap mendengar kata tersebut akan negatif terus. Sebaliknya, apabila referensi awalnya positif, akan positif selamanya. Tapi tidak usah khawatir, ada satu cara untuk me-reporgramming pikiran kita, sehingga mindset awal yang negatif bisa diubah menjadi positif dengan suatu metode.

Kalau pikiran bisa diprogram, berarti kesuksesan pun apakah bisa diprogram? Betul sekali, kesuksesan bisa diprogram asalkan memiliki komitmen dan kemauan untuk senantiasa memelihara pikiran ke arah yang kita inginkan. Kita mengendalikan pikiran, bukan kita yang dikendalikan oleh pikiran. Sukses misalnya, itu bisa diprogram lewat pikiran dengan cara kita selalu berpikir tentang kesuksesan yang kita inginkan. Contoh, kita ingin menjadi pengusaha yang memiliki keuntungan sebulan Rp50 juta. Namun pada bulan pertama keinginan tersebut belum tercapai. Tapi terus menerus dicoba lagi dan dicoba lagi sampai akhirnya tercapai. Selagi pikiran kita berpikir sukses, maka kemungkinan sukses itu akan datang. Persoalannya hanya waktu yang mungkin tidak sesuai dengan yang kira harapkan. Bila kita cukup sabar dan yakin suatu ketika akan sukses, ini merupakan modal awal yang cukup berharga. Sebab, waktu kita bukanlah waktu Tuhan. Kita ingin secepatnya mencapai suatu tujuan. Kesannya tergesa-gesa, terburu-buru, sementara Tuhan sendiri memiliki waktu sendiri. Artinya, selagi orang itu memelihara keinginan disertai dengan usaha dan berdoa, maka suatu ketika akan sampai juga. Problemnya, kita tidak mengetahui jarak tempuh untuk mencapai tujuan kita itu berapa lama. Ini merupakan rahasia Tuhan yang harus dilengkapi dengan senjata optimisme terus menerus. Jadi, sukses = usaha terus menerus + optimisme yang membara.

Bila kita melakukan sesuatu dan belum tercapai, itulah sebenarnya yang menurut kamus orang yang tidak sukses disebut g-a-g-a-l. Padahal menurut kamus orang sukses, hal itu hanyalah keinginan yang belum tercapai. Keinginan yang belum tercapai tersebut bisa jadi rugi, untung kecil, atau kondisi pasar tidak kondusif. Kondisi-kondisi tersebut dinamakan risiko. Artinya, ketika kita merencanakan sesuatu dalam kehidupan ini, hal apa saja, kemudian kita sudah siap risiko yang paling tidak enak sekalipun, maka pada saat itu juga tidak ada kata g-a-g-a-l. Maju terus pantang mundur.

Jadi, ketika sudah mematangkan suatu rencana berikut untung rugi dan risikonya, langkah kedua adalah berbuat. Setelah berbuat, kita akan tahu, mengapa belum tercapai rencana-rencana yang kita tetakan dan dari sana kita bisa mengetahui penyebabnya. Tapi kalau belum apa-apa sudah takut melangkah karena takut g-a-g-a-l, dan mengeset pikirannya untuk g-a-g-a-l, maka yang dipikirkannya akan terjadi. Wong sewaktu kita menetapkan tujuan, salah satu risikonya adalah tidak tercapai, mengapa kita merasa takut tujuan itu tidak tercapai. Kalau belum tercapai ya coba lagi dan coba lagi sampai tercapai, titik. Beres kan. Mengapa terlalu banyak pertimbangan yang akhirnya tidak melakukan perbuatan apa-apa. Lebih baik gagal lima kali, tapi mencoba 15 kali, ketimbang tidak gagal tapi tidak pernah berbuat apa pun.

Tipe-tipe orang yang tidak mau menghadapi risiko adalah tipe orang yang mencari aman, berada di wilayah comfort zone. Menurut Robert K. Tiyosaki orang yang berada di comfort zone salah satunya adalah karyawan. Setiap bulan dia mendapatkan kepastian finansial.,Kerja keras atau tidak keras pendapatannya tetap segitu-gitu saja sebelum gajinya dinaikkan. Tapi memang secara risiko mereka aman, tidak akan dipusingkan oleh harga-harga di luar yang naik turun, fluktuasi dollar terhadap rupiah. Tapi lagi-lagi “tipe karyawan” --saya sebutkan di sini tipe karyawan, tidak semua karayawan seperti ini karena banyak karyawan yang memiliki usaha sendiri—sangat sulit untuk berkembang, karena dirinya telah membuat tembok-tembok yang kuat untuk membentengi dirinya supaya aman dan nyaman dan tidak ada badai risiko yang bisa tembus ke benteng tadi.

Sementara tipe pengusaha, entrepreneur, adalah orang yang memiliki watak dare to fail berani gagal (judul buku Billi PS Liem). Ini adalah dunia yang sebenar-benarnya. Manusia hidup dalam sebuah reality show yang menarik. Dibutuhkan seni untuk menghadapinya, sehingga kasus demi kasus yang terjadi dapat disikapi dengan tepat dan membawa kita ke arah pola hidup dan cara pikir yang lebih baik lagi. Bagaimana kalau pengusaha tidak berani, khawatir tujuannya tidak tercapai, terlalu banyak pertimbangan, lebih banyak memikirkan risiko ketimbang fokus ke tujuan. Saya jamin dia akan batal jadi pengusaha. Karena tipe pengusaha itu coba dulu baru evaluasi, bahkan prinsip mereka agak dekat ke nekat-nekat gitu, risiko belakangan.

Acara-acara reality show di televisi yang menguji ketangguhan dan keberanian seseorang apakah Fear Factor, atau yang lainnya, cukup positif untuk dijadikan bahan perbandingan kita dalam menginspirasi untuk mencapai tujuan. Hanya yang berani, ulet, tekun, gigih, pantang menyerah dan mental baja sajalah yang dapat menjadi juara alias mencapai tujuan yang diinginkan. Sementara yang pesimis, negatif thingking, buruk sangka, mengambil kesimpulan jelek sebelum sesuatu terjadi, dia hanya akan menjadi pecundang dan merugikan dirinya sendiri. Jadi tinggal pilih juga sebenarnya, mau sukses atau mau g-a-g-a-l. Kalau ingin sukses, sekali lagi, pikirkah tentang kesuksesan setip saat, kapan pun dan di mana pun, sebeliknya kalau mau jadi pecundang, pikirlah yang tidak enak-tidak enak.

Dalam kenyataannya, pikiran memiliki hukum-hukum sendiri. Pikiran itu bukan kita dan kita buka pikiran. Pikiran itu sangat liar dan tidak bisa diatur kecuali oleh pawangnya. Hukum pikiran yang pertama, pikirkan segala sesuatu yang ingin kita pikirkan, kedua, hentikan berpikir apabila kita tidak ingin memikirkan sesuatu pikiran, yang ketiga, kontrol pikiran dengan kesadaran. Kesadaran itulah yang menjadi pawang pikiran, asalkan segala pikiran yang muncul dikonfirmasi ulang kepada kesadaran, maka kita akan senantisa berpikir yang kita inginkan. Contoh sederhana, kita berpikir tentang sesuatu, ingin ke luar negeri misalnya karena mendapatkan bonus akhir tahun, kalau kita bertanya ulang kepada diri sendiri, mengapa saya harus ke luar negeri, apa manfaatnya, apakah bukan pemborosan? Setelah ditimbang-timbang ternyata disimpulkan, memang harus ke luar negeri untuk mengadopsi pengalaman dan kultur negeri lain yang sudah maju. Proses berpikir ulang dan menimbang-nimbang itu adalah posisi kesadaran mengontrol pikiran. Demikian halnya apabila kita berpikir tentang keburukan seseorang, tanyakan kembali, mengapa kita harus berburuk sangka pada orang itu, apa manfaatnya, apakah lebih baik berbaik sangka saja karena belum ada bukti yang kuat bahwa orang itu berbuat salah. Proses memikirkan kembali itu adalah posisi kesadaran juga. Di sini kesadaran sudah berbuat sesuai dengan yang kita inginkan, bukan sebaliknya, berbuat sesuatu yang pikiran inginkan.

Kembali kepada gagasan awal, tidak ada alasan untuk takut gagal karena mencoba sesuatu. Kalu mau mencoba ya, lakukan saja kalau sudah melalui tahap pertimbangan yang cukup matang dan tidak lantas terjebak dalam kebingungan, bimbang, ragu dan sikap-sikap sejenisnya. Dan yang perlu dicatat, orang yang berani mengambil risiko hanyalah orang-orang yang sukses. Terserah, tinggal pilih yang mana. Kegagalan atau keberhasilan dimulai dari pikiran kita sendiri.[] * Ade Asep Syarifuddin adalah trainer yang berbasiskan NLP, motivator SDM. Selain menekuni training SDM, ia juga adalah Editor in Chief dan General Manager pada Harian Radar Banyumas di Purwokerto. Dia dapat dihubungi lewat e-mail: ade_asep@yahoo.com atau Hp: +628122670444.

Keuntungan-keuntungan Luar Biasa yang Bisa Anda Nikmati Bila Pelayanan Konsumer Topcer Anda Terapkan

Oleh: Joshua W. Utomo, M.Div., D.Hyp., C.Ht.*


(Bagian 3)

“If we don’t take care of the customer…somebody else will.”

Artikel ini saya tulis sebagai lanjutan dari dua seri artikel saya sebelumnya, sekaligus untuk menjawab keraguan beberapa pembaca mulai yang masih mempertanyakan dan bahkan meragukan pentingnya pelayanan (service) konsumer dan peran kuncinya bagi kesinambungan, peningkatan, dan perkembangan usaha (perusahaan atau organisasi nirlaba) yang kita kelola.

Untuk lebih memperjelas perbincangan kita kali ini, saya ingin menyarikan pertanyaan-pertanyaan yang masih simpang-siur itu--baik yang secara implisit atau eksplisit masih meragukan akan pentingnya pelayanan (service) ini kedalam satu pertanyaan singkat berikut ini:

“Mengapa pelayanan (service) konsumer topcer ini memegang peran yang sangat penting (vital) bagi organisasi (laba dan nirlaba) yang kita kelola?”

Anda mungkin akan menemukan beberapa informasi atau pembahasan yang tertuang dalam artikel ini sudah pernah saya singgung sebelumnya lewat dua artikel saya yang lalu (Rahasia Satu dan Dua) itu. Ini saya sengaja dan ingat kesalahan bukan pada pesawat televisi Anda—ini semua ada maksudnya, kok yaitu: penerapan prinsip repetisi (pengulang-ulangan; silahkan membaca tentang prinsip yang sangat penting ini dalam artikel saya yang lainnya).

Baiklah, mari kita kembali pada pertanyaan singkat: ” Kenapa pelayanan (service) konsumer topcer ini memegang peran yang sangat penting bagi organisasi (laba dan nir-laba) yang kita kelola?” itu. Sebuah pertanyaan yang amat sederhana, namun, kini tugas kita untuk mencari jawabannya.

Untuk menjawab pertanyaan sederhana itu, saya pertama-tama ingin mengajak Anda untuk melihat keuntungan-keuntungan luar biasa dan yang mampu mengalirkan suasana yang amat positif yang bisa Anda, perusahaan Anda, dan para konsumer Anda nikmati bila pelayanan konsumer topcer ini Anda terapkan.

Anda mungkin masih bertanya-tanya: “Apa sih sebenarnya keuntungan-keuntungan (the profits), manfaat (the benefits), dan hasil positif (the positive results) yang bisa saya petik dari penerapan pelayanan konsumer topcer ini?” Jawabannya: ada banyak sekali keuntungan (the profits), manfaat (the benefits), dan hasil positif (the positive results) yang bisa Anda nikmati di antaranya:

1. Anda dan para staf Anda (konsumer dalam) akan merasa lebih santai, tenang dan senang saat melakukan aktifitas kerja. Suasana kerja benar-benar berubah menjadi lebih enak dan menyenangkan. Efektifitas dan efisiensi kerja pun tercapai dan terjaga dengan baik sehingga akhirnya tingkat produktivitas kerja pun akan meningkat secara signifikan pula.

2. Konsumer luar (External Client) Anda pun akan menjadi lebih senang dan lebih mudah untuk dilayani; kontak bisnis Anda dengan mereka akan berlangsung mulus dan berjalan dengan lancar.

3. Konsumer luar (External Client) dan para staf perusahaan(Internal Client) Anda pun pasti akan merasa puas dan senang. Mereka pun pada akhirnya tak akan segan-segan untuk mengungkapan ucapan terima kasih, apresiasi, dan penghargaan mereka pada Anda dengan tulus.

4. Reputasi, pamor, dan kebonafiditasan Anda sebagai pribadi sekaligus pengusaha pun akan naik dan,

5. Secara otomatis reputasi, pamor, dan kebonafiditasan perusahaan Anda pun akan semakin meroket saja;

6. Lalu ketika Anda/staf perusahaan Anda melakukan kesalahan, atau jika sekalipun ada sesuatu yang salah saat memproses transaksi Anda dengan para konsumer Anda itu, konsumer Anda pasti akan dengan senang hati, terbuka, dan murah hati memaafkan Anda/staf perusahaan Anda.

Sebenarnya masih banyak lagi keuntungan-keuntungan yang bisa Anda/staf Anda nikmati, bila Anda dan semua staf Anda berkenan menerapkan pelayanan konsumer topcer dengan baik dan sepenuh hati.

Apabila nanti Anda sekalian telah benar-benar menerapkan Rahasia Pelayanan Konsumer Topcer ini dan telah bisa menikmati keuntungan-keuntungan, manfaat, dan hasil positif darinya, silahkan mengirimkan e-mail Anda ke Pembelajar.com atau langsung kepada saya (prof_jw@yahoo.com). Terima kasih!

+++++++

Baiklah, kita telah membahas secara panjang lebar manfaat, keuntungan dan hasil positif yang luar biasa bagi Anda dan perusahaan Anda jika Anda menerapkan Rahasia Pelayanan Konsumer Topcer itu, sekarang apa manfaat, keuntungan, dan hasil positif yang bisa dinikmati oleh para konsumer Anda?

Satu prinsip lagi yang harus kita ingat: “Anda harus mampu memberikan jaminan nyata bahwa konsumer Anda akan mendapatkan dan bisa menikmati manfaat, keuntungan, dan hasil yang terbaik jika mereka melakukan transaksi bisnis dengan Anda”.

Prinsip penting selanjutnya: “Setiap konsumer pasti selalu mencari manfaat, keuntungan, dan hasil yang positif dan terbaik yang bisa mereka nikmati ketika melakukan transaksi bisnis entah skala kecil atau besar.”

Tanpa adanya jaminan nyata dari Anda dan perusahaan Anda bahwa mereka akan bisa menerima dan menikmati manfaat, keuntungan dan hasil terbaik dari transaksi bisnis yang akan mereka lakukan, kemungkinan besar mereka pasti akan segera menghentikan rencana bisnis mereka dengan Anda. Dengan kata lain: rencana tinggal rencana, transaksi bisnis hanyalah fantasi belaka.

Dan seperti yang saya sebutkan di awal artikel berseri ini: “If you don’t take care of your customer…somebody else will,” – jangan menangis atau menyesal bila konsumer-konsumer Anda itu akan segera meninggalkan Anda, lari mendekati perusahaan-perusahaan lain di sekeliling Anda. Mereka beruntung, sebaliknya Anda pun amat buntung!

Nah, untuk itu sekarang marilah kita membahas dengan tuntas keuntungan-keuntungan, manfaat, hasil positif yang bisa dinikmati oleh para konsumer perusahaan Anda bila Anda semua menerapkan pelayanan konsumer topcer:

1. Konsumer Anda pasti akan merasa senang, tenang, dan tak khawatir lagi saat menjalin transaksi bisnis dengan perusahaan Anda;

2. Konsumer Anda pasti akan merasa beruntung karena mereka merasa telah mengambil pilihan yang terbaik dengan melakukan transaksi bisnis dengan perusahaan Anda.

3. Konsumer Anda pasti tak akan pernah merasa ragu atau bimbang untuk terus melakukan jalinan bisnis dengan Anda di masa sekarang dan mendatang, karena mereka merasa yakin (seyakin-yakinnya) bahwa Anda pasti akan memberikan pelayanan Anda yang terbaik, yang luar biasa dan sangat professional ketika menjawab setiap pertanyaan, kekhawatiran, dan masalah mereka yang mungkin muncul saat melakukan kontak bisnis dengan perusahaan Anda.

Apabila nanti Anda telah menerima komplimen, sanjungan, dan komentar positif dari para konsumer Anda atas keberhasilan Anda menerapkan pelayanan konsumer topcer ini—silahkan kirimkan pengalaman Anda ke Pembelajar.com atau langsung kepada saya via prof_jw@yahoo.com.

Dan buat para konsumer sekalian bila Anda menerima pelayanan topcer jangan sungkan-sungkan kirimkan juga pengalaman Anda! Terima kasih!

* Joshua W. Utomo, M.Div., D.Hyp., C.Ht., adalah seorang psikoterapis, penyair, corporate trainer/entertainer, motivator/hipnoterapis, dan penulis yang sekarang sedang berkelana di Boston, AS. Dia adalah pendiri Heal & Grow Center™ (www.healandgrowcenter.com) sebuah pusat penyembuhan holistik. Bersama istrinya (Cynthia C. Laksawana) mendirikan Sanggar Kinanthi™(www.sanggar-kinanthi.com) dan JW Utomo Productions™ (http://masterhypnotistusa.tripod.com) sebagai wahana mereka berseni-budaya dan berkiprah bagi kemanusiaan. Dia dapat dihubungi via prof_jw@yahoo.com.

MEMBERDAYAKAN DIRI DAN MENJADI MANUSIA PEMBERDAYA

Oleh Sansulung John Sum


Ada hal yang lebih besar daripada yang sekadar berwujud, lebih besar dan melampaui kesuksesan. Orang-orang yang penuh semangat akan hal ini digerakkan oleh suara hati mereka. Mereka mengerjakan apa yang menurut suara hatinya pantas dan esensial untuk dikerjakan.

Selalu ada orang-orang yang lebih sukses daripada mereka, tetapi mereka tidak membiarkannya mempengaruhi panggilan unik yang mereka jalani. Mereka mengejar sesuatu yang lebih bernilai bagi kehidupan mereka. Itulah signifikansi atau kebermaknaan, yang menunjuk pada sifat penting, arti, nilai, esensi, dan relevansi suatu hal.

Istilah Suara yang didengungkan oleh Stephen Covey dalam The 8th Habit, sejatinya adalah Makna Personal Yang Unik—kebermaknaan yang tersingkap ketika kita menghadapi tantangan-tantangan kita yang terbesar, dan yang membuat kita mengimbangi tantangan-tantangan tersebut.

Konsultan pengembangan karier dan kreativitas, Dick Richards mengungkapkan empat sumberdaya energi yang perlu dipadukan untuk menjawab aneka tantangan, yaitu: Fisik, Mental, Emosional, dan Spiritual. Jika Anda sukses menyertakan keempat energi tersebut, maka hasil yang Anda raih akan bertahan dalam jangka panjang. (Artful Work,Metalexia, 2003).

Di dalam diri Anda dan saya terdapat kerinduan yang mendalam, yang ada sejak kita lahir, dan yang hampir tak terucapkan, untuk menemukan panggilan jiwa atau makna kita yang unik dalam hidup ini. Pertanyaan-pertanyaan di bawah ini akan membantu atau mengarahkan radar hati kita untuk menemukan Suara panggilan kita itu. Keempat pertanyaan ini paralel dengan empat perspektif yang saya tampilkan dalam lampiran buku saya, Awaking The Excellent Habit (Gradien Books, 2006).

1. Finansial (Fisik/PQ): Kebutuhan apa yang saya rasakan, dalam keluarga saya, dalam komunitas saya, dalam organisasi tempat kerja saya?

2. Mental (Pikiran/IQ): Apakah saya punya bakat yang bila diterapkan dengan disiplin dapat memenuhi kebutuhan tersebut?

3. Sosial (Hati/EQ): Apakah kesempatan untuk memenuhi kebutuhan tersebut akan membuat saya bergairah?

4. Spiritual (Jiwa/SQ): Apakah sanubari saya menginspirasi saya untuk bertindak dan terlibat di situ?

Jika kita dapat menjawab keempat pertanyaan tersebut secara positif dan bersedia melakukan kebiasaan untuk mengembangkan rencana tindakan, dan kemudian mulai bekerja, Stephen Covey menjamin kita akan mulai menemukan Suara panggilan jiwa kita yang sesungguhnya dalam hidup kita. Hidup kita akan penuh makna, amat memuaskan, dan penuh keagungan.

Keempat dimensi paradigma pribadi lengkap itu, menurut Covey, mencerminkan empat kebutuhan motivasi dasar dari semua orang. Fisik atau ekonomis untuk bertahan hidup, pikiran untuk belajar (tumbuh dan berkembang), hati untuk menyayangi (jalinan hubungan), dan jiwa untuk meninggalkan warisan (makna dan kontribusi).

Segala ketidakpuasan dan ketidakberhasilan mendayagunakan sumberdaya manusia kebanyakan berpangkal dari paradigma mengenai kodrat manusia yang tidak lengkap dan utuh. Apabila kita mengabaikan satu saja dari keempat bagian paradigma pribadi lengkap itu, kita menjadikan manusia sebagai sebuah benda. Sebaliknya, paradigma pribadi lengkap membuat kita cenderung menginspirasi dan memotivasi, ketimbang mengintimidasi dan memanipulasi.

Salah satu hal penting dalam menempuh perjalanan menuju kebermaknaan adalah kemurnian motif kita. John Maxwell secara gamblang memaparkan kegunaan motif yang benar, yaitu: mencegah kita dari memanipulasi sesama, menguatkan kita di masa-masa susah, memberi kita kredibilitas di mata sesama, memungkinkan kita melayani sesama, dan membuat Sang Pencipta berkenan kepada kita.

Semua manfaat kemurnian motif kita akan membuat kita bekerja lebih efisien, karena kita tidak akan terjebak dalam penyesalan akan kelalaian di masa lampau atau kecemasan berlebihan akan masa depan. Efisiensi energi ini selanjutnya membuat kita dapat melampaui diri sendiri untuk mulai memberdayakan orang lain.

Kalau Anda tidak berbuat sesuatu dengan kehidupan Anda, tidaklah menjadi soal berapa lama usia Anda. Kalau Anda berbuat sesuatu dengan kehidupan Anda, juga tidak menjadi soal berapa lama usia Anda. Kehidupan bukanlah terdiri dari tahun-tahun usia Anda, melainkan kebergunaannya. Fokus Anda hendaklah melampaui diri sendiri. Kalau Anda memberi, mengasihi, melayani, menolong, mendorong, dan memberikan nilai tambah bagi sesama, Anda menjalani kehidupan yang berguna. Itulah kebermaknaan. (Perjalanan dari Sukses menuju Kebermaknaan, John C. Maxwell, Interaksara, 2004).

Pengembang kepemimpinan Wayne Cordeiro menjuluki orang yang memberikan nilai tambah bagi sesama atau manusia pemberdaya sebagai pembebas impian. Dalam pandangannya, jutaan impian terbelenggu di dalam diri banyak orang di sekeliling kita. Impian-impian itu tertanam secara ilahi di dalam jiwa mereka. Di dalamnya, terkandung gairah, potensi, dan panggilan jiwa mereka. Tetapi, seperti seekor burung yang terkurung dalam sangkar, impian itu tetap terbelenggu.

Realita dunia ini dipenuhi dengan orang-orang yang membutuhkan pembebasan dari belenggu emotional illiterate, orang-orang yang belum berhasil mengelola emosi dan gagasannya. Banyak orang belum memiliki kemampuan mendayagunakan Akal-penalar dan Budi-pekerti secara melek emosional, untuk menciptakan hubungan serasi antara pengalaman mental dan pengalaman fisis. Kemampuan olah emosi itu sebut Daniel Goleman sebagai kecerdasan emosional.

Wayne menantang, “Maukah Anda menunjukkan tanda sebagai seorang pembebas impian? Maukah Anda meminta Allah untuk mengembangkan hati, mata, dan mulut Anda demi membebaskan impian yang masih terkurung di dalam begitu banyak orang lain? Dunia ini menjerit meminta pembebas impian.”

Pada awal 1990-an, seorang pemimpin berkata kepada saya, “Sum, lima tahun mendatang, kamu bukanlah kamu yang sekarang.” Kata-kata yang keluar dari hati dan mulut Kiman Samiton itu, walaupun kelihatannya wajar saja, telah sangat kuat mempengaruhi saya ketika beranjak dari usia remaja saat itu. Beliau lalu memberi kesempatan kepada saya untuk mengembangkan diri melalui tugas-tugas dalam organisasi yang dipimpinnya.

Suatu ketika, tatkala saya merasa tanggung jawab yang diberikan terlalu berat dan berniat mengundurkan diri, ia pun berkata kira-kira seperti ini, “Saya berikan energi dan waktu saya untuk kamu selama ini karena saya melihat ada potensi kepemimpinan di dalam diri kamu.” Akhirnya, saya menyadari bahwa ia berupaya membebaskan impian yang tersembunyi dalam kehidupan saya.

Apabila kita ingin menghancurkan seseorang, merusak dia sepenuhnya, atau memberikan hukuman yang paling menyakitkan, yang perlu kita lakukan hanyalah memberinya pekerjaan yang tak berguna, sia-sia, dan irasional. (Fyodor Dostoyevsky). Sebaliknya, ketika kita menghargai, menghormati, dan menciptakan cara bagi sesama kita untuk memberi suara pada keempat bagian dari kodrat mereka secara lengkap dan utuh, maka menurut Stephen Covey, kecerdasan manusiawi, kreativitas, gairah hidup, bakat, dan motivasi yang masih tersembunyi dalam diri manusia menjadi merebak ke luar dan berkembang. Impian-impian terbebas dari belenggunya.

Kebiasaan ke-8 yang diperkenalkan oleh Stephen Covey adalah finding our own voice and inspiring others to find theirs (menemukan suara panggilan jiwa kita dan mengilhami orang-orang lain untuk menemukan suara mereka). Kebiasaan ini pantas menjadi latihan sehari-hari yang wajib bagi seorang pembebas impian atau manusia pemberdaya. Kebiasaan ini akan men-transformasi diri kita agar dapat menghadapi realita baru dunia ini.[]

* Sansulung John Sum, Penulis Buku “Awaking The Excellent Habit, Memberdayakan Akal-Budi untuk Sukses bersama: Abdullah Gymnastiar, Andrias Harefa, Andrie Wongso”.

TEMUKAN EPIFANI ANDA

Oleh: Syahril Syam


Apa itu epifani? Epifani didefenisikan sebagai peristiwa istimewa dalam kehidupan seseorang yang menjadi titik balik dalam kehidupannya. Pengaruhnya berbeda-beda, bisa negatif atau positif, bergantung pada apakah epifaninya besar atau kecil. Contoh menarik dari sebuah epifani adalah kisah yang dialami oleh Martin Seligman. Martin Seligman adalah seorang profesor di bidang psikologi. Psikologi yang digelutinya dulu adalah psikologi yang senantiasa berorientasi pada sifat-sifat buruk manusia. Bahkan pada saat sekarang ini pun banyak pakar psikologi yang memulai analisanya pada sifat-sifat negatif manusia. Apa yang menyebabkan manusia berperangai buruk? Kenapa manusia memiliki kecenderungan-kecenderungan negatif? Ini adalah sebagian pertanyaan yang senantiasa menggambarkan psikologi kita. Pada intinya manusia itu bertabiat buruk, sehingga perilaku-perilaku aneh manusia, selalu dicari sebab-sebab negatif yang menyebabkannya.

Psikologi senantiasa berkutat pada kekurangan-kekurangan manusia, dan penyakit-penyakit kejiwaan. Tidak ada satu pun aliran psikologi yang membahas dan fokus pada kekuatan-kekuatan manusia. Aliran psikologi yang berkutat pada kelebihan-kelebihan manusia inilah, yang diusung oleh Martin Seligman. Seperti yang telah saya gambarkan, bahwa Seligman pun dulu bergelut dengan psikologi “negatif” hingga beliau menemukan epifaninya. Martin Seligman kemudian mengisahkan dirinya:

Waktu itu saya sedang menyiangi taman kami bersama putri saya, Nikki, yang berumur lima tahun. Saya harus mengakui bahwa walaupun telah menulis sebuah buku dan banyak artikel tentang anak-anak, saya tidak terlalu pandai menghadapi mereka. Saya berorientasi-tujuan dan hemat waktu, dan ketika menyiangi taman, saya hanya menyiangi. Namun, Nikki melemparkan rumput-rumput liar itu ke udara sambil menari dan menyanyi. Oleh karena dia mengganggu, saya berteriak kepadanya, dan dia berjalan menjauh. Beberapa menit kemudian dia kembali, dan berkata, “Ayah, aku ingin bicara dengan Ayah.”

“Ya, Nikki?”

“Ayah ingat sebelum ultahku yang ke-5? Sejak berumur 3 tahun sampai 5 tahun, aku suka merengek. Aku merengek setiap hari. Pada hari ultahku yang ke-5, aku memutuskan untuk tidak lagi merengek. Itu hal tersulit yang pernah kulakukan. Dan kalau aku bisa berhenti merengek, Ayah juga bisa berhenti menjadi penggerutu.”

Setelah “menemukan” epifani di atas, Martin Seligman kemudian berkata, “Ini ilham bagi saya. Perkataan Nikki tepat sasaran. Saya memang penggerutu. Saya telah menghabiskan lima puluh tahun hidup saya sebagian besar dengan cuaca mendung di dalam jiwa, dan sepuluh tahun terakhir saya bagaikan awan nimbus yang berjalan di sebuah rumah tangga yang disinari mentari. Nasib apa pun yang saya dapatkan barangkali bukan karena saya seorang penggerutu, lebih tepatnya saya tetap bernasib baik walaupun saya penggerutu. Pada saat itu, saya memutuskan untuk berubah.”

Dan pada akhirnya, Martin Seligman kemudian melahirkan sebuah aliran baru dalam psikologi, yang disebutnya sebagai Psikologi Positif. Jika selama ini psikologi selalu meneliti penyakit-penyakit kejiwaan pada manusia, maka psikologi positif ini memfokuskan dirinya untuk meneliti kekuatan-kekuatan dan kelebihan-kelebihan yang ada pada manusia, yang akan mengantarkan dirinya untuk mendapatkan kebaikan dan kebahagiaan.

Kita telah melihat sebuah epifani dari Martin Seligman. Saya ingin mengajak Anda untuk melihat sebuah epifani yang dialami oleh Malcolm. Kisah ini dituturkan oleh Mark Victor Hansen:

“Pada suatu akhir pekan, seorang pria bernama Malcolm, bertempat tinggal di Vancouver, mengajak tunangannya berjalan-jalan melewati hutan utama British Columbia.

Entah bagaimana mereka terjebak di antara seekor induk beruang dan anak-anaknya. Induk beruang itu, karena ingin melindungi anak-anaknya, menarik dan mencengkeram tunangan Malcolm. Tinggi badan Malcolm hanya sekitar 157 cm, sedangkan beruang itu sangat besar. Namun, dia mempunyai keberanian dan berhasil membebaskan tunangannya. Kemudian, induk beruang menangkap Malcolm dan mulai meremukkan setiap tulang pokok di tubuhnya.

Induk beruang mengakhiri serangan dengan menancapkan cakarnya pada wajah Malcolm dan mencakar lurus hingga ke kepala bagian belakang.

Ajaib, ternyata Malcolm tetap hidup. Selama delapan tahun dia berulang-ulang menjalani operasi pemulihan. Selama itu, para dokter telah melakukan semua bedah kosmetik yang mungkin bisa mereka lakukan. Namun, semua itu tidak cukup menolong Malcolm dan Malcolm memandang dirinya sebagai si buruk rupa. Dia tidak ingin lagi tampil di hadapan umum.

Oleh karena itu, pada suatu hari Malcolm naik dengan kursi rodanya ke atap lantai-sepuluh gedung pusat rehabilitasi. Ketika sedang bersiap-siap untuk mendorong tubuhnya melintasi batas bangunan, ayahnya muncul. Sebelumnya, sang ayah mendengar bisikan hatinya yang menyuruh dia untuk menemui anaknya.

Pada waktu yang tepat, sang ayah muncul di puncak tangga dan berkata, “Malcolm, tunggu sebentar.”

Mendengar suara ayahnya, Malcolm membalikkan badan di atas kursi rodanya.

Ayahnya berkata, “Malcolm, setiap manusia memiliki bekas luka di suatu tempat yang tersembunyi dalam dirinya. Rata-rata mereka menyembunyikannya dengan senyuman, kosmetik, dan pakaian indah. Kebetulan kau harus memakai bekas luka itu di bagian luar. Namun, kita semua sama, Anakku. Kita sama-sama punya luka.”

Malcolm tidak lagi mampu melompat dari atap gedung itu.

Tidak lama kemudian, seorang teman membawakan beberapa rekaman kaset mengenai motivasi. Pada salah satu kaset, dia menyimak kisah Paul Jeffers, yang kehilangan pendengarannya pada usia empat puluh dua tahun dan berhasil menjadi salah satu wiraniaga terkenal di dunia. Malcolm mendengar saat Paul berkata, “Halangan diberikan kepada orang-orang biasa agar mereka menjadi luar biasa.”

Malcolm berkata pada dirinya sendiri, “Itu kan saya. Saya luar biasa!”

Malcolm harus melawan rasa takut ditolak karena fisiknya kini cacat. Dia bangun setiap hari dengan kesadaran bahwa selalu ada kemungkinan (untuk ditolak), namun dia tetap melangkah maju sedikit demi sedikit. Malcolm memutuskan untuk bekerja sebagai wiraniaga asuransi – suatu pekerjaan yang akan menghadapkan dia pada penolakan berkali-kali setiap hari. Dia memutuskan untuk menjadikan kekurangannya yang utama sebagai modal.

Dia memasang foto diri pada kartu bisnisnya, dan ketika dia memberikannya kepada orang lain, dia akan berkata, “Saya buruk rupa di luar, tetapi ganteng di dalam jika saja Anda punya kesempatan untuk mengenal saya.”

Setahun kemudian, Malcolm menjadi agen asuransi nomor satu di Vancouver.

Malcolm telah menemukan epifaninya, dan hal itu telah mengubah hidupnya. Epifani ini adalah sejenis pembimbing. Setiap orang yang ingin sukses, “haruslah” memiliki pembimbing. Dalam buku The One Minute Millionaire, dijelaskan bahwa pembimbing itu tidak harus manusia. Apa pun yang membuat Anda mengubah arah kehidupan Anda bisa berfungsi sebagai pembimbing.

Tiba-tiba saya teringat lagi sebuah epifani yang dialami oleh Huo Yuanji – seorang ahli Wu Shu cina, yang memopulerkan Wu Shu di dunia. Peristiwa pertama yang mengubah hidup Huo Yuanji adalah kekalahan ayahnya – sebagai ahli Wu Shu – pada pertandingan bela diri antar sesama ahli bela diri. Sebenarnya ayahnya telah menang, akan tetapi pada pukulan terakhir, ayahnya menahan pukulan, sehingga membuat lawannya memanfaatkan kesempatan ini untuk membuatnya ke luar arena, hingga dinyatakan kalah. Dan inilah kekalahan pertama ayahnya.

Kekalahan itu membuat Huo Yuanji terpukul dan bersumpah untuk tidak terkalahkan dengan mengalahkan lawan-lawannya, dengan menggunakan kemampuan Wu Shu, yang menjadi tradisi bela diri di keluarganya. Inilah epifani pertama dalam hidupnya.

Pertandingan demi pertandingan dilewati dan tidak satu pun lawannya yang mampu mengalahkannya, hingga menjadikan dirinya sombong. Ibunya sering menasehati bahwa lawan terbesarnya adalah dirinya sendiri. Hingga suatu ketika, kesombongan dan kepongahannya membawa dendam pada keluarga lawan yang dibunuhnya. Dan hal ini mengakibatkan kematian ibu dan anak tercintanya. Inilah epifani kedua dari Huo Yuanji.

Epifani itu telah membawanya ke suatu desa, dimana penduduk desa itu mengajarkan arti hidup yang sesungguhnya pada dirinya. Huo Yuanji pun kemudian mengubah lagi hidupnya. Dia tampil sebagai ahli bela diri Wu Shu yang bijaksana, yang bukan mencari lawan tapi senantiasa mencari teman. Pertandingan bela diri dijadikan untuk intropeksi diri, melihat kekurangan-kekurangan dirinya untuk kemudian diperbaiki. Ia telah memahami nasehat ibunya untuk mengalahkan diri sendiri, dan telah memahami kenapa ayahnya dulu tidak jadi melanjutkan pukulannya di saat ayahnya hampir menang.

Huo Yuanji telah beberapa kali mengalami epifani. Dan, setiap epifani telah menjadi pengubah dan pelajaran bagi hidupnya. Saya sendiri pun telah mengalami epifani. Menurut saya epifani itu bukanlah peristiwa yang dicari-cari. Anda tidak harus bertanding dengan beruang untuk menjadi seperti Malcolm. Anda tidak harus menjadi penggerutu dan memiliki anak yang menegur Anda untuk menjadi seperti Seligman. Begitu pula Anda tidak harus menjadi ahli bela diri Wu Shu yang sombong untuk menjadi seperti Huo Yuanji. Yang perlu Anda lakukan adalah membuka pikiran Anda untuk senantiasa memperhatikan detil-detil kehidupan Anda. Karena boleh jadi epifani itu terjadi ketika Anda membaca sebuah buku, atau mungkin ketika Anda membaca artikel sederhana ini. Temukan Epifani Anda dengan senatiasa membuka pikiran Anda setiap saat!

* Syahril Syam adalah seorang trainer tentang peningkatan kualitas hidup, yang berdomisili di Makassar. Syahril bisa dihubungi di ril_faqir@yahoo.co

RESEP SUKSES PASTI GAGAL!

Oleh: Suryanto Wijaya


Saya sih tidak tahu apa resep sukses saya tapi saya tahu secara pasti rumus kegagalan. Cobalah untuk menyenangkan semua orang. PASTI Anda Gagal…!!!!
Bill Cosby

Pernahkah Anda melakukan sesuatu akan tetapi apa pun yang Anda lakukan selalu mengalami kegagalan? Apakah Anda pernah melakukan sesuatu dan apa pun hasilnya Anda tidak pernah puas? Karena ada orang lain yang berpikiran bahwa hasil kerja Anda belumlah memuaskan mereka?

Hmn… Bagaimana yah, rumus pasti sukses di segala bidang? Waduh saya tak tahu tuh! Mendingan juga kita mencari tahu rumus pasti gagal supaya kita bisa menghindari kegagalan. Toh, kalau kita tidak gagal berarti kita sukses. Apa sih yang benar-benar pasti menjadi penyebab dari semua kegagalan yang terjadi?

Berikut ini adalah sebuah kisah tentang kegagalan.

Dahulu kala ada seorang kakek bersama dengan cucunya sedang keluar kota menemui sanak keluarganya. Perjalanan yang harus dilalui si kakek dan cucunya itu melewati empat kota. Barulah mereka sampai ke tujuan. Dalam perjalanan jauh itu si kakek dan cucunya berjalan bersamaan dengan seekor keledai. Keledai itu ditunggangi cucunya.

Pada saat mereka melewati kota yang pertama, orang-orang kota yang melihat mereka berkata: “Dasar cucu tidak tahu diri! Masa kakeknya yang sudah tua dibiarkan jalan sendirian? Sementara dia enak-enakan saja duduk di atas keledai...”

Mendengar hal itu, si cucu pun tak enak hati. Ia segera turun serta meminta kakeknya naik keledai. Lalu mereka melanjutkan perjalanannya.

Sesampainya di kota kedua, ada lagi orang yang berkata: “Wah…dasar kakek tidak tahu diri. Sudah tua begitu masih saja menunggangi seekor keledai dan membiarkan cucunya yang masih kecil berjalan. Sungguh kakek yang pemalas!”

“Cucuku,” kata kakek itu kemudian. “Mungkin lebih baik kakek turun saja. Biar kita jalan bersama.” Mereka pun melanjutkan perjalanan sambil menuntun si keledai yang sekarang tanpa beban tunggangan.

Sesampainya di kota ketiga, orang-orang di kota itu berkata: “Wah...wah…bodoh sekali kakek dan cucunya ini! Kenapa mereka tidak menggunakan keledai itu untuk dinaiki? Ngapain harus berjalan capek-capek begitu? Punya keledai kok malah tidak digunakan!” seru mereka heran campur sinis.

Setelah mendengar apa kata orang-orang di kota itu, lalu si kakek dan cucunya buru-buru menaiki keledai itu bersama-sama.

Pada saat memasuki kota keempat, orang-orang di kota itu berkomentar: “Busyet....dah! Dasar kakek dan cucu yang tidak berperikebinatangan. Masa keledai sekecil itu masih diperas tenaganya hanya untuk kepentingan diri mereka sendiri?”

Mendengar komentar seperti itu, si kakek merasa apa yang mereka katakan masuk akal juga. Lalu dengan susah payah si kakek menggendong keledai di pundaknya, sementara kepala si keledai tampak menyandari di atas kepalanya. Si cucu ikut memegangi dari belakang supaya keledai tidak jatuh dari gendongan. Mereka menggendong si keledai itu sampai ke rumah sanak keluarga mereka.

Sesampainya di rumah yang dituju, sanak keluarga itu bertanya dengan nada penuh keheranan. “Aduh kakek... kok malah kakek yang menggendong keledai itu sih? Kenapa bukan kakek yang naik keledainya?”

Mendengar pertanyaan dan komentar seperti itu, si kakek itu pun kesal. Apa pun yang dikerjakannya selalu saja gagal dan dicela oleh orang lain.

Untuk sebagian orang, tampaknya cara untuk tidak melakukan kegagalan adalah berdiam diri saja dan tidak melakukan apa pun. Akan tetapi mereka sendiri malah akan dicela dan masih bisa dikategorikan sebagai orang gagal. Maksudnya, gagal dalam mengembangkan potensi terbaik dalam diri mereka sendiri.

Pernahkah Anda rapat lalu di dalam rapat itu ada orang-orang yang banyak bicara tapi kemudian malah dicela? Mereka yang sedikit bicara juga dicela. Bahkan mereka yang diam saja masih juga dicela. Bukankah di dunia ini sesungguhnya tidak ada yang bisa bebas dari celaan?

Untuk itulah saya ingin mengajak Anda semuanya untuk mengubah pemikiran atau mindset tentang apa itu gagal. Apakah tidak berbuat apa pun berarti kita tidak pernah gagal? Terus menerus mencoba dan tidak berhasil, apakah itu gagal? Mengingat bahwa tidak peduli apa pun yang kita perbuat, kita selalu akan dicela? Tak peduli sesempurna apa pun kita. Para nabi, Buddha, dan Yesus pun masih dicela. Kemungkinan kita dicap gagal oleh orang lain itu selalu ada. Kalau begitu mengapa kita tidak berbuat sesuatu? Toh kita pasti gagal jika kita menginginkan untuk memuaskan semua orang? Kita pasti dicela karena apa pun hasil kerja kita tidak mungin memuaskan semua orang.

Cobalah untuk menginginkan hanya yang baik saja terjadi pada diri kita, maka kita pasti kecewa akan kenyataan yang terjadi pada diri kita. Ada kalanya orang mendefinisikan tidak ada kata gagal yang ada hanya feed back atau saran-saran yang bisa membuat kita jadi lebih baik lagi.

Pada saat saya membuat artikel ini, sempat terlintas dalam pikiran saya, nanti kalau menulis ini, apa kata orang? Trus baiknya bagaimana, yah? Ah...ganti saja dengan kata yang ini. Terus nanti kalau gunakan kalimat ini yang ada pasti pro dan kontra dengan pendapat saya. Ah....pusing!

Kita semua tahu, “Tidak ada manusia yang sempurna”. Pepatah lama ini akan mungkin benar jika pengertian sempurna secara umum adalah baik di segala bidang menurut semua orang dan tidak mungkin salah. Hanya mendapatkan setengah dari kehidupan dan tidak mendapatkan sepenuhnya. Hanya mendapat yang baik-baik saja, hanya positifnya saja demikian sebaliknya hanya mendapat yang negatifnya saja.

Untuk itu jika ingin gagal maka cobalah menjadi “sempurna” dalam semua tindakan Anda dengan keluarga, teman, pacar, dan rekan bisnis. Cobalah berkeinginan untuk memuaskan semua orang akan hasil kerja Anda dan buktikan sendiri hasilnya.

Jika ada yang bisa, silakan hubungi saya dan akan saya berikan seluruh hidup saya padanya, uang saya kepadanya. Karena setiap apa pun yang dia kerjakan selalu laku dijual di dunia.

* Suryanto Wijaya adalah seorang Pembelajar sekolah kehidupan, IT Manager, dan dapat dihubungi melalui email CuSenWan200x@yahoo.com .

10 KIAT MENDOBRAK KEMAPANAN DALAM MERAIH SUKSES

Oleh: Beni Bevly, MBA, CFT


The future is not inevitable, we can influence it, if we know what we want it to be.
Charles Handy,
The Age of Unreason

Apa salahnya dengan kemapanan? Mengapa harus didobrak? Apakah dengan mendobrak kemapanan Anda bisa sukses?

Memang tidak bisa dimungkiri bahwa banyak orang melihat kemapanan sebagai sesuatu yang bagus. Dalam masyarakat yang mapan tidak banyak kejahatan, tidak juga terjadi gejolak. Tidak banyak demonstrasi di jalan dan di depan pabrik. Tidak juga ada perdebatan sengit di DPR/MPR. Orang menjalankan ibadah sesuai dengan agama dan kepercayaannya. Perekonomian diproteksi oleh pemerintah. “Bapak bertani (bekerja), Ibu di rumah mengawasi anak dan menjahit/menenun kain, mereka soleh beribadah” Mereka bekerja sesuai dengan tugasnya. Masyarakat tidak menuntut banyak. Mereka cenderung menerima sesuai dengan kebutuhanya. Atau diatur supaya “bekerja sesuai dengan kemampuan dan menerima sesuai dengan kebutuhan.”

Alangkah indahnya gambaran masyarakat di atas. Betapa harmonisnya kehidupan beragama dan keluarga. Masyarakat tidak dipusingkan dengan perdebatan politik dan demonstrasi. Para pengusaha juga tidak usah khawatir akan persaingan dagang dari luar negeri. Bukankah ini semua sangat baik?

Tunggu dulu! Ini kan yang terjadi pada masa Orde Baru. Ini juga yang terjadi di Jepang sebelum didobrak oleh Restorasi Meji. Bahkan “bekerja sesuai dengan kemampuan dan menerima sesuai dengan kebutuhan” adalah impian Karl Marx dan Federick Angel yang hancur oleh Perestroika dan Glasnost-nya Gorbachev. “Bapak bertani (bekerja), Ibu di rumah mengawasi anak dan menjahit/menenun kain, mereka soleh beribadah.” terjadi pada masa Kegelapan/Afklarung pada abad pertengahan di Eropa yang kemudian dipatahkan oleh masa Renaisance.

Kemapanan cenderung membuat orang tertidur lelap. Inovasi berhenti. Di benak mayoritas orang akan tertanam: “Apalagi yang mau dicari, semua sudah cukup!” Kemapanan umumnya menguntungkan sekelompok orang baik dari segi ekonomi maupun kekuasaan secara politik. Sekelompok orang ini akan berusaha menatan struktur kemapanan dengan berbagai cara. Salah satunya adalah meyakinkan orang banyak bahwa kondisi “sekarang” adalah yang terbaik. Dengan kondisi inilah “masyarakat adil dan makmur” akan tercapai. Kondisi ini pula yang bisa menangkal semua bahaya laten dari dalam dan luar.

Seperti disunggung di atas, disamping pengaruh makro, kemapanan juga terjadi secara mikro di setiap individual. Mengapa orang terbuai pada kemapanan? Dan apakah Anda termasuk di antaranya?

Pertama, banyak orang yang tidak suka pada perubahan. Perubahan berarti penyesuain baru. Dengan perubahan orang harus belajar menyesuaikan diri pada situasi dan lingkungan baru. Mereka juga harus meninggalkan kebiasaan lama. Hal ini menimbulkan ketidak-nyamanan pada mereka.

Kedua, orang cenderung attach pada apa yang mereka miliki. Harta benda, kehidupan yang luxury, orang-orang yang dicintai atau binatang piaraan menjadi bagian dari orang tersebut. Mendobrak kemapanan kadangkala harus meninggalkan attachment seperti ini. Meninggalkan attachment ini berarti meninggalkan bagian dari diri mereka.

Ketiga, bagi orang tertentu mendobrak kemapanan berarti “pengorbanan sia-sia.” Gologan orang ini tidak melihat faedah pengorbanan yang akan dilakukan untuk keluar dari kemapanan. Mereka bukan termasuk orang yang disebut risk taker. “Jika saya mengorbankan jabatan Manager saya untuk jabatan yang lebih rendah di perusahaan lain, mana ada untungnya bagi saya.” Orang ini cenderung melihat segi negatif dari hal baru yang akan digapai.

Keempat, masa depan tidak menentu. Dengan meninggalkan kemapanan, sebagian orang melihat bahwa masa depan yang akan diraih tidak menentu. Orang ini akan berpikir, “Bagaimana saya bisa bersaing dengan sedemikian banyak orang yang sudah berpengalaman di bidang itu, sedangkan saya orang baru. Bagus kalau ada yang mau mendukung, kalau tidak, hancur nasibku jadinya.”

Kelima, tak punya nyali. Orang yang termasuk kategori ini bisa disebut sebagai orang yang mempunyai penyakit kronik. Orang ini punya kecenderungan untuk menghindari membicarakan perubahan. Bayangkan, membicarkannya saja tidak mau, apalagi melaksanakannya. Jika terjadi pembicaraan ini, tangannya akan keluar keringat dingin. Pertanyaan pertama yang keluar dari mulutnya adalah bagaimana kalau terjadi tidak sesuai dengan yang kita kehendaki? Kita akan kehilangan semuanya! Malu juga menjadi salah satu alasan baginya untuk bertindak.

Keenam, tidak ada jiwa adventure. Di Amerika, orang semacam ini disebut Couch Potato. Kegiatannya hanya pergi kerja, pulang, makan dan nonton TV sambil tiduran di sofa. Di benaknya tidak ada pikiran untuk mencoba hal yang baru. Ia juga punya kecenderungan untuk mempengaruhi atau bahkan melarang orang di sekelilingnya untuk berbuat sesuatu yang di luar kebiasaan. Dia tidak melihat ada excitement pada aktivitas selain menjadi couch potato.

Semua hal di atas, kalau dirangkum, orang yang terbuai pada kemapanan adalah orang yang tidak bisa menerima dan hidup dalam situasi krisis. Juga tidak punya pikiran atau kemauan untuk menjungkir balikkan situasi krisis menjadi kesempatan baginya untuk berbuat dan menunjukkan siapa dirinya.

Krisis umumnya terjadi setelah kemapanan yang panjang dipertahankan. Oleh orang yang jeli, krisis ini dijadikan kesempatan untuk merealisasikan visinya.

Kita tahu dan sejarah membuktikan bahwa, orang besar muncul dari situasi krisis. Mulai dari Mahatma Ghandi dengan pergerakan non-cooperation dan non-violence-nya di India supaya lepas dari tantanan kemapanan Inggris. Martin Luther King Jr. yang terkenal dengan pidato “I Have A Dream”-nya di AS berhasil mendobrak kemapanan diskriminasi masyarakat kulit putih. Yang patut disebut di sini adalah Soekarno-Hatta yang menggunakan situasi krisis Perang Dunia Kedua untuk memproklamasiakan kemerdekaan Indonesia dan diri mereka sebagai Presiden dan Wakil Presiden setelah ratusan tahun dijajah.

Bill Clinton, suatu saat pernah berkata, “I wish 911 happenned in my administration period.” Orang besar melihat krisis sebagai opportunity di mana dia bisa memaksimalkan knowledge, skill, dan semua panca indra yang dimiliki untuk mencapai tujuannya.

Dalam kehidupan dunia bisnis, kita melihat bagaimana krisis minyak, oleh Hiroshi Okuda, President Toyota digunakan sebagai kesempatan untuk memproduksi mobil hibrid pertama di dunia (Prius Hybrid). Dengan berani mengambil risiko dan determinasi, Okuda meng-goal-kan rencana Toyota yang hanya menjadi rencana selama 20 tahun.

Perusahaan komputer, Dell sempat mengalami krisis moral di antara manajernya, yang juga berarti menurunnya produktivitas. Kevin Rollins, CEO Dell, menemukan bahwa executive hiring system dari luar yang menjadi penyebabnya. Oleh Rollins, ini dijadikan kesempatan untuk menunjukkan kepiawaiannya dengan mengadaptasikan sistem training General Electric yang ternyata berhasil memperbaharui moral para manajernya dan meningkatkan produktivitas.

Jika tidak ada situasi krisis yang real dan behubungan deangan Anda, maka ciptakan krisis dalam diri Anda. Salah satu caranya adalah dengan melihat pencapaian Anda, ukur dengan keinginan atau goal yang telah Anda set. Jika Anda ketinggalan, maka Anda dalam situasi krisis. Pada saat krisis ini adalah kesempatan Anda untuk memancing naluri survival skill Anda untuk melompat keluar dan bertarung menjadikan diri Anda pemenang.

Mungkin ada dari Anda yang berkata, “Lha ngomong sih enak, buktikan dong bagaimana caranya. Contoh di atas adalah semua orang yang dikategorikan istimewa. Coba tunjukkan apakah orang biasa juga bisa.”

Memang ini bukan sulap dan juga bukan sihir yang hanya terjadi di film kartun. Berikut ini adalah 10 kiat yang penulis yakini dan jalani, hingga kini bisa survivedan hidup di kalangan masyarakat kelas menengah ke atas di AS: Pertama, lean on uncomfort situation. Biasakan diri Anda dengan hal-hal yang tak nyaman. Dengan kebiasaan ini, Anda akan terlatih untuk tidak lari dari kenyataan yang pahit atau situasi krisis. Tetapi akan bertindak atas kenyataan tersebut. Sebagai contoh dari lean on uncomfort situation, pekerjaan saya yang pertama setelah lulus dari Universitas Indonesia adalah menjadi salah satu marketer di perusahaan asuransi terkemuka di Jakarta. Dari sejak kecil saya mempunyai image yang jelek terhadap perusahaan asuransi. Akibatnya, saya tidak mempunyai pengetahuan asuransi yang komprehensif. Saya menyadari itu setelah melihat hampir semua transaksi beli jual barang mewah, seperti mobil dan rumah melibatkan perusahaan asuransi. Untuk tahu lebih jauh, walaupun saya tidak menyukainya, saya sengaja bekerja di perusahaan asuransi.

Contoh lainnya adalah bidang finance. Halnya serupa seperti di atas. Saya menjadi tidak senang dengan keuangan semenjak mengenal mata pelajaran tersebut di SMA. Setelah dewasa saya merasa timpang dalam hal ini. Saya putuskan ambil summer course di bidang yang tidak saya senangi, keuangan, di University California Berkley, AS dan bekerja di bank keempat terbesar di seluruh dunia di Bay Area San Francisco.

Kedua, menjadi risk taker. Sering kita dengar, “Elu hanya punya modal nekat aja.” Kalimat ini, kalau diinggriskan, bukan berarti empty barrel sounds lound. Kalimat ini bukan hanya sekedar ucapan belaka. Modal nekat memang sangat dibutuhkan dalam banyak hal. Contohnya, di ambil dari Machiavelli, sering kali bandit mempunyai isteri yang cantik jelita dan berasal dari keluarga berada dan terpelajar. Tapi isteri tersebut cintanya bukan main terhadap suiminya yang bandit. Hal ini terjadi karena bandit dengan hanya bermodal nekat bisa menaklukkan calon isterinya tersebut.

Bukan maksud penulis untuk ngajarin pembaca menjadi bandit. Kembali ke masalah risk taker. Sebagai seorang muda yang ambisius, saya kerja di Jakarta pada satu perusahaan di group terbesar di Indonesia, saya dipromosi tiga kali dan sebagai konsekuensinya mendapat kenaikan gaji tiga kali dalam satu tahun. Saya menjadi salah satu eksekutif termuda. Mendapat mobil dari perusahaan, biaya kesehatan di-cover 100% dan hanya dengan uang THR saya bisa bayar uang muka rumah di kawasan elite Lippo Karawaci, pada saat yang sama saya juga punya satu condo di Jakarta Utara. Siapa yang tidak suka dengan kehidupan seperti ini?

Tapi semua itu saya tinggalkan ketika ada kesempatan tinggal di AS. Saya sadar sepenuhnya bahwa saya harus memulai kehidupan dari nol. Memulai dari bekerja di bagian stock, sampai menjadi Customer Service and Information Manager di salah satu perusahaan Fortune 500.

Ketiga, bila takut, berpura-puralah berani, maka beranilah Anda. Di dunia ini tidak ada manusia yang tidak pernah taku. Bahkan almarhum Munir yang dikenal tak punya syaraf takut pasti pernah mengalami rasa takut. Takut adalah hal yang wajar dan inherent pada manusia. Tapi ini akan menjadi tidak wajar jika rasa takut dijadikan landasan Anda untuk mengambil keputusan dan tindakan. Anda harus mengendalikan rasa takut. Caranya berpura-puralah berani, maka Anda akan menjadi berani.

Pertama kali, waktu di SMA, saya harus berbicara di depan kurang lebih empat ratusan orang. Temen saya bertanya, “Nggak gugup, Ben?” Saya jawab, “Nggak, ini masalah biasa.” Pada hal, saat itu saya bukan hanya gugup, tapi juga takut setengah mati. Bagaimana kalau saya lupa apa yang harus diomongin? Bagaimana kalau materi pidato saya membosankan, dan bagaimana selanjutnya. Setelah menjawab pertanyaan teman saya, saya menjadi lebih berani. Terhadap diri saya, saya katakan, “Saya akan menatap mata kalian, kalian akan mendengarkan apa yang akan saya ucapkan dan mendapat manfaat dari materi pidato saya.”

Keempat, di dunia Barat sering disebut, “No goal, no result or someone else’s result.” Ini memang sangat klasik, tetapi tanpa goal maka Anda akan kehilangan tujuan dan tidak tahu apa yang Anda lakukan. Sebagai konsekuensinya, Anda juga tidak akan mendapatkan hasilnya. Dalam kondisi demikian Anda hanya akan menjali instrumen orang lain dan orang lainlah itulah yang mendapatakan hasilnya.

Goal saya yang umum adalah mengecap kehidupan yang lebih baik dari hari kemarin. Ini bukan berarti tidak ada step back. Langkah mundur pasti ada, tetapi ini dilakukan untuk membuka jalan yang lebih lebar dan jauh ke depan. Seperti di ungkapkan di atas, tujuan tinggal di AS adalah untuk menciptakan kehidupan yang lebih baik, dari segi tempat tinggal, kerjaan, pendidikan, kesehatan dan sebagainya. Step back terjadi ketika saya harus bekerja mulai dari entry level, menyewa apartemen studio (tidak ada kamarnya) dan mengunakan transportasi umum. Saya selalu meyakini diri bahwa ini harus berubah sesuai dengan goal saya. Untuk itu maka disusunlah tujuan jangka pendek seperti memperdalam bahasa Inggris dan belajar technical skill untuk menunjang karir. Pada hari ini, saya bisa menikmati hasilnya.

Kelima, continuous improvement. Jika Anda pernah sekolah bisnis, maka slogan ini tidak asing bagi Anda. Yang saya maksudkan dengan perbaikan terus menerus di sini lebih memfokuskan pada diri sendiri. Hal yang paling umum dilakukan adalah melalui pendidikan. Di AS, setiap institusi pendidikan memiliki satu departemen yang disebut Continuing Education Department. Bagi departemen ini pendidikan tidak berhenti sampai pada level doktorat atau ketika orang memasuki usia senja, tetapi tetap berlanjut seumur hidup.

Ada satu hal yang saya merasa ketinggalan dan tidak perlu malu untuk berbagi dengan Anda. Ketika sekitar satu bulan yang lalu, saya hendak membeli komputer baru. Ternyata di toko komputer, saya tidak menemukan komputer yang ada fungsi floppy drive-nya (drive untuk disket). Ketika saya tanya, ternyata sudah out of date. Sekarang orang menggunakan USB dan CD-ROM.

Dari gambaran di atas terlihat bagaimana continuous improvement diterapkan di bidang komputer dan menunjukkan bahwa kita juga harus meng-upgrade diri kita dengan cara yang sama, jangan pernah berhenti untuk berkembang terus. Lakukanlah dengan berbagai cara.

Keenam, orang Amerika bilang determination, saya artikan dalam bahasa Jawa ngeyel. Semua orang sukses yang bukan karena KKN adalah hasil proses yang panjang dan membutuhkan determination. Tiger Wood dikenal sebagai salah satu pegolf termuda di dunia. Proses untuk sampai ke situ sudah dimulai pada masa kanak-kanak. Di mana pada umur 6 tahun dia sudah ditempa dengan mengikuti berbagai turnamen golf tingkat yunior.

Ketika saya sebagai Customer Service and Information Manager di salah satu perusahaan Fortune 500, ada satu applicant kelahiran Surabaya yang melamar kerja sebagai Customer Service Representative. Saya menginterview dia, tapi saat itu belum ada lowongan. Dia menelepon saya setiap minggu, selama lebih dari sebulan, menanyakan apakah ada lowongan. Akhirnya, saya terima dia sebagai part- timer. Dia tanya, “What should I do to be a full-timer.” “Productivity and sell financial product as many as possible,” jawab saya.

Dua bulan kemudian saya melihat laporan tingkat korporasi, “My new hire is the top of the list.” Sekarang saya yang balik bertanya ke dia: “What do you do to be in this position.” “I am a Javanese, saya ngeyel aja.” Sejak saat itu, tidak ada lagi yang bisa menghalangi dia untuk jadi full-timer.

Ketujuh, cari stepping stone. Mungkin Anda sudah mendengar kata ini puluhan kali. Walaupun demikian saya perlu menegaskan lagi bahwa seringkali sesuatu yang ingin kita capai itu letaknya jauh dari kita. Di sinilah stepping stone berfungsi. Untuk menjadi seorang jenderal orang harus melalui jajaran yang lebih rendah. Untuk menjadi peran utama di dunia perfilman, seorang aktris/aktor tidak segan memulai dari peran pembantu. Untuk mengenal orang lain, tidak perlu malu untuk minta orang lain memperkenalkan kita ke orang tersebut.

Untuk belajar perbankan secara singkat, padat, tanpa mengeluarkan biaya, tetapi sebalikanya, saya dibayar. Maka pilihan yang terbaik menurut saya adalah melamar kerja di bank yang terkenal dengan sistem trainingnya terbaik. Saya melamar, diterima, mengikuti training intensif selama tiga bulan tentang perbankan. Saya jadikan itu sebagai stepping stone untuk mendapatkan ilmu perbankan.

Kedelapan, measurement, write what you do, do what you write. Penting bagi Anda untuk menuangkan goal dan gagasan proses pencapaiannya dalam bentuk tertulis, karena setiap saat Anda bisa kembali ke catatan Anda dan menelusuri apa yang telah Anda lakukan. Sebalikanya apa yang Anda lakukan perlu Anda tulis juga. Dengan demikian, Anda bisa memfokuskan pekerjaan Anda sesuai dengan yang direncanakan dan bisa mengukur hasil.

Kebiasaan seperti ini saya mulai dari SMA. Dengan demikian, tujuan hidup menjadi jelas. Jangan pula ragu untuk merevisi apa yang telah Anda tulis, jika diperlukan. Bentuk tulisannya tergantung gaya Anda. Menurut hemat saya, paling tidak Anda perlu mencantumkan goal, cara pencapaian, hasil dan due.

Kesembilan, refleksi. Kegagalan seseorang sebagian besar karena orang tersebut lupa mengadakan refleksi. Anda perlu pause, merenungkan apa yang telah Anda perbuat, memikirkan konsekuensi dan menyusun langkah berikutnya.

Ketika memulai kehidupan di AS, dan bekerja dari lapisan terbawah, saya temui bahwa refleksi ternyata menjernihkan pikiran, mental dan dapat menimbulakan semangat baru untuk bertarung. Refleksi juga bisa berupa feedback bagi diri kita, yang akhirnya menjadi input bagi proses selanjutnya.

Kesepuluh, meninggalkan yang baik untuk meraih yang terbaik. Jika Anda menonton American Idol, salah satu judge-nya, Simon Cowell acapkali berkata, “I am not looking for good singer, but I am looking for great singer.” Ini sejalan dengan pepatah lama orang Amerika bahwa good is not good enough. Seseorang harus berani meninggalkan yang baik untuk meraih yang terbaik.

Setelah bekerja dengan pihak lain selama lebih dari enam tahun di AS, saya memberanikan diri melepaskan pekerjaan saya sebagai manajer dan mengembangkan usaha kami yang selama ini dikelola oleh isteri saya saja. Saya melepaskan apa yang selama ini saya anggap baik dan membangun divisi baru di perusahaan kami yang saya yakini adalah yang terbaik.

Saya percaya dengan berbekal ke-10 kiat di atas, Anda akan mampu mendobrak kemapaman di lingkungan dan di dalam diri Anda serta bisa mengunakan krisis untuk menunjukkan kualitas diri Anda. Dengan demikian Anda, keluarga, teman dan masyarakat sekitar merasakan sumbangsih Anda.

Anda telah sukses bila Anda sudah sepenuhnya berusaha, bila Anda telah melakukan sesuatu yang belum pernah terbayang bahwa Anda mampu melakukannya, bila Anda telah pergi ke tempat yang selama ini hanya menjadi angan-angan Anda, bila Anda sudah melihat apa yang sebelumnya hanya impian Anda belaka, bila Anda telah menjadi sesuatu yang sebelumnya Anda bilang itu impossible. Itulah sukses.[]

* Beni Bevly, MBA, CFT, adalah life caoch, cetified fitness trainer dan presiden Afton Institute, LLC. Ia juga adalah pendiri SkyWithoutLimit.com dan berdomisili di San Francico Bay Area.

JALUR A DAN JALUR B, PILIH MANA?

Oleh Eni Kusuma W


Tanggapan atas artikel Jennie S. Bev


Bagaikan menaiki sebuah tangga keberhasilan. Pastilah kita akan menaiki satu per satu tangga-tangga itu. Tangga- tangga yang kita buat sendiri atau mencari dan menaiki tangga-tangga yang sudah ada. Jika Jennie S. Bev menyebut “jalan”, saya menyebut “tangga”.

Jika posisi kita masih berada di tangga pertama yaitu tangga paling bawah, tentu susah sekali untuk langsung menuju puncak tangga yang kita inginkan. Apakah dengan meloncat ke atas? Tentu saja kita akan jatuh, bergelimpangan, memar, dan lebam-lebam. Karena bagaimanapun di tangga bawah adalah tempat orang-orang yang masih ber-skill minim, belum memiliki bekal cukup, dan masih belum terlatih.

Jennie S. Bev salah satu contoh pribadi yang membuat sendiri tangga profesinya sekaligus menciptakan sendiri jalur yang ditempuhnya.

Bagi saya, tiap tangga profesi yang kita pilih memiliki dua jalur yang berbeda arahnya, yang saya sebut Jalur A dan Jalur B. Atau kita membuat jalur sendiri seperti yang dilakukan Jennie? Untuk menggambarkan perumpamaan ini, saya akan memberi beberapa contoh (di antaranya kasus saya sendiri).

Saya saat ini sedang berada pada tangga profesi paling rendah. Itu jika dibandingkan dengan tangga-tangga profesi yang sudah ada. Saya hanya seorang pembantu rumah tangga. Namun di tangga ini saya memilih Jalur A, yaitu dengan menjadi pembantu rumah tangga di luar negeri, ketimbang misalnya menjadi pembantu rumah tangga di negeri sendiri (Jalur B). Karena jika sama-sama bisa mengerjakan pekerjaan sebagai pembantu, akan lebih menguntungkan bekerja di luar negeri. Di sana, di samping mendapat jatah libur, bonus, gaji juga lebih besar, saya juga bisa beraktivitas di luar pekerjaan. Meskipun sama-sama diomeli, dan sama-sama disuruh-suruh. Namanya juga pembantu.

Namun untuk memilih Jalur A tentu ada harga yang harus dibayar. Yaitu kualitas pelayanan yang memadai dan juga harus mau bersusah payah mempelajari bahasa majikan.

Seseorang yang memilih tangga profesi jual beli mobil, misalnya. Akan lebih enak baginya jika memilih Jalur A, yaitu menjual mobil baru dari pada menjual mobil bekas (Jalur B). Calon pembeli mobil baru tentunya adalah mereka yang mempunyai uang, sehingga akan lebih mudah membuat deal dengan mereka. Sambutannya juga lebih ‘wah’. Ketika kita bertandang ke kantor atau ke rumahnya yang umumnya ber-AC itu, tuan rumah akan memberi minum, minimal soft drink, atau teh botol, syukur-syukur dawet (es cendol). Alangkah enaknya. Dan kenyamanan-kenyamanan seperti ini sulit didapat jika seseorang memilih Jalur B, yaitu menjual mobil bekas. Dan tentulah seseorang yang memilih Jalur A harus diimbangi dengan kualitas pelayanannya.

Demikian juga jika kita memilih tangga profesi entrepreneur. Akan lebih indah jika kita memilih Jalur A. Kenapa? Karena Jalur A lebih menguntungkan dari pada Jalur B. Katakanlah kita memulai bisnis donat, burger, pisang goreng, combro dan lain-lain. Akan lebih menguntungkan dan lebih berkembang jika kita memilih “posisioning market” kelas menengah ke atas (Jalur A) daripada kelas menengah bawah (Jalur B). Karena konsumen pada jalur ini adalah orang-orang yang punya duit dan punya selera baik. Mereka biasanya tak keberatan membeli produk yang lebih mahal.

Tentunya, hal ini harus dibarengi oleh produk yang berkualitas, cita rasa maupun kemasannya, proses produksinya, aspek-aspek higienis mulai dari pra produksi, proses produksi, dan pasca produksi. Dan hal yang terpenting lagi, itu harus dibarengi dengan upaya membangun merek dagang, brand awarnes. Ini penting untuk membangun kepercayaan konsumen supaya tidak ada ketidakraguan untuk membeli.

Akan berbeda jika kita memilih Jalur B. Posisi pasar kelas menengah ke bawah ini ketat sekali persaingannya. Sehingga untuk bersaing dalam mendapatkan pembeli, banting harga pun tak terelakkan. Sedangkan bagi perusahaan, menurunkan harga jual akan berimbas pada kesulitan mengatur likuiditas usahanya. Sungguh suatu pilihan yang dilematis.

Jadi, tangga profesi apa pun yang Anda pilih atau Anda membuat sendiri tangganya, akan lebih menguntungkan apabila Anda memilih Jalur A ketimbang Jalur B. Atau lebih “gila” lagi, ciptakanlah tangga profesi sendiri sekaligus memilih jalur sendiri seperti yang telah dilakukan Jennie dan masih banyak lagi orang sukses lainnya. Jika begitu, sebutan yang cocok bagi mereka adalah “inventor”.[Bersambung]

* Eni Kusuma W adalah seorang TKW di Hongkong. Ia gemar menulis di buletin perkumpulan TKW Indonesia di Hongkong. Saat ini, buku kumpulan cerpennya akan segera terbit. Ia dapat dihubungi di: eni_kusumaw@yahoo.com.

Ngutang Saja Kok Repot!

Oleh: Didik Darmanto


Buku ini saya tulis dengan inspirasi awal banyaknya orang yang mengeluh tidak bisa berbisnis gara-gara ketiadaan modal. “Pingin sih punya usaha sendiri apalagi kerja kantoran juga sudah bosan. Tapi gimana ya, modalnya kagak ada!” begitulah ungkapan yang sering saya dengar.

Yah, lagi-lagi masalah uang. Tentunya Anda tidak mau dong menyerah begitu saja. Pengalaman saya sebagai seorang wartawan yang sering berinteraksi dengan pengusaha-pengusaha sukses menunjukkan, bahwa banyak di antara mereka yang mengawali bisnisnya dengan modal uang pinjaman alias ngutang. Lantas kenapa Anda tidak mengikuti jejak mereka?

Sebenarnya masalah keterbatasan modal bukanlah alasan untuk tidak segera berbisnis. Kalau memang tidak punya uang, ya solusinya pinjam uang saja. Toh banyak lembaga keuangan yang bersedia mengucurkan dana segarnya untuk Anda.

Gimana ya berbisnis kok dengan uang utangan, bisnis dengan uang sendiri saja rasanya berat? Jangan-jangan nanti tidak bisa bayar utang!? Masa sih harus berutang seperti orang melarat saja!?

Perasaan takut dan malu berutang inilah yang menjadi penghalang utama kesuksesan Anda. Selama ini utang selalu diidentikkan dengan kebangkrutan finansial. Sebenarnya anggapan semacam itu tidak selamanya benar. Acapkali orang yang berutang adalah orang yang sedang jaya-jayanya dalam berbisnis. Konsekuensinya, ia memerlukan suntikan modal untuk melakukan ekspansi bisnis.

Lagi pula, berutang sudah merupakan hal yang lumrah bagi para pebisnis sukses. Dapat dikatakan hampir semua orang kaya di dunia ini memiliki aset yang banyak, tapi sekaligus tercatat sebagai orang yang punya utang banyak. Jadi, kalau mau ikutan kaya seperti mereka jangan segan-segan untuk mencari pinjaman duit.

Tentunya Anda kenal Donald Trump, sang raja properti dari negeri Paman Sam (AS). Siapa sih yang menyangkal kalau sponsor acara reality show top dunia The Apprentice ini orang yang super kaya raya? Hampir separuh lebih properti Amerika di bawah kekuasaannya. Tapi meskipun sudah kaya raya, Trump tetap saja punya utang. Justru dari uang pinjaman itulah ia membangun kerajaan bisnisnya. Hingga sekarang ia terkenal piawai menyulap utang menjadi kekayaan (turn debt in to wealth).

Begitu pula dengan entrepreneur gila kita, Purdie E Chandra (Bos Primagama Group). Selain hobi main golf, ia mengaku juga hobi berutang. Kerajaan bisnisnya dibangun dengan uang pinjaman dari kiri-kanan. Coba bayangkan, berawal dari bisnis les privat kecil-kecilan di pojok kota Yogyakarta, ia kemudian bisa berkembang menjadi “raja bimbingan belajar” di Indonesia. Kata kunci kesuksesan bisnisnya tiada lain adalah rajin berutang.

Tak mengherankan kalau pendiri Entrepreneur University ini selalu mengompori orang lain untuk berutang. Dalam ceramah-ceramah entrepreurship yang diselenggarakannya, ia selalu bertanya kepada para peserta, “Kapan mobilmu disekolahkan?” Maksudnya, kapan mobil mereka bakal digadaikan untuk dijadikan modal usaha.

Lain Purdie, lain pula Miming Pangarah, Bos Indoprint, Offset & Printing Industries, Bandung. Miming termasuk orang yang merasakan manfaat ngutang. Berkat uang pinjaman ia bisa melejitkan asetnya dari ratusan juta menjadi Rp10 miliar hanya dalam tempo tiga tahun saja!

Begitu pula dengan Budi Utoyo, pengusaha Leha-leha Spa dan franchisor Clup-Clup, ini mampu menggandakan asetnya dari puluhan juta menjadi Rp3 miliar dalam waktu kurang dari satu tahun. “Bahkan saya bisa beli ruko senilai Rp470 juta tanpa pakai duit,” tukasnya saat saya temui di Hotel Le Meridien, Jakarta.

Dan lebih gila Masbukhin Pradana, pengusaha dengan julukan “raja voucher”, ini membeli kios hanya dengan menggunakan kartu belanja Carrefour. Kemampuan mengelola utang membuat asetnya bertambah secara cepat dengan memanfaatkan duit orang lain alias ngutang.

Cara berpikir orang-orang sukses seperti mereka bukannya bagaimana agar terbebas dari utang. Tapi, sebaliknya mereka justru berpikir bagaimana caranya supaya bisa memperbesar utang. Ketika Anda menerima utang, jangan Anda pikirkan bagaimana cara melunasinya, tapi pikirkan bagaimana cara memanfaatkan uang pinjaman tadi. Kalau uang itu sudah bekerja untuk Anda, maka Anda tidak perlu repot-repot lagi memikirkan cara melunasinya. Karena utang sudah dilunasi oleh orang lain yang memanfaatkan usaha Anda. Istilah Purdie, “Silahkan kamu berutang, biar konsumen yang melunasi.”

Sebenarnya, cara berpikir mereka sederhana sehingga membuat mereka berani berutang dan kemudian sukses. Yaitu, dengan modal seadanya saja sudah untung, apalagi kalau ada tambahan modal pasti akan lebih menguntungkan lagi. Memang benar, selama utang digunakan untuk usaha dan memberikan hasil yang lebih tinggi dibanding bunga pinjamannya, maka dijamin bahwa semakin besar utang akan semakin besar pula keuntungan yang Anda peroleh. Misalkan pinjam uang Rp100 juta dengan bunga pinjaman 1,5 persen per bulan. Semantara keuntungan yang diperoleh dari bisnis yang dibiayai dengan uang pinjaman tadi sebesar 5 persen. Berarti ada selisih 3,5 persen dari Rp100 juta yang masuk ke kantong Anda. Coba kalau utangnya Rp500 juta, tentu akan lebih besar pula keuntungan yang Anda raih. Dengan begitu, semakin banyak utang otomatis akan semakin kaya!

Mengelola utang untuk menambah aset inilah yang sebenarnya dimaksud oleh Robert T Kiyosaki, bahwa uang bekerja untuk kita. Cukup dengan mencari utang kemudian Anda putar di dunia usaha, tiba-tiba aset Anda sudah bertambah dengan sendirinya. Anda tidak perlu memikirkan bagaimana mengembalikannya karena di belakang Anda sudah ada pelanggan yang siap melunasi. Kalau utang sudah terbukti bisa bikin kaya, lantas kenapa Anda tidak segera berutang?

* Didik Darmanto adalah mantan wartawan tabloid Bisnis Uang yang sekarang berkarir sebagai Perencana Pembangunan di Kementrian Perencanaan Pembangunan Nasional/Bappenas. Selain sebagai PNS, Didik juga menjadi wirausaha dan tercatat sebagai anggota Certified Wealth Managers’ Association (CWMA). Artikel ini merupakan bagian dari bukunya yang akan segera terbit dengan judul: “Kalau Mau Kaya Ngapain Takut Ngutang” (Bornrich, 2006). Ia dapat dihubungi di: didikdarmanto@gmail.com.

toko-delta.blogspot.com

Archives

Postingan Populer

linkwithin

Related Posts with Thumbnails

Total Tayangan Halaman

Diberdayakan oleh Blogger.