toko-delta.blogspot.com

menu

instanx

Senin, 10 November 2008

Telecommuter

Oleh: Ardian Syam

Anda sudah membaca majalah SWA edisi 29 September – 12 Oktober 2005? Ada tulisan bahwa beberapa pebisnis di Jakarta lebih suka bekerja di tempat-tempat umum, di cafe atau restoran yang menyediakan hot spot sehingga mereka bisa mengakses server perusahaan tempat mereka bekerja atau situs-situs internet yang mereka butuhkan untuk membantu pekerjaan mereka.

Mereka bekerja sebagai designer, marketer, atau account officer/manager, maupun eksekutif di perusahaan tempat mereka bekerja, atau bahkan pemilik usaha tersebut. Mereka melakukan hal tersebut atas dasar kepraktisan karena client mereka bekerja di sekitar mal atau plasa yang mereka pilih dan yang menyediakan hot spot tersebut. Mereka mengambil keputusan tersebut demi agar client mereka dapat bertemu muka langsung dengan mereka tanpa harus menerobos rimba kemacetan lalulintas metropolitan. Begitulah cara mereka menunjukkan bahwa usaha mereka telah menjadi customer centric organization/company.

Saya mencoba merujuk sebuah istilah dari www.wikipedia.org yaitu telecommuter sebuah istilah yang dipopulerkan oleh Jack Nilles di Amerika Serikat. Telecommuting adalah pekerjaan yang dirancang sehingga pekerja menikmati fleksibilitas dalam lokasi dan waktu kerja. Dalam kata lain, commute (perjalanan pulang pergi) antara rumah dan tempat kerja mereka yang berjarak cukup jauh digantikan dengan jaringan telekomunikasi. Kaum pekerja telecommuting memiliki moto “pekerjaan adalah sesuatu yang Anda lakukan, bukan sesuatu yang mengharuskan Anda bepergian ke sana kemari”. Program telecommuting yang berhasil mempersyaratkan gaya manajemen yang didasarkan pada hasil dan tidak hanya pada kerutinan seseorang.

Telecommuting dapat dilihat sebagai solusi bagi kemacetan lalu lintas (akibat hanya ada satu penumpang di setiap mobil) dan sebagai solusi bagi polusi udara serta penggunaan bahan bakar kendaraan bermotor. Investemen awal bagi infrastruktur jaringan dan hardware akan tertutup dengan peningkatan produktifitas dari pegawai telecommuting. Masih ingat diskusi dalam tulisan saya tentang “Quality Time”? Pegawai yang berhasil mengelola waktu antara waktu untuk keluarga dan waktu untuk pekerjaan akan menurun tingkat stress mereka sehingga akan lebih produktif.

Di sisi lain telecommuting juga dapat berarti penghematan yang cukup besar bagi perusahaan. Bila secara bersama-sama sekelompok orang harus berada dalam satu ruangan atau gedung dan setiap orang menggunakan PC atau notebook maka dibutuhkan kapasitas listrik yang cukup besar, namun bila mereka masing-masing bekerja di tempat yang berbeda (karena telecommuting) maka masing-masing membutuhkan kapasitas listrik yang rendah.

Mari kita berhitung langsung dengan angka-angka, bila ada 500 (lima ratus) PC atau notebook dalam sebuah gedung dan masing-masing membutuhkan daya listrik sebesar 100 watt saja, maka dibutuhkan 50.000 watt. Walaupun seluruh orang tersebut menggunakan 50 kWh tetapi tarif per kWh untuk kapasitas lebih dari 50 kWh akan jauh lebih tinggi bila mereka bekerja di rumah masing-masing yang memiliki kapasitas listrik sekitar 900 atau 1.300 watt. Sehingga perusahaan harus membayar Rp42.500,- (50kWh x Rp850,-) bila mereka bersama-sama bekerja di kantor, sedangkan bila mereka masing-masing bekerja di rumah maka biaya yang dikeluarkan per jam hanya Rp24.750,- (50kWh x Rp495,-).

Dari hitungan tersebut di atas berarti per jam telah terjadi penghematan hingga Rp17.750,- dan bila seminggu semua pegawai bekerja 40 jam berarti sebulan semua pegawai bekerja selama 160 jam. Dengan demikian penghematan yang dapat dilakukan adalah sebanyak Rp2.840.000,- Bila total pegawai di perusahaan tempat Anda bekerja hingga 10.000 orang maka penghematan yang dapat dilakukan hingga sebanyak Rp56.800.000,- yang berarti selama setahun perusahaan tempat Anda bekerja dapat menghemat hingga Rp681.600.000,- Coba Anda teruskan perhitungan tersebut bila ada 20.000 lebih pegawai telecommuting.

Baru dari satu perhitungan tentang penggunaan listrik oleh PC atau notebook. Sementara kantor juga seringkali membutuhkan AC yang mungkin tidak dibutuhkan para pegawai ketika mereka bekerja di rumah. Sudah Anda perhatikan gedung kantor tempat Anda bekerja? Kebanyakan gedung dibangun sedemikian rupa sehingga dibutuhkan lampu untuk membantu penerangan karena cahaya matahari tidak mudah masuk.

Kemudian, ketika 500 orang berkumpul bersama, maka kemungkinan dibutuhkan lebih dari satu lantai kantor. Bila kantor tersebut berlantai empat atau lebih maka tentu saja dibutuhkan lift. Tambah satu lagi penghematan yang dapat dilakukan bila para pegawai menjadi telecommuter.

Untuk listrik saja ada kemungkinan dalam setahun sebuah kantor dengan 500 pegawai dapat menghemat lebih dari Rp3 milyar. Bila kondisi tersebut dilakukan di semua kantor di perusahaan tersebut yang memiliki pegawai 10.000 orang saja, maka penghematan setahun mencapai Rp60 milyar.

Mari kita berhitung lagi bila space untuk kantor bagi masing-masing orang dibutuhkan sekitar 9 meter persegi. Berarti untuk 500 orang dibutuhkan 4.500 meter persegi. Mari kita asumsi biaya kebersihan dan keamanan setara dengan sewa space per meter persegi. Maka dengan sewa sekitar Rp200.000,- per bulan, kantor tersebut membutuhkan sekitar Rp900 juta per bulan berarti sekitar Rp10,8 milyar per tahun. Bila kantor itu merupakan bagian dari perusahaan dengan total pegawai 10.000 orang maka penghematan untuk space adalah Rp216 milyar per tahun.

Sekarang dari dua perhitungan saja yaitu listrik dan space perusahaan tempat Anda bekerja telah menghemat lebih dari Rp200 milyar per tahun. Sebuah perusahaan yang saya kenal dan memiliki pegawai sekitar 30 ribu orang selama dua tahun berturut-turut meraih laba Rp6 triliun. Tetapi dari penghematan yang telah kita bicarakan perusahaan tersebut bisa menghemat sekitar Rp600 milyar yang berarti laba bersih perusahaan tersebut akan naik sekitar 10% dibandingkan laba yang diperoleh sebelum melakukan penghematan dengan telecommuting.

Penghematan tersebut akan diperbesar lagi bila kita juga memperhitungkan biaya pengoperasian ruang-ruang rapat, fasilitas parkir, biaya untuk mesin presensi, biaya perawatan gedung kantor, dan masih banyak lagi biaya-biaya yang dapat dihemat bila perusahaan hanya membutuhkan gedung kantor yang kecil atau bahkan sama sekali tidak mempunyai gedung kantor.

Dengan menjadi telecommuter, para pegawai dapat mengurangi resiko lalu lintas termasuk kemacetan maupun kecelakaan (yang sekali lagi berarti dapat menghemat biaya yang harus dikeluarkan perusahaan). Pegawai dapat mengatur waktu mereka dengan lebih leluasa dan itu berarti dapat menempatkan pekerjaan kantor di waktu yang tepat atau waktu paling produktif tanpa kehabisan waktu untuk melakukan perjalanan kantor – rumah.

Hanya satu hal yang perlu benar-benar berubah secara mendasar yaitu gaya manajemen. Manajemen tidak lagi berdasarkan observasi dalam arti tidak perlu lagi mengawasi masing-masing bawahan, tetapi bergeser menjadi manajemen berdasarkan tujuan atau hasil. Hal yang cukup sulit memang adalah menetapkan hasil yang diharapkan perusahaan dari masing-masing individu.

Tetapi di sisi pekerjaan, perusahaan akan mendapatkan manfaat tambahan dengan membuat organisasi yang lebih langsing dan bersinergi secara matriks. Belum lagi bila didukung oleh para pegawai yang memiliki multi kompetensi, maka pekerjaan kelompok secara matriks akan lebih mudah terlaksana.

Bila perusahaan memiliki pegawai-pegawai yang multi kompetensi maka perusahaan pun bisa menghemat dalam jumlah pegawai. Kita kembali ke perusahaan yang tadi saya bicarakan. Gaji rata-rata per tahun di perusahaan tersebut adalah sekitar Rp150 juta per orang. Bila dengan pegawai yang memiliki multi kompetensi dan perusahaan dapat melangsingkan organisasi atau mengurangi 10 ribu dari 30 ribu pegawai mereka, maka perusahaan dapat menghemat lagi biaya gaji hingga Rp1,5 triliun atau akan meningkatkan 25 persen lagi laba bersih mereka. Sehingga dari hitungan tersebut maka telecommuting akan menyebabkan laba bersih perusahaan tersebut akan menjadi Rp8 triliun.

Terbayangkankah dalam pikiran Anda bila perusahaan tersebut merupakan perusahaan publik yang memperdagangkan saham mereka di bursa? Apa yang terjadi dengan harga saham mereka? Kemudian apabila saham mereka merupakan blue chip, apa yang terjadi pada indeks harga saham gabungan?

Indeks harga saham gabungan akan naik semakin tinggi bila perusahaan-perusahaan blue chip melakukan strategi telecommuting. Terbayangkah apa yang akan terjadi pada pasar saham Indonesia? Kemudian bila pasar saham semakin diminati, apa yang kemudian terjadi dengan perekonomian Indonesia? Anda bisa saja menggunakan istilah efek domino atau multiplying effect tetapi lihatlah bahwa telecommuting tidak hanya berdampak bagi satu perusahan saja.

– Medan – Oktober 2005

* Ardian Syam menempuh pendidikan terakhir di Magister Akuntansi, UGM, Yogyakarta, 2004. Saat ini ia bekerja sebagai Financial Analyst di PT Telekomunikasi Indonesia Tbk., Divisi Regional I Sumatera, sekaligus menjadi dosen Fakultas Ekonomi, Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara. Ia dapat dihubungi di: ardian.syam@gmail.com

Teroris: Sebuah Fenomena Sosial dan Agama?

Oleh: M. Iqbal

Pada kamis siang (24 November 2005) saya memaksakan diri untuk pergi ke perpustakaan UIN Yogyakarta. Sebenarnya teramat berat melangkah kaki ke sana, karena cuaca yang begitu panas serta badan terasa capek setelah paginya masuk kuliah. Tapi, daripada tidur lebih baik saya gunakan waktu tersebut untuk ke perpustakaan. Pukul. 14.00 aku berangkat. Jarak antara kos saya dengan perpustakaan memang tidak jauh, bisa ditempuh dengan jalan kaki dengan memakan waktu sekitar lima menit.

Singkat cerita, saya telah sampai di perpustakaan UIN Yogyakarta. Jika dibandingkan dengan pagi hari, siang hari terasa sepi perpustakaan tersebut, sehingga membuat saya nyaman untuk membaca. Apalagi di lantai tiga yang isinya buku-buku yang jarang dijamah oleh para mahasiswa. Paling-paling ramainya cuma daerah tempat membaca koran dan skripsi, itu pun pada pagi hari. Pada siang hari hingga sore hari hampir dipastikan tidak ada orang.

Saya mulai menuju lantai satu, kemudian naik menuju lantai dua. Keliling-keliling sebentar, lalu naik lagi ke lantai tiga. Saya bingung, mau baca apa ya? Karena dari kos memang tidak ada niat untuk mencari buku tertentu, atau tentang masalah tertentu. Karena bingung, saya pergi menuju rak surat kabar dan majalah. Sialan, tidak ada koran baru, beritanya sudah kadaluarsa. Entah, saya tidak tahu ke mana koran-koran baru tersebut, padahal perpustakaan ini berlangganan empat surat kabar baik nasional maupun lokal. Tetapi tidak ada satu pun yang nongol.

Kemudian saya balik lagi menuju lantai dua. Saya menuju rak koleksi filsafat. Ah, tidak ada yang menarik, lalu menuju rak koleksi sosial. Saya coba mencari buku yang ada hubungannya dengan fenomena sosial pada saat ini. Aha! Saya menemukan buku yang ada kaitannya dengan masalah yang sedang heboh di Indonesia saat ini. Buku itu berjudul “Agama dan Masyarakat (Suatu Pengantar Sosiologi Agama) karya Elizabeth K. Nottingham.

Isu hangat saat ini yaitu tentang terorisme, yang diindikasikan oleh para pengamat sebagai fenomena agama dan masyarakat. Para teroris yang didalangi oleh DR. Azahari dan Noordin M. Top ini membom beberapa tempat di Indonesia atas nama jihad, yaitu sebuah usaha atas nama agama untuk melawan orang-orang kafir. Itulah mereka pahami jihad. Kafir yang dimaksud mereka adalah orang-orang barat seperti Amerika dan Australia. Dan mereka menganggap tindakannya benar dan diridhoi Tuhan. Lantas, jika terkena pada orang Indonesia, khususnya muslim, mereka mengatakan, “sudah takdirnya”.

Nah, menurut buku tersebut, bahwa memang antara agama dan masyarakat bisa saling mempengaruhi. Ada kalanya agama dilakoni dengan mengintegrasikan dengan budaya masyarakat setempat. Begitu juga sebaliknya, masyarakat beragama secara simbolis dan sangat menyatu dengan tradisi masyarakat itu sendiri. Seperti dalam Islam dengan adanya tahlilan, halal bihalal, dan lain-lain, sehingga sulit melihat mana agama dan mana budaya.

Namun, hal itu masih dalam buku tersebut tidaklah memunculkan problem sosial. Yang dikhawatirkan adalah sikap keberagamaan yang eksklusif, yaitu yang tidak mau menerima perubahan, atau menyatu dengan budaya masyarakat, sehingga dalam menjalani perilaku keberagamaan begitu sempit, kaku, dan tekstual. Mereka melihat dunia hanya hitam dan putih. Dalam pandangannya yang ada cuma halal-haram dan kawan-lawan. Penafsiran atas teks keagamaan menjadi pola pikirnya dan mengejawantah dalam perilaku kehidupannya. Lantas apa yang terjadi? Ya, sebagaimana yang terjadi saat ini mereka ibarat “ingin masuk sorga dengan mengorbankan orang lain”.

* * * Tak terasa waktu sudah sore. Sebentar lagi perpustakaan ditutup. Saya pun menutup buku tersebut, dan melangkah keluar. Sungguh, waktu yang tak sia-sia saya lalui.

* M. Iqbal Dawami adalah penulis yang aktif di komunitas GARIS, Yogyakarta

Experiential Learning

Oleh: Hari Subagya


Selama 6 tahun ini saya menekuni bidang experiential learning. Sangat menarik, karena dengan methode belajar seperti ini sangat mudah diingat dan sulit untuk dilupakan. Dampaknya akan jauh lebih kuat. Methode ini seakan miniatur sebuah proses belajar dalam kehidupan. Banyak orang menjalani hidup, tersungkur, terperosok hingga ke titik minus, maka setelah itu, mereka baru tersadar dan mampu mengambil hikmahnya. Kadang kesadaran dari benturan itu sudah sangat terlambat.

Banyak sekali kejadian orang yang terperosok, karena kebiasaannya mencuri, korupsi, dan ketika terungkap dan tertangkap, maka sudah hancur semuanya. Begitu kesadaran timbul, begitu titik kebenaran mulai menyinari hatinya, maka semuanya sudah berbeda. Tenaga sudah habis, sahabat sudah pergi, dan usia semakin senja. Kadang kesadaran akan hal-hal kebaikan begitu terlambat datangnya. Siapapun yang mengalami keterpurukan, pasti dalam hatinya akan berkata: "Seandainya aku menghentikan tindakan burukku sebelum ini, maka aku tidak akan seperti ini."

Methode belajar dengan experiential learning, seakan membuat sebuah episode kehidupan dalam waktu beberapa hari saja atau hanya beberapa jam saja, sehingga akan muncul kesadaran-kesadaran yang kuat akan hal-hal positive: Pentingnya berbuat baik, pentingnya sebuah kejujuran, bagaimana berkomunikasi, bagaimana menjalin kerjasama, bagaimana menselesaikan masalah bersama, bagaimana memotivasi, kesadaran akan pentingnya percaya diri, percaya pada rekan, bahkan hingga pengalaman perjuangan yang tidak mengenal mundur atau pantang menyerah. Harus bisa dan ternyata bisa.

Experiential learning, juga sebuah aktivitas yang sangat dahsyat. Kita mengetahui bagaimana Leonardo da Vinci mengajukan pertanyaan pertanyaan mendasar soal terbang. Bagaimana burung mulai ingin terbang? Bagaimana Burung menambah kecepatanya? Bagaimana burung mengurangi kecepatanya? bagaimana burung berusaha berhenti dan hinggap di dahan pohon?

Aktivitas menanyakan dan menggali apa yang kita alami, apa yang kita lihat dan apa yang kita rasakan, bisa memberikan inspirasi yang sangat berguna bagi sebuah perjuangan sukses. Mengamati apa saja, juga bisa memberikan isnsight yang berguna bagi perjalanan sukses anda. Pertajam pengamatan anda terhadap apapun, maka anda akan merasakan begitu bermaknanya kehidupan, begitu dahsyatnya skenario kehidupan, yang pada akhirnya anda akan menemukan rumus-rumus pasti sebuah kehidupan.

Saya pernah meneteskan air mata ketika membaca cerita seorang bapak yang berturut-turut didera derita: Mulai kedua kakinya hilang, ditinggal istri tercinta, ditinggal anak tercinta menjadi TKW, dan terakhir harus menyaksikan anaknya sendiri di tiang gantungan. Saya mencari apa salah darinya? Namun diawal cerita saya membaca, kalau mereka menikah tanpa persetujuan orang tua. Mungkin anda juga mendengar derita artis kita Cut Mey-mey, mungkin anda juga melihat kisah tragis kehidupan beberapa orang, tetangga atau saudara? Jika anda teliti, maka anda akan menemukan rumus pastinya.

Bagaimana kehidupan orang yang hamil sebelum menikah? Anda bisa melakukan observasi kecil? Bagamana kehidupan orang yang menikah tanpa persetujuan orang tuanya? Bagamana Orang yang gemar minum-minuman keras? Bagamana orang yang selalu merokok? Bagaimana kehidupan para wanita tuna susila? Bagamana kehidupan orang yang senang berjudi? atau bagaimana kehidupan orang yang selalu belajar? Bagaimana kehidupan orang yang wajahnya selalu tersenyum? Bagaimana kehidupan orang yang selalu mengkritik?

A-Ha! (saya pinjam icon-nya Pak Andrias Harefa) Saya sangat yakin anda akan menemukan formula pastinya! Rumus-rumus kehidupan itu benar-benar dahsyat! Namun sayangnya kita tidak cukup waktu untuk mengalami semua kejadian itu agar kita belajar. Kita tidak memiliki waktu untuk menjalani semua rangkaian cerita kehidupan. Untuk itulah kita perlu belajar dari orang lain, kita perlu belajar dari pengalaman orang lain. Atau kita membuat miniatur kehidupan dengan experiential learning (belajar dengan mencoba mengalaminya). Melalui permainan permainan yang sudah didesain sedemikian rupa, melalui skenario-skenario tertentu, agar kita mengalami suasana dan perasaan tertentu.

Lebih dari 6 tahun saya menggeluti experiential learning, saya bisa menemukan formula-formula. Jika dalam sebuah kelompok ada yang arogan, maka tim itu akan gagal dan lambat dalam masah A, Jika kelompok itu dominan dengan orang yang pasif, maka akan gagal dalam kasus B, Jika ada tim yang memiliki tipe pemikir yang banyak pertimbangan, maka mereka akan kalah dalam game C. Itu bisa menjadi sebuah pola.

Lebih dari 6 tahun saya mengadapi sekitar ratusan manusia berbeda setiap minggunya dari berbagai organisasi dan perusahaan, maka saya mulai mengenal karakter-karakter manusia yang sangat beragam. Jangan khawatir hampir semua memiliki plus dan minus. Itu juga sebuah keadilan Tuhan, namun bila mengarahkan dan menempatkan dalam pos-pos yang tepat, maka bisa menjadi sinergi yang luar biasa.

Sahabat Sukses! Belajar dengan mengalami, memiliki sensasi tersendiri, belajar dengan mengamati juga memiliki kenikmatan tersendiri, namun pasti bila anda tidak belajar, maka sensasi-sensasi kehidupan itu tidak bisa merambah dalam kehidupan anda. Mungkin anda hanya menjalani dan memenuhi kebutuhan hidup anda. Mungkin anda hanya tertarik dengan uang! Mungkin anda hanya tertarik dengan wanita cantik atau pria ganteng dan kaya.Ternyata kenikmatan tidak hanya sebatas hal itu. Anda bisa menikmati dinginya udara pegunungan sambil memeluk secangkir kopi panas. Anda juga bisa menikmati berdebarnya jantung ketika anda ingin meloncat dari ketinggian 15 meter dari atas pohon. Anda bisa menikmati kengerian menuruni tebing, bahkan anda bisa menikmati ber-camping di Bantar Gebang (tempat pembuangan sampah).

Anda ingin mencoba?

Coba mulai hari ini, anda amati apa yang anda lihat. Sekali anda berhenti di pangkalan becak dan ngobrol dengan mereka. Temukan pemikiran dan pemahaman mereka tentang hidup, setelah itu simpulkan beberapa pemikiran yang tetap membuatnya menjadi tukang becak bertahun-tahun tanpa kemajuan. Coba anda sesekali makan bakso dari tukang bakso yang selalu lewat di depan rumah anda, tukang asinan, kuli bangunan. Temukan pemikiran dan keyakinan yang mereka anut, lalu simpulkan sikap dan pemikiran apa yang membuatnya "TIDAK BERGERAK".

Kemudian silahkan anda mendengarkan Radio Smart FM: Andrie Wongso, Jansen Sinamo, Fx Hadi Tjokrosusilo, James Gwee, Jacob Esra atau anda temui orang-orang yang anda anggap sukses. Temukan pemikiran mereka, kemudian simpulkan apa yang membuat mereka menjadi DAHSYAT. Menurut anda sendiri.

Pertanyaan berikutnya adalah, jika ada "pemikiran abang becak" ada dalam diri anda dan anda mengetahui itu tidak memberdayakan kehidupan anda, maka segera tinggalkan, namun pemikiran manusia-manusia sukses yang menurut anda belum ada pada diri anda, maka saatnya anda terapkan. Anda coba rasakan sensasinya! Perubahan pasti akan terjadi. Anda akan bangun pagi dengan perasaan penuh semangat dan memiliki agenda yang jelas untuk dilakukan.

Kemudian akan muncul lagi pertanyaan berikut? Jika anda menjalani kehidupan dengan rutinitas yang tinggi (artinya tidak berubah-ubah) maka sebenarnya anda kurang kaya dengan pengalaman kehidupan maupun perjuangan, maka rutinitas itu harus anda pecahkan polanya, ubah polanya, variasikan, perkaya, dan tambahkan "gaya gaya baru" kehidupan anda. Rutinitas yang tinggi tanpa sebuah variasi, bisa menjebak manusia dalam sebuah "kenyamanan" Apa akibatnya? Bisa berakibat enggan berubah, pasrah, bosan, menurunnya daya juang, pesimis dan banyak akibat negatif lainya yang kurang memberdayakan kehidupan kita.

Kesadaran akan perubahan sebenarnya sangat penting, karena dengan kesadaran yang tinggi setiap hal akan berubah, maka seseorang akan jauh lebih waspada! Lebih responsif, lebih siap dan jauh dari krisis. Ingat sebuah krisis adalah perubahan yang membuat kita kehilangan keseimbangan. Kalau anda responsif, maka anda akan segera mendapatkan keseimbangan baru.

Salam Perubahan!

* Hari Subagya adalah penulis buku best seller Time To Change dan buku Success Proposal.

Sabtu, 08 November 2008

Menguak Rahasia Etos Pelayanan Konsumer yang Topcer (1)

Oleh: Joshua W. Utomo, M.Div., D.Hyp., C.Ht.

Rahasia Satu:

“Pelayanan topcer adalah jantung dan urat nadi serta tulang sumsum dari setiap organisasi, nir-laba ataupun yang untuk laba”.

Beberapa waktu yang lalu saya berjumpa lagi dengan salah seorang kawan lama saya, seorang pakar di bidang Kepemimpinan (leadership), SDM (human resources), dan Pelayanan Konsumer (customer service) saat dia diundang untuk memberikan workshop di beberapa perusahaan dan rumah sakit di kota Boston.

Setelah ngobrol santai saling bertanya tentang keadaan masing-masing sambil menikmati hidangan teh herbal hangat dan blueberry scone manis di sebuah kafe kecil di pojok Harvard Square di kota Cambridge dekat kampus Harvard University yang selalu penuh dengan atraksi jalanan dan merupakan salah satu tujuan wisata yang cukup populer bagi para turis baik lokal maupun internasional itu, kami pun akhirnya mulai berbincang sedikit serius berbagi ilmu dan pengalaman.

Perbincangan kami pun menjadi semakin seru dan menarik ketika dengan suaranya yang berat dan kharismatik itu dia menyinggung tentang etos pelayanan dalam sebuah organisasi. Dia mengatakan bahwa pelayanan konsumer yang topcer (handal) itu memiliki peran yang amat kunci. Pelayanan topcer ini bisa dengan mudahnya menaikkan pamor dan income perusahaan seseorang, atau sebaliknya bisa juga menjatuhkan dan menghancurkan perusahaan yang bersangkutan dalam waktu relatif singkat.

Sambil sesekali membetulkan kacamatanya yang tak terlalu tebal dan meluruskan rambutnya yang telah memutih seperti salju itu, dengan tak segan-segan dia membeberkan pada saya Rahasia Pelayanan Topcer terhadap Konsumer yang sangat vital bagi maju-mundur, meningkat atau ambruknya usaha seseorang baik dalam konteks bisnis mencari laba ataupun yang nirlaba.

Rahasia etos Pelayanan Topcer pada konsumer yang akan segera saya ungkapkan dalam artikel berseri ini bila Anda mengerti dan terapkan secara sungguh-sungguh dalam organisasi Anda, saya yakin pasti akan membawa perubahan yang positif dan konstruktif bagi berlangsungnya dinamika kehidupan organisasi Anda.

Saya yakin Anda semua pasti menginginkan sebuah organisasi yang sehat, yang bermutu, yang bisa terus maju dan bertumbuh-kembang. Bila demikian, selamat menikmati artikel berseri ini dan semoga setiap usaha Anda selalu maju dan sukses selalu!

Rahasia Satu: “Pelayanan Topcer adalah jantung dan urat nadi serta tulang sumsum dari setiap organisasi, baik yang nir-laba ataupun yang untuk laba”.

Pelayanan topcer selalu diawali dari dalam (internal customer service) kemudian dilanjutkan ke luar (external customer service). Setiap anggota organisasi mulai dari level yang paling bawah hingga yang teratas haruslah dilayani dan diperlakukan sebagaimana layaknya seorang konsumer; sebab mereka adalah konsumer dalam (internal customer) di perusahaan Anda.

Tanpa adanya etos pelayanan topcer pada kedua jenis konsumer (dalam dan luar) itu, dinamika kehidupan perusahaan Anda akan sangat terganggu atau bahkan bisa jadi mati; sebab etos pelayanan topcer inilah pada dasarnya yang akan memampukan perusahaan Anda untuk bertahan hidup dan bertumbuh-kembang dengan pesat serta menghasilkan keuntungan baik materi maupun non-materi yang berlimpah bagi Anda.

Mungkin sebagian besar dari kita sekalian sudah terbiasa dengan etos pelayanan yang berpolakan “Ndoro-Batur” atau “Majikan-Pembantu” seperti yang dipraktekkan oleh organisasi-organisasi djaman baheula itu. Etos pelayanan dengan pola tersebut sudah saatnya dan seharusnya ditinggalkan dan disingkirkan jauh-jauh, sebab selain tidak efektif, pola tersebut jelas-jelas tak berperi-kemanusiaan dan sangat bertentangan dengan panggilan kemanusiaan yaitu untuk saling menghargai dan menjunjung tinggi hak dan martabat sesama kita, tak peduli posisi ataupun bentuk pekerjaan yang bersangkutan.

”Lalu, etos pelayanan dengan pola apa dan yang bagaimana sebaiknya kita terapkan dong?” Mungkin itu pertanyaan Anda saat ini.

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, saya mendadak teringat pengalaman kerja beberapa tahun yang lalu di Ritz-Carlton Hotel Boston, salah satu hotel bintang lima tertua dan terbaik di dunia itu. Masih sangat jelas ingatan saya pada motto mereka yang berbunyi,” We are Ladies and Gentlemen Serving Ladies and Gentlemen” yang diterapkan secara baik oleh jaringan global bisnis the Ritz-Carlton Hotel itu.

Etos pelayanan topcer dengan pola Ladies and Gentlemen yang melayani Ladies and Gentlemen inilah pola pelayanan yang harus Anda praktekkan dalam perusahaan Anda, bila Anda ingin terus maju dan berkeinginan untuk meningkatkan eksistensi perusahaan Anda diatas standar rata-rata perusahaan di sekeliling Anda. Ini adalah pola mulia (the Royal Pattern) dengan standar emas (the Gold Standard).

Etos pelayanan topcer dengan pola Ladies and Gentlemen yang melayani Ladies and Gentlemen inilah pola pelayanan yang harus Anda praktekkan dalam perusahaan Anda, bila Anda ingin menciptakan suasana kerja yang harmonis, efektif, efisien, dan nyaman bagi seluruh anggota keluarga besar yang ada dalam perusahaan Anda.

Etos pelayanan topcer dengan pola Ladies and Gentlemen yang melayani Ladies and Gentlemen inilah pola pelayanan yang harus Anda praktekkan dalam perusahaan Anda, bila Anda ingin menciptakan konsumer yang loyal (loyal client), atau konsumer yang tak segan-segan mendukung (advocate) perusahaan Anda, ataupun consumer yang dengan senang hati menjadi duta (ambassador) yang baik bagi perusahaan Anda.

Tapi, bila Anda hanya ingin menjadi pengusaha berkelas rata-rata dan biasa-biasa saja seperti halnya perusahaan-perusahaan di sekeliling Anda yang masih sibuk berkutat dengan pola kuno yang tak hanya sudah ketinggalan jaman tapi juga tak berperi-kemanusiaan itu saya takut cepat atau lambat konsumer-konsumer Anda (baik konsumer dalam maupun luar) akan segera pergi meninggalkan Anda.

Di era globalisasi ini, perusahaan-perusahaan besar ataupun kecil yang tidak mau berubah dan stuck dengan pola lama, cepat atau lambat akan segera runtuh. Dari hari ke hari masyarakat sebagai konsumer semakin jeli dan pintar memilih. Bila Anda mau menerapkan pesan yang terkandung dalam Rahasia Satu (Pelayanan topcer adalah jantung dan urat nadi serta tulang sumsum dari setiap organisasi, nirlaba ataupun yang untuk laba) ini, maka usaha Anda akan bisa bertumbuh dan berkembang dan otomatis Anda akan mendapatkan keuntungan yang jauh lebih daripada hari-hari sebelumnya.

Rahasia Dua…ini sama halnya dengan Rahasia Satu, sangat vital dan memegang peran yang luar biasa bagi maju-mundurnya setiap usaha Anda. Bila Anda ingin mengetahui lebih lanjut tentang Rahasia Dua dan Rahasia-rahasia lainnya? Silahkan menyimak dan berkunjung lagi ke Pembelajar.com edisi mendatang.

(Boston, 16-11-2005)

* Joshua W. Utomo, M.Div., D.Hyp., C.Ht., psikoterapis, penyair, corporate trainer/entertainer, motivator/hipnoterapis, dan penulis yang sekarang sedang berkelana di Boston, AS. Dia adalah juga pendiri dari Heal & Grow Center™ (www.healandgrowcenter.com) sebuah pusat penyembuhan holistik. Bersama istrinya (Cynthia C. Laksawana) dia mendirikan Sanggar Kinanthi™(www.sanggar-kinanthi.com) dan JW Utomo Productions™ (http://masterhypnotistusa.tripod.com) sebagai wahana mereka berseni-budaya dan berkiprah bagi kemanusiaan. Dia dapat dihubungi via prof_jw@yahoo.com.


WWW.SAATNYA-BERUBAH.COM

Bagi Anda yang tidak terburu-buru menghasilkan uang melalui internet, namun cukup sabar dan ingin mengerti benar seluk beluk bisnis marketing yang sejati

Apa Sih Hidup Itu…?

Oleh: Suryanto Wijaya


Suatu hari di tengah malam, saya terbangun dan mendapati diri saya sedang bertanya kepada diri saya sendiri, sebetulnya hidup ini seperti apa sih? Ada yang mengatakan hidup ini seperti gema, ketika kita mengatakan sesuatu ke alam atau kehidupan “kamu hebat” alam akan mengembalikan kepada kita “kamu hebat”, sebagian orang lagi beranggapan bahwa hidup itu merupakan cermin dari pikiran dan perasaan kita sendiri terhadap diri kita sendiri maupun orang lain. Jika kita berpikir dan merasa bahwa kita adalah mahkluk yang gagal, tidak berguna dan merasakan bahwa hidup ini tidak adil. Maka hidup kita akan selalu menjadi seperti itu.

Agh…nggak tahu juga kenapa saya pusing sekali memikirkan hal itu dan di tengah malam itu juga saya teringat kembali dengan sebuah cerita yang sudah sangat lama sekali saya dengar, tepatnya tiga tahun yang lalu tentang perdebatan dua orang sahabat lama tentang pandangannya terhadap hidup. Kurang lebih begini ceritanya.

Alkisah ada dua orang yang berteman sudah cukup lama. Katakanlah orang yang pertama bernama Otto dan yang kedua bernama Hetto. Suatu ketika mereka bertengkar tentang sesungguhnya hidup itu seperti apa sih? Otto berkata “Hetto temanku, hidup itu asyik kita tinggal pasrahkan saja hidup kita pada Tuhan. Tidak perlu untuk berbuat banyak. Jika Tuhan tidak menghendaki sesuatu terjadi pada kita maka tidak akan terjadi apa-apa pada diri kita. Kita tidak perlu berbuat apa-apa lagi. Segala sesuatunya sudah diatur oleh-Nya”

Hetto tidak sependapat dengan Otto. Ia lalu berkata “Eh... nggak lagi! Hidup itu, sebenarnya kita harus berusaha terlebih dahulu barulah Tuhan memberikan kita berkahnya. Segala sesuatu yang ada di dunia ini haruslah bersifat dua arah saling bekerjasama. Jika Tuhan menghendaki tapi kita tidak berusaha, mana bisa hal itu terjadi? Demikian sebaliknya jika kita berusaha tetapi Tuhan tidak menghendaki, mana mungkin juga hal itu terjadi? Tanpa adanya kebersamaan tujuan dari kita dan Tuhan segala sesuatu tidak akan terjadi dengan baik.”

Otto dan Hetto keduanya sama-sama mempertahankan pendapat mereka sendiri-sendiri. Otto tetap beranggapan bahwa dalam hidup ini segala sesuatunya terjadi secara satu arah. Tidak peduli usaha apa pun yang dilakukan dalam hidupnya, jika Tuhan tidak menghendaki hal itu terjadi, maka hal itu tidak akan terjadi. Hetto berpendapat sebaliknya bahwa dalam hidup ini segala sesuatunya terjadi secara dua arah. Keduanya saling terkait dan tidak terpisahkan serta saling bergantungan.

Karena keduanya saling mempertahankan pendapat mereka dalam hal pandangan mereka tentang hidup itu seperti apa. Maka adu pendapat masih saja terus terjadi dan tanpa terasa waktu pun berlalu dan hari berganti menjadi sore. Hetto pun akhirnya pamit ke rumahnya dan karena mereka berdua adalah teman baik maka meskipun mereka berdua berbeda pendapat tentang hidup itu seperti apa. Otto tetap mengantarkan Hetto ke depan pintu rumahnya.

Pada waktu Hetto pulang ke rumahnya, Hetto seperti biasa berjalan menelusuri jalan setapak yang kecil di mana di sisi kiri dan kanannya ada dua buah sawah yang besar. Jalan setapak itu hanya muat untuk dilewati oleh dua orang saja. Dalam perjalanan pulang Hetto bertemu dengan tukang jeruk keliling. Hetto lalu berpikir “Eh, kayaknya enak tuh itu jeruk tapi sayang nggak bawa duit. Nanti saja deh belinya!”

Karena sudah sore dan keadaan lumayan gelap di mana jalanan tidak begitu keliatan lagi. Tukang jeruk itu pun salah menapakkan kakinya dan terpeleset jatuh. Melihat itu Hetto lalu membantu tukang jeruk itu untuk bangun dan mengambil jeruk-jeruknya yang terjatuh, “Terima kasih, ya, terima kasih!” kata tukang jeruk itu.

“Ya, sama-sama,” kata Hetto.

“Sebagai ucapan terima kasih saya silakan Bapak ambil beberapa jeruk saya...”

“oh…terima kasih” kata Hetto.

Hetto pun pulang dengan gembira. Ia tidak menyangka bahwa ketika dirinya ingin makan jeruk --padahal waktu itu tidak bawa uang—eh, malahan dapat gratis. Pada waktu ia mengingat hal ini, ia teringat pada Otto temannya. Ia berkata dalam hati, “Nah, ini dia nih bukti baru untuk dia, bahwa hidup memang seperti ini.” Lalu dengan cepat Hetto pun mandi, makan, dan pergi kembali ke rumah Otto.

Sesampainya di rumah Otto, Hetto pun dipersilakan masuk. Karena mereka berdua adalah teman baik suasana di rumah Otto seperti tidak terjadi apa-apa. Seperti seolah-olah tidak terjadi perdebatan di siang harinya. Hetto pun membagi jeruknya pada Otto. Sambil mengobrol seperti layaknya teman lama, Hetto lalu berkata “Eh, Otto inget nggak tentang obrolan kita yang tadi siang? Ini bukti baru lho kalo kita harus usaha dulu, baru dapet apa yang kita inginkan. Aku harus menolong tukang jeruk terlebih dahulu, barulah aku bisa mendapatkan jeruk ini!”

“Nah benar kan apa kataku kalau dunia itu seperti ini. Kita harus berbuat terlebih dahulu barulah kita mendapatkan manfaatnya. Ada kerjasama tim.”

Otto dengan tenangnya tetap saja makan jeruk pemberian temannya itu sambil geleng-geleng kepala. “Hetto...Hetto…itu kan menurut kamu! Nah, sekarang coba lihat apa yang perlu saya lakukan untuk bisa mendapatkan jeruk ini? Tidak perlu melakukan apa-apa toh…?! Ini semua sudah diatur oleh-Nya.”

Lalu yang benar yang mana, sih….? Jangan bingung!

We don’t see the world as it is
We see the world as we are
or
as if we conditioned to see it.
Stephen Covey

Tidak ada yang salah dalam dunia ini. Yang salah adalah bagaimana cara Anda memandangnya
Ching Ning Hu

* Suryanto Wijaya : (2005) Dewan Pembina Keluarga Mahasiswa Buddhis Dhammavaddhana Universitas Bina Nusantara, (2004) PemRed Majalah Gema Dhammavaddhana BiNus, Pembelajar Universitas Kehidupan. Suryanto dapat dihubungi melalui Email: CuSenWan200x@yahoo.co

Menceburkan Diri ke Dalam Lautan Masalah

Oleh: Ade Asep Syarifuddin


KATA masalah atau persoalan bagi sekelompok orang merupakan kata yang "menakutkan". Terbayang dalam pikirannya situasi yang tidak menentu yang bisa mengganggu kenyamanan dirinya. Tapi bagi sekelompok yang lainnya, kata masalah disimbolkan sebagai sesuatu peluang di dalam pikirannya, karena dengan datangnya masalah berarti dirinya tengah diuji dengan salah satu bentuk soal yang harus dijawab. Tingkat kesulitan soal tersebut menentukan grade kita dalam salah satu mata kuliah kehidupan ini. Semakin sulit, maka akan semakin advanced level mentalitas kita dalam hidup ini, sementara bila masalahnya biasa-biasa saja, sama saja dengan siswa SMA mengerjakan soal-soal ujian anak kelas 6 SD, mudah dijawab, tapi tidak memberikan peningkatan kualitas dirinya. Jadi, apa inti masalah dalam sudut pandang orang-orang sukses?

Kita tahu, sebilah pedang atau golok untuk menjadi pedang yang indah dan tajam, awalnya dari sebatang besi yang harus melalui proses pemanasan dalam suhu yang sangat tinggi sampai membara, kemudian dipukul berkali-kali sampai membentuk pedang. Tanpa dipanaskan, tidak mungkin besi batangan akan menjadi pedang yang indah dan tajam. Demikian halnya peralatan rumah tangga yang dibuat dari kayu jati yang indah, apakah kursi, buffet, mebeul, meja, awalnya adalah kayu gelondongan yang tidak memiliki bentuk. Oleh pengrajin digergaji, dibuang bagian-bagian yang tidak bermanfaat, digosok-gosok dengan ampelas sampai halus, diukir, dirakit menjadi barang rumah tangga yang indah dan mahal harganya. Bahan baku yang bagus, pengolahan yang baik akan menghasilkan kualitas yang bagus dan harganya yang tinggi. Sementara bahan baku yang kurang baik, pengolahannya asal-asalan, harganya juga bisa-biasa saja.

Cerita di atas bisa juga diterapkan untuk manusia. Bila kita ingin menjadi manusia yang berkualiktas dengan harga tinggi, maka harus berani membayar dengan harga tinggi pula dalam melalui proses "pencetakan" SDM berkualitas. Anggap saja kita ibarat sepotong besi yang belum memiliki bentuk, api yang membara ratusan derajat celcius ibarat beratnya beban persoalan hidup yang menghimpit dan terjadi sehari-hari dan pedang yang bagus adalah mentalitas matang, pantang menyerah dan keterampilan yang tinggi dalam mengelola hidup ini. Dengan demikian, bila ingin menjadi manusia berkualitas maka secara sengaja kita harus menceburkan diri ke dalam lautan persoalan yang lebih banyak –bukan hanya persolan-persoalan kecil yang datang kepada kita—tapi sengaja kita mencari persoalan tadi. Dengan catatan, di tengah banyaknya persoalan tadi kita mengurai benang persoalan satu per satu sampai semuanya tuntas, dan tidak mundur sebelum selesai. Setelah menyelesaikan persoalan yang satu, cari lagi persoalan yang lain yang lebih berat, demikian terus menerus dilakukan tiada henti. Bila mengacu kepada analogi di atas, ketika terus menerus berltih menyelesaikan persoalan maka kita sudah memiliki pedang-pedang yang tajam dalam jumlah banyak, golok, kelewang, celurit atau bahkan senjata lainnya untuk memudahkan jalannya hidup. Bagaimana kalau kita tidak memiliki alat atau senjata sementara kita hidup di tengah hutan belantara? Bisa dibayangkan, kondisinya jauh lebih sulit bila dibandingkan dengan memiliki senjata yang lengkap.

Senjata dalam hidup memang tidak terlihat seperti pedang. Tapi bisa dibedakan siapa yang memiliki senjata yang lengkap dan siapa yang tidak dalam mengarungi hidup ini ketika benar-benar menghadapi situasi krusial. Senjata-senjata manusia yang harus dimiliki adalah, mentalitas pantang menyerah, ulet, disiplin, kesabaran melalui proses, kejujuran dalam berkata dan bersikap, optimis menghadapi semua kondisi yang terlihat menyenangkan dan tidak menyenangkan. Bila senjata-senjata itu terus dipelihara, dipertajam, dan digunkan setiap saat, maka manfaatnya akan langsung kita rasakan. Sebaliknya, bila senjata-senjata yang dimiliki tidak dimanfaatkan semaksimal mungkin, bisa jadi akan menjadi karatan, tumpul dan akhirnya menjadi besi biasa yang hanya laku di mata tukang lowak yang berkeliling dari rumah ke rumah yang harganya sangat-sangat murah.

Jadi, untuk apa mengeluh kalau menghadapi persoalan. Lebih baik persoalan tersebut diajak dialog, mengapa persoalan itu datang, apakah manfaat yang menyertai persoalan tersebut dan yang lebih penting lagi bagimana solusi atau cara menyelesiakannya dan sisi positif apa yang menyertai persoalan tadi. Alhasil, bila persoalan dilihat dari sudut pandang yang berbeda, maka akan memunculkan kreatifitas yang cukup tinggi bagi si penemunya. Mungkin Edison tidak akan menemukan lampu pijar listrik kalau ia tidak penasaran melakukan eksperimen, kendaraan tidak akan ditemukan kalau kita merasa puas dengan jalan kaki atau naik kuda, dan lain-lain. Masalah, bagi orang kreatif dan positif thinking adalah peluang. Karena dari sana dituntut untuk menemukan jawaban untuk mengatasinya. Berbeda dengan watak orang pesimis, masalah yang datang bisa menciutkan nyalinya untuk mencoba sesuatu yang lain yang lebih menantang, atau masalah diibaratkan sebagai penghalang untuk mencapi tujunnya.

Berbahagialah kalau dalam kehidupan sehari-hari masih menjumpai masalah. Carilah hikmah di balik sesuatu yang tidak mengenakkan. Garam akan terasa asin kalau langsung mengunyahnya, tapi akan melezatkan masakan kalau komposisinya tepat oleh juru masak yang lihai. Gula pun bila langsung dimakan akan muncul sakit perut, tapi kalau dituang ke dalam air panas ditambah sedikit teh atau kopi, aromanya akan sangat menggoda. Hidup ini lebih banyak dibutuhkan banyak seni dalam menghadapinya. Tidak cukup hanya mengetahui ilmu hidup. Seni artinya seperti juru masak, satu jenis masakan dibutuhkan garam yang banyak, tapi masakan yang lain hanya butuh sedikit garam. Bagaimana kita tahu apakah satu masakan butuh lebih banyak garam daripada masakan lainnya? Banyak-banyaklah belajar memasak, nanti Anda tahu sendiri bagaimana menghasilkan masakan yang lezat. Banyak-banyaklah mencoba resep-resep yang ada kalau kita ingin menjadi juru masak handal.

Kita adalah "juru masak" untuk kehidupan kita sendiri. Kalau ingin mahir, maka harus sering latihan mencoba resep-resep kehidupan ini yang pernah dicoba orang lain. Karena belum tentu resep orang lain yang bagus, akan langsung bagus ketika dicoba hanya sekali oleh kita. Dibutuhkan latihan yang sering, terus menerus sampai resep-resep tersebut terasa enak. Bahkan tanpa disadari, suatu ketika, kita akan menciptakan resep-resep baru, original buatan kita sendiri yang akan diikuti dan dicoba oleh ribuan orang. Bila resep kita terbukti dirasakan enak oleh orang lain, jangan kaget kalau banyak orang mencari kita untuk berguru dan bertanya bagaimana sampai resep tersebut terasa enak.(aas)

* Ade Asep Syarifuddin adalah trainer yang berbasiskan NLP. Tulisan dan artikelnya tersebar di berbagai media massa. Sehari-hari ia adalah Editor in Chief dan General Manager Harian Radar Banyumas. Bisa dihubungi lewat e-mail ade_asep@yahoo.com

Sponge: Clean or Dirty?

Oleh: Ignatius Muk Kuang


Mendengar kata 'Sponge' (Spons) apa yang terlintas pertama kali di benak Anda?

Umumnya banyak yang langsung mengkorelasikan dengan ‘spongebob’ sebuah serial kartun yang digemari di kalangan anak-anak, tetapi ada pula yang mengatakan sebagai sebuah alat/media untuk membersihkan sesuatu.

Terlepas dari itu semua yang menarik dari alat ini adalah, jika kita meletakkan sebuah spons di sebuah wajan berisi air dan sebagian besar dari air dalam wajan tersebut akan diserap oleh spons. Sesuatu yang pernah atau mungkin sangat sering anda perhatikan. Bila Anda memasukkan air yang bersih di dalam wajan, maka yang diserap juga air yang bersih, tetapi sebaliknya jika air kotor yang ada di dalam wajan maka yang diserap oleh spons tersebut juga air kotor.

Manusia pada prinsipnya kurang lebih sama dengan filosofi sebuah spons. Setiap individu adalah spons. Manusia memiliki kemampuan untuk menyerap dan menerima informasi, berita dan menyimpannya dalam memori pikiran. Yang membedakan adalah informasi negatif atau positif yang ingin diserap. Sama halnya spons tadi mau menyerap air yang bersih atau air yang kotor. Semuanya yang menentukan adalah Anda sendiri.

Lalu apa sih informasi positif dan informasi negatif itu?

Negatif ketika informasi itu membuat Anda khawatir, ragu, bimbang, takut untuk mengambil langkah ke depan. Sebut saja contoh yang paling mudah ketika kita sering membaca berita kriminalitas akhirnya menjadi sangat takut akan menjadi korban, senang sekali mendengar berita kegagalan orang lain dan menyebarkannya kembali tanpa menggali apa penyebab kegagalan orang lain, mau dan dengan rela diberitahu kalau Anda tidak bisa sukses.

Apa yang akan terjadi kalau informasi ini terus menerus Anda serap dan sebarkan lalu Anda serap lagi informasi negatif yang lain? Anda bisa bayangkan kalau spons terus menerus menyerap air kotor dan diperas lalu menyerap air kotor lagi. Betapa kotornya spons itu !

Bagaimana dengan otak serta pikiran kita kalau secara kontiniu mendengar hal yang tidak akan membuat kita menjadi lebih baik.

Jadi salahkah kalau mendengar informasi negatif? Tidak ada yang salah! Salah ketika kita tidak mau melihat apa yang menyebabkan ini bisa menjadi negatif. Salah ketika kita terus menerus mendengar hal yang negatif sepanjang hidup tanpa mau membuka telinga untuk hal yang positif.

Positif ketika informasi itu bisa memberi semangat hidup, menginspirasi anda untuk mengambil sebuah action, menambah wawasan berpikir Anda. Contoh paling mudah adalah kalau menghadiri sebuah seminar, membaca buku pengembangan kepribadian, mendengar kisah sukses orang ternama, semua hal itu bisa memberikan nilai tambah dalam diri Anda.

Saya teringat sebuah tagline di salah satu iklan yang mengatakan demikian "Buku yang Anda baca akan menentukan masa depan Anda". Jika menyerap air kotor ketika diperas airnya pun kotor. Jika anda membaca, mendengar dan menjalankan hal yang positif, hasilnya pun positif.

Jadi mau dimasukkan ke wajan air bersih atau kotor spons Anda?

Salam Sukses!
LIFE INSPIRATION
“Think and Act like a Winner”


* Ignatius Muk Kuang adalah seorang trainer, speaker (Motivation, Self-Development, Salesmanship, Presentation, Public Speaking) dan aktif menulis artikel tentang pengembangan diri. Ia dapat dihubungi di email: mukkuang@yahoo.com

Quality Time

Oleh: Ardian Syam


Istilah quality time sudah bukan hal baru bagi semua pembaca, saya bisa pastikan itu. Tetapi benarkah kita telah menjalankan konsep tersebut dengan benar? Bagaimana kita bisa menjalankan dengan benar?

Pekerjaan di kantor seringkali menuntut fokus perhatian dan konsentrasi yang tinggi. Karena hal tersebut pula lah maka Anda bisa dengan optimal mengeluarkan seluruh kompetensi yang dimiliki untuk penyelesaian pekerjaan. Sehingga konsentrasi yang sangat tinggi di kantor akan terbawa ketika tiba di rumah kembali. Konsentrasi kita masih kepada pekerjaan di perusahaan tempat kita bekerja dan kurang konsentrasi terhadap masalah yang terjadi di rumah maupun yang terjadi dalam keluarga kita sendiri.

Saya bahkan punya teman yang sama sekali tidak bisa mengalihkan perhatian kepada pekerjaan di perusahaan tempat dia bekerja. Teman saya ini bahkan menderita penyakit hepatitis karena sering terlalu lelah bekerja. Lebih buruk lagi ketika penyakit teman saya itu kambuh dan diharuskan istirahat oleh dokter yang merawat, tetap saja dia tidak dapat mengalihkan perhatian pada pekerjaan di kantor.

Perusahaan tempat dia bekerja telah menggunakan teknologi informasi sehingga seluruh data tersimpan dalam beberapa server dan bila diberikan akses maka data tersebut dapat dilaksanakan dari rumah. Lalu bagaimana bisa Anda memberikan quality time kepada keluarga bila Anda tetap tidak bisa mengalihkan perhatian dari pekerjaan bahkan ketika ada di rumah.

Pernah ada teman yang menyatakan bahwa dia bekerja lebih dari 12 jam setiap hari, berangkat ketika matahari belum benar-benar muncul di langit dan keluar dari kantor ketika matahari telah tidak terlihat di langit.

Saya mencoba mengutip sebuah tulisan yang saya dapat dari sebuah milis:
Suatu hari, seorang ahli 'Manajemen Waktu' berbicara di depan sekelompok mahasiswa bisnis, dan ia memakai ilustrasi yg tidak akan dengan mudah dilupakan oleh para siswanya.

Ketika dia berdiri di hadapan siswanya dia berkata: "Baiklah, sekarang waktunya kuis" Kemudian dia mengeluarkan toples berukuran galon yg bermulut cukup lebar, dan meletakkan di atas meja. Lalu ia juga mengeluarkan sekitar selusin batu berukuran segenggam tangan dan meletakkan dengan hati-hati batu-batu itu ke dalam toples. Ketika batu itu memenuhi toples sampai ke ujung atas dan tidak ada batu lagi yg muat untuk masuk ke dalamnya, dia bertanya: "Apakah toples ini sudah penuh?"

Semua siswanya serentak menjawab, "Sudah!"

Kemudian dia berkata, "Benarkah?” Dia lalu meraih dari bawah meja sekeranjang kerikil. Lalu dia memasukkan kerikil-kerikil itu ke dalam toples sambil sedikit mengguncang-guncangkan, sehingga kerikil itu mendapat tempat diantara celah-celah batu-batu itu. Lalu ia bertanya kepada siswa sekali lagi: "Apakah toples ini sudah penuh?"

Kali ini para siswa hanya tertegun. "Mungkin belum!", salah satu dari siswa menjawab.

"Bagus!" Kembali dia meraih kebawah meja dan mengeluarkan sekeranjang pasir. Dia mulai memasukkan pasir itu ke dalam toples, dan pasir itu dengan mudah langsung memenuhi ruang-ruang kosong diantara kerikil dan bebatuan. Sekali lagi dia bertanya, "Apakah toples ini sudah penuh?"

"Belum!" serentak para siswa menjawab.

Sekali lagi dia berkata, "Bagus!" Lalu ia mengambil sebotol air dan mulai menyiramkan air ke dalam toples, sampai toples itu terisi penuh hingga ke ujung atas. Lalu si Ahli Manajemen Waktu ini memandang para siswa dan bertanya: "Apakah maksud dari ilustrasi ini?"

Seorang siswanya yangg antusias langsung menjawab, "Betapapun penuh jadwalmu, jika kamu berusaha kamu masih dapat menyisipkan jadwal lain!"

"Bukan!" jawab si ahli. "Bukan itu maksud ilustrasi ini. Ilustrasi ini mengajarkan kita bahwa: JIKA BUKAN BATU BESAR YANG PERTAMA KALI KAMU MASUKKAN, MAKA KAMU TIDAK AKAN PERNAH DAPAT MEMASUKKAN BATU BESAR ITU KE DALAM TOPLES TERSEBUT.

"Apakah batu-batu besar dalam hidupmu? Mungkin anak-anakmu, suami/istrimu, orang-orang yang kamu sayangi, persahabatanmu, kesehatanmu, mimpi-mimpimu, ibadahmu pada Tuhanmu. Hal-hal yang kamu anggap paling berharga dalam hidupmu. Ingatlah untuk selalu meletakkan batu-batu besar tersebut sebagai yang pertama, atau kamu tidak akan pernah punya waktu untuk memperhatikan hal tersebut. Jika kamu mendahulukan hal-hal yang kecil dalam prioritas waktumu, maka kamu hanya memenuhi hidupmu dengan hal-hal yang kecil, kamu tidak akan punya waktu untuk melakukan hal yang besar dan berharga dalam hidupmu.”

Saya pikir sangat sedikit orang yang menganggap keluarga sebagai hal yang paling dapat diabaikan dibandingkan pekerjaan di kantor. Maka sangat sedikit orang yang menganggap pekerjaan di kantor sebagai batu besar.

Ada sekian banyak unsur dalam hidup kita. Ada keluarga, ada pekerjaan, ada hobi, ada kesehatan dan masih banyak lagi yang lain. Kesemua hal tersebut harus diperhatikan, harus seimbang.

Ada sebuah computer game yang patut Anda perhatikan pada saat Anda tertarik untuk bicara tentang keseimbangan, tentang quality time: SIM. Sekarang sudah ada begitu banyak add-ins untuk game tersebut, cobalah cari seri yang paling standar dan cobalah miliki manual untuk memainkan game tersebut. Permainan dapat Anda pilih apakah menjadi seorang bujangan sendirian, bujangan kakak beradik, keluarga tanpa anak atau keluarga dengan anak. Sebagai pemula lebih baik Anda pilih peran sebagai bujangan sendirian.

Dari game tersebut Anda akan belajar bagaimana menyeimbangkan hidup. Ada delapan indikator termasuk tingkat kesehatan, tingkat kesenangan, tingkat rasa cinta, dan tingkat kepintaran. Lebih unik lagi adalah Anda tidak akan mendapatkan promosi di tempat pekerjaan Anda dalam game tersebut bila ada stau indikator yang menyatakan tingkat yang buruk. Berarti Anda baru dapat promosi bila semua indikator menunjukkan nilai baik dan ada indikator yang menunjukkan tingkat yang istimewa.

Anda lihat, bahkan sebuah computer game mengajarkan keseimbangan antar sisi-sisi kehidupan Anda. Lalu bagaimana Anda bisa lebih fokus pada pekerjaan dan melupakan hal lain dari sisi kehidupan Anda? Keseimbangan sehingga tidak ada yang sangat tinggi sementara ada tingkat yang sangat rendah.

Anda mungkin merasa sudah terlalu banyak hal yang selama ini Anda abaikan sehingga akan sulit untuk memulai kembali. Bila itu menjadi masalah bagi Anda saya ingatkan bahwa Anda mungkin pernah naik sepeda dulu di waktu Anda kecil kemudian sekarang Anda sudah terlalu sering tidak naik sepeda maupun sepeda motor, lalu Anda ingin mencoba naik sepeda lagi. Anda tahu bahwa Anda akan kaku dan mungkin akan jatuh, tetapi tidak akan terlalu lama sehingga Anda bisa mengendarai sepeda lagi.

Jadi cobalah lagi lakukan hal yang selama ini telah Anda abaikan. Anda mungkin sudah lama tidak membaca buku, cobalah membaca buku pembangkit motivasi, pilih yang cukup tipis. Bila keluarga sudah mulai Anda abaikan, cobalah bicara dengan anak Anda, tentang siapa saja teman mereka di sekolah sehingga pembicaraan akan meluncur ke hal-hal apa saja yang teman mereka lakukan di sekolah. Bila kesehatan Anda sendiri yang Anda abaikan cobalah sekali waktu Anda bangun sangat pagi dan cobalah berlari keliling lingkungan tempat tinggal Anda.

Seimbang bukan harus melakukan semua hal tersebut setiap hari, karena mungkin Anda beralasan tidak ada waktu yang cukup untuk melakukan semua itu dalam stau hari. Sekarang, buat daftar apa saja yang selama ini telah Anda abaikan lalu rencanakan untuk melakukan satu hingga tiga dari hal tersebut setiap hari dan dalam satu minggu semua hal itu bisa Anda lakukan.

Ada sebuah perusahaan yang menetapkan hari Rabu sebagai hari quality time. Tidak tanggung-tanggung, karena hari quality time tersebut justru dicanangkan langsung oleh Direksi perusahaan tersebut. Pencanangan tersebut didorong karena selama ini Direksi memperhatikan bahwa sebagian besar pegawai perusahaan tersebut masih berada di kantor jauh setelah jam kerja harian berakhir. Tidak hanya itu, pada hari-hari Sabtu dan Minggu pun ada beberapa pegawai yang masih tetap ke kantor. Sehingga ditetapkan bahwa setiap hari Rabu, pegawai perusahaan tersebut harus pulang ke rumah masing-masing begitu jam kerja hari itu berakhir.

Sebuah upaya yang sangat serius karena bila hidup tidak Anda jadikan cukup berarti, maka jangan harap pekerjaan Anda juga akan cukup berarti. Dengan keseimbangan, dengan quality time akan mendorong Anda untuk menghasilkan quality product atau service. Berniat mencoba?

* Ardian Syam dapat dihubungi melalui email: ardian.syam@gmail.com

toko-delta.blogspot.com

Archives

Postingan Populer

linkwithin

Related Posts with Thumbnails

Total Tayangan Halaman

Diberdayakan oleh Blogger.