toko-delta.blogspot.com

menu

instanx

Jumat, 17 Oktober 2008

Belanja Cerdas dan Bijak



Sebagian besar masyarakat adalah pekerja atau bekerja di sebuah perusahaan sebagai pegawai. Bekerja dari senin sampai jum’at dari jam 8.00 am sampai jam 5.00 pm. Menghabiskan banyak waktu baik dijalan akibat kemacetan maupun di kantor dan merasa kelelahan sesampainya di rumah. Banyak dari klien kami yang mengeluhkan kekurangan di paruh akhir setiap bulannya, sebenarnya kemana uang yang didapat dibelanjakan? Apakah mereka termasuk yang kurang bijak dalam membelanjakan uangnya? Pertanyaan seperti ini sering terlontar. Oleh karenanya menentukan kemana uang hasil kerja keras sebulan yang Anda hasilkan pergi, menjadi sangat penting dalam mengelola keuangan menuju kebebasan financial yang diidamkan.

Masyarakat kebanyakan walau dengan pendapatan yang besar, tetap merasa sulit untuk dapat memenuhi semua kebutuhan bulanan yang harus dikeluarkan, apalagi menabung. Ini sangat berkaitan dengan kebiasaan keuangan (financial habit). Anda tetap bisa menyisihkan uang setiap bulannya berapa pun penghasilan Anda bila menjalankan kebiasaan sehat yang berkaitan dengan manejemen keuangan keluarga dan tentunya disiplin pada diri sendiri. Menurut pandangan kami, Anda tidak harus hidup susah untuk dapat menyisihkan uang. Yang harus Anda lakukan adalah dengan menjadi seorang pembelanja yang cerdas dan bijak. Dengan kebiasaan belanja yang benar tentunya Anda akan lebih memiliki kapasitas untuk menabung guna mencapai tujuan jangka panjang yang Anda miliki.

Jadikan menabung sebagai sebuah “habit”
Menabung merupakan hal yang sudah dikenal karena selama kita dibesarkan kita seringkali mendengar kata tersebut, dengan berbagi slogan seperti “ayo menabung”. Tapi celakanya, sebagian besar dari kita memiliki keterbatasan pengetahun seputar keuangan personal dan tingginya bujuk rayu iklan dari pada produsen yang mengakibatkan kita membeli yang sebenarnya tidak dibutuhkan.

Bila ingin memulai perencanaan menabung secara regular sebaiknya Anda harus membuat keseimbangan antara konsunsi dan menabung. Nah, konsumsi inilah atau pemakaian pendapatan untuk belanja yang sering kali mengakibatkan Anda tidak lagi bisa menabung. Pelit bukanlah solusi dalan mengembangkan kebiasaan menabung. Tapi yang lebih diutamakan adalah kebiasaan cerdas dalam berbelanja. Tentunya Anda juga ingin menikmati perjalanan hidup yang Anda lalui selama menjalani kehidupan keluarga.

Untuk membuat proses menabung menjadi sebuah program berkesinambungan, Anda sebaiknya melihat pada diri Anda sendiri. Bagaimana Anda bersikap dan berprilaku berkaitan dengan keuangan, khususnya belanja. Hal ini terkadang bisa dikenali, namun sulit untuk dapat mengubahnya. Perubahan menjadi sangat sulit bila Anda tidak memiliki kemauan untuk berubah. Dibutuhkan dialog dengan diri Anda sendiri seputar keputusan keuangan yang harus Anda ambil.

Pertanyaan penting sebelum berbelanja
Secara jujur harus kita akui bahwa kita berbelanja kadang bukan karena kita membutuhkan barang tersebut namun mungkin hanya tergiur atau dorongan dari diri kita sendiri. Untuk itu kami mencoba memberikan beberapa pertanyaan yang sebaiknya Anda tanyakan pada diri Anda sendiri sebelum keputusan membeli Anda lakukan.

Pertanyaan ini untuk kondisi dimana Anda sebenarnya memang tidak punya uang. dan kondisi kedua, dimana sebenarnya Anda memiliki uang untuk membeli apa yang Anda inginakan.

Dua pertanyaan pertama: “Apakah saya membutuhkannya?” “Apakah saya sanggup untuk membelinya?” Mudah saja, bila jawaban Anda untuk pertanyaan tadi adalah tidak, jangan membelinya. Kalau Anda tidak membutuhkannya, jangan beli. Kalau Anda tidak memiliki uang, jangan membelinya. Bila Anda belum membandingkan dengan hraga di toko lainnya, jangan belu dulu, karena Anda membutuhkan setiap uang yang tidak dibelanjakan untuk ditabung. Nah, bila ANda berbelanja melalui proses kedua pertanyaan diatas, Anda tau bahwa Anda sudah berbelanja dengan bijak dan cerdas.

Dua pertanyaan kedua: “Apakah saya akan menggunakannya?” Apakah ini cukup berharga untuk dibeli sekarang?”. Mungkin hal ini sedikit menjengkelkan, karena sebenarnya Anda memiliki kemampuan untuk membelinya. Lain halnya dengan dua pertanyaan sebelumnya. Namun, lucunya seringkali kita membeli hanya karena dorongan keinginan tapi tidak mendapatkan keuntungan atau manfaat dair belanja yang kkita lakukan. Bila Anda tanyakan apakah saya membutuhkannya? Bila jawabannya tidak maka jangan beli barang tersebut. Bila Anda mengatakan memerlukannya, apakah cukup berharga? Dengan membayar harga tersebut apakah memang cukup berharga untuk Anda miliki. Karena pada dasarnya, bila Anda membelinya, maka Anda kehilangan apa yang biasa disebut oleh para ekonom adalah “opportunity cost”. Jadi pahami kedua pertanyaan tersebut sebelum Anda membeli.

Kebutuhan Vs. Keinginan
Menjadi pembelanja yang cerdas dan bijak perlu memahami perbedaan antara kebutuhan dan keinginan. Sebenarnya tidak ada batasan yang pasti untuk menentukan perbedaan antara kebutuhan atau keinginan. Mari kita mulai dengan mendifinisikan keduanya. Kebutuhan adalah sesuatu yang diperlukan oleh manusia sehingga dapat mencapai kesejahteraan, sehingga bila ada diantara kebutuhan tersebut yang tidak terpenuhi maka manusia akan merasa tidak sejahtera atau kurang sejahtera. Dapat dikatakan bahwa kebutuhan adalah suatu hal yang harus ada, karena tanpa itu hidup kita menjadi tidak sejahtera atau setidaknya kurang sejahtera.

Sedangkan keinginan adalah sesuatu tambahan atas kebutuhan yang diharapkan dapat dipenuhi sehingga manusia tersebut merasa lebih puas. Namun bila keinginan tidak terpenuhi maka sesungguhnya kesejahteraannya tidak berkurang.

Namun demikian, yang namanya kesejahteraan dan kepuasan juga sangat relatif bagi setiap orang. Sedangkan kami berpendapat bahwa untuk membedakan antara kebutuhan dan keinginan, harus dilihat dari segi fungsinya. Sesuatu dikatakan sebagai keinginan kalau sudah merupakan tambahan atas fungsi utamanya.

Bagi sebagian orang, mobil sudah merupakan kebutuhan. Untuk bisa menunjang aktifitasnya yang banyak di luar rumah dan sering bepergian, maka mobil adalah alat transportasi yang menjadi kebutuhan. Jika fungsi mobil adalah untuk alat transportasi, membawa kemana kita akan pergi. Tapi seringkali kita punya keinginan untuk menambah berbagai macam aksesories mobil, bukan untuk menambah kenyamanan atau kemanan berkendara, tapi hanya sekedar mempercantik penampilannya saja. Saya rasa itu bukan kebutuhan, itu cuma keinginan saja. Dan keinginan ini bisa ditunda kalau semua kebutuhan yang lain sudah terpenuhi dengan baik.

Walaupun mungkin kini Anda merasa mampu untuk memenuhi semua keinginan Anda, tapi kita tetap harus bijaksana, jangan sampai lupa akan kebutuhan/ tujuan di masa yang akan datang. Kita harus mempersiapkan dana pensiun kita agar bisa menikmati hari tua dengan tenang, kita juga harus mempersiapkan dana pendidikan bagi anak-anak kita, dan itu semua adalah kebutuhan masa depan yang harus disiapkan sejak sekarang.

Yang harus diingat adalah, jangan sampai memenuhi keinginan dengan mengabaikan kebutuhan atau tujuan keuangan prioritas. Oleh karenanya memiliki perspektif jangka panjang dalam hal keuangan keluarga harus diperhatikan.

Demikialah uraian yang bisa kami sampaikan saat ini. semoga ulasan ini menambah wacana dan membuat Anda lebih bijak dan cerdas dalam membelanjakan pendapatan yang Anda hasilkan dengan bekerja keras setiap bulannya.*

BIAS PSIKOLOGIS DAN INVESTASI




Mengembangkan sebuah perencanaan investasi termasuk langkah yang sulit, akan tetapi terus berjalan dalam perencanaan yang telah ditetapkan jauh lebih berat. Kebanyakan investor sangat dipengaruhi oleh dua faktor utama, yaitu tamak (greed) dan takut (fear). Bila pasar sedang bergejolak, investor jadi takut. Bukannya menjual pada saat harga sedang naik malah menjual saat turun.

Mereka melakukan hal tersebut karena mereka manusia dan mereka juga kurang memiliki ketetapan hati dalam melaksanakan perencanaan yang telah dibuat atau malah tidak memiliki perencanaan investasi sama sekali. Kita sering kali mengambil keputusan berdasarkan emosi semata. Hal ini bisa merusak investasi yang telah dilakukan.

Tamak (Greed)
Sifat Pertama adalah Tamak (Greed). Sering terjadi, akibat ingin buru-buru mendapatkan keuntungan besar, investor lupa untuk berpikir rasional dan bertindak berdasarkan ‘naluri’ yang ternyata lebih bersifat emosional. Misalnya, saat IHSG meningkat dari level 400-an dan untuk pertama kalinya kembali menembus ke level 700-an, banyak investor baru terangsang emosi tamaknya. Saat itu, melihat banyak rekan atau tetangga mereka mendadak bisa beli mobil baru karena investasi di saham, para investor lugu tersebut tanpa pikir panjang langsung ikutan beli saham. Sayangnya, tak lama setelah mereka beli saham, IHSG justru menurun.

Apa jadinya? Karena kurangnya pengetahuan serta pola investasi yang sesuai bukan keuntungan yang didapat, melainkan kerugian. Maunya untung malah buntung.

Investor sangat dipengaruhi oleh informasi seputar performa sebuah investasi. Keputusan untuk mendapatkan keuntungan didasari oleh performa masa lalu sebuah investasi. Seperti kita ketahui, “past performance is no guarantee of future results” . Mungkin pada masa tersebut sebuah sektor yang dipilih oleh manajer investasi memberikan keuntungan yang tinggi. Begitu Anda mulai melihat pertumbuhan dari investasi tersebut Anda baru masuk. Namun, setelah beberapa waktu, sektor tersebut mulai melemah dan malah merugi.

Ekspektasi yang berlebihan
Karena investor merasa sangat tamak, hal ini bisa mengakibatkan Anda menjadi sangat mengharapkan sesuatu diluar kebiasaan tentang risiko investasi maupun keuntungan investasi. Menabung menjadi kurang dan mengakibatkan tidak tercapai tujuan yang diinginkan karena Anda mengharapkan keuntungan invetsai yang tidak realistik. Bila harapan Anda tidak terwujud Anda harus mencari alterntif investasi lain yang mungkin saja lebih tidak realistik, dengan harapan dapat mengejar kekurangan yang selama ini terjadi.

Takut (Fear)
Saat IHSG mulai menurun (lanjutan cerita diatas), pendulum emosi para investor baru tersebut beralih dari tamak menjadi Takut (Fear). Akibatnya mereka beramai-ramai keluar dari pasar. Jadi yang mereka lakukan bukannya beli murah jual mahal, melainkan beli mahal, jual murah, alias rugi.

Timbul rasa takut dikarenakan adanya potensi kerugian. Banyak research yang mengatakan bahwa kita lebih membeci kehilangan atau kekalahan dari pada kita mencintai kemenangan. Mengikuti perkembangan portfolio atau investasi yang Anda miliki setiap saat bisa sangat membahayakan. Seperti halnya bila Anda menginvestasikan dana di saham. Bila Anda mengikuti perkembangan setiap saat, bila kecenderungan pasar lagi turun, Anda terangsang untuk menjual saham yang Anda miliki. Karena informasi yang diperoleh hampir setiap hari, seringkali sulit untuk tetap bertahan di keputusa yang telah ditetapkan sejak semula.

Dalam hal monitoring investasi yang telah Anda alokasikan dan tempatkan akan lebih baik bila Anda melihat setiap 6 bulan atau 3 bulan sekali. Hal ini bisa mungurangi keinginan Anda untuk menjual (karena perubahan sesaat) saham-saham atau investasi yang dimiliki.

Bagaimana mengatasi hal ini?
Untuk menanggulangi emosi yang menghambat investasi Anda, langkah pertama adalah dengan melakukan otomatisasi menabung (menabung dengan memotong secaraotomatis setiap bulan dari pendapatan) yang Anda lakukan sehingga tetap berjalan di perencanaan yang telah ditetapkan dan ada tiga tindakan yang sebaiknya dipertimbangkan, Dollar Cost Averaging, Rebalancing (membalance alokasi portfolio) dan Simplifiying (dibuat simpel).

Dollar cost averaging
Perencanaan keuangan keluarga merupakan perencaaan yang berkesinambungan. Dibutuhkan disiplin dan motivasi yang kuat guna mencapai tujuan yang diinginkan. Dengan keterbatasan pendapatan yang diperoleh setiap bulan, sangat dianjurkan bagi keluarga untuk memulai menyisihkan dana untuk tujuan keuangan sedini mungkin. Penempatan dan alokasi dana dilakukan secara reguler setiap bulan sesuai kesanggupan keuangan keluarga. Pola investasi ini biasa disebut dengan dollar cost averaging (DCA).

Berikut ini ilustrasi DCA untuk penempatan dana di bursa saham. Konsep DCA ada hubungannya dengan diversifikasi. Para investor di bursa saham berdiversifikasi dengan menanamkan uang tak hanya pada satu saham, tapi menyebarkannya pada banyak saham di pelbagai sektor. Gagasannya: bila satu sektor sedang lesu, mungkin sektor lain bisa mengompensasinya.

Diversifikasi seperti ini sudah lazim dan dikenal banyak orang. Masalahnya, bagaimana jika semua sektor---atau dengan perkataan lain pasar saham---kebetulan pada waktu tertentu sedang merosot? Dalam situasi ini, diversifikasi seperti itu tidak bisa berbuat banyak. Salah satu cara yang pasti ampuh untuk menghindari kerugian akibat merosotnya pasar saham adalah jangan berinvestasi di saham. Memang, dengan tidak berinvestasi di pasar saham berarti tak mengalami kerugian, tapi Anda juga tak akan mengalami keuntungan kalau pasar meroket seperti yang terjadi mulai pertengahan tahun 2003 sampai awal 2004.

Lalu, mesti bagaimana? Jangan khawatir, masih ada harapan. Ada satu jenis diversifikasi lagi yang dapat mengurangi risiko kerugian akibat kemerosotan pasar saham. Konsep yang satu ini bukan diversifikasi biasa, namanya diversifikasi waktu. Konsep aslinya sering disebut DCA.

Misalkan Anda punya uang Rp 1 miliar untuk diinvestasikan dalam bentuk saham. Berdasarkan hitungan rasio harga-pendapatan (price-earning ratio: PER) dan harga-nilai buku (price-to-book value: PBV), Anda pikir saham-saham di Bursa Efek Jakarta kini relatif murah. Kalau pasar meningkat pesat dalam tempo 1---2 tahun, return yang akan diperoleh bisa sangat besar.

Kendati begitu, dalam jangka pendek Anda masih ragu dengan naik-turunnya pasar. Ada kemungkinan pasar masih melorot sejenak sebelum tinggal landas. Kalau uang Rp 1 miliar ini diinvestasikan sekarang dan ternyata pasar merosot, bisa runyam. Sebaliknya, kalau investasi ditunda dan ternyata pasar segera menguat, Anda ketinggalan kereta dan terpaksa gigit jari. Pendeknya, baik masuk terburu-buru maupun menunggu terlalu lama sama-sama bisa membuat Anda menyesal.

Alternatif konservatif untuk menghindari penyesalan itu adalah dengan menginvestasikan uang Anda secara bertahap, misalnya Rp 100 juta tiap bulan selama 10 bulan. Sambil menunggu, uang yang belum diinvestasi bisa dititip di broker dengan bunga setingkat bunga deposito (tentu saja hal ini harus dikonfirmasi dan dinegosiasikan dengan broker Anda). Dengan cara begitu, bila pasar masih menurun Anda tak akan terlalu menyesal masuk saat pasar masih relatif tinggi. Serupa dengan itu, bila pasar mulai meningkat, Anda juga tak terlalu menyesal terlambat masuk pasar.

Manfaat lain dari DCA: dengan membeli sedikit-sedikit, order belinya tak membuat harga naik. Bayangkan bila seorang investor punya uang Rp 1 triliun yang sekaligus diinvestasikan dalam satu hari. Order beli tersebut tak akan bisa dipenuhi tanpa menyebabkan harga saham naik untuk sementara, terutama bila saham-saham yang dipesan kurang likuid (nilai transaksi normal per harinya hanya sedikit).

DCA juga berlaku bila Anda berencana menginvestasikan sebagian penghasilan Anda setiap bulan secara teratur. Untuk investasi yang relatif sedikit, Anda dianjurkan menggunakan sarana investasi reksadana. Dengan menggunakan reksadana, investasi Anda telah terdiversifikasi dalam banyak saham yang dimiliki oleh reksadana itu. Jadi, diversifikasi saham didelegasikan kepada reksadana, sementara diversifikasi waktu langsung Anda kendalikan sendiri.

Diversifikasi waktu melalui DCA memerlukan disiplin dan horison investasi jangka panjang. Dengan mengabungkan otomatisasi pemotongan dana untuk tabungan, dan pola DCA, potensi tujuan yang diinginkan dalam jangka panjang menjadi meningkat. Dalam banyak hal---termasuk investasi---tanpa perencanaan, disiplin, dan kesabaran sulit untuk mencapai hal yang Anda idam-idamkan.

Rebalancing & simplifying
Merancang ulang target alokasi porfolio yang Anda miliki sehingga sesuai dengan investasi yang telah ditetapkan disebut dengan rebalancing. Reblanacing ini bisa dengan membeli saham atau obligasi bila terjadi perubahan harga. Misalkan dari total investasi yang Anda miliki, Anda mengalokasikan 20% di saham. Karena pasar modal sedang naik, nilai total investasi di saham jadi meningkat, yng tadinya persentasinya hanya 20% menjadi 30% dari toatl investasi. Sehingga Anda befikir untuk mengubah alokasi portfolio seperti semula yaitu dengan menjual sebagai saham yang dimiliki dana dibelikan obligasi atau investasi pasar uang.

Coba untuk menjadi investasi yang Anda lakukan semudah dan sisimpel mungkin. Hindari investasi yang mengharuskan Anda untuk emngambil terlalu banyak keputusan. Tempatkan investasi dalam bentuk reksadana karena produk ini banyak memberikan keunggulan seperti ases ke berbagai instrumen investasi, tingkat likuiditas yang tinggi, dikelola oleh manajer investasi profesional dan lain-lain.

Demikianlah penjelasn kami seputar emosi dalam pengambilan keputusan investasi. Kenali berbagai emosi yang mempengaruhi pengambilan keputusan dalam berinvestasi dan coba untuk emgatasinya dengan menetapkan perencanaan dan melakukan ketiga tindakan dalam jangka panjang. Hal ini akan meningkatkan potensi pencapaian tujuan yang selama ini diidamkan.*

MENGELOLA KEUANGAN KELUARGA



Uang seringkali menjadi penyebab terjadinya perceraian. Perselisihan mengenai keuangan bisa saja terjadi disaat uang melimpah maupun disaat kekurangan uang. Masyarakat Indonesia merasa risih bila harus membicarakan masalah keuangan dalam keluarga. Oleh karena itu kami merasa perlu untuk terus menyerukan kepada semua kalangan masyarakat terutama pasangan suami istri untuk belajar saling terbuka mengenai keuangannya masing-masing. Kami sangat percaya bahwa setiap orang memiliki pandangan mengenai uang yang berbeda-beda karena suami atau istri dibesarkan di lingkungan yang berbeda. Kegagalan dalam membicarakan soal uang di dalam keluarga berpotensi menimbulkan permasalahan.

Banyak orang merasa bahwa membicarakan keuangan dalam keluarga adalah tabu. Namun menurut hemat kami, hal ini malah seharusnya dibicarakan. Kalangan ini pernah berpikir, Apakah dengan membiarkan persoalan keuangan dalam keluarga belarut-larut akan menyelesaikan segalanya? Atau bisa menjadi bola salju yang terus membesar? Persoalan kecil bisa menjadi besar bila tidak diatasi dan diselesaikan dengan bijak. Oleh karena itu dalam hal keuangan keluarga sangat dibutuhkan sebuah pola pengelolaan dimana masing-masing individu di dalam keluarga (suami dan istri) memiliki hak dan kewajibannya masing-masing. Dengan pembagian tanggung jawab serta diskusi yang mendalam dapat meringankan persoalan yang mungkin timbul di masa depan.

Berikut ini ada tiga tipe pengelolaan yang bisa Anda pilih sesuai dengan keinginan Anda bersama pasangan Anda. Tentunya masih banyak lagi pola pengelolaan yang ada. Hal terpenting disini adalah saling keterbukaan serta menjalani kehidupan keluarga dengan tanggung jawab bersama.

1. Uang bersama dan Sistem Amplop
Penghasilan suami istri langsung digabung bersama. Setelah itu, gabungan kedua pendapatan langsung dialokasikan ke pos-pos pengeluaran rutin yang telah dihitung lebih dulu. Lazimnya, setiap pos diwakili oleh satu amplop. Pos-pos pengeluaran itu, pada beberapa keluarga, bukan saja kebutuhan rumah tangga makan minum, dan listrik saja, tapi juga termasuk membayar kredit rumah, cicilan mobil, listrik, telepon, uang sekolah anak, asuransi dan kebutuhan mobil (bensin, servis berkala, kerusakan, dan lain-lain). Bahkan tabungan, pengeluaran pribadi ayah-ibu dan liburan pun jadi amplop tersendiri. Bila ada sisa, dimasukkan ke dalam tabungan suami atau istri, atau khusus membuka lagi account bersama di bank untuk ‘menampung’ sisa amplop setiap bulannya.

2. Membagi Berdasar Persentase
Bentuk manajemen ini adalah membagi tanggung jawab dalam bentuk jumlah atau persentase Seluruh kebutuhan keluarga setiap bulan dihitung termasuk pos darurat dan pos tabungan. Masing-masing sepakat menyumbang sebesar jumlah tertentu untuk menutupi kebutuhan tersebut. Sisanya digunakan sebagai tabungan pribadi untuk kebutuhan pribadi. Misalnya, istri membeli parfum, lipstik, atau baju. Bisa juga tanpa menghitung kebutuhan keluarga terlebih dahulu, suami-istri memberi kontribusi yang sama berdasarkan prosentase. Misalnya 80:20. Artinya, masing-masing "menyetor" 80 persen dari gajinya. Sisa 20 persen disimpan untuk diri sendiri. Jika bisa berhemat, dari uang bersama yang 80 persen, bisa tersisa untuk tabungan keluarga, di samping suami dan istri juga masing-masing punya tabungan pribadi.

3. Membagi Tanggung Jawab
Misalnya, suami mengeluarkan biaya untuk urusan "berat", seperti membayar kredit rumah, cicilan mobil, listrik, telepon, uang sekolah anak, kebutuhan mobil, dan asuransi. Sementara bagian istri adalah belanja logistik bulanan, pernak-pernik rumah, jajan, dan liburan akhir pekan dan pos tabungan. Dilihat dari jumlahnya, suami menanggung lebih banyak dana. Tapi istri juga punya peranan dalam kontribusi dana rumah tangga. Kalau ternyata istri yang memiliki pendapatan lebih besar, tentunya hal ini juga bisa dilakukan sebaliknya.

Mana yang terbaik? Hal ini sangat dipengaruhi oleh kebiasaan dan tentunya kesepakatan antara suami dan istri. Diskusikan hal ini dengan pasangan masing-masing, agar persoalan keuangan keluarga bukan lagi menjadi masalah dalam keluarga.

Kalau istri tidak bekerja? Bagaimana?
Ketiga contoh diatas merupakan pola alokasi dari pendapatan suami dan istri. Dimana suami dan istri bekerja dan menghasilkan pendapatan secara regular setiap bulannya. Bagaimana pula bila hanya suami atau istri yang bekerja? Sedangkan pasangan yang lainnya tinggal di rumah?

Bila hal ini yang menjadi pola keuangan di keluarga Anda tentunya akan sangat baik bila Anda dan pasangan Anda membicarakan tugas serta tanggung jawab masing-masing. Mungkin Anda sebagai suami karena bekerja yang berusaha memenuhi semua kebutuhan keluarga. Sedangkan istri yang tinggal di rumah bertanggung jawab dalam hal rumah tangga, mulai dari persoalan belanja regular bulanan sampai alokasi tabungan (dari pendapatan suami) untuk berbagai macam tujuan keuangan keluarga yang dimiliki. Dalam hal ini istri harusnya seperti manejer dalam sebuah perusahaan.

Dengan membagi tanggung jawab bersama, suami tidak lagi merasa lebih dibandingkan istri. Karena kedua individu dalam keluarga tersebut memiliki tanggung jawab masing-masing. Untuk itulah keterbukaan dan diskusi mengenai keuangan menjadi sangat dibutuhkan.

Tiga hal penting dalam mengelola keuangan bersama
Pertama, pembagian kerja sangatlah dibutuhkan dalam hal mengatur keuangan. Contoh singkatnya, siapa yang membayar semua kebutuhan sehari-hari rumah tangga. Misalkan Anda sebagai istri yang harus membayarnya maka suami dalam hal ini harus mentransfer dana yang cukup setiap bulannya untuk memenuhi semua kebutuhan keuangan keluarga.

Bila Anda memutuskan untuk mendelegasikan satu orang untuk membayar semua tagihan bulanan keluarga maka hal penting yang harus diperhatikan adalah kejujuran. Dimana Anda berdua haruslah terbuka satu dengan yang lain berkenaan dengan permasalahan uang. Jangan sampai bila Anda menggunakan rekening bersama dan salah satu dari Anda mengambil dana dalam jumlah besar dan tidak mengatakan kepada pasagan Anda. Begitu pasangan Anda membutuhkan untuk hal yang sangat penting ternyata dan yang tersedia tidak mencukupi.

Kedua, pengeluaran yang disepakati menjadi sangat vital. Anda berdua harus mencapai kata sepakat dalam merencanakan pengeluaran. Hal ini biasanya berkaitan dengan pengeluaran yang tidak tetap, misalkan keputusan untuk mengganti mobil dengan yang baru setelah beberapa tahun? Atau apa yang Anda berdua pikirkan berkenaan dengan liburan? Sebagai kesimpulan, Anda harus membicarakan dan bersepakat dalam kebutuhan yang harus dipenuhi, apa yang menjadi keinginan bersama dan apa yang dapat Anda penuhi.

Hal terakhir yang menjadi sangat penting adalah menabung. Dalam hal ini visi kedepan menjadi sangat penting. Dimana dengan tujuan yang Anda dan pasangan tentukan akan memberikan motivasi serta pemilihan strategi yang dapat membantu Anda mencapai tujuan masa depan yang dimiliki. Dengan begitu Anda juga akan melihat pentingnya pengalokasian dana saat ini dan dimulai saat ini juga.

Demikianlah ulasan singkat seputar uang dalam kaitannya dengan hubungan suami istri di dalam keluarga. Semoga memberikan masukan dan tambahan ilmu bagi Anda.

* Muhamad Ichsan, ChFC, MsFin, adalah parkitisi dan akademisi di bidang perencanaan keuangan. Ia adalah Managing Partner pada PrimaPlanner dan Direktur Program IFPI, serta mengajar di Ubinus dan STAN. Ichsan dapat dihubungi melalui email: ichsan02@yahoo.com

MANAJER KEUANGAN KELUARGA



Banyak orang beranggapan bahwa Manajemen keuangan keluarga merupakan salah satu bidang yang rumit. Sebenarnya manajemen keuangan keluarga tidaklah rumit seperti yang dibayangkan banyak orang khususnya ibu-ibu. Untuk menjadi manajer keuangan keluarga yang cerdas dan bijak Anda tidak harus menjadi seorang ahli keuangan.

Manajemen keuangan keluarga memang membutuhkan pengetahuan dan kearifan dalam menjalankannya. Kebanyakan orang yang merasa terintimidasi dengan masalah ini, malah mengabaikannya. Persoalaan ini harusnya menjadi prioritas keluarga karena banyak sekali masalah timbul karena kurang bijaknya manajer keuangan keluarga dalam mengelola dan mengatur keuangannya. Sebagai seorang manajer keuangan keluarga, ada beberapa aspek yang menurut hemat kami perlu ditangani yaitu:

„Ã Membuat dan meninjau secara perisodik prioritas keuangan keluarga.
„Ã Mengelola pendapatan yang terbatas secara bijak.
„Ã Menghitung kebutuhan proteksi serta menginvestasikan dana dalam bentuk investasi yang sesuai.
„Ã Menentukan sebuah rencana pensiun.
„Ã Mempersiapkan dana pendidikan untuk anak-anak.
„Ã Membeli mobil dengan bijak.
„Ã Belanja dengan bijak.
„Ã Mengajarkan anak-anak mengenai keuangan.

Ini merupakan hal-hal dasar yang sebaiknya dipikirkan dan direncanakan oleh keluarga melalui seorang manajer keuangan keluarga, bisa ibu atau bapak atau keduanya. Keuangan keluarga pasti akan dihadapi dengan berbagai hambatan baik kecil maupun besar. Bisa jadi hambatan ini mengakibatkan krisis keuangan. Bila Anda berada dalam posisi ini, tidak ada untungnya Anda mengatakan bahwa kalau saja saya tau lebih dulu bagaimana belanja secara bijak atau mempunyai anggaran belanja keluarga atau menjalankan kehidupan keuangan keluarga berdasarkan prioritas-prioritas yang telah disepakati maka tentunya kita akan terhindar dari kehancuran keuangan keluarga. Cobalah untuk merencanakan bagaimana keluar dari masalah dan dapat terus menjalani kehidupan keluarga secara sejahtera.

Tiga langkah yang dibutuhkan
Untuk dapat menjalankan roda kehidupan keluarga secara bijak kami melihat pentingnya bagi sebuah keluarga untuk menjalankan tiga langkah berikut ini: pertama adalah mengidentifikasi dan menetapkan prioritas keuangan keluarga. Kedua, memikirkan dan mengembangkan sebuah rencana pencapaian dan ketiga mengembangkan prosedur pelaksanaan perencanaan yang telah dibuat.

Mengidentifikasi dan menetapkan prioritas keuangan
Menentukan prioritas keuangan secara spesifik merupakan langkah awal dalam sebuah menajemen keuangan keluarga. Menentukan prioritas keuangan keluarga yang sesuai dengan keinginan masing-masing anggota keluarga membutuhkan perbincangan yang dalam. Dibutuhkan keterbukaan serta kesepakatan anggota keluarga khususnya ibu dan bapak yang akan membawa atau memimpin keluarga.

Tujuan keuangan keluarga harus dinyatakana dalam nilai yang terukur serta jangka waktu pencapaiannya. Misalkan, Anda meneginginkan untuk dapat hidup berkecukupan di masa tua nanti. Itu merupakan tujuan tapi belum spesifik masih dibutuhkan suatu nilai yang dapat Anda tuju dimasa depan, misalkan saja Anda membutuhkan dana Rp.1 milyar untuk dapat hidup layak di masa tua nanti. Jadi tujuan keuangan yang benar adalah pensiun di usia 55 tahun dengan dana yang harus dimiliki adalah 1 milyar rupiah.

Satu hal yang juga penting dalam menentukan tujuan keuangan keluarga adalah realistik. Jangan Anda menentukan tujuan keuangan yang tidak realistik dengan keadaan keuangan Anda sekarang. Jadi hal ini bukanlah sebuah impian yang tidak mungkin dicapai seperti halnya kodok merindukan bulan. Tapi merupakan tujuan yang secara sadar dapat Anda capai melalui pelaksanaan yang berkesinambungan. Mengapa hal ini sangat penting, karena tujuan keuangan merupakan pondasi sebuah perencanaan keuangan keluarga. Menentukan tujuan keuangan diluar kemampuan malah akan menjadi bumerang bagi Anda dimasa depan. Hal ini dapat saja membuat Anda malah tidak melakukan perencanaan sama sekali.

Memikirkan dan mengembangkan sebuah rencana pencapaian
Saat Anda telah menetapkan prioritas tujuan keuangan keluarga maka Anda memerlukan sebuah stratetgi atau perencanaan yang harus dilakukan agar prioritas tersebut tercapai. Karena kondisi dan situasi keuangan setiap keluarga berbeda maka kami mencoba memberikan gambaran umum seputar hal-hal yang sebaikanya dialakukan dalam melihat strategi atau perencanaan keuangan keluarga.

1. Anda perlu sebuah anggaran belanja. Penganggaran merupakan salah satu bagian terpenting dalam mengelola keuangan keluarga. Dengan anggaran belanja akan membantu Anda mengenali kemungkinan masalah-masalah yang akan timbul dalam pola pengeluaran. Dengan begitu Anda dapat mencari cara-cara mengatasi maslaah tersebut.

2. Miliki sebuah perencanaan menabung. Bila Anda belum mengatuhi mengenai beberapa hal seputar investasi. Cari informasi sebanyak-banyak. Dalam mulailah menabung. Selama ini kita mengenal pola menabung hanya dari sisa belanja bulanan. Ah itu mah kuno. Sekarang alokasi menabung harus masuk sebagai pengeluaran yang harus didahulukan. Karena kalau menunggu sisa, seringkali tidak ada sisanya di akhir bulan.

3. Bijak mengambil hutang. Menurut hemat kami, paling tidak ada tiga (3) petunjuk dasar yang Anda butuhkan dalam mempertimbangkan pinjaman yang akan Anda ambil. (1) Jangan pernah meminjam lebih besar dari kemampuan keuangan Anda. (2) Jangan pernah untuk meminjam untuk kebutuhan barang-barang mewah, seperti mobil mewah, perhiasan, bila dengan hal itu Anda tidak dapat meminjam untuk kebutuhan keluarga seperti, pinjaman kredit rumah atau pinjaman pribadi untuk biaya sekolah anak Anda. (3) Pastikan bahwa Anda masih menyisakan kapasitas dalam meminjam untuk kebutuhan-kebutuhan yang tidak terduga.

4. Alokasikan dana untuk mencapai prioritas tujuan keuangan yang dimiliki. Setiap keluarga pasti memiliki tujuan yang berbeda. Berdasarkan prioirtas tujuan tersebut alokasikan dana untuk menacapinya. Contoh dari tujuan keuangan keluarga seperti menyiapkan dnaa pendidikan anak, masa pensiun dan lain-lain.

Mengembangkan prosedur pelaksanaan perencanaan
Bekerja sebagai sebuah tim (keluarga) dalam menajeman keuangan keluarga dapat mengurangi atau menangkis sumber permasalahan dan kesalahpahaman. Walaupun penetapan tujuan serta pengembangan perencanaan telah dilakukan, kita harus memutuskan siapa yang melaksanakan rencana¡Xatau apa yang menjadi prosedur pelaksaan perencanaan yang telah disepakati bersama.

Mungkin Anda bisa membagi tanggung jawab. Misalkan Anda berdua bekerja (suami dan istri), Anda dapat membagi siapa yang bertanggung jawab terhadap tagihan-tagihan yang ada. Misalkan Anda sebagai istri lebih memprioritaskan untuk memenuhi anggaran belanja bulanan. Sedangkan suami Anda bertanggung jawab untuk biaya listrik, telp, tabungan pendidikan, pensiun dan lain-lain.

Yang terpenting dalam hal ini adalah kesepakatan bersama. Mana prosedur pelaksanaan yang Anda tentukan adalah yang memang sesuai dengan kondisi Anda keluarga Anda. Rencanakan hidup Anda dan Hidupkan rencana Anda.

* Muhamad Ichsan, ChFC, MsFin, adalah parkitisi dan akademisi di bidang perencanaan keuangan. Ia adalah Managing Partner pada PrimaPlanner dan Direktur Program IFPI, serta mengajar di Ubinus dan STAN. Ichsan dapat dihubungi melalui email: ichsan02@yahoo.com

DIVERSIFIKASI PORTOFOLIO BAGI KELUARGA




Mengapa diversifikasi merupakan kunci emas dalam berinvestasi? Diversifikasi bertujuan untuk mengurangi tingkat risiko dan tetap memberikan potensi tingkat keuntungan yang cukup. Apa itu diversifikasi? Diversifikasi adalah sebuah strategi investasi dengan menempatkan dana dalam berbagai instrumen investasi dengan tingkat risiko dan potensi keuntungan yang berbeda, atau strategi ini biasa disebut dengan alokasi aset (asset allocation). Alokasi aset ini lebih fokus terhadap penempatan dana di berbagai instrumen investasi. Bukan menfokuskan terhadap pilihan saham dalam portofolio. Dari hasil studi, perbedaan performa lebih banyak dikarenakan oleh alokasi aset (asset allocation) bukannya pilihan investasi (investment selection).

Sebagai contoh, bila Anda memiliki dana sebesar Rp250 juta dan menempatkan seluruh dana dalam instrumen deposito yang memberikan bunga sebesar 7%, selama 25 tahun, maka dana tersebut akan berkembang menjadi sekitar Rp1,35 miliar. Namun di lain sisi, katakanlah bahwa Anda membagi dana sebesar Rp250 juta tersebut dalam 5 bagian seperti berikut ini:

1. Anda menggunakan Rp50 juta pertama untuk membeli undian. Seperti orang lain, yang juga membeli undian, Anda kehilangan semua dana tersebut. Setelah 25 tahun, dana sebesar Rp50 juta menjadi “nol”.

2. Bagian kedua, Anda menempatkan Rp50 juta di bawah bantal Anda. Setelah 25 tahun, nilainya tetap Rp50 juta.

3. Bagian ketiga, Anda membuka tabungan dengan bunga sebesar 5% sebesar Rp50 juta. Setelah 25 tahun dana tersebut berkembang menjadi sekitar Rp169 juta.

4. Bagian keempat, Anda menempatkan Rp50 juta di deposito dengan tingkat suku bunga 7%, di mana akan bertumbuh menjadi Rp271 juta setelah 25 tahun.

5. Di bagian terakhir, Anda menempatkan Rp50 juta sisanya di saham, dan memberikan tingkat keuntungan sebesar 14% selama 25 tahun, sehingga dana tersebut berkembang menjadi Rp1,32 miliar.

Jadi total dana yang ditempatkn pada 5 alternatif investasi menjadi sekitar Rp1,81 miliar. Penempatan kedua memberikan dana lebih sebesar sekitar Rp460 juta dibandingkan bila Anda menempatkan semua dana di deposito—walau Anda kehilangan semua investasi dalam bagian pertama dan tidak berkembang pada bagian kedua, menempatkan di tabungan pada bagian ketiga dan deposito pada bagian keempat dan mengambil risiko pada bagian kelima dengan menginvestasikan di saham. Mengapa hal ini mungkin terjadi?

Hasil ini dimungkinkan karena adanya strategi diversifikasi. Pengertian dasar dari strategi ini adalah mengidentifikasi bahwa kerugian maksimum dari investasi terbatas hanya dari dana yang ditempatkan, namun demikian keuntungan maksimumnya tidak terbatas. Dari contoh di atas, tentunya instrumen investasi yang dipilih tidak berupa lotere atau undian atau Anda menyimpannya di bawah bantal tapi bisa dialokasikan ke instrumen pasar uang, obligasi, saham, properti, emas, dan lain-lain.

Strategi lain untuk memperoleh manfaat diversifikasi adalah dengan menempatkan dana dalam reksadana. Reksadana sesuai dengan Undang-undang Pasar Modal no. 8 tahun 1995, pasal 1 ayat 27 adalah suatu wadah yang dipergunakan untuk menghimpun dana dari masyarakat pemodal untuk selanjutnya diinvestasikan dalam portofolio efek oleh Manager Investasi yang telah mendapat ijin dari Bapepam. Portofolio investasi dari Reksadana dapat terdiri dari berbagai macam instrumen surat berharga seperti saham, obligasi, instrumen pasar uang, atau campuran dari instrumen-instrumen di atas. Dengan memilikinya, investasi Anda sudah tersebar di berbagai instrumen investasi yang tersedia.

Satu portofolio vs. banyak portofolio
Setiap keluarga pasti memiliki banyak tujuan berbeda, dari membeli rumah sampai menyiapkan biaya pendidikan untuk anak-anak, tentunya Anda akan tergiur untuk mempertimbangkan memiliki portofolio investasi untuk masing-masing prioritas tujuan. Namun dengan memiliki banyak portofolio, kita membagi satu bagian menjadi misalkan 4 tujuan, dengan masing-masing portofolio memiliki 3 instrumen investasi. Sehingga Anda membagi satu bagian menjadi 12 bagian yang lebih kecil.

Dengan memiliki banyak portofolio, yang ditujukan untuk prioritas tujuan yang berbeda, akan banyak memakan waktu untuk mengorganisasikannya dan apalagi bila Anda harus meninjau dan merevisinya bila dibutuhkan. Dua hal negatif dalam memiliki banyak portofolio untuk berbagai macam prioritas tujuan yang dimiliki adalah biaya dan waktu.

• Biaya. Memiliki setiap instrumen investasi pasti mengandung biaya, baik fee manajemen, biaya pembelian, penjualan dan pengalihan untuk reksadana dan biaya transaksi untuk jual beli saham. Dengan memiliki banyak portofolio, maka Anda akan terus dibebankan dengan biaya yang sama untuk masing-masing instrumen. Bila Anda memiliki 5 Reksadana dengan jenis yang sama maka Anda akan terbebani dengan 5 kali biaya pembelian, penjualan atau pengalihan bila Anda bertransaksi.

• Waktu. Mengelola uang Anda membutuhkan waktu. Bila Anda secara aktif mengikuti perkembangan portofolio Anda, maka sangat mungkin Anda akan menghabiskan 10 jam sebulan (atau malah lebih) untuk menganalisa apa yang Anda miliki, bagaimana performanya dan bagaimana Anda dapat lebih mengoptimalkan. Itu hanya untuk satu portofolio. Bayangkan bila Anda memiliki 5 priortitas tujuan dengan masing-masing portofolionya, berapa waktu yang harus Anda habiskan?

Coba pikirkan bahwa dana yang Anda investasikan merupakan satu investasi atau portofolio keluarga. Satu portofolio untuk berbagai prioritas tujuan, dari menyiapkan biaya pendidikan untuk anak-anak sampai persiapan masa pensiun. Bagaimana dengan perbedaan jangka waktu prioritas tujuan? Yang harus dimengerti di sini adalah, Anda tetap menempatkan dana untuk tujuan jangka pendek dalam instrumen investasi jangka pendek dan alokasi dana untuk prioritas tujuan jangka panjang bisa dalam isntrumen saham. Kesemua aset yang Anda miliki masuk dalam portofolio Anda, termasuk di dalamnya rumah yang Anda miliki, dana tunai dan tidak termasuk di dalamnya emergency fund atau dana darurat.

Sebagai contoh portofolio keluarga adalah sebagai berikut, dalam persiapan menyambut masa pensiun Anda mengalokasikan 100% dalam saham atau sebesar Rp500 juta. Dengan dana tunai yang dimiliki sebesar Rp50 juta, maka portofolio keluarga berubah menjadi 91% di saham dan 9% dalam bentuk tunai. Tujuan prioritas lain yang Anda miliki adalah menyiapkan dana pendidikan untuk anak Anda. Saat ini investasi dalam instrumen obligasi sebesar Rp120 juta dan Rp60 juta dalam saham. Sehingga bila dilihat portofolio keluarga A berubah menjadi 7% dalam bentuk tunai, 16% dalam obligasi dan 77% dalam bentu saham (Rp500 juta + Rp60 juta). Cobalah untuk melihat investasi yang Anda alokasikan seperti contoh di atas. Tanpa Anda sadari ternyata Anda sudah mulai melakukan diversifikasi.

Satu-satunya investasi terbaik
Investasi merupakan sarana terpenting dalam meningkatkan kemampuan Anda untuk mengumpulkan dan menjaga kekayaan. Sangat penting bagi Anda untuk memahami bahwa “no single investemnt is right for everyone” . Berbagai batasan seperti kebutuhan akan uang tunai, tujuan dan prilaku serta preferensi Anda terhadap risiko, membuat setiap individu memilih investasi yang berbeda-beda. Menentukan investasi yang tepat membutuhkan sebuah perencanaan yang sesuai.

Hasil pooling yang dilakukan oleh majalah Business Week sejak tahun 1989, investasi paling diminati adalah properti. Sekitar 25-40% koresponden menyatakan hal tersebut. Reksadana masuk menjadi no.2 tapi setelah tahun 1990-an. Dan saham menjadi no.3 dimana didapat di akhir tahun 1990-an.

Apa arti dari angka tersebut? Orang menginvestasikan dananya pada suatu instrumen yang dikenalnya dan satu hal yang mereka pikir bahwa mereka mengetahui investasi tersebut adalah properti. Investasi dalam properti merupakan salah satu investasi yang membutuhkan dana besar dan secara historis selalu dapat mengimbangi tingkat inflasi. Apakah properti merupakan sarana investasi terbaik? Mungkin ya, mungkin tidak. Hal ini sangat bergantung dengan banyak aspek seperti penjelasan di atas, antara lain kebutuhan akan uang tunai, prioritas tujuan dan preferensi Anda terhadap risiko.

Revisi portfolio keluarga
Setelah Anda mengembangkan sebuah portofolio keluarga, apakah sebaiknya selalu ditinjau ulang dan direvisi bila dibutuhkan? Tentu saja dalam hal ini langkah tinjau ulang merupakan langkah yang seharusnya dilakukan. Karena kehidupan keluarga selalu berubah baik perubahan dari segi tujuan maupun kenaikan atau perubahan instrumen investasi dalam portofolio keluarga. Dalam hal ini kami ajukan beberapa langkah yang dapat dilakukan:

1. Mulailah dengan portofolio keluarga awal tahun atau perencanaan. Sebagai contoh, awal portofolio keluarga 20% pasar uang, 50% obligasi dan 30% saham.

2. cobalah untuk meninjau ulang portofolio keluarga dari waktu ke waktu. Satu tahun berlalu, karena perkembangan saham yang cukup baik, portofolio keluarga asal berubah persentasinya menjadi 15% pasar uang, 35% obligasi dan 50% saham.

3. Bila memang dibutuhkan, Anda bisa merevisi portofolio keluarga yang dimiliki. Sebaiknya Anda menentukan apakah portofolio keluarga yang baru tetap sesuai dengan prioritas tujuan, keadaan Anda dan tentunya toleransi risiko Anda. Dengan pertumbuhan saham yang tinggi, mengakibatkan persentase portofolio menjadi berubah di mana yang tadinya saham hanya 30% berkembang menjadi 50%. Sebaliknya persentase obligasi menurun dari 50% menjadi 35%. Ini mungkin kurang tepat bila Anda mengharapkan pendapatan reguler dari investasi Anda daripada pertumbuhan. Mengubah atau rebalancing portofolio keluarga dapat dilakukan dengan menjual sebagian dari saham dan membeli obligasi. Hal ini dilakukan untuk kembali pada pola portofolio perencanaan awal yang sesuai dengan kebutuhan dan prioritas tujuan.

Demikianlah beberapa hal yang berkaitan dengan alokasi aset dana yang Anda tempatkan untuk berbagai prioritas tujuan keuangan, sebaiknya digabung menjadi satu portofolio keluarga. Sesuaikan instrumen investasi dengan prioritas tujuan dan tentunya toleransi risiko Anda. Bila terjadi perubahan, dan kami sangat yakin akan berubah, maka ada baiknya bila Anda secara berkala merebalancing portofolio keluarga agar tetap sesuai dengan kondisi, prioritas tujuan dan toleransi Anda terhadap risiko. Semoga bermanfaat.*

*M. Ichsan dapat dihubungi melalui email: ichsan02@yahoo.com

RISIKO KEHILANGAN PENDAPATAN



Risiko biasa dibicarakan sebagai sebuah penyimpangan keuntungan dalam sebuah portofolio. Namun, ada risiko yang sebenarnya bisa merusak keuangan (kekayaan) anda lebih dari penurunan harga saham. Hidup diluar kemampuan dan tidak menjaga pendapatan anda, harus dibayar lebih mahal daripada bila anda melakukan alokasi aset yang kurang sesuai.

Ada sepasang suami istri, sebut saja keluarga Badru. Saat ini pa’ Badru memiliki dua orang yang sehat dan pintar. Istri pa’ badru sering kali mengeluhkan tentang masalah keuangannya, khusunya deficit bulanan yang sering kali terjadi. Bagaimana mungkin mereka dapat menabung bila pendapatan pun tidak tersisi setiap akhir bulan. Dengan dua orang anak, memang sulit untuk dapat memenuhi semua kebutuhan apalagi menabung. Saat ini penghasilan pa’ Badru bisa dibilang cukup besar dengan pendapatan Rp.120 juta setiap tahun. Ditambah lagi, rumah yang mereka tempati saat ini sudah lunas atau mungkin hanya tinggal sedikit saldo hutang yang masih tersisa.

Namun disis lain, ternyata pa’ Badru merupakan seorang yang royal dan mudah sekali membeli sesuatu dengan kartu kredit. Tanpa terasa, tagihan kartu yang tadinya sedikit membengkak menjadi sangat besar karena kebiasaan membayar tagihan minimum setiap bulannya. Walau mereka memiliki hutang yang cukup besar mereka tetap bisa berlibur ke Bali bersama keluarga. mengapa? Karena pendapatan pa’ badru masih dapat menutupi semua kebutuhan pembayaran tagihan kartu kredit. Namun, bagaimana dampaknya dalam jangka panjang? Bila mereka tetap menjalankan kebiasaan ini, sangat mungkin keuangan keluarga yang tadinya aman tentram bisa porak poranda.

Risiko keuangan keluarga yang sebenarnya
Bila Anda pernah membaca textbook ekonomi atau keuangan, mungkin Anda akan mendapati banyak pembahasan mengenai risiko; seperti risiko nilai tukar, risiko kredit, risiko sistematik dan masih banyak lagi. Kebanyakan dari risiko ini berkaitan dengan investasi yang menyatakan volatilitas dari hasil investasi atau penurunan nilai investasi sebelum anda sempat menjualnya.

Namun demikian, ada risiko yang berdampak lebih kejam terhadap kehidupan keuangan anda dan keluarga dibanding dengan kerugian investasi sebesar 25%. Dari contoh cerita singkat diatas, keluarga pa’ Badru adalah orang yang baik dan ramah. Mereka tetap konsisten untuk menyisihkan 10% dari pendapatan mereka untuk masa pensiun nanti. Namun, dengan tingkat hutang yang semakin tinggi, akan sangat mungkin hal ini berdampak siknifikan terhadap keuangan mereka di masa datang. Apalgi bila risiko yang satu ini menimpa mereka.

Risiko kehilangan pendapatan
Seperti ulasan diatas, kebanyak pembahasan risiko selalu berkaitan dengan investasi. Akan tetapi, sebelum anda memulai investasi, tentunya anda harus memiliki pendapatan dulu. Dan dari pendapatan ini yang anda alokasikan untuk investasi. Betul tidak? Namun, jarang sekali anda mendengar tentang risiko kehilangan pendapatan ini. Dalam kondisi seperti saat ini, sangat mungkin terjadi dimana pendapatan regular yang anda terima setiap bulan ternyata terputus akibat PHK.

Inilah sebenarnya yang harus lebh diutamakan oleh pa’ badru, risiko kehilangan pendapatan. Mereka sering mengeluhkan tentang kurangnya pendapatan bulanan untuk memenuhi kebutuhan namun mereka tetap bisa berlibur ke Bali sekeluarga. Tentunya saat ini, pa’ Badru masih dapat memenuhi semua kebutuhan pembayar sisilan bulanan. Bagaimana bila pendapatan yang setiap bulan diperoleh ternyata tidak ada lagi? Bagaimana mereka dapat memenuhi semua kebutuhan keluarga?

Kehilangan pendapatan regular bisa mengakibatkan perubahan keadaan keuangan yang tadinya aman dan tentram berubah menjadi berantakan. Risiko kehidupan seperti kematian dan PHK dapat berdampak buruk terhadap keuangan keluarga bila anda tidak menjaga dan merencanakannya dengan bijak.

Oleh sebab itu, kami sangat menganjurkan agar Anda mempersiapkan atau merencanakan dua hal penting yang dibutuhkan dalam proteksi keuangan keluarga.

1. Emergency fund, sering kali dilupanakan. Dana ini dapat dimanfaatkan bila terjadi keadaan yang darurat. Namun kebutuhan dana ini hanya untuk jangka waktu yang pendek, seperti pemutusan hubungan kerja. Dengan terjadinya risiko ini, maka pemasukan regular keluarga terputus. Dana tunai yang tersedia di dalam emergency fund ini dapat dipakai sebagai kebutuhan ini. Sekali lagi ingat, dana ini hanya untuk jangka pendek. Harapannya adalah Anda mendapatkan pekerjaan kembali. Dana ini juga bia digunakan untuk hal lain seperti adanya kesempatan investasi yang menurut Anda menguntungkan dan memberikan ekspektasi keuntungan yang besar. Karena kesempatan langka tidak datang dua kali. Dengan adanya dana ini, mengurangi keharusan untuk menjual aset dengan potongan besar guna menutupi risiko tersebut. Para profesional keuangan keluarga selalu menganjurkan untuk menyediakan dana sebesar paling tidak 6 kali biaya hidup bulanan. Bahwa dana ini harus tunai tidak berarti harus ditempatkan di tabungan. Yang terpenting adalah dana ini dapat mudah dicairkan dan tidak mengurangi nilainya. Contoh alternatif investasi yang likuid adalah Reksa dana pasar uang atau deposito.

2. Asuransi jiwa seharusnya menjadi salah satu faktor dalam perencanaan keuangan keluarga. Memenuhi kebutuhan asuransi jiwa akan menjaga keluarga Anda dari petaka keuangan bila terjadi risiko kematian pada tulang punggung keuangan keluarga (sumber pendapatan terbesar). Nilai tunai yang diberikan perusahaan asuransi saat terjadi risiko bisa dipergunakan keluarga untuk berbagai hal, dari kebutuhan akan biaya rumah sakit dan biaya penguburan dan tentunya nilai tunai yang diperoleh juga membantu keluarga Anda untuk dapat mempertahankan gaya hidup, membayar hutang yang masih ada atau menyediakan biaya pendidikan untuk anak-anak. Dengan semua ini, sebaiknya dilakukan agar risiko keuangan keluarga dapat diminimalisasi kerugiannya, walau tidak dapat mengganti rasa sedih akan kehilangan orang tercinta.

Berkaitan dengan kebutuhan dana darurat yang dialokasikan dalam investasi yang likuid. Kebutuhan akan dana darurat mengharuskan anda menempatkan pada instrument jangka pendek yang mudah dicairkan. Kemudian timbul pertanyaan: adakah alokasi lain untuk kebutuhan jangka pendek dalam keuangan keluarga yang menyeluruh? Tentu saja ada. Untuk menjelaskan hal ini maka kami coba mengajukan sebuah pembagian yang dapat dianalogikan dengan kue tart tiga tingkat atau lapisan.

Tiga lapis investasi keluarga Lapisan yang paling bawah adalah investasi untuk tujuan jangka panjang. Hal ini dilakukan untuk berbagai tujuan keuangan jangka panjang yang dimiliki keluarga dimana mencakup jangka waktu lebih dari 7 tahun, seperti biaya pendidikan anak dan persiapan masa pensiun. Idealnya, investasi lapis ini menjadi bagian terbesar dari total investasi yang anda lakukan dalam jangka panjang. Biasanya dengan perspektif jangka panjang, sarana investasi saham atau reksadana saham bisa menjadi alternatif. Investasi jangka panjang berada pada lapisan yang terbawah, yang membuatnya menjadi alternatif terakhir bila ingin dicairkan.

Investasi jangka menengah masuk dalam lapis kedua. Ini merupakan dana yang anda tempatkan untuk berbagai tujuan keuangan kurang dari 7 tahun. Banyak kebutuhan yang dialokasikan dalam lapis ini seperti untuk tujuan persiapan uang muka pembelian rumah, pembelian mobil baru, berlibur dan masih banyak lagi. Biasanya untuk kebutuhan jangka menengah sarana investasi reksadana pendapatan tetap bisa menjadi alterntif. Akses dana ini lebih mudah dibandingkan dengan investasi lapis pertama.

Bagian teratas dari investasi anda adalah persiapan untuk dana darurat atau rainy-day fund. Investasi ini dibutuhkan saat keadaan darurat seperti PHK, kekurangan cashflow bulanan, biaya rumah sakit, perbaikan mobil dan lain-lain. Yang terpenting dalam investasi ini adalah dapat dengan mudah dicairkan dan tidak mengurangi nilainya. Contoh alternatif investasi yang likuid adalah Reksa dana pasar uang atau deposito.

Mungkin saja sekarang timbul pertanyaan: berapa nilai yang wajar untuk masing-masing lapis investasi yang dimiliki keluarga? Dalam hal ini, setiap keluarga memiliki tujuan serta keterbatasan masing-masing. Masing-masing keluarga memiliki keunikan yang berbeda. Untuk itu kami mencoba memberikan beberapa guidelines yang dapat membantu anda menetapkan atau mengalokasikan nilai wajar pada masing-masing lapis investasi.

Alokasi masing-masing lapis investasi sangat dipengaruhi oleh:
1. Kebutuhan dan tujuan anda. Untuk alokasi dana darurat, seharusnya anda mengalokasikan diantara 3-6 bulan biaya hidup. Hal ini sudah tidak bisa ditawar lagi. Namun untuk tujuan menegah dan panjang, sebaiknya anda mnentukan apa yang anda inginkan dimasa datang. Misalkan untuk menyiapkan uang muka sebesar Rp.120 juta untuk pembelian rumah, harus dicapai setelah 2 tahun. Dengan begitu alokasikan dana dalam instrument jangka menengah untuk hal ini. Kemudian untuk tujuan yang lebih panjang, seperti masa pensiun yang masih 20 tahun lagi, kebutuhan dana yang diproyeksikan adalah sebesar Rp.1 milyar. Dengan begitu anda dapat mengalokasikan dalam bentuk saham atau reksadana saham. Dengan alokasi ini anda dapat membuat sebuah portfolio keluarga (pembahasan minggu lalu) yang menyatu dengan berbagai tujuan yang dimiliki.

2. Tingkat toleransi anda terhadap risiko. Beberapa orang merasa bahwa investasi di reksadana saham tidak membuatnya susah tidur. Namun buat sebagai lain, mendengarnya saja sudah sangat antipati. Oleh karena itu, memahai dan mengenali toleransi anda terhadap risiko menjadi sangat penting dalam penempatan alokasi dana pada lapisan-lapisan investasi. Untuk hal ini anda dapat mencoba beberapa quiz yang banyak dituliskan di berbagai textbook keuangan untuk lebih mengenal dan memahami tingkat toleransi anda.

Jadi dapat dipelajari disini bahwa risiko utama dalam keuangan keluarga adalah putusnya pendapatan regular keuangan untuk menopang semua kebutuhan akan lebih berbahaya dari pada keriguan investasi itu sendiri. Karena semua investasi berawal dari pendapatan yang disisihkan untuk tujuan mendatang.

Penempatan investasi keluarga menjadi sangat penting. Lapis pertama merupakan investasi tujuan jangka panjang. Dan investasi jangka menengah selanjutnya. Dan investasi untuk dana darurat merupakan lapis teratas dalam kue keuangan keluarga anda. sesuaikan alokasi dengang tingkat toleransi anda terhadap risiko dan tempatkan sesuai dengan tujuan keuangan yang dimiliki. Sampai jumpa dalam pembahasan lainnya. Semoga bermanfaat.

* M. Ichsan dapat dihubungi melalui email: ichsan02@yahoo.com

PERTIMBANGAN PEMILIHAN INVESTASI




Informasi dari Bapepam menyebutkan, lebih dari 90 Reksa dana dari tidak kurang 30 perusahaan sekuritas yang beredar di pasar sekarang. Oleh karenanya tidaklah mengejutkan bila masyarakat merasa kesulitan untuk memilih Reksa dana yang tepat. Faktor yang dipakai masyarakat pada umumnya seringkali salah dalam menentukan pilihan investasi yang diinginkan. Oleh karenya dibutuhkan cara pandang atau cara melihat yang lebih baik dalam memilih Reksa dana yang tepat bagi tujuan keuangan yang Anda inginkan.

Past performance bukan segalanya
Bila menelaah prilaku individu dalam memilih Reksa dana, kebanyakan dari mereka hanya melihat satu faktor saja yaitu performa masa lalu (past performance). Bila suatu Reksa dana memiliki tingkat performa yang baik di tahun lalu, maka cenderung masyarakat akan berduyun-duyun memilihnya.

Teori ekonomi banyak berperan dalam pengambilan keputusan. Teori ekonomi ini bukanlah hal yang pasti dan dapat diprediksi. Dalam pemahaman di mana suatu hal diakibatkan oleh adanya hal lain akan sangat berlainan dengan upaya Anda memprediksi apa yang akan terjadi di masa depan. Mengapa hal ini sangat tidak dapat dipegang? Keadanaan ekonomi sekarang akan sangat berbeda dengan keadaan yang lalu. Mungkin saja, tingkat inflasi yang berbeda, pajak yang berbeda, mungkin saja tingkat pengembalian yang beda atau dalam hal Indonesia iklim politik yang berbeda. Oleh karena banyaknya indikasi perbedaan dalam hal ekonomi, politik dan sosial, bagaimana mungkin kita mengharapkan tingkat pengembalian yang sama seperti tahun lalu?

Sangat jelas jawabannya bahwa Anda tidak dapat memprediksi tingkat pengembalian masa datang berdasarkan performa masa lalu. Oleh karenanya sangatlah tidak benar bila Anda memutuskan untuk memilih invetasi hanya karena performa tahun lalunya sangat baik.

Promosi yang menjerumuskan
Dalam hal investasi, setiap perusahaan akan selalu mengingatkan bahwasanya performa tahun lalu tidak menjamin apa yang akan Anda dapatkan di masa depan. Hal ini sangatlah jelas dalam aturan yang ditetapkan oleh Bapepam. Tapi terkadang dalam perihal promosi maupun periklanan terkadang mereka hanya menjelaskan performa yang lalu dan sering kali memberikan indikasi atau gambaran yang salah kepada masyarakat dimana investasi tersebut akan kembali berprestasi baik di tahun depan.

Bila Anda juga mengikuti berbagai majalah ekonomi yang berkaitan dengan pasar modal maka terkadang mereka hanya menulis dan menjelaskan performa sebuah Reksa dana atau perusahaan berdasarkan performa masa lalu di mana tersirat bahwa perusahaan akan dapat memberikan tingkat pengembalian yang sama di tahun depan. Hal ini biasanya yang memberikan pandangan yang salah kepada masyarakat. Dalam hal masyarkat perlu memahami bahwa Reksa dana atau investasi akan selalu berubah dikarenakan perubahan keadaan ekonomi, sosial maupun suhu politik.

Jadi dapat disimpulkan bahwa memilih sebuah Reksa dana atau investasi hanya berdasarkan performa masa lalu adalah salah karena performa masa lalu tidak menjamin performa masa datang.

Pentingnya diversifikasi
Sekarang pertanyaannya adalah, bagaimana kita dapat memilih Reksa dana yang sesuai? Sebelum kami masuk ke pembahasan ini, menurut hemat kami Anda perlu memahami pentingnya divesrifikasi dalam investasi. Bukan hanya dalam satu jenis aset tapi ditemptakan dalam beberapa aset investasi yang ada. Karena kita bicara mengenai Reksa dana maka Anda dapat menempatkan dana Anda dalam Reksa dana saham, Reksa dana pendapatan tetap, Reksa dana pasar uang, dan Reksa dana campuran. Ke-empat jenis Reksa dana ini dapat menjadi pilihan jenis investasi dalam portofolio Anda. dalam hal ini diversifikasi memberikan kombinasi risiko dan tingkat pengembalian yang lebih baik. Mungkin hanya menempatkan dana di Reksa dana saham dapat memberikan tingkat pengembalian yang tinggi, tapi harus diingat juga bahwa risiko yang terkandung juga akan lebih tinggi. Jadi dengan uraian singkat ini kami berharap bahwa Anda sepakat dalam hal investasi bahwa diversifikasi sangatlah penting.

Relative performance
Pernahkah Anda mengeluarkan pertanyaan seperti ini, “Apakah hanya saya yang merasa panas atau memang di dalam ruang ini panas?” Saya sangat yakin Anda pernah mendengar pertanyaan seperti ini. Anda akan merasa lega bila teman Anda menjawab bahwa, ”Ya, memang panas di dalam ruang ini.” Padahal bila dilihat sebenarnya ruang tersebut tepat saja panas. Akan tetapi paling tidak kita merasa lega karena orang lain juga merasakannya.

Dalam investasi khususnya Reksa dana, pertanyaan di atas dapat menjadi alat bantu Anda dalam menganalisa Reksa dana yang ingin Anda pilih. Atau dalam bahasa invesatsi yang harus lebih Anda perhatikan bukan hanya tingkat pengembaliannya saja, tapi performa relatif (relative performance) Reksa dana terhadap Reksa dana lain dalam satu jenis atau golongan. Dalam hal ini Anda sebaiknya menganalisa tingkat pengembalian Reksa dana dalam konteks menyeluruh, bukan hanya Reksa dana itu saja.

Untuk lebih jelasnya kami memberikan tiga skenario kejadian di pasar Reksa dana:

Skenario pertama: Reksa dana Anda merugi 20%
Skenario kedua: Reksa dana Anda merugi 20% dan Reksa dana lain dalam satu golongan merugi 30%
Skenario ketiga: Reksa dana Anda merugi 20% sedang Reksa dana lain dalam satu golongan untung 10%

Sudah pasti dalam skenario pertama Anda akan merasa tidak gembira. Tapi bagaimana dengan skenario kedua? Mungkin Anda akan merasakan lebih baik di mana Anda mengetahui bahwa Reksa dana lain dalam golongan yang sama mengalami kerugian yang lebih besar. Sedangkan untuk skenario ketiga, tanpa harus ditanyakan Anda akan merasa lebih buruk karena mengetahui Reksa dana lain dalam golongan yang sama mendapatkan keuntungan.

Apa pun perasaan Anda terhadap contoh skenario di atas, dalam hal ini kami ingin menyampaikan bahwa Anda sebaiknya lebih menfokuskan kepada performa relatif Reksa dana yang telah Anda pilih. Dalam hal ini kami mengasumsikan bahwa Anda sudah memilih potongan investasi yang akan Anda masukkan ke dalam diversifikasi portofolio Anda. Bila Anda memutuskan untuk mendaki gunung maka Anda tidak dapat mengeluh bahwa Anda mungkin tersandung. Tapi karena alur yang diambil sangat berbatu membuat Anda sering kali tersandung maka Anda baru mengeluh. Demikian juga dengan Reksa dana yang Anda pilih. Bila sesekali mengalami kerugian, maka itu sudah merupakan risiko yang harus Anda tanggung. Tapi bila sering kali merugi, bagaimana? Tentunya Anda dapat menggantinya dengan Reksa dana lain.

Fund manager; pengelola dana
Performa dari sebuah Reksa dana sangat bergantung dengan pengelola dana atau manejer investasinya. Karena dalam Reksa dana Anda menyerahkan semua wewenang kepada manajer investasi untuk melakukan keputusan investasi. Yang harus diingat bahwa manajer investasi harus mengikuti batasan yang telah mereka tetapkan dalam prospektus. Jadi Anda juga bisa melihat bagaimana manajer investasi Reksa dana mengelola dana Anda berdasarkan prespektus yang dikeluarkan.

Apakah pengelola Reksa dana sebaiknya berupa tim atau perorangan? Dalam hal ini mungkin lebih mudahnya, dua kepala lebih baik dari satu kepala. Yang harus dingat di sini adalah bila perusahaan investasi hanya mengandalkan satu orang manajer investasi, maka bila manajer investasi tersebut dibajak oleh perusahaan lain, apakah Anda akan pergi memindah dana Anda ke perusahaan lain tersebut dengan manajer investasi yang sama? Tentunya dengan masuknya orang baru dalam sebuah perusahaan pengelola Reksa dana, khususnya mereka yang mengelola dana, maka sudah dapat ditebak bahwa orang tersebut memiliki pola pikir investasi yang berbeda dengan yang sebelumnya. Bisa saja Reksa dana tersebut menjadi lebih baik atau mungkin lebih buruk. Sekali lagi bahwa performa masa lalu tidak menjamin performa masa datang.

Demikian pembahasan yang dapat kami sampaikan dalam melihat Reksa dana yang sesuai dan memberikan kepuasaan kepada Anda sebagai investor dalam proses pencapaian tujuan keuangan keluarga. Semoga ulasan ini dapat membantu Anda mendapatkan Reksa dana yang terbaik bagi Anda.

* M. Ichsan dapat dihubungi melalui email: ichsan02@yahoo.com

RUMAH IDAMAN, RUMAH IMPIAN




Apa yang Anda lakukan apabila Anda memutuskan untuk membeli rumah? Rajin berkunjung ke pameran rumah? Aktif mengikuti iklan di berbagai media cetak? Mencari informasi dari teman atau saudara? Atau, supaya praktis, meminta bantuan agen properti? Banyak memang cara untuk mendapatkan rumah idaman, berbagai cara dilakukan guna mendapatkannya, tetapi sayangnya masih sedikit yang mempertimbangkan segi keuangan. Menurut kami justru pertimbangan keuangan jangka panjang inilah yang harus dengan cermat diperhitungkan, khususnya bila Anda membelinya dengan kredit. Hal ini tentu saja berbeda bila anda memperoleh rumah idaman itu dari undian atau warisan.

Membeli dengan cara tunai
Bila Anda membelinya dengan tunai maka secara jangka panjang yang harus di cermati antara lain adalah biaya perawatan kelangsungan rumah itu sendiri. Kebutuhan untuk merawat serta biaya pemeliharaan yang dibutuhkan bulanan ini, harus dianggarkan. Selain itu, pajak menjadi salah satu biaya yang harus pula dianggarkan dan dibayarkan tiap tahunnya. Biaya asuransi juga harus dipertimbangkan dan diperhitungkan bila Anda memutuskan untuk membelinya.

Dengan kesanggupan Anda untuk membeli rumah secara tunai maka secara keuangan Anda sudah cukup mapan sehingga untuk kebutuhan bulanan maupun tahunan dapat terpenuhi. Yang harus diingat, jangan membeli rumah hanya karena ikut-ikutan dan menginginkan rumah besar dan terlalu muluk untuk Anda. Sesuaikan dengan gaya hidup yang Anda dan keluarga yakini dan dengan nilai-nilai kehidupan Anda berumah tangga. Karena pilihan jenis maupun lokasi rumah akan mempengaruhi gaya hidup.

Membeli dengan kredit
Lain halnya bila Anda membelinya dengan kredit, maka pertanyaan utama yang harus Anda jawab sebelum keputusan itu Anda ambil adalah: Berapa lama Anda akan tinggal di rumah yang akan dibeli itu? Bila Anda memutuskan untuk tinggal di suatu tempat sementara (kurang dari 3 tahun) karena tugas Anda yang sering pindah-pindah atau hal lainnya maka keputusan untuk membeli rumah dapat ditunda terlebih dahulu.

Sedangkan bila Anda menemukan rumah impian dan ingin tinggal lama di rumah tersebut maka kredit kepemilikan rumah (KPR) dengan jangka waktu yang panjang dapat menjadi pilihan. Akan tetapi harus diingat semakin panjang jangka waktu kredit semakin besar total bunga kredit yang harus dibayarkan. Sehingga memutuskan jangka waktu kredit sebaiknya menyesuaikan dengan kemampuan keuangan keluarga.

Keputusan untuk membeli rumah dengan kredit akan banyak mempengaruhi keadaan keuangan Anda dan keluarga secara jangka panjang. Bila Anda memutuskan untuk menanda tangani perjanjian kredit selama 10 tahun maka Anda terikat dengan berbagai pengeluaran yang harus dikeluarkan setiap bulannya. Pertimbangkan dengan sebaik-baiknya keputusan ini. Jangan sampai keputusan ini merusak tatanan keuangan Anda di masa depan. Beberapa hal yang menurut pandangan kami harus diwaspadai adalah kemampuan Anda untuk membayar besarnya cicilan per bulan (baik bunga maupun hutang pokoknya). Kewajiban untuk membayar Pajak Bumi dan Bangunan pertahun serta biaya perawatan serta pemeliharaan rumah tersebut juga harus di kalkulasi anggarannya.

Jalan menuju rumah idaman
Setelah keputusan Anda bulat, di mana Anda akan tinggal lama di rumah baru Anda, serta ingin membelinya secara kredit dengan memperhitungkan berbagai perubahan dalam keuangan yang harus Anda lakukan bersama keluarga, maka hal pertama yang harus Anda lakukan adalah ajukan permohonan kredit sementara terlebih dahulu. Karena proses ini bisa memakan waktu sampai 1 bulan. Mengajukan permohonan terlebih dahulu akan memberikan jaminan kepada Anda bahwa institusi tersebut akan mendanai kredit Anda. Jangan sampai terjadi dimana anda sudah menemukan rumah yang anda dan keluarga idam-idamkan dengan kerja keras tapi di saat Anda mengajukan permohonan kredit kepemilikan rumah ternyata ditolak.

Kebutuhan awal yang harus dipersiapkan adalah kebutuhan akan uang muka. Secara umum institusi pemberi kredit membatasi jumlah kreditnya yang disalurkan. Biasanya tidak lebih dari 70% dari harga rumah atau properti tersebut. Sebut saja harga rumah yang Anda inginkan adalah 300 juta. Maka Anda harus mempersiapkan dana kurang lebih sebesar 90 juta rupiah sebagai uang muka. Kebutuhan ini diluar dari beberapa kebutuhan biaya yang juga harus dipersiapkan walau tidak terlalu besar seperti biaya administrasi, pajak pembelian, biaya asuransi dan lain-lain. Bila kebutuhan akan uang muka belum tercapai maka penyisihan dana per bulan dari pemasukan secara berkala dapat dilakukan. Jangan memaksakan keinginan. Tapi sesuaikan dengan kesanggupan bulanan yang Anda sepakati.

Membeli rumah langsung dari pemilik bukan dari pengembang perumahan, ada hal yang harus anda cermati. Satu hal penting yang harus diperiksa adalah keabsahan akte tanah tersebut. Apakah tanah tersebut dalam sengketa atau tidak? Karena banyak kejadian di mana anda sudah membayarkan uang mukanya, begitu memeriksanya ternyata rumah tersebut dalam sengketa. Jangan sampai ini terjadi, antisipasi dan lakukan pemeriksaan setiap anda ingin membeli apalagi yang anda beli adalah rumah yang akan anda tinggali untuk jangka waktu yang panjang.

Masyarakat perkotaan terkadang tidak memiliki banyak waktu untuk dapat mencari dan meneliti rumah dengan baik sehingga jasa agen properti dapat digunakan. Masyarakat pada umumnya mengetahui kalau agen properti dibutuhkan bila anda hanya ingin menjual rumah. Sebenarnya tidak juga. Bila anda ingin membeli rumah baik tunai ataupun kredit agen properti dapat membantu anda dalam menyelesaikan berbagai masalah administratif. Masyarakat yang hidup di perkotaan dengan berbagai tuntutan sehingga tidak memiliki waktu cukup maka jasa agen properti dapat menjadi solusi pilihan.

Nah, selamat membeli rumah idaman Anda!!

* M. Ichsan dapat dihubungi melalui email: ichsan02@yahoo.com

toko-delta.blogspot.com

Archives

Postingan Populer

linkwithin

Related Posts with Thumbnails

Total Tayangan Halaman

Diberdayakan oleh Blogger.