toko-delta.blogspot.com

menu

instanx

Senin, 27 Oktober 2008

BECOME YOUR OWN CEO OR DIE

Oleh: Ahmad Arwani R

Menjadi karyawan memang gampang-gampang susah. Saat kita berhasil mencapai target yang dicanangkan oleh management, dianggap ya sudah selayaknya kita dibayar untuk itu. Namun, pada saat kita sedikit saja melakukan kesalahan atau melakukan breakthrough sudah dianggap fatal atau melanggar prosedur.

Belum lagi kecenderungan perusahaan, jika ada posisi yang kosong lebih memilih untuk meng-hire orang dari luar dibanding mempromosikan karyawan internal. Segudang alasan sudah berhamburan, mulai dari membutuhkan warna baru yang lebih fresh (fresh breakthrough), karyawan internal belum ada yang siap atau kompeten, orang dalam tidak bisa “think out of the book”, dan lain sebagainya.

Apalagi jika ada atasan baru yang masuk dengan mudahnya merubah sana-sini sesuai keinginan dan maksudnya tanpa dengan matang berpikir efek internal dan eskternal. Tentunya ini dilakukan sebagai breakthrough, dan selalu berangggapan karyawan lama sudah di label dalam kondisi “comfort zone”. Ini sungguh kurang menyenangkan bagi karyawan yang sebenarnya berpotensi dan berprestasi yang sebetulnya membutuhkan jam terbang dan otoritas lebih untuk berkembang. Terkadang manajemen puncak enggan memberikan kepercayaan dengan alasan takut gagal, sungguh aneh bukan.

Lebih lanjut, alih-alih menyalahkan keadaan ada baiknya kita rehat sejenak dan berpkir dengan jernaih apa yang salah dengan kita dan langkah selanjutnya seperti apa yang akan kita ambil. Mungkin kita memang berpotensi dan berprestasi, namun kita tidak cukup mampu untuk mengemasnya dengan baik sehingga terlihat dari luar. Mutiara akan dianggap sebagai batu biasa hingga ada orang yang menggosok dengan cara yang benar.

Sebagai orang yang sudah mengambil keputusan bahwa menjadi pekerja profesional adalah pilihannya (masih ada pilihan lain seperti menjadi enterpreneurship, investor dll) maka kita harus mulai bekerja smart dan berpikir kreatif. Tahukah Anda bahwa sebenarnya karier Anda adalah bisnis Anda, yang menghidupi Anda dan keluarga.

Jika memang demikian perlakukan karier Anda selayaknya bisnis tulang punggung dan harapan keluarga. Mulai saat ini perlakukanlah karier Anda sebagai bisnis Anda, yang selalu Anda bawa ke mana-mana layaknya sebuah produk yang bisa dipasarkan di mana pun. Your career is your business, love your job but never love your company.

Ada lima kunci yang akan membantu Anda memperlakukan karier sebagai bisnis sebagai berikut:
Sadarilah sejak awal bahwa karier adalah bisnis Anda.
Anda harus benar-benar dapat mengontrol dan bertanggung jawab secara total pekerjaan tersebut. Jangan pernah berikan setengah-setengah, berikanlah 110 persen. Jangan pernah berikan ini ke siapa pun. Karena, Andalah yang paling paham dan bisa kerjakan dengan sangat memuaskan, sekali lagi Anda adalah karier Anda. Jika karier Anda jelek maka sebenarnya Anda secara pribadi juga jelek atau gagal. Temukan diri Anda dan nilai tambah yang bisa diberikan.
Pada tahapan ini, kita harus berintrospeksi di manakah letak kekuatan dan ketertarikan kita. Kekuatan kita akan membantu dalam mencapai target pekerjaan dan pengambilan keputusan. Jika kita berkerja pada hal yang kita senangi pasti kita akan memberikan usaha terbaik dan hasil maksimal.

Lebih dari itu carilah nilai tambah keberadaan Anda pada organisasi saat ini. Mengapa atasan lebih menyukai kita mengerjakan pekerjaan tertentu dibanding rekan kita dalam satu departmen misalnya. Atau, kenapa pelanggan lebih menyukai jika kita yang membantu menyelesaikan masalah dibanding sesama customer service lainnya. Kenalilah dengan detail organisasi Anda dan selalu siap action.
Sebagai pekerja profesional, Anda harus memastikan perusahaan seperti apa yang pantas menjadi tempat berlabuh sesuai dengan pengalaman dan kemampuan Anda dan seberapa besar mereka membayar itu semua. Bisanya kita semua akan memilih perusahaan yang memiliki permasalahan yang mampu kita selesaikan. Barulah kemudian kita berhitung apakah ini layak untuk menjadi tempat bernaung dan sumber penghasilan Anda untuk rentang beberapa tahun ke depan? Jika dirasa memang tidak layak, dalam arti usaha yang kita berikan tidak sesuai dengan reward yang kita harapkan maka silakan mulai lagi siklus di atas. Jika internal tidak bisa memberikan solusi, sebagai profesional tentunya akan mencari solusi eksternal dan begitu seterusnya. Sekali lagi pertanyaan pentingnya adalah: Apakah semua ini layak untuk dijalani dan diperjuangkan? Dan, yang selalu diingat pantaulah selalu performance perusahaan dalam industri tersebut dan tentunya perkembangan fasilitas dan penghasilan yang diberikan kepada karyawan. Jika dirasa tidak ada perkembangan atau kinerja memburuk segeralah ambil action.

Temukanlah beyond expectation dari customer/manajemen.
Jika bos dan pelanggan super puas terhadap pekerjaan atau service yang kita berikan lebih dari yang diinginkan sejujurnya andalah yang akan menjadi ikon dari layanan/organisasi tersebut. Dengan tanpa terasa dan sadari Anda telah menciptakan iklan berupa image Anda pada diri atasan maupun pelanggan. Yang pasti akan mereka jajakan Anda di mana pun dan kapan pun. Jika sudah demikian pemenangnya adalah Anda

Jadilah creative dan upgrade knowledge.
Selalu bejar hal-hal yang baru baik terkait pekerjaan atau tidak akan membuat kita semakin kokoh dan menciptakan peluang-peluang baru. Mungkin terkadang kita bisa ambil short course, seminar, beli buku-buku terbaru, atau kalau perlu back to school, ambillah pendidikan tinggi seperti program master degree atau doktoral. Ingatlah, jadilah yang terbaik sebisa mungkin, karena akan selalu ada pesaing/kompetitor di belakang Anda yang mungkin saja memiliki kemampuan lebih baik.[aa]

* Ahmad Arwani R lahir di Semarang pada 1 Juni 1977. Ia tinggal di Kompleks Mutiara Elok Blok B-16 Kreo Selatan, Ciledug, Tangerang, Banten.

MEREDEFINISI MAKNA SUKSES

-
Oleh: Sugeng Widodo

Apakah Anda merasa bahagia dengan gaya hidup Anda sekarang? Apakah hasil yang Anda capai sekarang sesuai dengan potensi yang Anda milki? Apakah standar hidup Anda sekarang sudah sesuai dengan keinginan Anda? Bagaimana beranjak dari keadaan saat ini menuju keadaan Anda yang lebih baik? Apa yang harus dilakukan untuk memperbaiki kehidupan Anda sekarang?

PERTANYAAN seperti itu dan masih banyak pertanyaan lain awalnya sekadar suatu renungan pribadi menjelang pergantian tahun 2007 dan 2008. Saya sama dengan Anda dan banyak orang lain yang ingin menggunakan momentum pergantian tahun, ulang tahun, atau waktu tertentu lainnya untuk menyusun rencana baru guna mencapai level keinginan yang lebih tinggi.

Barangkali pertanyaan itu layak pula Anda renungkan. Siapa tahu Anda bisa mendapatkan inspirasi dan motivasi baru untuk meraih apapun sesuai dengan keinginan Anda.

Yang perlu disadari, memimjan istilah Andrie Wongso sang motivator, bahwa sukses adalah hak setiap orang. Saya, Anda, atau siapa pun dia memiliki hak yang sama untuk meraih kesuksesan.

Hebatnya lagi, setiap orang memiliki kesempatan dan waktu yang sama, 24 jam sehari, tujuh hari dalam satu minggu, dan 12 bulan dalam setahun. Selain waktu, Tuhan juga memberi bekal yang lebih dari cukup untuk meraih kesuksesan di antaranya seperti sarana tubuh, pikiran, perasaan, ilmu pengetahuan, keahlian, pengalaman, keluarga, dan hubungan sosial.

Tidak penting, apakah Anda sudah puas dan bahagia atau tidak puas sama sekali atas hasil yang Anda capai sekarang. Yang penting adalah bagaimana Anda beranjak menuju level kehidupan yang lebih baik dari sebelumnya. Potensi Anda teraktualisasi secara optimal. Anda pun bisa menjadi lebih sukses, lebih sejahtera, dan lebih bahagia.

Meredefinisi Sukses
Ada baiknya Anda mendefinisikan kembali makna sukses seperti yang Anda inginkan. Setiap orang memiliki definisi tentang sukses sesuai dengan nilai-nilai yang dianut, pengalaman, maupun latar belakang kehidupannya. Kalau ditanya apa makna sukses bagi Anda, jawaban Anda akan berbeda dengan jawaban orang lain.

Seorang karyawan, karier yang meningkat merupakan kesuksesan. Seorang pria yang sedang jomblo, mendapatkan pacar baru cukup dikatakan sudah sukses. Seorang pelaku bisnis, kalau bisnisnya untung berarti ia sukses. Seorang agen asuransi, ia baru sukses ketika berhasil menjadi top produser di perusahaannya.

Sekadar untuk pertimbangan Anda, perlu diketahui bahwa kesuksesan itu mencakup banyak aspek seperti halnya kehidupan manusia itu sendiri. Andrew Ho dalam bukunya Highway to Success mengemukakan ada delapan aspek yang dicakup untuk dikatakan sukses dalam hidup ini, di antaranya:

Keluarga yang bahagia
Tubuh yang sehat
Bisnis dan karir yang berhasil
Keharmonisan dari segi rohani
Hubungan antarmanusia yang baik
Pertumbuhan dan perkembangan pribadi
Manajemen keuangan yang sukses
Rekreasi yang menyenangkan

Sukses dalam bidang apa pun menjadi dambaan setiap orang. Tentang definisi sukses secara umum terdapat dua pandangan yakni sukses sebagai suatu hasil dan sukses sebagai suatu proses.

Pandangan yang menyatakan bahwa sukses merupakan suatu hasil di antaranya dikemukakan oleh Jim Dornan dan John C. Maxwell. Dalam buku yang mereka tulis “Strategi Menuju Sukses” disebutkan keberhasilan adalah hasil yang diperoleh secara bertahap melalui target yang telah ditentukan.

Pandangan lain yang menyebut sukses sebagai suatu proses dikemukakan oleh Andrew Ho dalam bukunya Highway to Success bahwa keberhasilan adalah suatu perjalanan menuju sasaran-sasaran hidup yang berharga dan berguna untuk diri sendiri dan masyarakat sekitar.

Anda memilih definisi yang mana itu sah-sah saja yang penting membuat Anda merasa nyaman dalam proses mewujudkan suatu keberhasilan. Kedua definisi itu pada hakikatnya sama. Kuncinya terletak di perasaan Anda. Jika Anda merasa enak maka definisi itu mungkin yang terbaik untuk Anda. Perasaan Anda akan enak apabila semua pemikiran maupun tindakan Anda dalam mencapai kesuksesan itu sejalan dengan nilai-nilai dan keyakinan Anda.

Sukses sebagai Hasil
Banyak orang menganut pandangan bahwa sukses merupakan suatu hasil. Pandangan ini bagi seseorang memang efektif, tetapi belum tentu bagi orang lain karena bisa menjadi tekanan yang justru tidak menguntungkan.

Dikatakan efektif karena sukses itu sendiri ukurannya tegas yaitu ketika sebuah sasaran, keinginan, atau sesuatu telah dicapai, dimiliki, atau diwujukan. Perspektif waktunya lebih pendek. Dalam hal ini, seseorang lebih mudah menentukan langkah-langkah untuk mencapainya.

Kabar buruknya, karena sukses itu suatu hasil maka orientasi kita lebih pada memiliki sesuatu. Apalagi perspektif waktunya jangka pendek. Ini bisa membuat kita cepat merasa puas karena telah berhasil mendapatkan apa yang diinginkan. Perasaan cepat puas bisa sangat berbahaya karena membuat kita cenderung berhenti berusaha meraih hal-hal yang lebih bernilai.

Misalnya, Anda tahun ini menargetkan membeli mobil Kijang Inova baru untuk menggantikan mobil tua Anda. Karena sasaran Anda jelas, membutuhkan sejumlah uang untuk membeli tunai Kjiang Inova baru, maka Anda pun bekerja keras. Tetapi, hati-hati, biasanya setelah berhasil membeli mobil baru itu, Anda cenderung ingin istirahat. “Santai dulu ah... kan target sudah tercapai.”

Ada ungkapan yang menarik perlu menjadi perhatian sebagai berikut: “Jika buah masih hijau, lama-lama menjadi masak. Bila buah sudah masak, lama-lama menjadi busuk.”

Agar Anda senantiasa termotivasi, bertumbuh, dan berkembang, setelah satu sasaran tercapai segeralah membuat sasaran lain yang lebih tinggi. Tantangan baru dalam bentuk sasaran yang lebih tinggi itu membuat Anda menjadi kreatif mencari ide dan bekerja lebih gairah sehingga kemampuan Anda misalnya dalam menjual asuransi jiwa juga akan terus terasah. Jika kemampuan itu tidak diasah terus, seperti sebuah pisau, lama-lama akan tumpul. Untuk mengasah lagi kemampuan yang tumpul diperlukan waktu. Bahkan, bukan tidak mungkin Anda harus mulai dari awal lagi.

Sukses sebagai Proses
Jika Anda sependapat dengan pandangan bahwa sukses merupakan suatu proses, sebaiknya Anda memiliki perencanaan jangka panjang, mungkin 5, 10, atau 15 tahun ke depan. Perencanaan jangka panjang ini dapat menghindarkan Anda dari tekanan psikologis akibat perasaan dikejar target. Anda lebih leluasa memilih aktivitas yang tepat sesuai dengan prioritas.

Sasaran besar yang bersifat jangka panjang itu kemudian dibuat menjadi sasaran-sasaran kecil untuk dicapai dalam jangka pendek, misalnya tahunan, semester, triwulan, hingga bulanan. Bahkan kalau perlu dirinci lagi menjadi sasaran mingguan dan harian. Sasaran-sasaran kecil itu penting karena dapat menambah keyakinan bahwa Anda mampu mengerjakannya.

Ingat, sukses yang besar diawali oleh sukses-sukses kecil. Seperti halnya, ketika Anda lulus kuliah dan diwisuda menjadi seorang sarjana strata satu. Untuk mencapai keberhasilan itu, tentu Anda harus melewati ujian-ujian dan lulus ujian setiap mata kuliah yang telah ditetapkan mulai dari semester I sampai semester VIII. Anda bisa lulus ujian sebuah mata kuliah kalau Anda berhasil mengerjakan tugas dosen maupun menjawab dengan benar soal-soal ujian mata kuliah itu sehingga mendapat nilai di atas batas kelulusan.

Demikian pula jika Anda seorang agen asuransi jiwa, produksi baru yang menghasilkan komisi besar itu, pada hakikatnya juga merupakan keberhasilan Anda dalam meraih sukses-sukses kecil sebelumnya. Sebut saja misalnya, sukses dalam mendapatkan nama prospek potensial, sukses dalam membuat janji dengan prospek, sukses dalam presentasi penjualan, dan akhirnya sukses dalam penutupan.

Jadi, apabila Anda menghadapi kesulitan, kekecewaan, stres, frustrasi, gagal, dan sebagainya, maka sadarilah bahwa saat itu Anda berada dalam proses mencapai sasaran yang lebih besar. Jerih payah, derita yang dialami, sungguh menjadi tidak berarti dibandingkan dengan sasaran besar yang nanti dapat diwujudkan.

Ibarat Anda mendaki gunung, perjalanan Anda ke puncak yang penuh dengan risiko, kesulitan, dan kelelahan nantinya menjadi tidak berarti kalau Anda telah berhasil sampai di puncak gunung. Banyak hal yang dapat Anda dinikmati di puncak sukses.

Bagaimana Memaknai Sukses
Selain dua pandangan itu, Anda boleh saja menciptakan definisi sendiri tentang sebuah kesuksesan. Dalam merumuskan makna sukses, yang penting bukan apa yang nanti Anda hasilkan tetapi bagaimana Anda menikmati perjalanan ketika mencapainya. Dengan kata lain, Anda tidak perlu merasa sukses, kaya, dan bahagia setelah semua yang Anda inginkan tercapai. Sekarang, kapan saja, di mana saja, setiap moment hidup kita haruslah dapat dinikmati dan membuat kita berbahagia.

Yang paling penting adalah bagimana kita merasa senang, gembira, dan bahagia setiap saat. Perasaan positif ini akan menarik pikiran yang positif, pikiran yang positif menjadi magnet banyak hal yang positif antara lain orang-orang, ide, kejadian, dan berbagai hal lain positif yang pada gilirannya membantu mewujudkan sukses-sukses lainnya.

Sebaiknya sukses didefinisikan secara sederhana yang mudah sehingga kita merasa bahagia karena kita merasa sukses. Sekedar contoh dapat ditunjukkan sebagai berikut:

Sukses adalah perasaan bahagia ketika saya bersyukur kepada Allah.
Sukses adalah ketika saya dapat mengingat Allah.
Sukses adalah mendapatkan nilai tambah positif dalam kehidupan saya.
Sukses adalah memberikan sesuatu yang bermanfaat kepada orang lain.

Definisi-definisi sukses di atas mencerminkan bahwa saya sudah merasa sukses kalau hal-hal di atas saya lakukan atau saya dapatkan. Sukses-sukses kecil itu sudah pasti menjadi landasan kuat untuk meraih sukses-sukses besar nantinya.

Sebaliknya, kalau kita membuat definisi sukses yang sulit dijangkau untuk dicapai atau dilaksanakan justru akan membuat perasaan menjadi negatif seperti kecewa, sulit, marah, ragu-ragu dan sebagainya. Ketahuilah bahwa perasaan–perasaan negatif itu juga akan menarik pikiran yang negatif, dan pikiran yang negatif pasti menarik banyak hal yang negatif. Kondisi ini jelas berdampak buruk bagi kita. Mengapa? Perasaan negatif menjadi lintah yang menyedot semua energi positif baik yang ada dalam diri kita maupun di lingkungan kita.

Bagaimana kita beranjak dari keadaan sekarang menuju ke keadaan yang lebih baik? Apa yang harus kita lakukan untuk memperbaikan kehidupan kita? Langkah pertama yang harus kita lakukan adalah mengubah mindset kita tentang sukses. Sukses adalah bagian dari hidup kita. Sukses harus membuat setiap saat kita merasa bahagia dan senang.

Perlu kita sadari bahwa hidup kita di dunia ini, keberadaan kita sampai detik ini, apa pun yang telah kita capai dan kita miliki, adalah sukses itu sendiri. Oleh karena itu, tidak adalah alasan bagi kita untuk tidak merasa bahagia. Bahagia tidak perlu dicari tetapi sudah ada di dalam diri kita. Tinggal kita mengaksesnya untuk kita hadirkan dalam hati kita. Tidak perlu kita menunggu sukses dulu baru merasa bahagia. Tidak ada artinya sebuah kesuksesan tanpa kebahagiaan. Mengapa? Karena sukses itu sendiri merupakan kebahagiaan atau sebaliknya kebahagiaan itu juga merupakan kesuksesan.

Abraham Lincoln mengatakan, “Sebagian besar orang merasa bahagia karena mereka memutuskan untuk merasa bahagia dengan keadannya.” Sekaranglah saatnya kita merasa bahagia dalam setiap moment dalam hidup ini. Jika kebahagiaan dapat kita rasakan setiap waktu maka keajaiban akan hadir dalam hidup kita. Hidup kita menjadi indah, menyenangkan, dan selalu tampak positif .[sw]

* Sugeng Widodo, S.Sos, MM, AAAIJ, LUTCF adalah alumnus Fisip Universitas Indonesia tahun 1999 dan program magister manajemen STIE Dharma Bumiputera tahun 2000. Saat ini ia menjabat Staf Ahli Direksi, AJB Bumiputera 1912. Ia adalah alumnus SPP workshop “Cara Gampang Menerbitkan Buku Sendiri” Angkatan I yang juga menujadi kontributor artikel di harian “Bisnis Indonesia” dan majalah “ Media Asuransi". Sugeng dapat dihubungi di: sugeng_widodo@bumiputera.com.

Minggu, 26 Oktober 2008

BAKAT MENULIS

-
Oleh: Natalia Sri Rejeki

Seseorang pernah mengatakan kepada saya bahwa memiliki bakat menulis merupakan sesuatu yang sangat bagus sehingga harus dikembangkan. Apalagi, orang yang memiliki bakat menulis itu sangat jarang. Terus terang, saya pun berpendapat demikian. Memiliki bakat menulis adalah salah satu hal yang mengagunkan.

Bagi saya, bakat menulis itu tak ternilai harganya. Bayangkan, ada banyak orang yang rela membayar mahal untuk bisa "menulis". Jadi, jika saya memiliki bakat ini, saya pasti tidak akan menyia-nyiakannya. Saya akan terus mengembangkannya.

Menurut saya, menulis adalah suatu kegiatan menuangkan seluruh ide dan kreativitas yang ada dalam pikiran kita ke dalam bentuk karya tulis. Tentu saja, seluruh ide dan kreativitas yang ingin dituangkan itu harus diolah terlebih dahulu agar menjadi suatu karya yang bagus dan menarik.

Bila kita sudah mempunyai bakat menulis, sekarang kita harus memikirkan siapa orang yang dapat membimbing kita. Kalau kita sudah mempunyai pembimbing, tentu akan lebih mudah mengembangkan bakat tersebut. Kita dapat berkonsultasi dengan pembimbing kita tentang dunia tulis-menulis. Kita juga bisa meminta pendapat atau saran tentang tulisan-tulisan kita.

Oleh karena itu, kita harus tahu bagaimana mendapatkan pembimbing yang baik dan cocok dengan kita. Seorang pembimbing yang baik adalah seorang yang bisa memberi saran kepada kita dengan cara yang halus dan mudah dimengerti. Tidak selalu harus membimbing dengan sikap menggurui. Seorang pembimbing yang baik bisa menempatkan diri sebagai pembimbing, konsultan, sekaligus sahabat. Pembimbing yang ideal harusnya mengerti bagaimana kekuatan dan kelemahan kita serta mau bersikap komunikatif dan kreatif saat membimbing.

Saya membahas tentang pembimbing karena saya punya pengalaman dengan pembimbing-pembimbing saya. Saya merasa senang dan bersemangat saat dibimbing oleh pembimbing yang bersifat kreatif dan komunikatif serta dapat mengerti saya sebagai anak bimbingannya. Sebaliknya, saya merasa malas dan bosan dengan pembimbing menulis yang cara mengajarnya sangat membosankan. Saya akan menuangkan pengalaman saya tersebut di tulisan ini.

Saat saya kelas 6 SD, saya mempunyai guru Bahasa Indonesia yang sangat luar biasa. Beliau mengajar kami dengan sikap tidak menggurui dan sangat bersahabat. Saat mengajarkan pelajaran beliau juga sangat komunikatif dan kreatif. Beliau menempatkan dirinya sebagai sahabat di tengah murid-muridnya. Beliau pulalah yang menginspirasi saya untuk terus mengembangkan bakat menulis saya. Beliau menjadikan sastra sebagai sesuatu yang menyenangkan sekali.

Sebaliknya, guru Bahasa Indonesia yang sekarang mengajar saya di SMP merupakan tipe guru yang membosankan. Maaf dengan komentar yang terlalu keras ini. Bayangkan, saat jam pelajarannya tiba, ia masuk ke kelas kami dan langsung duduk di kursi guru. Ia membiarkan kami melakukan apa saja sembari "mengajar" dengan membaca bukunya. Kami heran dengan sikapnya. Tetapi, kami terus menunggunya sampai ia mau mengajar kami. Tetapi, ternyata dugaan dan harapan kami salah. Ia hanya menjelaskan sedikit sekali pelajarannya, itu pun dengan cara yang membosankan. Lalu setelah pelajarannya usai, ia memberi kami tugas. Tetapi, tugas itu tidak pernah diperiksa atau dibahas di kelas. Saya merasa ia benar-benar tidak menghargai kami yang sudah susah payah mengerjakan tugas.

Namun, bila teman-teman sekalian terlanjur mendapat pembimbing yang cara mengajarnya membosankan, janganlah patah semangat! Berusahalah untuk tidak terpengaruh oleh cara mengajarnya seperti yang telah saya lakukan belakangan ini. Pada awalnya mungkin akan terasa sulit, saya akui itu. Tapi, tanamkanlah di benak teman-teman sekalian, apabila guru/pembimbing itu tak bisa mengajar dengan baik, teman-temanlah yang harus berusaha menjadi yang terbaik. Jangan sampai bakat menulis teman-teman tidak tersalurkan hanya karena guru/pembimbing yang cara mengajarnya kurang baik.

Menurut saya, menulis memiliki manfaat yang sangat banyak. Salah satunya adalah mengasah otak kita untuk berpikir kreatif. Bagaimana tidak? Bila kita tidak terus berpikir kreatif, maka tulisan kita akan monoton dan mendatangkan kejenuhan pada pembaca. Bahkan, kita bisa-bisa menjadi penulis yang memplagiat karya orang lain karena tidak bisa berpikir beda atau kreatif.

Dengan menulis kita juga bebas menuangkan ide dan perasaan kita lewat tulisan-tulisan kita. Tak usah pusing atau khawatir bila tulisan kita menimbulkan kontroversi. Bila tulisan kita memang sesuai kenyataan, kita tak perlu takut menyebarluaskannya. Bukankah kita mempunyai hak untuk berpendapat? Kecuali hal-hal yang kita tuliskan itu tidak mempunyai bukti dan merupakan fitnah yang kita karang sendiri.

Manfaat berikutnya ialah dengan menulis kita bisa menghasilkan uang. Tak peduli siapa kita, pendidikan terakhir kita, atau pekerjaan kita. Kalau tulisan atau buku kita bagus dan diminati pembaca, apalagi menjadi bestseller, kita bisa memenuhi kebutuhan hidup kita dengan menulis.

Selain itu, menfaat lainnya ialah dengan menulis kita bisa lebih baik dalam pembendaharaan kata. Mengapa? Karena kita sudah terlatih dan terbiasa menulis. Lalu, denganmenulis kita juga bisa dikenal dan mendapat banyak relasi dari dalam atau luar dunia tulis-menulis. Apalagi kalau karya kita sudah terkenal dan memiliki nama dalam dunia tulis-menulis. Pasti banyak sekali penerbit yang dengan senang hati mau menerbitkan karya kita.

Manfaat lainnya yang tak kalah penting ialah kita secara tak langsung bisa menginspirasi pembaca dengan tulisan kita. Pendeknya, kita bisa menjadi idola dengan menulis. Tentu banyak lagi menfaat lainnya dan saya yakin teman-teman bisa menyebutkannya.Pesan saya adalah teruslah berkarya dan mengembangkan bakat menulis kalian! Jangan pernah putus asa, saya mendukung teman-teman sepenuhnya![nsr]

* Natalia Sri Rejeki lahir di Pontianak, 21 Desember 1994. Murid yang duduk di kelas 7A SLTP Tarakanita, Citra Raya, Tangerang ini mulai menyadari bakat menulisnya pada saat duduk di kelas 3 SD. Kala itu ia mulai menulis puisi pertamanya yang langsung disukai oleh teman-temannya yang berjudul "DIA TELAH PERGI". Natalia yang biasa disapa Natal oleh teman-temannya ini mulai mengembangkan bakat menulisnya dengan membuat puluhan cerpen dan puluhan puisi. Ia telah menerima banyak penghargaan, antara lain: Juara II Lomba Membaca Puisi Hari Pahlawan, Paskah, dan Natal; Juara II Lomba Debat English Tingkat 1 di sekolah; Juara I Lomba Mengarang tentang Kenangan di Sekolah Tingkat 1 di sekolah; Juara I Lomba Mata Pelajaran (Bahasa) se-Kecamatan; Juara I Lomba Pidato English-Indonesia Tingkat 1 di sekolah, dan berbagai penghargaan lainnya di dalam/luar bidang bahasa. Kritik dan saran dapat disampaikan ke email: ody_dbest@yahoo.co.id atau Friendster-nya di: natal_sukafrappoe@yahoo.com.

MANAJER ANDAL: MANAJER JUGA MANUSIA! -

Oleh: Suyanto Suyadi

Setiap manusia yang hidup tentu ingin bekerja dan berusaha. Namun dalam proses, ia menghadapi banyak kendala dan memerlukan cara agar usahanya berhasil.

Seorang manajer andal, bukan manusia yang kaya-raya, tetapi ia adalah orang yang selalu bekerja secara optimal mempergunakan segenap kemampuannya sehingga dapat bermanfaat bagi orang lain, dapat dipercaya, serta dapat diandalkan dan dijadikan teladan.

Beberapa hal penting yang harus dijadikan landasan mendasar bagi manajer andal adalah:

Kemampuan yang ada, adalah kemampuan yang harus dibangun terlebih dahulu dalam rangka membentuk sikap mandiri dan diandalkan.

Bagaimana seharusnya, adalah tahapan berikutnya dan membentuk kemandirian. Dalam tahap ini kita akan memulai mempelajari ’how to’ guna memiliki keterampilan khusus dalam rangka mengelola pekerjaan.

Perluasan wawasan, adalah di mana seseorang mulai mengembangkan pengetahuan, keterampilan, dan kualitas pekerjaannya.

Pembinaan hubungan, ini tahap di mana kita sudah harus mampu memberikan kontribusi kepada orang lain maupun lingkungannya.

Kenali Diri Anda
”Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam keadaan susah payah.”
~ Al Qur’an – Surah Al-Balad:4

”Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.”
~ QS At-Tiin:4

Apa yang dimaksudkan dengan mengenali diri sendiri yaitu; kekuatan yang dimiliki–introspeksi, kelemahan–tahu diri dan posisi/jabatan–tidak merasa minder atau kelewat percaya diri. Mengapa banyak orang sulit mengenali dirinya sendiri?

Secara fisik – kejadian, kekuatan, kelengkapan, kecepatan. Ketika ingin sehat, ternyata masih bisa sakit juga. Daya ingat, kecepatan berpikir, melakukan analisis. Ketika ingin diingatnya, hafal ternyata masih bisa lupa. Perasaan, kepekaan terhadap orang lain, memaknai hidup ini dengan ingin selalu bebuat baik kepada orang lain. Keinginan selalu taat, ternyata masih bisa membuat kekeliruan.

Dari mana kita semua berasal? Seberapa besar kekuasaan yang kita miliki—seperti saat ini menjadi manajer dan apakah ini bisa selamanya? Siapa saja yang berperan besar dalam perjalanan diri Anda sampai dengan hari ini? Apakah itu masih bisa berlanjut sampai esok pagi? Siapa yang menciptakan air susu ibu di dalam tubuh ibu kita? Siapa yang menempelkan dan menguatkan tulang yang ada di tubuh kita? Siapa yang memberikan udara yang kita hisap secara gratis setiap saat? Mari kita renungkan!!!

Bicara dengan Data
”Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak punya pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, perasaan (hati) semua akan diminta pertanggungjawabnya.”
~ QS Al-Israa:36

Berbicaralah dengan ’hal’ bukan orang. Bagaimana orang-orang dapat memercayai kita bila kita tidak berdasarkan pada data atau fakta? Seandainya orang bertanya, ”Dari mana Anda dapat informasi itu?” Apa yang harus kita jawab?

Bertindaklah dengan ilmu dan alasan yang akurat, hindari prasangka dan ’ilmu katanya’, atau ikut-ikutan. Bersiaplah menjawab pertanyaan, ”Mengapa Anda melakukan itu?” Dan, pastikan bahwa apa yang Anda lakukan atau yang Anda katakan akan memberaikan manfaat yang nyata.

Rencana dan Hasil
Catat apa yang Anda lakukan dan lakukan apa yang Anda catat.

”Dan segala yang kecil dan yang besar adalah tertulis....”
~ QS Al-Qomaar:53

Dengan menulis, berarti Anda akan mengurangi risiko lupa. Orang sangat terbatas ingatannya. Perencanaan, adalah gambaran apa yang akan kita kerjakan. Hasil, untuk melihat apa yang sudah kita lakukan berkaitan dengan rencana tadi. Di sini perlu kejujuran dan komitmen. Seberapa jauh ’utang’ kita yang belum kita bayar/penuhi?

Pekerjaaan dan Daerah Kerja Anda
”Dan Allah menjadikan bumi untukmu sebagai hamparan. Supaya kamu menjalani jalan-jalan yang luas di muka bumi itu.”
~ QS Nuh:19-20

Apa pun pekerjaan ataupun kegiatan Anda, harus dikenali secara luas. Apa yang harus kita lakukan, mengapa kita lakukan, hasil apa yang kita inginkan, sarana apa yang kita butuhkan, berapa lama waktu untuk menyelesaikannya, dan kepada siapa saja kita berhubungan? Itu semua harus kita catat. Kalau kita menguasai pekerjaan kita, sikap ini akam membuka kemungkinan untuk mempelajari pekerjaan lain. Marilah kita lakukan catatan kecil. Pasti ada manfaatnya kalau Anda melakukan introspeksi di masa mendatang.

Tanggung Jawab
Sudah menjadi kebiasaan bagi sebagian orang manakala ditanyakan tentang pekerjaannya. ”Mengapa pekerjaan itu dilakukan?” Hampir pasti jawabannya adalah, ”Yah... begini ini pekerjaan saya.” Inilah sebuah sikap. Mari kita renungkan: Apa tugas dan tanggung jawab Anda? Apa ukuran keberhasilannya? Dan, bagaimana cara mencapainya secara terukur dan sistematis?

Waktu... waktu...waktu...
Selaku manajer andal, seberapa jauh kita sudah memberikan konsentrasi yang tinggi tentang waktu? Apakah kehidupan yang ada saat ini maupun di kemudian hari (akhirat)?

”Demi masa (satuan waktu), sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan beramal saleh dan saling menasehati agar menaati kebenaran dan menaati kesabaran.”
~ QS Al’ Ashr

Semua orang mempunyai ’jatah’ yang sama tentang waktu yaitu 24 jam, tidak lebih dan tidak kurang. Kalau kita kehilangan uang, barang, ataupun benda yang lain, itu mudah mencari gantinya. Tetapi kehilangan waktu, walaupun hanya satu detik tidak bisa mendapatkan penggantian.

Orang sering mengatakan ”The Great Day is Today”–hari terbesar adalah hari ini, bukan kemarin ataupun esok. Kemarin adalah masa lalu yang penuh kenangan. Kita hanya bisa mengingat dan menjadikannya sebagai pengalaman. Hari esok adalah asa, harapan yang berkepanjangan. Pertanyaannya adalah, apakah esok kita masih ada? Itu yang harus direnungkan. Janganlah kita mudah menyia-nyiakan waktu. Jadikan waktu menjadi sesuatu yang berarti dan bermanfaat bagi orang lain. Termasuk berperilaku baik terhadap sesama, saling mengingatkan dengan kata-kata yang menyenangkan.

Sempurnakan Pekerjaan
”Dan berbuat baiklah sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu dan janganlah kamu berbuat kerusakan di muka bumi.”
~ QS Al Qashash:77

Tentu saja tiada manusia yang sempurna, tetapi dalam melakukan pekerjaan atau melakukan sesuatu, milikilah niat baik dan ketulusan untuk meraih kesempurnaan. Ini dituntut kekuatan yang seimbang antara fisik, pikiran, dan hati.

”Dan hendaknya setiap diri memerhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok.”
~ QS Al Hasyr:18

Fisik–upaya dan tenaga yang optimal dikerahkan untuk mencapai tujuan yang diinginkan.
Pikiran–memilah antara yang benar dan yang salah, mencari pengetahuan dan cara-cara yang dapat mendukung proses pencapaian tujuan serta meminimalkan dampak yang akan terjadi.
Hati–memilah antara yang baik dan yang buruk, kepekaan terhadap kemanusian dan menentukan skala prioritas.
Banyak orang yang mendapatkan ganjaran tinggi namun bermutu rendah, atau sebaliknya mendapatkan ganjaran rendah tetapi berkualitas.

Adakah cara lain yang lebih baik ?
”Kemudian sesungguhnya Aku telah menyeru mereka secara terang-terangan. Kemudian sesungguhnya Aku menyeru mereka lagi dengan terang-terangan dan secara diam-diam.”
~ QS Nuh:8-9

Banyak orang yang mengatakan, ”Cara biasa akan mendatangkan hasil biasa.” Pasti ada cara lain. Intinya adalah perubahan. Seberapa jauh kita ingin menikmati perubahan dan berada di dalam perubahan itu? Atau, kita takut dan lari dengan adanya perubahan? Tujuannya adalah bagaiamana kita tidak terlibat terus dalam perbaikan atau pengobatan, tetapi pencegahan.

Biasakan Memberi Bantuan
Manusia normal, biasanya akan merasa puas apabila mampu membantu orang lain yang membutuhkan. Namun, ada juga yang kecewa karena bantuannya tidak diterima dengan baik atau tidak mendapatkan balas budi yang seimbang.

”Sesungguhnya Kami telah memberikan makan kepadamu hanyalah untuk mencari ridho Allah, Kami tidak mengharapkan balasan dari kamu dan tidak pula ucapan terima kasih.”
~ QS Al Insaan:9

Jalin Hubungan Positif dengan Semua Orang
Hubungan positif, tidak saja hubungan yang menyenangkan tetapi mengajak semua pihak untuk berpikir dan bertindak ke arah yang lebih baik dan benar dan dengan cara yang benar.

Yang harus diingat adalah bahwa kelebihan itu bukan untuk menyombongkan diri atau kebanggaann yang berlebihan, karena di balik itu tersimpan kekurangan dan kelebihan. Ini tidak selamanya menjadi milik Anda. Ini hanya titipan sementara dan akan melayang jauh apabila pemiliknya berkehendak untuk mengambil.

Membantu orang lain, sesuai dengan bentuk, cara, dan waktu yang dibutuhkan orang lain serta sesuai dengan kemampuan kita.

Untuk Direnungkan
Pernahkah Anda menerima bantuan? Dan, pernahkah Anda mengharap bantuan tetapi tidak ada yang datang? Pernahkan anda membantu orang lain yang membutuhkan? Bagaimana kalau orang yang membutuhkan dan tidak mendapatkan bantuan, adalah Anda sendiri? Allah telah menolong dan membatu Anda. Apa alasan Anda untuk tidak mau membantu orang lain?[ss]

* Suyanto Suyadi atau akrab dipanggil SS adalah peserta ”Two Days Workshop Writing Skill for Managers and Executives Batch VIII”. Ia adalah trainer dan konsultan personal dan organization development di PT Sedya Sandika. Saat ini sedang menulis buku bertema renungan untuk para manajer sebelum ajal. SS dapat idhubungi di email: ss_otnay@yahoo.com.

GREEN GREEN GRASS OF HOME

Oleh: Vina Tan

Ayah meninggal pada tahun 1980 ketika saya masih berumur 14 tahun. Namun tanpa disadari, ayah telah meninggalkan sebuah warisan yang tidak akan pernah terlupakan seumur hidup saya. Hal ini bermula ketika saya masih duduk di kelas 5 Sekolah Dasar (SD). Karena saya suka menyanyi, ayah sering membelikan kaset-kaset lagu berbahasa Inggris dan Mandarin untuk saya.

Suatu hari ketika suara Tom Jones sedang mengalunkan sebuah lagu yang sangat populer di tahun 1966 yaitu Green Green Grass of Home …

The old home town looks the same
As I step down from the train
And there to meet me is my Mama and Papa
……

Ayah pun bertanya apakah saya mengerti lirik lagu tersebut. Karena saat itu Bahasa Inggris belum diajarkan di tingkat Sekolah Dasar, maka saya pun menjawab tidak. Dengan senang hati dan penuh kesabaran, ayah menjelaskan arti dari lagu tersebut. Bukan itu saja, saya pun diajari bagaimana caranya menggunakan kamus Bahasa Inggris untuk lebih memahami lagu-lagu yang suka saya nyanyikan.

Terus terang, hal kecil yang ayah lakukan saat itu mampu mengobarkan rasa penasaran akan arti kata-kata baru yang saja jumpai. Awalnya dari lagu-lagu yang saya dengar, kemudian ketika saya duduk di kelas III Sekolah Menengah Atas (SMA), saya pun mulai membaca majalah berbahasa Inggris, misalnya Reader’s Digest, kemudian Newsweek, dan Business Week. Bahkan sampai hari ini, saya terus saja meningkatkan perbendaharaan kata Bahasa Inggris dari buku-buku yang saya baca.

Beberapa waktu lalu, ketika cerita ini saya sampaikan di hadapan para orangtua di seminar parenting di sebuah sekolah di Cibubur, ayah-ayah yang hadir sangat bersemangat mendengarkannya. Pesan yang saya sampaikan adalah hal sekecil apa pun jika dilakukan dengan positif dan tulus kepada anak kita pasti akan bermanfaat. Siapa tahu suatu hari nanti akan menjadi motivasi dan inspirasi seumur hidupnya seperti yang terjadi pada saya. Inilah yang saya sebut warisan positif yang ayah tinggalkan untuk saya.

Tumbuhkan Rasa Ingin Tahu dalam Diri Anak
Memiliki banyak kenangan yang indah dari orangtua telah memberikan keuntungan tersendiri bagi saya. Di saat saya diberi kesempatan oleh Tuhan untuk membesarkan anak-anak yang dititipkan Tuhan, maka saya pun selalu mencari hal-hal positif yang dapat diwariskan kepada anak-anak kelak.

Saat ini anak-anak saya, Eric dan Lisa sudah berumur 16 dan 14 tahun. Sejak kecil sampai usia SD, hampir setiap malam saya selalu mendongeng atau membacakan cerita buat mereka. Saat itu yang saya pikirkan adalah siapa tahu mendengarkan cerita akan menumbuhkan rasa ingin tahu dalam diri anak-anak. Kadang-kadang saya bercerita dua sampai tiga kalimat dan meminta mereka adu cepat untuk menyebutkan judul cerita tersebut. Di sini terlihat kalau putri saya yang kolerik selalu lebih cepat dari abangnya yang melankolis. Untuk mengimbangi adiknya, maka saya mencari cerita-cerita yang sudah didengar Eric tapi belum dikenal Lisa. Sampai hari ini mereka masih ingat kalau saya suka bercerita buat mereka.

Ketika mereka kecil, saya pun senang mendendangkan lagu buat mereka. Bahkan sampai hari ini jika ada lagu yang saya kenal sedang dinyanyikan di salah satu stasiun televisi, saya selalu ikut nyanyi. Biasanya putra saya, Eric yang suka tanya, ”Ma, apa sih judul lagu yang mama nyanyikan tadi?” Setelah tahu judulnya, biasanya Eric akan search dan download dari internet untuk disimpan agar sewaktu-waktu bisa diputar kembali.

Eric sangat menyukai dan menguasai pelajaran Matematika. Setiap ada perlombaan Matematika, dia sering diutus mewakili sekolah untuk ikut lomba. Dan, yang membuat dia semangat ikut lomba adalah karena dia ingin tahu dan penasaran dengan soal-soal apa yang akan didapatkan dari perlombaan tersebut.

Rasa ingin tahu dan penasaran ini juga yang membuat Eric dan Lisa kembali meneruskan pelajaran KUMON (belajar matematika dengan metode Kumon yang berasal dari Jepang dengan level 7A, 6A, 5A, 4A, 3A, 2A, kemudian level A, B, C sampai Q) yang sempat mereka tinggalkan selama bertahun-tahun (Eric berhenti selama lima tahun ketika masih di level L, sedangkan Lisa stop selama tiga tahun ketika masih di level H).

Saat ini mereka sudah di level terakhir yaitu level Q. Hampir tidak ada anak yang telah meninggalkan les KUMON (lebih jauh tentang KUMON lihat di http://www.kumon.co.id) selama bertahun-tahun kembali lagi untuk mencapai finish (menyelesaikan sampai akhir tingkat Q). Alasan mereka sama yaitu ingin tahu soal-soal tingkat tinggi itu seperti apa dan penasaran ingin mencapai finish.

Ketika anak-anak kita mempunyai rasa ingin tahu, maka belajar dan mengikuti pelajaran sekolah menjadi gampang. Sebagai orangtua kita tidak perlu lagi menyuruh-nyuruh mereka untuk belajar. Otomatis dengan adanya rasa ingin tahu, mereka selalu memiliki motivasi untuk belajar.

Jadi, sebagai orangtua adalah penting bagi kita untuk memupuk rasa ingin tahu dalam diri anak. Mungkin dulu ayah tidak sengaja melakukannya kepada saya. Tetapi dengan kenangan yang saya dapatkan dari ayah, saya dengan sengaja mencari jalan bagaimana bisa menumbuhkan rasa ingin tahu itu dalam diri anak-anak saya.

Orangtua zaman dulu tidak mengenal teori-teori canggih dalam mendidik dan membesarkan anak-anaknya. Mereka hanya mengandalkan naluri dan ketulusan dari lubuk hati yang terdalam. Menjadi ibu bagi kedua anak saya di zaman modern ini, mau tidak mau, suka tidak suka, telah memaksa saya untuk memadukan cara tradisional yang saya dapatkan dari orangtua saya dan cara-cara baru yang saya dapatkan dari buku-buku parenting yang pernah dan masih saya baca sampai hari ini.

Alasannya adalah saya ingin warisan positif yang ditinggalkan ayah saya akan terus hidup di dalam diri anak-anak saya agar dapat diteruskan kepada generasi berikutnya.[vin]

* Vina Tan adalah nama panggilan Wivina Tampusari, seorang Parent Coach. Alumnus workshop SPP “Cara Gampang Menulis Buku Bestseller” Angkatan ke-2 ini sedang menyusun sebuah buku tentang keluarga dan parenting. Ia dapat dihubungi di nomor 021-5604207 atau melalui email: vina.coach@yahoo.com

BENARKAH TUHAN ITU ADIL?

Oleh: Syahril Syam

Tidak sedikit orang yang mengeluh dengan keadaan mereka, atau karier mereka, atau keuangan mereka, atau pencapaian kesuksesan mereka, atau apa saja yang tidak sesuai dengan keinginan mereka. Keluhan ini biasanya berpuncak pada menyalahkan Tuhan. Diri sendiri sudah disalahkan, orang lain pun disalahkan, dan karena sudah tidak ada lagi yang harus disalahkan, maka Tuhan pun ikut disalahkan. Menyalahkan Tuhan ini–apa pun bentuknya–biasanya hanya berujung pada satu masalah utama, keadilan. Tuhan biasanya dianggap sebagai tidak adil dengan membeberkan fakta keadaan mereka. Tapi, benarkah Tuhan itu tidak adil? Kenapa ada yang miskin dan ada yang kaya? Kenapa ada yang sukses dan ada yang gagal? Kenapa? Kenapa? Kenapa?

Untuk menjawab pertanyaan ini, saya ingin mengajak Anda melihat penuturan argumen yang akan saya berikan. Argumen ini dilandasi atas pemikiran filosofis. Tapi tenang saja, saya akan mencoba menyederhanakan argumennya, karena jika sudah berbicara tentang filsafat, maka banyak orang yang merasa pusing dan menyerah. Namun sebelumnya, perlu Anda ketahui bahwa banyak sudah pemikiran filsafat dari berbagai aliran yang mencoba menjawab pertanyaan ini. Saya pun sudah mempelajari hampir semua aliran filsafat yang menjawab pertanyaan ini, dan dari sekian banyak aliran pemikiran tersebut saya akan memberikan kepada Anda satu pemikiran yang menurut saya inilah yang terbaik, dalam menjawab seputar keadilan Tuhan tersebut.

Satu hal lagi, saya sengaja menuliskan tulisan ini, sebenarnya, untuk mengajak kita semua agar tidak lagi menyalahkan Tuhan, karena sesungguhnya Tuhan itu Maha Adil. Selain itu, argumen yang biasa orang-orang kemukakan belum terasa puas bagi saya (saya tidak bermaksud menyombongkan diri, lho).

Mari kita melihat defenisi dari keadilan itu dulu. Keadilan menurut Murtadha Muthahhari–paling tidak–digunakan dalam empat hal: Pertama, seimbang. Kesimbangan yang dimaksud di sini adalah kita melihat segala sesuatu dalam neraca kebutuhan yang bersifat relatif. Mari kita ambil contoh: mobil.

Untuk menciptakan sebuah mobil maka dibutuhkan berbagai bahan-bahan yang sesuai dengan kadarnya masing-masing. Kita tidak bisa membuat sebuah mobil dengan kadar semua bahannnya itu sama, karena jika terjadi demikian maka Anda tidak akan pernah bisa membuat mobil yang sempurna. Jika saja Anda membuat sebuah mobil yang terbuat dari bahan-bahan yang kadarnya semuanya sama, maka justru Anda telah menciptakan ketidakseimbangan pada mobil tersebut. Ukuran bodi mobil tidaklah harus sama dengan ukuran pintunya, begitu juga ukuran mesinnya, apalagi ukuran setirnya.

Bisa Anda bayangkan bagaimana mengemudi sebuah mobil yang ukuran setirnya sama dengan ukuran bodinya? Jadi, kesimbangan di sini adalah penempatan segala sesuatu sesuai dengan kadarnya, sesuai dengan kepentingan dan kebutuhannya. Dan alam semesta ini seimbang karena menggunakan defenisi keadilan ini. Karena jika tidak, maka alam semesta sudah lama hancur. Itulah sebabnya kita melihat segala sesuatunya di alam ini begitu indah dan proporsional. Dan, Tuhan telah menciptakan alam semesta ini dengan sangat seimbang.

Kedua, defenisi keadilan di sini adalah persamaan dan menafikan pembedaan, yaitu memandang semuanya sama tanpa melakukan pembedaan. Perlu diketahui bahwa pembedaan itu adalah membeda-bedakan antara berbagai sesuatu yang memiliki hak yang sama yang semuanya memiliki syarat-syarat yang sama. Pembedaan ini berbeda dengan perbedaan. Kalau pembedaan terjadi dari segi pemberi, dan perbedaan terjadi dari segi penerima. Kalau Anda memiliki 10 orang pekerja yang memiliki kualitas yang sama dan jam kerja yang sama serta jenis pekerjaan yang sama, maka adalah adil jika Anda memberikan persamaan pada mereka, yaitu memberikan jumlah gaji yang sama kepada mereka semua. Artinya dari sisi Anda (sang pemberi gaji), Anda tidak membeda-bedakan mereka semua karena semuanya memiliki kualitas yang sama. Jadi sekali lagi, keadilan di sini adalah memberikan persamaan tanpa melakukan pembedaan.

Lanjutan dari defenisi kedua ini kita akan sampai pada defenisi yang ketiga, memelihara hak-hak individu dan memberikan hak kepada setiap orang yang berhak menerimanya. Kembali kita menggunakan contoh di atas, jika Anda memiliki 10 orang pekerja dan masing-masing dari mereka memiliki kekhasan atau keunikan dalam bekerja, maka adalah adil jika Anda memberikan gaji sesuai dengan keunikan dan usaha yang telah mereka lakukan dan adalah tidak adil jika Anda menyamaratakan gaji mereka semua. Oleh sebab itu, untuk meraih kebahagian bagi individu-individu dalam masyarkat, penting kiranya untuk menjaga hak dan preferensi setiap individu dan juga memelihara setiap keunikan setiap individu.

Kita sekarang sampai pada defenisi yang keempat, memelihara hak atas berlanjutnya eksistensi, dan tidak mencegah kelanjutan eksistensi dan peralihan rahmat sewaktu terdapat banyak kemungkinan untuk eksis dan melakukan transformasi. Wah… mungkin Anda bingung dengan defenisi yang agak panjang ini. Namun perlu untuk Anda ketahui, pertanyaan-pertanyaan yang kita telah ajukan di atas berkaitan dengan penjelasan yang ada pada defenisi keempat ini. Sebelumnya kita perlu melihat–sekali lagi–antara pembedaan dan perbedaan. Pada defenisi kedua kita telah membahas dengan ringkas, maka mari kita lihat penjelasannya dengan sedikit lebih panjang.

Dalam penciptaan tidak ada pembedaan, yang ada hanyalah perbedaan. Untuk lebih jelasnya, cobalah Anda melihat contoh berikut ini: Apabila kita mengambil dua buah bejana yang masing-masing dapat memuat 10 liter air, lantas kita letakkan yang satu di bawah kran air dan kita isi dengan 10 liter air, sedangkan bejana yang lain kita letakkan di bawah kran dan kita isi dengan 5 liter air; maka inilah yang dimaksud dengan pembedaan, sebab sumber perbedaan di sini bukan dari segi daya muat bejana, melainkan dari segi si pengisi bejana.

Lain halnya jika kita memiliki dua buah bejana dan yang satu cukup untuk diisi 10 liter air, dan yang lainnya hanya dapat diisi 5 liter air, lantas masing-masing kita celupkan ke dalam laut, maka perbedaan di antara keduanya akan terus berlanjut, karena perbedaannya bersumber dari segi kemampuan masing-masing, bukan dari segi laut atau kekuatan masuknya air ke dalam bejana. Bukankah penelitian-penelitian telah membeberkan kepada kita bahwa potensi yang diberikan oleh Tuhan kepada kita semua adalah sama?

Jadi perbedaan antara yang sukses dan yang gagal itu berasal dari kita sendiri: Apakah mau memperbesar bejana kita atau hanya membiarkannya begitu saja dan berharap hal itu akan berubah? Semua hamba-Nya telah diberikan jumlah rezeki yang sama dan sangat berlimpah, hanya ada yang menampung rejeki Tuhan dengan bejana yang sangat besar, dan ada yang menampung rejeki Tuhan dengan bejana yang sangat kecil sekali.

Nah kembali pada defenisi keempat di atas, dapat kita jabarkan bahwa suatu yang eksis (meng-ada) mengambil perwujudan dan kesempurnaannya dalam kadar yang menjadi haknya dan sejalan dengan kemungkinan yang dapat dipenuhi olehnya. Dalam pengertian ini, keadilan Tuhan dipandang sebagai Dia tidak mengabaikan pemilikan hak dan kelayakan yang dimilki oleh sesuatu yang ada; Dia mesti memberikan sesuatu yang menjadi haknya.

Sampai di sini mungkin ada yang bertanya: Kalau saat ini saya miskin, maka inilah hak saya? Atau, pertanyaan-pertanyaan serupa yang berkaitan dengan keburukan, ketidakberuntungan, nasib jelek, dan kejahatan; atau kenapa yang lain sukses dan yang lainnya gagal, atau kenapa yang satu cantik dan yang lain jelek? Kenapa ada juga yang cacat? Kenapa saya tidak terlahir kaya?

Mari kita lihat kembali penjabaran dari defenisi keempat di atas. Suatu yang eksis (meng-ada) mengambil perwujudan dan kesempurnaannya dalam kadar yang menjadi haknya dan sejalan dengan kemungkinan yang dapat dipenuhi olehnya. Dalam pengertian ini, keadilan Tuhan dipandang sebagai Dia tidak mengabaikan pemilikan hak dan kelayakan yang dimilki oleh sesuatu yang ada; Dia mesti memberikan sesuatu yang menjadi haknya. Segala sesuatunya pasti memiliki kadar yang berbeda-beda. Jika segala sesuatunya itu sama, maka justru tidak lagi yang disebut sebagai manusia, tumbuhan, hewan, dan lain-lain. Segala sesuatu yang ada ketika eksis (meng-ada) telah mengambil porsi perwujudan mereka masing-masing.

Mari kita sederhanakan hal ini dengan melihat sistem angka. Anda tentu mengenal angka 1, 2, 3, dan seterusnya. Kita dapat melihat bahwa angka 1 mendahului angka 2, dan angka 2 mendahului angka 3, dan begitu seterusnya. Ini berarti bahwa setiap angka menempati urutannya masing-masing, dan pada urutan tersebut terdapat hukum dan pengaruh. Anda tidak mungkin menempatkan angka 5 di antara angka 7 dan 9, karena sesungguhnya wujud yang sesuai dengan kadarnya di antara angka 7 dan 9 adalah angka 8.

Nah, dalam setiap penciptaan alam semesta, segala sesuatunya telah menempati urutan meng-ada seperti itu; dengan kata lain Anda dan segala sesuatu yang ada telah meng-ada sesuai dengan kadar yang dimilikinya. Dan adalah suatu ketidakadilan jika Tuhan justru melanggar hal ini karena telah mencegah kelanjutan eksistensi dari sesuatu dan kemungkinan terciptanya sebuah transformasi. Dengan demikian segala sesuatunya itu–yang tercipta sesuai dengan kadarnya–adalah suatu bentuk kesempurnaan yang Tuhan berikan. Dan ini adalah prinsip dari hukum sebab-akibat, di mana setiap akibat pasti memiliki pengaruh dari sebabnya, dan setiap sebab pasti mendahului akibat. Angka 1 mendahului angka 2, dan keberadaan angka 2 terdapat hukum dan memiliki pengaruh dari angka 1. (Saya mohon Anda jangan menanyakan: Lantas apa yang menjadi penyebab dari Tuhan? Karena jawaban untuk pertanyaan ini tidak sesuai dengan maksud dari tulisan ini).

Itulah sebabnya, yang ada itu hanyalah perbedaan dan bukan pembedaan. Tuhan telah melimpahkan rahmatnya, hanya saja perbedaan itu terjadi sesuai dengan kadarnya dan urutan kepenciptaannya, yang berlandaskan pada hukum sebab-akibat (seperti analogi angka di atas). Angka 1 tentu berbeda dengan angka 2. Angka 2 tentu berbeda dengan angka 3, dan begitu seterusnya. Setiap angka telah menduduki urutan terciptanya dan telah sesuai dengan kadarnya. Setiap angka itu telah sempurna dan sesuai dengan kadarnya.

Jadi, jika Anda berharap untuk dilahirkan sebagai seseorang yang Anda anggap sempurna, maka pada hakikatnya Anda sudah tidak menjadi Anda lagi (lihat analogi penempatan angka di atas). Adalah sebuah hal keliru jika kita mencoba membandingkan antara angka 1 dan angka 2, atau membandingkan angka 2 dengan angka 3. Bagaimana pun kita membandingkan, yang ada hanyalah perbedaan; karena seperti yang telah kita singgung di atas bahwa perbedaan itu terjadi dari sisi kadar si penerima dan urutan keberadaannya.

Perbedaan tidak mengisyaratkan ketidaksempurnaan, tetapi kesempurnaan. Mengatakan yang satu tidak sempurna dibandingkan yang lain adalah suatu pemikiran yang mencoba memaksa untuk menyamakan segala sesuatunya. Dan seperti yang telah saya katakan di atas, jika segala sesuatunya itu sama, maka tidak ada lagi yang disebut sebagai manusia, tumbuhan, atau hewan, atau apapun namanya. Pada dasarnya semuanya adalah sempurna dalam kadarnya masing-masing.

Itulah sebabnya dalam defenisi keempat juga disebutkan bahwa terdapat banyak kemungkinan untuk eksis dan melakukan transformasi. Perbedaan itu justru mengisyaratkan kenapa ada yang disebut dengan dinamika, usaha, cinta, cumbu rayu, penderitaan, kesengsaraan, cemburu, kesuksesan, kehancuran, dan kehangatan. Jadi jika Anda protes kepada Tuhan dan berharap Tuhan menciptakan semua itu sama, maka pada dasarnya akan menyebabkan tidak adanya sesuatu yang baik dan indah, semangat dan dinamika, perjalanan dan transformasi. Karena itu, “Di pabrik cinta harus ada kekufuran,” demikian syair Hafizh.

Dengan demikian apa pun yang Anda alami adalah suatu bentuk kesempurnaan dalam kadar yang Anda miliki. Hal ini menjelaskan juga kenapa setiap orang itu tidak ada yang sama alias unik. Apapun adanya Anda sekarang dan bagaimana diri Anda sekarang adalah ciptaan Tuhan yang sempurna. Membandingkan dua hal yang berbeda adalah suatu hal yang tidak bijaksana dan sangat keliru. Kesempurnaan Anda dengan kadar Anda saat ini juga memberikan kemungkinan yang sangat besar untuk melakukan sebuah transformasi dan kemungkinan eksistensi (perbaikan) yang lebih baik.

Oleh karenanya, saya ingin mengajak Anda untuk melihat contoh yang begitu menarik. Contoh ini berkisah dari seekor anjing yang saya tonton di acara Oprah. Terdapat seekor anjing yang terlahir cacat (ingat, kita menyebutnya cacat karena kita membandingkannya dengan anjing normal lainnya). Anjing ini bernama Faith dan terlahir dengan hanya memiliki dua kaki belakang. Dalam pandangan keadilan, ini adalah sebuah kesempurnaan yang sesuai dengan kadarnya. Jika Anda membandingkannya dengan anjing yang memiliki jumlah kaki empat, maka sesungguhnya Anda akan mengatakan Faith sebagai anjing yang cacat. Padahal Faith adalah anjing yang sempurna yang sesuai dengan kadarnya. Jangan membandingkan dua hal yang tidak sebanding; dua kaki dan empat kaki itu tidak sebanding.

Yang membuat saya berdecak kagum adalah, dalam kadarnya yang demikian, Faith masih bisa melakukan kemungkinan eksistensi (perbaikan diri; transformasi). Faith sekarang bisa berjalan dengan hanya menggunakan dua kakinya yang ada, padahal banyak dokter yang menyarankan untuk membunuh anjing tersebut dengan melihat kemungkinan bahwa Faith takkan bisa berjalan sama sekali. Luar biasa, bukan?

Percayalah bahwa Tuhan memberikan rahmat dan kelimpahannya yang sama kepada semua makhluk, dan Anda bisa melakukan transformasi untuk membuat bejana Anda menjadi lebih besar. Perbedaan mengisyaratkan transformasi. Sekiranya tak ada gunung, maka tak akan mungkin ada lembah dan air yang mengalir darinya. Sesuatu yang Anda anggap buruk belum tentu buruk bagi dirinya sendiri; karena–sekali lagi– embandingkan dua hal yang tidak sama adalah tidak pada tempatnya. Dan Tuhan tentu memelihara segala sesuatunya yang berada dalam kadarnya masing-masing. Jadi, tidak ada alasan untuk mengatakan bahwa Tuhan itu tidak adil. Anda telah sempurna dalam posisi Anda saat ini, dan Anda bisa melakukan transformasi bagi diri Anda sendiri. Semoga bermanfaat!!![ss]

* Syahril Syam adalah seorang konsultan, terapis, publik speaker, dan seorang sahabat yang senantiasa membuka diri untuk berbagi dengan siapa pun. Beliau memadukan kearifan hikmah (filsafat) timur dan kebijaksanaan kuno dari berbagai sumber dengan pengetahuan mutakhir dari dunia barat. Teman-temannya sering memanggilnya sebagai Mind Programmer, dan dapat dihubungi melalui ril_faqir@yahoo.com.

ENLIGHTENMENT OF SESAT MENYESAT

-
Oleh: Roni Djamaloeddin

Sesat menyesat, seolah menjadi bagian peradaban manusia. Hampir di setiap masa (zaman), tudingan "miring" ini ada. Akhir-akhir ini pun ia mencuat kembali. Misalnya tuduhan sesat yang ditujukan pada Al Qiyadah Al-Islamiyah, Al Quran Suci, maupun puluhan aliran “sesat” lainnya, hingga yang cukup memprihatinkan tudingan yang dialamatkan pada aliran Ahmadiyah (karena disertai tindakan anarkis dan perusakan).

Klaim sesat sebelumnya juga pernah diberikan pada kelompoknya Lia Aminuddin--yang mengaku menerima wahyu dari Malaikat Jibril. Jauh sebelumnya ia disandangkan pada Al Hallaj--yang karena mengaku "akulah Tuhan" lantas dipenggallah kepalanya.

Kejadian serupa sebenarnya juga telah menimpa kaum muslim sepeninggal Nabi SAW. Kaum Khawarij diklaim sesat karena tidak mau taat pada pemimpinnya, yang kemudian memisahkan diri dari pasukannya Sayidina Ali (saat perang shiffin). Saling sesat menyesat juga terjadi antara Syiah-Sunni, serta masih sangat banyak lagi kasus serupa lainnya.

Yang menarik dan bertahan cukup lama adalah vonis sesat yang diberikan pada Syeh Siti Jenar--berikut ajarannya. Walau kejadiannya sudah sangat lama (beberapa abad silam), namun fenomena kesesatannya masih "abadi" sampai sekarang. Terbukti dengan banyaknya para penulis yang membahasnya menjadi buku. Puluhan buku telah lahir dengan topik yang nyaris sama.

Lebih dari itu, apa sebenarnya fenomena sesat (tersesat) itu sendiri, sehingga begitu gampang ditudingkan? Siapa yang paling berhak memutusnya? Dan bagaimana menyikapi secara arif berdasar kebijakan Tuhan?

Makna Praktis
Dalam kamus bahasa Indonesia, sesat didefinisikan tidak tahu jalan, salah jalan, keliru, berbuat tidak senonoh, berbuat buruk dan melanggar aturan kebenaran (agama, adat, dsb). Definisi ini sifatnya masih umum, karenanya perlu diperjelas agar lebih konkret.

Secara logika (perihal perjalanan), sesat (tersesat) adalah tidak sampainya sebuah perjalanan pada tujuan yang semestinya. Andai perjalanan itu menuju Roma, maka yang dikatakan sesat (tersesat) adalah bila perjalanan yang dilakukan tidak mengantar pejalannya sampai Roma. Singkatnya, selama suatu perjalanan itu tidak sampai pada tujuan yang dikehendaki, tersesat namanya.

Dari definisi praktis ini nampak jelas bila hakikat sesat (tersesat) adalah ending-nya. Bukan teori, rencana, aksi, strategi, apalagi sekadar pemikiran tentangnya. Karenanya, proses mencapainya bisa diabaikan. Yang penting akhirnya, sampai tujuan atau tidak. Walaupun jalan ke arah tujuan itu beribu-ribu banyaknya, tidak otomatis menjadikan pejalannya sampai, masih dimungkinkan tersesat.

Sebaliknya, walau jalan yang dilewati itu sama sekali baru, yang biasanya cara-cara seperti ini menurut penganut paham “konvensional-tradisional” dituding sebagai jalan (aliran pemikiran) yang sesat menyesatkan, masih dimungkinkan sampai tujuan. Misalnya pejalan yang menggunakan ilmu "menembus bumi" (miliknya Ontorejo, tokoh wayang) ataupun ilmu "panglimunan" (bisa menghilang), yang memang tidak terjangkau oleh pemikiran konvensional-tradisional, namun bisa mengantar pejalannya sampai tujuan.

Definisi dan gambaran sesat (tersesat) tersebut jelas sekali rasionalnya. Pikiran sehat dapat menangkap kebenarannya. Oleh karenanya, suatu peristiwa (perjalanan) yang mengacu sebagaimana konsep di atas, maka tudingan sesat (tersesat) memang layak bila diberikan.

Contoh sederhana tudingan sesat yang layak diberikan adalah seorang musafir yang buta (matanya) berjalan menuju Roma. Ia berangkat tanpa persiapan peta dan konsep apa-bagaimana Roma itu sebenarnya, maupun langkah yang harus diambil menuju kotanya. Ia hanya mengandalkan pemikiran dan pengalaman yang dimiliki. Ia juga "gengsi" bertanya pada siapa pun. Maka dapat dipastikan bila si musafir ini 99,99 persen akan tersesat. Tidak akan sampai Roma.

Tetapi sebaliknya, walau buta, bodoh tidak tahu apa, tidak pernah sekolah sama sekali, tapi mau mencari dan bertanya (berguru) pada yang tahu pasti tentang Roma, serta pasrah bongkokan di hadapan “guru” yang membimbing perjalanannya, tidak berselisih paham sedikit pun atas nasehat, anjuran, pitutur, maupun tuntunan yang diberikan sang pembimbing, maka dapat dipastikan bila 99,99 persen akan berhasil sampai Roma. Kemungkinan tersesatnya sangat kecil.

Namun bila si pejalan itu sehat bugar, pikirannya pun juga normal, maka tudingan sesat sama sekali tidak layak diberikan. Sebab, kemungkinan sampai tujuan sangat besar, walau tidak menutup kemungkinan bisa tersesat pula.

Itu adalah contoh yang sangat sederhana, sangat jelas, dan sangat rasional. Akal dapat menangkap secara pasti nilai kebenarannya. Akal juga dapat memprediksi seberapa besar potensi tersesat tidaknya, bila suatu perjalanan tidak berdasar teori logis-praktisnya.

Lantas, bagaimana dengan agama? Sejauh mana sesat (tersesat) dapat digambarkan secara jelas?

Tinjauan Ilmu Pengalaman
Secara sufism-experience, definisi sesat (tersesat) dalam agama tidak jauh beda dengan gambaran orang buta di atas. Hampir (mirip) sama. Cuma bedanya terletak pada objek tujuannya. Bila sesat tidaknya musafir buta objek tujuannya real (nyata, dan dapat ditangkap oleh akal pikiran), maka dalam agama objeknya imajiner-irrasional (tidak nyata dan tidak dapat ditangkap oleh akal pikiran).

Sebab objek tujuannya adalah Tuhan Sang Pencipta manusia. Ia tidak dapat dijangkau oleh akal pikiran sedikit pun, tapi logika mengakui keberadaan-Nya. Irrasionalnya, keberadaan objek tujuan ini justru sangat-sangat dekat. Lebih dekat Ia dibanding urat nadi lehernya sendiri. Bahkan lebih dekat Dia dibanding napasnya sendiri. Namun, sekali lagi, kedekatan sang objek tujuan ini tidak dapat dijangkau oleh akal pikiran. Tetapi dapat dijangkau oleh hati nurani--yang di dalamnya meliputi roh dan rasa (unsur dasar/utamanya manusia).

Oleh karenanya, pandangan agama (khususnya pengalaman saya), sesat (tersesat) adalah tidak bisanya manusia (yang asalnya dari Tuhan) kembali pada pencipta-Nya. Lonceng kematian sebagai pintu pulang kembali pada-Nya, tidak mengantar rohnya kembali (masuk) ke alam asalnya (alamnya Tuhan). Roh yang lepas dari jasadnya kemudian terdampar di alam lain. Masuk ke alamnya jin, demit, hantu, setan, gendruwo, memedi, pocongan, maupun “alam penasaran” lainnya (alamnya makhluk gaib diluar alamnya manusia yang tidak dapat dijangkau oleh indra, tetapi bukan alamnya Tuhan).

[Bila sementara ini ada persepsi bahwa setiap kematian “pasti” masuk (kembali) ke alamnya Tuhan, maka persepsi seperti ini bagaikan pendapatnya “suku pedalaman” (komunitas terbelakang pendidikannya) yang menganggap TV adalah sihir. Mempersepsi ilmu lain yang sama sekali belum pernah dikaji dan didalami, dari sudut pandang pengetahuan-pengalamannya sendiri. Sebuah sikap yang sama sekali tidak rasional, karena hanya didasari duga-duga, kira-kira, maupun prasangka belaka dari tempat yang jauh.]

Inilah yang dikatakan sesat (tersesat). Ia bisa menimpa siapapun tanpa memandang agama yang dianutnya. Ia bisa menimpa kelompok mana pun tanpa membedakan golongan dan jumlah pengikutnya. Ia juga tidak mempedulikan siapa imamnya, bagaimana kesaktian-kharisma-kondangnya, seberapa banyak penganutnya, seberapa banyak kitabnya, dst-dsb. Yang dilihat hanya ending-nya, kematiannya. Asal matinya tidak masuk kembali ke alamnya Tuhan, tersesat namanya.

Definisi inilah yang “pas” dengan gambaran orang buta di atas. Bila sementara ini begitu mudahnya cap/tuduhan aliran A-B-C..., ataupun bahkan agama 1-2-3... adalah agama/aliran sesat dan menyesatkan, kiranya terlalu naif-gegabah bin pongahnya pongah. Sebab Tuhan sendiri nyatanya tidak memandang jenis/nama agama yang dipeluk manusia, apalagi sekadar aliran/mazhab. Bahkan sebaliknya, semua agama--tentu saja beserta semua turunan/pecahan aliran/mazhabnya--sama di hadapan-Nya.

Sebagaimana Undang Undang Mutlak (UUM)-Nya : "Sesungguhnya orang-orang mu'min, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan orang-orang Shabiin, siapa saja diantara mereka yang benar-benar beriman kepada Allah, hari kemudian dan beramal saleh, mereka akan menerima pahala dari Tuhan mereka, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati" (QS.2:62).

Ayat ini jelas sekali bila Tuhan memang tidak memandang jenis agama yang dianut manusia, apakah agama 1-2-3...maupun agama “bumi" buatan manusianya sendiri. Dia juga tidak mencap/menuduh bila aliran A-B-C... yang ada pada masing-masing agama itu sesat menyesatkan.

Tetapi Dia hanya melihat bagaimana mereka semua merealisasikan beriman pada Diri-Nya "pas" dengan kriteria yang Dia kehendaki. Berimannya pas dengan bimbingan “maha duta” (utusan/khalifah)-Nya. Bukan beriman sebagaimana kriteria yang dibawa oleh pengajar agama dan apalagi kriteria buatan (reka-reka, ciptaan, dan serangkaian analisis) manusianya sendiri. Dan bukan pula beriman berdasar warisan pemikiran pendapat adat para nenek moyang.

Sehingga logika-implementasinya, mereka yang berimannya tidak pas menurut kriteria-Nya, itulah yang kemungkinan besar akan tersesat. Tidak bisa kembali pada-Nya. Akan mendapat azab-Nya yang luar biasa. Akan merasakan penyesalan yang hebat ketika pintu pertemuan dengan-Nya (kematian) telah terbuka. Sebab, hati nurani roh dan rasanya “buta” atas Wujud (Dzat) Tuhan yang diimani--disebabkan berimannya pada Wujud/Dzat-Nya hanya duga-duga, kira-kira, katanya-katanya, yang memang tidak pernah ditanyakan pada yang ahli tentang-Nya. Oleh karenanya, mestinya, yang paling berhak memutus sesat tidaknya suatu aliran/mazhab, bahkan agama itu sendiri hanyalah Tuhan Sang pemilik agama. Yang paling tahu benar tidaknya beriman seseorang (pada Tuhannya) juga hanya Tuhan sendiri. Manusia sangat tidak pantas memvonis agama--berikut aliran/mazhab yang ada di dalamnya--sesat menyesatkan. Manusia (sebagai makhluk-Nya) sangat tidak pantas mencampuri urusan Tuhannya. Sebab urusan mati--berikut sesat tidaknya--adalah di tangan Tuhan. Tak seorang pun tahu rahasia besar-Nya.

Namun bila di sekitar kita ada kelompok yang mencap/menuduh suatu aliran itu sesat menyesatkan, seyogianyalah diingatkan, diberi pencerahan, dan lebih mulia lagi didoakan (dimohonkan ampun disisi-Nya). Tentu saja dengan cara-cara yang sangat bijaksana. Atau paling tidak dikatakan “bagimu agama/keyakinanmu bagiku agama/keyakinanku, masing-masing diri berhak dan bertanggungjawab atas keyakinan dan amalnya sendiri-sendiri.”

Sangat tidak pantas bila lantas main hakim sendiri. Merasa paling benar di sisi-Nya. Kemudian dengan seenaknya menuduh sesat pada sesamanya. Apalagi disertai tindakan anarkis. Padahal si penuduh sendiri kemungkinan tersesat terbuka besar, sebab belum tahu pasti hakekat tersesat.

Sebuah Solusi
Karena itu, yang perlu diingat-ingat selama nyawa masih dikandung badan adalah bahwa sesat tidaknya masa depan kita nanti di sisi-Nya adalah akibat sikap dan tindakan kita sekarang. Yang akan menanggung akibatnya pun kita juga. Bukan imam/pemimpin yang kita anut ajaran-fatwanya. Bukan nenek moyang yang kita warisi pengetahuan-pemahaman-pengalamannya. Dan bukan pula mereka yang kita ikuti ajakannya bergabung aliran/mazhab--bahkan agama--yang mereka yakini. Masing-masing diri bertanggung jawab penuh terhadap kehidupan (agama dan keyakinan)-nya sendiri-sendiri.

Oleh karenanya, mencari ilmu langit di atas langit “mutlak” harus dilakukan. Nabi Musa yang adalah rasul-Nya dipaksa oleh-Nya mengakui ungkapan ini--walau akhirnya gagal. Harapannya, sedikit bisa mengintip misteri yang menggelitik pikiran: “Samakah orang yang berilmu dengan yang tidak berilmu?”, “Apakah kamu tidak berpikir (QS. 3:65)?”, “Mengapa kamu tidak mencari ‘ilmu atas langit’ sampai ke penjuru dunia?”, “Mengapa kamu begitu linglung bin bloon dikuasai nafsu dan pikiranmu?”. [rd]

* Roni Djamaloeddin adalah seorang pendidik dan penulis. Ia dapat dihubungi di email: ronijamal@yahoo.com.

DUNIA KERJA DAN PENDIDIKAN
Oleh: Agustinus Prasetyo

Seorang teman bertanya kepada saya apakah saya mempunyai relasi yang kompeten untuk bekerja. Saya heran dan bertanya apa masalahnya. Usut punya usut ternyata teman tadi sudah berulang kali mengiklankan lowongan di kolom baris tetapi hasil yang didapat sungguh mengecawakan karena para pelamar tidak menguasai ilmu yang mereka pelajari di sekolah/perguruan tinggi. Sebagai contoh seorang lulusan akuntansi ketika ditanya apa itu neraca atau apa itu laba rugi tidak dapat memberikan jawaban yang benar . Jadi, apa yang terjadi dengan dunia pendidikan di Indonesia?

Masalah Dunia Pendidikan
Kita sepakat bahwa pendidikan adalah hal yang penting dan anak-anak pada masa sekarang jauh lebih pintar dari anak-anak pada jaman orangtuanya atau kakek/neneknya saat masih muda. Bertolak dari hal ini maka seharusnya tidak ada kesulitan bagi mahasiswa sekarang untuk menjawab pertanyaan seperti di atas.

Salah seorang praktisi dunia pendidikan yang sering mengadakan seminar mengenai dunia pendidikan mengatakan bahwa hal tersebut karena anak sejak kecil dibiasakan menghafal hal-hal yang kurang relevan/kurang terkait dengan skill of life. Akibatnya, kreativitas anak menurun drastis dan karena hal yang dihafalkan tadi kurang terkait dengan realitas (pengulangan minim sekali) maka akan terjadi moto yang salah yaitu “Banyak belajar banyak lupa”.

Menurut buku Genius Learning Strategy karya Adi W. Gunawan, ada beberapa sebab berikut ini.
Pengujian yang bertumpu pada hasil akhir
Keinginan tahu anak belum banyak dirangsang
Lingkungan belajar yang belum mendukung

a) Selama ini, di sekolah maupun dunia kerja, orang terpaku pada hasil akhir. Di sekolah nilai seorang anak ditentukan pada saat ulangan di akhir masa belajar (atau Unas) sedangkan proses belajar anak selama setahun penuh diabaikan. Demikian pula di dunia kerja yang disorot adalah hasil akhir. Contoh yang jelas adalah petinju kebanggaan Indonesia – Chris Jon. Orang sering hanya berkomentar, oh enak ya Chris Jon punya uang banyak. Namun, mereka tidak melihat bagaimana proses Chris Jon mencapai semuanya itu – bagaimana seorang anak umur enam tahun merelakan waktu bermainnya digantikan berlatih lari keliling lapangan atau meninju batang pisang.

Sebuah perjalanan panjang dimulai dari satu langkah kecil. Masalah lain yang terkait dengan pengujian bertumpu pada hasil akhir adalah orang cenderung memilih jalan yang termudah -à “membeli hasil akhir”. Akhirnya, sering kita baca adanya oknum yang menjual bocoran jawaban soal ujian. Juga menyebabkan bisnis les menjamur (bukan berarti penulis tidak setuju les. Namun, menurut hemat penulis ada les yang perlu dan ada yang kurang perlu).

b) Salah satu sebab mengapa anak enggan belajar karena mereka tidak tahu mengapa mereka harus belajar hal tersebut. Sebagai contoh mahasiswa akuntansi diajarkan teori mengenai buku besar dan buku pembantu di antaranya kartu piutang tapi tidak dijelaskan mengapa hal tersebut harus dibuat (sebab dianggap sudah seharusnya mengerti karena juga diajarkan mengenai sistem pengendalian intern dalam semester yang lebih tinggi). Akibatnya ketika bekerja mereka sering lupa membuatnya atau bagaimana cara membuatnya sehingga atasan mereka menjadi jengkel dan mengeluh tentang mutu lulusan sekarang.

c) Bagaimana mungkin seorang anak dapat belajar dengan baik bila atap sekolah bocor atau sekolah terendam banjir bahkan lumpur (Lapindo) ? Pada beberapa anak mungkin bisa tapi secara umum hal tersebut menghambat proses belajar mengajar di sekolah. Yang harus diingat bahwa pemeliharaan sekolah memerlukan biaya yang tidak kecil. Untuk membuat biaya pendidikan terjangkau diperlukan bantuan pemerintah atau para donatur yang lain.

Selain tiga hal tadi yang patut diperhatikan adalah kecenderungan orangtua agar anaknya mendapatkan nilai bagus. Yang patut disadari adalah nilai bagus di sekolah atau IQ yang tinggi hanya mencerminkan kecerdasan logika (dan sebagian kecerdasan bahasa) padahal menurut Howard Gardner dalam buku Multiple Intellegence ada enam kecerdasan lain yang bisa dimiliki seorang anak.

Melangkah untuk memutus lingkaran setan masalah dunia pendidikan.

Akhirnya, sering terjadi lingkaran setan–pendidikan yang baik memerlukan biaya yang tidak sedikit. Padahal, hanya sedikit orang yang mampu membayarnya padahal pendidikan merupakan salah satu hak asasi manusia.

Salah satu hal yang sering dilupakan orang adalah orangtua adalah guru yang pertama dan utama bagi anak-anaknya. Hendaknya para orangtua tidak meletakkan tugas pendidikan anaknya pada sekolah yang terbatas waktu bertemunya dengan anak.

Bagaimana dengan orangtua yang sibuk? Kita hendaknya bisa membedakan antara kualitas dan kuantitas bertemu dengan anak. Ada satu hal lagi yang perlu diingat oleh para orangtua à relasi dengan anak harus berdasarkan cinta dan jangan seolah-olah sedang melakukan interogasi/checklist terhadap kegiatan anak sehari-hari. Dengan mengisi kebutuhan anak akan cinta (ada lima bahasa cinta) maka ‘daya tahan’ anak terhadap pengaruh lingkungan akan meningkat.

BE BETTER EVERYDAY.[ah]

* Agustinus Hartono adalah karyawan. Saat ini sedang belajar untuk menuliskan hikmah dari peristiwa sehari hari . Dapat dihubungi di agusprasetyo86@yahoo.com.

toko-delta.blogspot.com

Archives

Postingan Populer

linkwithin

Related Posts with Thumbnails

Total Tayangan Halaman

Diberdayakan oleh Blogger.