toko-delta.blogspot.com

menu

instanx

Selasa, 02 November 2010

Malaysia Siap Bantu Indonesia Tangani Bencana


Australia, Amerika Serikat, dan Uni Eropa juga dikabarkan telah menyalurkan bantuan.
Sabtu, 30 Oktober 2010, 13:41 WIB
Renne R.A Kawilarang
Perdana Menteri Malaysia, Najib Tun Abdul Razak, berpakaian khas Gowa (Antara/ Yusran Uccang)
BERITA TERKAIT
  • Tsunami Sudah Ada Sejak 8.000 Tahun Lalu
  • VIDEO: Ke Mana Tsunami Mentawai Menghantam
  • Pelesir DPR Miliaran Rupiah di Kala Bencana
  • SBY Fans Club Beraksi untuk Merapi
  • Warga Prancis & Amerika Hilang di Mentawai
VIVAnews - Malaysia dan anggota-anggota ASEAN lain ingin membantu Indonesia yang tengah didera dua bencana alam besar, di Mentawai dan Yogyakarta sejak awal pekan ini. Dua bencana ini membuat Presiden Susilo Bambang Yudhoyono absen pada hari pertama KTT ASEAN di Hanoi pada 28 Oktober 2010, sebelum akhirnya bergabung kembali pada hari terakhir KTT, sehari kemudian.

Perdana Menteri Malaysia, Najib Tun Razak, mengatakan bahwa dia dan pimpinan ASEAN lain belum membahas secara khusus situasi di Indonesia. Namun, mereka pada dasarnya siap membantu.

"Sikap Malaysia sama, walau kami belum memutuskan bantuan seperti yang akan disampaikan," kata Najib, Jumat, 29 Oktober 2010, di sela-sela pertemuan ASEAN+1 dan ASEAN+3 di Hanoi, Jumat lalu, seperti dikutip laman harian The Star.

Najib akan menyempatkan diri berbincang dengan Yudhoyono menyangkut hal ini. Sejumlah negara, seperti Australia, Amerika Serikat, dan Uni Eropa juga dikabarkan telah menyalurkan bantuan darurat ke Indonesia.

Presiden Yudhoyono sebenarnya telah berada di Vietnam, Selasa lalu. Selain menghadiri KTT ASEAN, ia juga menggelar pertemuan bilateral dengan Vietnam. Namun, tak lama kemudian Presiden kembali lagi ke Tanah Air untuk meninjau situasi di Kepulauan Mentawai yang dihantam tsunami dan menewaskan lebih dari 400 jiwa. Selain itu, Gunung Merapi juga meletus di Yogyakarta, yang hingga kini menewaskan puluhan orang. (kd)

• VIVAnews Masukkan Data-Data Anda Di Bawah! Dapatkan Petuah Sukses Secara Berkala - Selamanya GRATIS! :-)

Name:
Email:

Korban Tewas Merapi Menjadi 37 Orang


Saat ini, jumlah pengungsi letusan gunung Merapi sekitar 29 ribu orang di 28 titik.
Senin, 1 November 2010, 09:02 WIB
Ismoko Widjaya

Erupsi Gunung Merapi Yogyakarta pada Selasa 26 Oktober 2010 (Antara/ Wahyu Putro A)
BERITA TERKAIT
  • Lagu "Mbah Maridjan" Kembali Populer
  • Merapi Kembali Mengeluarkan Lava
  • Hari Ini, Wedhus Gembel Merapi Muncul 4 Kali
  • Merapi Meletus, Bandara Adi Sumarmo Tutup
  • Merapi Meletus Lagi, Awan Panas Menyebar
VIVAnews - Korban tewas akibat letusan Gunung Merapi yang mengeluarkan awan panas terus bertambah. Korban tewas diduga akibat luka bakar serius yang disebabkan awan panas 'wedhus gembel' pada 26 Oktober lalu.

"Sampai pukul 08.00 WIB, data korban meninggal Merapi mencapai 37 orang," kata Staf Khusus Presiden Bidang Penanganan Bencana Alam dan Sosial, Andi Arief, dalam akun twitter-nya, Senin 1 November 2010.

Menurut Andi Arief, korban luka akibat letusan pertama Merapi masih terdapat lima orang. Sedangkan jumlah pengungsi terus bertambah pascaletusan besar kedua yang terjadi Minggu 31 Oktober 2010.
Bencana Merapi yang terjadi pada Selasa 26 Oktober 2010 petang, sekitar pukul 18.02 WIB, juga menewaskan juru kunci Merapi, Mbah Maridjan. Awan panas juga menewaskan Redaktur Senior VIVAnews.com, Yuniawan Wahyu Nugroho.

Saat ini, jumlah pengungsi letusan gunung Merapi sekitar 29 ribu orang yang terbagi di 28 titik tempat penampungan akhir (TPA). Untuk pengungsi di Kabupaten Sleman, DIY, mencapai 19.050 orang. Jumlah pengungsi di Sleman ini yang mengalami penambahan sejak letusan kemarin.

"Pengungsi di Kabupaten Magelang 25.354 orang, pengungsi di Kabupaten Klaten 3.500 orang, dan di Kabupaten Boyolali 3.970 orang," ujar dia.  (umi)
• VIVAnews Masukkan Data-Data Anda Di Bawah! Dapatkan Petuah Sukses Secara Berkala - Selamanya GRATIS! :-)

Name:
Email:

Letusan Merapi ke Arah Boyolali dan Klaten


Hembusan awan panas yang berwarna hitam pekat itu mengarah ke arah Timur.
Senin, 1 November 2010, 10:50 WIB
Ismoko Widjaya
Pasca Erupsi Merapi (AP Photo/Slamet Riyadi)
BERITA TERKAIT
  • Merapi Semburkan Awan Panas, Warga Panik
  • Merapi Meletus, Rapat KSAD Bubar
  • Pimpinan DPR Kunjungi Merapi
  • Pemandangan Merapi 'Utuh' Jadi Rebutan
  • Korban Tewas Merapi Menjadi 37 Orang
VIVAnews - Gunung Merapi kembali meletus dan mengeluarkan awan panas sekitar pukul 10.04 WIB. Hembusan awan panas yang berwarna hitam pekat itu terlihat menyembur ke arah Timur.

"Kemungkinan ke arah Klaten dan Boyolali," kata Bupati Sleman, Sri Purnomo, di Posko Induk Merapi, Pakem, Kaliurang, Daerah Istimewa Yogyakarta, Senin 1 November 2010.

Informasi yang disampaikan Sri Purnomo itu diperoleh  dari Subandrio, Kepala Balai Penyelidikan dan Pengembangan Kegunungapian (BPPTK).  "Menurut Subandrio, awalnya awan panas itu naik ke atas lalu tertiup angin. Akhirnya, awan menuju ke arah timur," ujar dia.

Meski demikian, awan panas 'wedhus gembel' diperkirakan tidak sampai  menjangkau dua daerah itu. Wedhus gembel ini diperkirakan hanya berakhir di sekitar gunung Merapi.
Laporan: Fajar Sodiq l Sleman
• VIVAnews Masukkan Data-Data Anda Di Bawah! Dapatkan Petuah Sukses Secara Berkala - Selamanya GRATIS! :-)

Name:
Email:

Hari Ini, Wedhus Gembel Merapi Muncul 4 Kali

Nasional

Pusat Vulkanologi masih menetapkan gunung Merapi dalam status awas.
Minggu, 31 Oktober 2010, 21:04 WIB
Heri Susanto
Wedus Gembel saat letusan Gunung Merapi tahun 2006 (www.volcanodiscovery.com)
BERITA TERKAIT
VIVAnews - Hasil pemantauan instrumental dan visual menunjukkan aktivitas gunung Merapi masih tinggi. Bahkan, pada hari ini dari pukul 00.00 sampai 18.00 WIB, gunung Merapi telah mengeluarkan empat kali awan panas yang kerap disebut wedhus gembel.

Karena itu, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi tetap menetapkan status gunung Merapi masih dalam status awas (level empat).

Berdasarkan pemantauan sementara dari pukul 00.00-18.00 WIB, seperti ditulis dalam akun twitter Staf Khusus Presiden Bidang Bencana Alam, Andi Arief, telah terjadi guguran sebanyak 149 kali, Multiphase 30 kali, gempa vulkanik 3 kali,  gempa Tektonik 3 kali, Low Frekuensi 17 kali, serta awan panas 4 kali.
Awan panas ini kerap disebut wedhus gembel karena menyerupai bulu domba itu. Bukan hanya panas, 'wedhus gembel' ini memiliki kecepatan gerak hingga 200 kilometer per jam.

Sedangkan, berdasarkan pengamatan yang dilakukan pukul 06.00-12.00 WIB tadi siang, aktivitas kegempaan relatif menurun. Sampai Pukul 12:00 WIB, gempa guguran masih mendominasi aktivitas Gunung Merapi tercatat 93 kali, gempa MP tercatat 22 kali, sedangkan gempa vulkanik tidak terjadi dan awan panas juga tidak nampak.

"Gempa low frequency menunjukkan peningkatan mencapai 17 kali, yang menunjukkan bahwa adanya aktivitas gas, pasca puntahan awan panas di lereng G. Merapi," kata Surono tadi siang.
• VIVAnews Masukkan Data-Data Anda Di Bawah! Dapatkan Petuah Sukses Secara Berkala - Selamanya GRATIS! :-)

Name:
Email:

Merapi Kembali Mengeluarkan Lava


Tapi keluarnya lava ini tidak diiringi awan panas, wedhus gembel.
Senin, 1 November 2010, 08:04 WIB
Ismoko Widjaya
Letusan Gunung Merapi tahun 2006 (http://tngunungmerapi.org)
BERITA TERKAIT
VIVAnews - Gunung Merapi terus melakukan aktivitas. Sejak dini hari tadi hingga sekitar pukul enam pagi ini, Merapi sudah menggugurkan lava sebanyak 16 kali.

"Selain guguran lava, sudah ada fase kegempaan sebanyak dua kali," kata Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana, Kementerian ESDM, Surono, kepada VIVAnews.com, Senin 1 November 2010.

Menurut Surono, status Merapi masih Awas dan membahayakan. Berbeda dengan sehari sebelumnya, sejak dini hari hingga pagi ini, Merapi tidak mengeluarkan awan panas 'wedhus gembel' dan gempa dengan frekuensi rendah.

Kondisi ini berbeda dengan sehari sebelumnya. Selama satu hari penuh pada 31 Oktober kemarin, telah terjadi 33 kali kegempaan di Merapi. Kemudian, guguran lava terjadi sebanyak 166 kali.

"Ada gempa vulkanik empat kali. Dan yang baru muncul ini adalah gempa frekuensi rendah sebanyak 22 kali," uajr Sorono. Gempa frekuensi rendah itu tidak terasa oleh penduduk. Karena memang frekuensinya sangat rendah.

Gempa frekuensi rendah ini baru muncul selama Merapi berstatus Awas. Ini adalah aktivitas baru Merapi. "Dan tidak membahayakan," kata dia.

Bencana Merapi yang terjadi pada Selasa 26 Oktober 2010 petang, sekitar pukul 18.02 WIB, menewaskan 34 orang termasuk Redaktur Senior VIVAnews.com, Yuniawan Wahyu Nugroho. Saat ini, jumlah pengungsi letusan gunung Merapi sekitar 29 ribu orang yang terbagi di 28 titik tempat penampungan akhir (TPA). (umi)
• VIVAnews

Masukkan Data-Data Anda Di Bawah! Dapatkan Petuah Sukses Secara Berkala - Selamanya GRATIS! :-)

Name:
Email:

Merapi Meletus Lagi, Awan Panas Menyebar


Letusan terjadi sejak pukul 11.28 - 15.14 WIB, Minggu, 31 Oktober 2010.
Minggu, 31 Oktober 2010, 17:34 WIB
Maryadie
Wedus Gembel saat letusan Gunung Merapi tahun 2006 (www.volcanodiscovery.com)
BERITA TERKAIT
VIVAnews - Gunung Merapi kembali meletus. Letusan terjadi sejak pukul 11.28 - 15.14 WIB, Minggu, 31 Oktober 2010.

Letusan Merapi kali ini juga mengeluarkan awan panas dan hujan abu.
"Luncuran awan panas menyebar kemana-mana. Terjadi sejak tadi siang," kata Kepala  Pusat Vulkonologi & Mitigasi Bencana Geologi Surono saat dihubungi VIVAnews.

Luncuran awan panas ini terjadi beberapa kali menuju lereng dengan kecepatan tinggi. Salah satunya ke arah hulu Kali Gendol yang jaraknya 6.5 kilometer dari puncak Merapi.

Sejak Merapi meletus Selasa, 26 Oktober 2010 lalu, hingga kini sudah beberapa kali terjadi letusan.

Letusan terakhir sebelum meletus lagi hari ini terjadi Sabtu 30 Oktober 2010 dini hari pukul 00.50. Letusan itu teramat dahsyat.

"Tinggi asap 3,5 kilometer, warna hitam. Masyarakat panik karena Merapi tak pernah bikin petasan sebesar itu," kata Surono. Abu akibat letusan Merapi itu menyebar ke seluruh wilayah Yogyakarta.
• VIVAnews
Masukkan Data-Data Anda Di Bawah! Dapatkan Petuah Sukses Secara Berkala - Selamanya GRATIS! :-)

Name:
Email:

Dua Wartawan antv Hilang Kontak di Mentawai


Karena gelombag tinggi, rombongan memutuskan lewat jalur darat.
Senin, 1 November 2010, 19:45 WIB
Eko Priliawito
Tsunami Mentawai (FOTO ANTARA/Kris Hadiyanto-Setwapres)
BERITA TERKAIT
VIVAnews - Kantor redaksi antv hilang kontak dengan dua wartawan mereka yang sedang menuju Kabupaten Mentawi, Sumatera Barat, untuk melakukan peliputan tsunami. Kedua wartawan yang hilang kontak tersebut adalah reporter bernama Dwi Anggia dan kamerawan bernama Cecep.

Kedua wartawan antv itu hilang kontak dengan kantor redaksi saat menuju Pulau Rogut bersama dengan 24 rewalan kemanusiaan dari perusahaan tambang.

Pada pukul 10.00 WIB, kantor redaksi antv masih ada hubungan telekomunikasi dengan keduanya. Mereka masih sempat mengabarkan berada di perairan Bulakapa. Namun, kondisi saat itu cuaca dalam keadaan buruk dan ombak yang menerjang sangat tinggi.

Karena kondisi gelombang yang tinggi, mereka kemudian memutuskan melewati jalur darat untuk menuju lokasi yang tersapu tsunami.

Menurut Produsesr Eksekutif Pemberitaan antv, Hanibal, rombongan kembali berhasil melakukan hubungan telekomunikasi pada pukul 16.10 WIB, dengan telepon satelit. 

"Mereka mengabarkan telah tersesat. Kami telah menghubungi PMI, relawan, dan Wanadri untuk meminta bantuan," ujarnya, saat dihubungi VIVAnews, Senin malam, 1 November 2010.

Hingga hari ini, cuaca buruk juga kerap menjadi kendala utama penyaluran bantuan dari Padang, Sumatera Barat, ke lokasi bencana tsunami di Mentawai. (umi)
• VIVAnews

Masukkan Data-Data Anda Di Bawah! Dapatkan Petuah Sukses Secara Berkala - Selamanya GRATIS! :-)

Name:
Email:

Brimob Amankan Harta Pengungsi Merapi


Pada Sabtu 30 Oktober 2010 Merapi meletus. Letusan itu terbilang dahsyat.
Senin, 1 November 2010, 11:32 WIB
Arry Anggadha, Eko Huda S
Pengungsi Gunung Merapi (AP Photo)
BERITA TERKAIT
VIVAnews - Kepala Divisi Humas Polri, Inspektur Jenderal Iskandar Hasan memastikan personil Brimob tetap mengamankan harta benda yang ditinggalkan para pengungsi akibat meletusnya Gunung Merapi.

"Mereka tetap melakukan evakuasi pada masyarakat yang masih membutuhkan bantuan, mengamankan rumahnya, dan segala macam lah. Mereka (pengungsi) kan meninggalkan harta benda dan itu perlu diamankan," kata Iskandar di Mabes Polri, Jakarta, Senin 1 November 2010.

Iskandar mengaku tidak tahu persis berapa personil Brimob yang dikerahkan untuk pengamanan harta para pengungsi itu. Namun, dia memastikan personil Brimob telah dikerahkan dari Polda setempat. "Personil dari Polda Jawa Tengah dan DIY," kata dia.

Selain membantu para pengungsi Merapi, tambah dia, Polri juga mengirimkan kapal berisi bantuan kepada korban tsunami di Mentawai. Bantuan itu berasal dari sumbangan para Kapolda dan Mabes Polri sendiri. "Jumlahnya saya lupa," kata dia.

Merapi tercatat sudah beberapa kali meletus. Pada Sabtu 30 Oktober 2010 Merapi meletus. Letusan itu terbilang dahsyat -- tinggi asap sampai 3,5 kilometer dan menyebabkan hujan abu sampai radius 20 kilometer.

Sementara, letusan pertama terjadi pada 26 Oktober lalu, Merapi memuntahkan awan panas dan abu. Saat itu, 35 orang tewas termasuk juru kunci Merapi, Mbah Maridjan, dan wartawan VIVAnews.com, Yuniawan Wahyu Nugroho. Yuniawan tewas saat mencoba menjemput sang penjaga Merapi. (hs)
• VIVAnews Masukkan Data-Data Anda Di Bawah! Dapatkan Petuah Sukses Secara Berkala - Selamanya GRATIS! :-)

Name:
Email:

toko-delta.blogspot.com

Archives

Postingan Populer

linkwithin

Related Posts with Thumbnails

Total Tayangan Halaman

Diberdayakan oleh Blogger.