toko-delta.blogspot.com

menu

instanx

Jumat, 31 Oktober 2008

BELAJAR MEMAHAMI ORANG LAIN

Oleh: Nilna Iqbal


Tiap saat kita berhadapan dengan bermacam-macam situasi. Terutama ketika berhubungan dengan orang lain.

Sebagai pemimpin, mengertikah kita bagaimana cara `membakar’ motivasi para pegawai kita? Sebagai ibu, kita sering bingung nggak habis pikir plus pusing oleh watak keras kepala anak-anak kita. Tak jarang pula, sebagai suami kita terus-terusan bertengkar dengan istri yang padahal juga kita sayangi dan cintai. Adakah ‘zat kimia’ tertentu atau pola tertentu yang mempengaruhi sifat, sikap, serta reaksi kita, dan itu terasa dalam menghadapi berbagai situasi…? Sehingga, kita bisa lebih berdamai dan mengerti mengapa semua reaksi itu terjadi. Bukankah akan lebih nikmat hidup ini kalau kita satu sama lain saling memahami?

Florence Litteur, penulis buku terlaris Personality Plus menguraikan, ada empat pola watak dasar manusia. Kalau saja semua sudah kita pahami, kita akan sangat terbantu sekali dalam berhubungan dengan orang lain. Kita akan jadi mengerti mengapa suami kita tiba-tiba marah sekali ketika meja kerjanya yang berantakan kita atur rapi. Kita juga akan mudah memahami mengapa pegawai kita gampang sekali berjanji… Dan hebatnya, dengan mudah pula ia melupakannya. “Oh ya, saya lupa,” katanya sambil tertawa santai. Kita juga akan mudah mengerti mengapa istri kita tidak mau dengar sedikit pun mendengar pendapat kita, tak mau kalah, cenderung mempertahankan diri, selalu merasa benar dengan pendapatnya, dan makin sengit bertengkar kalau kita mau coba-coba untuk mengalahkannya.

Menurut Florence, golongan watak pertama adalah sanguinis, “yang populer”. Mereka ini cenderung ingin populer, ingin disenangi oleh orang lain. Hidupnya penuh dengan bunga warna-warni. Mereka senang sekali bicara tanpa bisa dihentikan. Gejolak emosinya bergelombang dan transparan. Pada suatu saat ia berteriak kegirangan, dan beberapa saat kemudian ia bisa jadi menangis tersedu-sedu.

Namun, orang-orang sanguinis ini sedikit agak pelupa, sulit berkonsentrasi, cenderung berpikir ‘pendek’, dan hidupnya serba tak beraturan. Jika suatu kali Anda lihat meja kerja pegawai Anda cenderung berantakan, agaknya bisa jadi ia sanguinis. Kemungkinan besar ia pun kurang mampu berdisiplin dengan waktu, sering lupa pada janji, apalagi bikin planning/rencana. Namun, kalau disuruh melakukan sesuatu, ia akan dengan cepat mengiyakannya dan terlihat sepertinya betul-betul hal itu akan ia lakukan. Dengan semangat sekali ia ingin buktikan bahwa ia bisa dan akan segera melakukannya. Tapi percayalah, beberapa hari kemudian ia tak lakukan apa pun juga.

Lain lagi dengan tipe kedua, golongan watak melankolis, “yang sempurna”. Agak berseberangan dengan si sanguinis. Cenderung serba teratur, rapi, terjadwal, dan tersusun sesuai pola. Umumnya mereka ini suka dengan fakta-fakta, data-data, angka-angka, dan sering sekali memikirkan segalanya secara mendalam. Dalam sebuah pertemuan, orang sanguinis selalu saja mendominasi pembicaraan. Namun, orang melankolis cenderung menganalisis, memikirkan, dan mempertimbangkan. Lalu, kalau bicara pastilah apa yang ia katakan betul-betul merupakan hasil yang ia pikirkan secara mendalam sekali.

Orang melankolis selalu ingin serba sempurna. Segala sesuatu ingin teratur. Karena itu jangan heran jika balita Anda yang ‘melankolis’ tidak akan bisa tidur hanya gara-gara selimut yang membentangi tubuhnya belum tertata rapi. Dan, jangan pula coba-coba mengubah isi lemari yang telah disusun istri ‘melankolis’ Anda. Sebab, betul-betul ia tata apik sekali, sehingga warnanya, jenisnya, dan klasifikasi pemakaiannya sudah ia perhitungkan dengan rapi. Kalau perlu ia tuliskan satu per satu tata letak setiap jenis pakaian tersebut. Ia akan dongkol sekali kalau susunan itu tiba-tiba jadi lain.

Ketiga, adalah manusia koleris, “yang kuat”. Mereka ini suka sekali mengatur orang, suka tunjuk-tunjuk atau perintah-perintah orang. Ia tak ingin ada penonton dalam aktivitasnya. Bahkan, tamu pun bisa saja ia ‘suruh’ melalukan sesuatu untuknya. Akibat sifatnya yang ‘bossy’ itu membuat orang-orang koleris tidak punya banyak teman. Orang-orang berusaha menghindar, menjauh agar tak jadi ‘korban’ karakternya yang suka ‘ngatur’ dan tak mau kalah itu.

Orang koleris senang dengan tantangan, suka petualangan. Mereka punya rasa, “Hanya saya yang bisa menyelesaikan segalanya; tanpa saya berantakan semua.” Karena itu mereka sangat goal oriented, tegas, kuat, cepat, dan tangkas mengerjakan sesuatu. Baginya tak ada istilah tidak mungkin. Seorang wanita koleris, mau dan berani naik tebing, memanjat pohon, bertarung ataupun memimpin peperangan. Kalau ia sudah kobarkan semangat “Ya pasti jadi...!” maka hampir dapat dipastikan apa yang akan ia lakukan akan tercapai seperti yang ia katakan. Sebab ia tak mudah menyerah, tak mudah pula mengalah.

Hal ini berbeda sekali dengan jenis keempat, yaitu sang flegmatis atau “cinta damai”. Kelompok ini tidak suka terjadi konflik, karena itu disuruh apa saja ia mau lakukan, sekalipun ia sendiri tidak suka. Baginya kedamaian adalah segala-galanya. Jika timbul masalah atau pertengkaran, ia akan berusaha mencari solusi yang damai tanpa timbul pertengkaran. Ia mau merugi sedikit atau rela sakit, asalkan masalahnya tidak terus berkepanjangan.

Kaum flegmatis kurang bersemangat, kurang teratur, dan serba dingin. Cenderung diam, kalem, dan kalau memecahkan masalah umumnya sangat menyenangkan. Dengan sabar ia mau jadi pendengar yang baik, tapi kalau disuruh untuk mengambil keputusan ia akan terus menunda-nunda. Kalau anda lihat tiba-tiba ada sekelompok orang berkerumun mengelilingi satu orang yang asyik bicara terus, maka pastilah para pendengar yang berkerumun itu orang-orang flegmatis. Sedang yang bicara tentu saja sang sanguinis.

Kadang sedikit serba salah berurusan dengan para flegmatis ini. Ibarat keledai, “kalau didorong ngambek, tapi kalau dibiarin nggak jalan”. Jadi kalau Anda punya staf atau pegawai flegmatis, Anda harus rajin memotivasi sampai ia termotivasi sendiri. Mencoba Mengerti Orang Lain
Nah, sekarang Anda masuk golongan mana? Coba amati istri, suami atau anak-anak Anda. Jangan-jangan Anda sekarang mulai mengerti mengapa suami, istri, anak, atau rekan Anda bertingkah laku “seperti itu” selama ini. Dan, Anda pun akan tertawa sendiri mengingat-ingat berbagai perilaku dan kejadian selama ini.

Ya, tapi apakah persis begitu? Tentu saja tidak. Florence Litteur, berdasarkan penelitiannya bertahun-tahun telah melihat bahwa ternyata keempat watak itu pada dasarnya juga dimiliki setiap orang. Yang beda hanyalah ‘kadarnya’. Oleh sebab itu muncullah beberapa kombinasi watak manusia.

Ada orang yang tergolong koleris-sanguinis. Artinya kedua watak itu dominan sekali dalam mempengaruhi cara kerja dan pola hubungannya dengan orang lain. Di sekitar kita banyak sekali orang-orang tipe koleris-sanguinis ini. Ia suka mengatur-atur orang, tapi juga senang bicara (dan mudah juga jadi pelupa).

Ada pula golongan koleris-melankolis. Mungkin Anda akan kurang suka bergaul dengan dia. Bicaranya dingin, kalem, baku, suka mengatur, tak mau kalah dan terasa kadang menyakitkan (walaupun sebetulnya ia tidak bermaksud begitu). Setiap jawaban Anda selalu ia kejar sampai mendalam. Sehingga kadang serasa diintrogasi, sebab memang ia ingin sempurna, tahu secara lengkap dan agak dingin. Menghadapi orang koleris-melankolis, Anda harus pahami saja sifatnya yang memang ‘begitu’ dan tingkatkan kesabaran Anda. Yang penting sekarang Anda tahu, bahwa ia sebetulnya juga baik, namun tampak di permukaan kadang kurang simpatik, itu saja.

Lain lagi dengan kaum flegmatis-melankolis. Pembawaannya diam, tenang, tapi ingat… semua yang Anda katakan akan ia pikirkan, ia analisis. Lalu, saat mengambil keputusan pastilah keputusannya berdasarkan perenungan yang mendalam dan ia pikirkan matang-matang.

Banyak lagi tentunya kombinasi yang ada pada tiap manusia. Akan tetapi yang penting adalah bagaimana memanfaatkannya dalam berbagai aktivitas hidup kita. Jika suami istri saling mengerti sifat dan watak ini, mereka akan cenderung berusaha ‘memaafkan’ pasangannya. Lalu, mereka akan berusaha untuk menyikapinya perbedaan watak itu secara bijaksana.

Begitu pula saat menerima calon pegawai. Untuk bidang-bidang yang membutuhkan tingkat ketelitian dan keteraturan yang tinggi, jauh lebih baik bila Anda tempatkan orang-orang yang melankolis sempurna. Sedang di bagian promosi, iklan, resepsionis, MC, humas, wiraniaga, tentu jauh lebih tepat anda tempatkan orang-orang sanguinis. Lalu jangan posisikan orang-orang flegmatis di bagian penagihan ataupun penjualan. Hasilnya pasti akan amat mengecewakan.

Begitulah, manusia memang amat beragam. Muncul sedikit tanda tanya, di antara semua watak itu, mana yang paling baik? Jawabannya, menurut Florence, tak ada yang paling baik. Semuanya baik. Tanpa orang sanguinis, dunia ini akan terasa sepi. Tanpa orang melankolis, mungkin tak ada kemajuan di bidang riset, keilmuan, dan budaya. Tanpa kaum koleris, dunia ini akan berantakan tanpa arah dan tujuan. Tanpa sang flegmatis, tiada orang bijak yang mampu mendamaikan dunia.

Yang penting bukan mana yang terbaik. Sebab kita semua bisa mengasah keterampilan kita berhubungan dengan orang lain (interpersonal skill). Seorang yang ahli dalam berurusan dengan orang lain, ia akan mudah beradaptasi dengan berbagai watak itu. Ia tahu bagaimana menghadapi sifat pelupa dan watak acaknya kaum sanguinis, misalnya dengan memintanya untuk selalu buat rencana dan memintanya melakukan segera. Ia jago memanas-manasi (menantang) potensi orang koleris mencapai goal-nya, atau `membakar’ sang flegmatis agar segera bertindak saat itu juga. “Inilah seninya dalam berinteraksi dengan orang lain,” kata Florence. Tentu saja awalnya adalah, “Anda dulu yang harus berubah.” Belajarlah jadi pengamat tingkah laku manusia…(lalu tertawalah)![ni]

* Nilna Iqbal adalah alumni Jurusan Astronomi ITB. Saat ini, pria kelahiran 8 Mei 1967 ini menekuni pekerjaanya sebagai penulis, trainer, dan entrepreneur. Nilna tercatat pernah aktif sebagai anggota redaksi sejumlah media serta mendapat tiga penghargaan penulisan tingkat nasional pada tahun 1990 hingga 1992. Ia dapat dihubungi di: nilnaiqbal@yahoo.com.

SUKSES MEMBAWA KEBAHAGIAAN?

Oleh: Mugi Subagyo


Pada saat mengikuti lomba memancing, saya diprotes seorang teman yang juga mengikuti lomba. Dia bilang bahwa saya tidak serius dalam berlomba, lebih banyak bersenang-senang daripada berjuang untuk memperoleh kemenangan. Saya katakan bahwa saya berbahagia dengan keadaan saya, tapi bukan berarti tidak berusaha memperoleh kemenangan. Berbagai cara memancing yang telah saya kuasai sudah dikerahkan seluruhnya, begitupula dalam hal meramu umpan. Kalau ternyata yang saya dapat hanya 6 ekor ikan, sementara teman saya tersebut memperoleh 16 ekor ikan, kenyataannya saya bahagia.

“Kalau kita bisa sukses memperoleh kemenangan, itu baru kebahagiaan sesungguhnya,” bantah teman tersebut. Karena, untuk memperoleh kemenangan seorang pemancing harus mendapat ikan yang paling besar atau terberat saat ditimbang. “Yang tertawa belakangan, itulah yang tertawa bahagia,” lanjutnya.

Makna Kebahagiaan
Benarkah yang dikatakan teman tersebut? Apakah kita harus sukses dahulu untuk mendapatkan kebahagiaan? Haruskah kita tertawa belakangan, dengan kata lain bahagia itu diperoleh belakangan? Di sini rupanya perlu kita benahi beda antara “kesenangan” dan “kebahagiaan”.

Sering kita dengar ungkapan, “Uang tak bisa membeli kebahagiaan”. Kenyataannya banyak orang kaya, hartanya berlimpah, namun tidak bahagia. Sementara ada orang yang tidak punya uang tapi bahagia. Banyak juga orang yang tidak punya uang juga tidak berbahagia. Karena harus diakui pula bahwa tidak punya uang juga bikin susah.

Kebahagiaan adalah suatu pandangan hidup, suatu sikap mental, buah pikiran dari sifat-sifat optimisme, ketekunan, cinta, dan pemenuhan. Kebahagiaan bukan berarti merasa senang terus-menerus, atau mengalami perasaan yang menyenangkan sepanjang waktu. Tapi, kebahagiaan tidak berubah meski situasi atau kondisi berubah.

Pada kasus di atas, teman saya tersebut memiliki tujuan jelas, mempersiapkan segala sesuatunya untuk sebuah kemenangan, hingga bisa pulang dengan rasa puas, menang, dan bahagia. Sehingga ia terjebak dalam perangkap kebahagiaan. Ia keluarkan biaya yang tidak sedikit untuk peralatan memancingnya, biaya yang banyak untuk umpan ikan, dan pikiran yang terus menerus terfokus pada kemenangan. Ia mencoba membeli kebahagiaan. Hasilnya, sampai kami pulang saat usai lomba, ia tidak berbahagia.

Bahagia Dahulu, Kemudian Sukses
Orang-orang bahagia menyadari bahwa kesusksesan adalah bukan tujuan akhir, hingga mereka selalu berpikiran positif. Berpikir positif terhadap cara atau jalan yang mereka tempuh, dan positif terhadap tujuan. Mereka tidak memetakan dalam pikiran, bahwa untuk bahagia harus menang, harus sukses, namun menyiapkan mental untuk berbahagia.

Mereka berbahagia bisa meluangkan waktunya yang sedikit, untuk melakukan kegemarannya. Mereka senang dapat bertemu dan berbincang dengan komunitasnya, saling bertukar pikiran dan pengalaman. Pikirannya tidak terbebani hal-hal yang memberatkan. Sehingga, meski mereka tidak memperoleh kemenangan, namun tetap dapat menikmati apa yang mereka jalani atau yang mereka perjuangkan.

Sementara, orang yang berpikir harus sukses baru bisa bahagia, kemudian tidak memperoleh apa yang dikejarnya, maka kita tahu apa yang diperolehnya: Kekalahan dan Ketidakbahagiaan.

Bukankah kesuksesan didapat bila kita dapat mencapai target? Artinya, jika target tersebut terpenuhi, maka kita sukses. Jadi, kalau target saya memancing adalah mendapatkan beberapa ekor ikan, tujuan saya adalah refreshing, melepaskan penat dari rutinitas yang membelenggu, bertemu dan berbincang dengan teman-teman untuk saling berbagi cerita. Dan, saat semua itu saya dapatkan, artinya saya sukses. Hal ini bukan berarti karena saya hanya mempunyai target yang lebih rendah dibanding teman saya tersebut; semua pemancing dalam lomba, menginginkan keluar sebagai pemenang. Tapi, saya tanamkan sejak awal, sebuah metal untuk berbahagia. Sehingga, saya tetap berbahagia kendati kalah. Karena, dalam pertandingan ada menang dan ada kalah.

Perangkap Kebahagiaan
Dengan uang, orang bisa saja membeli kesenangan, harta benda, keamanan, dan kekuasaan. Bahkan, status pun bisa dibeli di negeri ini. Tapi, mari kita perhatikan kenyataan yang ada.

Cara utama yang dilakukan kaum konglomerat dalam memperoleh kekayaannya adalah dengan mengorbankan kesenangan, juga kebebasannya. Mereka cenderung menghabiskan waktu untuk melipatgandakan hartanya untuk membeli kesenangan. Bila kesenangan itu terus menerus didapatkan, maka mereka akan terbiasa dalam kesenangan. Sehingga, kesenangan tersebut menjadi biasa dan akhirnya membosankan. Atau berapa banyak kaum selebritas kita yang terjebak dalam pesta minuman keras, narkoba, dan seks bebas. Mereka coba membeli kesenangan, sebuah cara yang sia-sia yang justru menjerumuskan mereka ke arah berlawanan.

Sedangkan kesenangan memiliki harta benda, layaknya menghilangkan dahaga dengan meminum air laut, maka berapa pun harta benda yang kita miliki, kita akan merasa kurang. Kalau harta benda dijadikan ukuran kebahagiaan, maka nota bene orang-orang kaya adalah orang yang paling berbahagia. Praktiknya, kebahagiaan mereka hanya sedikit di atas rata-rata. Rasa takut dan kekhawatiran atas kehilangan harta benda yang mereka miliki, membuat mereka membeli rasa aman, namun selalu timbul ketakutan dan kekhawatiran baru, terus berulang.

Kini kita perhatikan para penguasa di negeri ini. Bandingkan saat sebelum dan setelah mereka memperoleh kekuasaannya! Begitu orang berkuasa, maka dia akan kehilangan kekuasaan atas hidupnya sendiri. Karena, ada begitu banyak orang yang harus dibuat senang dan wajib ditemui. Ada banyak orang yang harus dilobi, dan ada banyak orang harus dibohongi. Sedangkan status atau jabatan mereka bagai telur di ujung tanduk. Mereka senantiasa resah akan ada yang menjegal untuk mengambil status yang dimiliki. Dan status, setinggi apa pun Anda mendaki, akan selalu ada orang di atas Anda.

Menjadi Orang yang Berbahagia
Orang yang berbahagia menyadari betul arti kesenangan, bahwa kesenangan adalah hal yang baik, tapi juga ibarat tanah tandus untuk kehidupan, bukan makanan. Orang-orang bahagia tahu, sebanyak apa pun uang yang mereka miliki, mereka membatasi harapan-harapannya. Karena, status kebendaan adalah kelemahan orang-orang yang takut melihat diri sendiri, hingga terus menghadapi rasa takut mereka yang sejati. Orang-orang yang berbahagia tidak hanya membangun kekuatan melulu, tetapi mereka juga mencari dan memperbaiki kelemahan maupun kesalahan di masa lalu. Mereka tidak mengubur kenangan buruk yang menimpanya, melainkan menjadikan kenangan buruk tersebut menjadi penyemangat hidupnya.

Orang-orang yang berbahagia tidak mengejar uang, mereka mengejar hasrat atau keinginan yang kuat. Mereka tidak mau disiksa oleh pikiran untuk mendapatkan lebih banyak uang. Status bagi orang-orang yang berbahagia adalah keyakinan terhadap Tuhannya, keluarga bahagia, teman-teman akrab, dan kebanggaan atas pekerjaan atau apa yang mereka kerjakan.

Jadi semua tergantung tujuan hidup Anda!

Anda ingin mengejar kesuksesan dahulu, baru kemudian merasa bahagia, atau ingin menjadi orang-orang yang berbahagia.

Semoga Berbahagia…[ms]

* Mugi Subagyo adalah praktisi SDM di perusahaan multinasional, pengamat Teknologi Informasi, graphic designer, senior di dunia percetakan, dan pemerhati bahasa dan sastra Indonesia. Mugi adalah alumnus Sekolah Penulis Pembelajar (SPP) Angkatan 2. Ia dapat dihubungi melalui email: mugisby@yahoo.co.id

TEROBOSAN FINANCIAL

Oleh: Mario Einstain

Di pagi hari yang cerah dan sinar matahari yang menantang, saya berjanji untuk bertemu dengan salah satu jurnalis hebat dari surat kabar terkemuka di negeri ini. Saya ingin belajar banyak tentang keahlian menulis dari dia. Dia adalah seorang jurnalis hebat dan berbakat yang dimiliki oleh negeri ini. Yang menjadi pertanyaan saya dalam hati ialah, “Mengapa orang sehebat dia tidak terkenal dan hidup sangat berkekurangan dalam hal keuangan?”

Perbincangan saya dengan jurnalis hebat itu sangat mengasyikkan. Dan, saya sampai pada pemahaman bahwa kadang-kadang bakat yang hebat serta kemampuan yang luar biasa, bila tanpa disertai pengetahuan tentang menjual bakat dan keterampilan yang baik, adalah sesuatu “kebodohan”. Ada begitu banyak kita temukan orang-orang pandai, pintar, hebat, dan bahkan memiliki kemampuan luar biasa dibandingkan orang-orang pada umumnya. Dalam bidang keuangan, mereka masih bergelut pada kekuatan korporasi. Dan biasanya, orang-orang seperti itu selalu kekurangan dalam hal finansial, bahkan terjerat oleh kemiskinan.

Sama halnya dengan jurnalis hebat yang saya temui itu. Tiap bulannya dia bergelut untuk bisa bebas dari belunggu ekonomi yang sangat menyesakkan. Saya menyarankan kepada dia untuk belajar tentang penjualan dan marketing. Tetapi, dia malah menjadi marah pada saya. “Saya ini bukan lulusan fakultas ekonomi atau sekolah bisnis. Tetapi, saya hanya lulusan sekolah jurnalistik!”

Lalu, saya menanggapi ucapannya dengan berkata, “Lho, apa yang salah? Apakah berdosa jika lulusan jurnalistik mempelajari ilmu penjulan dan marketing?”

Coba Anda perhatikan Robert T. Kiyosaki. Dia sebenarnya bukan penulis hebat seperti kebanyakan penulis di Indonesia. Kiyosaki hanya seorang penjual yang baik. Namun, dia mampu menjual ide atau gagasannya kepada orang banyak. Dia juga mampu mengomunikasikan bakat dan kelebihannya dengan cara yang tepat, orang yang tepat, dan waktu yang tepat. Maka, tidak heran bila bukunya Rich Dad Poor Dad menjadi bestseller di seluruh dunia. Dia menjadi penulis bestseller, bukan menjadi best writer.

Buku pertama yang ditulis Kiyosaki berjudul If You Want To Be Rich And Happy, Don’t Go To School. Penerbitnya mengusulkan untuk mengganti judulnya menjadi “The Economics Of Education”. Kiyosaki mengatakan, kalau judulnya diganti seperti itu, kemungkinan bukunya hanya dibeli dua orang saja. Pertama adalah anggota kelurganya, dan kedua adalah sahabatnya. Dan, kedua orang tersebut pasti mengharapkan mendapat bukunya secara gratis.

Kiyosaki bukan anti terhadap pendidikan ekonomi di negaranya. Dia malah mendukung usaha peningkatan pendidikan finansial di Amerika Serikat. Tetapi, apa yang akan terjadi jika dia tidak dapat menjual ide atau gagasan dalam bukunya? Jika dia tidak belajar tentang penjulan dan marketing, mana mungkin bukunya menjadi bestseller di seluruh dunia? Bahkan, mungkin juga kita menemui Kiyosaki di pinggir jalan sebagai pengemis karena dia tidak bisa membiayai kebutuhan keluarganya.

Contoh lain adalah artis dunia yang terkenal dan memiliki bakat maupun keterampilan yang hebat, Vincent Van Gogh. Dia adalah sosok penjual yang payah. Dalam hidupnya dia tidak menjual satu pun karyanya kepada orang lain. Bahkan, untuk membiayayai pernikahannya pun ia tidak mampu. Dan sampai akhir hidupnya dia tidak menikah dan hidup miskin.

Van Gogh hidup dari pemberian saudaranya. Bahkan, saudaranya menjadi jauh lebih kaya dari sebelumnya karena dia memberi penghidupan kepada Van Gogh. Inilah letak kekuatan memberi. Memberi pasti menerima.

Belajar dari kedua tokoh terkenal tadi, Kiyosaki dan Van Gogh, serta teman saya yang jurnalis hebat itu, ada beberapa hal yang bisa kita pelajarai supaya bisa mencapai terobosan finansial (financial breakthrough).

1. Manage Your Financial Cash Flow. Pengaturan arus kas yang baik dapat menghindari Anda dalam kesulitan keuangan. Baik keuangan secara global (perusahaan dan bisnis) atau keuangan keluarga.

Pribadi yang bijak adalah pribadi yang mampu mengendalikan arus kas dalam kehidupan keuangannya sehari-hari. Kita harus mampu memiliki uang kas yang cukup untuk kehidupan kita minimal tiga bulan ke depan, tanpa mengurangi gaya hidup kita. Maka, kita sudah bisa dikatakana bebas secara finansial.

Ada banyak pandangan yang mengatakan bahwa pengeluran kita harus ditekan semaksimal mungkin. Sebenarnya, ini merupakan kesalahan yang sangat fatal. Sebab, bukan pengeluaran nya yang kita irit-irit sampai kita tidak bisa menikmati hidup ini. Dan, bahkan menyembah-nyembah uang bak dewa karena kita membutuhkannya. Yang betul ialah kita harus meningkatkan pendapatan kita semaksimal mungkin tanpa mengurangi gaya hidup kita sehari-hari. Jika Anda sudah mampu menerapkan hal ini, maka terobosan finansial dalam kehidupan keluarga Anda akan tercapai.

2. Manage Your System. Orang yang kaya raya dan sukses adalah orang yang pandai mengatur sistem. Karena, alam semesta bergerak menggunakan sistem. Sama seperti kehidupan ini. Orang yang pandai mengatur sistem dan belajar kepada alam semesta adalah orang yang memiliki kemampuan untuk menjadi kaya raya dan sukses. Adapun sistem yang harus kita kontrol untuk mencapai kesuksesan—baik di organisasi ataupun keluarga—ialah sistem operasional, sistem keuangan, dan sistem penjulan atau marketing.

Baik sebagai pebisnis atau karyawan biasa, Anda harus mampu mengatur ketiga sistem tersebut. Karena, tanpa adanya sistem maka segala sesuatu akan berjalan dengan kacau dan tidak teratur. Jika Anda mampu mengatur ketiga sistem tadi, maka perusahaan/bisnis serta keluarga Anda akan dapat mencapai terobosan finansial secara optimal.

3. Manage Your Relationship. Hubungan yang baik dengan siapa saja dapat menjadikan Anda pribadi yang kaya raya dan sukses. Begitu juga dengan perusahaan yang baik adalah perushaan yang mampu menjaga hubungan yang harmonis antara supplier dan pembeli. Jika kedua hal ini berjalan dengan lancar maka keuntungan perusahaan akan meningkat. Sama halnya dengan diri Anda, baik sebagai pekerja atau karyawan. Pekerja yang bisa kaya raya dan sukses adalah pekerja yang bisa menjaga hubungan yang baik dan harmonis dengan sesama rekan kerja dan atasan. Selain itu, Anda harus bisa berprilaku yang menyenangkan kepada semua orang di kantor atau lingkungan kerja.

Begitu pula dengan kehidupan pribadi keluarga Anda. Keluarga yang harmonis dan sukses adalah keluarga yang dapat menjaga hubungan yang erat dan saling terbuka di antara semua anggota keluarga. Tanpa ada sesuatu yang ditutup-tutupi dan saling mengasihi sesama anggota keluarga. Selain itu, keluarga yang sukses dapat kita rasakan melalui adanya kerinduan untuk cepat-cepat pulang kerumah dan bertemu dengan seisi keluarga (karena sudah kangen dengan anak-anak, kakak, adik, ataupun orangtua kita).

Apa pun pekerjaan atau posisi Anda sekarang, sebagai karyawan, tukang parkir, penulis, petani, penjual jamu, tukang becak, presiden direktur, CEO, owner perusahaan, pejabat, menteri, bahkan presiden sekalipun, Anda harus memiliki terobosan finasial. Karena, dengan memiliki spirit ini maka kebebasan keuangan akan mengantarkan Anda menjadi pribadi yang bukan hanya menang dalam kehidupan ini, tetapi juga pribadi yang lebih dari pada pemenang, more than the champion.

Bagaimana pendapat Anda? Salam MANTAB (MAnusia TAnpa Batas).[me]

* Mario Einstain adalah anak seorang PNS. Saat ini sedang mempelajari masalah perbankan, perencaan keuangan, asuransi, investasi, pengembangan kepribadian, konseling keluarga dan percintaan. Ia adalah Young Motivator, Life Inspirator, dan alumnus Sekolah Penulis Pembelajar Angkatan 3. Mario dapat dihubungi di nomor telepon: 08159839928, 021-93087935, atau melalui email: mario_einstain@yahoo.com.

MENULIS SAMBIL MEMBERDAYA DIRI

Oleh: Adjie

“Gue denger mereka sudah ikut banyak program pelatihan,” kalimat yang terasa menggantung ini meluncur dari mulut seorang rekan. Ia seorang trainer dengan jam terbang yang panjang. Kami berbincang pada kesempatan rehat kopi saat memfasilitasi sekitar 100 orang dari sebuah perusahaan yang bergerak di bisnis distribusi otomotif.

Selintas pernyataannya menyiratkan keheranan, mengapa setelah banyak program pelatihan diikuti, orang-orang ini lagi-lagi hadir dalam pelatihan ke sekian. Keheranannya semakin bisa dipahami ketika kemudian saya menengok pada topik yang akan kami bawakan. Program dua hari itu akan membahas soal-soal generik, tema-tema mendasar semisal motivasi, kerja sama kelompok, dan komunikasi.

Mendengar ucapan kawan itu, saya senyum saja, diam dan menunggu cerita lebih lanjut darinya.

Dengan antusias lalu tersebutlah sejumlah nama trainer ternama kelas mahal yang pernah memberikan pelatihan pada orang-orang ini. Walau senang mendapatkan kesempatan menjadi fasilitator program macam ini, saya tak kalah heran dengan realitas di atas. Pertanyaan saya juga pertanyaan lama, ” Sungguhkah kita memerlukan itu semua?”

”Gue jadi heran, mau ngapain lagi mereka ikut pelatihan?” lanjut kawan bicara saya.

”Mungkin karena mereka melihat program-program yang mereka ikuti seperti menikmati kopi di kala suntuk. Jadi, kalau pas bete, mereka cari lagi kopi itu. Memang bisa kecanduan juga,” kata saya sambil tetap menjaga senyum

”Sebenarnya, ini pekerjaan rumah buat kita. Kita harus tahu apa yang sebenarnya mereka cari,” kali ini kawan saya melontarkan gagasan yang lebih menggerakkan. Ada pesan perubahan dan dorongan untuk bergerak di balik pernyataannya

Ketika mengomentari para peserta, pada dasarnya saya seperti membuat penilaian terhadap diri sendiri. Kalau terhadap pengalaman peserta di atas kami hanya sempat heran, maka saya lebih dari itu. Saya bahkan sedikit kecewa dan sempat menyesali banyak hal yang saya lewati, terutama yang berhubungan dengan keikutsertaan saya pada sejumlah program pelatihan. Sudah lumayan banyak program pengembangan diri yang saya ikuti, namun ketika saya melihat sejauh mana saya berubah dan bertumbuh, maka kadang saya kurang puas. Dinamika perasaan semacam itulah yang kemudian muncul kembali ketika hari itu saya tahu bahwa banyak peserta yang berulang kali mengikuti jenis pelatihan yang sama.

Mungkin tak ada yang salah dengan program yang ditawarkan. Setiap program yang dijual pasti mengusung niat untuk membantu orang supaya berkembang secara optimal dan mampu mengaktualisasikan potensi diri yang ada. Dengan asumsi demikian, maka semua program itu tentu menawarkan manfaat pada peserta. Pertanyaannya sekarang, manfaat macam apa yang benar-benar dinikmati peserta? Sejauh mana mereka berubah? Apakah pernah ada analisis tentang efektivitas program yang pernah mereka ikuti? Kalau tidak efektif, apa yang salah?

”Buat gue, justru setiap orang harus punya sistem sendiri untuk mengelola proses belajarnya. Nggak semua pendekatan cocok untuk orang yang berbeda,” kalimat ini meluncur ringan dari mulut saya. Seakan udara yang lama tertahan dalam sesak di dada. Mengucapkan kalimat itu membuat saya plong. Ada sebuah keyakinan kuat yang mendasari pernyataan tadi, dan itu yang kemudian membuat saya lega kala bisa mengungkapkannya pada orang lain.

Dan, pembicaraan kami waktu itu sempat melebar, menyinggung soal-soal lebih besar dalam dunia dan tema pengembangan sumber daya manusia.

”Buat loe sendiri bagaimana masa depan pelatihan?” tanya saya memancing.

”Besar sekali prospeknya. Contohnya, ya seperti ini. Banyak orang ikut terus program-program macam ini.”

Saya sempat terganggu mendengar ucapan kawan yang satu ini. Ada sinisme yang membuat mata saya membelalak, ”Jadi, kenyataan ini justru jadi peluang ya?”

Ada yang mengganjal mendengar responnya. Mungkin ganjalan itu muncul karena saya merasa tengah melawan idealisme yang sedang tumbuh. Buat saya, kita justru harus prihatin saat menyaksikan masih banyak orang yang terjebak pada lingkaran program berharga mahal. Keprihatinan yang semoga mendorong kita mencari solusi. Solusi yang ditawarkan pun sebisa mungkin jangan justru semakin membebani mereka. Paling tidak, masih terjangkau secara finansial.

Sebaliknya, saya khawatir cara pandang kawan saya karena dasar orientasi dan pertimbangannya lebih banyak pada soal mengeruk uang sebanyak mungkin dengan cara menjual program-program pelatihan dan pengembangan diri. Semoga bukan itu yang menjadi dasar berpikirnya, yang kemudian mengantarnya pada sebuah kesimpulan tentang peluang bisnis yang besar di bidang ini

Untuk tak terjebak pada sinisme yang makin menggunung, saya bertanya sana-sini. ”Topik apa yang menurut loe masih besar peluangnya?”

”Sekarang sih lagi musim tema change management.” Kawan saya pun mengurai alasannya mengapa topik manajemen perubahan menjadi isu yang masih hangat.

”Emangnya apa sih masalah besar mereka? Apa benar mereka demikian desperado dengan masalah yang dihadapi, sehingga harus mengeluarkan banyak uang dengan ikut program macam itu?” saya tak tahan bertanya lebih tajam. Saya ingin juga mendengar pandangannya tentang hal ini. Mencari tahu apakah orang-orang memang sudah sedemikian putus asa sehingga sangat membutuhkan program pelatihan jenis ini.

Lalu, pembicaraan kami terputus. Kelas harus segera dimulai lagi. Saya dan dia harus bekerja lagi, membimbing peserta mengikuti program. Saya dan kawan ini tampak tak bertemu pada satu titik ide yang sama. Tak apa, kami mungkin memang tengah bergerak dari arah berbeda. Atau sebaliknya, sebenarnya kami berangkat dari titik yang sama, yang sayangnya sedang menuju arah yang berbeda.

***

Hari ini, saya semakin yakin bahwa mestinya kita memang tak perlu terlalu banyak mengeluarkan biaya untuk bisa bertumbuh secara optimal. Mestinya masalah manusia tak sedemikian kompleks dan ruwetnya, sehingga membutuhkan konsultan besar untuk bisa keluar dari kemelut persoalan yang ada.

Pada saat yang sama, kadang saya khawatir justru saat ini kita ternyata sudah teramat hebat dalam mendramatisir persoalan sederhana kita. Fakta yang biasa saja seringkali kita bingkai dengan kaca buram. Yang akibatnya justru tampak sebagai sebuah masalah besar dan rumit. Bukankah banyak fakta yang bukan masalah? Cara pandang kitalah yang kadang membuatnya jadi masalah.

Di tengah arus berpikir demikian dan dengan berkaca pada banyak kejadian, saya jadi semakin yakin untuk mendorong dan memantapkan gagasan tentang belajar dari keseharian kita.

Pengalaman keseharian kita adalah narasi terbaik yang kita punya. Dan kita bisa belajar dari narasi diri semacam itu, sebagaimana kita bisa belajar dari narasi dan kisah orang lain. Bukankah selama ini kita pernah teramat asyik membaca kisah orang-orang di luar sana? Jadi, pertama-tama kita harus mulai serius belajar tentang narasi diri. Perlahan, kita mulai mempertimbangkan langkah untuk belajar mengubah narasi itu. Bukankah kita sang pencipta narasi kehidupan itu? Kitalah yang memegang kuas untuk melukisi kanvas kehidupan pribadi kita

Kalau awalnya narasi adalah sekadar rekaman realitas lama kita, maka berikutnya narasi diharapkan mampu membantu kita dalam mencipta realitas baru. Ini sejalan dengan gagasan bahwa apa pun di luar sana adalah dunia akibat, sementara dunia sebab ada di dalam pikiran kita. Pikiran kitalah yang menjadi awal realitas di luar sana.

Narasi atau kisah atau tulisan adalah buah dari pikiran yang kita patri dan padatkan. Dengan begitu, menjadi logis saja jika kita berharap bahwa suatu saat narasi bisa menjadi titik tolak untuk mengubah realitas di luar sana. Narasi akan membantu kita untuk mengubah realitas masa depan kehidupan kita

Dengan begitu, menulis (misalnya menulis jurnal) dapat menjadi media yang akan membantu kita merekam, mengembangkan, dan mengubah narasi hidup keseharian kita. Pada titik ini, saya jadi teringat tulisan seorang rekan dalam sebuah komunitas penulisan, yang berujar sebagai berikut:

”Buat saya, menulis juga berbanding lurus dengan perjalanan menuju tingkat kedewasaan dan kematangan tertentu. Saat ini sambil terus belajar caranya menulis dengan baik, saya pikir, saya juga belajar bertumbuh menjadi dewasa. Dan karena saya pikir proses pendewasaan diri berlangsung seumur hidup, maka bisa jadi pelajaran menulis adalah kelas terpanjang yang pernah saya ikuti.”
~ Retnadi A.

Sejalan dengan pandangan kawan di atas, saya sendiri sejak lama mempertimbangkan aktivitas menulis sebagai salah satu jalan terbaik untuk memberdaya diri. Saya membayangkan betapa indah kalau kita mampu menuliskan apa-apa yang kita pelajari dan temukan dari perjalanan hidup di keseharian kita. Pasti ada banyak pelajaran dan hikmah dari kehidupan kita yang layak dituangkan ke dalam tulisan. Dan, tulisan-tulisan itu akan jadi narasi tentang sejauh mana kita belajar dari pengalaman.

Pada saat yang sama, saya juga mengangankan betapa hidup akan makin bermakna kalau kita sungguh mampu berubah sebanyak dan sepanjang tulisan yang sudah jadi buah perenungan kita. Sungguh disayangkan kalau ternyata kita hanya puas dan berhenti sampai pada mampu menuliskan hikmah kehidupan. Sayang kalau kita hanya mampu menuangkan refleksi menjadi narasi, lalu kemudian melupakan semua yang pernah kita tuliskan.

Akan ideal kalau kita sungguh belajar, belajar yang bermakna perubahan yang relatif menetap. Kalau kita mampu mencapai tahapan belajar semacam ini, maka tak ada lagi kisah tentang kita tercebur pada lubang kesalahan yang sama. Maka dengan begitu tulisan kita tak sekadar tinggal menjadi narasi yang menggelikan, seperti saat saya geli melihat betapa sulitnya kita tumbuh menjadi pribadi yang konsisten antara ucapan dan kelakuan.

Kalau kegiatan menulis semakin saya yakini akan menjadi sarana yang efektif untuk memberdaya diri, maka bukan berarti pendekatan lain kemudian menjadi tak berguna. Pada titik ini, saya lebih memilih dan memandang kegiatan menulis sebagai alat yang sangat compatible, bahkan sekadar melengkapi pendekatan pengembangan diri yang lain.

Sekadar contoh, kita dapat mengaitkan kegiatan pelatihan dengan journal writing. Jelas bahwa journal writing akan memberi manfaat jika dijadikan sebuah alat monitoring tentang sejauh mana kita berubah dan bertumbuh seusai mengikuti program pelatihan lain. Kita bisa mengungkap dan menuliskan apa yang terjadi saat sebelum dan sesudah kita mengikuti sebuah program pelatihan. Kita juga bisa mengangkat perenungan kita tentang kendala yang dihadapi dalam menerapkan ilmu dari pelatihan kita. Bisa juga diceritakan bagaimana reaksi lingkungan terdekat saat kita berupaya berubah dan menerapkan hasil dari pelatihan, dan seterusnya dan seterusnya.

Buat saya, contoh sederhana di atas seakan menegaskan bahwa ada sejumlah pilihan agar kita bisa memanfaatkan kegiatan menulis dalam kerangka dan untuk disandingkan dengan program lain. Jadi semakin jelas pula, sesungguhnya kita layak optimis bahwa menulis memang bisa menjadi pintu masuk yang layak diperhitungkan guna membantu kita mengembangkan diri.

Semoga.[adjie]

* Adjie adalah karyawan sebuah perusahaan multi-national. Sehari-hari, selain terus berlatih menulis, ia juga menempatkan diri sebagai Facilitator for Human Resiliency Development (FHRD). Ayah empat orang anak ini adalah peminat tema life balance dan mind empowerment. Ia dapat dihubungi di:

[

EKSISKAN JIWA LEWAT MENULIS



Oleh: Sofa Nurdiyanti

“Sungguh sebuah buku dapat mengubah jiwa dan nasib dunia…”
~ Mohammad Fauzil Adhim

“Menulis bisa menjadi sarana untuk mengungkapkan perasaan seseorang.” Ungkapan ini mungkin tidak asing lagi bagi kita semua. Pada saat tertentu, terkadang kita tidak bisa menceritakan perasaan kita pada orang lain. Nah, dengan menulis kita bisa belajar mengungkapkan perasaan lewat tulisan. Ya! Ungkapkanlah perasaan lewat tulisan. Eksiskan jiwa lewat menulis. Lewat tulisan kita bisa belajar tentang banyak hal.

Bisa jadi, menulis merupakan kegiatan sehari-hari yang terlewatkan begitu saja, tanpa kita tahu betapa berharganya sebuah tulisan. Padahal, menulis merupakan salah satu sarana pengembangan diri maupun pembentukan karakter seseorang. Lewat tulisan, kita bisa lebih arif dalam menentukan langkah-langkah dalam hidup kita.

Dunia tulis-menulis sudah dikenal sejak zaman sebelum masehi. Kita bisa tahu lewat prasasti yang ditinggalkan oleh peradaban zaman dulu. Prasastilah yang berbicara tentang peradaban suatu bangsa pada kita. Lewat prasasti pula kita tahu ternyata peradaban mereka tidak kalah maju dengan zaman kita sekarang (abad 21).

Barangkali, jika manusia zaman dahulu tidak memprakarsai dan menciptakan metode menulis untuk berkomunikasi, kita masih terkungkung oleh bahasa isyarat. Komunikasi kita akan terbatas dalam satu kelompok masyarakat saja, dan kita tidak bisa berkembang atau berinteraksi dengan masyarakat lainnya.

Mengapa harus dengan menulis? Hal inilah yang perlu kita cermati lebih lanjut. Menulis sama dengan mendokumentasikan fakta, pengetahuan, peristiwa penting, bahkan sejarah peradaban suatu bangsa sekalipun. Tanpa menulis, segala sesuatunya akan menguap begitu saja. Tidak tersampaikan, tersimpan, dan tidak diketahui oleh generasi yang akan datang. Padahal, sebuah tulisan dapat memberitahu fakta-fakta (informasi) yang berguna sebagai aset penting di masa yang akan datang.

Contoh, lewat prasasti yang ditemukan, kita dapat mengetahui peradaban bangsa Mesopotamia (sekarang lebih dikenal dengan nama Irak). Prasasti berhuruf paku itu berisi hukum dan undang-undang yang telah terbentuk sebelum masehi. Undang-undang tersebut dikenal dengan nama hukum Hammurabi (Codex Hammurabi).

Perkembangan bangsa Cina pun semakin pesat, terutama sejak ditemukannya cara pembuatan bubur kertas. Ditemukannya kertas jelas sangat mendukung kegiatan menulis, sekaligus merupakan cikal bakal perkembangan sastra di Cina yang begitu pesat. Banyak peradaban bangsa-bangsa sebelum masehi yang bisa kita teliti lewat prasasti dan bangunannya. Peradaban tersebut tidak akan kita ketahui kalau bangsa-bangsa itu tidak mendokumentasikannya melalui bahasa tulisan.

Manfaat menulis
Menulis, kadang menjadi kegiatan yang membosankan pada sebagian besar orang. Tak jarang pula, aktivitas menulis terkesan ekslusif untuk kalangan tertentu saja. Padahal, kegiatan menulis ini bisa dilakukan oleh semua orang. Dan, menulis merupakan salah satu kegiatan yang mempunyai dampak positif bagi kita.

Dari pengamatan saya, menulis mempunyai banyak manfaat sebagai berikut.

1. Menulis dapat melatih kepekaan kita. Hal ini terjadi karena, sebagai penulis, kita dituntut untuk peka dan tanggap terhadap hal-hal yang terjadi di sekitar kita. Dengan menulis, indera kita akan menjadi semakin terasah dan jeli, terutama dalam melihat segala peristiwa yang dapat dijadikan sebagai bahan tulisan.

2. Dengan menulis, eksistensi kita akan diakui oleh masyarakat secara luas. Karena lewat tulisan, pembaca mengenal pribadi maupun gagasan-gagasan kita. Menulis membuat kita bisa memberikan sumbangsih bagi dunia. Asal, tulisan kita bersifat membangun dan bukan sekadar tulisan tanpa makna.

3. Menulis merupakan sarana refleksi dan perencanaan yang matang tentang hal-hal yang akan kita lakukan di masa mendatang. Banyak hal yang kita lakukan, namun terkadang terlepas dari refleksi diri. Akibatnya, kita sendiri jadi kurang menyadari apa yang telah maupun ingin kita lakukan. Jadi, buatlah rencana-rencana secara matang untuk setiap target hidup kita supaya hidup menjadi jelas dan terfokus.

4. Menulis merupakan sarana untuk melatih kemampuan mengomunikasikan ide-ide kita pada orang lain. Menyampaikan ide pada orang lain bukanlah hal yang mudah. Bisa jadi, apa yang kita pikirkan dan kita sampaikan menjadi tidak sesuai. Mungkin, ini karena kita jarang menyampaikan ide kepada orang lain. Akibatnya, kita jadi gagap saat harus mengutarakannya. Nah, belajar menulis bisa melatih kemampuan kita dalam memilih kosa kata, menata kalimat, atau membangun argumen sehingga orang mengerti apa yang ingin kita sampaikan.

5. Menulis juga merupakan sarana untuk melatih ego kita. Dalam menyampaikan ide kepada orang lain dalam bentuk tulisan, kadang kita terjebak untuk menuliskan banyak ide sekaligus dalam satu tulisan. Padahal, belum tentu ide-ide tersebut dapat kita satukan dalam sebuah topik tulilsan. Akibatnya, tulisan jadi tidak fokus dan tidak punya arah yang jelas. Pembaca pun jadi kurang paham dengan maksud tulisan tersebut.

Uraian di atas hanyalah sebagian kecil dari manfaat kegiatan menulis. Masih banyak lagi manfaat lainnya yang bisa kita gali.

Kiat menulis
Menulis bukanlah hal yang sulit dilakukan. Menulis bisa dilakukan oleh setiap orang, tanpa mengenal tingkat pendidikan, jabatan, rentang usia, atau strata sosial. Menulis bisa dilakukan oleh siapa saja dan kapan saja. Menulis juga tidak memerlukan banyak biaya karena yang dibutuhkan hanyalah kemauan dan keseriusan untuk memulai serta berlatih. Jadi, siapa pun bisa menulis asal mau dan rajin berlatih. Nah, berikut adalah beberapa cara praktis berlatih menulis.

1. Mulailah menulis dari sekarang. Tidak perlu memikirkan tema-tema besar terlebih dahulu. Karena sekali lagi, ini adalah salah satu proses belajar yang tidak dapat dikuasai dalam sekejap. Menulislah dengan sepenuh hati. Jangan ragu memulai menuliskan kejadian-kejadian yang baru kita alami. Bandingkan pengalaman yang baru saja dialami dengan hasil tulisan; apakah tulisan ini sudah bisa menyampaikan sebagian besar maksud atau perasaan yang ingin disampaikan?

Jika belum, teruslah mencoba, mencari beberapa alur atau kosa kata yang spesifik dengan peristiwa terkait. Dalam latihan menulis, kejadian-kejadian keseharian merupakan salah satu tema yang mudah ditulis. Menulis diari adalah contoh yang bagus dalam proses belajar menulis.

2. Sediakan waktu minimal 30 menit setiap harinya untuk merefleksikan kejadian/ide yang ingin dituangkan dalam bentuk tulisan. Tumbuhkanlah motivasi dan semangat pantang menyerah untuk terus belajar dan belajar. Karena, sebrilian apa pun ide, cerita, atau artikel yang kita pikirkan, mereka tetap akan tersimpan dalam memori—atau bahkan terlupakan—jika kita memutuskan menyerah untuk menuliskannya.

Semakin sering kita berlatih, semakin banyak pula kosa kata yang kita kuasai. Dan, ini akan membuat tulisan kita punya ciri khas (spesifikasi) tersendiri. Minat yang ingin kita tekuni—entah jadi penulis buku motivasi, novel, skenario, cerpen, dll—akan semakin kelihatan.

3. Jika mengalami kesulitan dalam menuliskan alur cerita atau artikel, maka buatlah kerangka tulisan. Ini merupakan jembatan untuk mentransformasikan ide dalam bentuk tulisan. Kerangka tulisan tidak harus kaku atau tidak bisa diubah sama sekali. Kerangka tulisan harus bisa dikembangkan, sejalan dengan ide-ide baru yang mungkin muncul. Atau, mungkin juga berbagai data yang nantinya dapat dikaitkan dengan tulisan kita. Fungsi kerangka tulisan memang untuk memudahkan kita dalam menulis.

4. Saat menulis, kita tidak perlu memikirkan masalah editing terlebih dahulu. Keterampilan editing akan dikuasai sering semakin meningkatnya intensitas penulisan. Yang terpenting, pembaca mampu memahami maksud tulisan kita. Nah, manakala ide bisa tersampaikan melalui tulisan-tulisan, jangan ragu untuk meningkatkan kemampuan editing. Sebab, kemampuan ini penting sekali bagi seorang penulis.

5. Seraplah wawasan dan pengetahuan sebanyak mungkin. Ini akan sangat berguna sebagai referensi atau gudang ide dalam proses menulis. Menonton siaran berita di televisi, baca berita di koran dan majalah, baca berbagai jenis buku pengetahuan, dan browsing informasi terbaru di internet, semuanya sangat berguna bagi proses belajar kita.

6. Terakhir, kirimkan artikel, opini, cerpen, novel, atau berbagai bentuk tulisan lainnya ke media-media. Kita tidak akan pernah tahu kualitas tulisan yang kita buat bila tidak pernah berinisiatif mengirimkannya ke media massa. Ketika mengirimkan tulisan, jangan pernah takut mengalami penolakan. Sebab, penulis yang berhasil bukanlah mereka yang tidak pernah gagal sama sekali. Penulis yang berhasil adalah mereka yang terus belajar dari kesalahan atau kekurangan yang dibuat, dan kemudian mengambil langkah-langkah perbaikan.

Nah, buat Anda yang ingin keberadaanya diakui secara luas, menulis merupakan salah satu pilihan yang tepat. Eksiskan jiwa muda Anda dengan menulis. Jadikan aktivitas menulis sebagai sarana pengembangan diri. Sebab, mengembangkan diri tidaklah selalu berarti mencari sesuatu yang baru dari luar diri kita. Mengembangkan diri juga bisa dimulai dengan mengembangkan potensi yang ada dalam diri setiap orang.

Saya pun yakin, menulis merupakan potensi yang ada dalam setiap orang. Karena, pada dasarnya setiap orang mampu punya banyak ide berharga dan punya kemampuan menulis, sekecil apa pun itu. Jadi, berapa pun usia Anda sekarang—terlebih lagi jika masih berusia muda—kembangkan potensi tersebut dan teruslah berlatih menulis. Siapa tahu, dengan menulis kita bisa menginspirasi orang lain untuk maju dan berkembang.

Dan ingat, semangat jiwa muda akan selalu ada bukan karena hitungan usia. Namun, jiwa muda akan senantiasa bergelora karena ide-ide kita yang mengandung semangat untuk selalu eksis dan berkembang.[sn]

* Sofa Nurdiyanti adalah mahasiswa semester tiga Fakultas Psikologi, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta. Ia suka membaca buku dan saat ini aktif menulis di majalah “eksis”, sebuah wadah jurnalistik Fakultas Psikologi, Sanata Dharma. Ia tengah semangat berlatih supaya kelak mampu menjadi penulis dan trainer. Email: nurrohmah_06@yahoo.com.

HARUS MENANG



Oleh: Hartati Nurwidjaya

Kita semua sudah melewati masa liburan dan sudah bersilaturahmi dengan sanak keluarga. Maka, kini saatnya kita meneruskan langkah mencapai cita-cita dengan berusaha sekuat tenaga dan pikiran.

Saya mau buka sedikit rahasia, begini; setiap hari di inbox selalu dapat kiriman email dari motivator dunia yang memang banyak asalnya dari negeri Paman Sam. Isi emailnya, yang paling saya sukai dari Mike Brescia, sebab setiap subjek email judulnya: Tati “Today is Your Day to Win”.

Menurut Dan Robey, bahwa aktivitas yang dilakukan secara terus menerus selama 20 hari akan menjadi kebiasaan. Nah, akibat saya baca email yang judulnya “harus menang”, maka sekarang dipikiran sudah otomatis meminta tubuh dan seluruh anggota badan untuk menuju kemenangan.

Jika mental dan perasaan kita sudah terbiasa untuk melawan rasa malas, rasa pesimis, dan hal negatif lain, maka semua jiwa dan raga diarahkan agar menang. Sebagai pelajar; Anda harus menang dengan mendapat nilai ujian tinggi. Sebagai pengusaha; Anda harus mencapai target omzet. Sebagai penulis, saya harus menulis setiap hari agar menang dan bisa menerbitkan buku lagi.

Hari ini saya membaca kisah mengenai dua orang bersaudara kandung, yang satu penjahat berbahaya dan satunya lagi seorang guru besar di universitas. Suatu hari ketika si penjahat tertangkap oleh polisi, dan sesuai prosedur ditanyakan padanya mengenai keluarga yang bisa dihubungi.

Jawabannya menarik perhatian polisi. Sebab, si penjahat memberi tahu bahwa saudaranya adalah seorang profesor. Lalu, polisi memberitahu wartawan mengenai temuan yang menarik ini.

Akhirnya, wartawan mengetahui latar belakang keluarga dua bersaudara tersebut. Ternyata, ayah mereka adalah seorang penjudi dan sering memukuli anak-anaknya. Ketika keduanya berusia 19 tahun dan 20 tahun, ayah mereka meninggal akibat serangan jantung.

Singkat cerita, wartawan mewawancarai kedua bersaudara tersebut di tempat terpisah. Pertanyaannya adalah, “Bagaimana hingga Anda bisa jadi begini?”

Jawaban keduanya secara kebetulan sama, “Punya ayah macam ayah saya, gimana saya enggak jadi begini?”

Si penjahat mengatakan alasan ia menjadi penjahat kelas kakap dan berbahaya akibat ayahnya yang penjudi dan tukang pukul.

Sedangkan saudaranya yang menjadi profesor, justru giat belajar, rajin beribadah, dan berteman dengan orang baik-baik. Ia justru termotivasi dan tidak ingin menjadi orang seperti ayahnya.

Kesimpulannya, betapa pun sulitnya situasi kita, baik dari lingkungan kerja, keluarga, sekolah, atau teman. Namun, jika kita bisa menentukan pilihan yang baik bagi diri sendiri, maka segala hal yang buruk sekalipun bisa dijadikan motivasi untuk menjadi orang sukses dan baik. Tunjukkan pada dunia, ini Anda bisa. Tapi ingat, janganlah menjadi sombong.[hn]

* Hartati Nurwidjaya adalah seorang ibu rumah tangga yang saat ini tinggal di Megara, Yunani. Ia baru saja meluncurkan sebuah buku bertemakan perkawinan antarbangsa. Tati dapat dihubungi melalui blog-nya di: http://perkawinan-antarbangsa-loveshock.blogspot.com atau melalui email: tatia30@yahoo.com.

SELAMANYA ORANGTUA ADALAH GURU BAGI ANAKNYA


-
Oleh: Zhen Zhen

Apa yang selalu diharapkan oleh orangtua selain anak yang sehat jasmani dan rohani? Multi-talenta? Serta IQ yang di atas rata-rata?

Semua itu adalah keinginan yang masih wajar-wajar saja. Hanya saja, kadang orangtua lupa akan nilai moral yang seharusnya ditanamkan dalam pribadi anak sejak usia dini.

Kita ambil contoh yang paling sederhana dalam kehidupan sehari-hari. Banyak kita jumpai pada waktu jam makan, anak selalu dibiarkan makan sambil bermain dan berlari kesana kemari, yang penting makanannya habis. Sungguh sangat memprihatinkan. Secara tidak langsung ini mencerminkan kurangnya kedisiplinan orangtua dalam mendidik anak. Juga, ini seperti mengajarkan anak menjadi tidak disiplin.

Jika hanya sesekali saja masih wajar saja, tapi kalau keterusan tentu saja tidak baik dan mungkin akan berakibat fatal. Kenapa demikian? Karena, jika sampai anak tersedak makanan, mungkin saja itu akan membahayakan nyawa si anak itu sendiri.

Orangtua memegang peran yang sangat besar dan bertanggung jawab sepenuhnya dalam pengembangan mental dan moral anaknya.

Ketika saya dalam perjalanan dari sekolah salah satu saudara saya yang masih duduk di bangku SD menuju rumah, ada seorang bapak yang sedang bertanya pada anaknya yang berumur 8 tahun tetang kegiatannya hari itu.

Bapak: "Hari ini bagaimana sekolahnya, Nak?"
Anak: "Tadi berantem sama temanku si A."
Bapak: "Terus?"
Anak: "Si A mau minjam pensil warnaku, tapi nggak kukasih."
Bapak: "Terus?"
Anak: "Katanya kalau aku selalu begitu nanti aku nggak punya teman."
Bapak: "Terus?"
Anak: "Terus, kukatakan aja nggak apa-apa, kok. Yang pentingkan aku pintar. Benar nggak, Pa?"
Bapak:"Benar. Nggak apa-apa, yah! Yang penting jadi anak yang pintar. Kalau pintar nanti juga banyak yang deketin."

Sungguh sangat menyedihkan percakapan antara bapak dan anak tersebut. Memang benar sebagai orangtua kita wajib memotivasi anak, tapi kalau dengan cara demikian, apa pendapat Anda? Bukankah secara tidak langsung si bapak telah menanamkan benih keangkuhan yang tida penting dalam diri anaknya? Ingatlah, kesombongan tidak memberikan keuntungan apa-apa bagi kita.

Sebenarnya, seorang anak kecil memiliki hati yang tulus dan mulia. Mereka selalu memperlakukan orang-orang yang berada di sekitarnya layaknya dirinya sendiri. Mereka selalu mengajak kita atau anak yang lainnya untuk bermain bersama tanpa memandang adanya perbedaan suku, agama, warna kulit, atau status ekonomi.

Suatu sore ketika anak saya yang baru berumur 3 tahun minta dipotongkan es potong kesukaannya, ia berkata, "Ma, Mbak-mbak di kasih juga yah?" Ketika saya memotong es, ia mengingatkan kembali agar saya tidak lupa membagikan pada pembantu saya satu orang satu potong. Saya hanya tersenyum dan mengiyakan keinginannya. Ada terselip perasaan kagum akan kemurahan hati anak kecil ini.

Cobalah kita amati tingkah dan sifat asli anak-anak. Mereka memiliki sifat-sifat luhur yang seharusnya kita kembangkan dan bimbing agar kelak mereka menjadi orang yang dapat berkembang dengan baik, serta dapat diterima dengan baik pula oleh orang di lingkungannya maupun masyarakat. Jangan sebaliknya, kita malah meracuni mereka dengan sifat yang egois dan serakah.

Berikanlah anak kebebasan yang terarah dalam pengembangan kepribadiannya. Janganlah selalu memaksakan kehendak orangtua kepada anak. Memang, selaku orangtua kita selalu ingin yang terbaik untuk anak. Tapi, hargailah mereka selaku individu yang berkepribadian. Terkadang mereka juga memiliki pendapat yang ingin mereka pertahankan. Maka, usahakanlah untuk selalu menjalin komunikasi yang baik dengan mereka.

Dengarkan kata-kata mereka, dengarkan keinginan mereka, dan awasi sikap yang mereka ambil. Baru kita memberikan penjelasan dan penilaian atas sikap mereka, apakah baik atau harus diperbaiki, tapi dengan cara yang benar. Anak akan bisa mengerti dan menurut jika yang kita ajarkan memang masuk akal. Usahakan hindari sikap menghakimi, seolah mereka adalah tersangka yang bersalah.

Kita selaku orangtua adalah guru pembimbing bagi mereka. Kitalah guru mereka yang paling pertama dan untuk selamanya.

Di kota-kota besar pada zaman sekarang ini, banyak kita jumpai orangtua yang bahkan tidak tahu anaknya hari ini di sekolah belajar apa. Ada PR atau tidak, sama teman bagaimana, pulang sekolah ke mana… Yang mereka pikirkan hanyalah bekerja untuk memenuhi kebutuhan jasmani keluarganya atau sibuk dengan kegiatan yang entah bermanfaat atau tidak di luar rumah.

Anak dari pagi buka mata hingga malam menutup mata, orang yang pertama dan terakhir mereka lihat adalah pengasuhnya (baby sitter atau nanny). Perlu kita ketahui bahwa tidak ada orang lain yang bisa memberikan kasihnya dan mengerti anak kita seperti yang kita berikan. Boleh saja ada orang yang membantu tapi jangan kita lupa akan tugas dan tanggung jawab kita sebagai orangtua.

Jika kita lupa atau melupakan tugas kita sebagai orangtua, lalu apa fungsi kita sebagai orangtua? Bagaimana penilaian anak akan orangtuanya? Apakah mereka bisa menghargai orangtua sepenuhnya? Jadi, jangan selalu menyalahkan anak jika orangtua tidak memberikan contoh yang baik pada mereka.

Anak yang kita lahirkan bagaikan bunga yang kita tanam, mulai dari menanam benihnya, kita menjaganya. Setiap hari kita menyiraminya dengan kasih sayang, selalu kita memupuknya dengan cinta. Hingga suatu hari kelak ia akan tumbuh subur dan berbunga cantik dan wangi juga bermanfaat.

Marilah kita selalu belajar bersama agar hidup ini lebih bermakna. Salam Pembelajar.[zz]

* Zhen Zhen adalah seorang ibu rumah tangga yang berminat dalam bidang tulis-menulis. Ia adalah alumnus Sekolah Penulis Pembelajar Angkatan I. Tinggal di Jakarta, Zhen Zhen dapat dihubungi melalui email: yuwa_yw@yahoo.com.

KUTU LONCAT



Oleh: Afra Mayriani

"Nothing is too high for a man to reach, but he must climb with care and confidence."
~ Hans Christian Andersen

"I have missed more than 9000 shots in my career. I have lost almost 300 games. On 26 occasions I have been entrusted to take the game winning shot . . . and missed. And I have failed over and over and over again in my life. And that is why . . . I succeed."
~ Michael Jordan

“Kutu loncat” dalam urusan karier sering didefinisikan sebagai seseorang yang sering berpindah-pindah pekerjaan. Kalau saya menyebutnya dengan istilah “nomaden”. Biasanya, kegiatan berpindah perusahaan ini dilakukan dalam rentang waktu kerja satu sampai lima tahun sekali. Namun, tidak jarang karyawan yang masa kerjanya belum memasuki satu tahun, telah memutuskan untuk keluar dan pindah ke perusahaan lain.

Para “kutu loncat” ini sebenarnya bukanlah kategori karyawan yang tidak berkompetensi. Justru kebanyakan dari mereka adalah para profesional yang memiliki kompetensi dan kualitas sangat bagus. Mungkin Anda akan bertanya-tanya, jika memang sudah memiliki karier bagus, gaji dan benefit bagus, lalu apa sih yang mereka cari sesungguhnya? Kenapa merisikokan perjalanan karier mereka untuk suatu tujuan yang sebenarnya mereka sudah dapatkan di suatu perusahaan?

Jawabannya sangatlah simpel, yakni sebuah tantangan. Tantangan untuk terus maju dan mengembangkan diri sejalan dengan lajunya aspek-aspek dalam dunia ini. Tentu saja dibarengi dengan kompensasi lain yang sangat menunjang dan menggiurkan, seperti benefit dan posisi yang lebih tinggi atau menjanjikan.

Tika Bisono, misalnya. Seperti dikutip dari Human Capital No.10 Tahun 2005, Tika menjadikan sifat berpindah perusahaan ini sebagai salah satu strateginya dalam berkarier. “Saya selalu melihat semua pekerjaan itu ada aspek psikologinya. Semua hal yang saya geluti selalu baru, tetapi tidak kehilangan hubungan dengan psikologi,” ungkap Tika. “Itu merupakan syarat utama saya. Saya merencanakan ini sebenarnya sejak lulus S1 tahun 1985. Rencana saya adalah saat itu saya masih berusia 24 tahun, saya menghitung enam tahun, hingga usia 30 tahun itu adalah proses belajar di perusahaan, sambil berjualan kompetensi. Dan, perusahaan yang saya masuki itu harus MNC (multi-national corporation-red) untuk mengejar relasi di tingkat internasional juga. Usia 30-40 itu harus yang mulai naik, start doing something,” lanjut Tika. Selain Tika, ada pula Daniel Rembeth, seorang tokoh periklanan yang mulai menapaki kariernya dari agensi ke agensi lain, seperti Matari, BBDO, AdWork, dan kemudian menjabat Managing Director di TCPTBWA. Kini, ia meraih kesuksesannya sebagai pemimpin perusahaan The Jakarta Post.

Dan, contoh lainnya, adalah Budi Hamidjaja, pemilik dari bisnis restoran siap saji California Fried Chicken (CFC). Ia memulai kariernya dengan bekerja di Rothmans of Pall Mall Australia. Kemudian, oleh perusahaan yang sama ia dikirim ke Indonesia menjadi National Sales Training Manager. Akhirnya, ia meloncat ke Philip Morris Asia, Inc sebagai Sales Operation Manager hingga menduduki jabatan Field Operation Manager di perusahaan yang sama. Tidak sampai di situ, perjalanan kariernya diteruskan dengan bergabung di PT Lippoland Development, lalu PT Putra Surya Perkasa, hingga akhirnya ia mendirikan PT Pioneerindo Gourment, Tbk.

Demikian pula dengan 15 orang yang pernah saya survei, kebanyakan dari mereka berpindah kerja dalam kurun waktu satu sampai dua tahun. Ada pula di antaranya Rio, yang bekerja di perusahaan telekomunikasi. Ia telah berpindah sebanyak sebelas kali dalam rentang 10 tahun kariernya. Masa kerja terlamanya dihabiskan hanya dalam waktu enam tahun, sisanya ia selalu berpindah-pindah setiap satu sampai dua tahun sekali.

Rio pernah bekerja di pembiayaan kendaraan bermotor, perusahaan otomotif, juga tak ketinggalan pengalamannya di salah satu bank swasta. Sampai ia pernah menggeluti dunia pertelevisian di negeri ini selama enam tahun. Dan, merupakan rekor terlamanya dari seluruh perusahaan yang pernah ia singgahi, yang rata-rata paling lama tiga tahun.

Lalu apa sih sebenarnya yang menjadi pemicu para karyawan sehingga menjadi “kutu loncat” selain yang sudah saya sebutkan di atas tadi?

Sesungguhnya ada banyak pemicu, yang menyebabkan seseorang menjalani profesi pekerjaan dengan menjadi kutu loncat. Mulai dari alasan secara umum hingga spesifik, yang dihadapi oleh setiap individu masing-masing karyawan. Biasanya, secara umum yaitu masalah gaji, dan hal ini sering menjadi tolok ukur utama dari para karyawan untuk berpindah mencari pekerjaan di perusahaan lain.

Dengan berpindah perusahaan, diharapkan dapat meningkatkan gaji mereka. Tetapi, yang menarik di sini, adalah persoalan kenaikan gaji ini, tidak melulu dibarengi dengan kenaikan posisi dari perusahaan yang lama. Seperti pengalaman Rio misalnya, ia telah berpindah perusahaan belasan kali, namun itu juga tidak membawanya menduduki posisi yang lumayan tinggi saat ini. Namun, di lain pihak, bila dilihat kembali dari goal (tujuan) awal yang ia tetapkan pada dirinya sendiri sejak memulai kariernya, bahwa posisi tidak begitu penting, “Yang penting bagi saya adalah penghasilan dan benefit yang bagus terutama karena saya telah berkeluarga,” jelasnya pada saya.

Mungkin ada di antara Anda para profesional, ada yang memiliki tujuan sama dengan Rio. Ada pula yang tidak. Karena, banyak juga para profesional menargetkan diri mereka sendiri dalam waktu lima tahun ke depan telah mencapai posisi manajerial yang mapan di sebuah perusahaan besar dan maju.

Rudy misalnya, dalam usianya yang tergolong masih muda, yakni 35 tahun, ia telah mencapai puncak kariernya sebagai seorang General Manajer di perusahaan multinasional terkemuka di Jakarta. Lalu, apa yang membedakan Rio dengan Rudy atau dengan para profesional lainnya yang memiliki keunikan sama yakni sebagai kutu loncat? Ya, masing-masing memiliki goal yang dijadikan target utama. Terlepas apakah itu permasalahan gaji saja, atau posisi di sebuah perusahaan, atau justru tidak menutup kemungkinan kedua-duanya.

Kutu loncat yang handal biasanya sudah memiliki rencana yang matang akan jalur kehidupan kariernya. Hal itu adalah memposisikan target. Di mana, membuat target untuk diri kita sendiri mungkin akan lebih baik dilakukan sejak dari mula. Karena, semakin kita matang saat merumuskan urusan goal tadi, maka kita akan semakin fokus dalam usaha meraihnya.

Apakah kunci menjadi kutu loncat yang sukses hanya sebatas perumusan tujuan saja? Tentu saja tidak, karena selain hal tersebut, yang tidak kalah pentingnya adalah mengetahui dengan pasti apa yang menjadi keunggulan diri kita sendiri. Apa keunggulan Anda? Karena setiap orang memiliki keunggulannya masing-masing. Dan, hal itu dapat dijadikan salah satu bentuk nilai fighting Anda sendiri dalam dunia karier.

Jika Anda hanya memiliki goal, namun masih bingung terhadap keunggulan yang Anda miliki, pada akhirnya yang dirugikan ya Anda sendiri. Pekerjaan Anda jadi tidak terarah dan menjadi kurang maksimal mengerahkan segala kemampuan Anda tersebut. Sayang bukan? Bagaimana menurut Anda?

Saya sendiri contohnya. Dari sejak mula saya telah jatuh cinta dengan dunia periklanan dan desain. Saya pun bercita-cita menjadi seorang profesional di bidang yang sangat saya “gilai” ini. Menjadi inovatif dan produktif adalah impian saya.

Saya pun akhirnya memulai karier di bidang periklanan. Tapi sayangnya, di tengah jalan, karena terdesak berbagai hal, akhirnya saya membelokkan sedikit bidang pekerjaan saya. Saya pun pindah ke perusahaan yang bergerak di media luar ruang. Tidak sampai di situ, saya kini justru kecemplung di dunia pertelevisian berbayar, yang untuk pertama kali merupakan bidang yang betul-betul baru, baik itu dari segi latar belakang pendidikan ataupun pengalaman kerja.

Namun, semuanya saya jalani tanpa kekurangan rasa antusias saya untuk terus maju dan berkembang. Bisa menemukan hal baru yang dapat membangun kemampuan diri saya, sangatlah luar biasa. Bagi saya, ada yang masih kurang, yaitu urusan “target” tadi.

Hanya saja, kata-kata bijak yang sering saya dengar dari suami saya sendiri, yaitu “Tidak ada kata terlambat untuk memulai segala sesuatu”. Seperti Sir David Ogilvy, salah satu pendiri perusahaan periklanan terbesar dunia Ogilvy, yang pertama kali terjun ke dunia periklanan di saat umurnya telah memasuki usia 50 tahun. Dan, terbukti dari adanya perumusan target yang benar, antusiasme yang menyala-nyala serta kerja keras mengantarkannya pada kesuksesan besar.

Demikian pula dengan Rio dan Rudy, yang masing-masing memiliki target, semangat, antusiasme dan kerja keras yang sama untuk sama-sama mencapai sukses sesuai porsinya masing-masing. Menaklukkan belantara dunia karier yang kompetitif dengan memilih menjadi kutu loncat.

Untuk menentukan strategi karier Anda dengan menjadi kutu loncat, diperlukan sifat pantang menyerah dan terus belajar memperbaharui diri Anda, baik secara implisit maupun eksplisit. Mengembangkan terus “skill” dan kemampuan Anda di atas rata-rata termasuk etos kerja yang tinggi, sehingga Anda memiliki nilai tambah yang dapat ditawarkan kepada setiap perusahaan yang menarik Anda.

Yang terpenting adalah jangan pernah takut gagal. Mungkin, bagi kebanyakan orang gagal merupakan aib utama seseorang yang seharusnya dihindari. Atau bahkan membuat orang tersebut berhenti berusaha dan bangkit kembali. Karena, dari setiap kegagalan yang Anda alami, artinya satu per satu pintu keberhasilan telah terbuka untuk Anda.

Nah, sudah siapkah Anda untuk gagal?

Tips menjadi kutu loncat yang OK:

1. Tuliskanlah strategi karier Anda sejak dini.

2. Temukan keunggulan Anda dan manfaatkanlah hal tersebut sebagai “nilai jual” diri Anda.

3. Berani menerima new challenge atau tantangan baru dalam bidang pekerjaan lain. Proses belajar cepat dan penguasaan pekerjaan sangat perlu dilakukan.

4. Berikan kontribusi yang baik, dan cetaklah prestasi luar biasa diperusahaan Anda sekarang, sebelum Anda memutuskan untuk meloncat lagi.

5. Bersikap profesional.

6. Jangan pernah takut gagal.

7. Bersemangatlah![am]

* Afra Mayriani bekerja sebagai seorang programing di sebuah stasiun televisi swasta berbayar. Alumnus Sekolah Penulis Pembelajar (SPP) Angkatan II ini sedang merampungkan buku pertamanya tentang karier. Ia dapat dihubungi di:

toko-delta.blogspot.com

Archives

Postingan Populer

linkwithin

Related Posts with Thumbnails

Total Tayangan Halaman

Diberdayakan oleh Blogger.