toko-delta.blogspot.com

menu

instanx

Rabu, 29 Oktober 2008

KONGLOMERAT PUN DIMULAI DARI YANG TIDAK TERLALU BESAR

Oleh: M. Kuncara Budi Santosa

Selamat dan Sukses! Itu kata-kata yang ingin saya ucapkan pagi ini kepada seorang teman yang satu hari yang lalu memberikan sebuah kabar baik kepada saya. "Mas....saya sudah putuskan untuk memulai bisnis plastik di Pasar Godean Yogyakarta dan sudah mendapat sebuah ruko dengah harga sewa sebear Rp 4,5 juta setahun," katanya.

Sungguh, saya terkejut dan kaget. Baru beberapa hari yang lalu, teman saya tersebut bercerita akan keinginannya untuk membuka sebuah usaha selain menekuni pekerjaan tetap di sebuah institusi pendidikan.

"Istri saya sudah keluar dari pekerjaannya beberapa minggu yang lalu," katanya. "Saat ini saya bermaksud mencarikan pekerjaan buat istri saya." Ia melanjutkan, "Tetapi, saya juga ingin membuka usaha. Sepertinya, prospeknya jauh lebih bagus untuk mempunyai usaha sendiri. Dengan memiliki usaha, saya akan menjadi majikan bagi diri sendiri. Tidak disuruh-suruh ke sana kemari oleh atasan saya."

Kemudian saya bertanya, sebelumnya istrinya kerja di mana dan orangtua istri kerja apa. Dengan semangat, dia menceritakan latar belakang pekerjaan istri dan latar belakang mertua yang kebetulan adalah pedagang pasar. Saya bilang ke teman saya tersebut, "Wah....bagus....dengan latar belakang pedagang, secara langsung atau tidak langsung...istrimu sudah melakukan pembelajaran bisnis dari orangtuanya sejak kecil. Bagaimana cara mengelola keuangan, bagaimana cara mengelola produk, bagaimana cara membuat calon konsumen bersedia untuk bertransaksi, bagaimana cara menawar harga murah dari supplier, dan sebagainya."

"Iya Mas....saya ingin meminjam dana dari koperasi untuk modal usaha," katanya.

Kemudian kami sempat terlibat dalam diskusi panjang tentang jenis-jenis bisnis apa yang bisa dilakukan bersama istrinya. Mulai dari bisnis yang paling sederhana seperti bisnis rental VCD, bisnis rental komputer, bisnis potong rambut, bisnis sewa mainan anak, sampai bisnis yang membutuhkan modal agak besar seperti sistem franchise bimbingan belajar.

Percakapan yang terjadi minggu lalu yang bagi kebanyakan orang seperti sekadar percakapan untuk menghabiskan waktu, ternyata menjadi riil di minggu ini. Ternyata, teman saya tersebut telah mendapatkan sewa ruko untuk memulai usahahnya di Pasar Godean Yogyakarta. Dan yang terutama dan utama, teman saya tersebut sudah membulatkan tekad untuk memulai bisnis. Dan yang lebih mengejutkan lagi, dia berhasil memilih jenis bisnis yang mempunyai potensi pasar yang luar biasa. Bisnis berjulanan plastik ....

"Saya ingin menjadi grosir plastik di pasar. Awal pertama, saya akan antar plastik-plastik itu ke berbagai pedagang di pasar. Bisa pedagang makanan, pedagang sayur, pedagang buah, dan pedagang kebutuhan hidup lainnya. Saya mengamati, setiap pembeli pasti diberikan plastik sebagai kantong untuk menaruh barang yang dibelinya. Kemudian, ketika sore hari, saya akan minta sisa plastik yang tidak terpakai dan uang hasil pemakaian plastik oleh para pedagang. Saya juga sudah mengamati, bahwa di Pasar Godean Yogyakarta belum ada grosir plastik. Saya juga sudah membanding-bandingkan harga pembelian plastik eceran di Pasar Godean yang ternyata harganya jauh lebih mahal daripada harga plastik grosiran di pasar lain," papar teman saya tersebut akan rencana bisnisnya.

Kemudian, dia bertanya apakah saya mempunyai kenalan pedagang plastik besar yang bisa memberikan harga diskon. Karena saya tidak mempunyai teman yang pedagang plastik, saya hanya menunjukkan nama, alamat, dan telepon para pedagang plastik besar di buku kuning dari PT Telkom. Saya juga menyarankan untuk mencegat mobil-mobil boks yang men-supply plastik di berbagai toko grosir untuk mendapatkan diskon dari distributor besar. Juga jangan melakukan pembelian sekaligus, tetapi dengan cara melakukan pembelian dalam beberapa paket untuk dapat membandingkan harga dari beberapa toko grosir. Saya sarankan untuk melakukan pembelian dalam jumlah besar apabila pasar sudah terbentuk dan merasa yakin telah mendapatkan harga paling rendah dan kualitas yang paling baik dari distributor. Dan yang terutama, jangan lupa untuk melakukan pencatatan yang rapi, supaya dapat dijadikan bahan evaluasi untuk mendapatkan harga grosir termurah dan untuk kalkulasi penetapan harga jual.

Perasaan saya ketika mendengar paparan teman saya tersebut sungguh senang luar biasa. Dia ingin merubah hidupnya ke arah yang lebih baik. Dia ingin merasa lebih hidup dengan cara melakukan apa yang dia inginkan dan dia cita-citakan. Dan dia melakukan hal itu dengan apa yang dia miliki. Bakat, talenta, pengalaman masa lalu keluarga dan semangat.

"Saya ingin usaha ini nantinya akan menjadi sumber penghasilan pokok bagi keluarga saya. Sedangkan bekerja seperti sekarang ini lebih sebagai status. Status bahwa saya, sebagai kepala keluarga dan sebagai anggota masyarakat mempunyai pekerjaan yang lumayan terpandang di masyarakat," tambah teman saya tersebut.

Luar biasa…! Luar biasa jalan pikiran teman saya tersebut. Dia berhasil menggabungkan antara semangat, cita-cita, dan action. Teman saya tersebut dapat bekerja sama dengan istrinya untuk memulai bisnisnya. Dan teman saya itu tidak gegabah untuk langsung melepaskan pekerjaannya demi sebuah bisnis yang belum pasti.

“Saya akan keluar dari pekerjaan saya setelah saya merasa yakin bahwa bisnis yang kami geluti telah berjalan lancar. Pekerjaan saat ini, walaupun gajinya tidak terlalu besar, akan tetapi dapat untuk mencukupi kebutuhan pokok keluarga, seandainya penghasilan dari bisnis belum bisa diharapkan,” imbuhnya. Dan itu merupakan salah satu kunci yang sangat penting bagi keberhasilan suatu bisnis.

Tekad dan semangat teman saya tersebut mengingatkan pengalaman saya empat tahun yang lalu. Tepatnya tahun 2003, ketika saya dan istri memutuskan untuk membuka sebuah sekolah musik. Waktu itu, tidak ada modal yang kami punya selain sebuah organ tua dan sebongkah semangat. Kemudian kami memulai proses berpikir dan berpikir untuk mengubah rencana bisnis menjadi sebuah aksi bisnis yaitu mewujudkan sebuah sekolah musik. Karena nomor rumah kami adalah Jl. Monjali No. 126, Yogyakarta, maka kami menamakan sekolah musik itu DO-RE-LA MUSIC SCHOOL.

Karena keterbatasan dana, maka setiap bulan, kami menambah satu alat musik yang kami beli dari gaji bulanan, mulai dari keyboard di bulan pertama, disusul piano elektrik pada bulan kedua, kemudian gitar elektrik pada bulan ketiga, dan seterusnya. Kemudian, kami mulai buat spanduk dan iklan di harian surat kabar daerah, serta mencetak brosur yang kami bagikan sendiri di berbagai sekolah, mal, gereja, dan tempat keramaian lainnya. Dengan penuh semangat, kami mencoba segala cara yang mungkin kami lakukan untuk mempromosikan sekolah musik kami, baik kepada kerabat, kepada teman-teman lama ataupun kepada tetangga-tetangga kami. Dan pada bulan pertama, bulan kedua, dan bulan ketiga, walau tidak terlalu banyak murid, akan tetapi ada penambahan murid yang cukup menggembirakan. Ketika jalan 6 bulan, jumlah murid yang kami punya sekitar 40 orang.

Kemudian, setelah melakukan beberapa kali evaluasi, akhirnya kami memutuskan untuk mencari partner yang sudah mempunyai brand name (merek) yang kuat untuk dapat meningkatkan pertumbuhan dan cashflow yang lebih cepat. Akhirnya, setelah perjalanan yang cukup panjang, ber-partnerlah kami dengan Purwacaraka Music Studio. Hambatan pertama yang kita temui, selain komunikasi untuk mendapatkan partnership juga masalah modal. Akhirnya, dengan nekat kami pinjam sebagian modal dari orangtua, sebagian modal dari mertua, dan sebagian modal lainnya dari utang di bank. Proses mendapatkan utang di bank juga cukup rumit, termasuk bagaimana kami menyakinkan bank dengan memberikan jaminan gaji bulanan kami dan sertifikat tanah yang kami miliki.

Sedikit demi sedikit, kesalahan demi kesalahan, perbaikan demi perbaikan terus menerus kami lakukan. Akhirnya, setelah perjalanan cukup panjang, empat tahun pertama kami sudah berhasil mempunyai tiga cabang di Yogyakarta dan Solo, dengan melibatkan lebih dari 75 guru dan 25 staf administrasi. Dan yang lebih menggembirakan lagi, kami akan segera membuka satu cabang lagi di Solo. Buat saya, sungguh ini sebuah pencapain yang luar biasa. Dan acungan jempol saya berikan kepada istri tercinta saya, yang tanpa mengenal lelah, dan dengan linangan keringat dan air mata, berhasil membuat semua hal itu terjadi. Kami selalu berpikir positif dan selalu mengingat kata-kata bijak, bisnis konglomeratpun dimulai dari sebuah bisnis yang tidak terlalu besar.

Akhirnya, setelah memasuki bisnis tahun ketiga, istri saya "memaksa" saya untuk keluar dari pekerjaan di Jakarta dan menetap tinggal di Yogyakarta. Meninggalkan sebuah perjalanan panjang karier saya di sebuah konglomerat bisnis dengan omzet tahunan lebih dari Rp2 trilliun. Hikmat yang saya dapatkan adalah adanya kedekatan yang luar biasa dengan istri dan anak-anak, yang jika dinilai dengan uang, sebuah kalkulator 16 digit pun tidak akan cukup untuk menghitungnya.

Akhirnya, Selamat dan Sukses…! Kembali saya ucapkan kepada teman baik saya dengan bisnis plastiknya. Semoga, kesuksesan, kegembiraan dan semangat selalu menyertai perjalanan bisnisnya.[mkbs] * M. Kuncara Budi Santosa, S.E., Akt, M.M., saat ini bekerja sebagai Chief Finance Officer di ICRS-Yogya, sebuah program international, interdisipliner dan interreligius studies di Pascasarjana UGM, yang merupakan konsorsium tiga universitas besar di Yogyakarta, UGM (Universitas Gadjah Mada), UIN (Universitas Islam Negeri) Sunan Kalijaga dan UKDW (Universitas Duta Wacana Yogyakarta). Karier profesionalnya dimulai sebagai eksternal auditor selama empat tahun dengan posisi terakhir sebagai Supervisor Auditor di sebuah kantor akuntan besar (The Big Four) di Jakarta, yang kemudian dilanjutkan sebagai konsultan keuangan selama dua tahun di divisi yang berbeda. Setelah itu, selama dua tahun menjadi salah satu tim manajemen di perusahaan konglomerat besar, yang pada saat ini pemiliknya berhasil menempati rangking 26 orang terkaya di Indonesia. Kuncara telah mengalami jatuh bangun didalam menekuni berbagai jenis bisnis berskala kecil atau UKM. Di samping menekuni bisnis dan pekerjaan sehari-hari, Kuncara juga menjadi salah satu pembaca setia Pembelajar.com.

MENJADI HERO ATAU LOSER?

Oleh: Ignatius Muk Kuang

Judul di atas terinspirasi oleh sebuah pertanyaan yang diberikan kepada finalis Putri Indonesia 2007 di bagian akhir kompetisi tersebut. “Apa perbedaan seorang pahlawan dengan seorang pengecut?” begitulah kira-kira pertanyaannya. Sebuah pertanyaan yang sangat sederhana dan cukup menarik bagi saya pribadi.

Saya rasa hampir setiap individu berharap dapat menjadi seorang pahlawan dan bukan malah menjadi seorang pengecut di masyarakat. Tidak ada yang terlahir dan ingin menjadi seorang yang pengecut, justru sebaliknya ingin menjadi figur pahlawan. Pahlawan tentu tidak selamanya harus sama persis seperti para pejuang dulu dengan membawa bambu runcing dan membela negara ini, melainkan seseorang bisa menjadi pahlawan bagi dirinya dan orang lain.

Ketika seseorang berjuang untuk dirinya sendiri, tidak menyerah akan keadaan yang sedang menimpa dirinya, terus berupaya meraih apa yang menjadi impiannya, dan merdeka atas belenggu negatif yang mengikat dirinya, maka saat itu ia menjadi pahlawan bagi dirinya.

Ketika seseorang berani mengungkap sebuah kebenaran untuk kebaikan banyak orang, berani bertindak untuk sesuatu yang positif bagi sekitarnya, menginspirasi banyak orang lewat karyanya, dan memberi nilai yang berharga untuk pertumbuhan orang lain, maka saat itu ia pun menjadi pahlawan bagi orang lain.

Lalu, bagaimana dengan mereka yang masuk ke dalam golongan pengecut?

Sekali lagi, mereka tidak dilahirkan seperti itu dan otomatis menjadi orang yang pengecut. Akan tetapi mengapa tercipta golongan ini, karena pilihan yang mereka ambil sendiri. Menjadi berani atau tidak, mau merdeka atau tidak, mau berusaha atau tidak, mau menyerah atau tidak, menjadi orang yang berguna atau tidak, mau bangkit atau terus menerus jatuh, semua hal tersebut adalah pilihan yang diambil. Mereka yang pengecut takut untuk mengambil sebuah langkah yang besar untuk perubahan yang lebih baik. Mereka khawatir akan masa depan yang terjadi, dan mengeluhkan kejadian buruk yang terjadi pada dirinya saat ini.

Pola pikir, tingkah laku, determinasi, kepercayaan diri, antusiasme, adalah salah satu faktor yang bisa membedakan seorang pahlawan dengan seorang pengecut (pecundang). Setiap manusia memiliki potensi untuk menjadi seorang pahlawan, begitu pun sebaliknya. Anda tentu masih ingat dengan lagu yang dibawakan Mariah Carey, penggalan liriknya mengatakan demikian: “there’s a hero, if you look inside your heart, and you don’t have to be afraid of what you are…..”

Jadi, jangan sia-siakan potensi dalam diri Anda, lakukan hal besar dan positif untuk diri Anda sendiri dan orang lain. Bangsa ini butuh banyak pejuang dan pahlawan, bukan seorang yang pengecut. Mari kita bangun kembali bangsa ini dengan sikap mental dan perilaku yang positif. Yakinkan diri Anda bahwa Anda bisa.

Salam pemenang,
Muk Kuang
People Development Trainer
Book Author ‘Think and Act like A Winner’
mukkuang@gmail.com
http://ignatiusmk.blogspot.com

KEHIDUPAN ANDA BERKUALITAS

Oleh: Saumiman Saud


Saya yakin di dunia ini banyak orang kaya. Mereka yang telah berjuang dari awal dan kerja keras atau mereka yang mendapat warisan dari orangtua. Harta kekayaan yang kita miliki ternyata tidak dapat membeli segalanya. Seorang penulis mengatakan, jika Anda memiliki uang, maka Anda dapat membeli tempat tidur yang mahal, namun Anda tidak dapat membeli tidur yang nyaman. Anda dapat membeli makanan yang enak, namun Anda tidak dapat membeli nafsu makan. Anda dapat membeli obat-obatan yang mahal, namun Anda tidak dapat membeli kesehatan. Jadi dengan kata lain, maka harta kekayaan kita ini bukan segala-galanya.

Ada seorang wanita yang bernama Hetty Green Robinson, lahir 1834. Beliau ini adalah seorang yang sangat kaya raya di Amerika Serikat pada waktu itu. Ayahnya mewariskan 10 miliar dollar AS. Dia juga mewarisi kehebatan ayahnya menjadi pengusaha terkenal. Namun, ada satu sifat yang tidak baik darinya yakni ia sangat pelit bahkan kikir. Bayangkan saja, pada waktu hari ulang tahunnya yang ke-21, ia menolak untuk menyalahkan lilin di atas kue ulang tahunnya. Dan, yang dilakukannya pada keesokan harinya adalah mengembalikan (refund) ke toko lilin tersebut. Hetty kemudian menikah dengan Edward Green, sehingga ia memiliki dua orang anak putra dan putri. Namun, karena masalah kebijaksanaan pemakaian uang, akhirnya ia bercerai dengan suminya.

Hetty juga pelit terhadap diri sendiri. Sebagai contoh, ia selalu memakai baju yang itu-itu saja dan berwarna hitam. Melewati beberapa tahun, ia tetap memakai baju tersebut, hingga warna bajunya dari hitam menjadi hijau, dan kemudian menjadi coklat. Pakaian dalamnya terbuat dari kertas koran bekas. Tatakala pakaiannya sudah kotor, dia ke loundry yang murah. Namun, ia hanya mencuci bagian bawahnya saja yang kotor.

Karena Hetty tidak mau membayar pajak di New York yang lumayan mahal, maka ia menyewa apartemen murah di New Jersey, tanpa alat pemasas. Padahal, di sana juga ada musim salju. Ia rela setiap hari naik kereta api ke kantornya di New York. Kantornya ada di dalam sebuah bank di New York, yang oleh pimpinan banknya diberikan satu ruangan kecil secara cuma-cuma kepadanya. Itu karena dia adalah salah satu nasabah kelas kakap mereka.

Hetty juga hemat dalam soal makanan. Setiap hari makanannya adalah bawang putih mentah dan oatmeal. Kadang untuk menghemat ia memanaskan oatmeal-nya dengan cara mendekatkannya pada alat pemanas (heater) kantor. Dia juga makan cookies. Namun, karena ia hendak membeli cookies yang murah, ia rela berjalan cukup jauh dan membeli cookies yang sudah hancur.

Inilah sedikit riwayat hidup Hetty. Pada tahun 1916 ia meninggal dunia. Sungguh kasihan dia karena tidak memiliki teman. Ia meninggalkan warisan lebih dari 100 miliar dollar AS untuk putra dan putrinya. Untungnya, sang putra dan putrinya tidak mewarisi kekikirannya.

Apa artinya kekayaan kita jika tidak dapat dimanfaatkan serta menjadi berguna bagi orang lain? Pertanyaan lain, apa arti hidup kita jika tidak menjadi arti bagi orang lain? Ingat, hidup kita di dunia hanya sekali saja. Oleh sebab itu, selama kesempatan masih ada maka kita dapat memakai kepandaian kita, kekuasaan kita, bahkan kekayaan kita untuk menjadi berguna bagi orang lain.

Jika hari ini kita melihat banyak orang yang pandai, kaya, dan berkuasa justru menyusahkan orang lain, tentu hidup yang sedemikian rupa tidak ada artinya. Contohnya korupsi, penindasan, dan berbagai tekanan tetap merajarela. Kita tidak pernah membawa kembali pengetahuan, kuasa, dan kekayaan kita tatkala kita dipanggil ke dalam sisi pangkuan-Nya. Marilah kita sebagai generasi muda, yang penuh potensi dan kreasi, berjuanglah dalam hidup ini sehingga kita berguna bagi orang lain dan kehidupan kita menjadi kehidupan yang berkualitas.[ss]

* Saumiman Saud adalah pemerhati dan penulis buku yang berdiomisili di San Jose, Amerika Serikat. Ia dapat dihubungi melalui email saumiman@gmail.com atau kunjungi websitenya di: http://www.saumimansaud.org.

MENGAPA PERLU (ADA) AGAMA?

Oleh: Roni Djamaloeddin

Sejarah telah mencatat—sebagaimana diberitakan Alquran—bahwa sebelum diturunkannya agama (diasumsikan sebagai petunjuk dari Tuhan), pekerjaan manusia adalah merusak dan membunuh. Ini dapat diketahui dari protesnya para malaikat saat dimintai "pendapat" ketika Tuhan akan mengangkat seorang khalifah (wakil/rasul)-Nya. Protesnya: "Mengapa Engkau hendak menjadikan khalifah (wakil/rasul/utusan) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah?" (QS.2:30).

Ungkapan protes ini jelas sekali menandakan bahwa sebelum sang khalifah/rasul/utusan (pembawa/pengajar) agama (Nabi Adam) diturunkan di muka bumi, perbuatan manusia adalah benar-benar merusak dan menumpahkan darah. Tidak beradab. Moralnya benar-benar tidak ada, rusak sama sekali. Seperti suku Barbar yang meluluhlantakkan peradaban suku mana pun yang dijumpainya.

Keadaan yang sangat kacau kalau dan carut marut inilah yang membuat malaikat—konon sebagai makhluk yang paling patuh dan mulia disisi-Nya—angkat bicara. Dengan ”sangat terpaksa” memberanikan diri menginterupsi kebijakan Tuhan. Seolah tak yakin—mungkin juga "gak gaduk" pikirannya—kalau manusia yang demikian "bobrok" moralnya ini bisa dipercaya membawakan misi (agama)-Nya, menjadi khalifah-Nya.

Kekhawatiran berlebihan tersebut nyatanya memang benar-benar terbukti. Setelah sang pembebas kegelapan benar-benar diturunkan, watak manusia ternyata tidak banyak berubah. Merusak dan membunuh masih kental sebagai kepribadiannya. Bukti riilnya justru terjadi pada putra Nabi Adam sendiri, peristiwa bunuh membunuh antara Qabil dan Habil. Padahal mereka berdua adalah orang yang paling dekat dan paling mungkin mengerti-memahami ajaran (agama) sang rasul.

Sangat ironis sekali. Yang paling dekat saja masih demikian ”bobrok” moralnya, bagaimana dengan yang jauh? Apalagi yang tidak pernah bertemu langsung dengan sang pembawa (pengajar) agama?

Mencermati hal ini, maka tidak heran bila pada zaman prasejarah dulu peradaban manusia dihiasi dengan penjajahan, peperangan, dan pembunuhan. Berbagai bentuk penindasan telah menjadi kebiasaan, telah menjadi napas dalam kehidupan. Berlanjut sampai masa awal peradaban Islam, masih adanya penjajahan hak asasi yang berupa sistem budak—memperlakukan manusia bagai binatang yang dipekerjakan maupun diperjualbelikan.

Lalu, Apa Hakekatnya Agama?
Mungkin sekali, ketika rasul Adam menjalankan misi Tuhan belum menggunakan istilah agama. Apalagi menamakan diri sebagai suatu agama, jelas tidak. Sebab, istilah agama sendiri lahir dari peradaban bangsa yunani, yang akar katanya: a tidak dan gama rusak. Sehingga, agama dapat dimaknakan menjadi seperangkat ajaran (sistem kepercayaan/keyakinan) yang dapat menjaga sekaligus mengantarkan pemakai (pemeluknya) agar tidak rusak.

Tentu saja istilah agama ini lahir pascakekhalifahan Adam. Sebab, logikanya, hanya melalui ajaran Adam-lah manusia mulai mengenal kebenaran. Manusia mulai mengenal istilah rusak tidak rusak. Mulai mengenal dari mana asalnya kebenaran, bagaimana ia musti terjadi, dan bagaimana pula mempraktikkannya dalam keseharian. Terlebih kebenaran mutlak wujud/zat-Nya—yang memang tidak mungkin dapat diselami tanpa melalui khalifah/wakil/rasul-Nya.

Entah apa nama agama beliau. Sejauh ini saya belum tahu pasti apa nama agamanya. Tampaknya memang belum ada penelitian yang komprehensif (menyeluruh) berkaitan dengan hal ini. Informasi-informasi yang berkaitan dengannya pun tidak banyak, kecuali yang tersurat dalam berbagai kitab Suci.

Namun yang jelas, sebagaimana keyakinan dan pengalaman saya, yang beliau ajarkan adalah ajaran ketuhanan. Ajaran tauhid. Ajaran yang mengarahkan, mengertikan, dan memahamkan bagaimana mentauhidkan zat, sifat, dan af'al-Nya. Sekaligus pula ajaran yang mengajarkan bagaimana me-Mahasucikan Diri-Nya dalam keseharian. Serta, ajaran yang menekankan bagaimana seharusnya berlaku sebagai hamba (makhluk) di hadapan penciptanya (khalik) dan bagaimana membawa diri menempati posisi yang semestinya ditempati.

Hakekat ajarannya sama dengan ajaran para rasul-Nya sesudahnya. Sama-sama mengajarkan tauhid. Sama-sama mengakui satu Tuhan. Sama-sama mengupayakan bagaimana meng-Esakan-Nya. Sama-sama mengajarkan kebaikan, perdamaian, pengakuan hak azasi setiap orang. Juga sama-sama mengakui kemerdekaan individu yang universal.

Yang membedakan hanyalah syariatnya. Kalau zaman rasul sesudahnya ada ibadah haji maupun salat, pada zaman Adam belum ada. Sebab ibadah haji diturunkan pada zamannya Nabi Ibrahim. Sedangkan ibadah salat diturunkan pada zaman Nabi Muhammad SAW. Demikian pula zamannya Nabi Isa, di sana pun belum ada ibadah salat. Sebab ibadah salat diturunkan pascakekalifahan Nabi Isa. Begitu seterusnya. Hakikat ajarannya yang sama, syariat (tata lahiriah)-nya saja yang mungkin bisa berbeda.

Terus, Mengapa Ada Banyak Agama?
Ada dua faktor (perspektif logika dan pemikiran) yang mendasari mengapa ini bisa terjadi. Pertama, faktor manusianya. Faktor ini lebih didominasi oleh wataknya manusia yang suka membuat kerusakan di atas. Oleh karenanya sangat mungkin bahwa pada generasi penerusnya melakukan hal yang sama, berani merusak ajaran rasul. Misalnya dengan mengadakan agama "tandingan". Atau mendirikan golongan-golongan baru, yang dalam jangka waktu tertentu mungkin jadi bisa berubah menjadi ”agama baru”.

Sebab, yang dikatakan merusak bukan hanya sekadar merusak hardware-nya bumi langit dan seisinya, melainkan merusak software-nya pula. Merusak ajaran kebenaran. Merusak sistem ber-Tuhan yang dibawa rasul. Merusak ”grand idea”(ide agung/mulia) atas penciptaan bumi langit dan seisinya—termasuk diciptakannya manusia. Maupun merusak kesanggupannya sendiri, yang berupa kesediaan memikul amanah dari-Nya (yang disanggupi oleh semua manusia tanpa kecuali ketika masih di alam arwah dulu).

Faktor kedua adalah karena kekuasaan Tuhan. Faktor ini tidak bisa diganggu gugat oleh siapa pun, termasuk para malaikat—sebagaimana kisah di awal tulisan ini. Menjadi hak mutlak-Nya bila Dia menurunkan agama baru—sebagai revisi terhadap agama sebelumnya. Sebagaimana yang jelas-jelas dapat dicermati, kisah penurunan agama Nasrani, dari komunitas agama yang sudah ada sebelumnya (Yahudi, maupun agama lain yang pernah turun lebih dulu). Demikian halnya penurunan agama Islam di lingkup berbagai macam agama yang sudah ada sebelumnya (Yahudi, Majusi, Nasrani, maupun agama lain yang lebih dulu ada).

Perlunya “revisi agama” terhadap agama-agama yang terdahulu ini tidak jauh beda dengan revisi undang-undangnya buatan manusia—baik yang UUD maupun UU lainnya. Karena dirasa tidak cocok lagi dengan zamannya (karena zaman telah berubah), bermuatan kolonialis, berindikasikan paham “kiri”, produk barat, atau karena kurang demokratis sehingga perlu ada revisi baik isi maupun substansinya.

Bila hal yang demikian (revisi undang-undang) menurut penciptanya sendiri adalah suatu yang niscaya, maka Tuhan pun lebih dari sekadar niscaya melakukan revisi atas agama yang pernah Dia turunkan di muka bumi. Dia Maha Niscaya. Dia Maha menentukan dan Maha mengubah segala sesuatunya, yang menurut pemikiran manusia dianggap tidak mungkin.

Sehingga, dapat disimpulkan bahwa berapa pun banyaknya agama di muka bumi ini, bila Tuhan menghendaki, maka pasti terjadi. Manusia tidak akan sanggup memprediksinya. Contoh yang sangat kecil, bila Nabi SAW waktu itu memprediksi bahwa Islam nanti akan pecah menjadi 73 golongan, ternyata sekarang tidak lagi sedemikian jumlahnya. Telah mencapai ribuan bahkan mungkin jutaan pecahan baru.

Namun demikian, yang perlu dicatat adalah bahwa dari ribuan macam agama yang ada di bumi ini, yang benar dan sekaligus sempurna hanya satu. Yaitu agama yang di tengah komunitasnya ada khalifah/rasul/utusan-Nya. Kedudukan sang rasul ini sebagai "kabel" (penghubung) antara Tuhan dengan hamba-Nya. Sebagai "juru bicara"-Nya yang sekaligus "tangan kanan"-Nya, yang akan membimbing manusia pulang pada Diri-Nya.

Tidak peduli apakah agama "update" ini punya basis masa atau tidak. Tidak peduli apakah ia diterima oleh umat manusia atau malah sebaliknya, dilecehkan dan dianggap membuat agama baru—yang biasanya dilakukan oleh penganut agama pendahulu.

Bagaimanapun situasi dan keadaannya, proyek Tuhan mengentaskan kebodohan hamba-Nya tetap jalan terus. Tak ada agama mana pun—baik pemimpin maupun penganutnya—yang sanggup menghalanginya. Sekalipun semua agama yang telah ada di bumi ini bersatu padu untuk menentangnya, kekuasaan Tuhan (perihal ini) tak akan berhenti dan tak ada yang sanggup menghentikannya.

Lebih dari itu, Tuhan tidak bangga bila semua hamba-Nya mau mengakui agama yang ”selalu” Dia update ini. Dia juga tidak risih, tidak susah, dan tidak pula "ngenes" bila mereka berbalik memusuhi pembawa ajaran (misi)-Nya. Sebagaimana firman tegas-Nya: “barangsiapa ingin beriman berimanlah, barang siapa ingin kafir kafirlah” (QS.18:29).

Kesimpulan
Jadi, sejatinya, perlunya diturunkan agama oleh-Nya adalah agar makhluk-Nya yang namanya manusia tidak lagi berada dalam kegelapan. Tidak lagi terjebak dalam kerusakan. Tidak lagi merasa puas atas keyakinan yang pernah diterimanya. Tidak pula merasa puas berada di ”langit” ilmu pengetahuan-pengalaman yang selama ini diyakini. Sebab, ”di atas langit masih ada langit”. Di mana ada ilmu pengetahuan-pengalaman yang tinggi—termasuk pula dalam agama—masih ada lagi pengetahuan-pengalaman yang lebih tinggi. Yaitu pengetahuan-pengalaman yang langsung dari Zat Yang Maha Tinggi.

Kemudian mau mencari di mana al-haq (kebenaran sejati) itu berada. Tidak merasa paling benar sendiri, baik di hadapan sesamanya dan apalagi di hadapan penciptanya. Berusaha untuk tidak merasa dan mengakui bahwa agamanyalah agama yang paling benar dan paling ”diridhai” di sisi-Nya. Sebab, Tuhan nyatanya tidak memandang nama agamanya, melainkan memandang bagaimana beriman yang sejati kepada-Nya dapat diimplementasikan. ”Sesungguhnya orang-orang mu'min, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan orang-orang Shabiin, siapa saja diantara mereka yang benar-benar beriman kepada Allah, hari kemudian dan beramal saleh, mereka akan menerima pahala dari Tuhan mereka, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati” (QS.2:62).

Selanjutnya, pikirannya mau menafakuri bahwa apa pun agama (keyakinan/paham) yang dipegang teguh selama ini, ada konsekuensi luar biasanya di hari akhir nanti. ”Sesungguhnya orang-orang beriman, orang-orang Yahudi, orang-orang Shaabi-iin, orang-orang Nasrani, orang-orang Majusi dan orang-orang musyrik, Allah akan memberi keputusan di antara mereka pada hari kiamat. Sesungguhnya Allah menyaksikan segala sesuatu” (QS. 22:17).

Yang pada akhirnya berani menerima kenyataan bahwa benar dalam pandangan manusia belum tentu benar menurut Tuhan. Sedang kebenaran mutlak-Nya mau tidak mau harus diterima oleh manusia, bila tidak ingin menanggung kerugian yang tak terhingga besar-beratnya di hari kiamat nanti. Sebagaimana pepatah timur tengah: ”yang benar akan selalu benar walaupun tidak seorang pun melakukan, yang salah tetap salah walau semua orang melakukan”.[rd]

* Roni Djamaloeddin dapat dihubungi di ronijamal@yahoo.com

RAHASIA SIMPAN TALI PUSAT TERKUAK

Oleh: Marsudijono

TERKAIT kehidupan manusia, masyarakat Jawa mempunyai tradisi mengadakan selamatan, dimulai sejak manusia masih berada dalam kandungan, lahir ke dunia, sampai dengan kematiannya. Salah satu selamatan tersebut dinamakan puputan.

Biasanya, bayi antara umur sepuluh hari sampai dua minggu, tali pusarnya sudah putus. Setelah tali pusar atau tali pusat putus, lalu diadakan selamatan yang dinamakan puputan atau pupak puser. Puputan asal kata dari puput (bahasa Jawa), yang artinya putus. Tujuan selamatan ini agar bayi selalu diberi kesehatan dan keselamatan dalam hidupnya. Kemudian tali pusat tersebut dikeringkan dan disimpan.

Ada kepercayaan bahwa tali pusat ini mempunyai kasiat untuk menyembuhkan. Bila sang empunya tali pusat sakit, maka tali pusat tadi direndam dengan air panas beberapa saat, kemudian air diminumkan. Dengan meminum air hangat bekas rendaman tali pusat tadi, diharapkan penderita sembuh.

Peranan Tali Pusat
Dalam buku berjudul Sembilan Bulan Pertama dalam Hidupku yang diterbitkan oleh Yayasan Cipta Loka Karya disebutkan, bahwa untuk pertumbuhan bayi, sang bayi harus mendapat sejumlah zat hidup yang cukup besar; makanan, zar asam, dan air. Semuanya ini disampaikan oleh ibunya melalui plasenta atau tembuni. Plasenta ialah alat yang memegang seluruh konsumsi bayi sampai saat kelahirannya. Plasenta memang merupakan kue bagi bayi dan bentuknya juga mirip bentuk kue. Plasenta itu berakar dalam selaput lendir rahim. Pada bulan keempat garis tengahnya kurang lebih delapan senti. Sesudah kelahiran, plesenta itu dilepaskan dan didorong keluar. Garis tengahnya bertambah menjadi kurang lebih 20 cm dan beratnya hampir setengah kilogram.

Plasenta adalah suatu alat yang sanggup menjawab berbagai kebutuhan, pendeknya serba guna. Plasenta dapat menjalankan bermacam-macam fungsi sekaligus seperti fungsi paru-paru, buah pinggang, usus, hati dan kelenjar hormon. Pula, plasenta menghasilkan zat untuk memberantas infeksi. Plasenta menjalankan fungsi paru-paru dewasa sebagai berikut; dalam plasenta karbon-dioksida (CO2) yang meninggalkan peredaran darah bayi ditukar dengan oksigen (O2), yang melalui peredaran darah ibu dibawa dari paru-paru kepada plasenta. Darah bayi mengalir melalui tali pusat ke plasenta dan tak pernah meninggalkan sistem pembuluh darah tertutup itu. Pertukaran karbondioksida dengan oksigen, dari bahan terpakai dengan bahan makan baru, diadakan melalui dinding pembuluh yang halus.

Pada saat tali pusat keluar, darah tidak lagi lewat jalan ini. Jika bayi sudah bernapas pertamakalinya, darah harus melalui paru-paru untuk mengambil oksigen di situ. Kini sebuah katup atau klep yang besar di jantung harus ditutup, sehingga darah yang sudah dipakai dipisahkan dari darah segar. Dalam beberapa menit sesudah kelahiran bayi harus mulai bernapas, supaya menerima oksigen. Darah terakhir dari plasenta yang masih mengandung oksigen diterima bayi pada saat ia dilahirkan. Peredaran darah dalam tali pusat terputus segera kalau kena udara. Alam menjaga penutupannya dengan zat semacam agar-agar yang terletak di sekeliling tiga batang pembuluh dari tali pusat. Zat ini membesar kalau kena udara dan menjepit pembuluh-pembuluh darah seperti sebuah jepitan. Pemotongan tali pusat tak berdarah. Juga kalau tidak diputuskan, tali pusat ini—serta plasenta di ujung lain—menjadi kering, dan lepas dengan meninggalkan bekas biasa, yaitu pusat. Pada umumnya plasenta dilahirkan segera sesudah bayi. Pada kelahiran, plasenta melepaskan diri dari semua ikatan. Tali pusat dan plasenta telah mengakhiri tugasnya masing-masing pada saat kelahiran.

Bank Darah Tali Pusat
Pemanfaatan darah tali pusat untuk terapi penyakit telah dimulai pada tahun 1988 di Perancis. Tali pusat bayi bisa berperan penting karena mengandung sel-sel induk. Sel induk (stem cell) yang diambil dari darah yang berasal dari tali pusat, dapat dimanfaatkan untuk pengobatan beberapa penyakit seperti diabetes, lupus, kanker payudara, kelainan darah seperti talasemia, dan leukimia (kanker darah).

Sel induk dapat digunakan dengan cara transpalasi sel dan terapi sel. Pada transpalasi, sel induk dimasukkan ke aliran darah pasien sehingga bermigrasi ke sumsum tulang dan berdiferensiasi menjadi tiga sel, yakni sel darah merah, darah putih, dan keping darah. Hal itu untuk dilakukan untuk menggantikan darah dan mengembalikan sistem kekebalan tubuh.

Sel induk disimpan dalam tabung bersuhu minus 196 derajat celcius dan secara teoretis dapat bertahan selama-lamanya. Volume darah pada tali pusat yang diambil sekitar 22,5 ml. Pada pemanfaatannya, sel induk dapat digunakan bagi saudara kandung pemilik tali pusat dengan kemungkinan kecocokan 50-70 persen. Sedangkan bagi orang tua, tingkat kecocokannya 25-50 persen.

Saat ini pengambilan dan penyimpanan darah tali pusat dapat dilakukan di Perancis, Singapura, maupun di Indonesia. Biaya pengambilan darah memerlukan dana sekitar Rp9 juta. Sedangkan biaya penyimpanan setahun dipungut kurang lebih Rp1,5 juta.

Penutup
Benda-benda yang terkait dengan kelahiran seorang manusia, seperti air ketuban, tali pusat, dan ari-ari mempunyai kedudukan yang unik bagi sebagian orang, khususnya suku Jawa. Pecahnya air ketuban sebagai pertanda akan adanya proses kelahiran. Tali pusat dirawat dan disimpan, karena dipercaya sebagai obat bagi si empunya tali pusat. Demikian juga dengan ari-ari, dirawat, lalu di kubur di depan atau di belakang rumah layaknya seorang manusia. Ada juga yang digantung di plafon. Ditanam di sekitar rumah atau digantung di atap rumah, dengan harapan pemilik ari-ari, kerasan tinggal di rumah atau tidak pergi jauh. Sebagian orang melarung atau menghanyutkan ari-ari di laut, dengan harapan agar si manusia baru ini menjadi perantau.

Beberapa tahun yang lalu ari-ari atau plasenta dimanfaatkan, di antaranya untuk bahan kosmetik, disusul kemudian dengan pemanfaatan darah tali pusat untuk terapi penyembuhan beberapa penyakit, bagi si pemilik tali pusat, maupun saudara-saudara kandungnya. Rahasia kebiasaan merawat dan menyimpan ari-ari dan tali pusat yang selama ini berdasarkan petunjuk turun-menurun dari leluhur—di mana belum memerhitungkan faktor higienis—saat ini telah terkuak secara ilmiah, di mana ternyata darah dari tali pusat secara medis mempunyai manfaat untuk pengobatan.[m]

* Marsudijono adalah karyawan Divisi Pemasaran BBM Industri dan Marine PT Pertamina. Ia juga alumni Sekolah Penulis Pembelajar yang saat ini sedang menyusun sebuah buku.

MUKJIZAT DOA DAN MENGUCAP SYUKUR

Oleh: Agustinus Hartono

Meskipun sejak kecil saya diajari untuk berterima kasih kalau diberi seseorang, dan kalau malam mengucap syukur untuk semuanya yang diterima untuk hari yang baru berlalu, ternyata itu tidak menjamin bahwa mengucap syukur menjadi habit saya.

Ketika mendengar Adi W. Gunawan mengatakan bahwa mengucap syukur adalah salah satu anak kunci dari Law of Attraction (LOA), saya berkata dalam hati, “Itu sih kecil… Dari dulu sudah saya lakukan.” Namun, saya masih bertanya-tanya mengapa hasil akhirnya berbeda.

Dalam salah satu seminarnya Adi W. Gunawan memberikan tips untuk meningkatkan rasa syukur. Setelah saya coba beberapa hari, saya ‘beruntung’ mendapat tempat parkir meskipun jam padat. Peserta seminar yang lain ada yang ‘beruntung’ karena tiba-tiba ada pendapatan tambahan.

Suatu hari, anak saya yang berumur empat tahun minta dibelikan boneka lagi. Saat itu dia sedang batuk yang dipicu ketidaksukaannya minum air putih. Saya mencoba untuk menanamkan habit baru pada anak saya. Maka, saya janjikan untuk memenuhi keinginan anak saya akan boneka bila dia mau minum air putih selama 21 hari (catatan: bagi pembaca yang bingung mengapa 21 hari silakan baca buku mengenai NLP). Anak saya setuju dan hari-hari pun berlalu.

Tepat tiga hari sesudahnya, anak saya pulang sekolah dengan membawa bungkusan hadiah dan ketika dibuka isinya adalah boneka.

Tiba-tiba, saya tersadar Tuhan memakai anak saya untuk menerangkan bagaimana sesungguhnya cara bersyukur dan berdoa. Saat pertama kali anak saya meminta boneka maka dia memang menangis untuk memintanya. Tetapi, setelah saya janji akan membelikannya bila selama 21 hari dia minum air putih, maka pada hari-hari berikutnya dia tidak pernah menyinggungnya lagi. Karena, dia PERCAYA akan menerimanya tanpa membatasi dengan cara bagaimana ia akan menerimanya. Dan, setelah tiga hari tiba-tiba pintu surga terbuka. Dan, boom….dia mendapat apa yang diinginkannya.

Saya terkejut dan mencari tahu mengapa anak saya mendapat boneka itu. Ternyata, alasannya sedikit di luar logika berpikir saya. Penasaran ingin tahu alasannya? Salah satu orangtua murid teman anak saya tiba-tiba berpikir untuk memberi kado ulang tahun pada setiap teman anaknya yang merayakan ulang tahun di sekolah dalam semester 1 ini.

Apa yang sering saya lakukan adalah saya berdoa berhari-hari, bukan karena saya dekat dengan Tuhan, tetapi karena saya KURANG PERCAYA bahwa permohonan itu akan dikabulkan. Hal lain yang saya sering lakukan adalah saya ‘menentukan’ dengan cara bagaimana permohonan saya akan dikabulkan. Padahal, Dia lebih tahu apa yang tepat untuk kita, juga waktu dan caranya.

Doa ternyata mempunyai fungsi sosial. Maksudnya, apabila doa itu ditujukan untuk kebaikan orang lain, maka doa itu akan lebih cepat dikabulkan. Ceritanya begini, kira-kira seminggu setelah peristiwa di atas, saya mendapat kabar bahwa adik saya mengalami kesulitan keuangan. Setelah berpikir sejenak maka saya mengirim SMS yang menyarankan agar adik saya mengambil personal loan di Bank X. Tidak ada tanggapan. Dua hari kemudian saya telepon adik saya untuk menjelaskan saran saya. Jawaban yang saya terima, “Belum ada waktu karena repot mau akhir bulan.” Ternyata, keesokan harinya karyawan Bank X menelpon adik saya untuk menawarkan personal loan. Doa saya terjawab.

BE BETTER EVERYDAY.[ah]

* Agustinus Hartono adalah seorang karyawan yang saat ini sedang belajar untuk menuliskan hikmah dari peristiwa sehari-hari . Ia dapat dihubungi di email: ag_prasetyo@hotmail.com.

MENULIS DENGAN PENUH PERCAYA DIRI

Oleh: Sofa Nurdiyanti

Sering kali orang punya ide atau gagasan yang bagus dan ingin mengungkapkannya dengan menulis. Namun, tak jarang semua ide brilian itu menguap begitu saja karena kurangnya rasa percaya diri.

Apa yang menyebabkan hal ini terjadi? Apakah sekadar kurangnya rasa percaya diri? Berikut ini contoh kalimat-klaimat yang menggambarkan hubungan antara menulis dan rasa percaya diri.

“Duh, aku nggak bisa nulis, nih!”
“ Duh, aku nggak tahu mau mulai dari mana...”
“Terus, aku nulis apa, dong?”
“Aku nggak yakin bakalan bisa nulis. Tulisanku kan jelek, ntar diketawain orang lagi!!!…”

Ungkapan-ungkapan di atas tentunya sering kita dengar, bukan? Orang sering kali mengeluh ketika berhadapan dengan suatu tugas yang mewajibkan mereka untuk menulis. Beragam alasan muncul sebagai dalih atas ketidakmampuan mereka dalam menulis. Mulai dari kurangnya ide, minimnya kosakata, cara merangkai suatu ide menjadi satu paragaraf, ketidakmampuan dalam hal editing, dsb.

Pernyataan-pernyataan tadi seakan menjadi benteng yang sulit untuk dilewati oleh setiap orang ketika mulai belajar menulis. “Nothing impossible to do.” Pernahkah kita menyadari arti ungkapan tersebut? Tidak ada hal yang mustahil untuk dikerjakan ketika kita mau berusaha.

Pikiran positif akan mendorong kita untuk berusaha lebih keras daripada yang kita pikirkan. Hasilnya akan membuat kita takjub karena sebenarnya kita bisa meraih hasil lebih daripada yang kita pikirkan. Keterbatasan yang ada bukan karena ketidakmampuan kita dalam menulis, namun pikiran kita yang menghambatnya. Ini diakibatkan oleh kurangnya rasa percaya diri pada individu itu sendiri.

Setiap orang berdalih tidak mampu menulis dan mengalami krisis kepercayaan diri. Fenomena seperti ini seakan menjadi hal yang dianggap wajar oleh sebagian besar orang. Memang hal yang aneh tentunya kalau ada orang—yang bisa membaca dan menulis selama bertahun-tahun sejak Sekolah Dasar—mengatakan bahwa dirinya tidak bisa menulis.

Menulis selalu disalahartikan sebagai sesuatu yang sakral dan bersifat eksklusif. Eksklusif di sini dapat diartikan sebagai hal yang hanya dilakukan oleh orang-orang tertentu saja. Misalnya, menulis hanya dilakukan oleh pengarang buku, penulis skenario, sastrawan, atau pun orang-orang yang bekerja di bidang seni.

Perlu dipahami bahwa menulis merupakan hal yang dapat dilakukan oleh setiap orang dan tidak memandang latar belakang, status sosial, bahkan bakat. Menulis merupakan keterampilan yang dimiliki oleh masing-masing individu. Dan, menulis merupakan hal yang dapat dipelajari oleh semua orang.

Dengan belajar maka akan memudahkan setiap orang untuk terus menggali kemampuannya. Bakat bukanlah dewa yang harus ada dalam setiap individu. Keberhasilan sembilan puluh persen di antaranya ditentukan oleh kemampuan kita dalam berusaha, bukan soal bakat yang mendominasi kemampuan seseorang dalam melakukan sesuatu.

Menulis dapat dilakukan oleh semua orang karena menulis adalah salah satu bentuk kegiatan pengungkapan ide atau gagasan seseorang melalui sebuah media seperti buku, buletin, novel, skenario, makalah, laporan penelitian, majalah, koran, surat-surat, dsb. Pengungkapan ide ini tidak boleh dibatasi oleh rasa kurangnya kepercayaaan diri seseorang. Sebab, rasa percaya diri merupakan mesin penggerak utama sesorang dalam menulis.

Bila diibaratkan ide-ide yang ingin kita sampaikan itu adalah tujuan yang ingin dicapai, dan untuk sampai pada tujuan kita memerlukan sebuah sarana yang membantu kita, dalam hal ini tentu saja tingkat kepercayaan diri seseorang sangat berpengaruh dalam menentukan sampai tidaknya gagasan dan ide-ide kita dalam suatu tulisan.

Percaya diri adalah salah satu bentuk sikap yang sangat kita butuhkan dalam pengembangan diri kita melalui aktivitas menulis. Jika seseorang merasa tidak mampu menulis, maka ide-ide yang ada dalam pikirannya akan macet dan tidak bisa dituangkan dalam suatu bentuk tulisan.

Nah, mungkin Anda penasaran dengan apa yang dimaksud dengan rasa percaya diri seseorang sehingga berpengaruh besar dalam hidup kita. Percaya diri merupakan salah satu motor penggerak dan gerbang kebebasan kita dalam mengungkapkan ide dan imajinasi kita. Ingat, imajinasi kita tak terbatas. Rasa kurang percaya diri kitalah yang membuatnya menjadi terbatas.

Definisi percaya diri (self confidence) adalah sejauh mana Anda punya keyakinan terhadap penilaian atas kemampuan dan sejauh mana Anda bisa merasakan adanya “kepantasan” untuk berhasil. Self confidence merupakan kombinasi dari self esteem dan self-efficacy (James Neill, 2005). Self esteem adalah sejauh mana Anda punya perasaan positif terhadap diri; sejauh mana Anda punya sesuatu yang dirasakan bernilai atau berharga dari diri Anda; sejauh mana Anda meyakini adanya sesuatu yang bernilai, bermartabat, atau berharga di dalam diri Anda.

Sedangkan self efficacy adalah sejauh mana Anda punya keyakinan atas kapasitas yang Anda miliki untuk bisa menjalankan tugas atau menangani persoalan dengan hasil yang bagus (to succeed). Ini yang disebut dengan general self-efficacy. Atau juga, sejauh mana Anda meyakini kapasitas pada bidang Anda dalam menangani urusan tertentu. Ini yang disebut dengan specific self-efficacy.

Seperti apa yang disampaikan oleh Dr. Albert Bandura, bahwa self-efficacy yang bagus punya kontribusi besar terhadap motivasi seseorang. Ini mencakup antara lain: Bagaimana seseorang merumukan tujuan atau target untuk dirinya; Sejauh mana orang memperjuangkan target itu; Sekuat apa orang itu mampu mengatasi masalah yang muncul; Dan, setangguh apa orang itu bisa menghadapi kegagalannya.

Hal ini membuktikan bahwa rasa percaya diri saja ternyata tidak cukup kuat untuk merumuskan tujuan kita. Tetapkanlah target dan semangat yang kuat sehingga apa yang dicita-citakan dapat tercapai. Jangan pernah menyerah ketika menghadapi suatu rintangan. Perjuangkanlah apa yang menjadi tujuan Anda dan cobalah untuk meraihnya. Begitu juga soal rasa percaya diri dalam menulis, ternyata rasa ini akan sangat menunjang usaha kita dalam melatih keterampilan menulis.

Setiap orang tentu pernah mengalami krisis kepercayaan diri karena krisis ini dialami oleh hampir sebagian besar dari kita. Kurangnya rasa percaya diri ini membuat kita terpasung pada kondisi tetap, yang membuat kita tidak bisa bergerak dengan dinamis untuk menyalurkan segenap kemampuan kita.

Krisis ini dapat berdampak negatif jika kita tidak menyadari arti penting percaya diri dalam hidup kita. Perasaan tidak mampu mengerjakan suatu hal secara terus-menerus dapat mengakibatkan matinya kreativitas seseorang. Perlu langkah yang tepat agar kita bisa belenggu kurangnya rasa percaya diri.

Dan ternyata, salah satu cara untuk membantu kita menghilangkan belenggu rasa kurang percaya diri itu tak lain adalah dengan menulis. Ya, menulis. Jangan pernah ragu untuk mengungkapkan gagasan Anda dalam bentuk tulisan. Sebab, menulis apa yang ada dalam benak kita tanpa bermaksud menghapusnya adalah suatu bentuk apresiasi terhadap diri sendiri.

Jangan pernah ragu untuk menulis, apalagi tidak berani menulis hanya karena kita tidak mempunyai basic skill tentang menulis. Alasan klasik ini tidak dapat kita jadikan sebagai tameng terhadap keengganan kita dalam menulis. Seperti yang sudah saya jelaskan di atas, kita mampu mengerjakan sesuatu jika kita berpikir mampu dan kita gagal sebelum berusaha jika kita merendahkan kemampuan diri sendiri dengan mengatakan tidak mampu.

Hargailah diri Anda sendiri dan mulailah menulis. Intinya, saya menganjurkan kepada Anda untuk menulis. Tulislah apa saja yang ingin Anda tulis, tentang segala sesuatu yang pernah terlintas dalam benak Anda. Tumbuhkanlah motivasi pada diri Anda sendiri. Tingkatkan rasa percaya diri Anda untuk menulis saat ini juga. Dan, jangan membuang banyak waktu untuk berpikir “apakah saya bisa atau tidak”.

Persoalan selanjutnya mengenai apakah yang akan saya tulis, bagaimana saya meyampaikan ide, bagaimana mendeskripsikan sesuatu dan agar orang lain mengerti apa yang akan Anda tulis, serta hal teknis lainnya akan Anda kembangkan sendiri sesuai dengan sudut pandang dan kreativitas Anda.

Kembangkanlah kreativitas dan idealisme Anda dalam menulis. Buatlah sesuatu yang unik dan merupakan ciri khas Anda. Hal ini dimaksudkan supaya Anda mempunyai arah yang jelas serta tidak terjebak untuk meniru gaya penulisan orang lain yang belum tentu sesuai dengan pribadi Anda.

Menulis akan membantu Anda dalam meningkatkan kepercayaan diri. Sekali lagi, jangan pernah merendahkan diri sendiri dengan menganggap Anda tidak mampu. Saya yakin setiap orang mempunyai sisi berbeda dari segi ide, konsep, dan gaya penulisan yang menarik untuk dibagikan pada orang lain.

Jadi, jangan pernah takut dan menghapus apa yang sudah Anda tulis. Lihat dan cermati setiap tulisan Anda dan cobalah untuk menganalisisnya secara mandiri, baru kemudian meminta pendapat orang lain. Ini karena kita yang lebih mengetahui arah dan maksud tulisan kita. Orang lain yang memberikan kritik dapat kita jadikan perangsang dalam pengembangan keterampilan penulisan kita.

Analisis terhadap berbagai fenomena dan peristiwa yang tertuang dalam tulisan dapat kita jadikan sebagai sarana proses pembelajaran diri yang efektif. Sementara, kemampuan analisis internal bisa membuat kita belajar dalam melihat kekurangan yang kita miliki dan perlu diperbaiki, serta mengembangkan kelebihan yang sudah bisa kita capai.

Perasaan mampu atau tidak mampu akhirnya toh akan hilang. Dan, rasa percaya diri kita akan semakin tumbuh ketika kita mulai belajar menulis. Jangan pernah ragukan kemapuan diri Anda sendiri, bangunlah kepercayaan diri Anda, serta apresiasilah setiap kemajuan yang telah Anda capai. Hal ini akan menjadi penyemangat untuk terus maju dan mengembangkan kemampuan diri Anda. Selamat mencoba dan berusahalah membuat dunia menjadi berbeda dengan tulisan Anda.[sn]

* Sofa Nurdiyanti adalah mahasiswa Jurusan Psikologi, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta. Ia suka baca buku cerita, nonton kartun Detective Conan, Bintang, dan tertarik dengan sejarah, arkeologi, bahasa, budaya, dan politik. Tapi, sekarang lagi “nyasar” ke psikologi. Nur aktif menulis di “eksis” sebuah wadah jurnalistik Fakultas Psikologi, Universitas Sanata Dharma. Ia sedang semangat berlatih untuk menjadi penulis profesional dan seorang trainer. Saat ini, Nur juga tengah menyusun sebuah buku tentang motivasi kepenulisan. Kunjungi blog-nya di: http://nurdiyanti.wordpress.com atau email: nurrohmah_06@yahoo.com.

LAWAN = KAWAN

Oleh: Afra Mayriani

“Keep your friends close, but keep your enemies closer.”
~ Sicilian Proverb

Dalam hubungan antarmanusia yang terjalin, tentunya tidak semua berjalan dengan mulus. Baik itu hubungan antara kedua orang kekasih, kakak dengan adik, guru dengan murid, bahkan orangtua dengan anak. Tidak hanya itu, hubungan atasan dengan bawahan, dan hubungan antara sesama rekan kerja, yang biasanya juga sering mengalami berbagai hambatan.

Sikap kaku dan skeptis ketika menjalin hubungan dengan orang lain mungkin dapat menjadi titik mula datangnya kesulitan itu sendiri. Lalu, hal tersebut menjadi pemicu diri ketika berusaha membina suatu hubungan, baik dengan rekan kerja maupun dengan atasan.

Hal ini dialami juga oleh teman saya sendiri, Rico. Ia bekerja di salah satu bank swasta besar di Jakarta. Ia sudah menempati posisi yang dapat dibilang lumayan enak, yaitu sebagai asisten manajer akunting. Rico memiliki pengalaman bekerja selama kurang lebih empat tahun dan kemudian ia keluar untuk melanjutkan pendidikan S-2. Ia orang yang cerdas. Kepalanya selalu dipenuhi dengan berbagai ide segar yang dapat dimaksikmalkan. Selain itu, ia tipe pekerja keras. Motivasinya adalah melakukan yang terbaik hingga dapat menjadi yang terbaik.

Walau demikian, jalan memang selalu tidak mulus. Ada saja hambatan dan kesulitan yang ia alami. Salah satunya adalah kesulitan bekerja sama dengan atasannya sendiri. Manajernya selalu merasa paling pintar dan tidak pernah mau mendengarkan ide-ide dari bawahan ataupun rekan yang lainnya.

Pernah, dalam suatu meeting Rico mencoba mengemukakan pendapatnya tentang strategi promosi produk baru yang akan diluncurkan perusahaannya dalam waktu dekat.

“Gimana sih kamu Rico, kalau gak becus itu, ya sebaiknya diam saja! Tidak perlu ikut-ikutan ber-strategi. Saya kan sudah mencanangkan promosi yang paling tepat untuk produk baru kita itu! Memangnya kamu mau menentang saya?!” hardik atasanya.

Rico-pun segera menjawab, “Bukan begitu, Pak. Saya hanya mengemukakan bila gagasan Bapak digabungkan dengan gagasan saya, mungkin akan tercipta strategi baru, yang sebelumnya saya analisis belum pernah dilakukan oleh kompetitor kita. Sehingga, bisa saja menjadikan kita sebagai pioner di produk baru ini,” jelasnya dengan suara pelan. “Dan, saya tentunya akan meminta bimbingan serta keputusan Bapak, karena Bapak adalah atasan saya,” sambungnya.

Apa mau dikata, ternyata tetap saja atasannya itu tidak menyenangi Rico. Karena, makin hari Rico makin cemerlang dengan ide-ide luar biasanya itu. Mungkin saja dalam waktu singkat, seiring pemekaran departemen, karir Rico akan menanjak menyamai manajernya tersebut.

Akibatnya, lingkungan kerja menjadi tidak kondusif dan nyaman lagi untuk bekerja. Saling sikut dan bersaing tidak sehat sudah menjadi makanan sehari-hari di tempat kerja Rico. “Bayangkan, teman kerja saya yang sudah akrab bak sahabat selama lima tahun bekerja, ternyata tega sekali menjelekkan saya di depan direktur saya sendiri. Semua dilakukan hanya untuk mendapat ‘muka’ di depan atasannya itu,” serunya.

Jika sudah demikian, kawan adalah lawan Anda dalam persaingan di dunia kerja. Lalu, apa solusinya? Jangan berkecil hati. Jika Anda dalam posisi yang mungkin saja sama dengan Rico, ada beberapa hal yang bisa dijadikan acuan untuk mengatasinya. Berikut di antaranya. 1. Ciptakan hubungan “pertemanan” yang sama dengan setiap rekan kerja Anda.
2. Jangan terburu-buru untuk merasa dekat, apalagi memilih sahabat di tempat kerja. Analisis terlebih dahulu kecenderungan sifat dan sikap asli dari orang tersebut. 3. Open minded. Bersikaplah terbuka pada setiap masukan, dan peranan rekan kerja Anda dalam segala bentuk pekerjaan, jika memang diharuskan bekerja dalam sebuah teamwork.

Dari survei kecil yang saya lakukan, ada beberapa orang, yang mengalami permasalahan dengan rekan kerjanya sendiri di perusahaan mereka kerja saat ini. Rika misalnya, 29 tahun, yang bekerja di salah satu perusahaan telekomunikasi di Jakarta sebagai marketing executive. Dalam departemennya, terdapat kira-kira 15 orang dengan level posisi yang sama dengannya.

Mulanya, Rika menjalin hubungan baik dengan semua orang dalam perusahannya. Hingga suatu saat, ada salah seorang rekan kerjanya, yang lambat laun dekat berteman dengan dirinya. Sebut saja Santi. Santi duduk di posisi yang sama dengan Rika. Tetapi, Santi belum memiliki pengalaman kerja selama Rika, kira-kira baru satu tahunan lamanya.

Rika dan Santi, akhirnya menjadi akrab sekali hingga suatu waktu Rika menyadari, bahwa ternyata Santi memanfaatkannya. Seringkali Santi mengajak Rika berdiskusi mengenai pekerjaan, solusi dan pemecahan masalah termasuk ketika Santi menangani sebuah proyek. Tak disangka, Santi, seringkali menggunakan pemikiran-pemikiran Rika. Yang membuat Rika sakit hati, semua hasil pemikirannya itu disebut Santi sebagai hasil pemikirannya sendiri. Sehingga, keberhasilannya menangani suatu proyek menghantarkanya meraih promosi dari atasannya. Ia kini menjadi asisten manajer.

“Salah betul aku ini, terlena merasa bersahabat hanya dengan satu orang saja, yang ternyata orang itu justru menusukku dari belakang,” ungkapnya kepada saya, waktu menguraikan pengalaman pribadinya. Sungguh malang nasib Rika.

Berbeda dengan Rani. Seorang eksekutif berusia 25 tahun di perusahaan kosmetik. Rani, pernah memiliki kasus yang sama dengan Rika. Ia dimanfaatkan oleh rekan sekerjanya sendiri. Namun, ia segera menyadarinya sebelum terlarut akrab dengan rekan kerjanya itu. Ia pun mati-matian mulai menunjukkan keunggulan-keunggulan yang dimillikinya tanpa harus membantu seratus persen rekan kerjanya.

Rani tidak pelit informasi dan ilmu. Tapi, ia membagi pengetahuannya dengan rekan-rekannya hanya bagian terkecilnya saja. Sedangkan, bagian paling besar hingga penuntasannya, hanya ia yang mengetahui pasti. Dengan strategi demikian, Rani, tidak kehilangan teman rekan sekerjanya. Ia tetap menjalin pertemanan dengan mereka semua. Tapi, ia juga dapat mempertahankan prestasi kerjanya pada atasannya.

Menurut Ciara Woods dalam bukunya Everything You Need to Know at Work, yang telah dialihbahasakan dan diterbitkan oleh Erlanga, disebutkan bahwa sebuah tim yang efektif memiliki:

“Goal” (tujuan) yang sama, dan tidak ada di antaranya yang memiliki rencana sendiri.
Produktifitas menjadi lebih tinggi dan menyesuaikan dengan tenggat yang diberikan.
Adanya pembagian akan peranan dan tanggung jawab yang jelas kepada semua orang.
Komunikasi menjadi kunci utama, di mana prosesnya harus berjalan dua arah, mendengarkan dan didengarkan.
Hargai setiap individu sebagai pribadi yang baik di dalam tim. Setiap angggota berkesempatan untuk berkembang.
Binalah rasa saling menghormati antar setiap orang sehingga bekerja bersama akan terasa lebih menyenangkan.
Jadilah kelompok yang tidak menolak masukan, pengaruh, dan kritik yang dilontarkan dari luar.

Dalam lingkungan kehidupan di tempat kerja, memang hubungan antarrekan kerja itu sangat penting dijaga keharmonisannya. Sebab, hal itu menyangkut kinerja tim yang berujung pada kinerja diri kita sendiri. Semakin kita tidak dapat bekerjasama dengan anggota tim yang lain, menyebabkan mundurnya motivasi kerja yang ada.

Selalu, kita dihadapkan pada diversitas baik dari segi umur, budaya, dan latar belakang setiap individu dalam suatu perusahaan. Dari perbedaan tersebut, terkadang menyebabkan munculnya kotak-kotak kecil pergaulan dan hubungan antar rekan kerja. Kesamaan hobi, kesenangan yang sama, atau bahkan saya menjumpai ada lingkungan kerja teman saya yang mengelompokkan diri, karena mereka merasa berada dalam level dan kelas “gaul” yang sama. Sehingga, menghasilkan kelompok ekslusif, layaknya masa-masa sekolah dulu.

Idealnya, kita harus menjalin dengan relasi dengan siapa saja. Baik yang kita sukai karena memiliki nilai-nilai kesamaan tertentu. Ataupun yang tidak cocok dengan kita, baik dari segi sifat personal maupun dari segi kegemaran. Karena, dunia kerja bukanlah dunia main masa kanak-kanak. Semua harus dibangun secara profesional. Hasil akhir, merupakan orientasi yang perlu dikedepankan. Yaitu kesuksesan perusahaan tempat kita bekerja. Di situlah nilai prestasi kita sebagai karyawan terukur.

Masa depan tidak dapat diduga, oleh karena itu, bisa saja yang Anda anggap tidak “selevel” dengan kelas Anda dalam pergaulan di lingkungan kantor tempat Anda bekerja, ataupun rekan, dan atasan yang senang menjatuhkan Anda, justru suatu saat menjadi kawan baik Anda sendiri.

Seperti yang Rico alami. Akhirnya, setelah ia keluar kerja dari bank swasta tersebut untuk menjalankan usahanya sendiri, ia justru berteman akrab dengan mantan manajernya sewaktu itu. Dan, mereka menjalin hubungan bisnis yang baik hingga sekarang. Demikian juga dengan Rani, ia tetap menjalin pertemanan secara profesional dengan rekan-rekan kerjanya. Jadi, tunggu apa lagi, carilah lawan Anda dan jadikan mereka sahabat dalam pekerjaan ataupun bisnis Anda.

Tips Membuat Lawan Anda Menjadi Kawan:
1.Jalinlah relasi dengan semua orang.
2.Bersikap bersahabat, yang tidak berlebihan terhadap semua rekan kerja Anda di kantor.
3.Latihlah diri Anda agar tidak mudah tersinggung, sehingga Anda tidak memiliki perasaan dendam terhadap rekan kerja ataupun atasan yang menyakiti Anda.
4.Hargailah setiap rekan kerja Anda, karena masing-masing memiliki kelemahan juga keunggulannya sendiri-sendiri.
5.Jangan pernah menganggap remeh rekan kerja, bawahan, ataupun atasan Anda sendiri. Berusahalah mencari kesamaan walau kecil di antara jurang perbedaan yang besar.
6.Senantiasa berorientasi pada hasil akhir goal perusahaan, yakni kesuksesan di mana prestasi yang diukur adalah prestasi kerja tim yang solid.
7.Bersemangatlah!

~ Apa yang kita tanam, akan kita tuai. Maka janganlah berhenti untuk saling menghargai.[am]

* Afra Mayriani saat ini ia bekerja di salah satu perusahaan televisi berlangganan di Jakarta. Menjadi seorang penulis hebat adalah salah satu cita-citanya. Beberapa artikelnya pernah dimuat di Pembelajar.com. Alumi Sekolah Penulis Pembelajar (SPP) ini tengah menyelesaikan naskah buku pertamanya yang bertema karier. Ia bisa dihubungi di email: aframayriani@yahoo.com atau melalui weblognya di http://aframayriani.wordpress.com.

toko-delta.blogspot.com

Archives

Postingan Populer

linkwithin

Related Posts with Thumbnails

Total Tayangan Halaman

Diberdayakan oleh Blogger.