toko-delta.blogspot.com

menu

instanx

Senin, 10 November 2008

Mengubah Kekalahan Menjadi Kemenangan -

Oleh: M. Iqbal* Judul di atas adalah sub judul yang saya dapatkan dari buku “Berpikir dan Berjiwa Besar” yang ditulis David J. Schwartz. Di dalam sub judul tersebut lengkapnya ialah, “Bagaimana Mengubah Kekalahan Menjadi Kemenangan”. Sengaja saya hilangkan kata ‘bagaimana’ agar judul di atas sedikit nyastra. Dan tulisan ini memang terinspirasi dari buku tersebut. Saat saya membacanya saya mendapatkan kesan yang begitu mendalam. Kita temukan di kalangan kelas menengah ke bawah, apa pun profesinya sering mengalami kekalahan, keletihan, dan ketakberdayaan. Di antara mereka ada yang bercerita tentang situasi yang saya sebutkan di atas, dan ada juga yang hanya dipendam saja, mengutuk dirinya, dan membiarkan dirinya dalam keadaan seperti itu. Kata-kata negatif bermunculan dari mulutnya entah menyalahkan...

Pilih Penghasilan Aktif atau Pasif?

-Oleh: Masbukhin Pradhana Menurut klasifikasi penghasilan, ada orang yang bisa mendapatkan uang dengan cara bekerja dan ada orang yang bisa menghasilkan uang tanpa harus bekerja. Istilah kerennya adalah active income untuk pekerja dan passive income untuk orang yang bisa mengahasilkan uang tanpa bekerja. Robert Kiyosaki membagi klasifikasi ini menjadi 4 kuadran. Ada kuadran kiri untuk active income dan ada passive income di kuadran kanan. Mereka yang di kuadran kiri adalah Employee (pekerja) dan Self Employee (Profesional). Sedangkan yang dikuadran kanan adalah Business Owner (Pemilik Bisnis yang memiliki sistem) dan Investor. Kuadran kiri miskin waktuKuadran kiri menawarkan keamanan finansial. Kemanan finansial adalah kita berada di posisi yang nyaman dengan mengandalkan ketergantungan kita...

Bangga Saya Jadi Orang Indonesia (2): Richard Kartawijaya Akhirnya Memilih

- Oleh: Eben Ezer Siadari Richard Kartawijaya tentu Anda kenal. Dulu dia pernah menjadi country manager Microsoft Indonesia. Kemudian sejak tahun lalu ia menjadi salah satu country manager Motorola di Indonesia. Namun, ketika saya menelepon dia beberapa hari lalu untuk berbincang-bincang, dia mengabari saya bahwa dia kini bukan lagi berkarier sebagai eksekutif profesional. Dia sudah 'pindah kuadran,' menjadi seorang entrepreneur. Maka saya temui dia di kantornya, di gedung Adi Graha di Jl. Gatot Subroto. Kantornya itu di lantai 19, lantai paling tinggi di gedung itu. Ia kini menjadi entrepreneur, dengan membeli setengah kepemilikan dari sebuah perusahaan teknologi informasi penyedia solusi bisnis. Perusahaan itu baru seumur jagung dan Richard berharap dalam lima tahun ke depan sudah dapat...

Gelombang Binal Konsumerisme

Oleh: Joshua W. Utomo Perayaan hari-hari besar keagamaan dari hari ke hari semakin identik dengan 'perayaan' konsumerisme. Pasar swalayan, supermarket dan mal-mal menjadi lebih menarik untuk dikunjungi ketimbang tempat-tempat peribadatan. Bahkan tampaknya, pusat-pusat perbelanjaan ini telah menjadi 'wahana peribadatan' baru bagi para konsumer fanatik yang tergantung sekali pada merek-merek kondang itu. Belanja besar-besaran senyampang musim obralan merupakan ekspresi kerelijiusan mereka pada 'agama' mereka yang 'baru' ini. Tak peduli sekalipun penghasilan dan anggaran keuangan tak mencukupi yang penting bisa memborong hal-hal yang diinginkan merupakan kepuasan pemeluk 'agama baru' ini. Decak kagum dan sorot mata kecemburuan dikombinasi dengan komentar 'wah' dari para tetangga mampu membawa...

Bangga Saya jadi Orang Indonesia (03): Selalu Ada Pagi bagi Suwarti

Oleh: Eben Ezer Siadari Tidak ada pagi yang tak cerah bagi Suwarti. Pagi adalah matahari bagi hidupnya. Angin yang basah dan dingin, mendung, kabut bahkan hujan, tak pernah menjadi penghalang baginya menyongsong pagi dan matahari hidupnya. Setiap pagi, tak pernah lewat dari pukul 6:30, ketika banyak ibu rumah tangga masih bersiap-siap memberangkatkan putra-putrinya ke sekolah, ketika orang-orang yang akan ke kantor mungkin masih belum menyiapkan baju kerjanya, Suwarti sudah beredar di jalanan kompleks perumahan kami di Ciputat. Suaranya yang nyaring tetapi dengan nada rendah sudah kami kenal dengan akrab. “Kue….kue….. Kue Pak? Kue Bu?” Suara itu berkumandang diiringi dengan langkah kakinya yang cepat dan suara sandalnya yang kadang seperti terseret. Menggendong kue jualannya, ia berjalan kaki...

SISTEM INFORMASI

Oleh: Ardian Syam Ada apa dengan informasi? Apakah anda mendefinisikan informasi sekedar data yang diolah? Pernahkah anda membedakan informasi dengan sampah? Saya ingin tanya anda yang memiliki e-mail address, pernahkah anda menerima kiriman e-mail yang berisi berita, iklan, dan hal lain yang sama sekali tidak anda perlukan atau tidak anda butuhkan? Apakah content e-mail tadi menjadi informasi buat anda? Yakinkah anda bahwa itu informasi buat anda, bukan sampah? Saya ingin membuka sedikit wawasan fikiran tentang informasi. Banyak orang mengatakan bahwa sekarang mereka kebanjiran informasi. Oh ya? Saya pernah dengar bahwa Christianto Wibisono bilang orang yang memegang informasi akan mengendalikan dunia. Lalu bagaimana dengan orang-orang yang kebanjiran informasi? Beberapa teman saya telah...

Bangga Saya jadi Orang Indonesia (04) Seorang 'IBU' yang tak Pernah Pensiun -

Oleh: Eben Ezer Siadari Televisi pertama kali masuk ke kampung kami kira-kira 25 tahun lalu. Waktu itu saya masih di kelas lima SD. Pemiliknya adalah tetangga dekat kami. Hampir semua orang di kampung itu memanggil pemilik rumah itu 'IBU.' Televisi itu 14 inci, hitam-putih. Sebelum ia bisa mengeluarkan gambar sebagaimana layaknya televisi, kerepotan demi kerepotan terjadi di sekitar rumah. Misalnya, di depan rumah IBU harus ditanamkan antena lebih kurang lima meter. Pohon cengkeh di depan rumah kalah sama itu antena. Kerepotan lain adalah menyambung-nyambungkan kabel. Melekatkannya di dinding rumah IBU yang besar itu. Itu adalah tontonan yang menarik bagi anak-anak seusia saya. Kami mengerumuni para pekerja yang mengerjakannya. Melihat-lihat penuh rasa ingin tahu. Saya, didalam hati bahkan...

Ketika usiaku menjelang Pensiun

Oleh: Masbukhin Pradhana Juli 2005 tanggal 20, kala itu pertama kali saya men-share pengalaman menjalani bisnis di kelas Entrepeneurship di perusahaan otomotif. Pesertanya rata-rata berusia 52 tahun yang berarti 3 tahun lagi akan pensiun. Usia peserta yang menjelang pensiun itu memang pantas menjadi bapak saya. Namun mereka mengakui telah kalah start dan setengah menyesal, “kenapa tidak memulai dari dulu...” Saya pun berpikir, “Gimana sih rasanya kalau tiga tahun lagi kita pensiun?”Saya pun berkelana dengan mesin waktu ke tahun 2026. Ketika itu usia saya sudah 52 tahun dan tinggal punya sisa waktu 3 tahun untuk bekerja di perusahaan. Apa yang terjadi jika usia saya dipanjangkan sampai menjelang pensiun.Kira-kira posisi saya ketika itu, apakah sudah menjadi supervisor, manager, general manager...

Mission Im [possible]

Oleh: Hari Subagya (Sebagai renungan di awal tahun 2006) Sahabat sukses. Dalam perjalanan hidup anda sekarang ini, adalah perjalanan sebuah misi. Misi kehidupan yang hanya sekali saja akan anda jalankan. One way Ticket! Kehidupan tak akan pernah bisa anda putar ulang. Tidak ada kesempatan kedua, dan anda harus berhasil. Anda harus sukses. Bila anda sukses maka anda menang, bila tidak maka anda akan kalah dan hanya akan menjadi beban kehidupan. Beban keluarga, beban orang lain, beban masyarakat, beban negara dan bahkan beban dunia. Kehadiran anda hanya akan menjadi masalah dan masalah. Sahabat sukses,… apakah anda akan relakan kehidupan anda yang hanya sekali ini, sebagai orang yang kalah? Sahabat sukses,… apakah anda akan relakan kesempatan yang tersisa untuk menyerah? Hidup anda adalah sebuah...

Tidak Penting Siapa Anda Sekarang

Oleh: Masbukhin Pradhana Siapakah Anda hari ini? Tidak lulus sekolah, lulusan SMA , lulusan D3, atau malah sudah sarjana, doktor sekalipun? Tapi apakah posisi Anda sekarang ini? Apakah masih pengangguran, sibuk mencari kerja ataukah karyawan dengan gaji pas-pasan atau menjelang usia pensiun atau malah ada yang sudah pensiun? Itu semua tidak penting. Hari ini boleh jadi Anda belum sukses atau pada posisi kalah, tapi orang lain bisa melihat siapa Anda tiga tahun atau kalau kurang lama lihatlah diri Anda sendiri lima tahun mendatang. Anda yang bisa menggambarkan siapakah Anda lima tahun mendatang.Kekuatan mimpiMimpi bisa saja diartikan cita-cita kalau kita benar benar ingin mewujudkannya. Biasanya kalau cita-cita ini sudah ada rencana untuk pencapaiannya. Tapi kalau mimpi ini lebih ngawur dan...

BANGGA SAYA JADI ORANG INDONESIA (5): Pak Sumarso Pahlawan Saya

Oleh: Eben Ezer Siadari Pak Sumarso tak mengenal saya. Saya pun tak kenal beliau. Ia tak berbicara dengan saya. Saya pun tak sempat menyapa dia. Perjumpaan kami tak lebih dari delapan menit. Bahkan sebenarnya bukan perjumpaan. Hanya secara kebetulan saja kami berada pada satu waktu di satu tempat. Yakni di Kereta Rel Listrik (KRL) AC jurusan Serpong-Tanah Abang. Suatu hari di minggu pertama Januari. Tapi Pak Sumarso begitu melekat di hati saya. Dan saya mencatat namanya yang tertera di atas saku baju kerjanya yang berwarna biru muda. Saya bahkan sempat memotret wajahnya dengan kamera handphone saya (lihat, www.banggaindonesia.com), meskipun tak sempurna hasilnya. Pak Sumarso kala itu sedang berbicara menjurus kepada berdebat, dengan salah seorang penumpang kereta itu. Di situlah saya mengaguminya....

Telecommuter

Oleh: Ardian Syam Anda sudah membaca majalah SWA edisi 29 September – 12 Oktober 2005? Ada tulisan bahwa beberapa pebisnis di Jakarta lebih suka bekerja di tempat-tempat umum, di cafe atau restoran yang menyediakan hot spot sehingga mereka bisa mengakses server perusahaan tempat mereka bekerja atau situs-situs internet yang mereka butuhkan untuk membantu pekerjaan mereka. Mereka bekerja sebagai designer, marketer, atau account officer/manager, maupun eksekutif di perusahaan tempat mereka bekerja, atau bahkan pemilik usaha tersebut. Mereka melakukan hal tersebut atas dasar kepraktisan karena client mereka bekerja di sekitar mal atau plasa yang mereka pilih dan yang menyediakan hot spot tersebut. Mereka mengambil keputusan tersebut demi agar client mereka dapat bertemu muka langsung dengan mereka...

Teroris: Sebuah Fenomena Sosial dan Agama?

Oleh: M. Iqbal Pada kamis siang (24 November 2005) saya memaksakan diri untuk pergi ke perpustakaan UIN Yogyakarta. Sebenarnya teramat berat melangkah kaki ke sana, karena cuaca yang begitu panas serta badan terasa capek setelah paginya masuk kuliah. Tapi, daripada tidur lebih baik saya gunakan waktu tersebut untuk ke perpustakaan. Pukul. 14.00 aku berangkat. Jarak antara kos saya dengan perpustakaan memang tidak jauh, bisa ditempuh dengan jalan kaki dengan memakan waktu sekitar lima menit. Singkat cerita, saya telah sampai di perpustakaan UIN Yogyakarta. Jika dibandingkan dengan pagi hari, siang hari terasa sepi perpustakaan tersebut, sehingga membuat saya nyaman untuk membaca. Apalagi di lantai tiga yang isinya buku-buku yang jarang dijamah oleh para mahasiswa. Paling-paling ramainya cuma...

Experiential Learning

Oleh: Hari SubagyaSelama 6 tahun ini saya menekuni bidang experiential learning. Sangat menarik, karena dengan methode belajar seperti ini sangat mudah diingat dan sulit untuk dilupakan. Dampaknya akan jauh lebih kuat. Methode ini seakan miniatur sebuah proses belajar dalam kehidupan. Banyak orang menjalani hidup, tersungkur, terperosok hingga ke titik minus, maka setelah itu, mereka baru tersadar dan mampu mengambil hikmahnya. Kadang kesadaran dari benturan itu sudah sangat terlambat. Banyak sekali kejadian orang yang terperosok, karena kebiasaannya mencuri, korupsi, dan ketika terungkap dan tertangkap, maka sudah hancur semuanya. Begitu kesadaran timbul, begitu titik kebenaran mulai menyinari hatinya, maka semuanya sudah berbeda. Tenaga sudah habis, sahabat sudah pergi, dan usia semakin...

Pages 381234 »

toko-delta.blogspot.com

Archives

Postingan Populer

linkwithin

Related Posts with Thumbnails

Total Tayangan Halaman

Diberdayakan oleh Blogger.