toko-delta.blogspot.com

menu

instanx

Kamis, 16 Oktober 2008

ALTERNATIF STRATEGI INVESTASI





Investasi merupakan sarana terpenting dalam meningkatkan kemampuan Anda untuk mengumpulkan dan menjaga kekayaan. Sebagai awal, sangat penting bagi Anda untuk memahami bahwa “no single investemnt is right for everyone” . Berbagai batasan seperti kebutuhan akan uang tunai, tujuan dan prilaku serta preferensi Anda terhadap risiko, membuat setiap individu memilih investsi yang berbeda-beda. Menentukan investasi yang tepat membutuhkan sebuah perencanaan dan strategi yang jitu.

“Buy and hold” vs “market timing”
Buy and hold strategi diartikan dengan membeli beberapa alternatif sarana investasi dan tetap memegangnya untuk jangka waktu yang lama. Di sini lebih merupakan investasi jangka panjang dan tentunya melatih kesabaran Anda dalam memutuskan untuk membeli atau menjual investasi yang Anda miliki. Berinvestasi di saham memang berisiko, tapi dalam jangka panjang risiko ini bisa dikurangi tentunya dengan diversifikasi. Strategi ini merupakan pendekatan investasi yang baik.

Bila Anda memilih strategi ini untuk berinvestasi, pastikan Anda melakukan analisa terhadap Reksadana yang akan Anda pilih. Sebuah kalimat yang sangat dikenal yang muncul di setiap iklan sebuah reksadana atau prospektus adalah “past performance is no guarantee of future result” atau “performa masa lalu tidak menjamin hasil di masa datang”.

Hanya karena seorang manejer investasi mengalahkan tingkat pengembalian pasar dalam 5 tahun terakhir, tidak menjamin bahwa ia akan melakukan hal sama untuk 5 tahun mendatang. Akan tetapi, performa masa lalu adalah sebuah indikator untuk memprediksi apa yang mungkin terjadi di masa datang. Hal ini memberikan informasi kepada Anda apa yang bisa dilakukan oleh manejer investasi tersebut.

Sedangkan cara kedua—market timing—adalah dengan membeli di harga terendah dan menjualnya di harga tertinggi. Walau cara pertama memberikan tingkat pengembalian yang cukup dalam jangka panjang tapi dengan melakukan cara pengelolaan dengan “buy and hold” mereka akan banyak dirugikan dengan perubahan harga yang cepat (volatility). Bila Anda masuk ke pasar dan membelinya di saat harga terendah dan menjualnya kembali di harga tertinggi, bukankah dengan melakukan hal ini akan memberikan tingkat keuntungan yang lebih besar?

Secara akal sehat memang kita tentunya kita akan setuju strategi ini, di mana kita akan diuntungkan dengan membeli di harga terendah dan menjualnya di harga tertinggi. Tapi apakah pemilihan atau penentuan waktu beli yang dilakukan akan selalu tepat di harga terendah dan menjualnya di harga tertinggi? Secara jelas kami mengatakan tidak akan pernah ada yang selalu tepat dalam memprediksi atau memperkirakan perubahan harga di pasar. Oleh karenanya dalam melakukan pola ini banyak sekali ketidak pastian yang akhirnya berakibat kerugian.

“Dollar cost averaging”
Strategi yang kami sarankan dan dapat membantu Anda dalam mencapai tujuan yang Anda inginkan dengan keterbatasan penghasilan bulanan adalah dengan melakukan strategi dollar cost averaging. Strategi merupakan investasi secara sistimatik dan berkesinambungan dalam jangka panjang, yang pada akhirnya memberikan harga rata-rata yang rendah dan membantu Anda meningkatkan keuntungan secara menyeluruh.

Mengapa melakukan strategi ini? Karena tidak ada seorang pun yang tahu apa yang akan terjadi dengan pasar di masa datang. Berinvestasi regular setiap bulan akan memberikan potensi keuntungan yang lebih baik bagi mereka yang relatif rendah tingkat toleransi risikonya.

Strategi ini bisa atau biasa digunakan bila berinvestasi dalam saham atau reksadana dengan unsur saham, seperti reksadana saham dan campuran. Sebagai contoh, Anda menginvestasikan dana dalam bentuk reksadana saham. Anda bermaksud untuk menginvestasikan secara regular setiap bulan sebesar Rp.1 juta.

Tanggal----Dana investasi----Nilai NAB---- Jumlah Unit
4-Jun-03---1,000,000---------2325-----430.11
4-Jul-03---1,000,000---------2275-----439.56
4-Aug-03---1,000,000---------2875-----347.83
4-Sep-03---1,000,000---------3000-----333.33
4-Oct-03---1,000,000---------2650-----377.36
4-Nov-03---1,000,000---------2250-----444.44
4-Dec-03---1,000,000---------1600-----625.00
--------------------------7,000,000---2997.63


Total Investasi selama 7 bulan = Rp. 7,000,000
Jumlah total Unit yang dibeli = 2997.63
Nilai rata-rata NAB = 2425
Harga NAB rata-rata yang didapat = 2350.86 (7.000.000/2997.63)

Dari contoh nilai NAB diatas terlihat keunggulan strategi dollar cost averaging. Dengan menginvestasikan dana dalam jumlah yang sama untuk periode waktu tertentu, investor atau Anda akan memperoleh jumlah unit yang didapat setiap pembelian dengan harga yang berbeda. Akan tetapi, dengan berjalannya waktu nilai NAB rata-rata yang diperoleh investor menurun di mana nilai rata-rata NAB lebih besar dibandingkan dengan Harga NAB rata-rata yang didapat. Contoh di atas hanyalah untuk illustrasi belaka dan tidak bermaksud mengindikasikan performa salah satu investasi.

Secara esensi maka strategi ini sangat cocok bagi mereka yang memiliki perspektif perencanaan jangka panjang dan memiliki pemasukan regular setiap bulan dan sebagian dialokasikan untuk tujuan masa depan dengan maksud berinvestasi dalam keadaan pasar naik maupun turun.

“Buying on margin”
Secara esensi, bila pasar dalam keadaan naik maka membeli dengan pola margin sangat menguntungkan. Tapi bila keadaan pasar sebaliknya—turun—maka berinvestasi dengan pola margin dapat membunuh Anda dalam aspek keuangan.

Beginilah contoh transaksi pola margin. Sebut saja Anda memiliki dana sebesar Rp.100 juta untuk diinvestasikan. Anda membuka account di sebuah perusahaan sekuritas, dan mengijinkan Anda untuk bertransaksi dengan pola margin. Sekarang kita ambil contoh bila Anda ingin membeli saham dengan total investasi sebesar Rp.150 juta. Anda menginvestasikan Rp.100 juta yang Anda miliki dan sisa Rp.50 juta dibantu oleh perusahaan dengan pola margin (kredit). Tentunya dengan pinjaman dana yang Anda lakukan, perusahaan akan membebani Anda dengan bunga.

Setelah pembelian maka Anda mendapatkan investasi dalam saham ABC dengan nilai sebesar Rp.150 juta. Sekarang kita asumsikan bahwa nilai saham Anda naik menjadi dua kali lipat, menjadi Rp.300 juta. Dari total investasi tersebut, Rp.250 juta merupakan bagian Anda dan Rp.50 juta dengan tambahan bunga menjadi bagian perusahaan sekuritas. Bila keadaan seperti ini, maka Anda dapat menjual saham senilai kurang lebih Rp.50 juta ditambah bunga untuk membayar lunas kredit atau hutang yang Anda miliki dan sisa investasi jadi bagian Anda semua.

Investasi Anda = Rp.100 juta
Pembelian margin (hutang) = Rp.50 juta
Total Investasi = Rp.150 juta
Bila nilai investasi naik dua kali lipat = Rp.300 juta
Investasi bagian Anda = Rp.250 juta

Tentunya terlihat sangat bagus bukan? Sekarang kita asumsikan bahwa pasar dalam keadaan menurun, dan nilai investasi Anda turun 60% dari investasi awal atau Rp.60 juta. Berapa nilai investasi yang Anda miliki sekarang? Hanya Rp.10 juta. Anda masih tetap berhutang dengan perusahaan sekuritas sebesar Rp.50 juta. Bila nilai investsai terus turun maka perusahaan sekuritas memiliki wewenang untuk menjual investasi Anda untuk menutup kredit yang mereka berikan.

Investasi Anda = Rp.100 juta
Pembelian margin (hutang) = Rp.50 juta
Total Investasi = Rp.150 juta
Bila nilai investasi turun 60%, maka nilai investasi = Rp.60 juta
Investasi bagian Anda = Rp.10 juta
Balance pinjaman = Rp.50 juta

Inilah risiko berinvestasi dengan pola margin. Jadi jelas dari contoh di atas, bahwa berinvestasi dengan margin sangat menguntungkan bila pasar dalam keadaan naik, dengan meminjam dana untuk berinvestasi tapi begitu pasar turun, kerugian Anda akan meningkat. Tidak ada seorang pun yang tau kapan pasar akan naik atau turun, sehingga kami menyarankan agar Anda tidak berinvestasi dengan pola margin apalagi untuk sebuah tujuan yang menjadi dambaan keluarga.

Demikianlah beberapa starategi yang kami lihat perlu Anda pahami dalam berinvestasi untuk mencapai tujuan masa datang. Selamat berinvestasi.

* Muhamad Ichsan, ChFC, MsFin, adalah parkitisi dan akademisi di bidang perencanaan keuangan. Ia adalah Managing Partner pada PrimaPlanner dan Direktur Program IFPI, serta mengajar di Ubinus dan STAN. Ichsan dapat dihubungi melalui email: ichsan02@yahoo.com

0 komentar:

toko-delta.blogspot.com

Archives

Postingan Populer

linkwithin

Related Posts with Thumbnails

Total Tayangan Halaman

Diberdayakan oleh Blogger.