toko-delta.blogspot.com

menu

instanx

Rabu, 29 Oktober 2008

KEYAKINAN YANG MEMBERDAYAKAN

-
Oleh: Sugeng Widodo


Anda kurang puas dengan apa yang telah Anda capai saat ini, baik dalam kehidupan pribadi, karir, maupun bisnis? Dan, Anda ingin mencapai kondisi ideal di kemudian hari? Maka, mulai sekarang berhati-hatilah dengan apa yang anda percayai. Mengapa? Karena pada hakikatnya, hasil apa pun yang saat ini dicapai oleh seseorang—baik dalam bisnis maupun kehidupan pribadi—sesungguhnya hanyalah buah dari suatu tindakan kita sendiri. Faktanya, tindakan-tindakan kita itu dipengaruhi oleh kepercayaan serta keyakinan kita sendiri.

Kepercayaan dari kata dasar ‘percaya’ berarti sikap menerima kebenaran atas sesuatu. Sesuatu itu bisa berupa pendapat, orang, peristiwa, atau yang lainnya. Kepercayaan itu bisa benar dan bisa salah tergatung pada pengetahuan, pengalaman, lingkungan, maupun nilai-nilai yang menjadi pengangan pribadi seseorang. Jadi, tidak semua kepercayaan itu benar. Suatu kepercayaan bisa saja salah.

Kepercayaan yang didukung oleh bukti-bukti yang pasti benar disebut keyakinan. Semua kepercayaan maupun keyakinan di dunia ini tetap saja bersifat relatif. Kepercayaan yang mutlak benar dan wajib menjadi keyakinan kita adalah kepercayaan yang dilandasi oleh hukum-hukum maupun firman Tuhan yang bersumber dari kitab suci yang pasti benar.

Tidak memberdayakan dan memberdayakan
Apa pun kepercayaan Anda terhadap sesuatu janganlah membuat Anda menjadi tidak berdaya. Kepercayaan yang tidak memberdayakan inilah kepercayaan yang salah. Ini penting, karena kalau Anda memiliki kepercayaan yang salah maka itu akan mempengaruhi sikap dan tindakan Anda. Kepercayaan yang salah akan melahirkan sikap dan tindakan yang salah. Kepercayaan tersebut berarti tidak memberdayakan Anda. Jika ini yang terjadi, maka sasaran apa pun yang Anda inginkan tidak akan terwujud.

Beberapa kepercayaan yang tidak memberdayakan contohnya: Saya kurang pengalaman; saya tidak mampu meyakinkan; saya tidak punya relasi; saya tidak berbakat berbisnis; masa depan saya tampak suram; dll. Termasuk kalau Anda berpendapat bahwa diri Anda tidak mampu mencapai suatu sasaran tertentu, maka Anda pun tidak akan mampu mencapai sasaran tersebut.

Jika pendapat, asumsi, dan pernyataan itu dipercayai atau diterima sebagai sesuatu yang benar, maka sikap maupun tindakan Anda akan menjadi terbatas. Artinya, Anda menjadi tidak berdaya, karena dibatasi oleh pendapat yang dipercayai oleh pikiran Anda. Pendapat yang Anda percayai inilah yang membatasi sikap dan tindakan Anda sehingga gagal mencapai sasaran yang Anda inginkan.

Kalau kita ingin tetap eksis, bertumbuh secara professional, dan mencapai sasaran-sasaran kita, maka pendapat-pendapat seperti itu—baik yang timbul dari pikiran kita sendiri, pendapat orang lain, maupun pengalaman kita sebelumnya—haruslah diganti dengan kepercayaan yang memberdayakan.

Kepercayaan yang memberdayakan itu sangat penting agar kita selalu termotivasi untuk bersikap positif dan bertindak menuju sasaran yang kita ingin capai. Berikut beberapa contoh kepercayaan yang memberdayakan, seperti; Anda pasti berhasil kalau tidak pernah menyerah; ada kemauan pasti ada jalan; semua bisa dilakukan kalau kita mau; hidup adalah anugerah Tuhan yang harus disyukuri; kegagalan adalah keberhasilan yang tertunda; hidup seperti roda pedati kadang kita di bawah dan kadang kita di atas, dll.

Keyakinan berbasis nilai-nilai spiritual
Kepercayaan yang mutlak benar, yang tidak perlu diragukan lagi adalah bersumber dari firman atau janji-janji Tuhan. Atau, bisa juga disebut keyakinan yang berbasis pada nilai-nilai spiritual.

Keyakinan inilah yang menjadi sumber energi yang tidak pernah habis. Energi yang siap setiap saat dipergunakan untuk memberdayakan diri kita. Dalam kitab suci Alquran, Allah SWT berfirman: Innama tuu’aduuna la waaqi’ yang artinya “Sesungguhnya apa yang dijanjikan kepadamu pasti terjadi” (Alquran, 77: 7).

Nilai-nilai spiritual yang mengandung energi luar biasa itu antara lain: Bersyukur dan berkontribusi.

Dalam Alquran Surat Ibrahim ayat 7, Allah berfirman: “Dan ingatlah ketika Tuhanmu memaklumkan; Sesungguhnya jika kamu bersyukur pasti Kami akan menambahkan nikmat kepadamu, dan jika kamu mengingkari nikmat-KU, maka sesungguhnya azab-KU sangat pedih.”

Ayat ini menunjukkan betapa pentingnya bersyukur kepada Tuhan. Bersyukur mengandung makna bahwa kita mengakui keberadaan Tuhan. Kita mengakui bahwa apa yang kita miliki adalah semata-mata berasal dari Tuhan. Itu juga berarti bahwa kita meyakini bahwa Tuhan adalah sumber dari semua yang kita inginkan. Yang lebih penting lagi, ketika kita bersyukur maka kita menjalin hubungan yang harmonis dengan Tuhan. Hubungan harmonis yang dilandasi rasa syukur dan terima kasih itu, melahirkan kondisi psikologis yang tenang dan optimistis, yang pada gilirannya melahirkan sikap dan tindakan yang positif. Sikap dan tindakan yang positif inilah yang kemudian melahirkan buah kesuksesan yang lebih besar.

Benarlah janji Tuhan, bahwa kalau kita beryukur niscaya Dia akan menambah nikmat yang telah diberikan kepada kita.

Terkait dengan masalah kontribusi, firman Allah dalam QS. Albaqarah ayat 261, menyatakan yang artinya, “Perumpamaan nafkah yang dikeluarkan oleh orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah, adalah serupa dengan; sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir/tangkai, pada tiap-tiap bulir/tangkai menumbuhkan 100 biji. Allah melipatgandakan ganjaran bagi siapa yang dikehendaki, dan Allah Maha Luas kurnianya lagi Maha Mengetahui.”

Allah berjanji melipatgandakan imbalan atas setiap kontribusi kita. Tentu kontribusi kita bukan hanya dalam bentuk harta benda, tetapi bisa dalam bentuk harta yang lain seperti tenaga, waktu, gagasan, dorongan moril, dan lain lain. Maknanya, dengan berkontribusi, sesungguhnya kita mengalami suatu proses pembelajaran dan pertumbuhan pada internal pribadi kita yang otomatis melipatgandakan kemampuan kita untuk menghasilkan kembali apa yang telah kita berikan kepada orang lain.

Ketika berkontribusi kepada pihak lain misalnya kepada customer, organisasi, maupun perusahaan, maka kita juga memproses peningkatan kualitas diri maupun kompetensi kita dalam aspek fisik, intelektual, emosi, maupun spiritual yang pada gilirannya meningkatkan kemampuan kita dalam meraih hasil yang lebih baik atau mencapai apa yang kita inginkan.

Nabi Muhammad SAW, yang juga dikenal sebagai tokoh paling berpengaruh di dunia, dalam hadis beliau memberikan nasihat; kalau Anda memiliki suatu keinginan maka dianjurkan untuk banyak bersedekah (berkontribusi). Dengan banyak bersedekah secara ikhlas, maka Allah akan membuat yang sulit menjadi mudah, yang jauh menjadi dekat, dan akhirnya apa yang kita inginkan menjadi kenyataan.

Akhirnya, kepercayaan atau keyakinan yang memberdayakan sangatlah diperlukan sebagai dasar tindakan yang positif. Kepercayaan yang bersumber dari nilai-nilai spiritual khususnya janji-janji Tuhan dalam kitab suci Alquran yang pasti dan mutlak benar adalah sumber energi dan dasar tindakan yang paling tepat dan kondusif dalam mencapai sasaran mulia dan terpuji yang kita inginkan. Dan, rahmat Allah senantiasa tersedia dan tercurah untuk kita.[sw]

* Sugeng Widodo, S.Sos, MM, AAIJ, LUTCF adalah alumnus Fisip Universitas Indonesia tahun 1999 dan program magister manajemen STIE Dharma Bumiputera tahun 2000. Saat ini ia menjabat Kepala Bagian Pemberdayaan Organisasi, Divisi Askum, AJB Bumiputera 1912. Ia adalah alumnus SPP workshop “Cara Gampang Menerbitkan Buku Sendiri” Angkatan I yang suka menulis artikel di harian “Bisnis Indonesia” dan majalah “Proteksi”. Sugeng dapat dihubungi di: sugeng_widodo@bumiputera.com.

0 komentar:

toko-delta.blogspot.com

Archives

Postingan Populer

linkwithin

Related Posts with Thumbnails

Total Tayangan Halaman

Diberdayakan oleh Blogger.