toko-delta.blogspot.com

menu

instanx

Rabu, 29 Oktober 2008

MEMBUAT DIRI BAHAGIA SETIAP SAAT

- Oleh: Sugeng Widodo

Apa mungkin seseorang merasa bahagia setiap saat? Tak peduli apakah ia orang kaya atau miskin, punya jabatan atau tidak, tua atau muda, sehat atau sakit, kapan saja atau di mana saja dalam semua keadaan. Jawaban dari pertanyaan itu bisa mungkin atau tidak mungkin. Anda pilih yang mana, kalau Anda punya jawaban “mungkin” ada baiknya meneruskan membaca artikel ini. Siapa tahu Anda bisa merasa bahagia setiap saat. Caba saja.

Apa sih yang disebut bahagia itu? Setiap orang memiliki jawaban yang berbeda, karena bisa membuat definisi sendiri-sendiri. Sekadar untuk menyamakan persepsi, ada baiknya saya ajak Anda untuk membuka kamus. Dalam Kamus Lengkap Bahasa Indonesia, karya Em Zul Fajri dan Ratu Aprilia Senja, ditulis bahwa bahagia merupakan keadaan atau suasana hati yang tentram dan damai, suasana hati yang bebas dari rasa susah.

Dalam pengertian bahagia seperti itu, setiap orang bisa merasakannya sesuai dengan keadaan yang diinginkan. Pemuda yang mendambakan pasangan wanita yang cantik, berkulit putih, memiliki tinggi di atas rata-rata, cerdas, dan setia, tentu akan merasa bahagia apabila pasangan yang memenuhi kriteria itu berhasil dimiliki.

Sama halnya, orang yang mengharapkan memiliki mobil BMW terbaru, ia akan merasa bahagia apabila harapan memiliki mobil BMW terbaru itu menjadi kenyataan. Demikian pula, mereka yang berjuang mewujudkan sasaran bisnisnya terpenuhi tahun ini, akan merasa bahagia apabila sasaran itu berhasil dipenuhi. Dan, masih banyak lagi contoh lain sesuai dengan keinginan dan harapan masing-masing.

Kalau keinginan, harapan, dan sasaran dapat dicapai otomatis saat itu puas, tentram, dan damai. Persoaalannya adalah bagaimana agar tetap merasa bahagia walaupun keinginan, harapan, atau sasaran tidak menjadi kenyataan?

Kebahagiaan terkait dengan perasaan. Kabar baiknya, keadaan perasaan itu bisa dipengaruhi oleh pikiran, fisiologis, dan spiritualitas. Dalam perspektif ilmu pengetahuan, meminjam konsep NLP (Neuro Linguistic Programming), yang diciptakan oleh Richard Bandler dan John Grinder, bahwa untuk mengubah perasaan kita, tak peduli bagaimana keadaan perasaan saat itu, kita dapat mengubahnya dengan mengubah keadaan (state) kita, dengan cara mengubah fokus pikiran atau fisiologis kita. Dalam konteks ini tentu saja, kalau perasaan Anda sedang kecewa, sedih, malas, takut, atau perasaan yang dianggap negatif, Anda bisa mengubah seketika perasaan negatif menjadi perasaan yang positif seperti tentram, damai, dan bebas dari rasa susah.

Contohnya, ketika Anda merasa kecewa karena bisnis Anda tidak berhasil, saat itu juga Anda dapat mengubah perasaan kecewa itu menjadi bahagia. Bagaimana bisa begitu. Cara kerjanya, ketika Anda merasa kecewa, saat itu pula bisa mengubah fokus pikiran Anda dari masalah yang membuat Anda kecewa kepada masalah lain yang dapat membuat perasaan Anda bahagia. Misalnya, Anda mengingat saat-saat ketika mengalami keberhasilan dalam bisnis. Atau, bisa juga Anda mengubah fokus pikiran Anda kepada keadaan ketika Anda merasa bahagia ketika bercinta dengan pasangan Anda. Buatlah setidaknya 10 daftar pengalaman dan ide yang membuat Anda bahagia. Selanjutnya jika Anda mengalami emosi negatif, seketika Anda bisa berbahagia dengan mengingat pengalaman atau ide-ide yang membuat Anda bahagia tadi.

Cara lain yang lebih mudah, dengan mengubah fisiologis Anda. Misalnya, ketika Anda kecewa, ubahlah postur tubuh Anda seperti memandang ke atas, tertawa, jogging, mengatur nafas agar lebih teratur, meditasi, loncat tali, atau melakukan gerakan-gerakan fisik yang berbeda dari saat Anda kecewa. Dengan mengubah fisiologis Anda, perasaan Anda pun akan berubah seketika, dari emosi negatif menjadi positif.

Dalam perspektif spiritual, setiap agama mengajarkan agar kita selalu bersadar kepada kekuasaan Tuhan. Hidup adalah perjuangan untuk mengatasi masalah. Apa pun masalahnya, kita seyogianya memandang masalah itu tidak hanya dalam perspektif keilmuan saja, apalagi hanya perspektif bisnis yang ujung-ujungnya tidak lain adalah masalah materi. Kita perlu memiliki pandangan lain yang bertumpu pada iman atau perspektif spiritual.

Jika kita melandasi cara berpikir, berperasaan, berkehendak, bersikap, dan bertindak termasuk dalam berbisnis dengan landasan nilai-nilai keimanan (spiritual) maka kita akan selalu bahagia dalam menghadapi situasi apa pun dan di mana pun. Mengapa? Karena perasaan itu dalam hati, hati hanya akan terpenuhi kebutuhanya dengan nilai-nilai yang non materi atau spiritual. Itu sebabnya, masalah keimanan kepada Tuhan janganlah diabaikan.

Dalam Alquran, Allah SWT menyatakan secara tegas bahwa “Orang-orang yang beriman hati mereka menjadi tentram dengan mengingat Allah. Dan, hanya dengan mengingat Allah, maka hati akan menjadi tentram.” Keimanan kepada Allah di dalamnya mengandung prinsip bahwa “Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung,” (QS. Ali Imron: 173) dan “Dia adalah sebaik-baik Pelindung dan sebaik-baik Penolong” (QS. Al Anfal: 40).

Jika prinsip bersumber dari iman itu kita pegang teguh, maka tak ada kekuatan apa pun yang mampu membuat kita kecewa, sedih, takut, apa pun perasaan negatif itu. Sebaliknya, kita akan selalu dapat menikmati setiap keadaan dengan perasaan yang tentram dan damai, serta jauh dari rasa susah. Bukan hanya setiap saat, tetapi juga sepanjang waktu hidup kita.

Perlu diingat bahwa perasaan-perasaan yang negatif itu bisa menjadi beban. Kalau Anda ingin lari cepat, ke mana pun akan menuju. Sebaiknya beban itu dilepaskan dan ditinggalkan. Jika Anda tanpa beban, Anda akan mampu berlari lebih cepat menuju impian Anda. Hidup hanya sekali di dunia ini mengapa kita mesti dikendalikan oleh perasaan kecewa, sedih, dan perasan lain yang bersifat negatif. Tuhan telah memberikan semua modal dan bekal bagi kita agar dapat menikmati hidup ini. Singkatnya, Anda bisa merasa bahagia setiap saat, kenapa tidak mencoba.

Tidak usah menunggu, nanti kalau sudah sukses, baru merasa bahagia. Mari menikmati momen demi momen hidup yang kita jalani ini dengan perasaan bahagia, kapan saja, di mana saja, dan dalam keadaan apa saja, sepanjang masa hidup kita.

Untuk itu, kita bisa menggunakan tiga pendekatan, yaitu mengubah fokus pikiran, mengubah keadaan fisiologis, serta senantiasa mengingat Allah.[sw]

* Sugeng Widodo, S.Sos, MM, AAIJ, LUTCF adalah alumnus Fisip Universitas Indonesia tahun 1999 dan program magister manajemen STIE Dharma Bumiputera tahun 2000. Saat ini ia menjabat Kepala Bagian Pemberdayaan Organisasi, Divisi Askum, AJB Bumiputera 1912. Ia adalah alumnus SPP workshop “Cara Gampang Menerbitkan Buku Sendiri” Angkatan I yang suka menulis artikel di harian “Bisnis Indonesia” dan majalah “Proteksi”. Sugeng dapat dihubungi di: sugeng_widodo@bumiputera.com.

0 komentar:

toko-delta.blogspot.com

Archives

Postingan Populer

linkwithin

Related Posts with Thumbnails

Total Tayangan Halaman

Diberdayakan oleh Blogger.