toko-delta.blogspot.com

menu

instanx

Rabu, 29 Oktober 2008

KUNCI DALAM MEMBERIKAN NASIHAT -

Oleh: Mugi Subagyo

Anda tentu merasa senang jika ada seseorang atau kerabat dekat yang meminta nasihat pada Anda, terlebih lagi nasihat itu ternyata membawa efek positif pada orang yang meminta nasihat. Tapi sadarkah kita, bahwa ada banyak situasi yang di dalamnya tidak bijaksana jika kita memberikan nasihat?

Jika Anda seorang guru, sebaiknya Anda memberikan nasihat pada murid yang bertanya mengenai hal-hal yang akan dihadapi si murid dalam menghadapi ujian. Atau Anda berprofesi sebagai dokter, tentu Anda akan memberikan nasihat kepada pasien demi kesehatannya. Juga bila Anda seorang manajer yang mengetahui ada seseorang atau beberapa bawahan melakukan tindakan yang berdampak negatif, maka Anda bertanggung jawab untuk memberikan nasihat. Hal ini merupakan contoh dari banyaknya situasi di mana Anda sebaiknya memberikan nasihat.

Tapi kita sering menemui banyak situasi di mana sebaiknya kita tidak memberikan nasihat, karena justru nasihat itu tidak akan berdampak positif, apalagi jika yang meminta nasihat adalah “orang-orang dekat” kita. Karena ada tiga pandangan penting yang wajib kita sadari sebelum memberikan nasihat. Ketiga hal tersebut adalah:

Pertama, nasihat yang Anda berikan bisa jadi cocok dengan diri Anda, tetapi tidak untuk orang lain, sehingga orang lain boleh saja menolak, mungkin menerima tapi tidak akan dilaksanakan atau orang tersebut tidak mampu melaksanakan nasihat yang Anda berikan. Intinya orang tersebut akan merasa tidak enak, karena setelah berbicara dan meminta nasihat Anda, ternyata dia menolak nasihat Anda.

Kedua, nasihat Anda diterima dan dijalankan bahkan menuai sukses. Anda tentu merasa senang, tetapi hal ini juga berbahaya. Orang tersebut akan mempercayai dan menganggap Anda orang pintar atau bijak dan pantas dijadikan sebagai tempat mengonsultasikan segala masalah. Ini berarti Anda telah menghilangkan rasa percaya diri orang tersebut untuk membuat keputusan berdasarkan kemampuan diri sendiri. Di samping itu Anda juga akan kehilangan banyak waktu, karena di setiap saat banyak digunakan untuk meladeni orang tersebut.

Ketiga, nasihat Anda dijalankan namun menuai hasil negatif, mungkin hal ini akan membuat orang tersebut marah pada Anda. Lebih berbahaya lagi jika orang ini menyebarkan berita mengenai alasannya terpuruk gagal karena menjalankan nasihat yang Anda berikan.

Kenali batas kemampuan diri Anda
Sebaiknya kita sadar, bahwa orang yang meminta nasihat dikarenakan mereka memercayai kita. Jadi sudah sepatutnya kita mewaspadai, jangan sampai nasihat yang kita berikan akan berdampak buruk, terutama hilangnya kepercayaan dari orang yang meminta nasihat, di mana notabene adalah orang-orang yang dekat bahkan mungkin dia adalah sahabat kita.

Di sini penulis menyarankan agar Anda segera meresponnya dengan menjelaskan apa yang baik baginya, bukan baik bagi Anda. Mungkin Anda pernah menjumpai situasi di mana seseorang meminta nasihat Anda dengan mengatakan, “Saya tidak tahu apa yang harus saya lakukan? Jika Anda jadi saya, apa yang akan Anda lakukan?” Anda bisa menjawabnya, contoh:

“Menurut saya, yang terpenting lakukanlah apa yang baik bagimu, dan sekarang mungkin kamu punya beberapa alternatif solusinya?”

Di sini Anda telah memberikan langkah awal dalam membantu orang tersebut untuk mencoba memecahkan sendiri dilema yang dihadapinya, dengan cara menggali potensi yang dimiliki masing-masing individu. Dengan begitu akan membentuk kepribadiannya menjadi lebih baik, sehingga di masa mendatang dia akan mampu memecahkan masalah-masalahnya sendiri secara efektif. Karena tiap manusia berpotensi menemukan solusi-solusinya sendiri atas masalah yang dihadapi.

Setelah respon yang Anda katakan, mungkin saja dia akan menekan Anda untuk segera memberikan solusinya, karena dia merasa tidak mampu lagi memecahkan masalahnya. Bisa jadi dia mengatakan “Saya tidak punya solusinya, makanya saya meminta nasihatmu.” Meskipun Anda telah memiliki gambaran akan solusi yang bisa diberikan, jangan tergoda untuk memberikan nasihat. Anda dapat mengatakan:

“Saya tidak punya solusi terbaik buat menyelesaikan masalahmu. Namun solusinya akan kita temukan jika kita bicarakan hal ini lebih jauh.”

Namun untuk membicarakan lebih jauh masalah tersebut, Anda harus mengenali batas kemampuan Anda. Karena itu berarti Anda mengajak orang lain untuk membicarakan hal-hal pribadi dirinya. Dengan mengenali keterbatasan, Anda akan tahu kapan harus menunjuk atau merekomendasikan sesorang yang berkualifikasi, berkompeten, berpendidikan, atau berpengalaman untuk membantu orang yang membutuhkannya.

Kadang kala saat mendengarkan cerita dari permasalahan orang lain, sering timbul kenangan yang membuka luka lama dalam diri kita. Hal ini akan memengaruhi pembicaraan yang terjadi, karena kemungkinan besar Anda akan membelokkan arah pembicaraan dari hal-hal yang membuka luka lama. Tentunya akan berakibat terpotong-potongnya informasi yang bisa Anda dapatkan dari cerita tersebut, sehingga memengaruhi efektivitas bantuan yang Anda berikan. Untuk itu Anda perlu mengenali kemampuan dan batas kemampuan dari diri Anda.

Ada lima pertanyaan yang sebaiknya Anda lontarkan untuk Anda jawab, yaitu:

1.Hubungan seperti apakah yang saya harapkan dengan seseorang dari hasil yang dapat dicapai dari pembicaraan ini?
2.Apakah saya cukup mempunyai kesiapan mental untuk mendengarkan masalah orang lain?
3.Apakah saya dapat membangun hubungan saling percaya dengan orang lain?
4.Apakah tempat pembicaraannya cukup menjamin privasi?
5.Apakah saya mampu menjamin kerahasiaan seseorang?

Dari pertanyaan di atas, Anda akan menyadari bahwa Anda menanggung kewajiban moral terhadap orang-orang yang hendak Anda bantu. Jika seseorang membicarakan masalahnya yang bersifat sensitif atau pribadi, sebaiknya Anda menjamin kerahasiaannya dan meyakinkan orang lain bahwa Anda dapat dipercaya. Hal yang lebih utama adalah apa yang Anda harapkan dengan membantu orang lain. Ada banyak alasan mengapa seseorang tergugah untuk membantu orang lain, namun Anda perlu mencermati alasan-alasan Anda sendiri, karena alasan itu dapat mempengaruhi cara Anda dalam memberikan bantuan.

Mungkin pengalaman Anda ketika dibantu oleh seseorang dapat menguatkan kesadaran dan motivasi Anda untuk membantu orang lain. Atau Anda meyakini bahwa kekayaan pengalaman hidup akan membuat Anda mempunyai jawaban atas dilema yang umumnya dihadapi orang-orang. Sehingga dengan kekayaan pengalaman hidup itu dapat membantu Anda menjalin hubungan dengan orang lain, juga membuat Anda memahami sikap atau keputusan yang diambil dari seseorang atas masalah-masalah serupa atau masalah-masalah yang pernah Anda jumpai. Namun akan berbahaya jika Anda menganggap solusi atau sikap yang diambil sama persis dengan masalah yang dialami orang lain.

Kunci dalam memberikan nasihat
Menyadari bahwa manusia diciptakan berbeda, sangat membantu Anda untuk menghargai keunikan dari orang-orang yang Anda bantu. Menyadari bahwa hubungan antarindividu lebih penting dari masalah atau solusi atas masalah itu sendiri, akan membuat orang yang dibantu merasa dipandang sederajat dengan orang yang membantu. Karena Anda tidak memberikan solusi dengan menasihatinya, melainkan membantu orang tersebut menggali potensi dalam menemukan sendiri solusi atas permasalahannya.

Jika Anda memilik keterbatasan dalam membantu orang lain untuk dapat memecahkan sendiri masalah-masalahnya. Jangan berikan nasihat kepada orang lain yang meski terbukti baik buat Anda, akan lebih bijaksana bila Anda memberi informasi dengan rujukan atau referensi orang-orang yang berkompeten.

Mari saling menasihati dalam kebaikan.[ms]

* Mugi Subagyo adalah praktisi SDM di perusahaan multinasional, pengamat Teknologi Informasi, Graphic Designer, Senior di dunia percetakan dan pemerhati Bahasa & Sastra Indonesia. Mugi dapat dihubungi melalui email: mugisby@yahoo.co.id.

0 komentar:

toko-delta.blogspot.com

Archives

Postingan Populer

linkwithin

Related Posts with Thumbnails

Total Tayangan Halaman

Diberdayakan oleh Blogger.