toko-delta.blogspot.com

menu

instanx

Minggu, 26 September 2010

Komunikasi Alien, Sumber Keretakan Militer AS - Inggris

Seorang tentara Inggris melarang masuk para wartawan ke daerah  
Basra yang telah dibumihanguskan pasukan AS. (Berita SuaraMedia)
Seorang tentara Inggris melarang masuk para wartawan ke daerah Basra yang telah dibumihanguskan pasukan AS. (Berita SuaraMedia)





BAGHDAD (Berita SuaraMedia) – Para komandan militer senior Inggris terlibat perselisihan yang mendalam dengan sekutu mereka, militer AS. Hal tersebut terungkap dalam sebuah dokumen rahasia pemerintah yang dibocorkan kepada Daily Telegraph. Dalam dokumen tersebut, kepala staf militer Inggris di Irak, Kolonel J.K Tanner, menyebut militer AS sebagai "sekelompok orang Mars" yang berdialog dengan "bahasa alien", ia berkata" "Meski kami memiliki hubungan spesial, menurut saya tidak ada bedanya perlakuan yang diberikan kepada kami dengan yang diberikan kepada Portugal."
Atasan Kolonel Tanner, komandan tertinggi Inggris di negara tersebut, Mayor Jenderal Andrew Stewart, mengatakan bahwa dirinya telah menghabiskan waktu banyak untuk "menghindari" dan "menolak" perintah dari para petinggi militer AS.
Dokumen tersebut menerangkan, Stewart pernah menolak untuk mengikuti perintah, dan hal tersebut berujung pada pemanggilan duta besar Inggris untuk Washington, Sir David Manning, oleh Departemen Luar Negeri. Duta besar Inggris tersebut mendapatkan teguran diplomatik, sebuah hal yang lebih sering diberikan kepada negara-negara seperti Zimbabwe atau Sudan.
Pernyataan jujur tersebut disampaikan dalam wawancara resmi yang digelar oleh Kementerian Pertahanan dengan komandan militer yang baru saja kembali dari Operations Telic 2 dan 3, langkah pertama dari operasi "penjaga perdamaian" di Irak, dari bulan Mei 2003 hingga Mei 2004.
Serangkaian transkrip rahasia dalam wawancara tersebut, ditambah dengan "laporan pasca operasi" yang disampaikan oleh para komandan Inggris, telah dibocorkan kepada Daily Telegraph.
Pengungkapan tersebut dilakukan beberapa saat sebelum Chilcot inquiry memulai dengar pendapat mengenai keterlibatan Inggris di Irak. Diantara isu-isu yang akan diselidiki, ada isu hubungan antara AS-Inggris.
Dokumen tersebut melukiskan gambaran jelas mengenai perseteruan antara para komandan AS dan Inggris.
Jenderal Stewart secara blak-blakan mengatakan, "Kemampuan kami untuk mempengaruhi kebijakan AS di Irak benar-benar minim." Dia menambahkan bahwa tidak ada komunikasi yang terjalin baik antara markas militer Inggris di Basra, dengan markas Jenderal Chris Sanchez dari AS, di Baghdad.
Kolonel Tanner mengatakan, "Jenderal Sanchez hanya mengunjungi kami sekali dalam kurun waktu tujuh bulan." Tanner menambahkan bahwa dirinya hanya satu kali berbicara dengan kepala staf militer AS di Zona Hijau, dalam periode waktu yang sama.
Dalam dokumen tersebut, para komandan tertinggi Inggris dengan marah mengatakan bahwa mereka sama sekali tidak pernah diberitahu, apalagi diajak berkonsultasi, mengenai perubahan besar terhadap kebijakan AS yang memiliki dampak signifikan terhadap Inggris dan para pasukannya.
Ketika pada bulan Maret 2004, AS memutuskan untuk menangkap tokoh Syiah, Muqtada al-Sadr, hal tersebut memicu amarah dari kubu Inggris. "(Penangkapan) itu tidak dikoordinasikan dengan kami, dan tidak ada seorangpun yang diberitahu bahwa hal itu akan terjadi," kata komandan lapangan senior Inggris pada waktu itu, Brigadir Nick Carter.
"Jika saja kami diberi tahu, maka kami setidaknya bisa bersiap-siap. Akibat (penangkapan tersebut), seluruh area operasi saya menjadi penuh asap, gara-gara operasi koalisi yang tidak saya ketahui dan terbukti menjadi sebuah kejadian paling janggal dalam tur saya."
Diantara para pejabat, yang paling vokal adalah Kolonel Tanner, yang menjabat sebagai kepala staf militer dibawah Jenderal Stewart dan seluruh divisi militer Inggris.
Dia berkata: "Seluruh sistem tersebut menjijikkan. Kami sudah pernah mengalami sulitnya berurusan dengan militer AS dan organisasi-organisasi sipil lain yang, sebagian melalui arogansi dan sebagian lagi melalui birokrasi, menyatakan bahwa menurut AS hanya ada satu cara, yakni cara AS.
"Saya kini menyadari bahwa saya orang Eropa, bukan AS. Kami lebih mampu berkomunikasi dengan rekan-rekan Eropa kami dan terkadang dengan orang-orang Arab, jika dibandingkan dengan AS. Orang-orang Eropa saling berbincang satu sama lain, namun bagi militer AS, proses dialog adalah sesuatu yang asing. Berurusan dengan mereka sama saja dengan menjalin hubungan dengan sekelompok orang Mars."
"Jika tidak melalui slide presentasi PowerPoint, maka tidak akan pernah ada diskusi," tambahnya.
Jenderal Stewart terdengar lebih diplomatis, namun ia berkata: "Sebagai satu-satunya negara superpower, mereka (AS) tidak akan membiarkan posisi mereka untuk ditentang."
Ia menambahkan; "Saya menghabiskan waktu banyak untuk menghindari dan menolak perintah AS. Hal-hal menjadi lebih rumit ketika saya menolak untuk melakukan serangan terhadap Tentara Mahdi (al-Sadr) seperti yang diinginkan AS. Kala itu, Inggris mendapatkan teguran dari AS melalui Duta Besar AS untuk Inggris. (dn/tg) www.suaramedia.com
http://misteri-us.blogspot.com/2010/06/komunikasi-alien-sumber-keretakan.html

Masukkan Data-Data Anda Di Bawah! Dapatkan Petuah Sukses Secara Berkala - Selamanya GRATIS! :-)

Name:
Email:

0 komentar:

toko-delta.blogspot.com

Archives

Postingan Populer

linkwithin

Related Posts with Thumbnails

Total Tayangan Halaman

Diberdayakan oleh Blogger.