toko-delta.blogspot.com

menu

instanx

Selasa, 04 November 2008

BELI BUKU, APA BELANJA DI MAL?

Oleh: Ade Asep Syarifuddin


PEPATAH mengatakan, buku adalah gudang ilmu, membaca adalah kuncinya. Sekarang, pepatah tersebut tinggal menjadi pepatah yang kurang memiliki arti di kalangan masyarakat pada umumnya. Hanya segelintir orang, bisa dihitung dengan jari yang benar-benar memberikan perhatian dan porsi yang cukup serius kepada buku. Nyaris setelah selesai kuliah atau sekolah buku hanya menjadi barang antik yang tidak pernah disentuh. Persis seperti jimat yang diwariskan oleh leluhur, dibuang takut kewalat, sementara untuk dipergunakan sudah merasa tidak membutuhkan lagi.

Penulis seringkali memberikan saran dan masukan kepada orang-orang yang ingin sukses agar rajin membaca buku. Mengapa membaca buku? Sebab membaca buku merupakan belajar yang paling hemat. Untuk mengikuti seminar, workshop, training, biaya yang diperlukan lumayan tinggi. Training pengembangan diri oleh pembicara-pembicara handal sekelas Tung Desem Waringin, Andrie Wongso, Ary Ginanjar membutuhkan biaya yang cukup tinggi. Memang ada cara lain, belajar kepada orang yang sudah sukses, tapi waktu mereka pun sangat terbatas. Kalau orang sukses itu ayah kita atau paman kita bisa saja kita ngobrol dengan mereka secara leluasa.

Sementara dengan membaca buku, kita dapat menghemat biaya dan waktu. Dengan catatan kita memberikan waktu yang cukup untuk membaca minimal sehari 2 jam. Satu buku merupakan refleksi pengalaman seseorang selama beberapa tahun. Ada penulis yang melakukan penelitian selama 25 tahun dan dituangkan ke dalam buku, ini berarti, kita tidak usah mencoba selama 25 tahun untuk meniru seperti penulis tersebut. Cukup seminggu atau dua minggu sudah dapat mendapatkan informasi yang lengkap tentang pengalaman mereka. Kita juga dapat menghindari kesalahan-kesalahan yang dilakukan oleh penulis tersebut karena kita sudah mengetahui titik kelemahannya dan cara mengantisipasinya.

Kalau kita dapat membaca 2 jam sehari dengan asumsi 50 halaman selama 2 jam, tebal buku 200 halaman maka dalam waktu empat hari kita dapat membaca satu buku. Tarolah satu buku diselesaikan dalam satu minggu, itu berarti dalam satu bulan empat buku, dalam waktu satu tahun 4 X 12 buku = 48 buku. Menurut Brian Tracy, literatur yang dibaca sebanyak itu sama dengan syarat untuk meraih gelar magister atau doktor. Bila setahun kita menekuni satu bidang, berati kita dapat ahli dalam bidang tersebut. Dan secara tidak disadari kualitas diri kita setiap saat berkembang terus seiring dengan makin banyaknya wawasan yang kita miliki. Sudah tentu jangan melupakan aktifitas real di lapangan. Teori dan pengalaman orang yang ada di buku bisa menjadi bekal untuk menghadapi persoalan sehari-hari.

Namun demikian banyak juga cemoohan yang dilontarkan kepada para kutu buku dengan mengatakan terlalu teoritis lah, terlalu text book lah dll. Entah apa alasan mereka mengungkapkan hal tersebut. Apakah karena justifikasi dari kemalasan mereka dalam membaca buku atau memang mereka -melihat ketidak-signifikan-an antara pendapat orang yang rajin membaca buku dengan kemampuan menghadapi persoalan yang ada. Bila ada ketidak-signifikan-an itu tidak berarti membaca buku tidak bermanfaat atau keliru. Aplikasinya saja yang tidak tepat untuk konteks persoalan yang sedang dihadapi.

Belanja vs. Beli Buku
Setiap bulan setelah gajian, biasanya ibu-ibu minta diantar suaminya ke Mal. Mereka belanja berbagai kebutuhan sehari-hari mulai dari beras, minyak goreng, gas, pasta gigi, sabun, susu anak dll. Besarnya belanja bervariasi, antara Rp300 – Rp500 ribu per bulan. Itu belum untuk membayar tagihan-tagihan. Alhasil kebutuhan bulanan tidak kurang dari Rp 1 juta. Mengeluarkan Rp 1 juta untuk kebutuhan bulanan sangat mudah. Coba bilang ke istri Anda untuk dibelikan 1 atau 2 buah buku saja selama satu bulan, bagaimana reaksi mereka? Bervariasi, yang mengerti akan mempersilakan untuk membeli, tapi yang tdak mengerti akan mengatkan, buat apa beli buku? Padahal budget buku yang berkualitas rata-rata antara Rp 40 ribu- Rp 50 biru. Dua buku sekitar Rp 100 ribu. Tidak terlalu mahal dibanding budget belanja lainnya.

Kalau dilakukan penelitian, maka para istri lebih banyak yang menolak mengeluarkan anggaran membeli buku daripada yang menyetujui. Mengapa? Banyak sekali alasannya. Kebanyakan kita masih memberikan porsi untuk kebutuhan fisik jauh lebih besar daripada kebutuhan pikiran. Padahal kalau dikaji secara seksama, buku adalah makanan pikiran, untuk memperoleh kesuksesan di masa mendatang, maka pikiran kita harus terus menerus diberi masukan-masukan yang bermanfaat, pikiran kita harus terus di-charge. Kalau sehari-hari pikiran kita hanya menonton gosip selebritis, ngerumpi, berpikir negatif tentang keburukan orang lain, membuat pembenaran-pembenaran atas kemalasan mereka, sudah tentu output-nya pun akan menghasilkan pikiran yang pesimis, negative thinking, buruk sangka dll. Apakah itu yang diinginkan oleh kita.

Pikiran kita terlalu berharga untuk diisi oleh sampah-sampah yang tidak bermanfat. Oleh karenanya sejak sekarang mestinya buku menjadi salah satu item belanja bulanan, setelah membeli beras, kopi, susu, gas, tagihan telepon dan listrik. Jika tidak, entah apa jadinya diri kita dan kultur masyarakat kita di masa mendatang. Sementara di sisi lain, kalau kita tengok pergerakan buku di negeri lain sangat pesat. Masyarakatnya sudah sangat mencintai membaca, belajar setiap saat. Orang Jepang malahan kalau mau masuk ke (maaf) toilet pun mereka membawa buku. Karena di sana ada waktu senggang yang bisa dimanfaatkan. Sementara kita, masyarakat Indonesia, masuk toilet harus menyalakan rokok dulu sambil melamun ke sana kemari tidak karu-karuan.

Bagaimana mencintai buku? Ini PR terbesar bagi kita, bagaimana agar masyarakat kita tumbuh rasa cinta kepada buku, ke mana-mana membawa buku, menyiapkan anggaran tiap bulan untuk membeli buku, mengajarkan anak-anak untuk menyukai buku. Banyak alasan yang dikemukakan dan sangat sering terdengar. Ada yang beralasan karena persoalan ekonomi, sehingga anggaran untuk belanja saja kurang, jangankan membeli buku. Akhirnya buku menjadi sesuatu yang tidak menjadi skala prioritas.

Alasan memang sangat banyak dan bisa dicari-cari. Tapi demi menyelamatkan generasi mendatang agar menjadi manusia yang berkualitas, maka mencintai buku menjadi sesuatu yang tidak dapat diabaikan. Gerakan mencitai buku harus dimulai dari rumah ke rumah, dari pribadi-pribadi yang memiliki hobi membaca. Pengalaman membuktikan bahwa yang memiliki bacaan luas, memiliki peluang sukses lebih besar daripada yang tidak memiliki wawasan.[]

* Ade Asep Syarifuddin adalah seorang pecinta buku, trainer SDM, dan motivator. Ia menjabat General Manager dan Editor in Chief Harian Radar Banyumas di Purwokerto. Ia dapat dihubungi di ade_asep@yahoo.com atau +628122670444

0 komentar:

toko-delta.blogspot.com

Archives

Postingan Populer

linkwithin

Related Posts with Thumbnails

Total Tayangan Halaman

Diberdayakan oleh Blogger.