toko-delta.blogspot.com

menu

instanx

Selasa, 04 November 2008

The Power of Focus

Oleh: Syahril Syam


Kita adalah apa yang kita kerjakan berulang ulang.
Karena itu, keunggulan bukanlah suatu perbuatan, melainkan sebuah kebiasaan.
- Aristoteles -

Kebiasaan bahagia itu memungkinkan seseorang untuk sering-sering terbebas dari dominasi kondisi-kondisi eksternal.
- Robert Louis Stevenson -

Terry Fox adalah seorang atlet Kanada yang luar biasa, masuk olahraga professional saat paha kanannya mulai bermasalah. Ketika dokter memeriksa kaki Terry, mereka menemukan adanya kanker yang sedang menggerogoti pahanya. Ketika kembali ke ruang konsultasi, dokter berkata, “Terry, dengan menyesal saya harus memberitahu Anda, kankernya sudah menyebar di seluruh kaki kanan Anda. Kami harus mengamputasinya hari ini juga. Dan karena usia Anda di atas dua puluh satu tahun, Anda harus menandatangani sendiri persetujuan operasinya.”

Terry menguatkan hati, menandatangani surat persetujuan, dan berusaha untuk tabah menjalaninya. Ketika sedang menjalani pemeriksaan di rumah sakit, dia teringat satu nasehat penuh makna dari pelatihnya di SMU dahulu, yaitu, “Terry, kau bisa melakukan apa saja yang kau mau asalkan kau melakukannya dengan sepenuh hati.”

Dia memutuskan apa yang menjadi keinginannya, yaitu berlari melintasi Kanada, mengumpulkan uang sebesar $ 100.000 untuk penelitian kanker, supaya tidak ada lagi anak muda lain yang menderita kesakitan, kesedihan, malapetaka, dan kesengsaraan seperti yang dirasakannya.

Dia memilih untuk tidak lagi menggunakan kursi roda, tetapi beralih ke kaki palsu, dan mulai mencoba berjalan. Kekuatan dan semangatnya semakin bertambah.

Terry ingin menamai kegiatan yang akan dilakukannya: Maraton Harapan Terry Fox. Dia memberitahukan hal itu kepada orangtuanya, tetapi mereka berkata, “Dengar, Nak. Rencanamu memang mulia, namun kami baru saja berhasil mengumpulkan cukup uang. Dengan uang itu, kami ingin kau kembali ke bangku kuliah dan berbuat sesuatu yang nyata, dan lupakan gagasan aneh yang tidak masuk akal itu.”

Dalam perjalanan ke sekolah, Terry singgah di Perhimpunan Kanker, dan menceritakan niatnya. Mereka berkata, “Kami rasa, Anda benar. Itu suatu gagasan mulia, namun kami tidak akan melakukannya sekarang. Datanglah lagi menemui kami di sini pada lain waktu.”

Terry meyakinkan teman sekamarnya di tempat kuliah untuk bersama-sama berhenti sekolah. Mereka terbang ke pantai timur Kanada. Terry membuang tongkat penyanggahnya di samudra Atlantik dan hari itu juga mereka mulai berlari melintasi Kanada.

Ketika memasuki wilayah Kanada berbahasa Inggris, dengan segera kisahnya menggemparkan halaman-halaman muka media massa. Kita bisa melihat darah menetes di kaki palsunya, mukanya meringis kesakitan, namun Terry terus melaju.

Terry menemui Perdana Menteri, yang belum sempat membaca riwayat hidup Terry sehingga berkata, “Maaf ya, Anda ini siapa?” dan Terry menjawab, “Nama saya Terry Fox, dan saya sedang melakukan lari Maraton Harapan. Harapan saya adalah bisa mengumpulkan seratus ribu dolar – dan itu telah kami dapatkan kemarin. Saya pikir dengan bantuan Bapak Perdana Menteri, kami bisa mengumpulkan sampai satu juta dolar.”

Itulah awal mulanya kita mulai melihat Terry di layar kaca Amerika. Real People datang ke Kanada dan membuat film tentang Terry. Dan sementara mereka membawa Terry meluncur melintasi gelanggang hoki es, mereka mengumpulkan berember-ember uang di tribun.

Terry terus melaju dengan berani dan penuh semangat sepanjang lima puluh kilometer per hari – lebih panjang daripada marathon Boston setiap harinya. Ketika sampai di teluk Guntur, Ontario, dia mengalami masalah serius dengan sistem pernafasannya.

Di kota kecil berikutnya, dokter berkata, “Terry, Anda harus berhenti, cukup sampai di sini saja.” Terry menjawab, “Dok, Anda tidak tahu dengan siapa Anda sedang bicara. Sejak awal, orangtua saya mengusir saya secara halus. Pemerintahan propinsi mengatakan kepada saya bahwa saya hanya menghalangi jalan, saya harus menghentikannya. Perhimpunan Kanker tidak mau membantu saya. Saya memutuskan untuk mengumpulkan seratus ribu dolar. Saya berhasil. Saya naikkan menjadi sejuta dolar; tiga hari yang lalu kami dapat sejuta. Ketika saya meninggalkan kantor Anda, saya akan mengumpulkan satu dolar dari setiap penduduk Kanada, 24,1 juta dolar.”

Dokter berkata, “Dengarlah Nak, saya juga berharap Anda bisa melakukannya, tetapi kenyataannya, kanker dalam tubuh Anda sudah menyebar sampai ke dada. Paling lama, usia Anda kemungkinan besar hanya tinggal enam atau delapan jam lagi. Pesawat jet milik Angkatan Udara sudah disiapkan untuk Anda karena semua orang di negeri ini mendukung Anda. Demi Anda, kami sudah melupakan dahulu prosedur dan birokrasi daerah. Anda sudah menjadi pahlawan Nasional. Sudah selayaknya Anda diperlakukan amat khusus. Kami akan menerbangkan Anda kembali ke British Columbia dan kami sudah memanggil orangtua Anda. Mereka akan berada di sana setibanya kita nanti.”

Sebagian dari kita masih ingat, lewat berita malam kita menyaksikan saat-saat para dokter mendorong Terry memasuki ruang gawat darurat. Seorang jurnalis berusia sembilan belas tahun, yang begitu antusias agar bisa merekam kejadian itu, memaksa masuk ke ruang gawat darurat mengikuti Terry di atas dipan lengkap dengan mikrofon dan kameranya, dan bertanya, “Terry, apa yang akan Anda lakukan setelah ini?”

Sambil menatap kamera, Terry bersikap sebagai seorang profesional hingga di akhir hayatnya. Dia menjawab, “Anda mau menyelesaikan lari saya? Anda mau menyelesaikan lari saya? Anda mau menyelesaikan lari saya?”

Seperti yang kita ketahui, Terry akhirnya meninggal tidak lama kemudian. Pada 24 Desember tahun itu, jutaan orang telah memberikan sumbangan sehingga terkumpul $ 24,1 juta (atau $ 1 per setiap orang Kanada). Itulah yang Terry cita-citakan.

Apakah Anda Telah Fokus?
Kisah nyata ini saya dapatkan dari buku yang ditulis oleh seorang penulis best-seller Mark Victor Hansen. Kisah ini sangat menggugah hati saya. Dan di dalam hati saya berkata, “Kok, orang ini (Terry Fox) bisa melakukan yang sedemikian hebat dan berarti bagi dirinya dan orang lain, padahal dia mengalami cacat jasmani.” Apa yang membuat dia bisa bertahan melewati sekian banyak rintangan dan tak pernah menyerah hingga akhir hayatnya? Jawaban yang telah saya dapatkan, karena ia memiliki dua hal, yaitu pertama, mengetahui tujuan yang jelas dan keinginan yang kuat untuk menggapainya, dan kedua, ia fokus pada tujuan yang akan diraihnya.

Kita telah membahas “tujuan” pada pertemuan dan makalah sebelumnya. Sekarang kita akan membahas mengenai kekuatan dari fokus.

Kata focus (Inggris) dapat diartikan ke dalam bahasa Indonesia sebagai terang atau jelas. Arti lainnya adalah memusatkan perhatian. Kalau Anda ingin memotret seseorang dengan menggunakan kamera berlensa manual (bukan autofocus), maka Anda harus mengatur fokus lensa tersebut agar gambar yang ingin Anda potret menjadi jelas dan tidak kabur. Sehingga hasil pemotretan Anda menjadi terang dan jelas.

Begitu pula dengan hidup ini. Kebanyakan orang tidak melihat dengan jelas kemana tujuannya (tidak mengatur fokus lensanya). Atau kalau sudah terlihat dengan jelas kemana tujuannya, maka akan mengalami pengaburan pada apa yang akan dilakukan. Dalam bahasa sehari-hari, ‘saya tahu saya mau kemana (inginkan), tapi saya tidak tahu (bingung) apa yang harus saya lakukan’. Jadi, kemana saya dan Anda harus memusatkan perhatian, agar dapat meraih yang dituju? Atau, kemana “pandangan” saya dan Anda harus diarahkan, agar pekerjaan kita menjadi jelas?

Jack Canfield dan Mark Victor Hansen adalah penulis serial buku best-sellerberjudul Chicken Soup for the Soul. Keduanya juga telah lama sebagai pembicara terkenal dalam seminar-seminar pengembangan diri. Les Hewitt adalah seorang pelatih kinerja dan pendiri Achievers Coaching Program. Ketiganya selama tiga tahun telah merampungkan sebuah buku yang berjudul The Power of Focus. Buku ini ditulis berdasarkan pengalaman mereka sendiri, dan berbagai masukan dari orang-orang sukses dan para peserta yang telah mengikuti seminar-seminar mereka.

Saya ingin mengambil pokok-pokok pikiran dari mereka, agar arah fokus kita menjadi jelas (semoga). Jadi kemana kita harus fokus?

Terdapat sepuluh titik fokus yang harus diperhatikan:

1. Fokus pada kebiasaan-kebiasaan Anda
2. Fokus pada kekuatan-kekuatan Anda
3. Fokus pada tujuan
4. Fokus pada penciptaan keseimbangan hidup
5. Fokus pada membangun hubungan
6. Fokus pada keimanan atau keyakinan
7. Fokus pada apa yang ingin Anda minta
8. Fokus pada konsistensi kerja
9. Fokus pada keputusan hidup yang tepat, dan
10. Fokus pada tujuan hidup kembali (sebuah evaluasi diri).

Mengingat ruang yang sangat terbatas pada tulisan ini, maka saya tidak akan menjelaskan secara terperinci ke-10 titik fokus tersebut (alasan yang dikemukakan), di samping pengetahuan saya yang sangat terbatas (alasan yang sebenarnya).

Sebagai penutup, saya ingin mengutipkan kepada Anda sebuah dialog yang terjadi antara Adi W. Gunawan – trainer Accelerated Learning – dengan seorang Ibu yang mengikuti lokakaryanya.

Ibu ini menceritakan keadaan anaknya yang duduk di kelas 4 SD. Anak ini pandai memainkan piano. Karena permainannya dirasa cukup baik, oleh kedua orangtuanya anak ini hendak diikutsertakan dalam lomba. Ternyata anaknya menolak untuk ikut. Dengan segala bujuk rayu anak itu tetap tidak mau. Ibu itu bertanya mengapa ini bisa terjadi dan apa yang harus mereka lakukan sebagai orangtua.
Yang pertama saya tanyakan adalah, “Anak Ibu ini di kelas ranking ya?”
“Lho, Bapak kok tahu?” balas si ibu.
“Kalau memang benar di kelas ranking, maka saya tahu alasannya mengapa anak Ibu tidak mau ikut lomba,” jawab saya.
“Lalu apa sebabnya, Pak?” Tanya ibu itu lagi.
Ternyata, sesuai dengan analisis saya, kedua orangtua anak ini termasuk orangtua yang menuntut anak untuk selalu ranking atau juara kelas. Telah ditanamkan dalam pikiran anak ini sejak masih kecil bahwa dia harus bisa juara. Untuk menjadi juara tentunya nilainya harus baik. Nilai baik berarti tidak boleh membuat kesalahan. Dan dia hanya akan menjadi juara dengan mengalahkan teman-temannya yang lain. Kalau sampai nilainya kalah dibandingkan dengan temannya maka dia akan gagal.

Coba Anda bayangkan pola pikir yang ditanamkan orangtua tersebut pada anaknya. Dan biasanya, pola pikir ini akan terus merembes dalam kehidupan sang anak selanjutnya. Pola pikir apakah itu? Pola pikir yang berpandangan bahwa membuat kesalahan adalah hal yang jelek. Sehingga kebanyakan orang menghindar untuk berbuat salah. Padahal kesalahan adalah suatu pelajaran untuk memahami apa arti kebaikan. Dan dalam setiap upaya untuk selalu fokus, akan ada saja kesalahan yang kita buat. Namun kesalahan inilah yang akan membuat kita untuk selalu bisa tetap fokus dan berlatih kesabaran. Seperti kata pelatih Terry di atas, “Anda bisa melakukan apa saja yang Anda mau asalkan Anda melakukannya dengan sepenuh hati.”

Apakah Anda Mau?

* Syahril Syam adalah seorang trainer yang tinggal di Makasar. Ia dapat dihubungi di: ril_faqir@yahoo.com

0 komentar:

toko-delta.blogspot.com

Archives

Postingan Populer

linkwithin

Related Posts with Thumbnails

Total Tayangan Halaman

Diberdayakan oleh Blogger.