toko-delta.blogspot.com

menu

instanx

Minggu, 26 Oktober 2008

ONE EMPLOYEE ONE BLOG: SEBUAH PENGANTAR

- Oleh: Adjie

Seorang manajer memerhatikan dengan saksama ke arah anak buahnya, seorang wanita muda yang asyik di depan layar komputernya. Tak tahu sudah berapa lama sang manajer menatap tajam seperti itu. Yang pasti, pada akhirnya si anak buahnya lama kelamaan sadar, dan pertanyaan tajam terarah padanya.

“Lagi ngapain, lu?” tanya manajer tanpa basa-basi. Maklum saja, usia atasan dan bawahan mungkin tak beda jauh. Mereka sama-sama anak generasi MTV yang muda, dinamis, ceplas-ceplos, dan kadang terkesan melupakan tata krama.

Mendengar pertanyaan itu, si anak buah sempat terkejut. Untungnya dia punya jawaban tangkas.

“Gue lagi nulis di blog gue,” jawabnya tak kalah ringan.

Mendengar penuturan kisah di atas, saya terbahak-bahak. Selalu menggembirakan mendengar kisah-kisah segar dan otentik semacam itu. Dan inilah salah satu hiburannya saat Anda bekerja di lingkungan kerja yang dipenuhi anak-anak muda. Anda akan disuguhi kesegaran respon dan cara pandang yang kadang bisa amat mengejutkan.

“Gile juga, lu ya,” komentar saya pendek di tengah percakapan kami.

“Habis mau apa lagi, Pak? Emang saya lagi asyik ngisi blog saya, kok,” si wanita masih dengan semangat empat limanya berujar pada saya.

Ya, saya mengerti maksudnya, namun saya masih menunggu jawaban cerdasnya yang lain.

“Saya juga bilang sih, dari pada ngegosip mendingan gue nge-blog, kan?” kali ini jawaban yang saya tunggu itu muncul juga.

Saya makin terbahak.

“Benar kan, Pak? Dari pada saya pusing dan stres, terus ngegosip sana-sini, mendingan saya nge-blog?” tuntas sudah penjelasannya. Argumennya tak hanya taktis, namun juga cerdas. Lalu saya membayangkan bagaimana respon dari atasannya saat mendengar jawaban anak buah yang seperti itu. Pasti tidak semua atasan suka mendengar jawaban anak buah macam ini. Tak sedikit yang bisa marah melihat anak buah yang tampak asyik di depan layar komputer, namun sibuk untuk kepentingan pribadi. Untungnya si wanita tadi, kawan saya ini, melakukan aktivitas blogging-nya usai jam kantor. Paling tidak, ia punya alasan untuk itu. Sebagian dari Anda mungkin berpikir bahwa si wanita di atas tidak terlalu merugikan kantor, walau Anda juga bisa setuju bahwa menggunakan fasilitas kantor untuk kepentingan pribadi tentu bukan pilihan yang terlalu bijak.

Saya pun punya pendapat sendiri atas soal pemanfaatan fasilitas kantor seperti di atas. Namun bagian ini tak hendak saya gunakan untuk menggali soal pemanfaatan fasilitas. Saya justru hendak mendalami perkara blogging dalam dunia kerja. Untuk mengarahkan pembahasan ini, saya akan coba pagari tulisan kali ini dengan pertanyaan sederhana: Sejauh manakah manfaat blogging bagi karyawan?

Sebelum membahas lebih jauh, pertama saya hendak menempatkan aktivitas blogging, aktivitas nge-blog ini setara dengan aktivitas journal writing, membuat catatan tentang kegiatan, tindakan, perasaan, dan pemikiran kita dalam lembar journal atau diary. Dalam hal ini blogging adalah versi digital dari diary atau journal.

Manfaat Blogging
Sepanjang pengalaman saya sebagai blogger, ada banyak manfaat yang saya dapat dari aktivitas blogging ini. Beranjak dari pengalaman itulah saya kemudian sering kali mengampanyekan dan mendorong kawan-kawan lain untuk juga mulai bermain-main dengan dunia blogging.

Secara teratur mengisi blog membantu saya menuangkan banyak hal. Khusus tentang dunia kerja, saya berkesempatan merekam banyak kejadian yang menurut saya menarik dan meaningful. Kejadian-kejadian bermakna itulah yang kemudian saya rekam dan komentari. Melihat kelucuan, kekonyolan, dan kebodohan yang terjadi di lingkungan kerja sungguh jadi pengalaman mengesankan. Saya bisa belajar banyak dan menarik hikmah yang ada.

Melihat bawahan yang sibuk menuntut dan seakan tak mau tahu, saya jadi makin sadar bahwa mereka tak selamanya salah. Mereka memang memiliki wawasan dan akses informasi yang sering kali terbatas. Jadi, wajar saja jika mereka jadi seakan buta.

Lalu mendengarkan argumen petinggi perusahaan, saya pun coba mengasah empati dan bijak. Terhadap soal bawahan yang dirasakan banyak menuntut, banyak atasan yang menuding bahwa mereka tak tahu diri. Soal akses informasi, petinggi perusahaan punya argumen bahwa mereka juga sudah menyediakan forum komunikasi.

“Tapi faktanya mereka yang tak pernah mau datang ke forum itu? Jadi kami mesti bagaimana lagi?” begitu ungkapan kekesalan di tingkat tinggi.

Pernah pada satu kesempatan saat bekerja di sebuah perusahaan, saya coba menggali apa yang sesungguhnya terjadi. Bawahan mengeluh tak ada akses informasi, sementara atasan marah karena merasa bawahan lah yang tak memanfaatkan kesempatan yang ada.

“Percuma aja Pak kami datang. Kalau kami mengajukan pertanyaan di forum macam itu, kami bisa kena black list. Katanya terbuka dan bebas, tapi faktanya pernah ada karyawan dipecat tak lama setelah ia mengkritisi pimpinan dalam forum itu. Kami kan nggak mau konyol dan dipecat juga Pak,” mereka mengungkap keluhan.

Saya mengangguk, diam, dan berpikir panjang. Ketika kejadian macam itu saya catat dalam lembar blog saya, saya bisa belajar melihat banyak hal dari berbagai sudut pandang. Ketika saya mengungkap posisi saya di tengah situasi seperti di atas, maka saya jadi makin mengenali prinsip dan nilai-nilai yang saya anut. Pemahaman diri saya bertambah. Pengenalan diri atas pola tingkah laku, pemikiran dan sikap saya juga membaik. Pendek kata, ada kesadaran diri yang meninggi. Dan ini baik buat saya.

Jika semakin banyak karyawan yang semakin mampu mengenali diri mereka maka ini jadi kabar baik tentang seberapa jauh manfaat blogging bagi karyawan. Pemahaman diri adalah salah satu kunci dalam pengelolaan diri (self management). Sekadar penegasan, self management adalah kunci awal efektivitas pribadi. Self management akan jadi bekal sebelum masuk ke soal people management. Orang yang mampu mengelola diri secara baik tentuk akan lebih mudah menjalin kerja sama dengan orang lain. Sebagai pemimpin mereka akan lebih bijak dalam memilih tindakan. Empati mereka tentu lebih terbangun.

Masih pada soal pengelolaan diri, blogging juga banyak membantu saya – dan juga banyak kawan – untuk mengelola emosi diri. Blogging menjadi sarana untuk menyalurkan emosi yang tak bisa diungkap secara primitif dalam lingkungan kerja. Ada kanalisasi. Ada khatarsis dalam bahasa psikologi. Ada ember dalam bahasa gaul, yang membantu kita mengungkap uneg-uneg secara lepas bebas. Mendapatkan tempat untuk menyalurkan dan mengungkapkan emosi diyakini menjadi jalan bagi terapi diri yang efektif. Jadi blogging jelas punya manfaat. Kembali ke pernyataan kawan saya, maka makin jelas bahwa kawan saya punya argumen yang kuat dan beralasan; “Dari pada gue ngegosip mendingan gue ngisi blog.”

Pengalaman saya sejauh ini, blogging juga jadi bentuk lain yang saya lakukan untuk melakukan review atas apa yang sudah saya capai di kantor. Tak sekedar rekaman (record) yang saya punya. Saya juga berkesempatan menganalisa apa yang terjadi.

Pada satu ketika saya pernah merasa bahwa waktu seakan berjalan begitu cepat. Datang jam 8 pagi, tiba-tiba sudah menjelang sore yang menyadarkan saya betapa belum banyak yang saya kerjakan. Coba menganalisa apa yang terjadi, saya mencatat dalam lembar blog saya bahwa soal yang saya hadapi kadang lebih pada soal fokus dan kejelasan target. Melihat pola yang terjadi sehari-hari, saya sampai pada sebuah resolusi pribadi bahwa saya harus membuat daftar tugas yang lebih user friendly.

Saya harus punya sistem sederhana yang bisa membantu saya untuk menelusuri, melacak apa yang sudah saya kerjakan. Kejadian itulah yang kemudian mendorong saya untuk lebih disiplin mengelola tugas harian saya di kantor. Dan itu adalah buah perenungan saya dalam blog pribadi saya. Kadang dalam blog tersebut, saya pun menuliskan pencapaian, masalah dan solusi yang ada. Jadi blogging ternyata membantu saya, dan berlaku bagi karyawan lain, untuk melacak apa saja yang sudah berhasil saya raih. Blogging memang berhubungan dengan soal pencapaian target kita di tempat kerja.

Pendapat Pakar
Saya hentikan dulu pembahasan sampai di sini, yang pasti ada banyak pengalaman yang akan saya share pada tulisan mendatang. Dan untuk menegaskan pemaknaan saya ini, ada baiknya saya ungkap sedikit pandangan pakar seputar dunia blogging dalam dunia kerja. Banyak pakar yang menyebut bahwa manfaat journal writing/journaling atau blogging antara lain adalah:

· Set goals and resolutions – membantu kita dalam mengelola tujuan, target, atau resolusi pribadi. Dengan begitu, ini juga applicable dalam dunia kerja.
· Solve problems, revealing solutions – aktivitas ini membantu kita untuk lebih mengenali masalah. Pemahaman yang lebih baik terhadap satu masalah, membantu kita untuk menemukan solusi terbaik.
· See what you are thinking – journal writing/blogging bisa membantu kita mengenali pola pikir kita dan ini jadi jalan lain untuk sampai pada pengenalan diri yang lebih baik.
· Understand habits and patterns – selaras dengan bagian sebelumnya, journaling/blogging bisa membantu individu makin mengenali kebiasaan dan pola tingkah lakunya.
· Process and explore - blogging/journaling juga membantu kita memahami proses yang ada. Ia juga bermanfaat untuk mengantar kita mendalami satu soal tertentu. Seperti contoh yang saya ungkap sebelumnya, dengan journaling/blogging saya bisa mendalami soal kesenjangan komunikasi dan soal kepercayaan antara karyawan dan pimpinan perusahaan.
· Reduces stress, helps focus, and organizes -- ini yang paling banyak diungkap dalam banyak literatur seputar journaling. Journaling/blogging membantu kita meredakan stres yang ada, karena ia menjadi ruang ekspresi bebas bagi pengungkapan emosi kita.
· Can improve well-being, and makes time for you – tersedianya tempat untuk katarsis, mengungkap diri secara baik akan membantu kita untuk mendekati titik keseimbangan hidup yang kita mau. Dari catatan dalam blog, Anda bisa mengenali sisi apa dari hidup Anda yang masih kosong dan kurang perhatian. Ini akan membantu anda mengarahkan tindakan mengejar keseimbangan dimaksud. Dari blog pribadi, saya jadi makin sadar bahwa salah satu pekerjaan rumah saya sebagai manusia yang belum banyak saya sentuh adalah mengabdi pada komunitas. Dan ini jadi inspirasi tersendiri yang kemudian menggerakan saya.
· Creates a personal reminder - journal writing jelas membantu mengingatkan kita tentang apa yang akan dan tengah menjadi target kita. Kita punya catatan yang mengindarkan kita dari kebingungan dan kehilangan jejak. Blogging membantu saya untuk fokus pada prioritas yang saya tetapkan dan sejauh ini banyak membantu.
Pengalaman sederhana saya sejauh ini sungguh menegaskan betapa saya berhasil mengambil manfaat dari aktivitas blogging. Karena itulah saya menjadi salah seorang yang sepakat dan mendorong banyak kawan untuk mendalami blogging. Jelas, blogging bermanfaat bagi karyawan. Dengan begitu makin kuat alasan bagi saya untuk terus mengkampanyekan gagasan: One Employee, One Blog.[adjie]

* Adjie adalah praktisi pengembangan SDM. Pernah bekerja di perusahaan tambang emas raksasa berpusat di USA. Sekarang bekerja di perusahaan bahan kimia yang berpusat di Jerman. Lebih dari 10 tahun memfasilitasi beberapa program pelatihan. Coretannya yang lain bisa dilihat di www.resilientindonesia.com ; ia juga bisa dihubungi di adjie@resilientindonesia.com

0 komentar:

toko-delta.blogspot.com

Archives

Postingan Populer

linkwithin

Related Posts with Thumbnails

Total Tayangan Halaman

Diberdayakan oleh Blogger.