toko-delta.blogspot.com

menu

instanx

Selasa, 02 November 2010

Pemerintah Akui Lalai Tangani Mentawai



Andi Arief mengakui presiden baru tahu ada tsunami dari media asing.
Sabtu, 30 Oktober 2010, 17:20 WIB
Antique, Suryanta Bakti Susila
Staf Khusus Presiden Andi Arief pegang bukti politisi PKS terkait Bank Century (Antara/ Widodo S Jusuf)
BERITA TERKAIT
  • Cuaca Tak Bisa Jadi Alasan Bantuan Tak Sampai
  • Alasan Cuaca, 3 Heli di Mentawai Tak Optimal
  • Malaysia Siap Bantu Indonesia Tangani Bencana
  • VIDEO: Detik-detik Tsunami Menyapu Mentawai
  • Tsunami Sudah Ada Sejak 8.000 Tahun Lalu
VIVAnews - Staf Khusus Presiden Bidang Bencana Andi Arief mengaku kehilangan waktu 12 jam pertama dalam menangani tsunami di Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat. Penyebabnya, pemerintah tidak langsung mengetahui tsunami terjadi di lokasi tersebut.

"Pagi-pagi kita baru tahu dari media asing ada tsunami," kata Andi dalam diskusi Polemik Trijaya di Warung Daun Cikini, Sabtu 30 Oktober 2010.

Menurut dia, sampai saat ini, pemerintah belum menerima kronologi lengkap tsunami tersebut.
Andi mengaku seputar tsunami itu terjadi simpang siur informasinya, ada yang menyebut tujuh meter atau enam meter. "Kita banyak skali heli-heli, satuan cepat BPBD, Polri, TNI, dan itu baru berfungsi Rabu pagi. Itu pun hasil pertemuan malam di rumah gubernur untuk pengaturan posko," katanya.

Sedangkan Deputi Geofisika BMKG Prih Harjadi menuturkan, pihaknya tidak pernah mencabut peringatan dini tsunami. "Ini yang perlu kita luruskan. Ada ketidaksamaan persepsi, tidak mencabut tapi peringatan dini tsunami berakhir. Itu artinya, ancaman tsunami daerah tersebut berakhir," katanya.

Menurut dia, tsunami yang terjadi di Mentawai waktunya sangat cepat, berbeda dengan tsunami di Padang yang terjadi sekitar 30-40 menit setelah gempa. Penduduk Mentawai merupakan masyarakat pertama yang akan merasakan tsunami bila gempa besar terjadi di daerah tersebut.

"Masyarakat Mentawai merupakan bemper, sehingga sebagai bemper mereka harus mendapatkan pendidikan untuk bisa memahami dan lebih sigap," katanya.

Andi Arief justru berpandangan lebih pesimistis pada masa depan kepulauan Mentawai sebagai tempat tinggal. Menurutnya, tidak ada jalan lain untuk masyarakat Mentawai yang saat ini menjadi korban tsunami selain merelokasi mereka semuanya ketempat yang lebih aman.

"Untuk Mentawai memang tidak ada obatnya, kecuali merelokasikan masyarakatnya ke tempat yang lebih aman. Sebab, bukan hanya tsunami yang mengancam, tetapi kemungkinan lama-kelamaan pulau akan jatuh," ujarnya.

Andi mengakui, merelokasi bukan pilihan mudah bagi pemerintah, tetapi harus menjalani proses yang panjang untuk memberikan pengertian kepada masyarakat di Mentawai.
• VIVAnews Masukkan Data-Data Anda Di Bawah! Dapatkan Petuah Sukses Secara Berkala - Selamanya GRATIS! :-)

Name:
Email:

0 komentar:

toko-delta.blogspot.com

Archives

Postingan Populer

linkwithin

Related Posts with Thumbnails

Total Tayangan Halaman

Diberdayakan oleh Blogger.